• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Analisis Umum

4.2.11 Kesehatan

A. Rasio Posyandu Terhadap Satuan Balita

Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah pusat kegiatan masyarakat,dimana masyarakat dapat sekaligus memperoleh pelayanan KB dankesehatan. Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakatdapat sekaligus mendapatkan pelayanan profesional melalui petugas sektor, serta non-profesional (oleh kader) dan diselenggarakan atas usahamasyarakat sendiri.

Tabel 4.8 Rasio Posyandu Per Satuan Bayi Tahun 2012-2016 Kota Langsa

Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017

Jumlah Posyandu di Kota Langsa tidak mengalami penambahan di tiga tahun terakhir. Sejak tahun 2014 hingga tahun 2016 jumlah Posyandu masih berada pada angka 120 unit yang tersebar di lima kecamatan. Jumlah Balita di Kota

Langsa pada tahun 2012 sebanyak 18.879 orang, pada tahun 2013 mengalami penurunan 16.562 orang, pada tahun 2014 kembali menurun menjadi 15.590 orang, namun di tahun 2015 naik kembali menjadi 17.894 orang dan pada tahun 2016 terus naik menjadi 17.945 orang. Perkembangan rasio Posyandu terhadap Balita di Kota Langsa mengalami penurunan yang tidak terlalu besar. Hal ini terlihat dari tahun 2014 rasio posyandu terhadap Balita sebanyak delapan, pada tahun 2015 dan 2016 rasio Posyandu terhadap Balita menurun menjadi tujuh.

Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai. Idealnya satu Posyandu melayani 100 Balita. Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan posyandu per Balita. Kegunaannya untuk mengetahui berapaselayaknya jumlah Posyandu yang efektif tersedia sesuai dengan tingkat penyebarannya serta sebagai dasar untuk merevitalisasi fungsi dan peranannya dalam pembangunan daerah.

B. Rasio Puskesmas, Poliklinik, dan Pustu Terhadap Satuan Penduduk Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu bermanfaat untuk mengetahui cakupan pelayanan kesehatan tersebut dalam memenuhi pelayanannyakepada penduduk. Dengan demikian pelayanan kesehatan dapat terpenuhisesuai dengan standar pelayanan.Rasio Puskesmas per satuan penduduk tahun 2012 adalah 0,03 dan konstanhingga tahun 2016. Untuk rasio Poliklinik per satuan penduduk cenderungmenurun, pada tahun 2012 tercatat 0,12 dan pada tahun 2013 turun menjadi0,11 dan hingga tahun 2016 rasio Poliklinik per satuan penduduk konstan

pada angka 0,11. Untuk rasio Puskesmas Pembantu di Kota Langsamenunjukkan tren yang cenderung menurun, pada tahun 2012 hingga 2014tercatat rasionya 0,05 dan pada tahun 2015 dan tahun 2016 menjadi 0,04.

Tabel 4.9 Jumlah Puskesmas, Poliklinik, dan Pustu Tahun 2012-2016

Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017 C. Rasio Rumah Sakit Terhadap Satuan Penduduk

Rumah Sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yangpelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya.

Tabel 4.10 Jumlah Rumah Sakit di Kota Langsa Tahun 2012-2016

Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017

Jumlah seluruh Rumah Sakit di Kota Langsa pada tahun 2016 adalahsebanyak empat unit yang terdiri dari satu unit milik pemerintah daerah dantiga unit milik swasta. Rasio Rumah Sakit terhadap satuan penduduksebanyak

0,024, artinya setiap 1.000 penduduk di Kota Langsa dapatmemanfaatkan pelayanan Rumah Sakit sebanyak 0,024.

D. Rasio Dokter Terhadap Satuan Penduduk

Rasio Tenaga dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayananyang dapat diberikan oleh dokter berbanding dengan jumlah penduduk yang ada. Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu, idealnya satu orang dokter melayani 2.500 penduduk. Jumlah dokter dan dokter spesialis di Indonesia belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlahpenduduk Indonesia. Selain itu, distribusi dokter tidak merata sertakualitasnya masih perlu ditingkatkan.

Tabel 4.11 Rasio Dokter Tahun 2012-2016 Kota Langsa

Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017

Jumlah dokter di Kota Langsa dalam tiga tahun terakhir cenderungmengalami penurunan, dimana pada tahun 2012 jumlah dokter sebanyak 31orang, turun hingga pada tahun 2016 menjadi 17 orang dokter dengan rasiojumlah dokter terhadap jumlah penduduk mencapai 0,10 atau dengan katalain di tahun 2016, untuk setiap 1.000 penduduk dapat dilayani oleh 0,10 jasa dokter.

