Law Research Institute Conference
Law Research Institute Conference (LRIC) merupakan bentuk
perwujudan semangat dalam menjalin hubungan antara lembaga riset
mahasiswa di bidang hukum yang diaktualisasikan dalam bentuk
konferensi ilmiah. LRIC pada tahun ini akan diselenggarakan dengan
mengangkat tema "Biosecurity dan Biodefense".
Adapun
pertanggungjawaban akademik artikel-artikel yang dimuat disini, akan
ditanggung oleh masing-masing lembaga riset mahasiswa.
SUSUNAN REDAKSI
PelindungDekan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Prof. Dr. An an Chandrawulan, S.H., LL.M
Penasihat
Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran A. Gusman Siswandi, S.H., LL.M., Ph.D
Pembina
Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran
Wanodyo Sulistyani, S.H., M.H., LL.M Penanggung Jawab
Ketua Umum Padjadjaran Law Research and Debate Society (PLEADS) Nurul Aida
Kepala Departemen Kajian, Penelitian, dan Pengembangan PLEADS Hanifah Alya Chaerunnisaa
Kepala Biro Penelitian PLEADS Muhammad Pasha Nur Fauzan
Panitia Pelaksana
Ketua Pelaksana LRIC Evan Tobias
Wakil Ketua Pelaksana LRIC Melania Fidela
Siti Sarah
Jeff Lintang Editor
Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang karena rahmat serta ridho-Nya, kami dapat menyelesaikan rangkaian acara Law Research Institute Conference 2020 pada tanggal 25 Oktober 2020. Law Research Institute Conference
merupakan program kerja departemen Kajian, Penelitian, dan Pengembangan (KALITBANG) Padjajaran Law Research and Debate Society (PLEADS).
Padjadjaran Law Research and Debate Society (PLEADS) merupakan lembaga riset
dan komunitas debat hukum di Universitas Padjadjaran yang telah berdiri sejak tahun 2008. Munculnya PLEADS sebagai lembaga riset hukum mahasiswa lahir dari keinginan untuk menciptakan wadah khusus bagi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadajaran yang tertarik dalam hal riset dan debat. Sebagai lembaga mahasiswa yang fokus bergerak di bidang riset serta debat hukum, PLEADS telah melaksanakan berbagai macam program kerja yang berusaha mendukung perkembangan budaya akademis antar mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.
Hingga 2020, PLEADS telah menjadi wadah selama 12 tahun bagi mahasiswa FH Unpad untuk berkompetisi, berdiskusi, berdebat, ataupun menulis. Sebagai sarana yang mempertemukan mahasiswa dengan ketertarikan yang sama, PLEADS di tahun 2020 selain ingin menjalin hubungan internal, juga ingin turut berkontribusi dalam menjalin hubungan eksternal, khususnya antar lembaga riset mahasiswa hukum di Indonesia.
Tentunya keinginan untuk membangun hubungan antar lembaga riset itu telah banyak dan telah dilakukan oleh berbagai lembaga riset hukum di Indonesia, yang seringkali diadakan dalam bentuk lomba, legal discussion, konferensi dan lain-lain. Namun,
sebagai lembaga riset hukum, PLEADS dirasa memiliki tanggung jawab untuk turut serta dalam meramaikan perkembangan ilmu hukum yang tidak dibatasi secara internal saja, melainkan juga meliputi hubungan-hubungan eksternal dengan lembaga riset hukum lain.
iii riset dalam hal penelitian hukum. Dengan harapan, kerja sama yang terjalin di LRIC tidak
sebatas dalam pelaksanaan LRIC saja, melainkan dapat dilanjutkan setelah rangkaian acara LRIC selesai.
Dengan mengangkat tema Biodefense & Biosecurity, LRIC di tahun 2020 telah
berhasil mengumpulkan kajian-kajian ilmiah dari lembaga riset mahasiswa hukum di Indonesia. Terkumpulnya kajian-kajian ilmiah tersebut tentunya tidak luput dari partisipasi aktif lembaga riset mahasiswa hukum di Indonesia serta kerja keras panitia LRIC 2020 dalam membangun fondasi LRIC di tahun ini.
Kumpulan kajian ilmiah yang diberi nama Legal Workshop ini diharapkan dapat
menjadi manfaat bagi perkembangan ilmu hukum serta menjadi awal yang baik dimana hubungan antar lembaga riset hukum mahasiswa di Indonesia dapat terjalin dengan baik. Untuk Tuhan, Orang yang Kita Cintai, Dan Almamater.
Susunan Redaksi ... i Pengantar Redaksi ... ii Daftar Isi ... iv
One Health, Biosafety dan Biosecurity serta Studi Kasus di Indonesia ... 1
Garuda Biodefence Master Plan: Rencana Strategis Penanggungan Bahaya Ancaman Serangan Nubika Pada Sistem Pertahanan dan Keamanan Nasional Jangka Pendek, Menengah, Panjang ... 27 Penguatan Kewenangan Pemerintah Daerah dalam Pertahanan dan Keamanan Dari Penyakit Menular (Senjata Biologis) ... 44 Bio-Arakata : Reformulasi Kebijakan Ketahanan Hayati di Indonesia Melalui Strategi Ketahanan Hayati Nasional ... 63 Efektivitas Kebijakan Pemerintah dalam Implementasi Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan sebagai Solusi Mempertahankan Stabilitas Kesehatan Masyarakat Menghadapi Pandemi ... 87 One Health Concept sebagai Fondasi Hukum Biosekuriti Nasional dalam Pencegaham Penyakit Zoonosis: Tinjauan Penguatan Otoritas Veteriner ... 102
Daftar Bagan dan Tabel ... v Artikel Pembuka ... 1
v
Tabel 1: hubungan kelompok resiko dengan tingkatan biosafety,
praktikdan perlengkapan ... 4
Bagan 2: diagram alur kerja sama strategi ketahanan hayati ... 79 Bagan 3: diagram survei masyarakat di Provinsi Riau ... 97 Tabel 2: postur kekuatan militer Indonesia kawasan ASEAN,
Asia PasifikEropa ... 33
Bagan 1: penggunaan nuklir internasional ... 35
Bagan 4: spektrum ancaman biologis ... 107 Bagan 5: one health cosmos ... 109
(!}
L
RI
C
ARTIKEL PEMBUKA
Dikarenakan oleh sifat temanya yang multidisiplin, Law Research Institute Conference 2020 mengundang rekan-rekan mahasiswa Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang diwakili oleh AMBIVET serta HIMA KH untuk menyampaikan pandangannya mengenai isu-isu yang berkenaan dengan biosecurity dan biodefense. Pandangan tersebutdisampaikan melalui artikel ilmiah yang membahas one health concept serta studi kasus di Indonesia ditinjau dari perspektif keilmuan Kedokteran Hewan. Diharapkan dengan dimuatnya perpspektif keilmuan lain tersebut, LRIC dapat menyalurkan bahan hukum yang berharga dalam penelitian hukum yang berkenaan dengan isu yang ditemakan.
One Health, Biosafety dan Biosecurity serta Studi
Kasus di Indonesia
AMBIVET dan HIMA Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Almira Tatyana Divarani, Maulinda Rachmawati, Atalla Arzadeandra, Pebi Diah Patmawati, Adinda Rachmani N, Nurfaiza Shafinaz Azzahra, Zulfa Aisyah, Maulyda Ahmad M, Arnestasya Fitri Andriani S
One Health, Biosafety dan Biosecurity serta Studi Kasus di Indonesia
I. One Health
Konsep One Health sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 2000an awal dan membawa gagasan tentang kesehatan manusia dan hewan yang saling berkaitan untuk menciptakan sebuah ekosistem kesehatan yang ideal. Gagasan ini juga bisa diartikan sebagai sebuah konsep yang mendorong kemitraan antara dokter dan dokter hewan menuju ke arah penelitian dan surveilans yang lebih baik dalam ruang lingkup bidang zoonotic dan penyakit-penyakit baru yang muncul (Naipospos 2018). Populasi manusia yang terus tumbuh dan berkembang ke area geografis yang baru menyebabkan munculnya interaksi dengan satwa liar maupun domestik, kontak dengan satwa dan lingkungannya dapat memunculkan peluang timbulnya penyakit di antara manusia maupun hewan. Selain itu perubahan iklim dan pemanfaatan lahan yang menyebabkan kerusakan hutan serta perpindahan manusia, hewan dan produk hewan yang meningkat melalui perjalanan dan perdagangan menjadi beberapa faktor pentingnya One Health. Isu yang sering kali ditemukan dalam ranah One Health meliputi penyakit zoonosis yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, resistensi terhadap antimikroba yaitu sebuah keadaan dimana mikroorganisme seperti bakteri, virus dan fungi menjadi kebal terhadap obat obatan yang sebelumnya berhasil membunuh mereka. Terdapat juga isu keamanan dan ketahanan pangan, ancaman kerusakan lingkungan yang juga menjadi ranah One Health.
