BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4. Aspek Ekonomi
ditambah dana dari APBN dan masyarakat. Pada tahun 2005 telah disebutkan pendanaan UN berasal dari pemerintah, tetapi tidak dijelaskan sumber pendanaan tersebut. Kondisi ini memungkinkan masyarakat kembali akan dibebani biaya pelaksanaan UN. Selain itu, sistem yang belum jelas masih sulit mencegah terjadinya penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama ini masih sangat tertutup dan tidak jelas
pertanggungjawabannya. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.
Sementara ada kelompok yang kontra terhadap pelaksanaan UN, di lain pihak juga terdapat kelompok yang setuju dengan pelaksanaan UN. Alasan-alasan yang melatarbelakangi persetujuan untuk dilaksanakannya UN akan dijelaskan berikut ini. Furqon (Masih Perlukah Ujian Akhir Nasional Pikiran Rakyat, 23 Desember 2004 – On line) menyebutkan sedikitnya ada lima alasan mendukung pelaksanaan UN.
Petama, alasan akuntabilitas publik (public accountability), yaitu ujian dalam pendidikan diharapkan mampu menyediakan dan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kemajuan dan prestasi. Dengan demikian, publik dapat mengetahui manfaat setiap rupiah yang dibelanjakan dalam kegiatan pendidikan.
Kedua, alasan pengendalian mutu (quality control) pendidikan. Ujian diharapkan dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan dan menjamin bahwa setiap keluaran (lulusan) pendidikan telah memenuhi kualifikasi, kompetensi, atau standar tertentu yang telah ditetapkan.
Ketiga, alasan motivator (pressure to achieve), yaitu evaluasi diharapkan menjadi instrumen untuk mendorong dan “memaksa” pengelola, penyelenggara dan pelaksanaan (guru dan siswa) pendidikan untuk berusaha lebih keras dalam mencapai hasil yang diharapkan.
Keempat, alasan seleksi dan penempatan yaitu hasil evaluasi pendidikan dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan untuk menerima atau menolak
seorang pelamar. Selain itu, hasil evaluasi juga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan ke mana seseorang dianjurkan untuk melanjutkan pendidikannya atau bekerja.
Kelima, alasan diagnostik yaitu bahwa evaluasi dapat memberikan umpan balik (feedback) terhadap kekuatan dan kelemahan suatu sistem sehingga dapat ditentukan upaya tindak lanjut yang diperlukan. Fungsi ini sering juga dikaitkan dengan fungsi peningkatan mutu (quality improvement) karena balikan yang tepat dapat mendorong kegiatan dan program pendidikan untuk senantiasa melakukan peningkatan mutu layanan pendidikan dan keluaran yang dihasilkannya.
Furqon (2004) mengemukakan bahwa ujian memegang peranan strategis dalam manajemen mutu pendidikan. Suatu studi yang dilakukan oleh tim Bank Dunia menunjukkan bahwa ujian akhir merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan yang banyak dipilih dan digunakan negara-negara berkembang yang sumber dayanya relatif terbatas.
Tarik menarik yang terjadi karena adanya pihak-pihak yang setuju dan tidak setuju ini menimbulkan suatu keprihatinan bagi banyak kalangan. UN sebagai suatu sistem evaluasi yang meliputi penentuan mata pelajaran yang diujikan, pembuatan item- item soal, penentuan standar kelulusan, dan mekanisme penilaian bagi beberapa pihak menjadi beban psikologis. Beberapa pihak yang paling merasakan dampak dari UN adalah peserta didik, orang tua siswa dan guru. Mereka masing- masing mempunyai beban sesuai dengan kapasitasnya dalam rangka menghadapi UN. Beban psikologis yang dirasakan tersebut antara lain tuntutan standar kelulusan sebesar 4, 26 (Mukarto, 2005: 130).
Bagi guru, tuntutan standar minimal 4, 26 dan sekaligus penentu kelulusan menjadi beban karena mereka harus mempersiapkan peserta didik yang masing-masing memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut berupa tingkat kecerdasan, latar belakang, sarana-prasarana yang mendukung kegiatan belajar di rumah, dan lain-lain. Selain itu, terbatasnya sumber dana dan sarana dan prasarana di sekolah juga menjadi hambatan tersendiri bagi guru untuk melaksanakan proses belajar yang optimal. Kondisi yang semacam ini tentu menimbulkan persoalan bagi guru apakah siswa-siswi dapat berhasil dalam UN. Persoalan tersebut tentu disebabkan oleh persepsi guru tentang sulitnya mencapai standar minimal dengan situasi dan kondisi yang ada.