Penurunan rasio ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah pendudukserta berkurangnya jumlah dokter. Hal ini berarti bahwa kebutuhan dokter diKota Langsa masih sangat besar demi terpenuhinya pelayanan kesehatanmasyarakat.

E. Rasio Tenaga Medis per Satuan Penduduk

Rasio tenaga medis per jumlah penduduk menunjukkan seberapa besarketersediaan tenaga kesehatan dan cakupan pelayanan dalam memberikanpelayanan kesehatan kepada penduduk.

Tabel 4.12 Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk Tahun 2012-2016

Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017

Untuk rasio tenaga medis di Kota Langsa mengalami penurunan. Pada tahun 2012 sebanyak 2,56 persen menurun menjadi 2,17 persen pada tahun 2016,hal ini berarti 2,17 orang tenaga medis dapat melayani 1.000 penduduk diKota Langsa. Penurunan ini diakibatkan berkurangnya jumlah tenaga medisserta meningkatnya jumlah penduduk pada tahun 2016.

F. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani

Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu dengan komplikasi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang mendapatpenanganan definitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatihpada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes, Puskesmas, Puskesmaspembantu, Rumah Bersalin, RSIA/RSB, dan RSU).

Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Kota Langsa pada periodetahun 2014 hingga 2016 mengalami perubahan, dari tahun 2014 cakupankomplikasi kebidanan yang tertangani mencapai 58,88 persen, naik padatahun 2015 dan 2016 mencapai 100 persen. hal ini berarti bahwa semua

ibuhamil dengan komplikasi yang datang ke sarana kesehatan atau ditemukanoleh tenaga kesehatan telah ditangani seluruhnya dan bahkan termasukmelayani ibu hamil yang berasal dari luar wilayah kerjanya.

Tabel 4.13 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Tahun 2014 - 2016 Kota Langsa

Sumber : Dinas Kesehatan, Tahun 2017 4.2.12 Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

A. Jalan

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan baiknasional, provinsi dan kabupaten/kota. Kinerja jaringan berdasarkan kondisidengan terminologi baik, sedang rusak, rusak dan rusak berat. Terminologiini didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan.

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik di Kota Langsa padatahun 2012 mencapai 0,38 atau 38 persen dari total panjang jalan kota.Angka ini terus meningkat pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,47 atau 47persen dari total panjang jalan keseluruhan.

Tabel 4.14 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik Tahun 2012-2016 Kota Langsa

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Langsa 2017

B. Penataan Ruang

Tata ruang atau spatial plan adalah wujud struktur ruang dan pola ruangyang disusun secara nasional, regional dan lokal. Secara nasional disebutRencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke dalam RencanaTata Ruang Wilayah Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK).

Tabel 4.15 Pola Ruang Eksisting Kota Langsa Tahun 2016

Sumber : RTRW Kota Langsa Tahun 2012-2032

Penataan ruang di Kota Langsa sepenuhnya mengacu pada RTRW Kota Langsa yang tercantum dalam Qanun Kota Langsa Nomor 12 Tahun

2013tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Langsa Tahun 2012-2032.

Tujuanpenataan ruang di wilayah Kota Langsa berdasarkan fungsi adalah sebagaiberikut :

1. Sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kota Langsa.

2. Memberikan arahan bagi indikasi program utama dalam RTRW Kota Langsa.

3. Sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa.

Berdasarkan pola ruang eksisting, diketahui bahwa pola ruang di Kota Langsa paling dominan peruntukkannya untuk kawasan perkebunan (37,67persen), disusul kemudian untuk kawasan hutan (22,34 persen), tambak(13,70 persen), dan pemukiman (10,64 persen). Ruang Terbuka Hijau Kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open space) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, danvegetasi guna mendukung manfaat langsung atau tidak langsung yangdihasilkan oleh RTH dalam kota yaitu keamanan, kenyamanan,kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut.

BerdasarkanUndang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luasminimal Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang harus ada pada kawasanpermukiman adalah sebesar 30 persen. Dari luas tersebut, 20 persen diantaranya adalah RTH publik, dan sebesar 10 persen adalah untuk RTHprivat.

Tabel 4.16 Perkembangan Ruang Terbuka Hijau Tahun 2012-2016

Sumber : Materi Teknis RTRW 2012-2032 Bappeda Kota Langsa, Tahun 2017 Pada tahun 2016, persentase ruang terbuka hijau di Kota Langsa

adalahsebesar 15,46 persen atau 15,18 ha dari keseluruhan jumlah ruang publikyang tersedia.

