Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang sering dipakai untuk mengukur kinerja kegiatan ekonomi makro dan kesejahteraan umum suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi mencerminkan terjadinya ekspansi kegiatan ekonomi, baik secara keseluruhan sektor maupun secara parsial satu sektor ekonomi.
Berdasarkan paparan diatas, dapat dikemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Padang tahun 2007 dan 2008 masih cukup tinggi yaitu sebesar 6,14% dan 6,21%. Akan tetapi pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Kota Padang sedikit menurun akibat terjadinya bencana gempa bumi sehingga pada tahun tersebut tercatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,08%. Sub sektor lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan rata-rata cukup tinggi itu antara lain lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan tanpa bank serta sub sektor lapangan usaha listrik. Pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan perkembangan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000. Selengkapnya gambaran pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.9
PDRB AHK dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Padang Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006-2009
PDRB AHK (Rp Miliar) Pertumbuhan
Ekonomi (%) LAPANGAN USAHA
2006 2007 2008 2009 2007 2008 2009
1. PERTANIAN 494,41 521,84 552,96 583,18 5,55 5,96 5,47
a. Tanaman Pangan & Holtikultura 136,35 144,11 152,37 160,84 5,70 5,73 5,56
b. Tanaman Perkebunan 4,54 4,79 5,04 5,30 5,39 5,27 5,13
c. Peternakan & Hasil-hasilnya 76,57 79,18 82,29 85,36 3,40 3,93 3,74
d. Kehutanan 3,24 3,24 3,28 3,31 0,08 1,00 1,02
e. Perikanan 273,71 290,52 309,98 328,37 6,14 6,70 5,93
2. PERTAMBANGAN &PENGGALIAN 146,76 156,19 165,25 173,46 6,42 5,80 4,97
a. Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
b. Penggalian 146,76 156,19 165,25 173,46 6,42 5,80 4,97
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 1.625,75 1.705,20 1.787,05 1.854,25 4,89 4,80 3,76
a. Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
b. industri Tanpa Migas 1.625,75 1.705,20 1.787,05 1.854,25 4,89 4,80 3,76
4. LISTRIK GAS DAN AIR BERSIH 160,03 176,33 191,46 203,48 10,19 8,58 6,28
a. Listrik 144,44 159,79 173,84 184,93 10,63 8,79 6,38
b. Gas 0,00 0,00 0,00 0,00
c. Air Bersih 15,59 16,54 17,62 18,55 6,11 6,54 5,27
5. BANGUNAN 404,26 430,86 458,91 481,03 6,58 6,51 4,82
6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 2.135,32 2.249,15 2.351,21 2.432,01 5,33 4,54 3,44 a. perdagangan Besar & Eceran 2.096,96 2.209,05 2.309,12 2.388,55 5,35 4,53 3,44
b. Hotel 22,36 23,35 24,50 25,26 4,44 4,90 3,13
c. restoran 15,99 16,74 17,59 18,19 4,68 5,06 3,42
7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 2.263,33 2.426,34 2.623,52 2.805,27 7,20 8,13 6,93 a. Angkutan 1.576,45 1.650,59 1.736,75 1.818,39 4,70 5,22 4,70 1. Angkutan Kereta Api 23,76 25,40 27,43 29,04 6,91 7,99 5,87 2. Angkutan Jalan Raya 927,49 972,40 1.021,60 1.070,44 4,84 5,06 4,78 3. Angkutan Laut 233,42 240,44 253,57 264,12 3,01 5,46 4,16
4. ASDP 54,86 56,49 58,10 59,35 2,97 2,86 2,14
5. Angkutan Udara 0,00 0,00 0,00 0,00
6. Jasa Penunjang Angkutan 336,92 355,86 376,04 395,44 5,62 5,67 5,16
b. Komunikasi 686,88 775,75 886,77 986,88 12,94 14,31
11,2 9 8. KEU, PERSEWAAN & JASA USAHA 748,77 805,85 864,31 915,99 7,62 7,25 5,98
a. Bank 270,52 293,16 315,17 331,47 8,37 7,51 5,17
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank & Jasa
penunjang 179,62 199,10 218,46 235,19 10,85 9,72 7,66
c. Sewa Bangunan 259,37 272,60 287,64 304,53 5,10 5,52 5,87
d. Jasa Perusahaan 39,27 41,00 43,03 44,80 4,41 4,96 4,12
9. JASA-JASA 1.598,86 1.693,99 1.802,60 1.896,97 5,95 6,41 5,24
a. Pemerintahan Umum & Pertahanan 789,67 831,18 884,87 927,82 5,26 6,46 4,85
b. Swasta 809,19 862,82 917,73 969,15 6,63 6,36 5,60