Masalah lain bagi guru juga disebabkan karena kelulusan siswa – siswi menjadi penentu bagi mereka untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dalam menghadapi masalah ini, guru tentu memberikan tanggapan yang tidak sama. Hal ini ditentukan oleh kualitas siswa – siswi, sarana prasarana, dan jumlah siswa. Sekolah yang memiliki siswa berkualitas baik dan sarana dan prasarana yang memadai tentu mempunyai persepsi yang lebih positif dibandingkan dengan sekolah yang memiliki siswa yang berkualitas sedang atau rendah dan sarana prasarana yang terbatas. Dalam penelitian ini, dikelompokkan dalam sekolah negeri dan sekolah swasta.
Sebenarnya persepsi terhadap UN tidak hanya dibatasi oleh tuntutan standar nilai kelulusan tetapi UN sebagai suatu keseluruhan. Item- item soal yang tidak dibuat oleh guru, mekanisme penilaian yang tertutup, dan situasi dan kondisi
yang disamaratakan menimbulkan berbagai pemahaman yang berbeda terhadap Ujian Nasional.
Penelitian ini dilakukan di sekolah negeri dan swasta di kabupaten gunungkidul karna dilihat dari kualitas siswanya. Standar nilai (NEM) penerimaan siswa pada sekolah negeri umumnya lebih tinggi dibanding sekolah swasta. Sarana dan prasarana pada sekolah negeri pada umumnya lebih lengkap dibanding sekolah swasta.
Berdasarkan fenomena yang berkembang di masyarakat mengenai UN sebagai penentu kelulusan menimbulkan kontroversi. Dengan alasan inilah peneliti tertarik untuk meneliti perbedaan persepsi guru terhadap UN dari sekolah Negeri dan sekolah swasta. Peneliti menduga bahwa perbedaan kategorisasi sekolah yang menunjukkan kualitas sekolah akan mempengaruhi persepsi guru di sekolah tersebut. Topik yang akan dibahas adalah “Persepsi Guru terhadap Ujian Nasional”. Studi Empirik pada Sekolah Menengah Atas “di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah ada perbedaan persepsi yang signifikan terhadap Ujian Nasional dalam aspek pedagogis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta.
2. Apakah ada perbedaan persepsi terhadap yang signifikan Ujian Nasional dalam aspek yuridis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta
3. Apakah ada perbedaan persepsi yang signifikan terhadap Ujian Nasional dalam aspek sosial dan psikologis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta
4. Apakah ada perbedaan persepsi yang signifikan terhadap Ujian Nasional dalam aspek ekonomis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, tujuan penelitian adalah untuk mengetahui:
1 Perbedaan persepsi terhadap Ujian Nasional dalam aspek pedagogis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta.
2 Perbedaan persepsi terhadap Ujian Nasional dalam aspek yuridis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta
3 Perbedaan persepsi terhadap Ujian Nasional dalam aspek sosial dan psikologis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta
4 Perbedaan persepsi terhadap Ujian Nasional dalam aspek ekonomis antara guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dengan guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas Swasta
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: 1. Depdiknas.
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan di sekolah, khususnya yang berkaitan dengan sistem evaluasi, sehingga tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam UU No 20 tahun 2004 dapat diwujudkan.
2. Bagi Universitas Sanata Darma
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mena mbah kepustakaan dan dapat dipergunakan sebagai salah satu masukan bagi peneliti yang akan datang. 3. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan tentang sistem pendidikan formal di Indonesia.
4. Bagi sekolah menengah umum.
Hasil penelitian ini diharapkan bisa lebih meningkatkan persiapan sekolah didalam menghadapi pelaksanaan Ujian Nasional yang akan datang.