4.3 Pengembangan Wilayah

Pengembangan wilayah pada dasarnya adalah pelaksanaan pembangunan nasional pada suatu wilayah yang telah disesuaikan dengan kemampuan fisik dansosial serta ekonomi dari wilayah tersebut, serta tetap menghormati peraturanperundangan yang telah ditetapkan. Perkembangan suatu wilayah mempunyai kaitan yang erat dengan perumusan strategi kebijakan pembangunan yangdilaksanakan oleh wilayah yang bersangkutan.

Dalam merumuskan strategi kebijakan pembangunan yang tepat perlu diketahui terlebih dahulu konsep pengembangan wilayah itu sendiri. Dan seperti diuraikan pada bab sebelumnnya bahwa konsep pengembangan wilayah secara garis besar terbagi atas empat, sebagai berikut: (1) pengembangan wilayah

berbasis sumber daya; (2) pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan;

(3) pengembangan wilayah berbasis efisiensi; dan (4) pengembangan wilayah menurut pelaku pembangunan. Penekanan pada tulisan ini adalah bagaimana mengembangkan suatu wilayah dengan basis komoditas unggulan atau sektorbasis.

Berdasarkan hasil analisa sektor, Kota Langsa memiliki potensi sektor strategis dalam pembangunan wilayah, dilihat dari potensi disetiap kecamatan yang berbeda-beda. Namun jika dilihat dari angka PDRB Kota Langsa sangat memungkinkan dalam strategi pengembangan wilayah perlu dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kota Langsa adalah mengembangkan sektor barang/Jasa sebagai sektor yang paling banyak menyumbang PDRB Kota Langsa dan hampir

merata di seluruh kecamatan memiliki aspek strategis unggulan dalam bidang barang/jasa.

Dalam konteks pengembangan wilayah, diperlukan juga upaya mengkoordinasikan dan mengintegrasikan sektor-sektor yang berkembang di wilayah tertentu. Misalnya dalam suatu wilayah kecamatan yang memiliki sektor basis lebih dari satu maka sektor-sektor tersebut harus mampu berintegrasi dan saling mendukung satu sama lain, demikian pula halnya antar kecamatan sehingga mampu meningkatkan perekonomian Kota Langsa. Semakin baik pengkoordinasian dan pengintegrasian tersebut maka akan semakin tinggi pengembangan wilayahnya.

Sjafrizal (2008:102) mengemukakan bahwa ketimpangan daerah yang mengecil (convergence) ataupun ketimpangan daerah yang melebar (divergence), dapat dijadikan dasar untuk perumusan kebijakan pembangunan daerah serta penanggulangan ketimpangan wilayah. Bila terdapat tendensi terjadinya divergence, maka kebijakan untuk mendorong pemerataan pembangunan menjadi

sangat penting artinya. Akan tetapi bila tendensi yang terjadi adalah bersifat convergence, maka kebijakan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan

pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih penting artinya.

Dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan pada wilayah-wilayah yang masih terbelakang. Untuk mendapatkan kebijakan pembangunan regional atau daerah yang tepat, perlu ditetapkan sasaran

yang ingin dicapai antara lain, kemakmuran wilayah (place prosperity) atau kemakmuran masyarakat (people prosperity).

Kemakmuran wilayah (place prosperity) berarti terwujudnya kondisi fisik wilayah yang maju seperti, sarana, prasarana publik, dan pemukiman.

Kemakmuran masyarakat (people prosperity) diwujudkan melalui pembangunan yang diarahkan kepada pembangunan penduduk di suatu wilayah. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan, kesehatan, teknologi, produksi dan produktivitas.

Bila kemakmuran wilayah (place prosperity) sebagai sasaran pembangunan daerah, maka besar kemungkinan pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkat cepat karena didorong oleh kondisi daerah yang sudah lebih baik, terutama prasarana dan sarananya. Kegiatan investasi akan meningkat, sehingga mendorong migrasi masuk dan makin banyak lapangan pekerjaan. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja biasanya lebih dinikmati oleh pendatang, sementara penduduk setempat kurang menikmati karena ketimpangan kualitas sumberdaya manusianya. Hal ini menyebabkan ketimpangan pada distribusi pendapatan yang cukup tinggi antara pendatang dengan penduduk setempat, dan akan menimbulkan kecemburuan dan ketegangan sosial dalam masyarakat.

