• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Aspek Demografi

Salah satu acuan dalam melakukan pengembangan dalam suatu wilayah adalah data penduduk, karena penduduk merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap perkembangan suatu kota, daerah ataupun wilayah. Tinjauan aspek demografi di Kecamatan Somba Opu dilakukan secara internal, yang mencakup tinjauan terhadap jumlah distribusi dan kepadatan penduduk, penduduk menurut jenis kelamin, dan penduduk menurut mata pencaharian. a. Perkembangan Jumlah Penduduk

Perkembangan jumlah penduduk di Kecamatan Somba Opu dapat tercermin dari data jumlah penduduk Kabupaten Gowa selama lima tahun

terakhir. Dari data yang telah dihimpun dari berbagai sumber, mulai dari tahun 2014 sampai tahun 2019, jumlah penduduk di Kecamatan Somba Opu mengalami pertumbuhan yang terus meningkat.

b. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk Kecamatan Somba Opu tentu saja terus akan tumbuh seiring dengan perkembangan Kecamatan Somba Opu itu sendiri dan pesatnya pertumbuhan penduduk tersebut dipengaruhi oleh kelahiran dan urbanisasi yang cukup besar. Implikasi pertumbuhan penduduk yang cukup pesat tersebut tentu saja menimbulkan masalah-masalah sosial ekonomi di perkotaan dan memberikan pekerjaan yang besar bagi pemerintah daerah Kabupaten Gowa untuk mengelolannya. Kepadatan penduduk adalah salah satu indikator yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam hal pengambilan kebijakan baik itu dalam hal pembangunan fisik suatu kawasan ataupun yang menyentuh hal pembangunan masyarakat (Community Development).

B. Deskripsi Variabel Penelitian a. Umur Pedagang

Umur adalah usia ketika seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu. Umur dalam penelitian ini adalah umur responden yang mendirikan UMKM pada saat dilakukan penelitian di ukur dalam satuan tahun dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1

Deskripsi umur Pengusaha UMKM

No Umur Responden F Persentase (%)

1 21-50 77 83,7

2 >51 15 16,3

Jumlah 92 100

Sumber : Data Primer , Tahun 2019

Dari tabel 4.1 diketahui bahwa karakteristik umur Pengusaha UMKM, pada kelompok usia 21-50 berjumlah 77 orang atau sebesar 83,7 %, sedangkan umur pengusaha UMKM pada kelompok usia >51 berjumlah 15 orang atau sebesar 16,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa peengusaha UMKM di kecamatan Somba Opu Kabuoaten Gowa rata-rata berada dalam kelompok usia yang masih produktif untuk menjalankan usaha UMKM, artinya mereka masih memiliki potensi yang besar untuk menghasilkan Omset UMKM.

b. Jenis Kelamin

Kelompok Jenis Kelamin dalam penelitian ini dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok yaitu kelompok laki-laki dan perempuan. Karena perbedaan jenis kelamin juga menentukan seseorang untuk melakukan aktivitas, perempuan lebih melakukan hal-hal yang mudah sesuai dengan fisik yang dimilikinya dan lebih memiliki insting yang baik dibandingkan laki-laki dalam hal berdagang. Selain itu, kedudukan dan tugas antara laki-laki dan perempuan ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas

sesuai norma-norma dan kepercayaan, atau kebiasaan masyarakat. Dari hasil penelitian dilapangan didapatkan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2

Deskripsi Jenis Kelamin Pengusaha UMKM

No Jenis Kelamin F Persentase (%)

1 Laki-Laki 30 32,6

2 Perempuan 62 67,4

Jumlah 92 100

Sumber : Data Primer, Tahun 2019

Dari tabel 4.2 diatas diketahui bahwa pengusaha UMKM yang berjenis laki-laki berjumlah 30 orang atau 32,6%, lebih sedikit dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan yang berjumlah sebanyak 62 orang atau 67,4%. Responden dalam penelitian ini sebagian besar adalah perempuan yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah dan dimana bekerja sebagai Pengusaha UMKM di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

c. Pendidikan Pengusaha UMKM

Pendidikan adalah tahapan Pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang akan dikembangkan. Pendidikan dalam penelitian ini adalah tingkat Pendidikan Pengusaha UMKM pada saat dilakukan penelitian dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3

Deskripsi Tingkat Pendidikan Terakhir Pengusaha UMKM

No Tingkat Pendidikan F Persentase (%)