10
A. Tinjauan Teoritis 1. Evaluasi
a. Hakekat Evaluasi dalam Kegiatan Belajar Mengajar
Berdasarkan Undang - Undang No 20 Tahun 2003, evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak–pihak yang berkepentingan. Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang. Penilaian merupakan rangkaian untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar warga yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna bagi pengambilan keputusan (Mukarto Waspodo, artikel Peranan Pamong Belajar dalam Implementasi Kurikulum). Menurut Dr. Suharsimi Arikunto Penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Menurut pendapat Nana Sudjana dan R. Ibrahim (1989: 119), penilaian adalah suatu proses menentukan nilai dari suatu objek atau peristiwa dalam konteks situasi tertentu.
Jenis-jenis evaluasi menurut Dr.Suharsimi Arikunto meliputi:
1) Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan setiap selesai dipelajari suatu unit pelajaran tertentu yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana bahan pelajaran sudah dapat diterima oleh siswa.
2) Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir pengajaran suatu program atau sejumlah unit pelajaran tertentu.
3) Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan utuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
Sebelum guru menilai prestasi belajar siswa, ia harus terlebih dahulu mengukur prestasi belajar siswa. Kegiatan pengukuran dapat dilakukan melalui ulangan, ujian, tugas dan sebagainya. Kegiatan pengukuran sifat suatu objek adalah suatu kegiatan yang menentukan kuantitas sifat suatu objek melalui aturan-aturan tertentu yang benar-benar mewakili sifat dari suatu objek yang dimaksud (Masidjo, 1995: 14). Kuantitas yang diperoleh dari suatu pengukuran disebut skor. Contoh skor: 66, 33, 43 dsb.
Agar skor-skor yang diperoleh dapat berarti bagi pihak-pihak yang terkait khususnya guru dan siswa, skor-skor tersebut perlu diberi arti atau makna. Skor-skor tersebut akan bermakna apabila diperbandingkan dengan suatu acuan yang relevan, yang sesuai dengan sifat suatu objek, dalam hal ini adalah prestasi belajar siswa dalam penguasaan suatu mata pelajaran (Masidjo, 1995: 17-18). Tabel 1 berikut ini adalah contoh pedoman penilaian.
Tabel 1. Contoh Pedoman Penilaian
Kelas interval Kualifikasi Kualitas/ nilai
49 – 60 40 – 48 Amat baik Baik A B
34 - 39 28 – 33 0 – 27
Cukup
Kurang/ meragukan Kurang sekali/ gagal
C D E
Berdasarkan contoh di atas skor-skor tersebut dapat diubah menjadi kualitas. Dengan demikian, penilaian suatu objek adalah kegiatan membandingkan antara hasil pengukuran yang berupa skor dengan acuan yang telah ditetapkan sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan nilai.
Menurut Masidjo (1995:23-26), prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan pengukuran dan penilaian suatu objek sebagai berikut:
1) Kegiatan pengukuran dan penilaian sifat suatu objek harus dilaksanakan secara terus menerus atau kontinyu.
Dengan dilaksanakannya kegiatan pengukuran dan penilaian secara kontinyu akan membuat siswa makin dapat melaksanakan kegiatan belajar secara teratur. Dengan demikian guru dapat mengetahui perkembangan prestasi belajar siswa secara lebih mantap.
2) Kegiatan pengukuran dan penilaian sifat suatu objek harus dilaksanakan secara menyeluruh atau komprehensif.
Kegiatan pengukuran dan penilaian harus menyentuh semua bahan pelajaran yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Sifat menyeluruh dari isi kegiatan pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa ini tampak pada isi tes prestasi belajar yang mencakup berbagai bidang, yaitu pengetahuan, pemahaman, sikap, nilai dan ketrampilan
3) Kegiatan pengukuran dan penilaian sifat suatu objek harus dilakukan secara objektif.
Objektivitas pelaksanaan pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa dapat dicapai dengan mentaati aturan-aturan yang dituntut oleh kedua kegiatan tersebut secara bertanggungjawab, berusaha mengatasi keterbatasan-keterbatasannya dengan bertindak secara lugas dan apa adanya. Tantangan godaan yang dihadapi dalam melaksanakan kedua kegiatan tersebut berasal dari pandangan yang keliru tentang tugas guru, yang karena keadaannya seolah-olah dapat dibeli, sehingga dapat mengikis dan meruntuhkan sikap objektif guru dalam penentuan skor dan nilai prestasi belajar siswa.
4) Kegiatan pengukuran dan penilaian sifat suatu objek harus dilaksanakan secara kooperatif.
