• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Manajemen dan Operasional a Kepemilikan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Aspek-aspek Analisis Kelayakan Usaha 1 Aspek Pasar

4.2.3 Aspek Manajemen dan Operasional a Kepemilikan

Usaha yang mengolah bahan baku makanan menjadi makanan/ produk jadi yaitu produk serabi ini berada di bawah kepemilikan satu (1) orang yang merupakan pemilik modal usaha.

b. Struktur Organisasi

Aspek manajemen sangatlah penting karena merupakan aspek yang mengelola dan menggerakan suatu bisnis. Manajemen yang akan dilakukan dalam usaha ini terdiri dari satu orang pemegang kendali perusahaan dan di tambah dua orang karyawan. Dalam perusahaan Warung Surabi tidak terdapat struktur organisasi yang jelas. Warung Surabi membentuk struktur organisasi yang masih bersifat sederhana. Pembagian pekerjaannya pun di buat fleksibel sehingga diharapkan semua karyawan dapat berperan pada semua posisi, bagian persiapan produk harus dapat berganti peran pelayan atau sebaliknya.

Struktur organisasi (Gambar 4) di bawah merupakan struktur organisasi yang dibuat sendiri untuk menggambarkan keadaan

organisasi di perusahaan Warung Surabi. Berdasarkan pengamatan, semua jabatan dapat beralih fungsi pada saat kapan pun menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada. Rangkap jabatan pun terjadi dalam usaha ini. Bapak Sugeng selaku pendiri perusahaan tersebut. menjalankan tugas sebagai pemimpin, pengawas, serta pemegang tanggung jawab penuh untuk seluruh kegiatan, dan bagian kasir yang mencangkup bagian keuangan bertugas melayani proses pembayaran para konsumen dan mencatat keuangan masuk dan keluar pada usaha ini.

Juru masak memiliki kewajiban memproduksi pesanan makanan yang ditawarkan, serta menjaga agar rasa yang dihasilkan sama pada setiap produk. Pada bagian ini dikerjakan oleh satu orang karyawan. Bagian ini juga juga harus selalu mengawasi persediaan bahan baku yang diperlukan.

Pelayan bertugas melayani para pengunjung, mulai dari pemesanan menu hingga penyajiannya serta merapikan meja setelah para pengunjung selesai menyantap hidangan. Selain itu pelayan juga memiliki kewajiban memberikan informasi menu spesial dan deskripsi dari setiap menu agar para pengunjung mendapatkan gambaran tentang menu yang akan dipesan nantinya.

Gambar 4. Struktur organisasi Warung Surabi

Struktur organisasi yang dijalankan oleh Warung Surabi bersifat sederhana sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Pada

pemilik

pegawai

1

pegawai

2

usaha Warung Surabi, struktur organisasi yang digunakan adalah struktur organisasi lini atau garis (Gambar 4). Struktur organisasi ini merupakan ketetapan dan telah disepakati bersama oleh seluruh karyawan pada perusahaan ini. Alasan dari Warung Surabi menggunakan struktur organisasi lini atau garis, agar memudahkan dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengendalikan dan melakukan pengontrolan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat.

c. Tenaga Kerja

Sumber Daya Manusia merupakan asset berharga bagi perusahaan. Suatu perusahaan yang maju tentu sangat memperhatikan kualitas dari SDM yang mereka miliki serta sudah menerapkan sistem manajemen SDM yang baik pada perusahaannya. Dalam perusahaan Warung Surabi, sistem manajemen SDM yang diterapkan masih sederhana. Tidak ada persyaratan khusus untuk bekerja di Warung Serabi. Satu-satunya kemampuan yang harus pegawai miliki adalah disiplin dan mau bekerja keras. Tenaga kerja ini memperoleh gaji dengan jumlah yang tetap dan diberikan setiap awal bulan. Gaji yang diberikan kepada tenaga kerja Rp 600.000 per bulan. Tenaga kerja yang digunakan sebanyak dua orang yaitu juru masak dan pramusaji. Hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya yang keluar untuk gaji karyawan. Perekrutan tenaga kerja tidak menetapkan standar pendidikan yang tinggi karena proses produksi hanya membutuhkan tenaga yang terlatih. Warung Surabi beroperasi setiap hari mulai pukul 14.00 hingga 22.00 dan libur setiap 2 minggu sekali.

