a. Kesukaan Terhadap Produk Pangan Berbasis Jagung
Kesukaan terhadap suatu makanan akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan (Suhardjo, 1989). Kesukaan seseorang terhadap suatu jenis pangan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : (1)Karakteristik individu (umur, jenis kelamin, pendidikan) ; (2) Karakteristik pangan itu sendiri (rasa, harga, penampakan); dan (3) Karakteristik lingkungan (musim, pekerjaan, tingkat social dalam masyarakat) (Sanjur, 1982). Selain itu, keterikatan yang kuat terhadap pola makan (kebiasaan) biasanya terbentuk ketika masyarakat menyukai makanan tersebut seperti dikutip oleh Khumaidi (1989).
Penilaian perilaku konsumsi responden di 2 lokasi survei, yakni Bojonegoro dan Bogor berdasarkan tingkat kesukaan terhadap produk jagung dapat dilihat pada Tabel 8
Tabel 8. Frekuensi Tingkat Kesukaan Responden Terhadap Produk jagung No Tingkat Kesukaan Terhadap Produk Jagung Responden Bojonegoro Responden Bogor n % n % 1. Suka 14a 28 21a 42 2. Netral 30b 60 25a 50 3. Tidak Suka 4a 8 - - Total 48 96 46 92 Tidak menjawab 2 - 4 -
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dinyatakan tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Berdasarkan Tabel 8, sebanyak 60% responden yang berada di Bojonegoro bersikap netral terhadap produk jagung dan hanya 28% responden yang menyukai produk jagung. Sedangkan di Bogor, persentase responden yang menyukai produk jagung lebih banyak dibandingkan responden di Bojonegoro. Sebanyak 42% menyukai produk jagung dan 50% lainnya bersikap netral.
Data ini menunjukkan bahwa produk jagung masih digemari oleh responden di kedua lokasi. Adanya dominasi sikap netral responden Bojonegoro dapat dijadikan motivasi bagi industri pangan untuk menghasilkan produk olahan jagung yang lebih menarik. Hasil pengolahan produk jagung yang lebih variatif dan berkualitas nantinya akan dapat meningkatkan kesukaan responden. Hal serupa juga dapat ditujukan bagi kelompok responden di Bogor. Bogor sebagai daerah sub-urban menuntut warganya untuk mengikuti gaya hidup modern. Hal ini memicu munculnya produk- produk pangan baru yang berupaya memenuhi tuntutan akan gaya hidup tersebut. Responden Bogor yang hanya bersikap netral terhadap produk jagung akan bertambah kesukaannya jika produk-produk jagung yang ditawarkan dapat bersaing dengan produk-produk lain yang memenuhi tuntutan gaya hidup modern.
Sejalan dengan penelitian ini, penelitian lain yang pernah dilakukan kepada mahasiswa Teknologi Pangan dan Gizi angkatan tahun 1999-2001 sebanyak 100 orang memberikan hasil kajian mengenai perilaku konsumen terhadap pangan non-beras, yakni jagung. Berdasarkan kajian tersebut, seluruh responden diketahui mengenal jagung. Hal ini disebabkan jagung merupakan bahan pangan yang sudah tersebar hampir di seluruh wilayah tanah air dan sudah banyak dikonsumsi sebagi pangan pokok maupun sebagai pangan olahan dalam bentuk yang beragam seperti sereal instan untuk sarapan, snack atau makanan selingan (Juniawati, 2003). Berdasarkan penelitian tersebut juga diketahui bahwa responden mahasiswa Teknologi Pangan dan Gizi yang mewakili responden Bogor umumnya menyukai produk jagung. Hal ini terlihat dari banyaknya responden yang mengonsumsi jagung pada 1 minggu yang lalu saat kajian dilakukan menunjukkan bahwa jagung merupakan bahan
pangan yang sering dikonsumsi. Waktu terakhir mengonsumsi pangan asal jagung dapat dilihat pada Gambar 7
Gambar 7. Waktu Terakhir Mengonsumsi Pangan Asal Jagung (n=100) (Juniawati, 2003)
b. Tempat Memperoleh Produk Pangan Berbasis Jagung
Akses responden di Bojonegoro untuk mendapatkan produk jagung tersebar hampir merata di pasar, warung, minimarket dan supermarket. Data kuesioner menunjukkan bahwa banyaknya responden Bojonegoro yang memilih pasar, warung, minimarket maupun supermarket tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa produk-produk olahan jagung terdistribusi secara merata di lokasi-lokasi tersebut. Ketersediaan yang merata ini menunjang akses konsumen dalam hal kemudahan mendapatkan produk. Hal ini nantinya dapat dilihat berdampak pada frekuensi konsumsi produk olahan jagung responden di Bojonegoro.