1 SD-SMP 55 59,7

2 SMA- DIPLOMA 34 37

3 S1 3 3,3

Jumlah 92 100

Sumber : Data Primer, Tahun 2019

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa jumlah tingkat Pendidikan Pengusaha UMKM yang lulus SD-SMP sebanyak 60 orang atau 65,2%, SMA- Diploma sejumlah 29 orang atau 31,5% dan S1 sejumlah 3 orang atau 6.2%. hal ini menunjukkan bahwa tingkat Pendidikan pedagang sampel sangat rendah. Rendahnya Pendidikan inilah yang mendorong seseorang untuk mendirikan Usaha Kecil dan Menengah dimana dalam melakukan pekerjaan tersebut hanya diperlukan keterampilan dan pengal

aman kerja.

d. Modal Pedagang Pengusaha UMKM

Modal adalah semua bentuk kekayaan yang dapat digunakan langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi untuk menambah output. Dari hasil

peenelitian dilapangan didapatkan data melalui kuesioner bahwa dari 81 responden berdasarkan deskripsi modal dapat dilihat pada tabel 4.4 :

Tabel 4.4

Deskripsi Modal Pedagang

Sumber : Data Primer, Tahun 2019

Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa modal yang digunakan pengusaha UMKM dengan frekuensi terbesar yaitu 39 atau sebesar 42.3% yaitu modal antara Rp. 7.000.000-9.000.000. Modal dengan frekuensi terkecil yaitu sebanyak 5 frekuensi atau 5.5% yaitu modal antara Rp.1.000.000-3.000.000.

e. Jam Dagang Pengusaha UMKM

Jam berdagang adalah waktu untuk melakukan pekerjaan dapat dilaksanakan siang hari dan atau malam hari dan lama waktu yang sudah dijalani

No Jumlah Modal F Persentase (%)

1 Rp. 1.000.000-3.000.000 5 5.5 2 Rp. 3000.000-5.000.000 0 0 3 Rp. 5.000.000-7.000.000 34 37 4 Rp. 7.000.000-9.000.000 39 42.3 5 >Rp.9.000.000 14 15.2 Jumlah 92 100

pedagang dalam menjalankan usahanya. Dari hasil penelitian dilapangan didapatkan data melalui kuesioner bahwa dari 92 responden berdasarkan deskripsi Jam berdagang dapat dilihat pada tabel 4.5

Tabel 4.5 Deskripsi Jam Kerja

No Jam Kerja F Persentase (%)

1 11 Jam 8 8.7 2 12 Jam 11 11.10 3 13 Jam 11 11.10 4 14 Jam 20 21.7 5 15 Jam 42 47 Jumlah 92 100

Sumber : Data Primer,Tahun 2019

Dari tabel diatas dapat diketahui dari 92 Responden diperoleh keterangan tentang jam kerja pengusaha UMKM di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Sebanyak 8 atau 8,7 % orang mulai bekerja pada jam 8:00-18:00 artinya masuk dalam kategori jam kerja 11 jam, sedangkan yang mulai bekerja pada jam

8:00-19:00 berjumlah 11 atau 11.10% orang dan masuk dalam kategori jam kerja 12 jam, dan ada yang membuka usaha mulai jam 8:00-20:00 sebanyak 11 orang pula, atau 11.10% orang dan masuk dalam kategori jam kerja 13 jam, sedangkan yang mulai bekerja pada jam 08-21 sebanyak 20 atau 21.7% orang, bahkan ada yang bekerja mulai jam 08-22 sebanyak 42 atau 47% dan masuk dalam kategori 15 jam bekerja.

f. Lokasi Usaha UMKM

Lokasi usaha harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang, kesalahan dalam menentukan lokasi usaha akan berakibat fatal bagi para pengusaha khususnya pengusaha UMKM yang berkategori berdagang. Oleh karena itu prioritas untuk menentukan lokasi sebelum ditetapkan perlu dianalisis secara baik. Dari hasil penelitian dilapangan didapatkan data melalui kuesioner bahwa dari 92 responden berdasarkan deksripsi lokasi dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6

Deskripsi Lokasi Usaha

Sumber: Data Primer , Tahun 2019

Pada tabel 4.6 terlihat bahwa pengusaha UMKM di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa yang menggunakan lokasi yang strategis atau terjangkau

No Lokasi Usaha Skor F Persentase (%)

1 Terjangkau 1 65 70.7

2 Tidak Terjangkau 0 27 29.3

sebanyak 65 atau 70.7% , sedangkan sebagian besar dari pengusaha UMKM memilih lokasi yang tidak strategis sebanyak 27 atau 29.3% . Melihat keadaan tersebut maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar pengusaha UMKM memilih lokasi yang Strategis. Dengan mendirikan usaha yang di lokasi yang strategis Volume penjualan atau Omset usaha UMKM bisa lebih besar karena lokasi tersebut merupakan lokasi yang strategis karena mudah dijangkau, lebih mudah dilihat dibandingkan dengan lokasi yang tidak strategis.

