• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAERAH ALIRAN SUNGAI DELI SEBELUM 1863

2.3.2. Aspek Ekonomi

Pada umumnya suku Melayu mendiami pinggiran sungai sesuai dengan tempat tinggal, mereka hidup dari menangkap ikan sedangkan yang berdiam agak ke pedalaman hidup sebagai petani. Begitu juga masyarakat disepanjang aliran sungai Deli, sebelum pengusaha-pengusaha Barat datang untuk membuka lahan perkebunan, lahan vulkanik yang subur telah dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah sekitarnya, yaitu Karo dan Melayu untuk menanam padi, cabai, dan tembakau secara berselang-seling.33 Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang dilakukan secara berhuma, yaitu bercocok tanam dengan cara berladang di hutan-hutan serta menangkap ikan di sungai.

Petani-petani ladang telah melakukan pembukaan dan pembakaran hutan pada musim kering yang akan digunakan menanam umbi-umbian, sayur-mayur, tebu dan pisang. Pada musim hujan berikutnya, lahan tersebut akan digunakan untuk menanam padi. Setelah penduduk mengenal tanaman lada, mereka memadukannya dengan sistem pertanian tradisional yaitu menanam lada secara berselang-seling di antara

33 Anthony Reid (editor), Soematera Tempo Doeloe Dari Marco Polo sampai Tan Malaka (Jakarta: Komunitas Bamboe, 2010). Hal .300.

tanaman ubi-ubian dan padi. Hasil-hasil yang merupakan produksi asli antara lain:

karet, kopra, kacang tanah, sagu, kopi, rotan dan kapur barus.34

Selain itu penduduk menambah kegiatan lainnya seperti menganyam tikar, bertenun dan membuat atap dari daun nipah. Semua kerajinan itu mereka jual untuk keperluan mereka. Hasil-hasil hutan seperti kemenyan, damar dan berjenis kulit binatang merupakan barang dagangan pada ketika itu. Tanaman kelapa, pala, nira dan teh diusahakan penduduk bahkan tanaman lada dan cengkeh pun sudah ditanam dan dikirim ke Penang.

Lada merupakan tanaman yang baru di Sumatera Timur, namun sebaliknya di daerah Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan lada merupakan komoditi ekspor yang sudah lama ditanam. Pada awal tahun 1800 di wilayah Sumatera Timur khususnya Deli, Langkat dan Serdang mengalami panen besar lada. Hal ini didukung oleh data statisik Penang bahwa pengiriman lada dari Sumatera Timur meningkat dari 3000 pikul pada tahun 1814 menjadi 26.000 pikul pada tahun 1822.35

Meningkatnya hasil ekspor lada menunjukan bahwa telah dilakukan perluasan penanaman lada yang sangat besar di daerah tersebut. Lada ditanam secara besar-besaran diwilayah Sumatera Timur khususnya Deli, Langkat dan Serdang. Sejak saat itu Sumatera Timur menjadi daerah penting sebagai pasar bagi barang-barang ekspor

34Baca F.J. Dootjes, “ Deli The Land of Agricultural Enterpresisses dalam J.Th. Moll (ed.), Bulletin of The Colonial-Institute of Amsterdam, V.II, Amsterdam: tanpa tahun, Hal .123. Lihat juga dalam Fatimah “Pembukaan Perkebunan Tembakau Sumatera Timur 1863-1900” dalam Buletin Historisme Edisi No.21 (Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara, 2005), hlm.

39.

35 Karl J. Pelzer, op. cit.,. hlm .20.

Penang terutama lada. Pulau Penang yang terletak di Semenanjung Malaya telah dikuasai Inggris sejak tahun 1786, selain berfungsi sebagai pintu masuk bagi pemasaran ekspor barang-barang industri Inggris, juga menampung barang-barang produksi ekspor dari pelabuhan-pelabuhan di Sumatera.

Kemampuan masyarakat di Sumatera Timur selain menanam lada juga menanam tembakau yang sudah dilakukan sebelum kedatangan pengusaha-pengusaha perkebunan Barat. Hal itu sudah diketahui juga sejak kedatangan Anderson.

Pengamatan Anderson mengenai penanaman tembakau Deli inilah yang kemudian membuat Deli terkenal. Tembakau yang ditanam oleh orang-orang Melayu dan Batak dilakukan dengan cara yang sangat sederhana.36 Produksi dan ekspor tembakau pada saat itu sudah mendekati produksi dan ekspor lada, sehingga Deli menjadi suatu daerah makmur karena hasil lada dan tembakaunya. Tanaman tersebut ditanam secara besar-besaran, karena merupakan komoditi ekspor terpenting.

Pada saat itu Deli berada di bawah pemerintahan Sultan Panglima Pengedar Alam Syah. Sultan memperoleh penghasilan, dari cukai barang masuk dan ke luar serta uang pabean37 lainnya yang diperkirakan berjumlah 4500 ringgit burung atau

36 Mereka menaburkan bibit di persemaian kecil, kemudian mencabut dan menanamnya kembali sesudah dua puluh hari dalam deretan kira-kira 2 (dua) kubit (45,72 cm). Dalam waktu 4 (empat) bulan tembakau siap dipanen. Pada saat berusia 2 (dua) bulan pucuknya dipotong agar daun-daunnya bertambah lebar. Apabila tanaman itu telah mempunyai tujuh helai daun, para penanam mulai memanen daun-daun tembakau tersebut. Tanda tembakau siap dipanen adalah daunnya mulai layu dan berwarna kecoklat-coklatan. Daun-daun tembakau dibiarkan disinari matahari selama empat hari kemudian dimasukan ke dalam keranjang-keranjang kecil dan siap untuk dipasarkan. Lihat John Anderon, ibid., hlm. 281.

37 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pabean merupakan instansi (jawatan, kantor) yang mengawasi, memungut, dan mengurus bea masuk (impor) dan bea keluar (ekspor), baik melalui darat, laut, maupun melalui udara.

sekitar 1000 dollar,38 kegiatan memungut cukai barang dilakukan oleh Syahbandar.

Tidak jauh dari bandar itu terdapat pekan sebagai tempat bertemunya pedagang dan pembeli dalam melakukan transaksi dagang.

Pekan ini berada di pinggir kiri kanan jalan yang memanjang sehingga seakan-akan membentuk suatu perkampungan. Pasar itu terdapat bangunan-bangunan rumah panggung yang saling bersentuhan. Perdagangan dilakukan dengan sistem barter, terutama dengan penduduk pedalaman, atau pembayaran. Para pedagang tidak hanya penduduk pribumi tetapi ada orang-orang Cina yang pada awalnya berjumlah lebih kurang 20 orang. Mereka umumnya menjual emas dan beberapa dari mereka telah memiliki bangunan toko-toko kecil, yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat tinggal mereka.

38Ringgit burung /Pilaar matten/ Dollar Pillar adalah rial Spanyol, 1 rial Spanyol sama dengan 8 shilling, 1 shilling sama dengan 30 du Belanda. Du atau Duit adalah mata uang Belanda. 1 rial Spanyol adalah 240 du (8 x 30 du). 8 du Belanda adalah 1 stuiver setara dengan 5 sen, berarti 1 sen adalah 1,6 du. 100 sen/1 gulden setara dengan 160 du.

Jadi 1 rial Spanyol setara dengan 1,5 gulden, penggunaan ringgit burung ini digunakan sebelum Belanda datang. Lihat Iyos Rosidah, op.cit., Hal .41.

BAB III

PERKEMBANGAN INDUSTRI PERKEBUNAN DI DAERAH

Dokumen terkait