• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Bunyi dalam geguritan karya Nur Indah dalam Pagupon 2

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Aspek Bunyi dalam geguritan karya Nur Indah dalam Pagupon 2

Pemanfaataan aspek bunyi bahasa yang muncul adalah bentuk pengulangan bunyi atau

purwakanthi. Adanya purwakanthi mampu memberikan efek keindahan bunyi pada geguritan.

Bentuk bunyi bahasa yang muncul dalam geguritan karya Nur Indah tahun 2012 adalah bentuk perulangan (purwakanthi) yang meliputi asonansi (purwakanthi swara), aliterasi (purwakanthi sastra), kepekatan kata (purwakanthi lumaksita).

1. Purwakanthi

a. Asonansi (Purwakanthi Swara)

Asonansi atau dalam istilah Jawa disebut purwakanthi swara merupakan perulangan bunyi vokal secara berurutan dalam satu baris. Purwakanthi swara terdapat dalam geguritan karya Nur Indah dalam Pagupon 2 adalah sebagai berikut.

1. Purwakanthi swara [a]

(2) Kembang madu kang rinonce sakdawaning uripmu (P2/RWP/1)

(3) Jumangkah gagah(P2/RWP/4) ‘Melangkahgagah’

(4) Mbabat pangalang(P2/RWP/4)

‘Membabat penghalang’

(5) Ing sakambaning jagad kabudayan(P2/RWP/8)

‘Di seluas dunia kebudayaan’

(6) Tansah anganthi kita sami(P2/RWP/10)

‘Selalu menggandengkita semua’

(7) Kadya priya agung kang siyaga, gagah mrabawani(P2/APM I/1)

‘Seperti pria agung yang siaga, gagah berwibawa’

(8) Pedhang klewang kampak tumbak(P2/APM I/1)

‘Pedang pendek kampak tombak’

(9) Kamanungsaning nepsu angkara kang angalasake negara(P2/APMI/1)

‘Napsu dan angkara manusia yang membuat negaraseperti hutan rimba’

Data (5) sampai data (12) di atas menggunakan kata-kata yang berasonansi suara [a]. Penggunaan vokal bunyi [a] secara beruntun dimaksudkan untuk memperindah bunyi kalimat. Pada data (5) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu kembang madu kang rinonce ‘bunga madu yang terangkai’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan sakdawaning uripmu ‘sepajang hidupmu’ sebagai bawahan unsur langsug kedua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama asonansi vokal [a] pada kata kembang ‘bunga’, madu ‘madu’, kang ‘yang’. Dalam bawahan unsur langsung yang kedua terdapat pengulangan bunyi vokal [a] pada kata sakdawaning ‘sepanjang’. Pada data (6) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu jumangkah ‘melangkah’ sebagai bawahan unsur langsung satu yang diterangkan dan gagah ‘gagah’ sebagai bawahan unsur langsung kedua yang menerangkan. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat penggunaan asonansi vokal [a] pada kata jumangkah ‘melangkah’ dan dan pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat pengulangan bunyi [a]

commit to user

pada katagagah‘gagah’. Data (7) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitumbabat ‘membabat’ sebagai bawahan unsur langsung satu yang diterangkan dan pangalang ‘penghalang’ sebagai bawahan unsur langsung kedua yang menerangkan. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat penggunaan asonansi bunyi [a] pada kata mbabat ‘membabat’ dan pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat asonansi bunyi [a] pada kata pangalang ‘penghalang’. Data (8) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu ing sakambaning ‘di seluas’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan jagad kabudayan ‘dunia kebudayaan’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Dalam bawahan unsur langsung pertama terdapat penggunaan asonansi bunyi [a] pada kata sakambaning ‘seluasnya’ dan pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat pengulangan bunyi [a] pada kata jagad ‘dunia’, kabudayan ‘kebudayaan’. Data (9) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu tansah anganthi ‘selalu menggandeng sebagai bawahan unsur langsung satu dan kita sami ‘kita semua’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat penggunaan asonansi vokal [a] pada katatansahselalu’dananganthimenggandeng’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat penggunaan asonansi bunyi [a] pada kata sami ‘semua’. Data (10) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu kadya priya agung ‘seperti pria agung’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan kang siyaga gagah mrabawani ‘yang siaga gagah mewibawai’ sebagai bawahan unsur langsung dua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat pengulangan bunyi [a] pada katakadyaseperti’,agungagung’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat asonansi bunyi [a] pada kata, kang ‘yang’, gagah ‘gagah’, mrabawani ‘mewibawai’. Data (11) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitupedhang klewang‘pedang pendek’ sebagai bawahan unsur langsu satu dan kampak tumbak‘kapak tombak’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Dalam bawahan unsur