One Health sebagai suatu konsep pendekatan, bertujuan untuk merangkul keseluruhan usaha dari multidisipliner baik secara lokal, nasional dan global untuk mencapai status kesehatan terbaik untuk manusia, hewan dan lingkungan. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan kontribusi nyata yang seimbang dari berbagai sektor seperti dokter dan dokter hewan, serta partisipasi yang tinggi dari praktisi kesehatan wildlife, lingkungan dan praktisi social .Pendekatan One Health terdiri dari memprediksi, merespon, mengenali dan mencegah yang dikemas dalam program Emerging Pandemic Threarts (EPT). Program EPT ini menjadi dasar pengembangan konsep one health di Asia Tenggara. Sebagai wujud konkret dari pelaksanaan one health
di Asia Tenggara terutama dalam lingkup universitas, terbentuklah The South East Asia One health University Network (SEAHOUN), sedangkan untuk wilayah Indonesia sendiri memiliki INDOHUN (The Indonesia One health University Network) sebagai organisasi nasional yang menaungi one health. INDOHUN aktif sejak Januari 2012 sebagai wadah akademisi, stakeholder, saintis, komunitas dan prefesional asal Indonesia untuk ikut berkecimpung dalam isu regional maupun global (Agustini, 2017).
II. Biosafety
Biosafety merupakan prinsip, teknologi, dan praktik pertahanan yang diterapkan
untuk mencegah paparan patogen atau racun yang terilis secara tidak disengaja. Dalam konteks penelitian influenza dan pengembangan dan produksi produk influenza, risiko
biosafety terkait dengan kecelakaan yang terjadi pekerja laboratorium atau masyarakat
sekitar laboratorium dapat terinfeksi virus influenza. Program biosafety laboratorium
yang komprehensif melibatkan:
1. Identifikasi VBM (Bahan biologis yang membutuhkan pengawasan administratif, kontrol, akuntabilitas, dan perlindungan khusus dan tindakan pemantauan di laboratorium untuk melindungi nilai ekonomi dan sejarah (arsip) mereka,dan / atau penduduk dari potensi yang dapat menimbulkan kerugian. VBM mungkin termasuk patogen dan racun, serta organisme non-patogen, strain vaksin,
makanan, hasil rekayasa genetika organisme (GMO), komponen sel, elemen genetik, dan sampel luar angkasa.
2. Penilaian risiko mikrobiologi berbasis agen dan laboratorium. 3. Analisis bioetika dan ilmiah proyek penelitian sebelum disahkan.
4. Alokasi tanggung jawab dan wewenang di antara staf dan manajer fasilitas. 5. Komunikasi antar pihak yang terlibat.
6. Pengembangan dan pelatihan tentang rencana darurat; dan
7. Pelatihan biosecurity yang disesuaikan untuk karyawan fasilitas dan untuk first
digunakan, dan peralatan dan fasilitas penahanan yang tersedia. Salah satu hal penting yang menjadi pertimbangan untuk melakukan penilaian risiko mikrobiologis adalah daftar kelompok risiko untuk agen mikrobiologi. Suatu wilayah harus mengklasifikasikan kelompok risiko berdasarkan:
1. Patogenisitas organisme.
2. Cara penularan dan jangkauan inang organisme. Ini mungkin dipengaruhi oleh tingkat kekebalan yang ada pada populasi lokal, kepadatan dan pergerakan populasi inang, keberadaan vektor yang sesuai, dan standar kebersihan lingkungan.
3. Ketersediaan tindakan pencegahan yang efektif di daerah. Ini mungkin termasuk: profilaksis dengan imunisasi atau pemberian antisera (imunisasi pasif); tindakan sanitasi, misalnya kebersihan makanan dan air; pengendalian reservoir hewan atau vektor arthropoda.
4. Ketersediaan pengobatan yang efektif di daerah. Ini termasuk imunisasi pasif, vaksinasi pasca pajanan dan penggunaan antimikroba, antivirus dan agen kemoterapi, dan harus mempertimbangkan kemungkinan munculnya strain yang resistan terhadap obat.
Tingkatan biosafety dikelompokkan sesuai karakteristik laboratorium berdasarkan gabungan
fitur desain fisik, pembangunan fasilitas, peralatan, prosedur operasional, dan laboratorium yang diperlukan untuk bekerja dengan agen dari berbagai kelompok risiko.
III. Biosecurity
Biosecurity merupakan keamanan institusional atau personal yang dirancang untuk
mencegah terjadinya kerugian yang diakibatkan oleh pencurian, penyalahgunaan, pengalihan atau pelepasan agen patogen atau racun secara disengaja. Salah satu kepentingan biosecurity adalah mencegah terjadinya bioterrorism. Bioterrorism
merupakan penyalahgunaan agen biologis untuk menyerang suatu kelompok. Bioterrorism
telah banyak terjadi di dunia, contohnya adalah tentara Inggris yang memberikan selimut dengan virus cacar untuk suku Indian, bangsa Mongolia mengusir bangsa Genoa di Kota Kaffa dengan memanfaatkan mayat busuk untuk menyebarkan penyakit pes yang selanjutnya bertanggung jawab atas wabah penyakit pes (The Black Death) yang
menyebabkan 1/3 penduduk Eropa meninggal dunia, dan masih banyak lagi. Di Indonesia sendiri, tepatnya di kantor Departemen Luar negeri di Jakarta, pernah terjadi pengiriman amplop berisi serbuk yang dicurigai sebagai spora virus anthrax. Hal ini menunjukkan bahwa bioterrorisme memungkinkan terjadi di Indonesia. Alasan lain dari bioterrorisme di Indonesia adalah letak geografis Indonesia yang berada di antara dua benua dan mempunyai dua iklim yang cocok untuk perkembangan beberapa penyakit. Kondisi ekonomi dan kesadaran masyarakat Indonesia pun masih rendah, sehingga memungkinkan orang dengan mudah dibayar untuk mencuri agen biologis dari laboratorium.
Dalam menjaga biosecurity terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan
biosecurity antara lain:
1. Globalisasi, menyebabkan mudahnya perpindahan individu atau kelompok bahkan ke lokasi yang jauh
2. Produksi pertanian dan teknologi proses pembuatan makanan 3. Meningkatnya perdagangan dunia
7. Perhatian masyarakat pada biodiversity, lingkungan, dampak pertanian
8. Kemandirian suatu negara dalam mewujudkan biosekuriti yang efektif 9. Kelangkaan sumber daya teknis dan operasional
10. Ketergantungan yang tinggi suatu negara pada negara lain untuk impor pangan
Penerapan Biosecurity dan Biosafety
Dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi pelaksanaan dan penerapan biosecurity
dan biosafety, diperlukan peran multisektor baik internasional maupun nasional yang
terintegrasi untuk mewujudkan penerapan biosecurity dan biosafety. A. Sektor Internasional
Organisasi internasional yang mengatur standar regulasi seperti Codex Alimentarius Comission (CAC), World Organization of Animal Health (OIE), dan Commission of Phytosanitary Meassures (CPM) mengembangkan standard untuk berbagai sektor biosecurity
sesuai dengan mandat yang mereka tetapkan. FAO memainkan peran utama dalam pekerjaan normatif dan bantuan teknis, baik di tingkat nasional maupun internasional, untuk mendukung penerapan pendekatan biosecurity. Kegiatan terkait termasuk organisasi ahli dan
konsultasi teknis tentang biosekuriti, pengembangan alat untuk membantu negara-negara menerapkan pendekatan dan dukungan biosekuriti, peningkatan kapasitas, serta pengembangan dan pengoperasian Portal Internasional tentang Keamanan Pangan, Kesehatan Hewan dan Tanaman untuk memfasilitasi pertukaran informasi yang relevan.
OIE adalah organisasi internasional yang bergerak dalam bidang kesehatan hewan dan pengendalian penyakit hewan di seluruh dunia. OIE memiliki tanggung jawab untuk menguraikan standar terkait untuk pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan dan zoonosis. OIE bekerjasama dengan CAC (Codex Alimentarius Commision) untuk
membentuk strategi dan mekanisme untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan aktivitas keamanan pangan dari produksi hingga konsumsi di seluruh dunia, dengan demikian dapat meningkatkan keamanan makanan yang berasal dari hewan di seluruh dunia. Salah satu bagian dari strategi OIE adalah mendirikan Kelompok Kerja Keamanan Pangan Produksi Hewan untuk meninjau, mengembangkan dan / atau berkontribusi dalam standar
internasional dan pedoman keamanan pangan, yang menggabungkan praktik produksi hewan yang baik (termasuk aspek kedokteran hewan) yang berkaitan dengan keamanan pangan dan mempertimbangkan produksi untuk konsumsi berbasis risiko pendekatan.