Bila kemakmuran masyarakat (people prosperity) yang menjadi sasaran utama pembangunan daerah, maka tekanan pembangunan akan lebih banyak diarahkan pada pembangunan penduduk melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia (pendidikan, pelayanan kesehatan dan penerapan teknologi tepat guna),

juga peningkatan kegiatan produksi masyarakat dan kegiatan ekonomi masyarakat lainnya, serta pemberdayaan masyarakat. Konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi akan berjalan lambat, karena peningkatan kualitas sumberdaya masyarakat membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding dengan kegiatan fisik wilayah.

Kedua sasaran pembangunan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing seperti yang telah diuraikan di atas. Dalam hal ini, penulis lebih berpihak kepada sasaran pembangunan wilayah untuk mewujudkan kemakmuran masyarakat. Karena dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia sebagai pelaku pembangunan, diharapkan di masa yang akan datang pembangunan lebih mudah diwujudkan dan pada akhirnya akan mencapai kemakmuran wilayah itu sendiri. Dalam rangka memperkecil disparitas pembangunan antar kecamatan di Kota Langsa, pemerintah daerah perlu memperhatikan berbagai aspek, antara lain mengupayakan penyediaan sarana prasarana dan pelayanan yang lebih berimbang terutama sarana pendidikan, kesehatan, dan meningkatkan aksesbilitas wilayah serta lebih mengoptimalkan potensi di sektor barang/jasa dengan meningkatkan kegiatan industri.

Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Langsa Tahun 2017 - 2022, mengacu pada terciptanya salah satu wilayah unggulan dalam sektor perdagangan dan jasa yang ada di Provinsi Aceh.

4.4 Pengujian Validitas Dan Reabilitas

Pengujian validitas instrumen dengan menggunakan software statistik (SPSS), nilai validitas dapat dilihat pada komom Corrected Item-Total

Correlation. jika angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari angka kritik (r-

hitung> r-tabel) maka instrumen tersebut dikatakan valid.

4.4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Kontibusi Pemuda (X1)

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas kuisioner peran pemuda dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dijelaskan pada Tabel 4.17 berikut ini:

Tabel 4.17 Uji Validitas dan Reliabilitas Quesioner Kontibusi Pemuda Variabel Nomor Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah) a. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas diatas terlihat bahwa r-hitung lebih besar dari r-tabel maka dapat disimpulkan bahwa skor dari seluruh indikator valid.

b. Reliabilitas

Tabel 4.17 menunjukkan bahwa variabel Pengaruh pemuda dalamaspek Ekonomi (X1) memiliki r-hitung sebesar 0.718,0.772, 0.821, 0.440.

Pendidikan (X2) memiliki r-hitung sebesar 0.643,0.655, 0.819, 0.575.

Kesehatan (X3) 0.736, 0.794, 0.804dan aspek Infrastruktur (X4) memilikir- hitung sebesar 0.578, 0.728, 0.720, sedangkan masing masing aspek memiliki Cronbach Alpha sebesar 0.631 , 0.753, 0.671 dan 0.635.Maka variabel Pengaruh pemuda dapat dikatakan reliabel.

4.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Dana Otonomi Khusus (Y1) Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas quesioner Dana Otonomi Khusus

dijelaskan pada Tabel 4.18 berikut ini:

Tabel 4.18 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Dana Otonomi Khusus Variabel

Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah) a. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas diatas terlihat bahwa tiap butir soal dari indikator pembangunan masyarakat perdesaan lebih besar dari skor r-tabel, artinya skor dari seluruh indikator dapat dikatakan valid.

b. Reliabilitas

Berdasarkan tabel 4.18 menunjukkan bahwa variabel dana otonomi khusus memiliki masing-masing r-hitung0.670, 0.494 dan 0.665. sedangkan Cronbach Alpha sebesar 0.752. Nilai Cronbach Alpha > dari 0,5 oleh karena itu maka variabel dana otonomi khusus dapat dikatakan reliabel.

1 0.670 0.195 Valid Dana

2 0.494 0.195 Valid 0.752

Khusus 3 0.665 0.195 Valid

4.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas VariabelPengembangan Wilayah (Y2) Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas quesioner Pengembangan wilayah dijelaskan pada Tabel 4.19 berikut ini:

Tabel 4.19 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Pengembangan wilayah Variabel Y2

No. r- r-

Ket Koefesian

Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah) c. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas diatas terlihat bahwa tiap butir soal dari variabelpengembangan wilayah lebih besar dari skor r-tabel, artinya skor dari seluruh indikator dapat dikatakan valid.

d. Reliabilitas

Berdasarkan tabel 4.19menunjukkan bahwa variabel pengembangan wilayah memiliki masing-masing r-hitung0.767, 0.769 dan 0.485. sedangkan Cronbach Alpha sebesar 0.853. Nilai Cronbach Alpha > dari 0,5 maka dapat

dikatakan reliabel, Oleh karena itu maka variabel dana otonomi khusus dapat dikatakan reliabel.

