PLEADS Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran
2) Aspek Kesehatan Hewan a) Sektor Margasatwa
Margasatwa dalam penelitian ini merupakan margasatwa sebagai terjemahan langsung dari kata berbahasa Inggris “wildlife”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) margasatwa memiliki arti yang terbatas pada hewan-hewan liar yang hidup di hutan. Dalam penggunaan lain seperti dalam kata “suaka margasatwa” sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya (UU Konservasi), kata “margasatwa” dimaknai sebagai hewan-hewan dalam lingkup kawasan suaka alam, umumnya merujuk pada hewan-hewan konservasi.
Sedangkan kata “wildlife” sebenarnya memiliki pengertian yang lebih luas dari penggunaan kata “margasatwa” dalam bahasa Indonesia. Wildlife merujuk pada semua hewan liar yang hidup di alam bebas dan tidak terbatas pada apakah itu berada dalam ekosistem hutan, padang rumut, atau ekosistem perkotaan sekali pun. Berdasarkan kamus Merriam Webster, wildlife dimaknai sebagai makhluk hidup non-manusia, khususnya mamalia, ikan, dan burung yang tidak didomestifikasi. Artinya semua hewan yang hidup di alam liar dapat dikatakan termasuk wildlife—tidak hanya hewan konservasi atau yang yang berhabitat hutan.
Dalam konteks zoonosis, batas potensi penularan penyakit dari hewan liar pada manusia tidak terbatas kaitannya dengan apakah hewan tersebut tinggal di ekosistem hutan atau tidak, atau pun apakah hewan tersebut dilindungi dalam lingkungan kawasan suaka alam atau tidak. Sehingga untuk mencapai pembahasan yang komprehensif, pada penelitian ini margasatwa tidak akan merujuk pada definisi seperti dalam KBBI maupun seperti definsi yang dikonstruksikan dalam frasa “suaka margasatwa,” melainkan langsung merujuk pada pemaknaan yang ada pada kata wildlife dalam bahasa Inggris.
Terkait pencegahan penyakit zoonosis dari margasatwa, penelitian ini menekankan pada tiga bentuk tindakan, yakni; (1) Pencegahan munculnya penyakit pada margasatwa; (2) Kapabilitas Deteksi dan Komunikasi, serta (3) Kapabilitas Respon. Tindakan pencegahan akan berfokus pada bagaimana agar penyakit zoonosis sedari awal tidak perlu muncul atau terjadi sama sekali, baik itu yang telah teridentifikasi atau pun penyakit
margasatwa, baik itu berupa pengendalian atau pun eradikasi. Analisis regulasi akan dilakukan dengan menganalisis peraturan-peraturan yang relevan dengan pencegahan penyakit zoonosis dari margasatwa dinilai dari kontribusinya terhadap ketiga poin tersebut.
a. Pencegahan
Secara umum, terkait dengan kesehatan hewan diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (UU Peternakan). Meski UU Peternakan mengatur pula hal-hal terkait kegiatan peternakan, namun dalam konteks kesehatan hewan, UU Peternakan mengkonstruksikannya secara umum, dengan tidak terbatas hanya pada hewan-hewan ternak.
Merujuk padal Pasal 1 angka 1 UU Peternakan, kesehatan hewan dimaknai sebagai “segala urusan yang berkaitan dengan pelindungan
sumber daya Hewan, kesehatan masyarakat, dan lingkungan serta
penjaminan keamanan Produk….” Kemudian definisi Hewan dalam Pasal 1 angka 3 dimaknai sebagai “binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, dan/atau udara, baik yang dipelihara maupun yang di habitatnya.” Berdasarkan definisi tersebut, UU Peternakan setidaknya mengkontruksikan ruang lingkup kesehatan hewan secara umum sehingga margasatwa juga seharusnya masuk ke dalam ruang lingkup UU Peternakan.
