3.11.1 Perijinan Usaha
Restoran Bimasena yang dibangun di daerah Seminyak, Bali di Jalan Kayu Aya No.88x Oberoi – Seminyak, Kuta, Bali 80361 harus melengkapi persyaratan untuk mengajukan perijinan pembukaan usaha. Berikut ini merupakan aspek-aspek yang diperlukan untuk dapat memperoleh perijinan usaha dan mendirikan Restoran Bimasena. Beberapa persyaratan yang harus di penuhi oleh restoran Bimasena :
1. KTP (Kartu Tanda Penduduk) pemilik atau penanggung Jawab Perusahaan
2. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pokok) Pribadi pemilik atau penanggung Jawab Perusahaan, memiliki NPWP atas nama pemilik atau penanggung jawab perusahaan.
3. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
Setiap Perusahaan (Tempat Usaha) yang melakukan usaha perdangangan wajib untuk memilki SIUP. Permohonan SIUP ini diajukan kepada Pejabat Penerbit SIUP dengan melampirkan surat permohonan yang ditandatangani oleh Pemilik/Pengurus Perusahaan di atas materai yang cukup serta dokumen-dokumen yang disyaratkan dalam Lampiran II Permendag 36/2007.
4. Surat Keterangan Domisili Perusahaan (Tempat Usaha)
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU 3/1982 yang dimaksud dengan Daftar Perusahaan (Tempat Usaha) adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan undang-undang ini dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan (tempat usaha) serta disahkan oleh pejabat yang berwenang dari kantor pendaftaran perusahaan (tempat usaha).
5. Bukti Kepemilikan Tempat Usaha atau Surat Sewa (jika Sewa)
Perjanjian yang dilakukan oleh pemilik tanah dengan pihak Restoran Bimasena, baik berupa perjanjian tertulis maupun perjanjian lisan harus diperhatikan bahwa objek dari perjanjian tersebut digunakan sebagai kegiatan usaha.
6. PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) Tahun Terakhir
Memiliki PBB atas nama pemilik atau penanggung jawab tempat usaha.
7. IMB (Izin Mendirikan Bangunan)
Perlu diperhatikan apakah IMB yang dimiliki oleh pemilik tanah dapat digunakan sebagai tempat usaha atau hanya izin untuk membangun rumah tinggal. Apabila perjanjian sewa dan IMB yang ada sudah sesuai dengan
peruntukan kegiatan usaha, maka Anda dapat melaporkan tempat usaha yang Anda miliki lakukan kepada Pihak Pemerintah setempat.
8. UUG (Undang-Undang Gangguan)
Berdasarkan Pasal 1 angka 3 Permendagri 27/2009, yang dimaksud dengan Izin Gangguan adalah pemberian izin tempat usaha atau kegiatan kepada orang pribadi/badan di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian, dan gangguan, tidak termasuk tempat/kegiatan yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.
Setelah melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, pihak Restoran Bimasena dapat mendatangi ke Kantor Walikota atau Bupati untuk melakukan permohonan pembukaan restoran, kemudian akan dilaksanakannya observasi secara langsung oleh pihak Pemerintah Daerah (PEMDA) di lokasi Restoran Bimasena akan dibangun.
Jika observasi berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka pihak Restoran Bimasena akan membayar retribusi berjumlah kurang lebih Rp. 10.000.000,- kepada Pemerintah Daerah (PEMDA) melalui sistem pembayaran yang telah ditentukan. Ijin usaha akan diproses selama 2 sampai dengan 3 minggu setelah proses administrasi selesai dan Restoran Bimasena sudah dapat beroperasi. Berikut gambar 3.10 Proses Perijinan Usaha Restoran Bimasena.
Gambar 3.10 Perijinan Usaha Restoran Bimasena Sumber : Penulis, 2014
Mempersiapkan persyaratan yang di perlukan
Mendatangi kantor walikota atau bupati setempat
Adanya obervasi langsung dari Pemerintah Daerah
Persetujuan dari pihak Pemerintah Daerah
Melakukan pembayaran retribusi yang sudah disepakati
3.11.2 Perpajakan
Menurut Sumawidjaya (2013), “ pajak adalah iuran wajib berupa barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma hukum, guna menutup biaya produksi barang dan jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum”. Berdasarkan dan pernyataan tersebut, dapat di lihat bahwa pajak merupakan iuran wajib yang harus dibayarkan oleh Restoran Bimasena kepada Pemerintah pusat yang kemudian didistribusikan kepada daerah otonom sebagai pendapatan daerah sendiri.
