BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Umum
4.2.8 Aspek Kesehatan
Angka Harapan Hidup dapat didefinisikan sebagai rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umurtertentu, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku dilingkungan masyarakatnya. Secara umum, selama kurun waktu 2012 hingga2015, angka harapan hidup masyarakat Kota Langsa terus meningkat.Artinya, harapan hidup seseorang untuk bertahan hidup lebih lama menjadisemakin tinggi. Saat ini, angka harapan hidup di Kota Langsa telah mencapai 69 tahun.
Grafik 4.9 Perkembangan Angka Harapan Hidup Tahun 2012-2015
Sumber : BPS Kota Langsa, Tahun 2017 B. Angka Kelangsungan Hidup Bayi dan Angka Kematian Bayi
Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Angka kelangsungan hidup bayi = (1-angkakematian bayi). Angka Kematian Bayi (AKB) dihitung dengan jumlahkematian bayi usia di bawah 1 tahun dalam kurun waktu setahun per 1.000kelahiran hidup pada tahun
yang sama. AKB menggambarkan keadaan sosialekonomi masyarakat dimana angka kematian dihitung. Kegunaan AKB untukpengembangan perencanaan berbeda antara kematian neonatal dankematian bayi yang lain.
Perkembangan AKB di Kota Langsa cenderung menurun dalam tiga tahunterakhir, yaitu 15 bayi per 1.000 kelahiran pada tahun 2014, dan turun menjadi 11 bayi per 1.000 kelahiran pada tahun 2015. Serta di tahun 2016angka kematian bayi tidak mengalami perubahan yaitu 11 per 1.000 kelahiran. Untuk lebih jelasnya perkembangan AKB dan AKHB Kota Langsadapat dilihat pada grafik berikut :
Grafik 4.10 Perkembangan AKB dan AKHB Tahun 2012-2016
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Langsa, Tahun 2017 C. Persentase Balita Gizi Buruk
Persentase Balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi giziburuk terhadap jumlah Balita. Keadaan tubuh anak atau bayi, dilihat dari berat badan menurut umur. Gizi buruk merupakan bentuk terparah dariproses terjadinya kekurangan gizi menahun. Status gizi Balita secarasederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badanmenurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan(standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat
badan menurut umur sesuaidengan standar, anak disebut gizi baik. Sedangkan di bawah standar disebutgizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Pada tahun 2016, di Kota Langsa terdapat tiga Balita penderita gizi buruk.
Tabel 4.5 Perkembangan Jumlah Balita Gizi Buruk Tahun 2012-2016
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Langsa, Tahun 2017 4.2.9 Aspek Layanan Umum
4.2.9.1 Layanan Urusan Keistimewaan Aceh A. Pendidikan Islami
Lembaga pendidikan tertua dalam sejarah pendidikan di Aceh adalah Dayah.Dayah di Aceh merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam yang bertujuan untuk membimbing anak didik (aneuk dayah atau santri) untukmenjadi manusia yang berkepribadian Islami, yang sanggup menjadi umatyang berguna bagi bangsa dan negara serta agama. Diharapkan dari Dayahlahir insan-insan yang menekankan pentingnya penerapan akhlak agama Islam yang merupakan pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari. Di Kota Langsa, jumlah pesantren atau dayah meningkat dari 12 pesantrenmenjadi 14 pesantren, baik tradisional maupun modern. Jumlah gurupesantren di Kota Langsa cenderung mengalami penurunan bila dilihat padatahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012, namun pada tahun 2014kembali meningkat menjadi 175 ustadz/guru dan di tahun 2015 kembalimeningkat menjadi 281 ustad/guru. Berbanding terbalik dengan
jumlahustadz/guru, jumlah santri/murid di seluruh pesantren justru terusmengalami peningkatan, dimana pada tahun 2012 sebanyak 3.244 orangsantri, naik menjadi 3.994 santri/murid di tahun 2014 dan 2015.