OIE berfokus pada standar yang menentukan bahaya yang berasal dari biologis. Sebaliknya, fokus utama CAC adalah mengenai bahaya biologis dalam makanan dengan mengembangkan ketentuan kebersihan umum misalnya kode praktik untuk berbagai komoditas pangan, juga mengatasi bahaya kimia dengan menetapkan batas maksimum dan kode praktik untuk pengurangan tingkat bahaya kimia. Berkenaan dengan strategi dan mekanisme untuk mengintegrasikan dan melaksanakan kegiatan serta pengembangan keamanan pangan praktik produksi hewan yang baik, OIE dan CAC juga bekerja sama dengan dukungan dari layanan khusus di FAO dan WHO. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merupakan lembaga di bawah PBB yang bertanggung jawab terhadap persoalan kesehatan publik internasional. Menurut WHO, Laboratory biosafety menjelaskan prinsip
dan praktik untuk pencegahan pelepasan yang tidak disengaja atau paparan agen biologis dan racun secara tidak disengaja. Biosekuriti laboratorium menjelaskan kontrol fisik dari agen biologis dan racun di dalam laboratorium, untuk mencegah kehilangan, pencurian, penyalahgunaan, akses yang tidak sah atau rilis tidak sah yang disengaja.
B. Sektor Nasional 1. Pemerintah
a. Kementerian Pertanian (Dirjen PKH)
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menuturkan bahwa jejaring laboratorium veteriner di lingkup Kementan telah menerapkan manajemen biorisiko (biosecurity dan biosafety) yang bertujuan melindungi tenaga kesehatan hewan dan
teknisi laboratorium dari agen penyakit yang mungkin menginfeksi selama pengujian dilakukan. Dari segi standar keamanan, laboratorium milik Kementan tersebut
Kemenkes telah sepakat dengan ASEAN untuk bekerja sama dalam hal penguatan kapasitas laboratorium diantaranya melalui kegiatan saling bertukar informasi, mobilisasi tenaga ahli untuk memberikan dukungan teknis, pelatihan dan simulasi, penguatan
Emergency Operation Centre (EOC) Network, pengembangan jejaring laboratorium
kesehatan manusia dan hewan, manajemen risiko biosafety dan biosecurity, serta partnership. Hal tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan penyebaran penyakit
menular melalui peningkatan kapasitas pengawasan dan keselamatan serta keamanan laboratorium.
c. Kementerian Pertahanan
Kementerian Pertahanan menyusun Roadmap Pertahanan Sumber Daya Hayati (Biodefence), sebagai suatu langkah-langkah atau upaya biosecurity dan biosafety
terhadap kelompok organisme yang dapat menimbulkan ancaman biologis atau penyakit menular. Roadmap tersebut disusun sebagai acuan bagi Kementerian Pertahanan dan
Kementerian/Lembaga terkait dalam penanganan penyalahgunaan sumber daya hayati untuk kepentingan tertentu yang dapat digunakan untuk menyerang suatu negara sebagai senjata biologi dan lain-lain.
d. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (LIPI)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan bahwa aspek biosecurity di
Indonesia belum dikelola secara sistematis dibandingkan dengan aspek biosafety.
Sehingga diperlukan adanya regulasi dengan memasukkan klausul ataupun pasal tentang
biosecurity dalam Undang-Undang nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan,
dan Tumbuhan untuk direvisi. Hal ini bertujuan agar biosecurity memiliki suatu lembaga
khusus dalam kepengurusannya. Tujuan lainnya yaitu supaya pengawasan tidak lagi hanya bersifat karantina, tetapi dapat dilakukan sebelum barang tiba atau dilakukan di Negara asal khususnya pada kegiatan ekspor dan impor.
e. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BKSDA) KLHK mendukung penerapan biosafety dan biosecurity dengan melakukan kerja sama
pada lembaga-lembaga konservasi dengan berfokus bada pengamanan kawasan, pencegahan dan penanggulangan konflik TSL (Tumbuhan dan Satwa Liar), evakuasi dan rehabilitasi satwa sitaan dan penyerahan secara sukarela oleh masyarakat, dukungan peralatan rescue untuk biosafety dan biosecurity petugas, serta peralatan handling satwa
lainnya. Sehingga dengan rencana dukungan tersebut, kualitas dari kawasan konservasi yang dikelola dapat lebih baik lagi agar tujuan biosafety dan biosecurity dapat tercapai. 2. NGO (Non-Government Organization)
NGO yang bekerja dalam bidang konsevasi hewan, hutan dan lingkungan seperti PROFAUNA, IAR, Aspinall Foundation, LESTARI Indonesia, juga turut berperan dalam menjaga biosecurity dan biosafety. Upaya konservasi dan pelestarian satwa liar, dan
lingkungan yang mereka lakukan secara tidak langsung berperan dalam upaya menjaga ekosistem dan meminimalisir resiko penularan penyakit dari hewan atau lingkungan ke manusia maupun sebaliknya. Lembaga pemerintah juga memberikan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat terutama NGO (non-government organization) dan
menekankan pentingnya aspek biosecurity dan biosafety. Tujuan pengedukasian tersebut
untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pihak melalui penyebaran informasi dan literasi terkait kebijakan konservasi kelola terutama satwa liar. Pemerintah juga menghimbau mengenai antisipasi penyebaran wabah terutama COVID-19 dikhususkan terkait biosafety dan biosecurity di lembaga konservasi khusus dan umum
(kebun binatang).
3. Institusi Peneliti dan Universitas
Intitusi peneliti dan universitas berperan penting dalam investigasi agen biologis yang menjadi ancaman biosafety dan biosecurity melalui penelitian serta penerapan biosafety
dalam penelitian yang dilakukan. Institusi peneliti dan universitas juga berperan dalam memberikan edukasi mengenai biosecurity, wabah penyakit, penerapan One Health, dll
untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai biosafety dan biosecurity.
INDOHUN adalah jaringan institusi pendidikan tinggi Indonesia yang bertujuan untuk mempromosikan kolaborasi multidisiplin di bidang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan di Indonesia. INDOHUN melakukannya dengan membangun kapasitas kelembagaan dan individu, mengadvokasi kebijakan yang mendukung kolaborasi, melakukan penelitian dan penjangkauan komunitas, dan menciptakan platform bagi
Industri memiliki peran penting dalam menjaga keamanan biosafety dan biosecurity.
Beberapa industri yang memiliki risiko tinggi dalam bahaya biosecurity dan biosafety
adalah industri kesehatan, pangan dan peternakan, agrikultur, serta ekspor-impor. a. Industri kesehatan
Industri kesehatan memiliki risiko sekaligus peran penting dalam menjaga
biosafety dan biosecurity. Dalam mencegah bahaya penyebaran penyakit, industri
kesehatan berperan dalam memberikan langkah pencegahan berupa vaksin dan pengobatan. Salah satu prosedur biosafety dan biosecurity adalah untuk memastikan
keamanan dan mengurangi risiko terjadinya wabah sehingga diperlukan obat serta vaksin. Hal ini dilakukan guna mencegah dan mengobati penyakit emerging dan re-emerging.
Vaksin adalah produk yang dirancang untuk memicu respon imun dan mempersiapkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi di masa mendatang dari agen penyebab penyakit. Vaksin merangsang produksi antibodi sistem kekebalan yang mengidentifikasi dan menghancurkan organisme penyebab penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Vaksin penting untuk kesehatan hewan, kesejahteraan hewan, produksi pangan, dan kesehatan masyarakat. Dalam hal vaksinasi penyakit zoonosis pada hewan ternak, vaksin
diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan risiko penularan penyakit kepada konsumen serta dapat melindungi hewan industri.
Dalam prosedur biosafety dan biosecurity, obat digunakan untuk memastikan
keamanan dan mengurangi risiko terjadinya wabah bersama dengan vaksin. Tahapan pengembangan obat di Indonesia salah satunya telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 17 Tahun 2017 Tentang Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Penemuan dan pengembangan obat memiliki beberapa tahapan yang dilakukan, yaitu penyeleksian target kerja obat, penentuan senyawa, memprediksi kinerja senyawa berdasarkan struktur kimia (in silico), pengujian
pra klinis (in vitro dan in vivo) dan terakhir uji klinis untuk melihat respon obat terhadap
tubuh manusia.
Tahapan pengujian yang telah dilalui tahapan registrasi merupakan tahapan akhir untuk mendapatkan izin edar dari pihak yang berwenang demi memperkuat pernyataan keamanan obat (Hairunisa, 2019). Izin edar obat dinyatakan dalam Pasal 106 Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa sediaan farmasi
dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar. Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. Untuk mendapat izin edar, obat harus didaftarkan dengan tata laksana registrasi obat yang telah dijelaskan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2017 Tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat. Peraturan ini dibuat untuk melindungi masyarakat dari peredaran obat yang tidak memenuhi persyaratan khasiat, keamanan, dan mutu sehingga perlu dilakukan registrasi obat sebelum diedarkan.