langsung yang pertama terdapat asonansi bunyi [a] pada kata pedhang pedang’, klewang pendek’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat asonansi bunyi [a] pada kata, kampak ‘kapak’, tumbak ‘tombak’. Data (12) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu kamanungsaning nepsu angkara kemanusiannya napsu dan angkara’ sebagai bawahan unsur langsung satu dananglasake negara ‘mengotorinegara’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat asonansi bunyi [a] pada kata kamanungsaning kemanuisaannya’, angkara angkara’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua penggunaan asonansi bunyi [a] terdapat pada kata kang ‘yang’, anglasake ‘mengotori’.

2. Purwakanthi Swara [a] yang dilafalkan [O]

(10) Pinangka ujering budaya jawa(P2/SWS/1)

‘Sebagai awalnyabudaya jawa’

(11) Kabeh padha ngerti budaya iku rasa(P2/SWS/1)

‘Semuasudah tahu budaya itu rasa’

(12) Tan kuwawa megat rasa(P2/SWS/1)

‘Tidak kuat memutus rasa’

(13) Wis owah busana salin asma(P2/SWS/5)

‘Sudah bergeser busana berganti nama’

(14) Tangia padha mrenea, midida ing pakebonan rasa(P2/SWS/3)

‘Bangunlah kemarilah, berhembus pelan di perkebunan rasa’

(15) Jare suwarga bisa tinuku nganggo donya arta(P2/TS/4)

‘Katanya surga bisa dibeli dengan harta benda’

(16) Ngga, niki yatra sewu yuta(P2/TS/5)

‘Silakan, ini uang seribu juta’

Pada data (13) sampai dengan (29) memanfaatkan vokal [a] berbunyi [O] dalam bahasa Jawa disebut [a].Pada data (13) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitupinangka

commit to user

ujering‘sebagai awalnya’sebagai bawahan unsur langsung satu danbudaya jawa‘budaya Jawa’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat

purwakanthi swara[O] pada katapinangka‘sebagai’ lalu pada bawahan unsur langsung yang

kedua terdapat penggunaan purwakanthi swara [O] pada katabudaya ‘budaya’, jawa ‘Jawa’. Data (14) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu kabeh padha ngerti ‘semua sama mengerti’ sebagai bawahan unsur satu dan budaya iku rasa ‘budaya itu rasa’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat

purwakanthi swara[O] pada katapadha‘sama’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua

asonansi [O] terdapat pada kata budaya ‘budaya’, rasa ‘rasa’. Data (15) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu tan kuwawa ‘tidak kuat’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan megat rasa‘memutus rasa’ sebagai bawahan usnur langsung kedua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat purwakanthi swara [O] pada kata kuwawa ‘kuat’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat asonansi [O] pada katarasa‘rasa’. Data (16) pada bawahan unsur langsung yang pertamatangia padha mreneabangunlah sama-sama kemarilah terdapat purwakanthi swara [O] pada kata tangia ‘bangunlah’, padha ‘sama’, merenea ‘kesinilah’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua midida ing pakebonan rasa ‘berhembuslah pelan di perkebunan rasa’ terdapat asonani [O] pada kata midida ‘berhembuslah pelan‘, rasa ‘rasa’. Data (17) pada bawahan unsur langsung yang pertama wis owah busana sudah berubah busana terdapat purwakanthi swara [O] pada kata busana ‘busana/pakaian’ lalu dalam bawahan unsur langsung yang kedua salin asma ‘ganti nama’ terdapat asonansi [O] pada kata asma ‘nama’. Data (18) pada bawahan unsur langsung yang pertama jare suwarga bisa tinuku ‘katanya surga bisa dibeli’ terdapat purwakanthi swara [O] pada kata suwarga ‘surga’,bisa ‘bisa’lalu pada bawahan unsur langsung yang keduanganggo donya arta‘dengan