1. Sosial Kemasyarakatan 342,02 363,53 386,22 410,43 6,29 6,24 6,27 2. Hiburan & Rekreasi 145,26 154,62 163,75 173,71 6,44 5,91 6,08 3. Perorangan & Rumah tangga 321,92 344,67 367,76 385,01 7,07 6,70 4,69
Total 9.577,50 10.165,76 10.797,26 11.345,64 6,14 6,21 5,08
Laju Inflasi Kota Padang
Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan kenaikan atau penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat selama 1 tahun. Inflasi didasarkan pada Indeks Harga Konsumen (IHK) secara sampel di 45 Kota di Indonesia (Warta Perundang-undangan No. 2755, 2008). Angka inflasi juga merupakan salah satu tolok ukur untuk menggambarkan tentang tingkat kestabilan perekonomian suatu negara/daerah. Oleh karena sampai sekarang ini perhitungan inflasi baru ada pada Ibukota Propinsi (Kota Padang), maka angka acuan inflasi untuk seluruh kota-kota di Sumatra Barat masih mengacu kepada angka inflasi Kota Padang tersebut. Angka inflasi di Kota Padang tampaknya mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 misalnya angka inflasi adalah tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir yaitu sebesar 20,47 %. Kenyataan yang demikian dipicu oleh perkembangan perekonomian nasional yang belum stabil akibat dari adanya krisis ekonomi global. Kemudian pada tahun 2006 angka inflasi tersebut turun menjadi 8,05 %. Dibanding angka inflasi nasional, angka inflasi Kota Padang sedikit lebih tinggi. Pada tahun 2007 inflasi di Kota Padang kembali menurun menjadi 6,9% sedangkan inflasi nasional meningkat meningkat 7,36%. Pada tahun berikutnya terjadi inflasi kedua tertinggi yaitu sebesar 12,68% bahkan sedikit lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 11,06%. Inflasi tinggi di tahun 2008 ini terjadi dipicu oleh kenaikan harga BBM yang berdampak pada kenaikan harga. Akan tetapi di tahun berikutnya yaitu tahun 2009, inflasi sudah nampak terkendali hingga dapat menyentuh angka 2,05% di Kota Padang dan 2,78% di tingkat nasional. Secara rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun terakhir inflasi di Kota Padang masih lebih tinggi dibanding inflasi tingkat nasional. (lihat tabel.2.12)
Tabel 2.10
Laju Inflasi Kota Padang dan Nasional Tahun 2005-2009 LAJU INFLASI 2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata Pertumbuhan Padang 20.47 8.05 6.90 12.68 2.05 10,03 Nasional 17.11 6.60 7.36 11.06 2.78 8,98
Sumber: BPS, Indikator Ekonomi Kota Padang, 2009 PDRB Per Kapita
PDRB per kapita atas dasar harga berlaku berguna untuk menunjukkan nilai PDRB per kepala atau satu orang penduduk. Dari hasil pengolahan data jumlah PDRB atas harga berlaku dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama diperoleh PDRB per kapita Kota Padang pada tahun tersebut. Secara umum terjadi peningkatan PDRB per kapita setiap tahunnya. Peningkatan paling besar terjadi di tahun 2007 dimana sebelumnya PDRB per kapita Rp 20,72 Juta meningkat 13,59% menjadi Rp 23,54 Juta di tahun 2008. Sampai dengan tahun 2009 jumlah PDRB per Kota Padang sebesar Rp 24,94 Juta.
Tabel 2.11
PDRB Per Kapita Menurut Harga Berlaku Kota Padang Tahun 2006-2009
Tahun PDRB Atas Harga Berlaku (Rp Juta) Jumlah penduduk PDRB Per Kapita (Rp Juta) Peningkatan (%) 2006 15.294.258 819.740 18,66 x 2007 17.369.190 838.190 20,72 11,07 2008 20.142.220 855.709 23,54 13,59 2009 21.837.040 875.750 24,94 5,93
Sumber: BPS, Data Diolah 2009
PDRB per kapita atas harga konstan berguna untuk mengetahui pertumbuhan nyata ekonomi per kapita penduduk suatu daerah. Secara nyata, pertumbuhan ekonomi per kapita penduduk masih berkisar 3 sampai dengan 4% setiap tahunnya. Pertumbuhan ekonomi per kapita atas dasar harga konstan tertinggi terjadi di tahun 2008 dimana pada tahun sebelumnya PDRB per kapita atas dasar harga konstan sebesar Rp 12,13 juta meningkat 4,04% menjadi Rp 12,62 juta. Akan tetapi pada tahun berikutnya (2009) pertumbuhan PDRB per kapita atas dasar harga konstan menurun sebesar 2,67% sehingga pada tahun itu PDRB per kapita atas dasar harga konstan menjadi sebesar Rp 12,96 Juta.