Dalam melaksanakan kegiatan pengukuran dan penilaian harus ada kerjasama antar guru, antara guru dengan kepala sekolah atau guru lain yang berpengalaman. Kerjasama dapat berupa perencanaan dan penyusunan tes prestasi belajar yang akan dipakai, sehingga tes tersebut diyakini sebagai tes yang bermutu. Di samping itu juga perlu kerjasama guru dalam pemahaman kondisi belajar siswa dengan mengadakan penelitian tentang kondisi belajar siswa, kerjasama dalam penentuan acuan penilaian yang dipakai oleh sekolah. Bentuk kerjasama lain dapat berupa penataran atau lokakarya dari para ahli, diskusi yang terarah antara guru muda dengan guru yang lebih berpengalaman atau pejabat yang
bertanggungjawab. Dengan adanya kerjasama tersebut diharapkan susunan atau profil nilai prestasi belajar siswa dalam laporan resmi seperti rapor
dapat menunjukkan taraf keseimbangan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003, Indonesia menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Kurikulum itu sendiri digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam KBK, kita mengenal adanya diversifikasi kurikulum yaitu kurikulum yang disesuaikan, diperluas, diperdalam atau dirancang untuk melayani keberagaman maupun minat peserta didik serta kebutuhan dan kemampuan daerah dan sekolah ditinjau dari segi geografis dan budaya (Ketentuan Umum KBK).
Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Pencapaian kompetensi dapat melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi, evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi-kompetensi yang telah dirumuskan. Penilaian pada KBK adalah penilaian berbasis kelas. Penilaian ini merupakan kegiatan pengumpulan informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi yang ditetapkan. Penilaian ini dilakukan oleh guru yang bersangkutan. Sekolah diberi kewenangan untuk menentukan kriteria keberhasilan, cara dan jenis
penilaian yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah ditentukan sebagai berikut:
1) Berorientasi pada kompetensi
2) Mengacu pada patokan atau kriteria yang ditetapkan sendiri sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya
3) Ketuntasan belajar, pencapaian tingkat kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi lebih lanjut
4) Menggunakan berbagai cara, pengumpulan informasi dapat menggunakan tes maupun non tes
5) Valid, adil, terbuka dan berkesinambungan
b. Ujian Nasional
Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. UN merupakan penilaian pada akhir proses pembelajaran di sekolah. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2005 dinyatakan bahwa UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah (pasal 1 ayat a). Ujian Nasional bertujuan untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam rangka pencapaian standar nasional pendidikan (pasal 3). Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/ U/ 2003 tentang Ujian Akhir Nasional tahun pelajaran
2003/ 2004 disebutkan bahwa tujuan UN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu, UN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, propinsi, kabupaten sampai tingkat sekolah (Ngadirin, 8 Desember 2004). UN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkan pada beberapa mata pelajaran yang dianggap penting, yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
UN yang bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa hendaknya sejalan dengan hakekat evaluasi dan landasan hukum evaluasi sebagaimana yang tertuang dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.
Beberapa aspek yang berkaitan dengan UN antara lain (Tempo, 4 Februari 2005) :
1) Aspek pedagogis
Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif).
Pasal 35 ayat 1 UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan , sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Pasal 58 ayat 1 menyatakan evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
3) Aspek sosial dan psikologis
Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mema tok standar nilai kelulusan kelulusan tahun 2002/2003 sebesar 3,01, tahun 2003/2004 menjad 4,01, tahun 2004/2005 menjadi 4,26 tahun 2005/2006 menjadi 4,51 tahun 2006/2007 menjadi 5,00. Kenaikan standar kelulusan dari tahun ke tahun menimbulkan kecemasan psikologis bagi guru dan peserta didik.
4) Aspek ekonomi
Seharusnya biaya pelaksanaan UN ditanggung oleh pemerintah, dengan demikian tidak menjadi beban bagi orangtua.
c. Ujian Akhir
Ujian akhir adalah evaluasi yang dilakukan pada akhir program di setiap satuan dan jenjang pendidikan, termasuk program Paket A, Paket B dan Paket C yang berfungsi sebagai (Suara Merdeka, 4 Mei 2004):
1) Pengendalian mutu dalam sistem pendidikan.
Hal ini berarti ujian akhir diharapkan menjadi salah satu mekanisme dan instrumen pengendalian mutu lulusan agar sesuai dengan kualifikasi atau standar minimal yang telah ditetapkan.