Sumarwan di dalam Nadeak (2004) mengungkapkan bahwa adanya keinginan membeli produk akan mendorong konsumen untuk mencari toko atau pusat perbelanjaan tempat untuk membeli produk tersebut. Konsumen akan memilah-milah dan membandingkan karakteristik toko yang sesuai dengan keinginannya. Pasar swalayan atau supermarket merupakan konsep pasar modern yang cepat berkembang di Indonesia dan mendapat respon yang baik dari konsumen. Pasar swalayan memiliki konsep dengan operasi yang relatif lebih besar, berbiaya rendah, memiliki margin yang rendah, serta volume yang tinggi. Swalayan dirancang untuk memenuhi semua kebutuhan
51 12 4 4 23 0 10 20 30 40 50 60 (%) 1 minggu lalu 2 minggu lalu 3 minggu lalu 4 minggu lalu >4 minggu lalu
konsumen. Dari hasil survey mengenai sifat dan kualitas keragaman barang di Superindo, sebanyak 33% responden mengatakan sangat penting dan 61% lainnya menyatakan penting (Nadeak, 2004).
Hasil kuesioner pada responden Bogor menunjukkan bahwa responden di lokasi ini lebih memilih warung (44%) dan minimarket (32%) sebagai tempat membeli dibandingkan pasar (24%) dan supermarket (22%). Kondisi ini cukup menarik karena responden di Bogor, yang dikenal sebagai daerah sub urban, tentunya lebih familiar dengan keberadaan supermarket. Akan tetapi, responden di daerah ini justru lebih memilih warung dan minimarket. Bila diamati lebih lanjut, tidak ada perbedaan jenis produk olahan jagung yang ditawarkan di keempat lokasi tersebut. Hal ini diasumsikan terkait dengan kemudahan responden untuk menjangkau lokasi warung dan minimarket di Bogor. Responden Bogor yang 100% berstatus sebagai mahasiswa yang berdomisili di Dramaga lebih memilih lokasi mendapatkan produk olahan jagung di tempat-tempat yang lebih mudah dijangkau tanpa harus melakukan perjalanan yang cukup jauh. Lokasi suatu toko sangat ditentukan oleh letaknya yang strategis, kemudahan dalam menjangkau toko dengan berbagai sarana transportasi dan keadaan jalan yang lancar (Purba, 2006). Dalam pemilihan lokasi, toko harus strategis supaya mudah dicapai oleh para konsumen. Menurut Purba (2006), keputusan dimana pembelian akan dilakukan tergantung pada pengetahuan tentang pembelian yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian terhadap kepentingan konsumen mengenai lokasi dan sarana untuk menuju Matahari Bandar Lampung, sebanyak 94% menyatakan penting dan sangat penting.