Tabel 4.6 Jumlah Pesantren, Ustadz dan Santri Tahun 2012-2015
Sumber : BPS Kota Langsa, Tahun 2016 B. Syariat Islam
Syariat Islam merupakan keseluruhan peraturan atau hukum yang mengatur tata hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam (lingkungannya), baik yang diterapkan dalam Al-Qur’an maupun Hadist dengan tujuan terciptanya kemashlahatan, kebaikan hidupumat manusia di dunia dan di akhirat. Syariat Islam yang dilaksanakan di Aceh termasuk di Kota Langsa meliputibidang aqidah, syari’ah, dan akhlak. Setiap pemeluk agama Islam di Acehwajib mentaati dan mengamalkan syariat Islam, dan setiap orang yangbertempat tinggal atau berada di Aceh wajib menghormati pelaksanaansyariat Islam. Selain itu, Pemerintah Aceh termasuk Pemerintah Kota Langsa juga menjamin kebebasan, membina kerukunan, menghormati nilai- nilaiagama yang dianut oleh umat beragama dan melindungi sesama umatberagama untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya.
Tabel 4.7 Jumlah Indikator Pelaksanaan Syariat Islam Tahun 2013-2016
Sumber : Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah, Tahun 2017 4.2.10 Layanan Urusan Wajib Dasar
4.2.10.1 Pendidikan
A. Angka Partisipasi Murni (APM)
Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase jumlah anak pada kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah pada jenjangpendidikan yang sesuai dengan usianya terhadap jumlah seluruh anak padakelompok usia sekolah yang bersangkutan. Bila APK digunakan untukmengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapatmemanfaatkan fasilitas pendidikan di suatu jenjang pendidikan tertentutanpa melihat berapa usianya, maka Angka Partisipasi Murni (APM) mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu.
Grafik 4.11 Perkembangan APM Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kota Langsa Tahun 2012-2016
Sumber : Laporan (LP2KD) Kota Langsa, Tahun 2016
Bila seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu, maka APM akanmencapai nilai 100. Secara umum, nilai APM akan selalu lebih rendah dariAPK karena nilai APK mencakup anak di luar usia sekolah pada jenjangpendidikan yang bersangkutan. Selisih antara APK dan APM menunjukkanproporsi siswa yang terlambat atau terlalu cepat bersekolah.
KeterbatasanAPM adalah kemungkinan adanya under estimate karena adanya siswa diluar kelompok usia yang standar di tingkat pendidikan tertentu.
Contoh,seorang anak usia 6 tahun bersekolah di SD kelas 1 tidak akan masuk dalampenghitungan APM karena usianya lebih rendah dibanding kelompok usiastandar SD yaitu 7-12 tahun. Perkembangan APM pada jenjang pendidikan SD/MI pada tahun 2016 adalah sebesar 106,08 persen, pada jenjang SLTP/MTs 72,28 persen dan pada jenjang SLTA/SMK/MA adalah 67,55 persen.
B. Angka Partisipasi Kasar (APK)
Angka Partisipasi Kasar (APK) menunjukkan partisipasi penduduk yang sedang mengenyam pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya. Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan persentase jumlah penduduk yang sedang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan (berapapun usianya) terhadap jumlah penduduk usia sekolah yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.
APK digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK merupakan indikator yang paling
sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.
Nilai APK bisa lebih dari 100 persen. Hal ini disebabkan karena populasi murid yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan mencakup anak berusia di luar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Sebagai contoh, banyak anak anak usia di atas 12 tahun, tetapi masih sekolah di tingkat SD atau juga banyak anak-anak yang belum berusia 7 tahun tetapi telah masuk SD.
Grafik 4.12 Angka Partisipasi Kasar (APK) Tingkat SD/SLTP/SLTA Tahun 2012-2015 Kota Langsa (Persen)
Sumber : Laporan Pelaksanaan (LP2KD) Kota Langsa, Tahun 2016
Dari grafik di atas menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) padatahun 2015 untuk tingkat SD mencapai 110,94 persen, tingkat SMP/MTssebesar 100,75 persen dan tingkat SMA/SMK/MA sebesar 68,60 persen.
C. Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV
Guru memegang peranan penting strategis terutama terutama dalammembentuk karakter bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilainilai yang diinginkan. Peran dan posisi guru tidak dapat digantikansekalipun olehteknologi yang amat canggih. Begitu penting arti guru, sehingga
sudahselayaknya apabila kita menaruh perhatian besar terhadap keberadaan guruagar dapat berkiprah secara profesional sesuai harapan semua pihak.
