• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDUSTRI PERKEBUNAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI DELI 1863-1920

3.1 Perluasan Areal Perkebunan

3.1.2 Perang Sunggal

Semenjak datangnya perkebunan banyak tanah yang diperlukan dan tanah tersebut haruslah tanah yang subur dan luas. Ada beberapa pihak yang tidak senang, seperti halnya penduduk Sunggal. Pemberontakkan terjadi diakibatkan karena tanah mereka yang subur diambil perusahaan tembakau Belanda untuk penanaman tebakau secara besar-besaran, sehingga tanah-tanah tidak subur yang didapatkan oleh rakyat.

Rakyat sunggal melihat pemberian tanah maupun pajak yang diperoleh dari hasil tanah, keuntungan tidak diberikan kepada rakyat, maka mereka mulai menentang perluasan perkebunan tersebut.

Pada tahun 1870 sultan Deli menyerahkan tanah yang terletak di Sunggal kepada maskapai Belanda. Pemberian konsesi tanah oleh Sultan Deli tidak mengadakan musyawarah dengan para pemimpin urung, sedangkan dalam tata karma Kerajaan Deli kedudukan datuk pimpinan urung sangat menentukan dalam pemerintahan. Kondisi ini merupakan pelanggaran adat istiadat dan tradisi kerajaan Deli, terutama dalam masalah penyewaan tanah dalam wilayah urung tersebut.

Seluruh pelanggaran terhadap adat istiadat ini terjadi pada masa pemerintahan Datuk Kecil, yaitu datuk yang menguasai Urung Sunggal dan lebih dikenal dengan nama Datuk Sunggal. Pada masa pemerintahan inilah terjadi pertumbuhan perkebunan Belanda sekitar Kerajaan Deli. Pertumbuhan perkebunan-perkebunan tersebut

melahirkan keresahan dalam kehidupan masyarakat di Kerjaan Deli terutama pada daerah Urung Empat Suku.49

Perasaan tidak puas rakyat pada daerah tersebut juga disebabkan oleh keadaan sosial dan budaya masyarakatnya. Sejak adanya perkebunan-perkebunan di sekitar kediaman penduduk, lahirlah suatu kelompok masyarakat yang asing bagi penduduk.

Belanda mendatangkan buruh-buruh Cina dan India untuk pembukaan perkebunan tembakau itu. Kehidupan masyarakat asing yang berada di dekat desa-desa penduduk sering melahirkan gangguan pada desanya seperti kebiasaan berjudi, minuman keras dan lain-lain. Hal inilah yang sangat menggelisahkan penduduk. Seluruh keadaan ini diharapkan penduduk dapat diakhiri dengan melenyapkan pengaruh Belanda dari daerahnya melalui perlawanan bersenjata.

Datuk Sunggal mengadakan persiapan-persiapan untuk mengusir Belanda dari daerahnya dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan dan mengadakan kesiapsiagaan pasukannya. Tindakan dari Datuk Sunggal itu mendapat dukungan dari masyarakat Batak Karo di Pegunungan, karena penduduk yang mendiami daerah urung empat suku adalah suku bangsa Karo yang masih mempunyai ikatan keluarga walaupun mereka telah memeluk Agama Islam. Melihat kesiapsiagaan Datuk Sunggal tersebut, Belanda yang mempunyai kepentingan dalam penanaman modalnya di Deli segera mendatangkan pasukannya dari Jawa sebelum keadaan tersebut menjadi lebih parah.

49 T. Luckman Sinar, op. cit., hlm. 223.

Pada 15 Mei 1872 datanglah pasukan ekspedisi Belanda yang pertama dipimpin oleh Kapten W. Koops. Belanda bersama dengan pasukan Kerajaan Deli sebagai penunjuk jalan, mulai melakukan penyerbuan ke daerah perbentengan Sunggal sehingga terjadilah perang Sunggal, pihak Belanda membangun benteng-benteng pertahanan di pinggir sungai Deli. Dibangunnya benteng-benteng – benteng-benteng ini dipinggir sungai Deli dikarenakan sungai Deli yang menjadi jalur transportasi penting yang menghubungkan hulu dan hilir, sehingga sungai harus dikuasai untuk kepentingan peperangan.

Dalam peperangan ini para pejuang Datuk Sunggal tidak hanya bertahan tetapi juga melakukan penyerangan-penyerangan. Mereka membakar bangsal-bangsal tembakau dan mengganggu pekerjaan buruh-buruh perkebunan agar apa yang diharapkan Belanda tidak dapat tercapai. Disebabkan serangan-serangan ini pihak perkebunan Belanda mengalami kesulitan. Pasukan ekspedisi yang didatangkannya tidak dapat mengatasi keadaan. Bahan makanan yang selama ini didatangkan dari daerah pedesaan tidak dapat masuk ke kota dan perkebunan. Untuk mengatasi ini Belanda terpaksa mendatangkan beras dari Penang. Kegiatan dari pejuang Datuk Sunggal menjadikan perang siaga, sehingga Belanda harus terus-menerus berjaga-jaga.