Berdasarkan Pasal 39 Ayat (1) terdapat enam bentuk penyelanggaraan kesehatan hewan dalam UU Peternakan, yaitu, pengamatan, pengidentifikasian, pencegahan pengamanan, pemberantasan dan/atau pengobatan. Pencegahan sendiri dalam UU Peternakan dimaknai sebagai upaya untuk melindungi hewan dari muncul serta berjangkitnya penyakit hewan. UU Peternakan mengenal tiga bentuk upaya pencegahan muncul dan berjangkitnya penyakit hewan, yakni tindakan pengebalan, pengoptimalan kebugaran, dan biosekuriti (dalam konteks agrikultur).
Tindakan pengebalan secara lebih lanjut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2014 tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan (PP Pengendalian Penyakit Hewan). Pada PP Pengendalian Penyakit Hewan, pengebalan dilakukan melalui vaksinasi, pemberian antisera, serta peningkatan gizi. Sayangnya, tiga bentuk tindakan tersebut hanya terbatas pada hewan domestik. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan rumusan Pasal 25 Ayat (2) yang menentukan bahwa ketiga tindakan tersebut dilakukan oleh Perusahaan Peternakan, Peternak, dan perseorangan yang memelihara hewan tanpa ada ketentuan tambahan mengenai pengebalan pada margasatwa.
Adapun pemerintah melalui Otoritas Veteriner hanya menyediakan vaksin dan antisera, serta melakukan vaksinasi atau antisera dalam hal tertentu (yang masih dalam konteks hewan domestik). Begitu pun dengan tindakan pembugaran yang masih berkutat di sekitar hewan domestik. Pengoptimalan kebugaran juga diatur dalam PP Pengendalian Penyakit Hewan. Dalam regulasi tersebut pengoptimalan kebugaran dilakukan dengan cara melaksanakan prinsip kesejahteraan hewan,
Terkait prinsip kesejahteraan sendiri terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner (PP Kesmavet). Pasal 83 ayat (3) PP Kesmavet berketentuan bahwa prinsip kesejahteraan ini hanya diterapkan terhadap jenis hewan yang kelangsungan hidupnya tergantung pada manusia. Tentu karena pemaknaan biosekuriti dalam UU Peternakan adalah biosekuriti dalam konteks agrikultur, ruang lingkupnya juga masih ada di sekitar hewan domestik ketimbang satwa liar. Hal ini tentu disayangkan mengingat UU Peternakan membangun ruang lingkup yang luas sedari awal.
kementerian yang dimaksud salah satunya merupakan kementerian yang bergerak di bidang konservasi dan sumber daya alam hayati.
Artinya jikalau pun urusan intervensi terhadap kesehatan margasatwa ini dilakukan oleh Otoritas Veteriner dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ruang lingkupnya hanya sebatas pada upaya-upaya konservasi dalam lingkungan Kawasan Pelestarian Alam dan Kawasan Suaka Alam (KPA dan KSA). Sedangkan margasatwa sendiri meliputi jenis hewan yang beragam, dan tidak selalu merupakan hewan konservasi dan hewan-hewan dalam KSA dan KDA. Padahal intervensi terhadap kondisi kesehatan margasatwa menjadi salah satu komponen yang penting setelah upaya menjaga habitat.