Kompetensi, kualifikasi dan sertifikasi merupakan prasyarat menciptakanguru yang profesional. Guru profesional menjadi jaminan penyelenggaraanpendidikan yang bermutu. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan danKebudayaan Kota Langsa jumlah guru SD/MI,SMP/MTs,SMA/SMK/MA tahun2017 adalah 3.729 orang dengan tingkat pendidikan berijazah kualifikasiS1/D-IV sebanyak 92,52 persen (pendidikan dan non pendidikan).
4.2.11 Kesehatan
A. Rasio Posyandu Terhadap Satuan Balita
Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah pusat kegiatan masyarakat,dimana masyarakat dapat sekaligus memperoleh pelayanan KB dankesehatan. Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakatdapat sekaligus mendapatkan pelayanan profesional melalui petugas sektor, serta non-profesional (oleh kader) dan diselenggarakan atas usahamasyarakat sendiri.
Tabel 4.8 Rasio Posyandu Per Satuan Bayi Tahun 2012-2016 Kota Langsa
Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017
Jumlah Posyandu di Kota Langsa tidak mengalami penambahan di tiga tahun terakhir. Sejak tahun 2014 hingga tahun 2016 jumlah Posyandu masih berada pada angka 120 unit yang tersebar di lima kecamatan. Jumlah Balita di Kota
Langsa pada tahun 2012 sebanyak 18.879 orang, pada tahun 2013 mengalami penurunan 16.562 orang, pada tahun 2014 kembali menurun menjadi 15.590 orang, namun di tahun 2015 naik kembali menjadi 17.894 orang dan pada tahun 2016 terus naik menjadi 17.945 orang. Perkembangan rasio Posyandu terhadap Balita di Kota Langsa mengalami penurunan yang tidak terlalu besar. Hal ini terlihat dari tahun 2014 rasio posyandu terhadap Balita sebanyak delapan, pada tahun 2015 dan 2016 rasio Posyandu terhadap Balita menurun menjadi tujuh.
Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai. Idealnya satu Posyandu melayani 100 Balita. Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan posyandu per Balita. Kegunaannya untuk mengetahui berapaselayaknya jumlah Posyandu yang efektif tersedia sesuai dengan tingkat penyebarannya serta sebagai dasar untuk merevitalisasi fungsi dan peranannya dalam pembangunan daerah.
B. Rasio Puskesmas, Poliklinik, dan Pustu Terhadap Satuan Penduduk Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu bermanfaat untuk mengetahui cakupan pelayanan kesehatan tersebut dalam memenuhi pelayanannyakepada penduduk. Dengan demikian pelayanan kesehatan dapat terpenuhisesuai dengan standar pelayanan.Rasio Puskesmas per satuan penduduk tahun 2012 adalah 0,03 dan konstanhingga tahun 2016. Untuk rasio Poliklinik per satuan penduduk cenderungmenurun, pada tahun 2012 tercatat 0,12 dan pada tahun 2013 turun menjadi0,11 dan hingga tahun 2016 rasio Poliklinik per satuan penduduk konstan
pada angka 0,11. Untuk rasio Puskesmas Pembantu di Kota Langsamenunjukkan tren yang cenderung menurun, pada tahun 2012 hingga 2014tercatat rasionya 0,05 dan pada tahun 2015 dan tahun 2016 menjadi 0,04.
Tabel 4.9 Jumlah Puskesmas, Poliklinik, dan Pustu Tahun 2012-2016
Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017 C. Rasio Rumah Sakit Terhadap Satuan Penduduk
Rumah Sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yangpelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya.
Tabel 4.10 Jumlah Rumah Sakit di Kota Langsa Tahun 2012-2016
Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017
Jumlah seluruh Rumah Sakit di Kota Langsa pada tahun 2016 adalahsebanyak empat unit yang terdiri dari satu unit milik pemerintah daerah dantiga unit milik swasta. Rasio Rumah Sakit terhadap satuan penduduksebanyak
0,024, artinya setiap 1.000 penduduk di Kota Langsa dapatmemanfaatkan pelayanan Rumah Sakit sebanyak 0,024.
D. Rasio Dokter Terhadap Satuan Penduduk
Rasio Tenaga dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayananyang dapat diberikan oleh dokter berbanding dengan jumlah penduduk yang ada. Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu, idealnya satu orang dokter melayani 2.500 penduduk. Jumlah dokter dan dokter spesialis di Indonesia belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlahpenduduk Indonesia. Selain itu, distribusi dokter tidak merata sertakualitasnya masih perlu ditingkatkan.