Diantara serangan yang dilakukan oleh rakyat Sunggal yaitu di daerah Rantau Betul, Timbang Langkat, rakyat membuat lubang-lubang pesembunyian dan ranjau untuk serdadu Belanda, sehingga benyak korban di pihak Belanda. Untuk mencari gerilyawan Sunggal, Belanda menghancurkan kampung-kampung di sekitar Sunggal.

Rakyat menyerang rumah-rumah administrateur perkebunan dan membakarnya sehingga Belanda mengungsikan para administrateur dan keluarganya ke daerah yang aman.50 Perang ini mendapat perhatian serius dari Kerajaan Belanda, karena perlawanan rakyat yang meluas hingga daerah pegunungan Karo dan Sumatera Timur harus segera dipatahkan. Untuk mempercepat berakhirnya perang, Belanda mengirim ekspedisinya yang kedua, pasukan ini lebih banyak dari yang pertama serta dipimpin oleh Letnan Kolonel Von Homracht. Persenjataannya lebih lengkap dari pasukan pertama karena dilengkapi oleh artileri berkuda, yang bertujuan untuk mengadakan penyerangan ke kubu-kubu pertahanan Sunggal, perlawanan Datuk Sunggal yang dibantu oleh penduduk pedalaman itu sangat memusingkan Belanda sehingga Belanda mencoba untuk mencari kubu-kubu pertahanan Sunggal.

Gambar. 3. Benteng Belanda dalam Perang Sunggal dipinggir Sungai Deli

Sumber: T. Luckman Sinar, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, hlm 232

50 T. Luckman Sinar, Sari Sedjarah Serdang, (Medan : Penerbit Sendiri, Tanpa Tahun), hlm.

157.

Untuk tujuan tersebut diperlukan meriam-meriam yang dapat menghancurkan kubu-kubu tersebut. Berbagai siasat dilakukan Belanda untuk mengamankan daerah sekitar Deli, tetapi tidak membawa hasil. Dengan tipu muslihat Belanda mengajak Datuk Kecil atau lebih terkenal lagi dengan Datuk Sunggal untuk berunding menyelesaikan segala perbedaan pendapat.

Datuk Sunggal menyetujui permintaan tersebut dan perundingan dilakukan pada 25 Oktober 1872. Dalam perundingan itu Belanda melakukan suatu tindakan yang licik. Perundingan tidak diadakan dan Belanda mengatakan bahwa Datuk Sunggal sekarang menjadi tawanan Belanda. Tindakan Belanda merupakan ini berhasil dan Datuk Sunggal bersama putera-puteranya kemudian dibuang ke Cilacap berdasarkan keputusan dari Gubernur Jenderal Belanda yang berkedudukan di Batavia.

Dengan ditawannya Datuk Kecil maka Datuk Badiuzzaman juga ditangkap dengan tipu muslihat Belanda dan dibuang ke Banyumas. Ditangkapnya tokoh-tokoh perang Sunggal, maka perang Sunggal pun berakhir pada tahun 1873, tetapi secara kecil-kecilan masih terus terjadi perlawanan terhadap Belanda tidak saja di Deli tetapi juga dibagian lain dari wilayah Sumatera Timur, misalnya di Asahan dan Simalungun. Untuk mengamankan daerah perkebunan yang vital di Sumatera Timur terutama di Deli, pihak perkebunan Belanda mengusulkan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar serdadu-serdadu Belanda diletakkan ditempat-tempat penting untuk menjaga keamanan.

3. 1. 3 Perkembangan Industri Karet, Teh, Kelapa Sawit

Ketika banyak para pengusaha berusaha mengembangkan perkebunan tembakaunya, awal tahun1885 beberapa onderneming di Marindal, Rimbun, dan daerah tanah tinggi Deli mencoba menanam karet sebagai pengganti tembakau.51 Akan tetapi tahun 1900 belum ada perkembangan dari tanaman tersebut. Memasuki tahun 1902, Deli Mij. mencoba tanaman karet dan memiliki tanaman karet sebanyak 5.000 pohon.

Tahun 1906 baru dilakukan perluasan perkebunan karet. Hal ini karena tanah dan iklim di Sumatera Timur sangat cocok untuk ditanami karet, sehingga meningkatkan penanaman modal asing yang berminat pada tanaman baru ini. Pada masa itu merupakan suatu periode yang paling luar biasa dalam perkembangan sejarah perkebunan di Hindia Belanda, khususnya selama dua dekade pertama.

