Untuk melihat keterkaitan antara dua faktor yang dapat menjadi dasar dalam upaya pengembangan produk pangan berbasis jagung, dilakukan pengujian korelasi antara dua variabel yang berbeda. Kumpulan data dianalisis dengan menggunakan metode Chi-square, Pearson dan Spearman.
Hasil analisis ini berguna dalam mengetahui faktor-faktor hubungan perilaku konsumen terhadap variabel yang diteliti dalam kuesioner.
a. Hubungan Lokasi Responden dengan Kesukaan Terhadap Produk Jagung Dari hasil analisis, diperoleh hubungan tidak nyata antara variabel lokasi responden dengan kesukaan terhadap produk jagung dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0.055 lebih besar dari 0.05 seperti terlihat pada tabel. Adanya hubungan yang tidak nyata ini memberikan pandangan bahwa tradisi/kebiasaan makan masyarakat yang berada di lokasi yang berbeda tidak mempengaruhi kesukaan terhadap produk pangan berbasis jagung. Hal ini dapat dijadikan asumsi bahwa upaya perbaikan konsumsi jagung di Indonesia tidak akan terbatas pada lokasi tertentu ssja, tetapi secara merata dapat diusahakan di setiap daerah. Faktor kesukaan produk pangan berbasis jagung ini mungkin dipengaruhi oleh variabel lain yang dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.
Hasil analisis ini membuktikan bahwa kesukaan responden tidak dipengaruhi oleh tempat dimana responden berdomisili. Seperti yang kita ketahui, Bogor sebagai daerah sub-urban merupakan tempat para pendatang yang berasal dari berbagai daerah. Adanya pengalaman atau kebiasaan makan masa kanak-kanak di daerah asal kemudian terbawa hingga dewasa. Keadaan inilah yang mempengaruhi preferensi ataupun kesukaan responden terhadap produk jagung ketika responden menemukan adanya ketersediaan akan produk tersebut di Bogor. Menurut Khumaidi (1989), terbentuknya rasa suka terhadap makanan tertentu merupakan hasil dari kesenangan sebelumnya yang diperoleh pada saat makan untuk memenuhi rasa lapar serta dari hubungan emosional dengan yang memberi makan pada saat anak-anak. Biasanya jenis makanan yang telah terbiasa disukai sejak masa anak-anak akan berlanjut menjadi makanan kesukaan pada usia dewasa.
Hasil analisis korelasi dan nilai probabilitas (p) yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Hasil Analisis Chi-square Antara Variabel Lokasi Responden dan Kesukaan terhadap Produk Jagung
Chi-Square Tests
Value Df Asymp. Sig.
(2-sided) Pearson Chi-
Square 5.815(a) 2 .055
Likelihood Ratio 7.367 2 .025
N of Valid Cases 94
a 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.96.
b. Hubungan Lokasi Responden dengan Frekuensi Konsumsi Produk Jagung Dari hasil analisis, diperoleh hubungan nyata antara variabel lokasi responden dengan frekuensi konsumsi terhadap produk jagung per minggu dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0.00 lebih kecil dari 0.05 seperti terlihat pada tabel. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi produk jagung dipengaruhi faktor lokasi atau tempat domisili responden. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya perbedaan ketersediaan akan jagung di kedua lokasi. Suryana (1991) mengungkapkan bahwa bila dihubungkan dengan keragaan tingkat produksi, daerah dengan tingkat konsumsi jagung tinggi ternyata berimpit dengan kabupaten yang diidentifikasi sebagai tingkat produksi tinggi dimana Bojonegoro merupakan salah satu sentra produksi jagung di Indonesia.
Selain itu, tradisi atau kebiasaan mengonsumsi produk pangan berbasis jagung juga mempengaruhi seberapa sering responden mengonsumsi produk tersebut dalam tiap minggunya. Hal ini terkait dengan pilihan opini responden yang menyarankan perlunya perbaikan dari segi kualitas dan kuantitas dalam rangka memperbaiki konsumsi jagung di Indonesia. Hasil analisis korelasi dan nilai probabilitas (p) yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Hasil Analisis Chi-square Antara Variabel Lokasi Responden dan Frekuensi Konsumsi Produk Jagung
Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig.