Tabel 4.11 Rasio Dokter Tahun 2012-2016 Kota Langsa
Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017
Jumlah dokter di Kota Langsa dalam tiga tahun terakhir cenderungmengalami penurunan, dimana pada tahun 2012 jumlah dokter sebanyak 31orang, turun hingga pada tahun 2016 menjadi 17 orang dokter dengan rasiojumlah dokter terhadap jumlah penduduk mencapai 0,10 atau dengan katalain di tahun 2016, untuk setiap 1.000 penduduk dapat dilayani oleh 0,10 jasa dokter.
Penurunan rasio ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah pendudukserta berkurangnya jumlah dokter. Hal ini berarti bahwa kebutuhan dokter diKota Langsa masih sangat besar demi terpenuhinya pelayanan kesehatanmasyarakat.
E. Rasio Tenaga Medis per Satuan Penduduk
Rasio tenaga medis per jumlah penduduk menunjukkan seberapa besarketersediaan tenaga kesehatan dan cakupan pelayanan dalam memberikanpelayanan kesehatan kepada penduduk.
Tabel 4.12 Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk Tahun 2012-2016
Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017
Untuk rasio tenaga medis di Kota Langsa mengalami penurunan. Pada tahun 2012 sebanyak 2,56 persen menurun menjadi 2,17 persen pada tahun 2016,hal ini berarti 2,17 orang tenaga medis dapat melayani 1.000 penduduk diKota Langsa. Penurunan ini diakibatkan berkurangnya jumlah tenaga medisserta meningkatnya jumlah penduduk pada tahun 2016.
F. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu dengan komplikasi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang mendapatpenanganan definitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatihpada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes, Puskesmas, Puskesmaspembantu, Rumah Bersalin, RSIA/RSB, dan RSU).
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Kota Langsa pada periodetahun 2014 hingga 2016 mengalami perubahan, dari tahun 2014 cakupankomplikasi kebidanan yang tertangani mencapai 58,88 persen, naik padatahun 2015 dan 2016 mencapai 100 persen. hal ini berarti bahwa semua
ibuhamil dengan komplikasi yang datang ke sarana kesehatan atau ditemukanoleh tenaga kesehatan telah ditangani seluruhnya dan bahkan termasukmelayani ibu hamil yang berasal dari luar wilayah kerjanya.
Tabel 4.13 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Tahun 2014 - 2016 Kota Langsa
Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017 4.2.12 Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
A. Jalan
Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan baiknasional, provinsi dan kabupaten/kota. Kinerja jaringan berdasarkan kondisidengan terminologi baik, sedang rusak, rusak dan rusak berat. Terminologiini didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan.
Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik di Kota Langsa padatahun 2012 mencapai 0,38 atau 38 persen dari total panjang jalan kota.Angka ini terus meningkat pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,47 atau 47persen dari total panjang jalan keseluruhan.
Tabel 4.14 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik Tahun 2012-2016 Kota Langsa
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Langsa 2017
B. Penataan Ruang
Tata ruang atau spatial plan adalah wujud struktur ruang dan pola ruangyang disusun secara nasional, regional dan lokal. Secara nasional disebutRencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke dalam RencanaTata Ruang Wilayah Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK).
Tabel 4.15 Pola Ruang Eksisting Kota Langsa Tahun 2016
Sumber : RTRW Kota Langsa Tahun 2012-2032
Penataan ruang di Kota Langsa sepenuhnya mengacu pada RTRW Kota Langsa yang tercantum dalam Qanun Kota Langsa Nomor 12 Tahun
2013tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Langsa Tahun 2012-2032.
Tujuanpenataan ruang di wilayah Kota Langsa berdasarkan fungsi adalah sebagaiberikut :
1. Sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kota Langsa.
2. Memberikan arahan bagi indikasi program utama dalam RTRW Kota Langsa.
3. Sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa.
Berdasarkan pola ruang eksisting, diketahui bahwa pola ruang di Kota Langsa paling dominan peruntukkannya untuk kawasan perkebunan (37,67persen), disusul kemudian untuk kawasan hutan (22,34 persen), tambak(13,70 persen), dan pemukiman (10,64 persen). Ruang Terbuka Hijau Kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open space) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, danvegetasi guna mendukung manfaat langsung atau tidak langsung yangdihasilkan oleh RTH dalam kota yaitu keamanan, kenyamanan,kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut.