Selain itu, citra toko merupakan realitas yang diandalkan oleh konsumen sewaktu membuat pilihan dimana mereka memutuskan tempat untuk berbelanja (Setiadi dalam Nadeak, 2004). Minimarket yang berada di daerah Dramaga memiliki citra yang baik sebagai tempat strategis untuk mencari produk-produk yang dibutuhkan oleh para mahasiswa. Konsumen sering mengembangkan citra toko didasarkan pada iklan, kelengkapan di dalam toko, pendapat teman dan kerabat dan juga pengalaman belanja (Nadeak, 2004)
Data sebaran frekuensi pilihan tempat mengakses produk olahan jagung oleh responden di kedua lokasi secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 8
Gambar 8. Grafik Sebaran Tempat Memperoleh Produk
c. Rata-Rata Frekuensi Konsumsi Produk Pangan Berbasis Jagung
Terbentuknya rasa suka terhadap makanan tertentu merupakan hasil dari kesenangan sebelumnya yang diperoleh pada saat makan untuk memenuhi rasa lapar serta dari hubungan emosional dengan yang memberi makan pada saat anak-anak. Biasanya jenis makanan yang telah terbiasa disukai sejak masa anak-anak akan berlanjut menjadi makanan kesukaan pada usia dewasa (Khumaidi, 1989). Selain itu, kegiatan budaya suatu keluarga, suatu kelompok masyarakat, suatu negara atau suatu bangsa mempunyai pengaruh yang kuat dan kekal terhadap apa, kapan dan bagaimana penduduk makan. Pola kebudayaan ini mempengaruhi orang dalam memilih pangan ( Suhardjo et al., 1988).
Kota Bojonegoro sebagai salah satu daerah sentra penanaman jagung memiliki ketersediaan yang cukup tinggi akan produk pangan berbasis jagung. Penduduk di sekitar daerah tersebut biasa mengkonsumsi produk olahan jagung ini sebagai camilan. Terbentuknya kebudayaan mengkonsumsi jagung ini mungkin memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap frekuensi konsumsi produk jagung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Suryana
2224 24 44 22 32 32 22 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 % pasar warung minim arke t superm arket tempat memperoleh responden Bojonegoro responden Bogor
(1991), kabupaten Bojonegoro termasuk ke dalam kelompok daerah tingkat konsumsi jagung tinggi. Bila dihubungkan dengan keragaan tingkat produksi, ternyata daerah tingkat konsumsi tinggi ini berimpit dengan kabupaten yang diidentifikasi sebagai tingkat produksi tinggi dimana Bojonegoro merupakan salah satu sentra produksi jagung di Indonesia. Perbandingan antara rata-rata frekuensi konsumsi jagung per minggu dari responden di Bojonegoro dan responden di kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 . Rata-Rata Frekuensi Konsumsi Makanan Berbasis Jagung Selama Periode 5 Tahun Terakhir
No Rata-Rata Frekuensi Konsumsi Responden Bojonegoro Responden Bogor n % n % 1. <1 kali/minggu 16a 32 35a 70 2. 1 kali/minggu 16a 32 7b 14 3. 2 kali/minggu 12ab 24 1b 2 4. 3 kali/minggu 3b 6 2b 4 Tidak menjawab 3 6 5 10 Total 50 100 50 100
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Ada hubungan penilaian konsumen terhadap makanan dengan frekuensi yaitu penilaian yang positif diikuti dengan frekuensi yang semakin sering. Menurut Suhardjo (1989), hal ini disebabkan makanan-makanan yang disajikan dan diterima menjadi kesukaan dan kebiasaan makan konsumen remaja menjadikan seseorang mempunyai emosional yang kuat terhadap loyalitas dan kepekaan terhadap makanan tersebut yang ditunjukkan dari frekuensi mengonsumsinya. Lewin (1943) dalam Suhardjo (1989), sebagian besar orang lebih suka makan apa yang mereka sukai daripada menyukai apa yang mereka makan.
Meskipun responden di Bogor yang menyukai produk jagung lebih banyak dibandingkan responden di Bojonegoro, frekuensi konsumsi per minggu terhadap produk jagung di Bojonegoro ternyata lebih tinggi dibandingkan
dengan frekuensi konsumsi di Bogor. Sebanyak lebih dari 50% responden (62%) di Bojonegoro mengkonsumsi produk jagung minimal sekali dalam seminggu. Sedangkan, sebanyak 70% responden di Bogor belum tentu mengkonsumsi produk jagung dalam tiap minggunya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari literatur disebutkan bahwa ketersediaan dan harga merupakan faktor yang mendominasi konsumsi serta memberi pengaruh terhadap kesukaan (Meiselman dan Macfie, 1996).