harta benda’ terdapat asonansi [O] pada kata donya ‘dunia/harta’, arta ‘uang’. Data (19) pada bawahan unsur langsung yang pertama ngga, niki yatra silakan, ini uang’ terdapat

purwakanthi swara [O] pada kata ngga ‘silakan’, yatra ‘uang’ lalu pada bawahan unsur

langsung yang kedua sewu yuta ‘seribu juta’ terdapat asonansi [O] pada kata yuta ‘juta’. Asonansi vokal [O] menunjukkan bahwa pemanfaatan bunyi [O] dapat merekatkan kata-kata dan menunjukkan kepaduan makna antar kata dalam larikgeguritan.

3. Asonansi bunyi [e]

(17) Kang nate kokgarisake(P2/RWP/8)

‘Yang pernah kau gariskan’

(18) Dene pasare wis ilang kumandhange(P2/PIK/6)

‘Sekarang pasarnyasudah hilang kumandangnya’

Data (20) dan (21) terjadi perulangan vokal bunyi [e]. Pada data (20) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu kang nate ‘yang pernah’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan kokgarisake ‘kamu gariskan’ sebagai bawahanunsur langsung kedua. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapatpurwakanthi swara[e] pada katanate‘pernah’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat purwakanthi swara [e] pada kata kokgarisake ‘kamu gariskan’. Pada data (21) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu dene pasare ‘sekarang pasarnya’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan wis ilang kumandhange ‘sudah hilang kumandangnya’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat purwakanthi swara [e] pada kata dene ‘sekarang’, pasare ‘pasarnya’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat pengulangan bunyi asonansi [e] pada katakumandhange‘kumandangnya’.

4. Asonansi bunyi [i]

commit to user ‘Sejati berbakti mengabdi sampai mati’

(20) Kanthi ati kang suci(P2/RWP/5)

‘Dengan hati yang suci’

(21) Mugi gusti kang maha suci(P2/RWP/10)

‘Semoga tuhan yang maha suci’

(22) Beksan srimpi laras ati(P2/SWS/1)

‘Tari serimpi laras di hati’

(23) Angrerintih nandhang ringkihing ati (P2/SWS/5)

‘Merintih mengalamilemahnya hati’

(24) Kang nglairake rasa srei iri dhengki katuwuhan ing pitenah(P2/APM II/1)

‘Yang melahirkan rasa iri dengki tumbuh dari perbuatan buruk terhadap orang lain’

(25) Yen iku wis titi wancine(P2/SWS/5)

‘Kalauitu sudah waktunya’

(26) Lali ing jati dhiri(P2/SK/2)

‘Lupa dengan jati diri’

(27) Pindha lintang wengi kang tansah anganti-anti(P2/KL/1)

‘Seperti bintang malam yang selalu mengharap-harap’

Pada data (22) sampai data (30) merupakan bentuk purwakanthi swara [i]. Pada data (22) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaituyekti bekti ngabdi‘sejati berbakti mengabdi’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan tumekeng purna pati ‘sampai mati’. Dalam bawahan unsur langsung yang pertama terdapat purwakanthi swara [i] pada kata yekti ‘sejati’, bekti ‘berbakti’, ngabdi ‘mengabdi’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat asonansi bunyi [i] pada kata pati ‘mati’. Data (23) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitukanthi atidengan hati’sebagai bawahan unsur langsung yang pertama dan kang suci‘yang suci’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Terdapatpurwakanthi swara[i] pada bawahan unsur langsung satu pada katakanthi‘dengan’,ati‘hati’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat asonansi bunyi [i] pada kata suci ‘suci’. Data (24) ditemukan