BerdasarkanUndang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luasminimal Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang harus ada pada kawasanpermukiman adalah sebesar 30 persen. Dari luas tersebut, 20 persen diantaranya adalah RTH publik, dan sebesar 10 persen adalah untuk RTHprivat.
Tabel 4.16 Perkembangan Ruang Terbuka Hijau Tahun 2012-2016
Sumber : Materi Teknis RTRW 2012-2032 Bappeda Kota Langsa, Tahun 2017 Pada tahun 2016, persentase ruang terbuka hijau di Kota Langsa
adalahsebesar 15,46 persen atau 15,18 ha dari keseluruhan jumlah ruang publikyang tersedia.
4.3 Pengembangan Wilayah
Pengembangan wilayah pada dasarnya adalah pelaksanaan pembangunan nasional pada suatu wilayah yang telah disesuaikan dengan kemampuan fisik dansosial serta ekonomi dari wilayah tersebut, serta tetap menghormati peraturanperundangan yang telah ditetapkan. Perkembangan suatu wilayah mempunyai kaitan yang erat dengan perumusan strategi kebijakan pembangunan yangdilaksanakan oleh wilayah yang bersangkutan.
Dalam merumuskan strategi kebijakan pembangunan yang tepat perlu diketahui terlebih dahulu konsep pengembangan wilayah itu sendiri. Dan seperti diuraikan pada bab sebelumnnya bahwa konsep pengembangan wilayah secara garis besar terbagi atas empat, sebagai berikut: (1) pengembangan wilayah
berbasis sumber daya; (2) pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan;
(3) pengembangan wilayah berbasis efisiensi; dan (4) pengembangan wilayah menurut pelaku pembangunan. Penekanan pada tulisan ini adalah bagaimana mengembangkan suatu wilayah dengan basis komoditas unggulan atau sektorbasis.
Berdasarkan hasil analisa sektor, Kota Langsa memiliki potensi sektor strategis dalam pembangunan wilayah, dilihat dari potensi disetiap kecamatan yang berbeda-beda. Namun jika dilihat dari angka PDRB Kota Langsa sangat memungkinkan dalam strategi pengembangan wilayah perlu dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kota Langsa adalah mengembangkan sektor barang/Jasa sebagai sektor yang paling banyak menyumbang PDRB Kota Langsa dan hampir
merata di seluruh kecamatan memiliki aspek strategis unggulan dalam bidang barang/jasa.
Dalam konteks pengembangan wilayah, diperlukan juga upaya mengkoordinasikan dan mengintegrasikan sektor-sektor yang berkembang di wilayah tertentu. Misalnya dalam suatu wilayah kecamatan yang memiliki sektor basis lebih dari satu maka sektor-sektor tersebut harus mampu berintegrasi dan saling mendukung satu sama lain, demikian pula halnya antar kecamatan sehingga mampu meningkatkan perekonomian Kota Langsa. Semakin baik pengkoordinasian dan pengintegrasian tersebut maka akan semakin tinggi pengembangan wilayahnya.
Sjafrizal (2008:102) mengemukakan bahwa ketimpangan daerah yang mengecil (convergence) ataupun ketimpangan daerah yang melebar (divergence), dapat dijadikan dasar untuk perumusan kebijakan pembangunan daerah serta penanggulangan ketimpangan wilayah. Bila terdapat tendensi terjadinya divergence, maka kebijakan untuk mendorong pemerataan pembangunan menjadi
sangat penting artinya. Akan tetapi bila tendensi yang terjadi adalah bersifat convergence, maka kebijakan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan
pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih penting artinya.
Dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan pada wilayah-wilayah yang masih terbelakang. Untuk mendapatkan kebijakan pembangunan regional atau daerah yang tepat, perlu ditetapkan sasaran
yang ingin dicapai antara lain, kemakmuran wilayah (place prosperity) atau kemakmuran masyarakat (people prosperity).
Kemakmuran wilayah (place prosperity) berarti terwujudnya kondisi fisik wilayah yang maju seperti, sarana, prasarana publik, dan pemukiman.