4.4.4 Analisis Statistik Inferensial

Analisis Statistik Inferensial bertujuan untuk menguji apakah data dan sampel yang ada sudah cukup kuat untuk menggambarkan populasinya dan mengukur derajat asosiasi antar variabel.

Pertanyaan Hitung Tabel Alpha

Pengembangan 1

0.767 0.195 Valid

Wilayah 2

0.769 0.195 Valid 0.853 3 0.485 0.195 Valid

4.4.4.1 Hasil Pengujian Substruktur I

A. Pengujian Asumsi Klasik Substruktur I 1. Hasil Uji Normalitas

Model Jalur yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Uji normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan uji normality plot dengan melihat grafik P-Plot. Dasar pengambilan keputusan yakni jika data menyebar disekitar diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model jalur memenuhi asumsi normalitas. Selain itu, tampilan grafik Histogram juga memberikan pola distribusi normal karena menyebar secara merata ke kiri dan ke kanan. Hasil uji normalitas yang dilakukan ditunjukkan oleh gambar berikut:

Gambar 4.5 Hasil Uji Normalitas P-Plot Substruktur I

Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)

Berdasarka hasil tampilan grafik pada Gambar 4.5 terlihat bahwa titik-titik membentuk sebuah garis lurus diagonal. Hal ini membuktikan bahwa data yang dipergunakan dalam penelitian ini memenuhi asumsi normalitas.

Sumber: Hasil Penelitian, 2020 (Data Diolah) Gambar 4.6 Grafik Histogram Substruktur I

Berdasarkan grafik diatas terlihat jelas distribusi data yang tidak melenceng ke kiri maupun ke kanan.

2. Hasil Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah suatu kondisi di mana terjadi korelasi signifikan antara variabel bebasnya. Jika terdapat gejala multikolinearitas relatif sempurna, maka penafsiran lewat kuadrat terkecil menjadi tak tertentu dan variansi serta standar deviasinya menjadi tak terdefinisikan. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya penyimpangan mengenai ketepatan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat. Dari hasil analisis hipotesis diperoleh nilai tolerance dan VarianceInflation Factor (VIF) sebagai berikut:

Tabel 4.20 Hasil Uji Multikolinearitas Substruktur I Model Collinearity Tolerance Statistics

VIF (Constant)

Ekonomi 0.803 1.245

1 Pendidikan 0.837 1.194

Kesehatan 0.888 1.126

Infrastruktur 0.761 1.314

Depedent variabel : Dana Otonomi Khusus

Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)

Berdasarkan Tabel 4.20 diketahui bahwa nilai VIF untuk variabel bebas Pengaruh pemuda yang terdiri dari berbagai aspek sebagai variabel yaitu : Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, dan infrastruktur lebih kecil dari 10 (VIF < 10), sedangkan nilai tolerance-nya mendekati 1. Dengan demikian persamaan substruktur I Analisis Path terbebas dari asumsi multikolinearitas.

3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residu satu pengamatan ke pengapatan yang lain. Jika varian tetap maka disebut homoskedastisitas namun jika berbeda maka terjadi problem heteroskedastisitas. Model regresi yang baik yaitu homoskesdastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas.

Terdapat beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas, salah satunya dengan melihat Scatter plot pada grafik.

Heterokedastisitas terjadi bila variannya tidak konstan, sehingga seakan- akan ada beberapa kelompok data yang mempunyai besaran error yang berbeda-beda bila di plotkan. Heterokedastisitas akan terdeteksi bila plot

menujukkan pola yang sistematis. Berikut ini adalah Gambar 4.7 yang menunjukkan uji heterokedastisitas.

Gambar 4.7 Hasil Uji Heteroskedastisitas Substruktur I

Sumber: Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)

Berdasarkan Gambar 4.7 tentang Scatterplot di atas, di ketahui bahwa terdapat titik-titik bulat menyebar tidak beraturan dan tidak berbentuk suatu pola yang simetris. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada heterokedastisitas pada data dan ini membuktikan bahwa data residual berdistribusi normal.