d. Perkiraan Porsi Konsumsi Produk Olahan Jagung Oleh Responden
Pada butir kuesioner, responden mengisi rata-rata porsi konsumsi produk olahan jagung dalam 1 kali konsumsi. Porsi dibedakan berdasarkan jenis kemasan seperti kemasan plastik dan kemasan kaleng. Selain itu, jenis ukuran kemasan juga dibedakan berdasarkan ukuran besar, kecil ataupun porsi konsumsi setiap menyantap sereal sarapan cornflakes. Perhitungan perkiraan porsi konsumsi dilakukan hanya terhadap produk yang sering dan kadang- kadang dikonsumsi responden. Hasil perhitungan perkiraan porsi konsumsi produk jagung responden di kedua lokasi dapat dilihat pada Tabel 10
Tabel 10. Perkiraan Rata-Rata Porsi Konsumsi Produk Jagung Lokasi Tingkatan Frekuensi Rata – Rata Porsi
Konsumsi (gram) Bojonegoro Kadang-kadang 78.03 Sering 85.37 Rata-Rata Total 81.7 Bogor Kadang-kadang 80.41 Sering 65.09 Rata-Rata Total 72.75
Berdasarkan Tabel 10, responden Bojonegoro memiliki rata-rata porsi konsumsi yang lebih besar dibandingkan responden Bogor. Hasil ini dapat didukung oleh hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Fachrina (2005) mengenai pola konsumsi pangan pada rumah tangga miskin di pedesaan dan perkotaan di lima propinsi pulau Jawa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Bogor yang dapat diwakili oleh rumah tangga miskin perkotaan di Jawa Barat memiliki tingkat konsumsi per kapita yang lebih rendah dibandingkan rumh
tangga miskin di wilayah perkotaan Jawa Timur. Hasil penelitian ini secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 11
Tabel 11. Konsumsi pangan pokok pada rumah tangga Miskin Berdasarkan Propinsi dan Wilayah (g/kapita/hari)
Jenis Pangan Propinsi
DKI Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur
Kota Kota Desa Kota Desa Kota Desa Kota Desa
Beras 205.1 256.8 306.2 227.1 209.4 208.3 199.1 224.7 212.7 Jagung * 0.1 1.4 0.5 0.2 25.9 0.0 8.6 7.4 25.6 Ubi Jalar 3.4 5.5 8.4 3.2 9.8 5.1 3.3 6.9 4.1 Ubi kayu 8.7 15.3 21.5 17.3 34.3 23.6 20.6 17.8 25.5 Tepung terigu 0.9 1.4 0.8 1.6 1.9 1.5 1.1 0.3 0.4 Mie ** 5.8 2.7 1.5 3.0 1.6 4.1 3.6 1.6 1.2 * jagung pipilan
** mie basah dan mie kering
Selain itu juga, penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Situmorang (2005) mengungkapkan bahwa bila dibandingkan antara masing-masing komoditi, jagung masih jarang atau tidak pernah dikonsumsi oleh kebanyakan responden bila dibandingkan dengan beras yang rata-rata konsumsi per minggunya mencapai 21 kali, serta roti dan mie yang dikonsumsi sebanyak 2 kali per minggu.
e. Preferensi dan Frekuensi Konsumsi Beberapa Produk Pangan Berbasis Jagung di Pasaran
Produk-produk olahan jagung yang beredar di pasaran cukup beragam. Meningkatnya keberadaan teknologi pengolahan pangan memicu diproduksinya produk-produk pangan sebagai hasil inovasi. Beragamnya produk pangan yang dihasilkan membuat produk olahan jagung kini tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk makanan tradisional tetapi juga sebagai makanan dalam kemasan (camilan).