adanya dua bawahan unsur langsung yaitu mugi gusti ‘semoga tuhan’ sebagai bawahan unsur langsung satu dankang suci‘yang suci’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat purwakanthi swara [i] pada kata mugi ‘semoga’, gusti ‘Tuhan’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat asonansi bunyi [i] pada katasuci ‘suci’. Data (25) pada bawahan unsur langsung yang pertama beksan srimpi tari serimpi terdapat purwakanthi swara [i] pada kata srimpi ‘serimpi’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua laras ati ‘selaras di hati’ terdapat asonansi bunyi [i] pada kata ati ‘hati’. Data (26) pada bawahan unsur langsung yang pertama angrerintih nandhang merintih mengalami terdapat purwakanthi swara [i] pada kata angrerintih ‘merintih’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua ringkihing ati ‘lemahnya hati’ terdapat asonansi bunyi [i] pada kata ringkihing ‘ringkihnya’, ati ‘hati’. Data (27) pada bawahan unsur langsung yang pertama kang nglairake rasa srei iri dhengki yang melahirkan rasa iri dengkiterdapat purwakanthi swara

[i] pada kata nglairake ‘melahirkan’, srei ‘iri, iri dhengi ‘iri dengki’ lalu pada bawahan unsur langsung yang keduakatuwuhan ing pitenah‘tumbuh dari perbuatan buruk terhadap orang lain’ terdapat asonansi bunyi [i] pada katapitenah ‘perbuatan buruk‘. Data (28) pada bawahan unsur langsung yang pertamayen ikujika ituterdapatpurwakanthi swara[i] pada kataiku‘itu’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua wis titi wancine ‘sudah pada waktunya’ terdapat asonansi bunyi [i] padatiti‘saat‘, wancine‘waktunya’. Data (29) pada bawahan unsur langsung yang pertama lalilupa’ terdapatpurwakanthi swara[i] pada katalali lupa’lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua ing jati dhiri ‘di jati diri’ terdapat asonansi bunyi [i] pada kata jati dhiri ‘jati diri’. Data (30) pada bawahan unsur langsung yang pertama pindha lintang wengi seperti bitang malam terdapat purwakanthi swara [i] pada kata pindha seperti’, lintang bintang’,wengi malam’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua kang tansah

anganti-commit to user

anti ‘yang selalu mengharap-harap’ terdapat asonansi bunyi [i] pada kata anganti-anti ‘mengaharap-harap ‘.

5. Asonansi bunyi [u]

(28) Bebasan ngunus trisula binungkus wandira gula klapa(P2/RWP/4)

‘Seperti menarik trisula berbungkus gula kelapa

(29) Panggulen sungginen dadekna makutha(P2/MWA/3)

‘Panggulah dan pikulah jadikanlah mahkota’

(30) Tumuruna, lunyuning blimbing wus pencit(P2/BDI/7)

‘Turunlah, licinnya pohon belimbing sudah memuncak’

Pada data (31), (32) dan (33) merupakan bentuk perulangan asonansi bunyi [u]. Pada data (31) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu pada bawahan unsur langsung yang pertama bebasan ngunus trisula ibarat menghunus trisula sebagai bawahan unsur langsung satu danbinungkus wandira gula klapa‘berbungkus pohon beringin gula klapa’ sebagai bawahan unsur langsung kedua.Terdapat purwakanthi swara[u] pada bawahan unsur langsung satu pada katangunus ‘menghunus’,trisula‘trisulalalu pada bawahan unsur langsung yang kedua ditemukan asonansi bunyi [u] pada kata binungkus ‘dibungkus’, gula ‘gula’. Data (32) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu panggulen sungginen ‘panggulah pikulah’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan dadekna makutha ‘jadikanlah mahkota’ sebagai pada bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung satu terdapat

purwakanthi swara [u] pada kata panggulen ‘panggulah’, suginen ‘sunggilah’ lalu pada

bawahan unsur langsung kedua pengulangan asonansi bunyi [u] dapat ditemukan pada kata makutha‘mahkota’. Data (33) pada bawahan unsur langsung yangpertamatumurunaturunlah’ terdapat purwakanthi swara [u] pada kata tumuruna ‘turunlah’ lalu pada bawahan unsur langsung kedua lunyuning blimbing wus pencit ‘licinnya pohon belimbung sudah puncak’ pengulangan asonansi bunyi [u] ditemukan pada katalunyuning‘licinnya’,wus‘sudah’.