Upaya vaksinasi terhadap margasatwa meski relatif lebih sulit, namun berkat perkembangan teknologi hal tersebut tidak lagi mustahil. Kasus hantavirus serta rabies dapat menjadi salah satu contoh vaksinasi margasatwa. Hantavirus merupakan suatu patogen yang memiliki inang alami berupa hewan-hewan pengerat serta kelelawar. Cakupan spesies yang menjadi inang alami hantavirus cukup banyak sehingga tidak terdapat vaksin resmi bagi manusia untuk semua jenis hanta virus. Untuk itu vaksinasi terhadap reservoir pembawa hantavirus mulai dipertimbangkan (khususnya hewan pengerat). Adapun metode yang digunakan adalah oral vaccination melalui umpan makanan yang mengandung vaksin bagi hewan yang ditarget.47
Selain hantavirus, metode vaksinasi margasatwa memiliki contoh sukses yang sudah diimplementasikan di beberapa negara, yakni vaksinasi rabies pada anjing dan rubah liar. Vaksinasi semacam ini mulai diperkenalkan di Eropa untuk rubah-rubah liar yang hidup di sekitar pemukiman, Metode yang digunakan adalah metoda oral vaccination melalui umpan. Berkat upaya tersebut kasus rabies dari margasatwa menurun hingga 80%. Upaya
47 Salas-Rojas Mónica, Gálvez-Romero Guillermo, and Pompa-Mera Ericka Nelly, ‘Vaccines Targeted to Zoonotic Viral Infections in the Wildlife: Potentials, Limitations, and Future Directions’, 2019, 1–13. Hlm.2
tersebut kemudian ditiru oleh Kanada dan Amerika Serikat.48 Contoh pengendalian rabies pada margasatwa juga pernah dilakukan di Ethiopia dalam konteks konservasi pada serigala Ethiopia yang terancam punah.49
Sehingga bukan tidak mungkin upaya serupa dilakukan di Indonesia. Namun dengan konstruksi hukum yang ada saat ini, vaksinasi terhadap margasatwa, khususnya yang non-konservasi tidak terpayungi dan tidak dimandatkan sama sekali.
Hal yang patut disayangkan lagi adalah konstruksi hukum tentang pencegahan penyakit hewan ini melewatkan langkah yang tak kalah penting dari intervensi terhadap populasi margasatwa, yakni intervensi terhadap lingkungan. Terkadang, kondisi lingkungan secara alami juga menciptakan resiko penularan zoonosis dari margasatwa. Untuk itu diperlukan juga langkah-langkah yang memodifikasi habitat margasatwa dengan menciptakan kondisi alam baru yang lebih baik bagi kesehatan margasatwa seperti memperbaiki akses nutrisi, sanitasi, atau kualitas air.
Langkah-langkah tersebut, tidak masuk kedalam bentuk pencegahan penyakit margasatwa baik itu dalam UU Peternakan atau pun Peraturan Pelaksananya. Adapun tindakan pembinaan habitat yang dikonstruksikan dalam Pasal 19 UU Konservasi memiliki ruang lingkup yang terbatas pada KSA dan KDA. Sebagaimana yang kita ketahui melalui definisi margasatwa, ruang lingkup KDA dan KSA ini tentu tidak cukup luas, membuat ada banyak wilayah-wilayah dan urusan kesehatan margasatwa yang tidak masuk ke dalam pengaturan.
Meski memegang peranan penting dalam pencagahan penyakit zoonosis bersumber margasatwa, perlindungan habitat serta intervensi belumlah cukup. Karena selain kedua hal tersebut, kontak dengan margasatwa juga perlu dikendalikan. Di beberapa negara dunia, termasuk di Indonesia,50
kontak antara magasatwa dengan manusia kerap dikendalikan melalui mekanisme pemisahan fisik menggunakan teknik pemagaran.51 Pemagaran dapat mengurangi kontak serta konflik antara margasatwa dan hewan domestik sehingga meminimalkan resiko penyebaran penyakit zoonosis bersumber margasatwa. Namun mekanisme semacam ini memiliki kekurangan karena beresiko menciptakan isolasi populasi dan keterbatasan ruang gerak hewan52 yang justru juga menimbulkan resiko zoonosis.
Untuk itu upaya tersebut baiknya ditegakkan dalam rezim hukum lingkungan dengan mempertimbangkan aspek kesehatan margasatwa terhadap setiap kegiatan alih fungsi lahan hutan atau yang terdapat ekosistem margasatwa di dalamnya sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya pada tulisan ini. Hal yang dapat diatur dalam rezim hukum kesehatan hewan mengenai kontak adalah pengendalian perilaku manusia. Beberapa kalangan masyarakat memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menjadi korban penularan penyakit zoonosis dari margasatwa.