Obat, khususnya penggunaan obat hewan diawasi oleh badan pemerintah dengan regulasi yang terdapat pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 74/Permentan/OT.140/12/2007 Tentang Pengawasan Obat Hewan. Dalam Pasal 2 dijelaskan jika peraturan ini dimaksudkan sebagai dasar pelaksanaan pengawasan bagi petugas pengawas terhadap pelaku usaha dalam penyediaan, pembuatan, peredaran, dan pemakaian obat hewan, dengan tujuan agar obat hewan yang beredar dalam masyarakat terjaga khasiat, mutu, dan keamanannya, terdaftar, dan tepat dalam pemakaiannya. Regulasi lainnya yang mengatur obat hewan di antara lain:
1. Peraturan Direktorat Jenderal Pertanian Nomor 54/ TN.260/Kpts/DJP/Deptan/2001 Tentang Formulir Pendaftaran Obat Alami Untuk Hewan.
2. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18/Permentan/OT.140/4/2009 Syarat dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha.
3. Peraturan Direktur Jenderal Peternakan Nomor 02/Kpts/LB.450/F/03/06 Tentang Prosedur Tetap Permohonan Pendaftaran Obat Hewan.
Pengembangan, peredaran, serta penggunaan obat di Indonesia yang telah diatur di atas hukum bertujuan menghindari efek samping dari obat seperti Antimicrobial Resistance (AMR). AMR adalah kemampuan mikroorganisme (seperti bakteri, jamur,
AMR masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global, termasuk Indonesia. Angka kematian akibat AMR meningkat setiap tahun dan beberapa negara telah membuat aturan ketat terkait penggunaan antibiotik. The World Health Organization (WHO) mencatat terdapat 480 ribu kasus baru multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) di dunia. Pada tahun 2013 terjadi 700 ribu kematian akibat
bakteri resisten. Pada tahun yang sama, Amerika terdapat 23 triliun kematian per tahun AMR. Angka kematian di Thailand dengan 70 juta penduduk tercatat sebanyak 38 ribu. Kemudian Indonesia dengan 256 juta penduduk, ekuivalen dengan asumsi kematian 135 ribu pertahun.
Dalam menanggulagi AMR, diperlukan kontribusi semua sektor. Indonesia sendiri telah mengantisipasi akibat yang mengancam dari AMR. Hal ini telah dirancang sejak tahun 2017 dalam Rencana Kerja Nasional (NAP). NAP berfokus pada pengendalian AMR di sektor peternakan dan lingkungan sebagai upaya kolaborasi lintas sektor dan lintas kementerian yang menekan pada konsep One Health. Indonesia dalam
menangani pengendalian AMR melakukan konferesi Internasional sebagai bentuk keseriusan terhadap ancaman AMR. Pada konferensi tersebut Koordinator Nasional One Health Laboratory Network (OHLN) menjelaskan pentingnya memperkuat jejaring
laboratorium sehingga diperlukan pendekatan dengan laboratorium di tingkat pemerintah, seperti lab Kemenkes dan Kementan. Selanjutnya, diperlukan koordinasi lintas sektor guna meningkatkan early detection AMR dan meningkatkan surveilans AMR. Menurut
WHO, sektor-sektor yang dapat membantu melawan AMR antara lain adalah pembuat kebijikan, petani/peternak, dokter hewan, produsen makanan, tenaga medis, dan pasien. Mengurangi resistensi AMR membutuhkan kemauan politik dan kepemimpinan yang kuat. Rencana Aksi Global untuk AMR dibuat dengan masukan dari banyak
stakeholders. Rencana aksi nasional harus dikembangkan, dipantau dan dievaluasi.
Pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan rakyatnya. Dengan menangani AMR, negara dapat mencegah kematian, mengurangi kerugian ekonomi, dan berkontribusi pada pembangunan sosial dan ekonomi.
b. Industri Pangan
Rantai makanan merupakan salah satu aspek yang beresiko menjadi sumber bahaya dalam biosafety dan biosecurity. Agen patogen maupun zat kimia dapat mencemari
makanan yang mengakibatkan gangguan kesehatan serta penularan penyakit yang merugikan secara individual maupul beberapa sektor lain dalam biosecurity. Penyakit
yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui makanan disebut juga zoonotic foordborne disease. Seperti contohnya, residu pestisida dalam sayuran, residu obat
hewan, cemaran bakteri, virus, atau parasit dari produk pangan asal hewan sangat berdampak negatif pada manusia. Beberapa penyakit zoonosis yang ditularkan melalui
makanan adalah Avian Influenza (AI), Anthrax, Salmonellosis, Helminthiasis, Resistensi
obat, dll. Penularan penyakit melalui makanan disebabkan kontaminasi dari proses produksi hingga konsumsi. Biosafety dan biosecurity perlu diperhatikan untuk mencegah
terjadinya kontaminasi dan penularan penyakit tersebut.
Oleh sebab itu, food safety (keamanan pangan) merupakan salah satu unsur terpenting
dalam biosafety dan biosecurity. Keamanan pangan merupakan salah satu unsur yang
diperhatikan dalam Kesmavet (Kesejahteraan Masyarakat Veteriner). Dalam penanganannya, kesmavet dibina dalam suatu Sistem Kesehatan Masyarakat Veteriner (SISKESMAVET). Sistem Kesmavet Nasional akan dikembangkan menjadi 4 (empat) subsistem yaitu:
1. Pengawasan Keamanan pangan Asal Hewan
2. Surveilans, Pencegahan dan Pengawasan Zoonosis
3. Pengamanan Lingkungan Produksi Pangan Asal Hewan 4. Pembinaan Kesejahteraan Hewan.
Tugas Sistem Kesmavet Nasional dalam penjaminan keamanan pangan asal hewan meliputi:
1. Meningkatkan peran kesmavet dalam pengawasan keamanan pangan nasional terutama dalam melindungi kesehatan dan ketentraman bathin masyarakat konsumen melalui penyediaan produk pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).
4. Melindungi sumber daya hewani dan masyarakat konsumen melalui pengawasan pemasukan produk hewan dari luar negeri yang berpotensi sebagai media pembawa penyakit hewan menular utama.
Kebijakan pemerintah dalam pengamanan produk pangan asal hewan diantaranya: 1. Pemberian Nomor Kontrol Veteriner (NKV)
NKV diwajibkan kepada sarana produksi pangan asal hewan (RPH, RPU, usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar produk asal hewan serta hasil olahannya). NKV merupakan sertifikasi dipenuhinya persyaratan teknis Kesmavet dalam aspek hygiene-sanitasi sarana dan cara berproduksi yang baik (GHP) dan
standar prosedur operasi sanitasi (Sanitation Standar Operating Procedures (SSOP)
pada unit usaha produk pangan asal hewan. GHP (Good Hygine Practices)
merupakan salah satu persyaratan dasar (pre-requisite) dalam penerapan system HACCP (Hazard Analisis Critical Control Point), sehingga unit usaha yang telah
mendapatkan NKV akan lebih mudah dalam menerapkan sistem HACCP. NKV diterbitkan oleh instansi yang berwenang dalam bidang Kesehatan masyarakat Veteriner yaitu Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Tujuan pemerintah mewajibkan NKV adalah untuk mempermudah sistem pengawasan unit usaha produk pangan hewani, memberikan jaminan keamanan pangan kepada masyarakat, serta terlaksananya tertib hukum dan tertib administrasi dalam pengelolaan usaha pemotongan hewan/unggas, usaha pengimpor/pengedar dan industri pengolahan produk pangan asal hewan.
2. Penerapan labelisasi produk peternakan baik produk lokal maupun produk ekpor dan impor yang beredar. Labelisasi merupakan tanda bahwa keamanan dan kesehatan suatu produk telah diperiksa oleh petugas pengawas kesmavet berwenang.
3. Penerapan Sistem Jaminan Keamanan Pangan Asal Hewan berdasarkan sistem HACCP. Dalam upaya menerapkan sistem jaminan keamanan pangan, akan selalu dipedomani prinsip-prinsip manajemen mutu secara terpadu sejak dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi. Sistem tersebut baru dapat diterapkan bila suatu sarana produksi telah memenuhi persyaratan dasar (NKV) dengan nilai baik.
4. Pengembangan sistem jaringan kerja pengawasan kesmavet. Pengawasan kesmavet adalah dokter hewan yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kesehatan masyarakat veteriner. Pengawasan kesmavet dapat terdiri dari Dokter Hewan berwenang, Dokter Hewan Pengawas Kesmavet, atau Dokter Hewan Swasta di unit sarana produksi pangan asal hewan yang bekerja di bawah supervisi Dokter Hewan berwenang di unit sarana produksi tersebut.
c. Industri Agrikultur
Penerapan kendali regulasi untuk melindungi kesehatan tanaman merupakan domain
biosecurity yang penting. Ini juga mencakup ancaman terhadap tumbuhan liar. Kesehatan
tumbuhan dapat dipengaruhi secara negatif oleh berbagai jenis hama (misalnya tumbuhan itu sendiri, dan hewan atau organisme patogen yang merusak tumbuhan atau produk tumbuhan). Kesehatan tanaman juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan hewan dan manusia khususnya tanaman yang dikonsumsi.
d. Industri Ekspor-Impor
Industri Ekspor-Impor berperan penting dalam menjaga keamanan biosafety dan biosecurity, khususnya pada kegiatan ekspor-impor produk asal hewan. Ekspor produk
hewan dilakukan apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Produksi dan pasokan di dalam negeri telah mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat (UU No.18/2009 mengenai peternakan dan kesehatan hewan pasal 36 ayat 3).