Salah satu butir dalam kuesioner yang diajukan kepada responden dapat dijadikan gambaran mengenai preferensi konsumen terhadap jenis-jenis produk
%
Jenis produk
Jenis produk %
olahan jagung yang beredar di pasaran. Data preferensi responden di kedua lokasi survei secara lengkap disajikan pada Gambar 9a dan Gambar 9b
0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Gambar 9a. Grafik Preferensi Responden di Bojonegoro 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Gambar 9b. Grafik Preferensi Responden di Bogor Keterangan :
1 = tortilla 6 = keripik jagung
2 = corn flakes 7 = snack marning 3 = snack jagung puff 8 = sup krim jagung 4 = popcorn siap makan 9 = sup krim jagung kaleng 5 = popcorn siap masak 10 = pangan tradisional
Bar menunjukkan persentase responden (n-100) yang memilih produk tertentu dari 10 jenis produk olahan jagung yang ditampilkan pada kuesioner. Berdasarkan grafik, responden di daerah Bojonegoro paling banyak memilih snack marning (76%). Snack marning ini merupakan produk olahan jagung yang
dikonsumsi sebagai camilan. Selanjutnya, sebanyak 70% responden Bojonegoro memilih popcorn siap makan. Hal ini dapat dijadikan gambaran bahwa produk camilan lebih banyak disukai oleh konsumen. Sehingga, upaya peningkatan konsumsi jagung nantinya diaarankan untuk lebih diarahkan kepada jenis produk-produk camilan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Rosegrant et al. (1987) yang mengungkapkan bahwa konsumsi jagung di daerah perkotaan bisanya sebagai makanan selingan. Snack termasuk makanan jajanan. Pada umumnya, konsumen lebih memperhatikan makanan jajanan dari segi rasa yang enak dan murah (Guhardja dalam Setiawan, 2006).
Hal menarik dapat diamati pada hasil kuesioner terhadap responden di kota Bogor. Sebanyak 74% responden di daerah ini lebih memilih produk pangan tradisional berbasis jagung dibandingkan produk dalam kemasan lainnya. Makanan yang berasal dari tempat dimana kita lahir dan dibesarkan sesuai dengan tradisi daerah setempat disebut makanan tradisional (Winarno, 1993).
Bogor sebagai daerah sub-urban tentunya dibanjiri dengan produk-produk pangan modern baik produk impor maupun hasil produksi industri dalam negeri. Produk-produk ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat di daerah perkotaan. Keberadaan produk pangan tradisional seringkali dijadikan sebagai
bentuk ”penyegaran” terhadap kejenuhan akan produk-produk pangan modern. Selain itu, Bogor sebagai daerah sub-urban merupakan daerah yang tidak hanya dihuni oleh penduduk asli Bogor sendiri, tetapi juga oleh penduduk pendatang dari daerah lain. Keberadaan penduduk pendatang ini juga diasumsikan memberikan pengaruh terhadap preferensi konsumsi produk pangan tradisional.
Sejalan dengan hal tersebut, hasil survey konsumsi makanan tradisional Sunda yang dilakukan Yasminia (2003) menyebutkan bahwa sumber informasi yang membuat responden tertarik mengonsumsi makanan tradisional Sunda adalah paling banyak didapat dari responden yaitu keluarga sebanyak 158 orang (79%), teman sebanyak 56 orang (28%), majalah sebanyak 36 orang (18%), iklan sebanyak 21 orang (10.5%), brosur atau leaflet sebanyak 11 orang (5.5%), lainnya yaitu pedagang makanan Sunda (4%) dan koran (3%). Hasil survey secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Persentase Responden Remaja Berdasarkan Sumber Informasi yang Membuat Tertarik Mengonsumsi Makanan Tradisional Sunda (Yasminia, 2003)
Bila dilakukan perbandingan pemilihan antara makanan tradisional dengan
makanan ”modern”, Yasminia (2003) juga mendapatkan hasil survey yang menunjukkan bahwa responden paling banyak memilih makanan tradisional Sunda sebanyak 155 orang (77.5%) dan sedangkan yang memilih makanan fastfood sebanyak 45 orang (22.5%).
Menurut Dewi (2004), konsumen di perkotaan cenderung lebih mudah terpengaruh oleh : (a) Budaya makan di luar rumah baik jajanan maupun makan di lingkungan bekerja atau sekolah ;(b) Jenis-jenis makanan bergengsi dan menyenangkan ; dan (c) Aspek kepraktisan dan kecepatan pelayanan, sedangkan konsumsi di wilayah pengembangan industri akan lebih mempertimbangkan aspek kepraktisan dan efisiensi dalam pemilihan makanan.