Penghitungan Pajak Hotel dan Restoran menurut Perda No. 9 Tahun 1998 yaitu adanya dasar pengenaan Pajak Hotel dan Restoran adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel dan atau restoran, tarif Pajak Hotel dan Restoran ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen), dan besarnya Pajak Hotel dan Restoran yang terhutang adalah 10% x DPP (Dasar Pengenaan Pajak).
3.11.2.1 Peruntukan Dan Besarnya Tarif Service Charge
Sebagaimana didefinisikan Pasal 1 Ayat (5) Peraturan Menteri Tenaga Kerja Tahun 1999 No. Per-02/Men/1999 Tentang Pembagian Uang Service Pada Usaha Hotel, Restoran Dan Usaha Pariwisata Lainnya uang service adalah tambahan dari tarif yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam rangka jasa pelayanan pada usaha hotel, restoran dan usaha pariwisata lainnya. Uang service merupakan milik dan menjadi bagian pendapatan bagi pekerja yang tidak termasuk sebagai komponen upah.
Pasal 3 Per-02/Men/1999 mengatur pengumpulan dan pengelolaan administrasi uang service sebelum dibagi (kepada pekerja), yang dilakukan sepenuhnya oleh pengusaha. Setelah terkumpul, dilakukan pembagian uang service sesuai dengan kesepakatan antara pengusaha dan pekerja yang ditetapkan sebelumnya.
Berdasarkan pernyataan diatas, Restoran Bimasena akan mengenakan 10%
service charge atas layanannya. Hasil dari uang service akan diperuntukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan bagi pekerja dan kesepakatan mengenai pembagian uang service akan dicantumkan pada awal Perjanjian Kerja oleh Restoran Bimasena.
3.11.2.3 Peraturan Ketenagakerjaan
Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85, jam kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, dapat dilaksanakan siang hari dan atau malam hari. Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telah disebutkan diatas yaitu:
• 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu; atau
• 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.
Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja berhak atas upah lembur. Perhitungan upah lembur didasarkan upah bulanan dengan cara menghitung upah sejam adalah 1/173 upah sebulan. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam/hari dan 14 jam dalam 1 minggu diluar istirahat mingguan atau hari libur resmi. Pengaturan mulai dan berakhirnya waktu atau jam kerja setiap hari dan selama kurun waktu seminggu, harus diatur secara jelas sesuai dengan kebutuhan oleh para pihak dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
Setiap karyawan berhak atas istirahat antara jam kerja dalam sehari, sekurang kurangnya 1/2 jam setelah bekerja 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja. Selain itu, pengusaha wajib memberikan waktu secukupnya bagi karyawannya untuk melaksanakan ibadah.
• Setiap pekerja berhak atas istirahat antara jam kerja dalam sehari, sekurang kurangnya 1/2 jam setelah bekerja 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja (Pasal 79 UU 13/2003). Selain itu, pengusaha wajib memberikan waktu secukupnya bagi pekerja untuk melaksanakan ibadah (Pasal 80 UU 13/2003).
• Masa istirahat mingguan tidak boleh kurang dari 1 (satu) hari setelah 6 (enam) hari kerja atau tidak boleh kurang dari 2 (dua) hari setelah 5 (lima) hari kerja dalam satu minggu (Pasal 79 UU 13/2003).
Restoran Bimasena akan menetapkan Perjanjian Kerja Bersama yang pelaksanaanya akan dilakukan di awal sebelum bekerja. Perjanjian ditetapkan sesuai dengan pernyataan yang telah dijelaskan diatas, diantaranya :
1. Sistem 9 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dengan 2 hari libur dalam 1 minggu.
2. Memberikan waktu untuk beristirahat dan melaksanakan ibadah selama 1 jam, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Karyawan yang tidak hadir tanpa kabar akan dikenakan pemotongan upah.
Ketentuan hari dan jam kerja dalam Perjanjian Kerja Bersama dapat dirubah berdasarkan kesepakatan antara Restoran Bimasena dengan pekerja serta pelaksanaannya dilakukan dengan menetapkan kalender kerja setiap tahunnya dengan tentunya mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.