b. Aliterasi (Purwakanthi Sastra)

Aliterasi merupakan salah satu gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi konsonan secara bersamaan dalam satu baris. Dalam bahasa Jawa disebutpurwakanthi sastrayaitu adanya runtutan bunyi konsonan dalam suatu kalimat. Bentuk aliterasigeguritankarya Nur Indah dalam Pagupon 2 adalah sebagai berikut

1. Aliterasi konsonan [s]

(31) Wus kasuntak sat saksuwening wektu(P2/RWP/1)

‘Sudah tertuang hingga habis selamanya waktu’

(32) Sekare sekar suwun(P2/SWS/1)

‘Bunganya bunga disunggi’

(33) Wong Sala wus pungkes basane (P2/SLK/2)

‘Orang Solo sudah hilang bahasanya’

Dalam data (34), (35), dan (36) menggunakan perulangan aliterasi konsonan [s]. Pemanfaatan perulangan aliterasi konsonan [s] ini secara berturut-turut terdapat pada data (34) pada bawahan unsur langsung yang pertama wus kasuntak sat sudah tertuang habis’ terdapat

puwakanthi sastra konsonan [s] pada kata wus ‘sudah’, kasuntak ‘tertuang’, sat ‘habis’ lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua saksuwening wektu ‘selamanya waktu’ terdapat purwakanthi sastra konsonan [s] pada kata saksuwening ‘selama’. Data (35) pada bawahan unsur langsung yang pertama sekarebunganya’ terdapat penggunanaan konsonan [s] pada kata sekarebunganya’lalu pada bawahan unsur langsung yang keduasekar suwun‘bungadisunggi terdapat pengulangan aliterasi [s] pada kata sekar ‘bunga’, suwun ‘sunggi’. Data (36) pada bawahan unsur langsung yang pertama wong Sala orang Solo terdapat penggunaan konsonan [s] lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua wus pungkes basane ‘sudah hilang

commit to user

bahasanya’ penggunaan pengulangan aliterasi [s] dapat ditemukan pada kata wus ‘sudah’,

pungkes‘mati’,basane‘bahasanya’. Bentuk penggunaan aspek kebahasaan berupa pengulangan konsonan ataupurwakanthi sastrakonsonan [s] ini lebih memperindah kalimat.

2. Aliterasi [j]

(34) Pinangka jejering jurit pinunjul (P2/RWP/3)

‘Sebagai tokoh perang terunggul’

(35) Jawa jawaning aji (P2/SWS/1)

‘Jawa adalah derajatnya orang jawa’

Pada data di atas merupakan perulangan aliterasi bunyi [j]. Pada data (37) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu pinangka jejering ‘sebagai tokoh’ sebagai bawahan unsur satu dan jurit pinunjul ‘perang terunggul’ sebagai bawahan unsur dua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat purwakanthi sastra konsonan [j] pada kata jejering ‘tokoh’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat perulangan bunyi [j] terdapat pada katajurit‘perang’,pinunjul‘unggul’. Data (38) ditemukan adanya bawahan unsur langsung yaitu Jawa ‘Jawa’ sebagai bawahan unsur langsung satu sebagai unsur yang diterangkan dan jawaning aji ‘derajatnya jawa’ sebagai bawahan unsur langsung kedua sebagai unsur yang menerangkan. Pada bawahan unsur langsung yang pertama Jawa ‘Jawa’ terdapat penggunaan konsonan [j] kemudian terjadi perulangan bunyi konsonan [j] pada kata jawaning ‘Jawanya’,aji‘nilai’ pada bawahan unsur langsung dua. Perulangan bunyi [j] pada data di depan terdapat pada masing-masing unsur mampu memberikan kesan indah pada larikgeguritan

1. Aliterasi [r]

(36) Rewo-rewo pating srembyong pating krembyah (P2/SWS/5)

(37) Jaran terus lumayu, nyeret dhokar warna biru (P2/APM I/1)

‘Kuda terus berlari, menarik delman warna biru’

(38) Aran rara wulan, sekar mirah, nyai lurah (P2/APM II/1)