Bila dikaitkan dengan data tempat mengakses produk olahan jagung seperti dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, responden Bogor lebih memilih warung dan minimarket sebagai tempat membeli. Hal ini dapat menjadi gambaran bahwa akses untuk mendapatkan produk tradisional tidak hanya terbatas pada pasar saja. Produk pangan tradisional ini sudah mulai terdistribusi di warung, minimarket hingga supermarket.
Preferensi terhadap makanan didefinisikan sebagai derajat kesukaan atau ketidaksukaan terhadap makanan, sehingga preferensi ini akan berpengaruh
79 28 18 10.5 5.5 4 3 0 10 20 30 40 50 60 70 80 %
keluarga teman majalah iklan
brosur/leafl et
pdgg mk
nn Sunda kora n
terhadap konsumsi pangan (Setyawan, 2006). Kotler di dalam Setyawan (2006) mengungkapkan bahwa preferensi konsumen menunjukkan kesukaan konsumen dari berbagai pilihan produk yang ada.Preferensi terhadap makanan sangat dipengaruhi oleh sikap erat hubungannya dengan suka atau tidak suka, menolak atau menerima terhadap makanan. Menurut Sanjur (1982), sikap terhadap pemilihan makanan merupakan penggabungan antara sesuatu apa yang dipelajari dan apa yang dilihat misalnya melalui berbagai iklan di media massa.
Terbentuknya rasa suka terhadap makanan tertentu merupakan hasil dari kesenangan sebelumnya yang diperoleh pada saat makan (Khumaidi, 1989). Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman mengonsumsi produk akan sangat berdampak pada keputusan untuk mengonsumsi pada masa selanjutnya. Pada butir kuesioner, responden diminta untuk memilih jenis produk olahan jagung yang biasa dikonsumsi. Pilihan berkisar di antara 10 produk olahan jagung yang banyak beredar di pasaran. Responden yang tidak memilih salah satu produk diasumsikan tidak pernah mengonsumsi produk tersebut. Kesepuluh produk dikategorikan menjadi produk pangan tradisional, cemilan tradisional, cemilan dalam kemasan, dan produk instan. Hasil tabulasi data perbandingan preferensi responden untuk masing-masing kategori produk olahan jagung dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Sebaran Pernyataan Sikap Mengonsumsi Responden Berdasarkan Kategori Produk Olahan Jagung
No Jenis Produk Lokasi
Responden
Perrnyataan Mengonsumsi (orang)
Pernah Tidak Pernah
1. Pangan tradisional Bojonegoro 33 17
Bogor 37 13
2. Cemilan tradisional
Marning Bojonegoro 38 12
Bogor 33 17
Keripik jagung Bojonegoro 33 17
Bogor 23 27
3. Cemilan dalam kemasan
Tortilla Bojonegoro 32 18
Bogor 35 15
Popcorn Bojonegoro 35 15
Bogor 29 21
4. Produk instan
Sup krim bubuk Bojonegoro 21 29
Bogor 20 30
Sup krim kaleng Bojonegoro 23 27
Bogor 17 33
Pop corn instan Bojonegoro 25 25
Bogor 17 33
5. Sereal sarapan (corn flakes)
Bojonegoro 24 26
Berdasarkan Tabel 12, kategori produk pangan tradisional, cemilan tradisional, dan cemilan dalam kemasan dapat dikatakan cukup populer di masyarakat Bogor dan Bojonegoro karena frekuensi responden yang pernah mengonsumsi lebih besar dibandingkan responden yang tidak pernah mengonsumsi. Produk instan dan sereal sarapan yang tergolong produk
’modern’ justru belum begitu diminati masyarakat di kedua lokasi.