2. Ekspor Hewan dan/atau Produk Hewan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang telah mendapat Persetujuan Ekspor dari Menteri. Perusahaan ekspor harus mendapat persetujuan ekspor dari Menteri sesuai yang disebutkan dalam Pasal 11 UU No.18/2009 mengenai peternakan dan kesehatan hewan.
3. Produk hewan yang diekspor harus memiliki sertifikat sanitasi produk hewan. 4. Produk hewan yang diekspor harus memenuhi syarat dari negara tujuan ekspor.
(BSE) karena Indonesia masih dinyatakan bebas dari penyakit tersebut. Hal ini perlu dilakukan selain untuk mencegah timbulnya permasalahan dari penyakit baru/emerging disease juga meminimalisir kerugian ekonomi yang disebabkan oleh penyebaran
penyakit. Perlu diperhatikan bahwa penanganan penyebaran penyakit memilki metode yang berbeda tergantung dengan karakteristik yang dimiliki oleh agen penyakit. Pemasukan produk hewan dapat dilakukan apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Pemasukan hewan atau ternak dan produk hewan dari luar negeri dilakukan apabila produksi dan pasokan hewan atau ternak dan produk hewan di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat (UU No.18/2009 mengenai peternakan dan kesehatan hewan pasal 36 ayat 4).
2. IT-Hewan (Importir Terdaftar Hewan) dan Produk Hewan serta perusahaan yang akan melakukan impor Hewan dan/atau Produk Hewan harus mendapatkan Persetujuan Impor dari Menteri.
3. Produk Hewan yang diimpor harus melalui proses karantina.
4. Produk hewan yang diimpor harus memiliki sertifikat sanitasi dari negara asal.
Kasus yang Mengancam Biosecurity dan Biosafety serta Penanganannya
A. Kasus Bioterorisme: Amerithrax
Amerithrax merupakan salah satu teror mengerikan yang pernah menimpa Amerika Serikat, terjadi sekitar satu minggu usai serangan Al-Qaeda ke World Trade Center, 11
September 2001. Kejadian kala itu, terdapat sejumlah surat yang dikirim ke kantor media dan dua senator Amerika Serikat yang berisikan serbuk senjata kimia mematikan anthrax. Pada peristiwa tersebut kemudian dilakukan investigasi oleh pihak FBI. Hasilnya lima orang tewas dan 17 lainnya diduga keras terinfeksi virus anthrax. Berikut merupakan langkah- langkah yang dilakukan Amerika dalam penanggulangan wabah anthraks:
1. Investigasi
Setelah adanya korban pertama dari peristiwa Amerithrax ini, yakni Robert Stevens teridentifikasi, dan surat-surat itu ditemukan di TKP New York dan Washington, FBI memulai penyelidikannya dari Miami, Kantor lapangan New York, Newark, New Haven,
Baltimore dan Washington, D.C. Penyelidikan dan investigasi yang dilakukan dengan sangat kompleks, mengingat kemungkinan luas dan cakupan serangan bioterorisme ini.
2. Bio Recovery
Bio Recovery dilakukan dengan cara menyediakan tenaga kerja dan peralatan, seperti scrubber udara bertekanan negatif dengan filter HEPA, penyedot debu HEPA, respirator, cyclone foggers, dan busa dekontaminasi yang dilisensikan oleh Sandia National
Laboratories. Puluhan bangunan terkontaminasi oleh penyakit antraks ini yang ditularkan melalui media surat. Perusahaan yang bertanggung jawab atas pembersihan dan dekontaminasi bangunan di New York City, adalah Bio Recovery Corporation of Woodside, New York dan Bio-Recovery Services of America, yang berbasis di Ohio.
Kemudian, sembilan puluh tiga kantong surat yang terkontaminasi antraks telah dikeluarkan dari New York Post. Sedangkan, dekontaminasi fasilitas pos Brentwood memakan waktu sekitar 26 bulan dan fasilitas pos Hamilton, New Jersey tetap ditutup hingga Maret 2005.
B. Kasus Wabah Penyakit: Avian Influenza
Avian Influenza (AI) atau flu burung merupakan penyakit menular yang dapat
menginfeksi unggas dan berbagai hewan seperti babi, kuda, mamalia laut dan penyakit ini juga dapat menular pada manusia. Penyebab dari penyakit ini adalah virus influenza tipe A dari family Orthomyxoviridae. (Kemenkes, 2017). Pada tahun 2004 penyakit AI
ini masuk ke indonesia, dilaporkan adanya kasus kematian ayam ternak dengan populasi yang banyak (terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat) (Elytha, 2011). Sedangkan kasus penyebaran virus pada manusia terjadi sejak juli 2005 dan berdasarkan data Kemenkes hingga september 2017 terdapat 200 orang yang tertular AI dan 168 orang diantaranya meninggal dengan angka kemarin (CFR) 84% (Kemenkes, 2017).
Virus Influenza tipe A (H5N1) merupakan virus yang sangat virulen. Virus ini dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada
mencari tahu karakteristik dari virus influenza tipe A ini. Hal tersebut dapat membantu dalam pembuatan vaksin AI serta penangan penyakit AI. Oleh karena itu dalam mendukung penelitian dilakukan pembangunan dan pemeliharaan laboratorium dengan
Biosafety Level 3 untuk memeriksa virus hidup. Virus Influenza Tipe A ini diklasifikasi
sebagai patogen dengan Biosafety Level 3, oleh karena itu dibutuhkan Laboratorium
BSL 3 untuk melindungi pekerja laboratorium, kesehatan manusia dan lingkungan (Baldo, dkk., 2013).
Penularan dari AI ini dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cara antara unggas ke unggas atau unggas ke manusia. Selain itu juga dapat ditularkan secara tidak langsung atau kontak dengan lingkungan, dimana terjadinya kontak dengan benda yang tercemar oleh unggas yang sakit/carrier AI (Elytha, 2011). Mudahnya penularan AI
menyebabkan kerugian yang cukup besar seperti, korban jiwa, kerugian besar bagi peternak unggas karena kematian ternak dan berkurangnya minat konsumen untuk mengkonsumsi produk pangan asal unggas secara drastis, serta keresahan masyarakat terhadap ternak unggas. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah merancang kebijakan dan strategi dalam upaya penanggulangan, penanganan serta pencegahan virus AI. Kebijakan pemerintah dalam upaya penanggulangan wabah AI:
1. Penanggulangan FB dan kesiapsiagaan Pandemi Influenza dilakukan secara desentralisasi dan otonomi daerah dalam kerangka Negara Republik Indonesia. 2. Pelaksanaan penanggulangan FB dan kesiapsiagaan Pandemi Influenza merupakan
langkah kegiatan terintegrasi secara nasional, lintas program, dan lintas sektor dan terpadu secara vertikal maupun horizontal.
3. Penanggulangan FB dan kesiapsiagaan Pandemi Influenza dilaksanakan dengan mengikutsertakan secara aktif semua pemangku kepentingan dan peran aktif seluruh lapisan masyarakat.
4. Pembiayaan penanggulangan FB dan kesiapsiagaan Pandemi Influenza berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat serta sumbangan internasional yang tidak mengikat dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
5. Peningkatan kapasitas sumber daya dalam penanggulangan FB dan kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza secara terpadu dengan kerjasama lintas sektor dan internasional.
6. Pengembangan jejaring penangulangan FB dan kesiapsiagaan Pandemi Influenza dilakukan di setiap tingkat unit operasional, baik lokal, nasional, regional dan internasional.
Strategi pemerintah dalam penanggulangan wabah AI:
1. Surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia secara terpadu.
2. Penatalaksanaan kasus pada manusia dan pengendalian penyakit pada hewan. 3. Komunikasi risiko, edukasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat.
4. Peningkatan kapasitas.
5. Pengembangan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional Yang Terintegrasi (SIKHNAS) dan Sistem Informasi Kesehatan Satwa Liar (SEHATSATLI) menjadi Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Disease (SIZE).
Dalam pengendalian Flu Burung diperlukan kerjasama lintas sektor secara terintegrasi, yaitu kerja bersama dari sektor kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan satwa liar. Guna mencegah penyebaran Penyakit Infeksi Emerging (PIE) dan zoonosis yang lebih luas dan terjadinya pandemi maka diperlukan kesiapsiagaan dan
respon dini terhadap kejadian penyakit. Oleh karena itu, harus dilakukan pencegahan dan pengendaliannya dengan menerapkan pendekatan lintas sektor/program atau One Health.