Permintaan terhadap karet hasil produksi perkebunan Sumatera Timur sangat meningkat dipasaran dunia.52Luas karet telah meningkat dari 188.000 menjadi 255.500 hektar.53 Pada tahun 1920 pemerintah Hindia Belanda dan para pengusaha perkebunan benar-benar mulai menaruh perhatian kepada karet rakyat.

Sejalan dengan perkembangan perkebunan karet yang semakin meluas dan didorong oleh kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pengembangan tanaman karet.

Selain itu dengan adanya Undang Undang Pengetatan Penjualan Tenaga Buruh di

51 Karl Pelzer, op. cit., hlm. 74.

52 Iyos Rosida, op. cit., hlm. 49.

53 Ann Laura Stoler, Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera, 1870-1979 (Yogyakarta: Karsa, 1995), hlm.142.

Singapura dan Penang oleh pemerintah Inggris. Maka tanggal 27 Juni 1910 dibentuklah satu Organisasi Perkebunan Karet, yang dikenal dengan nama AVROS (Algemeene Vereeniging Rubberplanters ter Oostkust Sumatra).54 Organisasi ini merupakan serikat pemilik perkebunan yang ada di Sumatera Timur, sebagai jalan keluar untuk mendapatkan tenaga kerja.

Dalam organisasi AVROS dibentuk lembaga-lembaga lain, seperti Lembaga Penelitian (Algemeene Proef Station der AVROS) dan Lembaga Perburuhan (Java Immigration of AVROS). Tahun 1936 tercatat AVROS memiliki 126 anggota yang terdiri dari perusahaan perkebunan milik Belanda, Inggris, Belgia, Prancis, Swiss, Amerika dan Norwegia.

Teh pertama ditanam pada sebidang tanah percobaan di perkebunan Rimbun di Deli Hulu pada tahun 1898, tetapi proyek tersebut tidak diteruskan, karena tidak mempunyai harapan untuk berkembang lebih baik. Namun komersial penanaman teh di Sumatera Timur telah dibuktikan oleh seorang pengusaha perkebunana asal Swis, A. Ris, sehingga pada tahun 1910 modal Jerman dan Inggris turut mengembangkan perkembangan teh di sekeliling Pematang Siantar. Pengusaha perkebunan Handels Vereeniging Amsterdam turut mengembangkan perkebunan teh setelah tahun 1918.

54 Michel van Langenberg, Class and Ethnic Conflict in Indonesia Decolonization Process : A Study of East Sumatra, London : Cornell Unversity Press, 1982, hlm : 23

Gambar. 4. Pertumbuhan Tanaman Industri di Perkebunan Sumatera Timur Tahun 1864-1945.

Sumber: Karl Pelzer, op. cit., hlm. 228

Perusahaan Inggris yang diwakili oleh Rubber Plantation Investment Trust, telah memperoleh daerah konsesi dari raja-raja Simalungun terutama raja Pematang Siantar dan Raja Tanah Jawa.55 Penaklukan kerajaan-kerajaan kecil Simalungun pada tahun 1907, telah merintis jalan bagi perluasan perkebunan teh ke tanah-tanah pegunungan Simalungun. Perluasan area tanaman industri yang dimulai dengan penanaman tembakau sampai dengan tanaman keras seperti karet, teh, rami/sisal dan sawit.

55 Ann Laura Stoler, op. cit., hlm. 77

Sebelum tahun 1911 pohon kelapa sawit ditanam semata-mata hanya sebagai pohon hiasan di perkebunan. Iklim Sumatera Timur yang sangat cocok menyebabkan perkembangan lahan kelapa sawit sangat pesat karena dipicu oleh semakin tingginya konsumsi produk minyak sawit yang datang dari Eropa.

Percobaan komersial pertama untuk penanaman kelapa sawit dilakukan oleh pengusaha Jerman, K. Schadt yang menanam kelapa sawit di atas tanah konsesinya, yaitu di daerah Itam Ulu. Pada 1880-an beberapa pengusaha onderneming bingung mencari tanaman alternatif untuk mengisi perkebunan mereka gagal menanam tembakau. Penanaman kelapa sawit yang ditanami dibekas perkebunan tembakau ternyata mengandung kandungan tanah liparitik.56

Tabel. 3. Perkembangan Onderneming Teh dan Kelapa Sawit di Sumatera Timur dan Aceh (dalam hektar)

Tahun Teh Kelapa Sawit

1915 3.237 3.294

1920 10.009 8.462

1925 21.835 29.402

1930 21.273 61.229

1935 - 74.919

1938 21.588 73.621*

1945 -

Sumber: Karl Pelzer, op. cit., hlm. 78

56 Tanah-tanah liparitik keasamannya tinggi dan cenderung sangat mudah kena erosi karena sifatnya seperti pasir

Dokumen terkait