Fenomena tersebut tidak hanya membahayakan keselamatan individu, tetapi juga beresiko menimbulkan EID dan menjadi ancaman terhadap ksehatan publik. Adapun kalangan-kalangan yang dimaksud diantaranya seperti masyarakat hutan, pengkonsumsi bushmeat tradisional, pemburu, polisi hutan, serta masayarakat di kawasan kumuh. Permasalahan pada masayarakat di kawasan kumuh, sebagaimana dijelaskan sebelumnya lebih baik diselesaikan dalam rezim hukum lingkungan dan perumahan rakyat untuk menjaga kesehatan lingkungan warga. Adapun pengendalian perilaku manusia akan diterapkan pada kalangan selain masyarakat kawasan kumuh.
Bentuk pengendalian yang dimaksud adalah mengatur tindakan apa saja yang dapat dilakukan oleh para pelaku kontak serta tindakan yang tidak
Sumber Daya Alam Dan Ekosistem", Ksdae.Menlhk.Go.Id, 2020 <http://ksdae.menlhk.go.id/berita/302/penanganan-konflik-satwa-liar-rusa-dengan-masyarakat-melalui-kegiatan-pengendalian-tumbuhan-invasif-di-blok-cikamal-resor-pangandaran-.html> [Accessed 21 July 2020].
51 Liudmila Osipova and others, ‘Fencing Solves Human-Wildlife Conflict Locally but Shifts Problems Elsewhere: A Case Study Using Functional Connectivity Modelling of the African Elephant’, Journal of Applied Ecology, 55.6 (2018), 2673–84. hlm.2674
diperbolehkan demi meminimalisir resiko terjadinya penularan penyakit zoonosis. Untuk itu perlu dilakukan standarisasi dari kegiatan-kegiatan seperti perburuan. Saat ini regulasi utama mengenai perburuan terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru (PP Perburuan). Dalam PP Perburuan instrumen pengendalian perilaku berburu dilaksanaan melalui surat izin berburu (Pasal 12).
Ketentuan mengenai surat izin berburu kemudian diatur lebih detail dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.18/Menhut-II/2010 tentang Surat Izin Berburu dan Tata Cara Permohonan Izin berburu (Permenhut Surat Izin Berburu). Hal yang patut disayangkan pada Permenhut tersebut adalah ketentuan larangan tidak memiliki pertimbangan kesehatan. Dalam Pasal 10 Permenhut Surat Izin Berburu, ketentuan larangan adalah seputar larangan yang berkaitan dengan keseimbangan jumlah buruan seperti larangan berburu diluar musim buru atau berburu dengan jumlah yang melebihi ketentuan.
Pengendalian perilaku yang mempertimbangkan pertimbangan kesehatan sangatlah penting dan cukup strategis melihat beberapa wabah penyakit yang pernah terjadi diketahui ditularkan dari margasatwa melalui pemburu. Di Turki, Ukraina, dan Rusia pernah terjadi kasus dimana penyebaran virus HPAI H5N1 ditransmisikan dari margasatwa kepada hewan ternak melalui para pemburu unggas.53 Kemudian penyakit kaki dan mulut (Foot-and Mouth atau FMD) ditransmisikan melaui para pemburu babi hutan terhadap hewan ternak di Bulgaria.54
Merespon hal tersebut, negara-negara Eropa lain menerapkan regulasi untuk mengendalikan perilaku para pemburu bahan dilibatkan secara aktif dalam upaya surveilans margasatwa.55 Begitu pun juga terhadap
profesi-profesi seperti polisi hutan atau pekerja konservasi yang berhadapan langsung dengan margasatwa, perlu ada perhatian khusus dengan pendekatan kesehatan. Terhadap masyarakat dan pemburu tradisional, pengendalian perilaku interaksi dengan margasatwa dapat dilakukan melalui program-program penyuluhan dan penyadaran penyakit zoonosis.