g. Omset

Omset adalah jumlah uang hasil penjualan barang (dagangan) tertentu selama suatu masa penjualan.. Dari hasil penelitian di lapangan didapatkan data melalui kuesioner bahwa dari 92 responden berdasarkan deskripsi penelitian dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut :

Tabel 4.7

Deskripsi Omset UMKM

No Omset Responden F Persentase %

1 Rp. 3.000.000-5.000.000 40 43.5

2 Rp. 7.000.000-6.000.000 52 56.5

Jumlah 92 100

Sumber : Data Primer, 2019

Dari tabel diatas diketahui dari 81 0rang diperoleh keterangan tentang Omset Pengusaha UMKM Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa berpendapat bahwa pendapatan pedagang sangat meningkat dengan lokasi usaha yang sangat terjangkau dan jam kerja yang digunakan dalam bekerja. Bahkan adapula yang

mengatakan modal sangat penting untuk memproleh pendapatan tambahan dalam berdagang.

C. Hasil Pengolahan Data 1. Uji Asumsi Klasik

Analisis uji prasyarat dalam penelitian ini yaitu menggunakan uji Asumsi Klasik sebagai salah satu syarat dalam menggunakan analisis regresi. Adapun pengujiannya dapat dibagi dalam beberapa tahap pengujian yaitu :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variable terikat dan variable bebas keduanya mempunyai distribusi data normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Salah satu metode untuk mengetahui normalitas adalah dengan menggunakan metode untuk mngetahui normalitas adalah dengan menggunakan metode analisis Normal Probability.

Gambar 4.1 dibawah ini terlihat bahwa pola distribusi mendekati normal, karena data mengikuti arah garis grafik histogramnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas telah terpenuhi dan layak dipakai untuk memprediksi omset UMKM berdasarkan variable bebasnya.

Gambar : Output SPSS 16 data diolah, Tahun 2019

Gambar 4.1 Normal Probability Plot, menunjukkan bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal dan menunjukkan pola distribusi normal, sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas telah terpenuhi dan layak dipakai untuk memprediksi pendapatan pedagang berdasarkan variable bebasnya.

b. Uji Multikolinearitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variable independent. Berdasarkan aturan variance

inflation factor (VIF) dan tolerance, maka apabila VIF melebihi angka 10 atau

tolerance kurang dari 0,10 maa dinyatakan terjadi gejala multikolinearitas. Sebaliknya apabila nilai VIF kurang dari 10 atau tolerance lebih dari 0,10 maka dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinearitas. Adapun hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut :

Tabel 4.9 Uji Multikolinearitas

Correlations Collinearity Statistics

Zero-order Partial Part Tolerance VIF

.758 .377 .206 .453 2.209

.758 .309 .164 .398 2.512

.808 .414 .230 .344 2.910

Sumber : Output SPSS 16 data diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.8 maka dapat diketahui nilai VIF untuk masing-masing Variabel Modal, Lokasi Usaha, Jam Kerja, nilai VIF nya <10 dan nilai tolersansinya >0,10 sehingga model dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas.

c. Uji Autokorelasi

satu metode analisis untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dengan melakukan pengujian nilai Durbin Watson (DW test). Jika nilai DW lebih besar dari batas atas (du), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi. Adapun hasil Uji Autokorelasi dapat dilihat pada table 4.9 berikut:

Tabel 4.10 Hasil Uji Autokorelasi

Sumber : Output SPSS 16 Data diolah, Tahun 2019

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai Durbin Watson menunjukkan nilai 2.950, dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa koefisien bebas dari gangguan autokorelasi.

d. Uji Heteroksedastisitas

Grafik scartter plot antara nilai pradiksi varibel dependen yaitu ZPRED dengan residualnya ZRESID, dimana sumbu y adalah y yang telah diprediksi, dan sumbu x adalah residual ( y prediksi- y sesungguhnya) yang telah telah di – studentized. Deteksi ada tidaknya heteroksedastisitas dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka mengidentifikasikan telah terjadi heteroksedastisitas. b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah

angka 0 pada sumbu y, maka tidak terjadi heteroksedastisitas.

Adapun hasil gambar Uji Heteroksedastisitas menggunakan SPSS Versi 16, dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut:

Gambar 4.2 scatterplot Uji Heteroksedastisitas Model R R Square Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate Durbin- Watson 1 .890ª .792 .784 1872306.378 2.950

Gambar : Output SPSS 16 data diolah, tahun 2019

Gambar 4.2 scatterplot tersebut, terlihat titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroksedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi pengaruh variable berdasarkan masukan variable independennya.