C. Surveillans Burung Belibis dan Babi di Kalimantan Selatan
Indonesia telah diidentifikasi sebagai salah satu „Hotspot‟ untuk PIB di Asia. Risiko munculnya virus avian influenza baru menjadi sangat dekat melalui sejumlah mutasi terutama karena sirkulasi bersama dari H5N1 yang memiliki kelompok taksonomi yang berbeda dengan virus avian influenza lainnya seperti LPAI (Low Pathogenic Avian
ekonomi bagi masyarakat di Hulu Sungai Utara. Belibis dijual sebagai daging itik. Orang menangkap burung tersebut untuk dibudidayakan. Perilaku tersebut menciptakan kontak erat antara burung liar, unggas domestik, ternak dan manusia di rawarawa, pasar unggas serta daerah pengepul.
Surveilans Tertriangluasi sebuah upaya untuk mengidentifikasi potensi ancaman PIB di Indonesia. Sistem ini menggunakan pendekatan One Health dengan cara melakukan pengawasan interaksi antara manusia-ternak-satwa liar untuk mendeteksi dini virus yang berpotensi menjadi PIB. Temuan ini akan mendorong upaya untuk membuat surveilans belibis menjadi kegiatan surveilans rutin di daerah tersebut. BVet Banjarbaru, bersama dengan FAO ECTAD memulai sebuah upaya surveilans belibis di Kalimantan Selatan. Sehingga pada tahun 2017, H9N2 terdeteksi pada Belibis di Kalimantan Selatan
Selian itu juga babi juga memegang peran penting dalam ekologi virus influenza tipe A karena babi peka terhadap virus dari keturunan burung atau mamalia, dan berfungsi sebagai “tempat percampuran” (mixing vessel) untuk berbagai jenis virus influenza sehingga dapat terjadi reassortment dan adaptasi inang. Pada tahun 2017, BVet Subang, BVet Medan, bersama dengan FAO ECTAD, melakukan surveilans influenza pada babi sebagai bagian dari program surveilans rutin Balai tersebut. Hasil uji dari surveilans babi di Sumatera Utara menunjukkan bahwa Influenza A terdeteksi dan telah bersirkulasi pada populasi babi di area tertarget. Sejak 2009, Surveilans Pasar Unggas Hidup (LBM) telah diadopsi oleh Direktorat Kesehatan Hewan (Ditkeswan) Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai perangkat surveilans untuk memonitor sirkulasi virus HPAI di Indonesia. Hampir 100% virus H5N1 yang terdeteksi dan diisolasi Pada tahun 2017, tingkat H9N2 yang terdeteksi di pasar lebih tinggi dari H5N1. H9N2 telah menyebabkan kerugian produksi besar pada peternakan petelur (layer), walau kematian masih terbatas (<5%).
DAFTAR PUSTAKA
AVMA. (2020). Vaccinations. https://www.avma.org/resources-tools/pet- owners/petcare/vaccinations.
Baldo, dkk. (2013). Biosafety Risk Assessment and Management of Laboratory-Derived Influenza A (H5N1) Viruses Transmissible in Ferrets. Applied Biosafety, 18: 6- 17. 10.1177/153567601301800102.
Bio Recovery. (2016). Local Bio-Recovery Firm Cleans Up Anthrax In Manhattan.
Diakses pada 11 September 2020 melalui
https://web.archive.org/web/20161010045121/http://biorecovery.net/pr02.htm Davison. (2015). Bio-Recovery Leads Cleanup of Ebola Spaces in New York. Diakses
pada 11 September 2020 melalui
https://web.archive.org/web/20150118073823/http://www.businessweek.com/new s/2014-10-24/bio-recovery-leads-cleanup-of-ebola-spaces-in-new-york
Dini Agustini, 2018. One Health : Pendekatan untuk Mencapai Kesehatan Global. Tersedia di.https://vetindonesia.com/2017/11/22/one-health-...-global/. Diakses : 11 Oktober 2020
Dukung Konservasi, PT. BIL Komitmen Kerjasama dengan BKSDA Bengkulu. (2018). Bengkulu: Kementerian LIngkungan Hidup dan Kehutanan.
Elytha, F. (2011). Sekilas Tentang Avian Influenza (AI). Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(1): 47-51.
FAO. (2007). FAO Biosecurity Toolkit Part 1. Rome, Italy : Biosecurity Priority Area for Interdisciplinary Action, Food and Agriculture Organization of the United
FAO, 2018. FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD). Melindungi manusia dan hewan. Laporan tahunan 2017. Jakarta, Indonesia. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.
Hairunnisa, H. (2019). Sulitnya Menemukan Obat Baru di Indonesia. Farmasetika.com (Online), 4(1), 16. https://doi.org/10.24198/farmasetika.v4i1.22517
Indonesia Dorong Penguatan Kapasitas Laboratorium Kesehatan di Kawasan ASEAN. (2019). Nusa Dua, Bali: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Istigfaricha, S. H. (2018, 11 Agustus). Death by AMR Keeps Increasing. Diakses dari http://news.unair.ac.id/en/2018/11/08/deaths-amr-keeps-increasing/
KEMENHAN. (2017). Kemhan Susun Roadmap Pertahanan Sumber Daya Hayati (Biodefence). Jakarta: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
KEMENKES. (2019). Indonesia Dorong Penguatan Kapasitas Laboratorium Kesehatan di Kawasan ASEAN. Nusa Dua, Bali: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Pendoman Penanggulan Flu Burung. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Pertanian. (2017). Regulasi dan Peran Pemerintah Dalam Mengatur dan Mengawasi Importasi, Produksi, Distribusi, dan Penggunaan
Antibiotik. Diakses dari
http://civas.net/cms/assets/uploads/2017/07/02_Keswan- POH_Regulasi-dan- Peran-Pemerintah.pdf.
Kemhan Susun Roadmap Pertahanan Sumber Daya Hayati (Biodefence). (2017). Jakarta: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2017 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat.
Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 1237/Kpts/Kr.140/L/8/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tindakan Karantina Terhadap Pemasukan Karkas, Daging Dan/Atau Jeroan Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.
KLHK. Dukung Konservasi, PT. BIL Komitmen Kerjasama dengan BKSDA Bengkulu. (2018). Bengkulu: Kementerian LIngkungan Hidup dan Kehutanan.
KLHK. (2020). 1000 Peserta Antusias Ikuti Webinar Meretas Jalan Satwa Liar Kembali ke Alam. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Laboratorium Veteriner Kementan Siap Dimobilisasi Membantu Diagnosa Covid-19. (2020). Jakarta: Trobos Livestock.
Lee, N. H., et al. (2012). A review of vaccine development and research for industry animals in Korea. Clinical and Experimental Vaccine Research, 1(1), 18. https://doi.org/10.7774/cevr.2012.1.1.18
LIPI: Sistem Biosekuriti Nasional Perlu Diperkuat. (2018). Cibinong, Bogor: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LIPI. (2018). Sistem Biosekuriti Nasional Perlu Diperkuat. Cibinong, Bogor: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Lubroth, J., et al. (2007). Veterinary Vaccines and Their Use in Developing County. Diakses dari OIE-World Organisation for Animal Health, Situs Web Dokumen https://www.oie.int/doc/ged/D4025.PDF.
Menteri Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.
Naispospos TSP. 2005. Kebijakan Penanggulangan Penyakit Zoonosis Berdasarkan Prioritas Departemen Pertanian.Balai
Penelitian Veteriner. Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis.hlm.23-27.
Nursasti, S. A. (2019, 22 November). 4 Penyebab Munculnya Resistensi Antibiotik.
Kompas Online. Diakses dari
https://sains.kompas.com/read/2019/11/22/200600823/4-penyebab-munculnya-resistensi-
antibiotik?page=all#:~:text=Penyebab%20resistensi%20antibiotik&text=%E2%8 0%9CPertama%2C%20pemakaian%20berlebihan%20(overused,2
2%2F11%2F2019).
OIE. (n.d.). Cooperation Between the Codex Alimentarius Commission and the Oie on Food Safety Throughout the Food Chain. 1–8.
OIE. (2018). Biosafety and Biosecurity: Standard for Managing Biological Risk in The Veterinary Laboratory and Animal Facilities. OIE Terrestial Manual, chapter 1.
Peraturan Kementerian Pertanian No. 17/Permentan/PK. 450/5/2016
Peraturan Menteri Perdagangan R.I. Nomor : 24/M-DAG/PER/9/2011. TENTANG KETENTUAN IMPOR DAN EKSPOR HEWAN DAN PRODUK HEWAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 482/Kpts/PD.620/8/2006
Peraturan Pemerintah No. 04 Tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak dan/atau Produk Hewan Dalam Hal Tertentu Yang Berasal dari Negara Atau Zona Dalam Suatu Negara Asal Pemasukan
Pranita Ellyvon. (2019, 27 Desember). 6 Strategi Turunkan Angka Resistensi Antimikroba di Indonesia. Kompas Online. Diakses dari https://sains.kompas.com/read/2019/12/27/120300523/6-strategi-turunkan-angka-resistensi-antimikroba-di-indonesia?page=all.