4.4.4.2 Uji Hipotesis

1. Model Analisis Jalur (Path Diagram) Substruktur I

Hipotesis menyatakan bahwa Aspek Ekonomi (X1), Aspek Pendidikan (X2), Aspek Kesehatan (X3) dan Aspek Infrastruktur (X4) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Pengelolaan Dana Otonomi Khusus (Y1) di Kota Langsa. Berikut ini Tabel 4.21 hasil perhitungan uji koefisien jalur masing-masing variabel:

Tabel 4.21 Hasil Uji Koefisien Jalur Substruktur I Dependent Variable: Dana Otonomi Khusus

Sumber: Hasil Penelitian 2020 (Data Olah) Berdasarkan Tabel 4.21 ditunjukkan sebagai berikut:

1. Nilai signifikan untuk Ekonomi sebesar 0,004< alpha 0,05, maka variabel tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap dana otonomi khusus, dengan demikian maka hipotesis diterima.

2. Nilai signifikan untuk Pendidikan sebesar 0,000< alpha 0,05, maka variabel tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap dana otonomi khusus, dengan demikian maka hipotesis diterima.

3. Nilai signifikan untuk Kesehatan sebesar 0,000< alpha 0,05, maka variabel tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap dana otonomi khusus, dengan demikian maka hipotesis diterima.

4. Nilai signifikan untuk Infrastruktur sebesar 0,015< alpha 0,05, maka variabel tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap dana otonomi khusus, dengan demikian maka hipotesis diterima.

Maka persamaan Analisis Jalur untuk persamaan substruktur I dalam penelitian adalah:

Y1 = 0,145 Y1X1 + 0,199 Y1X2 + 0.207 Y1X3 + 0.174 Y1X4+ Ɛ1

Selanjutnya untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas terhadapvariabel terikat adalah dengan menggunakan uji koefisien determinasi R berikut:

Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat dilihat dari nilai R Square. Untuk mengetahui hubungan Pengaruh pemuda dari segi aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dalam pengembangan wilayah dapat dilihat dari besarnya koefisien determinasi.

Tabel 4.22 Koefisien Determinasi Substruktur I

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the estimate

1 0.686a 0.470 0.448 0.94516

Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)

Berdasarkan Tabel 4.22 diatas dapat disimpulkan bahwa nilai Adjusted R Square yang diperoleh adalah sebesar 0,448 atau44,8% yang menunjukkan kemampuan variabel ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastrukturmenjelaskan variasi yang terjadi pada pengelolaan dana otonomi khusus sebesar 44,8%, sedangkan sisanya sebesar 55,2% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

4.4.4.3 Hasil Pengujian Substruktur II

1. Pengujian Asumsi Klasik Substruktur II a. Hasil Uji Normalitas

Model Jalur yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal (Santoso, 2001). Uji normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan uji normality plot dengan melihat grafik P- Plot. Dasar pengambilan keputusan yakni jika data menyebar disekitar diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model jalur memenuhi asumsi normalitas. Selain itu, tampilan grafik Histogram juga memberikan pola distribusi normalkarena menyebar secara merata ke kiri dan ke kanan.

Hasil uji normalitas yang dilakukan ditunjukkan oleh gambar berikut:

Gambar 4.8 Hasil Uji Normalitas P-Plot Substruktur II

Sumber: Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)

Berdasarkan Gambar 4.8 di atas, dapat dilihat bahwa data terdistribusi merata di sepanjang garis diagonal. Hal ini membuktikan bahwa data yang dipergunakan dalam penelitian ini memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4.9 Grafik Histogram Substruktur II

Sumber : Hasil Penelitian 2020 (Data Olah)

Berdasarkan Gambar 4.9 terlihat bahwa menyebar secara merata ke kiri dan ke kanan.

b. Hasil Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah suatu kondisi di mana terjadi korelasi signifikan antara variabel bebasnya. Jika terdapat gejala multikolinearitas relatif sempurna, maka penafsiran lewat kuadrat terkecil menjadi tak tertentu dan variansi serta standar deviasinya menjadi tak terdefinisikan. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya penyimpangan mengenai ketepatan variabel

Multikolinearitas adalah suatu kondisi di mana terjadi korelasi signifikan antara variabel bebasnya. Jika terdapat gejala multikolinearitas relatif sempurna, maka penafsiran lewat kuadrat terkecil menjadi tak tertentu dan variansi serta standar deviasinya menjadi tak terdefinisikan. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya penyimpangan mengenai ketepatan variabel