Kecenderungan masyarakat untuk mengonsumsi pangan tradisional, baik berupa cemilan maupun jajanan tradisional, lebih besar dibandingkan produk-
produk pangan ’modern’. Hal ini dapat dijadikan landasan untuk mengoptimalkan pengembangan produk pangan tradisional berbasis jagung. Hardinsyah, dkk (2001) pernah mengadakan penelitian mengenai konsumsi pangan tradisional pada siswa remaja di kota Bogor menyebutkan bahwa lebih dari 50% responden menyukai produk pangan tradisional karena citarasanya yang enak. Hal ini menunjukkan bahwa cita rasa pangan tradisional dapat memenuhi selera responden. Banyak alasan seseorang memilih makanan, preferensia atau kesukaan merupakan salah satu faktor utama yang dipertimbangkan konsumen dalam pemilihan makanan (Hardinsyah, 1996).
Kebiasaan mengonsumsi produk camilan menjadi hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Produk camilan ini merupakan salah satu bentuk pemenuhan atas waktu senggang di sela-sela kesibukan kehidupan perkotaan. Bagi industri, prospek pengembangan produk camilan berbasis jagung pun masih cukup besar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Juniawati (2003), Produk pangan non beras paling banyak dikonsumsi pada saat sarapan dan sebagai makanan selingan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan beras sebagai bahan pangan pokok belum dapat tergantikan dengan jenis komoditi lain. Sebanyak 62% responden mengonsumsi pangan non beras saat sarapan dan sebanyak 49% responden mengonsumsi pangan sebagai makanan selingan (Gambar 11)
62 49 5 11 0 10 20 30 40 50 60 70 (%)
sarapan selingan makan siang makan malam
Gambar 11. Waktu frekuensi konsumsi produk pangan non beras (n=100) (Juniawati, 2003)
Di lain pihak, keberadaan produk-produk instan maupun sereal sarapan merupakan tuntutan akan gaya hidup masa kini. Akan tetapi, berdasarkan Tabel 12, jumlah responden yang pernah mengonsumsi lebih sedikit dibandingkan jumlah responden yang belum pernah mengonsumsi produk tersebut. Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Juniawati (2003), hasil kajian mengenai perilaku konsumen dalam mengkonsumsi karbohidrat non beras menunjukkan bahwa sereal termasuk salah satu produk dengan frekuensi konsumsi paling kecil. Juniawati menyebutkan bahwa faktor harga menjadi salah satu penyebabnya. Produk dengan cita rasa yang enak tetapi menawarkan harga yang kurang terjangkau akan kurang diminati oleh konsumen.
g. Opini Responden Terhadap Upaya Perbaikan Konsumsi Jagung
Pada butir terakhir kuesioner, responden diminta untuk memberikan opini mengenai hal-hal yang perlu diperbaiki dalam upaya peningkatan konsumsi jagung masyarakat. Beberapa pilihan jawaban kemudian dikelompokkan ke dalam 6 kategori, yakni opini yang berkaitan dengan peningkatan variasi, perbaikan harga, perbaikan kualitas dan kuantitas, perbaikan distribusi dan promosi, perbaikan keamanan pangan, serta dari segi organisasi perusahaan. Data sebaran pilihan opini responden di kedua lokasi dapat dilihat pada Gambar 12a dan Gambar 12b
87% 4% 7% 0% 0% 2% variasi harga kualitas-kuantitas distr.-prom osi keam anan pangan perusahaan
Gambar 12a. Grafik Sebaran Opini Responden Bojonegoro
76% 4% 7% 11% 2% 0% variasi harga kualitas-kuantitas distr.promosi keamanan pangan perusahaan
Gambar 12b. Grafik Sebaran Opini Responden Bogor
Berdasarkan hasil analisis, responden di Bojonegoro (86.96%) dan Bogor (76.1%) memiliki kecenderungan yang sama dimana opini yang diberikan lebih mengarah kepada upaya peningkatan variasi produk. Menurut Suhardjo (1989), kombinasi dan variasi dari rupa, rasa, warna dan bentuk makanan akan mempengaruhi nafsu makan seseorang. Hal ini sangat berkaitan dengan perlunya dilakukan inovasi terhadap produk pangan berbasis jagung. Selanjutnya, perbaikan kualitas dan kuantitas menjadi perhatian bagi 6.52% responden baik di Bojonegoro maupun di Bogor. Perbaikan dari segi kualitas