2) Instrumen akuntabilitas.
Hasil ujian akhir merupakan informasi kepada orangtua dan masyarakat mengenai keberhasilan dan manfaat dari dana yang dikeluarkan untuk pendidikan dan menginformasikan kemajuan dan kemunduran prestasi akademik para lulusan setiap tahunnya, sehingga pertanggungjawaban sekolah tidak hanya kepada Dinas Pendidikan tetapi juga kepada masyarakat, baik prestasi akademik maupun peringkat sekolah.
3) Bahan pertimbangan untuk seleksi, penempatan dan penjurusan peserta didik. Nilai ujian akhir dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penjurusan peserta didik. Nilai ujian akhir dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penjurusan seorang lulusan. Di samping itu, nilai ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan untuk menerima atau menolak seorang lulusan yang mendaftar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau melamar pekerjaan.
4) Alat diagnostik.
Ujian akhir sebagai alat untuk menge valuasi sistem maupun kebijakan yang telah diambil, serta mengidentifikasi variabel- variabel yang menentukan keberhasilan pada suatu kebijakan maupun pada sistem secara keseluruhan.
5) Evaluasi eksternal
Ujian akhir diharapkan berfungsi sebagai alat pendorong atau pemberi motivasi kepada peserta didik untuk belajar lebih sungguh-sungguh dalam mencapai standar nasional ya ng telah ditetapkan. Ujian diharapkan pula berfungsi sebagai alat pendorong kepada orangtua murid dalam mempersiapkan masa depannya (Badan Litbang Depdiknas 2003).
2. Persepsi
a. Pengertian Persepsi
Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman (Thoha, 1988: 138). Menurut Rakmanto (1985: 64). persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hasil hubungan-hubungan yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi dan menafsirkan perasaan.
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindraan yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya (Walgito, 1994: 53). Menurut Davidof melalui stimulus yang diterimanya, individu akan mengalami persepsi. Persepsi adalah proses mengorganisasikan, menginterpretasikan sehingga individu mengerti tentang apa yang diinderakan (1981, Walgito, 1994: 64).
Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, sejak itu secara langsung ia berhubungan dengan dunia luarnya. Mulai saat itu pula ia menerima stimulus atau rangsang dari luar di samping dari dalam dirinya sendiri. Ia merasa kedinginan, sakit dan sebagainya, kesan tersebut diperoleh dari lingkungannya, merupakan hasil dari proses persepsi. Karena persepsi merupakan proses memahami dunianya. Setelah manusia menginderakan objek di lingkungannya, ia memproses hasil penginderaannya itu, dan
timbullah makna tentang obyek itu pada diri manusia yang bersangkutan (Sarwono, 1992: 47).
Dari pengertian persepsi di atas dapat disimpulkan bahwa, persepsi mahasiswa adalah pandangan mahasiswa tentang suatu obyek (dalam hal ini adalah profesi guru) yang diperoleh dengan mengumpulkan dan menginterpretasikan informasi, sehingga mahasiswa tersebut dapat mengerti tentang apa yang diinderakan.
Persepsi terhadap suatu stimulus mungkin berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, walaupun stimulus disampaikan oleh orang yang sama. Hal ini dapat terjadi karena tergantung dari individu, apa yang hendak dipersepsi/bagaimana sesuatu yang akan dipersepsi tersebut diorganisasikan dan diinterpretasikan, tetapi hal ini tidak berarti persepsi orang satu dengan lainnya tidak mungkin terjadi kesamaan. Hal ini lebih banyak tergantung proses di dalam otak (Sarwono. 1992: 67).
Menurut Mulyadi (1989: 234-235), persepsi yang terbentuk sekurang-kurangnya dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
a. Orang yang membentuk persepsi itu sendiri
Kondisi intern atau karakteristik pribadi, sangat menentukan persepsi yang dibentuk. Termasuk dalam kategori kondisi intern ini antara lain: kebutuhan, kelelahan, kecemasan, sikap, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu, dan kepribadian.
b. Stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu
Obyek yang diamati (benda, orang, peristiwa, proses, dan lain- lain) ikut juga menentukan persepsi yang dibentuk oleh seseorang. Masing- masing obyek tersebut memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Kecuali itu setiap obyek juga memiliki sejumlah karakteristik tertentu. Karakteristik yang