‘Disebut rara wulan, bunga merah, nyai lurah’

(39) Rerajutan reroncening jarak (P2/KSL/1)

‘Berajutkan rangkaian jarak’

(40) Rembulan rina kirim esem (P2/KSL/2)

‘Bulan siang mengirim senyum’

Pada data (39) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu rewo-rewo pating srembyong ‘ribet berantakan’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan pating krembyah ‘sobek-sobek’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat perulangan bunyi konsonan [r] pada katarewo-rewoberantakan’, sremboyong ‘acak-acakan’, lalu pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat perulangan konsonan [r] pada kata krembyah ‘sobek-sobek’. Data (40) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu jaran terus lumayu ‘kuda terus berlari’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan nyeret dhokar warna biru ‘menarik dokar warna biru’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat perulangan bunyi konsonan [r] ada pada kata jaran ‘kuda’, terus ‘terus’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat

purwakanthi sastra konsonan [r] pada kata nyeret ‘menyeret’, dhokar ‘delman’, warna

‘warna’, biru ‘biru’. Pada data (41) pada bawahan unsur langsung yang pertama aran rara wulan ‘bernama rara wulan’ aliterasi bunyi [r] terdapat pada kata aran ‘disebut’, rara ‘dewi’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang keduasekar mirah, nyai lurah‘bunga merah nyai lurah’ terdapatpurwakanthi sastrakonsonan [r] pada katasekar‘bunga’,mirah‘merah’,lurah ‘lurah’. Data (42) pada bawahan unsur langsung yang pertama rerajutan ‘berajutan’ terdapat penggunaan konsonan [r] kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua reroncening

commit to user

jarak ‘rerangkaian jarak’ terdapat aliterasi [r] pada kata reroncening ‘rangkaiannya’, jarak ‘jarak’. Pada data (43) pada bawahan unsur langsung yang pertama rembulan rina ‘rembulan siang’ terdapat perulangan konsonan [r] pada kata rembulan ‘bulan’, rina ‘siang’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua kirim esem ‘mengirim senyum’ terdapat pengalangn konsonan [r] pada kata kirim‘kirim’.

2. Aliterasi [b]

(41) Bonange wis buka (P2/MWA/2)

‘Bonangnya sudah buka’

(42) Bundering bumi ambaning jagad (P2/SWS/1)

‘Bulatnya bumi dan luasnya jagad’

(43) Mbok bakule blanjan (P2/TS/3)

‘Ibu penjualnyagajian’

(44) Kula tumbas bebener (P2/TS/3)

‘Saya beli kebenaran’

Pada data (44) sampai data (47) ditemukan aliterasi bunyi [b]. Pada data (44) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu bonange ‘bonangnya’ sebagai bawahan unsur langsung satu sebagai unsur yang diterangkan danwis buka‘sudah buka’ sebagai bawahanunsur dua sebagai unsur yang menjelaskan. Pada bawahan unsur langsung yang pertama penggunaan konsonan [b] pada kata bonange ‘bonangnya’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua konsonan [b] diulang pada kata buka‘mulai’. Data (45) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitubundering bumi‘bulatnya bumi’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan ambaning jagad ‘luasnya jagad’, aliterasi [b] terdapat pada bawahan unsur langsung pertama pada kata bundering ‘bulatnya’, bumi ‘bumi’, pada bawahan unsur langsung yang kedua pengulangan konsonan [b] terdapat pada kata ambaning ‘luasnya’. Data (46) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu Mbok bakule ‘Ibu penjualnya’ sebagai bawahan unsur satu

sebagai unsur yang diterangkan dan blanjan ‘belanja’ sebagai bawahan unsur langsung dua sebagai unsur yang menerangkan, perulangan konsonan [b] ada pada kata mbokbakule ‘penjualnya’, dan blanjan ‘jualan’. Alitersi [b] pada data (47) ada pada kata tumbas ‘beli’, dan bebener‘kebenaran’.