Kemakmuran masyarakat (people prosperity) diwujudkan melalui pembangunan yang diarahkan kepada pembangunan penduduk di suatu wilayah. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan, kesehatan, teknologi, produksi dan produktivitas.
Bila kemakmuran wilayah (place prosperity) sebagai sasaran pembangunan daerah, maka besar kemungkinan pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkat cepat karena didorong oleh kondisi daerah yang sudah lebih baik, terutama prasarana dan sarananya. Kegiatan investasi akan meningkat, sehingga mendorong migrasi masuk dan makin banyak lapangan pekerjaan. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja biasanya lebih dinikmati oleh pendatang, sementara penduduk setempat kurang menikmati karena ketimpangan kualitas sumberdaya manusianya. Hal ini menyebabkan ketimpangan pada distribusi pendapatan yang cukup tinggi antara pendatang dengan penduduk setempat, dan akan menimbulkan kecemburuan dan ketegangan sosial dalam masyarakat.
Bila kemakmuran masyarakat (people prosperity) yang menjadi sasaran utama pembangunan daerah, maka tekanan pembangunan akan lebih banyak diarahkan pada pembangunan penduduk melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia (pendidikan, pelayanan kesehatan dan penerapan teknologi tepat guna),
juga peningkatan kegiatan produksi masyarakat dan kegiatan ekonomi masyarakat lainnya, serta pemberdayaan masyarakat. Konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi akan berjalan lambat, karena peningkatan kualitas sumberdaya masyarakat membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding dengan kegiatan fisik wilayah.
Kedua sasaran pembangunan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing seperti yang telah diuraikan di atas. Dalam hal ini, penulis lebih berpihak kepada sasaran pembangunan wilayah untuk mewujudkan kemakmuran masyarakat. Karena dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia sebagai pelaku pembangunan, diharapkan di masa yang akan datang pembangunan lebih mudah diwujudkan dan pada akhirnya akan mencapai kemakmuran wilayah itu sendiri. Dalam rangka memperkecil disparitas pembangunan antar kecamatan di Kota Langsa, pemerintah daerah perlu memperhatikan berbagai aspek, antara lain mengupayakan penyediaan sarana prasarana dan pelayanan yang lebih berimbang terutama sarana pendidikan, kesehatan, dan meningkatkan aksesbilitas wilayah serta lebih mengoptimalkan potensi di sektor barang/jasa dengan meningkatkan kegiatan industri.
Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Langsa Tahun 2017 - 2022, mengacu pada terciptanya salah satu wilayah unggulan dalam sektor perdagangan dan jasa yang ada di Provinsi Aceh.
4.4 Pengujian Validitas Dan Reabilitas
Pengujian validitas instrumen dengan menggunakan software statistik (SPSS), nilai validitas dapat dilihat pada komom Corrected Item-Total
Correlation. jika angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari angka kritik (r-
hitung> r-tabel) maka instrumen tersebut dikatakan valid.
4.4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Kontibusi Pemuda (X1)
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas kuisioner peran pemuda dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dijelaskan pada Tabel 4.17 berikut ini:
Tabel 4.17 Uji Validitas dan Reliabilitas Quesioner Kontibusi Pemuda Variabel Nomor Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah) a. Uji Validitas
Berdasarkan hasil uji validitas diatas terlihat bahwa r-hitung lebih besar dari r-tabel maka dapat disimpulkan bahwa skor dari seluruh indikator valid.
b. Reliabilitas
Tabel 4.17 menunjukkan bahwa variabel Pengaruh pemuda dalamaspek Ekonomi (X1) memiliki r-hitung sebesar 0.718,0.772, 0.821, 0.440.
Pendidikan (X2) memiliki r-hitung sebesar 0.643,0.655, 0.819, 0.575.
Kesehatan (X3) 0.736, 0.794, 0.804dan aspek Infrastruktur (X4) memilikir- hitung sebesar 0.578, 0.728, 0.720, sedangkan masing masing aspek memiliki Cronbach Alpha sebesar 0.631 , 0.753, 0.671 dan 0.635.Maka variabel Pengaruh pemuda dapat dikatakan reliabel.
4.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Dana Otonomi Khusus (Y1) Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas quesioner Dana Otonomi Khusus
dijelaskan pada Tabel 4.18 berikut ini:
Tabel 4.18 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Dana Otonomi Khusus Variabel
Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)
Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)