(2-sided) Pearson Chi-
Square 20.074(a) 3 .000
Likelihood Ratio 21.998 3 .000
N of Valid Cases 92
a 2 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.45.
c. Hubungan Tingkat Kesukaan dengan Frekuensi Konsumsi Produk Jagung
Korelasi antara variabel “kesukaan” dengan “frekuensi” menunjukkan
angka sebesar 0.031. Angka tersebut menunjukkan adanya korelasi yang sangat lemah (dianggap tidak ada) dan searah. Hubungan kedua variabel tidak signifikan karena angka probabilitasnya 0.770 > 0.05 seperti terlihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Hasil Analisis Korelasi Antara Variabel Kesukaan dan Frekuensi Konsumsi Produk Jagung Responden
kesukaan Frekuensi Spearman's rho Kesukaan Correlation Coefficient 1.000 .031 Sig. (2-tailed) . .770 N 94 91 Frekuensi Correlation Coefficient .031 1.000 Sig. (2-tailed) .770 . N 91 92
Besarnya sumbangan atau peranan variabel kesukaan terhadap frekuensi dapat dihitung dengan rumus koefisien determinasi :
KD = r2 x 100% = 0.0312 x 100% = 0.09 %
Hasil ini dapat menjadi kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat kesukaan responden terhadap produk jagung belum tentu menyebabkan semakin meningkatnya frekuensi konsumsi akan produk tersebut karena pengaruh yang diberikan tidak signifikan, hanya sebesar 0.09%.
Kesukaan yang tidak berpengaruh nyata terhadap frekuensi konsumsi responden semakin memberikan penguatan bahwa frekuensi konsumsi sangat dipengaruhi oleh faktor ketersediaan akan produk jagung itu sendiri.
d. Hubungan Antara Variabel Frekuensi Konsumsi dengan Porsi Konsumsi Produk Pangan Berbasis Jagung
Selanjutnya, pada penelitian juga dilakukan analisis korelasi Spearman untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara frekuensi konsumsi dengan porsi konsumsi produk pangan berbasis jagung responden. Korelasi antara variabel frekuensi dan porsi konsumsi menunjukkan angka sebesar - 0.042. Angka tersebut menunjukkan adanya korelasi yang sangat lemah (dianggap tidak ada) dan korelasi yang dihasilkan merupakan korelasi negatif. Korelasi negatif ini menunjukkan arah yang berlawanan. Hubungan kedua variabel tidak signifikan karena angka probabilitasnya 0.693>0.05 seperti terlihat pada Tabel 16
Tabel 16. Hasil Analisis Korelasi Antara Variabel Frekuensi Konsumsi dan Porsi Konsumsi Produk Jagung Responden
frekuensi Porsi Spearman's rho Frekuensi Correlation Coefficient 1.000 -.042 Sig. (2-tailed) . .693 N 92 92 Porsi Correlation Coefficient -.042 1.000 Sig. (2-tailed) .693 . N 92 93
Besarnya sumbangan atau peranan variabel frekuensi terhadap porsi konsumsi dapat dihitung dengan rumus koefisien determinasi :
KD = r2 x 100% = -0.0422 x 100% = 0.017 %
Hasil ini dapat menjadi kesimpulan bahwa semakin tinggi frekuensi konsumsi produk jagung belum tentu menyebabkan semakin meningkatnya porsi konsumsi akan produk tersebut karena pengaruh yang diberikan tidak signifikan, hanya sebesar 0.017%. Hal ini mungkin dapat diperjelas dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Juniawati (2003) yang melakukan kajian mengenai perilaku konsumen terhadap pangan non-beras, yakni jagung. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata dalam hal kepuasan yang didapatkan saat mengonsumsi produk-produk pangan non beras antar responden (n=200). Sebanyak 60% responden merasa kepuasan yang didapat saat mengkonsumsi pangan non beras tidak sama dengan saat mengonsumsi nsi. Adanya ketidakpuasan ini disebabkan karena tingkat kekenyangan yang didapatkan berbeda. Konsumsi produk jagung yang didominasi sebagai produk camilan menyebabkan porsi konsumsinya hanya terbatas.
E. KANDUNGAN AFLATOKSIN PRODUK JAGUNG DI TINGKAT