Tabel 2.12
PDRB Per Kapita Menurut Harga Konstan Kota Padang Tahun 2006-2009
Tahun PDRB Atas Harga Konstan (Rp Juta) Jumlah penduduk PDRB Per Kapita (Rp Juta) Peningkatan (%) 2006 9.577.496 819.740 11,68 x 2007 10.165.760 838.190 12,13 3,81 2008 10.797.250 855.709 12,62 4,04 2009 11.345.630 875.750 12,96 2,67
Sumber: BPS, Data Diolah 2009 Indeks Gini
Pemerataan pendapatan merupakan hal yang penting untuk terus dipantau perkembangannya, karena upaya pemerintah dalam memeratakan hasil pembangunan merupakan salah satu strategi dan tujuan pembangunan jangka panjang. Karena ketimpangan dalam menikmati hasil pembangunan diantara kelompok-kelompok penduduk dikhawatirkan akan menimbulkan masalah-masalah sosial, seperti kecemburuan sosial dan lain-lain.
Salah satu indikator yang biasa digunakan untuk menggambarkan tingkat ketimpangan pembagian (distribusi) pendapatan adalah rasio gini dan distribusi persentase pendapatan yang diterima seluruh masyarakat baik kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah, berpendapatan sedang (menengah) dan kelompok masyarakat yang berpendapatan tinggi (kriteria Bank Dunia). Rasio Gini merupakan ukuran pemerataan yang dihitung dengan membagi luas antara garis diagonal dan kurva lorenz dengan luas segitiga dibawah garis diagonal.
Berdasarkan hasil Susenas dapat dilakukan perhitungan indeks gini tahun 2000, 2006 dan 2008 tampaknya terjadi beberapa pergeseran indeks gini dan perubahan komposisi distribusi pendapatan seluruh masyarakat Kota Padang.
Tabel 2.13
Indeks Gini dan Sebaran Pendapatan Menurut Klasifikasi Bank Dunia Tahun 2000, 2006 dan 2008
Klasifikasi Bank Dunia Tahun Indeks Gini
40% pertama 40% kedua 20% ketiga
2000 0,2531 14,34 45,13 40,53
2006 0,2640 22,91 38,43 38,66
2008 0.2637 24.80 36.98 38.22
Sumber: Bappeda Kota Padang, Indeks Gini Tahun 2006
Besaran koefisien Gini atau Indeks Gini berkisar antara 0 sampai dengan 1
(
0≤G≤1
)
. Distribusi pendapatan antar penduduk di suatu daerah dapat dikatakan merata jika indeks gini mendekati angka 0, demikian juga sebaliknya distribusi pendapatan penduduk suatu daerah akan semakin tidak merata (timpang) jika indeks gini mendekati angka 1.Dari tabel diatas terlihat bahwa tingkat pemerataan distribusi pendapatan penduduk Kota Padang pada tahun 2000 menghasilkan Indeks Gini sebesar 0,2531. Sedangkan pada tahun 2006, Indeks gini sedikit bergeser dan cenderung agak menjauh dari angka 0. Berdasarkan hasil penghitungan indeks gini pada tahun 2006 tercatat sebesar 0,2640. Akan tetapi pada tahun 2008, Indeks gini semakin membaik sehingga dapat menghasilkan angka 0,2637.
Dengan adanya pergeseran Indeks Gini selama periode tahun 2000-2008 memberikan arti bahwa pada tahun 2008 ketimpangan pendapatan masyarakat Kota Padang cenderung sedikit meningkat dibandingkan dengan distribusi pendapatan masyarakat Kota Padang yang terjadi pada tahun 2000. Namun demikian, perubahan distribusi pendapatan tersebut masih relatif sangat kecil.