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah dalam penelitian. Uji hipotesis terbagi menjadi 3 yaitu :

a. Uji Simultan (Uji F)

Uji F merupakan uji simultan untuk mengetahui apakah variabel modal, lokasi usaha, dan jam kerja secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap omset UMKM di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Dari hasil analisis dapat dilihat pada table 4.11 berikut :

Hasil Uji Simultan (Uji F)

ANOVAa

Model Sum of

Squares

df Mean Square F Sig.

1 Regression 14307931861 1255.940 3 47693106203751.98 0 86.76 7 .000b Residual 48920681388 744.086 89 549670577401.619 Total 19200000000 0000.030 92

Sumber : Output SPSS 16 data diolah , Tahun 2019

Dari regresi yang ditunjukkan diatas pada table 4.11 F hitung sebesar 86.767 dengan tingkat probalitas 0.000 (signifikansi). Pengaruh variabel modal ( ), Lokasi Usaha ( ), Jam Kerja ( ), terhadap Omset UMKM (Y), maka diperoleh nilai signifikan .000 < 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga variabel bebas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

b. Uji Parsial (Uji t)

Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel independen (Modal, Lokasi Usaha, Jam Kerja) terhadap variabel dependen ( Omset UMKM) . Dari hasil analisis dapat dilihat pada table 4.12 berikut:

Tabel 4.12 Hasil Uji Parsial (Uji t)

Coefficients Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -3100097.586 1101465.270 -2.815 .006 Modal .231 .060 .306 3.845 .000 Lokasi Usaha 821475.792 268455.070 .260 3.060 .003

Sumber : Output SPSS 16 data diolah, Tahun 2019

Table 4.12 pengaruh secara parsial variabel modal, lokasi usaha dan jam kerja terhadap omset UMKM dapat dilihat dari tingkat signifikansi. Variabel modal, lokasi usaha dan jam kerja memiliki tingkat signifikan < 0.05, maka semua variabel independen berhubungan positif terhadap variabel dependen.

Hasil pengujian hipotesi variabel independen secara parsial terhadap variabel dependennya dapat dianalisis sebagai berikut :

a. Pengaruh Modal Terhadap Omset UMKM di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

Berdasarkan hasil uji t diperoleh keterangan bahwa variabel modal berhubungan postof dan signifikan terhadap omset UMKM. Variabel modal ( ) menunjukkan nilai signifikan ,(0.000 < 0.05) dengan nilai sebesar 0,231. Ini berarti semakin banyak modal yang digunakan maka semakin bertambah tingkat pendapatan pedagang.

b. Pengaruh Lokasi Usaha Terhadap Omset UMKM di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

Berdasarkan hasil uji t diperoleh keterangan bahwa variabel lokasi berhubungan positif dan signifikan terhadap omset UMKM. Variabel lokasi usaha ( ) menunjukkan nilai signifikan < (0.003 < 0.05) dengan nilai sebesar 821475.792. ini berarti semakin terjangkau lokasi yang digunakan maka semakin bertambah Omset UMKM.

c. Pengaruh Jam Kerja Terhadap Omset UMKM Di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

Berdasarkan hasil uji t diperoleh keterangan bahwa variabel jam kerja berh ub-ungan positif dan signifikan terhadap omset UMKM. Jam kerja ( ) menunjukkan nilai signifikan (0.000 < 0.05) dengan nilai sebesar 419018.140, ini berarti semakin lama waktu yang digunakan dalam membuka usaha maka semakin meningkat Omset UMKM.

c. Koefisien Determinasi ( )

Uji koefisien determinasi ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh variabel-variabel bebas dalam menerangkan variabel terikatnya. Nilai koefisien determinasi untuk 3 variabel bebas ditentukan dengan nilai adjusted R square. Adapun hasil koefisien determinasi dapat dilihat pada table 4.13 berikut :

Tabel 4.13

Koefisien Determinasi ( ) Model Summary

Sumber : Output SPSS 16 Data diolah, Tahun 2019

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin- Watson 1 .890ª .745 .737 1872306.378 2.950

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa hasil dari perhitungan diperoleh nilai koefisien determinasi yang disimbolkan dengan ( ) sebesar 0.745, dengan kata lain hal ini menunjukkan bahwa besar persentase variasi pendapatan pedagang yang bias dijelaskan oleh variasi dari ketiga variabel bebas yaitu modal kerja ( ), Lokasi Usaha ( ), dan Jam Kerja ( )

Dokumen terkait