Rahmadhan, B. (2018, 3 Desember). Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Penanganan AMR di Indonesia. Republika Online. Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/12/03/pj628c330-
kolaborasi-lintas-sektor-kunci-penanganan-amr-di-indonesia.
Roostita, L.B. & Hendarmawan, Hendarmawan & Supriatna, Asep. (2019). Implementasi Konsep “One Health” dalam Pengendalian Emerging dan Re-Emerging Zoonosis yang Diakibatkan oleh Penyebaran Bushmeat.
SK MENTAN: TN.445/Kpts/TN.540/7/02.
Sudigdoadi, S. (2015). Mekanisme Timbulnya Resistensi Antibiotik Pada Infeksi Bakteri. Diakses dari Universitas Padjajaran, Situs Web Perpustakaan
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/09/mekanisme- timbulnya-resistensi-antibiotik-pada-infeksi-bakteri.pdf.
The United States Department of Justice. (2010). Ameritrax Investigative Summary. Department Of Justice: USA.
Trobos Livestock. (2020). Laboratorium Veteriner Kementan Siap Dimobilisasi Membantu Diagnosa Covid-19. Jakarta: Trobos Livestock.
Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan.
WHO. (2016). Antimicrobial Resistance. Diakses dari https://www.who.int/antimicrobial-resistance/policy-package-
july2016.pdf?ua=1
WHO. (2020). Antimicrobial Resistance. Diakses dari https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/antimicrobial-
WHO. (2004). Laboratory biosafety manual. – 3rd ed. Geneva. ISBN 92 4 154650 6 (LC/NLM classification: QY 25) WHO/CDS/CSR/LYO/2004.11
Wuryaningsih, E. (2005). Kebijakan Pemerintah dalam Pengamanan Pangan Asal Hewan. Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Garuda Biodefence Master Plan: Rencana Strategis
Penanggungan Bahaya Ancaman Serangan Nubika Pada
Sistem Pertahanan dan Keamanan Nasional Jangka
Pendek, Menengah, Panjang
(Garuda Biodefence Master Plan: Strategic Plan To Management Threats Of
Nubica Attacks In Short, Medium, Long Term National Defense And Security
Systems)
FKPH Fakultas Hukum Universitas Brawijaya
Rama Halim Nur Azmi, Fajar Nur Ramadhan Winandi, lrqi Sheva Maulana
ABSTRAK
Usaha memperkuat sektor pertahanan dan keamanan sejatinya merupakan ikhtiar untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD NRI 1945. Namun. di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi usaha pertsahanan dan keamanan tidak dapat lagi menggunakan paradigma konvensional melainkan harus adanya penyesuaian dengan perkembangan zaman. Salah satu perkembangan dalam dunia militer yakni adanya penggunaan senjata nuklir. biologi. dan kimia. Secara yuridis Indonesia telah meratifikasi konvensi yang berkaitan dengan larangan penggunaan senjata nuklir, biologi. dan kimia tersebut. Meskipun demikian. dalam realitanya hingga saat ini militer Indonesia belum mempersiapkan dengan baik segala upaya guna menanggulangi ancaman penggunaan senjata tersebut. Dalam hal ini penulis menggagas Garuda Biodefence Masterplan sebagai upaya untuk menyiapkan militer Indonesia agar selaras dengan perkembangan zaman sekaligus upaya preventif apabila adanya seranganserangan baik oleh negara maupun aktor non negara. Metode yang digunakan dalam tulisan ini yakni yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual.
Kata Kunci: Garuda Biodefence Masterplan. Mi liter. Senjata.
ABSTRACT
Efforts to strengthen the defense and security sector are actually an effort to realize the aspirations of the Indonesian nation as set out in the Constitution. However, in the
A. Pendahuluan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) sebagai staatsfundamentalnorm pada bagian Pembukaan (Preamble) telah menegaskan dalam alinea keempat bahwa yang menjadi cita-cita negara Indonesia yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Secara eksplisit pembukaan UUD NRI 1945 tersebut telah mengamanatkan bahwa pemerintah harus mengusahakan segala hal untuk melindungi segenap dan seluruh tumpah daerah Indonesia dari segala ancaman. Sehingga pemerintah harus menyiapkan suatu sistem pertahanan dan keamanan negara yang terstruktur, sistematis, dan masif.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) saat ini di satu sisi memberikan keuntungan bagi kehidupan umat manusia. Hal tersebut dikarenakan kemajuan iptek telah memunculkan inovasi-inovasi berupa produk yang bermanfaat untuk memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Kemajuan iptek sejatinya telah merambah ke seluruh aspek kehidupan baik dari sisi kesehatan, pendidikan, komunikasi, hingga persenjataan.1
Salah satu bukti konkret dari kemajuan iptek tersebut yakni eksisnya senjata biologis. Dilihat dari perspektif ekonomi bahwa senjata biologis tergolong lebih murah dibandingkan senjata nuklir dan kimia. Sehingga senjata biologis dikatakan sebagai “senjata nuklir orang miskin”. Meskipun tergolong senjata yang murah tetapi kerusakan yang ditimbulkan akibat senjata tersebut sangat masif. Bahkan menurut
Office of Technology Assessment di Kongres Amerika Serikat pada 1993 mengungkapkan bahwa secara matematis apabila disebarkan 100 kilogram spora bakteri Bacillus anthracis di Washington DC maka dapat menimbulkan korban jiwa sekitar 3 juta orang.2
Apabila ditinjau secara historis sebenarnya pengembangan bakteri Bacillus anthracis sebagai senjata biologis telah dilakukan sejak tahun 1979 oleh Uni Soviet. Pada masa itu Uni Soviet sedang mengembangkan senjata biologis dengan merekayasa gen pada bakteri Bacillus anthracis tersebut. Namun, pada 2 April 1979 bakteri tersebut terlepas akibat filter udara yang kurang baik di laboratorium yang berada di
1 Euis Erlin, “Pandangan Aksiologi Terhadap Riset dan Aplikasi Senjata Biologis”, Jurnal
Filsafat Indonesia, Volume 1 No 1, 2018, hlm. 65 2Ibid., hlm. 66
Kota Sverdlovsk atau sekarang dikenal sebagai Kota Ekaterinburg. Akibat dari lepasnya bakteri tersebut dilaporkan sekitar 66 orang tewas dan hewan-hewan di sekitarnya pun ikut tewas. Bahkan dilaporkan kematian akibat bakteri tersebut mencapai 100 orang.3
Berbicara mengenai penggunaan senjata biologis tentunya tidak dapat dilepaskan dari dua senjata lainnya nuklir dan kimia. Pada hakikatnya ketiga senjata tersebut merupakan suatu hasil perkembangan iptek yang telah menciptakan era baru dalam teknologi senjata yakni senjata nuklir, biologi, dan kimia (nubika). Penggunaan senjata nubika sejatinya telah dimulai sejak Perang Dunia I oleh berbagai negara. Namun, saat ini penggunaan senjata nubika tersebut juga diminati oleh non-state actor
seperti kelompok teroris.4
Berbagai kasus serangan teror dengan memanfaatkan agen biologis dan racun telah terjadi di beberapa negara. Sebagai contoh penggunaan racun kimia berjenis racun syaraf sarin oleh kelompok Aum Shinrikyo pada Maret 1995.5 Jauh sebelum itu
pada tahun 1763 saat perang antara Amerika Serikat dengan Suku Pontiac, Jenderal Jeffrey Amherst menggunakan smallpox yakni virus yang menyebabkan cacar nanah dan disebarkan melalui selimut dan sapu tangan sehingga menyebabkan 90% dari Suku Pontiac meninggal. Pada Oktober 2001, di Amerika Serikat terjadi serangan teror menggunakan Anthrax yang disebarkan melalui amplop surat sehingga menyebabkan 22 kasus infeksi. Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat juga menggunakan senjata kimia yakni yellow rain yang dikonstruksikan berupa bom. Akibat dari yellow rain
tersebut bermacammacam hingga berujung pada kematian.6
Apabila berbicara mengenai senjata nuklir makatentunya hal tersebut secara nyata dapat terlihat penggunaannya oleh negara-negara besar. Amerika Serikat misalnya dalam rentang 1945 hingga 1997 sebanyak 22 kali uji coba telah dilakukan
di Nevada Test Side. Negara lain pun melakukan hal serupa misalnya Inggris, Prancis, Rusia, dan Korea
Utara.7 Secara internasional penggunaan senjata nubika tersebut telah dilarang
dalam bentuk perjanjian internasional. Terkait pelarangan senjata nuklir yakni tertuang dalam Traktat Nonproliferasi Nuklir 1968, The Convention on the Prohibition of the Development, Production and Stockpiling of Bacteriological (Biological) and Toxin Weapons and on their Destruction 1975, Chemical Weapons Convention 1997. Indonesia sendiri telah meratifikasi konvensi terkait biologi dan kimia.8
Meskipun Indonesia telah meratifikasi konvensi-konvensi tersebut namun pada kenyataannya Indonesia masih belum siap. Hal tersebut dibuktikan bahwa Indonesia sama sekali tidak memiliki rencana strategis yang jelas guna mengantisipasi ancaman senjata nubika tersebut baik untuk jangka pendek, menengah, hingga panjang. Menurut Komandan Tertinggi NATO, Jenderal William Puttmann mengungkapkan bahwa setiap negara harus menyiapkan pasukan militernya guna menghadapi ancaman penggunaan senjata nubika ke depannya. Ahli Militer Jepang, Utsonomiya Shoei juga mengungkapkan bahwa Jepang senantiasa mempersiapkan pasukan militernya guna menghadapi ancaman penggunaan senjata nubika. Negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura sudah lebih dulu mempersiapkan pasukan nubika dibandingkan Indonesia. Saat ini hampir 40 militer dari berbagai negara telah mempersiapkan pasukan nubikanya. Adapun Indonesia masih minim persiapan untuk menghadapi ancaman senjata nubika tersebut.9
Dalam hal ini penulis menggagas Garuda Biodefence Master Plan sebagai solusi guna menghadapi ancaman penggunaan senjata nubika. Garuda Biodefence Master 7 RR. Emilia Yustiningrum, Masalah Senjata Nuklir dan Masa Depan Perdamaian Dunia, hlm. 19 – 20.