Kemiskinan
Kota Padang bersama Badan Pusat Statistik telah melakukan serangkaian pendataan terkait dengan kemiskinan. Dari data yang diperoleh jumlah Rumah Tangga Miskin di Kota Padang tahun 2006 sebanyak 38.120 Kepala Keluarga. Seiring dengan adanya berbagai program dan upaya pemerintah pusat maupun daerah dalam mengentaskan kemiskinan maka pada tahun 2009 jumlah KK miskin telah terjadi perubahan yang cukup signifikan sehingga pada tahun tersebut KK miskin telah berkurang menjadi 29.661 KK. Sedangkan jumlah penduduk miskin dari semula 185.054 jiwa di tahun 2006 telah berkurang menjadi 122.205 jiwa di tahun 2009. Ditinjau dari persentase rumah tangga miskin juga telah terjadi penurunan KK miskin dari semula di tahun 2006 sebesar 18,92% menjadi 14,01% di tahun 2009. Hal senada juga terlihat pada persentase penduduk miskin dari semula 22,57% di tahun 2006 dapat ditekan menjadi 13,95%.
Keberhasilan penurunan persentase penduduk maupun KK miskin ini tidak terlepas dari berbagai program dan kegiatan yang cukup efektif dalam menekan angka kemiskinan. Namun demikian, penurunan signifikan ini tentunya perlu terus diupayakan dan disempurnakan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Tabel 2.14
Rumah Tangga dan Jumlah Penduduk Miskin Kota Padang Tahun 2006-2009
No Keterangan 2006 2007 2008 2009
1 Rumah Tangga Miskin (KK) 38.120 38.120 38.099 29.661 2 Jumlah Rumah Tangga (KK) 201.440 205.856 210.840 211.654 3 Penduduk Miskin (jiwa) 185.054 185.054 185.001 122.205 4 Jumlah Penduduk (jiwa) 819.740 838.190 856.815 875.750 5 Persentase Rumah Tangga Miskin (%) 18,92 18,52 18,07 14,01 6 Persentase Penduduk Miskin (%) 22,57 22,08 21,59 13,95
Sumber: Bappeda Kota Padang, data sosbud 2009 Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya. Berdasarkan data BPS tahun 2006 hingga tahun 2009 menunjukkan Angka Melek Huruf di Kota Padang diatas rata-rata Angka Melek Huruf Propinsi Sumatra Barat. Gambaran Angka Melek Huruf di Kota Padang dan Sumatra Barat dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.15
Angka Melek Huruf Kota Padang dan Sumatra Barat Tahun 2006-2009
Tahun Kota Padang Sumatra Barat
2006 99,48 96,35
2007 99,48 96,49
2008 99,48 96,66
2009 99,48 96,81
Sumber: BPS Kota Padang, 2009 Angka Rata-rata Lama Sekolah
Angka rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Berdasarkan hasil perhitungan BPS yaitu kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki dan pendidikan yang ditamatkan maka diperolehlah angka rata-rata lama sekolah. Angka rata-rata lama sekolah Kota Padang dalam empat tahun terakhir ini cenderung tidak mengalami peningkatan maupun penurunan yaitu pada angka 10,80. Dari berbagai kota yang ada di Propinsi Sumatra Barat,
Kota Padang masih sebagai kota dengan rata-rata lama sekolah tertinggi. Gambaran selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.16
Rata-rata Lama Sekolah Berbagai Kota di Sumatra Barat Tahun 2006-2009 KOTA 2006 2007 2008 2009 Padang 10,80 10,80 10,80 10,80 Solok 9,80 9,80 9,80 9,80 Sawahlunto 8,60 8,74 8,77 8,77 Padang Panjang 10,20 10,20 10,20 10,20 Bukittinggi 10,10 10,43 10,43 10,43 Payakumbuh 9,00 9,04 9,07 9,07 Pariaman 9,30 9,30 9,33 9,33
Sumber: BPS Kota Padang, 2009 APK dan APM
Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. Kelompok APK dan APM untuk SD, SMP, dan SMA berturut-turut adalah untuk umur 7-12, 13-15,16-18 tahun.
Tabel 2.17
APK dan APM Kota Padang Tahun 2006-2009
SD + Paket A SLTP + Paket B SLTA + Paket C Tahun
APK APM APK APM APK APM
2006 115,27 96,10 85,76 65,60 71,80 53,20 2007 113,30 97,60 88,28 70,60 64,71 49,13 2008 104,26 87,66 81,69 60,23 73,47 52,72 2009 116,48 97,05 83,73 58,37 79,49 63,64
Sumber: Bappeda, Profil Daerah Kota Padang 2006-2009
APK SD sama dengan jumlah siswa yang duduk di bangku SD dibagi dengan jumlah penduduk kelompok usia 7 sampai 12 tahun. Dari Tabel 4.4 terlihat bahwa angka APK untuk Sekolah Dasar dari tahun 2006 hingga 2009 cenderung stabil dan melebihi angka 100. Kondisi ini menunjukkan bahwa partisipasi penduduk dalam mengikuti pendidikan dasar (SD) tidak saja dari penduduk Kota Padang tetapi juga besar dugaan penduduk dari kota dan kabupaten lain yang bersekolah di Kota Padang. Selanjutnya selisih APM dengan APK mengindikasikan proporsi siswa yang tertinggal atau terlalu cepat bersekolah.
