• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Daya Saing Daerah

Daya saing daerah menjadi salah satu isu utama dalam pembangunan daerah. Konsep daya saing umumnya dikaitkan dengan kemampuan kota, daerah dan wilayah dalam mempertahankan atau meningkatkan keunggulan kompetitif secara berkelanjutan (Porter, 2000).

Berdasarkan konsep yang diaplikasikan oleh PPSK Bank Indonesia – LP3E FE Unpad (2008), kemampuan daya saing daerah dibentuk oleh faktor-faktor utama (input) dan kinerja perekonomian (output). Faktor-faktor utama pembentuk daya saing terdiri dari 1) lingkungan usaha produktif, 2) perekonomian daerah, 3) ketenagakerjaan dan sumber daya manusia, 4) infrastruktur, sumber daya alam dan lingkungan, serta 5) perbankan dan lembaga keuangan. Kinerja perekonomian (output) terdiri dari produktivitas tenaga kerja, tingkat kesempatan kerja dan PDRB perkapita. Pada akhirnya daya saing daerah memiliki outcome berupa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

a. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah

Kabupaten Trenggalek memiliki rata-rata laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 % per tahun dengan sektor pertanian, sektor perdagangan, jasa dan restoran serta sektor jasa-jasa sebagai 3 sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian daerah. Selain itu sektor lapangan usaha yang berpotensi untuk ekspor adalah sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, konstruksi serta sektor jasa-jasa. Berdasarkan aspek daya beli penduduknya, Kabupaten Trenggalek pada tahun 2005 sebesar 597,86 ribu rupiah dan meningkat menjadi 633,58 ribu rupiah pada tahun 2009.

Pendapatan dan Belanja Pemerintah

Pada tahun 2009, realisasi penerimaan daerah mengalami kenaikan sebesar Rp 44.213.000.000 atau 6,59 persen dari tahun 2008. Sedangkan belanja daerah mengalami kenaikan Rp 29.733.000.000 atau 4,25 persen dari tahun sebelumnya. Dari realisasi penerimaan daerah melalui Kantor Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur di Trenggalek tercatat kenaikan sebesar Rp 12,694.000 rupiah atau naik 39,21 persen dari tahun 2008.

Tabel 2.29

Realisasi Pendapatan dan Pengeluaran Daerah Kabupaten Trenggalek Tahun 2008 – 2010

NO Uraian 2008 2009 2010 I. Pendapatan 670.372.440.352,19 714.585.681.086,08 794.514.015.641,97

1.1 Pendapatan asli daerah 35.187.977.351,19 40.435.991.178,08 53.545.068.853,97

1.2 Dana perimbangan 566.992.411.636,00 577.318.890.994,00 586.027.865.255,00

1.3 Lain-lain pendapatandaerah yang sah 68.192.051.365,00 96.830.798.914,00 154.941.081.533,00

II. Belanja 701.336.342.054,00 731.710.291.951,00 802.100.729.347,00

2.1 Belanja Tidak Langsung 407.951.974.148,00 514.398.138.868,00 598.947.696.886,00

2.2 Belanja Langsung 293.384.367.906,00 217.312.153.083,00 203.153.032.461,00

III. Pembiayaan Netto 126.394.899.990,05 93.258.155.043,61 86.508.401.958,29

3.1 Penerimaan Pembiayaan 130.344.899.990,05 101.358.155.043,61 86.758.401.958,29

3.2 Pengeluaran Pembiayaan 3.950.000.000,00 8.100.000.000,00 250.000.000,00

Sumber : DPPKAD Kabupaten Trenggalek

Dalam tiga tahun terakhir, pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Trenggalek terus mengalami kenaikan. Pendapatan asli daerah Kabupaten Trenggalek pada tahun 2008 sebesar Rp 35.187.977.351,19 kemudian meningkat jadi Rp 40.435.991.178,08 pada tahun 2009 dan meningkat lagi pada tahun 2010

menjadi Rp 53.545.068.853,97. Namun, pendapatan asli daerah Kabupaten Trenggalek tersebut masih jauh dari pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi (dana perimbangan). Pada tahun 2008, pendapatan transfer sebesar Rp 566.992.411.636,00 , kemudian meningkat menjadi Rp 577.318.890.994,00 pada tahun 2009 dan meningkat lagi menjadi Rp 586.027.865.255,00 pada tahun 2010.