Setelah jam kerja selesai pemilik tidak melakukan evaluasi kerja. Namun apabila ada salah satu pegawai yang melakukan kesalahan pembuatan menu, pegawai yang lain langsung menegur dan mengingatkan saat itu juga. Dalam perusahaan ini juga tidak ada pelatihan khusus dan pengembangan ketrampilan pegawai. Sebelum bekerja, pegawai hanya diajari tentang cara membuat makanan, cara penyajiannya, dan pelayanan terhadap pelanggan. Selain itu, di

perusahaan ini juga tidak ada promosi dan kenaikan jabatan, serta pemindahan pegawai.

Pemilik usaha juga membuat peraturan bagi pegawai Warung Surabi, antara lain :

1) Setiap tenaga kerja diharuskan selalu menjaga kebersihan dan menjaga kenyamanan konsumen.

2) Setiap tenaga kerja dilarang untuk mencuri atau mengambil hal-hal yang merupakan milik Warung Surabi.

3) Setiap tenaga kerja dilarang untuk memakai narkoba dan mengkonsumsi minuman keras, terutama di lokasi usaha.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek manajemen pada pendirian usaha yang dilakukan oleh Warung Surabi memungkinkan pihak manajemen mengorganisasikan, melaksanakan maupun mengendalikan usahanya dengan baik. Dengan demikian, aspek manajemen pada pendirian usaha ini termasuk kategori layak.

4.2.3 Aspek Finansial

Analisis kelayakan finansial dilakukan pada penelitian ini untuk mengetahui kelayakan usaha sehingga diketahui apakah usaha yang dijalankan oleh Warung Surabi layak secara finansial. Aspek finansial yang dibahas adalah :

a. Kebutuhan Modal dan Identifikasi Biaya

Kebutuhan modal dalam usaha Warung Surabi terdiri dari modal investasi dan modal kerja. Modal investasi adalah modal yang dikeluarkan pada awal periode usaha untuk pendirian atau pembelian peralatan yang mendukung proses produksi dan penjualan dan digunakan untuk memperoleh manfaat hingga secara ekonomis tidak dapat digunakan lagi. Jika investasi awal secara ekonomis sudah tidak dapat digunakan lagi, maka dilakukan investasi kembali atau disebut reinvestasi. Sementara itu, modal kerja adalah modal yang digunakan untuk keperluan produksi. Kebutuhan modal investasi pada periode ke

nol Rp 10.958.000. Kebutuhan investasi pada usaha Warung Surabi dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kebutuhan investasi

Uraian Nilai (Rp) Instlalasi bangunan 3.000.000 Tungku 500.000 Meja kasir 500.000 Kulkas 1.200.000 Meja Produksi 350.000 Cetakan surabi 25.000 Kipas angin 150.000 Container adonan 30.000 Rak piring 55.000 Kursi 704.000 Meja makan 1.440.000 Baki 24.000 Tempat sendok 40.000 Tupperware kecil 840.000 Alat tulis 52.000 Alat kebersihan 35.000 Talenan 25.000 Spanduk 200.000 Sound system 400.000 Cetakan surabi 25.000 Kursi 704.000 Container adonan 60.000 ATK 35.000 Alat kebersihan 17.000 Kalkulator 75.000 Pisau dapur 25.000 Sendok 150.000 Piring 500.000 Pisau makan 288.000 Garpu 150.000 Asbak 80.000 Capit biasa 25.000 Gembok 100.000

Biaya investasi yang dikeluarkan antara lain untuk pembelian peralatan dan perlengkapan antara lain, meja kasir, kursi, meja makan, pisau makan, asbak, piring, gelas, sendok, garpu, kulkas dan lain-lain.

Selain biaya investasi, biaya lain yang harus dikeluarkan oleh Warung Surabi adalah untuk modal kerja yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya tetap adalah biaya produksi yang besarnya tidak tergantung pada jumlah (tingkat) output yang dihasilkan. Biaya tetap yang dikeluarkan diantaranya untuk membiayai gaji tenaga kerja, arang, biaya listrik, dan biaya air. Biaya tetap per tahun dapat dilihat pada tabel biaya tetap.