Saat ini Indonesia memiliki program penyuluhan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (UU Penyuluhan). Namun UU Penyuluhan materi utamanya terkait dengan penggunaan SDA hutan ketimbang aspek kesehatan masyarakat. Tentu penyuluhan pemanfaatan SDA juga penting untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup beserta fungsi kesehatannya, namun aspek pencegahan penyakit zoonosis tidak hanya seputar hal tersebut. Kontak antara manusia dengan margasatwa juga perlu diperhatikan.
b. Deteksi dan Komunikasi
Kapabilitas deteksi berbicara mengenai kemampuan nasional dalam mengetahui ‘keberadaan’ patogen zoonosis pada margasatwa. Deteksi dilengkapi juga dengan kapabilitas Identifikasi, yakni kemampuan nasional untuk mengetahui hal-hal lebih lanjut mengenai patogen tersebut seperti jenis, luas persebaran, dan sebagainya. Kemudian kapabilitas komunikasi berbicara mengenai pengelolaan informasi agar dapat segara diambil tindakan yang perlu untuk mencegah terjangkitnya manusia oleh penyakit zoonosis dari margasatwa. Respon
Pendeteksian dan pengidentifikasian penyakit zoonosis pada margasatwa dalam UU Peternakan tergolong sebagai penyelenggaraan kesehatan hewan dalam bentuk ‘pengamatan serta pengidentifikasian berdasarkan Pasal 39 Ayat (1). Adapun pengamatan dan pengidentifikasian dilaksanakan dengan penyelenggaraan surveilans. Sebagai urusan pemerintah di bidang kesehatan hewan, penyelenggaraan surveilans dilaksanakan oleh Otoritas Veteriner (Pasal 4 PP Otoritas Veteriner). Lebih khusus lagi, terkait dengan margasatwa tugas tersebut dilaksanakan oleh Otoritas Veteriner
Kementerian urusan lingkungan dan SDA Hayati (Pasal 9 PP Otoritas Veteriner).
Kekurangan dari konstruksi hukum tersebut terletak pada fokus dari KLHK yang masih berfokus pada KSA dan KDA. Padahal seperti yang telah disebut sebelumnya, potensi zoonosis tidak hanya dapat muncul di ekosistem hutan atau pun area-area KSA dan KDA melainkan juga pada ekosistem lain, khususnya ekosistem yang dekat dengan manusia (e.g. ekosisitem perkotaan). Pelaksanaan surveilans margasatwa, lebih jauh lagi harus dilakukan secara konsisten.
Karena surveilans margasatwa perlu dilakukan secara konsisten, maka pelibatan unsur selain negara juga diperlukan. Keberadaan unsur non-negara berfungsi untuk menambah sensitifitas terhadap fenomena kesehatan margasatwa. Elemen-elemen masyarakat seperti pemburu, atau masyarakt sekitar hutan perlu dibekali kemampuan untuk melaporkan fenomena kesehatan atau jika perlu kemampuan untuk mengambil sampel yang diperlukan dalam kepentingan identifikasi di laboratorium.
Di Eropa, para pemburu diwajibkan untuk melapor dan mengambil sampel jika mendapati fenomena kesehatan margasatwa yang mencurigakan.56 Indonesia bisa memanfaatkan keberadaan pemburu serta masyarakat sekitar habitat margasatwa untuk berperilaku sama. Namun tentu membuat masyarakat terlibat juga perlu dibarengi dengan upaya pendidikan serta penyuluhan. Masyarakat tertentu harus dibekali kemampuan untuk melaporakan fenomena kesehatan serta mengkoleksi sampel untuk keperluan laboratorium secara aman.