3. Aliterasi [t]

(45) Tutug tekan langit sap pitu (P2/SWS/1)

‘Sampai tiba di langit lapis tujuh’

(46) Satriya murang tata (P2/BDI/6)

‘Satriya tanpa aturan’

Dalam data (48) dan (49) terdapat aliterasi konsonan [t]. Pada data (48) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu tutug tekan langit ‘sampai tiba dilangit’ sebagai bawahan unsur langsung satu dansap pitu ‘sap tuju’ sebagai bawahan unsur langsung dua. Pada bawahan unsur langsung pertama aliterasi konsonan [t] terdapat pada kata tutug ‘tiba’, tekan ‘sampai’, langit ‘langit’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua konsonan [t] diulangi pada kata pitu ‘tujuh’. Data (49) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu satriya ‘satriya’ sebagai bawahan unsur langsung sebagai bawahan unsur langsung satu sebagai unsur yang diterangkan dan murang tata ‘meninggalkan tatanan’. Pada data (49) aliterasi konsonan [t] terdapat pada bawahan unsur langsung yang pertama satriya ‘ksatriya’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua pengulangan konsonan [t] terdapat pada kata tata ‘tatanan’.

4. Aliterasi [k]

(47) Lha kae katon krembyah-krembyah (P2/SK/2)

‘Lha itu terlihat sobek-sobek’

commit to user ‘Soloku sayakangen jawaku’

(49) Tembang kangen kang kasaput jeriting sekar pegatsih (P2/KL/1)

‘Lagu rindu yang tertutup teriakan lagu pegatsih’

Pada data (50) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu lha kae ‘lha itu’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan katon krembyah-krembyah ‘terlihat sobek-sobek’ pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat aliterasi [k] yakni pada kata kae ‘itu’, katon ‘kelihatan’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua pengulangan konsonan [k] terdapat pada bentuk krembyah-krembyah ‘sobek-sobek’. Pada data (51) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu Soloku ‘Soloku’ sebagau bawahan unsur langsung satu dan aku kangen jawaku ‘aku rindu jawaku’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat penggunaan konsonan [k] kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua aliterasi [k] terdapat pada kata aku ‘saya’, kangen ‘rindu’, Jawaku ‘Jawaku’. Data (52) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu tembang kangen ‘lagu rindu’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan kang kasaput jeriting sekar pegatsih ‘yang tertutup teriakan lagu pegatsih’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat penggunaan konsonan [k] pada kata kangen ‘rindu’ kemudian pada bawahan unsur langsung kedua aliterasi [k] diulang pada kata kang ‘yang’, kasaput‘tersamar’,sekar‘bunga’.

5. Aliterasi [g]

(50) Geneya sira tegel anamakake tumbak mburi geger (P2/BDI/6)

‘Kenapa kamu tega menusukkan tombak dibelakang bahu’

Dalam Data (53) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaitu geneya sira tegel ‘kenapa kamu tega’ sebagai bawahan unsur langsung satu dananamakake tumbak mburi geger

‘menusukkan tombak di belakang punggung’ sebagai bawahan unsur langsung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat aliterasi [g] pada kata geneya ‘kenapa’, tegel ‘tega’, pada bawahan unsur langsung yang kedua terdapat pengulangan konsonan [g] pada kata geger‘bahu’.

6. Aliterasi [l]

(51) Wis geni mbulat ngobong alas alang-alang (P2/APM I/1)

‘Sudah api berkobar membakar padang rumput’

Data (54) ditemukan adanya dua bawahan unsur langsung yaituwis geni mbulat ‘sudah api berkobar’ sebagai bawahan unsur langsung satu dan ngobong alas alang-alang ‘membakar padang rumput’ sebagai bawahan unsur lansung kedua. Pada bawahan unsur langsung yang pertama terdapat penggunaan konsonan [l] pada katambulat‘berkobar’ kemudian pada bawahan unsur langsung yang kedua ditemukan adanya aliterasi [l] pada kata alas ‘hutan’, alang-alang ‘alang-alang’.

6. Lumaksita (Purwakanthi Basa)

Purwakanthi basa merupakan gaya bahasa yang berwujud perulangan berdasarkan persamaan suku kata, kata, frase, dan klausa yang berturut-turut dalam satu bait/baris.

Dokumen terkait