8Direktorat KIPS, “Pelucutan Senjata dan Non-Proliferasi Senjata Pemusnah Massal”,dimuat dalam https://kemlu.go.id/portal/id/read/90/halaman_list_lainnya/perlucutan-senjata-dan-nonproliferasi-senjata-pemusnah-
massal#:~:text=Traktat%20Nonproliferasi%20Nuklir%20(NPT)%20adalah,bahan%20nuklir%2 0untuk%20tujuan%20damai (diakses pada tanggal 9 Oktober 2020).
9 Karta Raharja Ucu, “Bahaya Perang Biologi, TNI Bentuk Satuan Nubika Gabungan”, Republika, diakses dari https://republika.co.id/berita/qbduy6282/bahaya-perang-biologi-tnibentuk-satuan-nubika-gabungan-part2 ( diakses pada tanggal 9 Oktober 2020 ).
Plan merupakan rencana jangka panjang yang memuat 2 tahap pembangunan alutsista yaitu alutsista medis dalam jangka pendek dan pengadaan alutsista sistem pertahanan udara jarak jauh dalam jangka panjang yang dapat meminimalisasi dan menanggulangi ancaman bahaya serangan senjata nubika melalui platform rudal balistik.
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan dapat ditarik permasalahan yakni:
1. Bagaimana problematika kesiapan militer Indonesia menghadapi ancaman penggunaan senjata nubika?
2. Bagaimana Garuda Biodefence Master Plan sebagai solusi guna menguatkan kemampuan militer Indonesia dalam menghadapi ancaman penggunaan senjata nubika?
B. Metode Penelitian
Jenis penelitian dalam artikel ini adalah yuridis normatif atau disebut juga penelitian hukum doktrinal10 yakni penelitian hukum yang dilakukan dengan cara
meneliti data sekunder berupa bahan pustaka.11 Sifat penelitian hukum dalam
penelitian ini adalah penelitian preskriptif. Penelitian preskriptif (prescriptive research), yaitu penelitian yang bertujuan untuk menemukan cara bagaimana mengatasi suatu masalah.12
Cara pendekatan (approach) yang digunakan dalam suatu penelitian normatif memungkinkan seorang peneliti untuk memanfaatkan hasil-hasil temuan ilmu hukum empiris dan ilmu-ilmu lain untuk kepentingan dan analisa serta eksplanasi hukum tanpa megubah karakter ilmu hukum sebagai ilmu normatif.13 Pendekatan yang
digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach), yaitu dengan menelaah peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan nuklir dengan sistem pertahanan dan keamanan nasional.14 Pendekatan 10 Sukismo B, Karakter Penelitian Hukum Normatif Dan Sosiologis, Yogyakarta: Puskumbangsi
konseptual (conseptual approach), yaitu dengan menelaah dan memahami ancaman serangan nubika pada sistem pertahanan dan keamanan nasional.15
Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder ialah data yang didapatkan oleh suatu organisasi atau perorangan yang berasal dari pihak lain yang pernah mengumpulkan dan memperolehnya sebelumnya.16 Bahan hukum yang
digunakan dalam tulisan ini adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi kepustakaan yaitu berupa pengumpulan data sekunder. Penulis mengumpulkan kumpulan data sekunder yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang sedang dikaji.
Bahan hukum yang dikaji dan yang dianalisis dalam penelitian hukum normatif, meliputi bahan bukum primer, sekunder, dan tersier. Teknik untuk mengkaji dan mengumpulkan ketiga bahan hukum itu yaitu menggunakan studi dokumenter. Studi dokumenter merupakan studi yang mengkaji tentang berbagai dokumen-dokumen, baik yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan maupun dokumen-dokumen yang sudah ada.17
Pada penelitian hukum normatif, pengolahan data dilakukan dengan cara menyusun terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Sistematisasi berarti membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi. Kegiatan yang dilakukan dalam analisis data penelitian hukum normatif dengan cara data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu analisa terhadap data yang tidak bisa dihitung. Bahan hukum yang diperoleh selanjutnya dilakukan pembahasan, pemeriksaan dan pengelompokan ke dalam bagian-bagian tertentu untuk diolah menjadi data informasi. Hasil analisa bahan hukum akan diinterpretasikan menggunakan metode interpretasi (a) sistematis; (b) gramatikal; dan (c) teleologis.18
15 Johny Ibrahim, Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Malang: Penerbit Banyumedia, 2007.
16 Muslan Abdurrahman, Sosiologi Dan Metode Penelitian Hukum. Malang: UMM Press, 2009. 17 Salim H.S. and Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis Dan
Disertasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013.
18 Jimly Asshiddiqie, Teori & Aliran Penafsiran Hukum Tata Negara, Jakarta: Ind.Hill.Co, 1997.
Interpretasi sistematis ditujukan untuk menetukan struktur hokum dalam penelitian ini. Interpretasi sistematis (systematische interpretatie, dogmatische interpretatie) adalah menafsirkan dengan memperhatikan naskah-naskah hukum lain. Jika ditafsirkan adalah pasal-pasal suatu undang-undang, ketentuan yang sama apalagi satu asas dalam peraturan lainnya juga harus dijadikan acuan. Dalam penafsiran ini mencari ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya saling berhubungan sekaligus apakah hubungan tersebut menentukan makna selanjutnya. Akan tetapi, dalam hubungan tatanan hukum yang tidak terkodifikasi, merujuk pada system dimungkinkan sepanjang karakter sistematis dapat diasumsikan (diandaikan). Selanjutnya interpretasi gramatikal yaitu metode penafsiran hukum pada makna teks yang di dalam kaidah hukum dinyatakan. Penafsiran dengan cara demikian bertitik tolak pada makna menurut pemakaian bahasa sehari-hari atau makan teknis-yuridis yang lazim atau dianggap sudah baku.19
C. Pembahasan dan AnalisisKondisi Militer Indonesia
Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa yang tersusun atas 17.000 lebih pulau yang terletak di antara benua asia dan australia, secara matematis jumlah personel aktif di indonesia sekitar 950.000 personel dengan rician kemampuan sebagai berikut :
Aspek Indonesi
a
Malaysi a
China India Russia USA
ANGKATAN DARAT TANK 313 74 3.500 4.292 12.950 6.289 KENDARAAN TEMPUR 1.178 1.387 33.00 0 8.686 27.083 39.252 ARTILERI 455 256 10.05 0 4.561 14.408 5.571
KAPAL INDUK 0 0 2 1 1 20 KAPAL Destroyer PERUSAK 0 0 36 10 16 + kapal Cruisser jumlah tidak diketahui 91 + kapal cruisser jumlah tidak diketahui KAPAL Kombatan FREGATE 7 6 52 13 10 0 KAPAL Kombatan ringan Ringan CORVETE 24 6 50 19 79 19 KAPAL PATROLI 156 41 220 139 41 13 KAPAL PENYAPU RANJAU 10 4 29 3 48 11 KAPAL SELAM 5 2 74 16 62 66 ANGKATAN UDARA PESAWAT FIGHTER 41 26 1.232 538 873 2.085 PESAWAT ATTACK 39 13 371 172 742 715 PESAWAT ANGKUT 54 18 224 250 424 945