Saat ini elemen masyarakat seperti pemburu, pemburu tradisional, masyarakat hutan, atau masyarakat secara umum (seperti pedesaan atau
itu merupakan tanggng jawab negara di bidang kesehatan masyarakat veteriner. Adapun terkait sistem penyuluhan kehutanan saat ini sebagaimana dipaparkan sebelumnya masih belum mengisi fungsi penyuluhan seperti yang diharapkan.
Hal yang dapat diapresiasi dalam sistem surveilans pencegahan penyakit zoonosis di Indonesia terdapat dalam rezim hukum kesehatan manusia, yakni surveilans kesehatan lingkungan sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Meski konstruksi hukum demikian cukup baik untuk mencegah penularan penyakit zoonosis dari margasatwa yang dekat dengan manusia, hal tersebut masih belum sempurna. Kekurangan dari pembagian pada satu sektor yang sama adalah adanya wilayah abu-abu.
Wilayah abu-abu sendiri dapat diartikan sebagai suatu urusan yang tidak dikonsiderasikan sebagai urusan oleh Kemenkes, namun juga tidak dikonsiderasikan sebagai urusan KLHK. Sehingga ada sektor dalam surveilans margasatwa yang berpotensi terbengkalai. Sedangkan tidak ada jaminan bahwa EID zoonosis berikutnya tidak akan berasal dari sektor abu-abu tersebut. Sehingga sekalipun tidak diurusi sebagai satu wilayah urusan, surveilans pada margasatwa setidaknya perlu dilakukan secara terintegrasi sesuai dengan pendekatan OHC. Ditambah diantara kedua kementerian tersebut, tidak terdapat kategorisasi yang jelas mengenai jenis hewan seperti apa yang merupakan wilayah Kemenkes serta wilayah KLHK.
Tidak hanya dalam hal surveilans, komunikasi dan informasi fenomena kesehatan juga harus terintegrasi. Saat ini sistem informasi kesehatan hewan di Indonesia masih terpisah-pisah. Kemenkes dalam hal surveilans vektor memiliki Silantor sedangkan KLHK di wilayah konservasi dan hutan memilik Sehatsatli. Di luar konteks margasatwa, sistem informasi untuk hewan domestik menggunakan Isikhnas. Isikhnas dengan Sehatsatli, baru-baru ini diintegerasikan menjadi satu sistem informasi bernama SIZE 2.0. Sayangnya, surveilans margasatwa yang dalam UU Kesehatan dikonstruksikan sebagai sektor dan pembwa penyakit masih terpisah.
Sistem informasi terkotak-kotak semacam ini beresiko membuat transfer infromasi dari satu sektor kepada sektor lain menjadi beban koordinasi. Padahal fenomena kesehatan pada margasatwa perlu diketahui oleh sektor kesehatan manusia serta hewan domestik. Fungsinya adalah untuk merumuskan upaya mitigasi dan persiapan respon, serta keperluan lain terkait pencegahan zoonosis apabila fenomena kesehatan tersebut berpotensi zoonosis dan dapat menulari hewan domestik atau manusia. Namun tentu hal terseut tidak perlu dimaknai sebagai satu sistem informasi untuk semua sektor, apapun bentuknya, yang terpenting adalah sistem informasi antara sektor margasatwa dapat terintegrasi.
c. Respon
Setelah kapabilitas indentifikasi dan komunikasi, hal penting selanjutnya adalah kemampuan respon. Respon berkaitan dengan kemampuan nasional untuk mengendalikan atau mengeradikasi keberadaan penyakit zoonosis pada margasatwa. Tujuan pengendalian dan eradikasi bisa untuk menghilangkan penyakit atau mencegah keberadaan peyakit tersebut agar tidak menular pada manusia. Dalam kerangka Pasal 39 Ayat (1) UU Peternakan respon merupakan penyelenggaraan kesehatan hewan dalam bentuk pengamanan, pemberantasan, dan pengobatan.