b. Infrastruktur dan Fasilitas Wilayah

Peningkatan kepadatan penduduk perlu diantisipasi dengan perencanaan tata ruang yang tepat agar pelayanan infrastruktur dasar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Penambahan infrastruktur yang tidak terencana dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan di kemudian hari. Di samping itu sebagai wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung, Ponorogo dan Pacitan, Kabupaten Trenggalek harus sinkron dengan program-program yang dicanangkan ketiga kabupaten tersebut.

Ketersediaan infrastuktur yang memadai berkorelasi dengan tingkat perkembangan wilayah. Infrastruktur yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas akan menjadi input bagi proses produksi dan memperlancar distribusi barang ke daerah lain. Infrastruktur juga merupakan faktor pertimbangan bagi tumbuhnya investasi di daerah. Semakin besar skala usaha maka kebutuhan akan infrastruktur juga akan semakin besar. Implikasinya, jika pemerintah daerah menginginkan masuknya investor dengan skala usaha besar maka pemerintah harus mampu mempersiapkan skala infrastruktur yang besar guna menunjang kegiatan usaha investor. Ketersediaan infrastruktur di daerah merupakan daya saing daerah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Jalan dan Jembatan

Jalan merupakan salah satu prasarana transportasi yang sangat penting guna memperlancar kegiatan perekonomian, selain untuk memudahkan mobilitas penduduk dari satu daerah menuju daerah lainnya. Kelancaran arus perhubungan dapat mempercepat pencapaian sasaran-sasaran pembangunan di wilayah Kabupaten Trenggalek. Kondisi sarana dan prasarana di Kabupaten Trenggalek dapat dilihat melalui panjang jalan, jumlah jembatan dan kondisi infrastruktur serta keberadaan fasilitas umum dan fasilitas sosial sebagai bagian dari penyediaan pelayanan kepada masyarakat, meliputi jalan, jembatan, irigasi, pasar, tempat ibadah, gedung sekolah, sarana olahraga dan lain-lain.

Kondisi prasarana jalan di Kabupaten Trenggalek tahun 2009 seluruhnya ada 997,25 km, terdiri dari jalan nasional 80,47 km, jalan provinsi sepanjang 20,27 km dan jalan kabupaten sepanjang 897,9 km.

Kondisi jalan di Kabupaten Trenggalek adalah baik sepanjang 336,695 km, sedang 273,025 km , rusak ringan 213,13 km dan rusak berat 174,74 km.

Jaringan jalan di Kabupaten Trenggalek berdasarkan fungsinya dapat diklasifikasikan menjadi jalan kolektor primer, jalan lokal primer dan jalan lingkungan. Sedangkan berdasarkan statusnya jalan di kabupaten Trenggalek di klasifikasikan menjadi jalan nasional, propinsi dan jalan kabupaten.

Prasarana jalan di Kabupanten Trenggalek dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi jalan, yaitu : a. Jalan Kolektor Primer

• Kolektor 1 (K-1) : jalan kolektor primer 1 yang melintasi Kabupaten Trenggalek adalah jalan kolektor primer yang menghubungkan kabupaten Trenggalek dengan kabupaten Tulungagung dan kabupaten Trenggalek. Ruas jalan- ruas jalan tersebut adalah ruas jalan Tulungagung– Trenggalek sepanjang 22,85 km, ruas jalan Trenggalek- Batas Trenggalek sepanjang 54,54 km dan ruas jalan Raya Jaraan-Panggul sepanjang 3,08 km.