Selisih APK dan APM pada SLTP maupun SLTA umumnya berkisar 10 hingga 20 persen. Hal ini mengindikasikan ada sekitar 10 hingga 20 persen murid SLTP maupun SLTA yang putus sekolah atau mengulang kelas.
Angka Kelangsungan Hidup Bayi
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Berdasarkan angka yang diperoleh dari Dinas Kesehatan, terlihat bahwa Angka Kelangsungan Hidup Bayi di Kota Padang cukup tinggi artinya program-program imunisasi, pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk ibu hamil dan anak cukup efektif.
Tabel 2.18
Angka Kelangsungan Hidup Bayi per 1000 kelahiran hidup Kota Padang Tahun 2006-2009
Tahun Jumlah Bayi Mati
Jumlah
Kelahiran Hidup AKB AKHB
2006 41 15.219 3 997
2007 235 14.239 17 983
2008 164 15.639 10 990
2009 107 16.449 7 993
Sumber: Profil Dinas Kesehatan Kota Padang 2006-2009 Angka Usia Harapan Hidup
Angka usia harapan hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka usia harapan hidup di Kota Padang dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Tahun 2006 angka harapan hidup di Kota sebesar 70,10 dan meningkat di tahun 2007 menjadi 71,50. Akan tetapi selanjutnya di tahun 2008 angka usia harapan hidup sedikit menurun hingga menjadi 70,90 dan seterusnya tahun 2009 kembali membaik mencapai angka 71,13. Secara umum angka harapan hidup di Kota Padang sudah cukup baik, meskipun masih perlu penajaman pada beberapa program kesehatan yang terkait dengan kebutuhan masyarakat luas.
Tabel 2.19
Angka Usia Harapan Hidup Kota Padang Tahun 2006-2009
TAHUN ANGKA USIA HARAPAN HIDUP
2006 70,10
2007 71,50
2008 70,90
2009 71,13
Balita Gizi Buruk
Gizi Buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein (KEP) tingkat berat akibat kurang mengonsumsi makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu lama. Ditandai dengan status gizi sangat kurus (menurut BB terhadap TB) dan/atau hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus,
kwashiorkor atau marasmik kwashiorkor. Secara umum persentase kasus gizi
buruk di Kota Padang tergolong kecil di Kota Padang yaitu sekitar 0,15 persen. Berdasarkan data terakhir, tahun 2009 dilakukan penanggulangan kasus balita gizi buruk. Dari 135 kasus, 16 kasus ditangani rawat inap pada puskesmas Nanggalo, 1 orang meninggal dunia dari puskesmas Lubuk Buaya sedangkan selebihnya dapat ditangani melalui rawat jalan maupun Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P).
Tabel 2.20
Persentase Balita Gizi Buruk Kota Padang Tahun 2007-2009
No Uraian 2007 2008 2009
1
Jumlah Balita/Jmh Pdd 0-4 thn
(orang) 77.125 78.889 78.345
2 Jumlah Balita Gizi Buruk (orang) 124 84 135 3 Persentase Balita Gizi Buruk (%) 0,16 0,11 0,17
Sumber: Bappeda, Profil Kota Padang 2007-2009 Angka Pengangguran
Kota Padang menghadapi persoalan pengangguran yang cukup pelik. Tingkat pengangguran terbuka meningkat dari 14,61% di tahun 2008 menjadi 15,86% di tahun 2009. Bahkan dalam empat tahun terakhir ini rata-rata tingkat pengangguran di Kota Padang adalah sebesar 16%. Pada dasarnya tingginya angka pengangguran disebabkan oleh ketidakseimbangan antara penawaran dan pemerintahan tenaga kerja. Ketidakseimbangan ini lebih spesifik disebabkan oleh ketidaksesuaian pendidikan dan keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan pasar tenaga kerja di Kota Padang. Selengkapnya angka pengangguran di Kota Padang dari tahun 2006 hingga tahun 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.21
Angka Pengangguran Penduduk Umur 15 thn keatas Kota Padang Tahun 2006-2009 (%) Uraian 2006 2007 2008 2009 Laki-laki 11,84 14,51 13,17 13,95 Perempuan 14,32 23,30 17,18 19,31 Laki-laki + Perempuan 13,16 17,63 14,61 15,86
2.3. Aspek Pelayanan Umum