Tindakan pengamanan dilakukan dalam bentuk karantina hewan yang diatur terpisah pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (UU Karantina Hewan). Tujuan dari karantina tak lain adalah untuk mencegah keluar, masuk, serta tersebarnya penyakit hewan. Namun karena bentuk dari karantina adalah pembatasan ruang gerak serta pengisolasian, ruang lingkup pengaturan terkait dengan karantina hanyalah dilakukan pada hewan-hewan domestik, atau hewan liar yang bergantung pada manusia (e.g. diperlihara atau satwa liar dalam
kasus atau agen penyakit hewan menular. Adapun pemberantasan tersebut diselenggarakan dalam bentuk penutupan wilayah, pembatasan lalu lintas hewan dan produk hewan, pengebalan hewan, pengisolasian hewan, hewan sakit atau terduga sakit, penanganan hewan sakit, pemusnahan bangkai hewan, pengeradikasi penyakit, dan pendepopulasian.
Semua bentuk tindakan tersebut kecuali pengeradikasian dan pendepopulasian dibangun tidak dalam kerangka margasatwa secara luas, melainkan dalam kerangka hewan-hewan yang hidupnya bergantung pada manusia seperti hewan domestik, hewan liar yang dipelihara, pun hewan konservasi, atau yang ada dalam KSA dan KDA . Pemberantasan penyakit pada margasatwa dalam kontruksi hukum terbatas pada bentuk pengeradikasian dan pendepopulasian. Hal tersebut tentu dapat disayangkan mengingat upaya pemberantasan penyakit zoonosis pada margasatwa tidak hanya terbatas pada eradikasi dan pendepopulasian.
Tindakan seperti pengebalan menggunakan vaksin juga dapat dilakukan, sebagaimana disampaikan sebelumnya. Selain itu medikasi atau penanganan hewan sakit juga bukan hal yang mustahil bagi margasatwa dengan populasi yang kecil. Nyatanya upaya tersebut pernah dilakukan untuk menghentikan penularan penyakit skabies anjing artik di Swedia. Upaya yang dilakukan oleh Swedia termasuk medikasi individu dalam populasi menggunakan metode capture, treat, and release. Selain itu, seperti yang dijelaskan dalam bagian sebelumnya mengenai hubungan antara habitat dan penyakit hewan, modifikasi terhadap habitat juga dapat dilakukan sebagai upaya pemberantasan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menghilangkan faktor alam penyebab transmisi atau munculnya penyakit.
Dalam kasus kolera unggas di Kanada misal, penyakit tersebut menginfeksi populasi bebek di suatu pulau, tapi tidak menginfeksi bebek di pulai lain. Setelah diperiksa, didapati bahwa pulau yang menjadi tempat wabah kolera unggas memiliki drainase yang buruk akibat tumpukan semak sehingga tercipta banyak genangan air (air diasosiasikan dengan transmisi kolera unggas). Sedangkan di pulau yang tidak terjadi wabah kolera unggas,
kualitas drainasenya jauh lebih baik.57 Setelah pulau yang menjadi tempat wabah tersebut kemudian dimodifikasi, dimana semak-semak disingkirkan dan ditanami rumput untuk perbaiki kualitas drainase, wabah kolera unggas pun mulai terkendali dan menjadi stabil.58
Upaya serupa seperti mengeringkan lahan basah saat terjadi wabah kolera unggas dapat dilakukan. Upaya-upaya tersebut dapat dikontekstualkan dengan kondisi alam dan masalah yang dihadapi oleh Indonesia. Namun juga konstruksi hukum harus memfasilitas upaya-upaya agar tidak terbatas. Terlebih, dengan beragamnya upaya pemberantasan, depopulasi dapat dijadikan langkah paling akhir hanya untuk keadaan genting tertentu. Sebagaimana diterangkan dalam Manhattan Principle on OHC, upaya-upaya seperti eliminasi masal pada margasatwa perlu direstriksi meski keberadaannya secara jelas berdasarkan kajian