• Kolektor 2 (K-2) : jalan kolektor primer 2 yang melintasi Kabupaten Trenggalek adalah jalan kolektor primer yang menghubungkan kabupaten Trenggalek dengan kabupaten Ponorogo. Ruas jalan- ruas jalan tersebut adalah ruas jalan Trenggalek-Bts Ponorogo sepanjang 12,95 km (ke arah Ponorogo) dan ruas jalan kota yang meliputi Jalan Sukarno Hatta, Jl. PB sudirman, Jl. Yos Sudarso dan Jl. Mayjen Soengkono.

b. Jalan Lokal Primer

Jalan lokal primer berfungsi menghubungkan kota jenjang I dengan persil atau kota jenjang ke II dengan persil atau kota jenjang ke III dengan jenjang ke III atau kota jenjang ke III dengan persil atau berfungsi menghubungkan antar kota kecamatan. Ruas jalan yang berfungsi sebagai jalan lokal primer di Kabupaten Trenggalek adalah jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan di kabupaten Trenggalek.

c. Jalan Lingkungan

Jalan lingkungan di Kabupaten Trenggalek adalah jalan yang berada di lingkungan-llingkungan permukiman yang sebagian besar tersebar di kawasan pedesaan.

Jaringan jalan berdasarkan status jalan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.30. Daftar Ruas Jalan Nasional di Kabupaten Trenggalek No. ruas Nama Ruas Panjang (km) Fungsi

070 Tulungagung-Trenggalek 22.85 KP-1

No. ruas Nama Ruas Panjang (km) Fungsi

160 1 Trenggalek-Bts. Kab. Trenggalek 54.54 KP-1

160 11 K Jl. Raya Jaraan-Panggul 3.08 KP-1

Sumber : Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:375/KPTS/M/2004

Tabel 2.31. Daftar Ruas Jalan Provinsi di Kabupaten Trenggalek

No. ruas Nama Ruas Panjang(km) Fungsi

069 1 K Trenggalek-Bts. Kab. Ponorogo 12.95 KP-2 069 11 K Jl. Sukarno Hatta 2.01 KP-2 069 12 K Jl. PB Sudirman 0.7 KP-2 069 13 K Jl. Yos Sudarso 0.55 KP-2 069 14 K Jl. Mayjen Soengkono 4.06 KP-2

Sumber : Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:375/KPTS/M/2004

Berdasarkan data BPS Kabupaten Trenggalek, kondisi prasarana jalan dengan panjang jalan kabupaten seluruhnya 897,9 km, kondisi baik 33,67% , sedang 23,17%, rusak ringan 23,74 %, dan rusak berat 19,42%. Dengan adanya wilayah rawan bencana alam di Kabupaten Trenggalek, maka jalan-jalan tersebut rentan mengalami bencana longsor. Oleh karena itu diperlukan rekayasa teknologi yang tepat serta menjaga kelestarian lingkungan di kawasan perbukitan.

Dalam rangka pengambangan kawasan Pansela, maka pemerintah pusat merencanakan pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) yang ruas jalannya melewati 3 kecamatan di Kabupaten Trenggalek yaitu Kecamatan Watulimo, Kecamatan Munjungan dan Kecamatan Panggul. JLS diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kawasan selatan Kabupaten Trenggalek yang memiliki potensi di bidang pariwisata, pertambangan dan perikanan.

Kabupaten Trenggalek memiliki fasilitas transportasi berupa terminal luar kota dan terminal dalam kota (MPU) yang lokasinya terpisah. Terminal luar kota melayani kendaraan umum jarak jauh yaitu antar kabupaten dan antar provinsi, oleh sebab itu moda transportasi yang masuk dan keluar terminal ini berukuran besar yaitu bus beroda empat dan enam. Sarana angkutan umum yang melintasi kawasan perkotaan Trenggalek meliputi bus, colt, dan angkutan pedesaan. Sedangkan fasilitas transportasi yang ada berupa Terminal Bus dan Terminal Mobil Penumpang Umum (MPU) yaitu berupa Sub Terminal sebagai terminal mobil umum ukuran kecil (semacam Angkot/Angkutan Kota).

Perkembangan kondisi tiap-tiap jenis jembatan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir secara rinci sebagaimana tabel berikut :

Tabel 2.32 Kondisi Jembatan di Kabupaten Trenggalek Tahun 2000-2009 KONDISI

Dokumen terkait