Tabel 6. Biaya tetap

No Uraian Jumlah Harga per

Satuan (Rp) Nilai (Rp)

1 Tenaga kerja 2 orang 600.000 14.400.000

2 Biaya listrik 12 bulan 400.000 4.800.000

3 Biaya air 12 bulan 200.000 2.400.000

4 Sewa tempat 1 tahun 5.000.000

Sedangkan, biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan jumlah output produksi perusahaan. Biaya variabel pada usaha surabi yang dimaksud adalah kebutuhan fisik bahan baku yang dibutuhkan pada tahun pertama. Total kebutuhan variabel per tahun pertama adalah Rp 39,120.831. Kebutuhan variabel pada Warung Surabi dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Kebutuhan variabel Warung Surabi

No Uraian No Uraian

1 Tepung beras 10 Mayonaise 2 Tepung terigu 11 Ayam

3 Garam 12 Nangka

4 Kelapa 13 Sossis

5 Susu kental 14 Es krim

6 Meses 15 Saus cabe

7 Keju 16 Arang

8 Telur 17 Kemasan

9 Pisang

Selain biaya investasi, biaya tetap dan biaya variabel, terdapat biaya penyusutan. Biaya penyusutan diperhitungkan berdasarkan umur ekonomis semua peralatan yang digunakan untuk kegiatan produksi.

Biaya penyusutan yang dikeluarkan Rp 1,353.071. Rincian biaya penyusutan terdapat pada Lampiran 8.

b. Sumber Modal

Modal yang digunakan dalam pendirian dan operasional Warung Surabi berasal dari modal sendiri. Jadi tidak terdapat peminjaman dan kewajiban pengembalian bunga kepada pihak Bank atau kreditor. Seluruh modal akan digunakan untuk membiayai semua keperluan baik untuk biaya investasi dan biaya operasional pada periode pertama.

c. Identifikasi Manfaat dan Penerimaan

Dalam suatu analisis cash flow finansial, manfaat yang diterima adalah penerimaan dari penjualan output serta nilai sisa dari komponen-komponen investasi. Penerimaan diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah output dengan harga jual per satuannya.

Penerimaan pada usaha Warung Surabi didapat dari penjualan makanan dan nilai sisa pada akhir periode jangka waktu analisis kelayakan finansial. Pada tahun pertama pendapatan yang diperoleh Rp 67,803.210. Penerimaan dari nilai sisa diperoleh dari sisa umur ekonomis pada akhir jangka waktu analisis kelayakan finansial. Nilai akhir yang diperoleh Rp 1,908.643. Rincian penerimaan Warung Surabi pada tahun pertama dapat dilihat pada Lampiran 2.

Pendapatan diperoleh dari selisih antara penerimaan total (Total Revenue) dengan biaya total (Total Cost). Biaya total adalah penjumlahan dari biaya tetap total dan biaya variabel total per periode.

Total biaya operasional tahun pertama adalah Rp 65,720.831. Berdasarkan perhitungan penerimaan dan pengeluaran tersebut maka keuntungan yang diperoleh Warung Surabi dalam kurun waktu tahun pertama Rp 2,082.379. Proyeksi laba rugi Warung Surabi dapat dilihat pada Lampiran 7. Empat (4) kriteria umum yang digunakan untuk menilai kelayakan investasi suatu usaha, yaitu NPV, Profitability Index (PI), IRR, dan PBP (Umar, 2003). Hasil perhitungan analisis tersebut dapat dilihat pada perhitungan cashflow kelayakan usaha

Warung Surabi dapat dilihat pada Lampiran 3. Nilai dari kriteria investasi pengembangan usaha Warung Surabi dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil analisis kelayakan usaha Warung Surabi

No Kriteria

Kelayakan Kelayakan Keterangan

1. NPV NPV > 0 Rp 12,658.281 (layak)

2. IRR IRR > DR 34% (layak)

3. Net B/C Net B/C > 1 1,97 (layak)

4. PBP PBP < jangka waktu 1.07 tahun (layak)

1. NPV

Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh selama umur usaha yang direncanakan. Pada hasil analisis kelayakan finansial yang dilakukan pada Warung Surabi menunjukkan nilai NPV positif Rp 12,658.281. Nilai tersebut merupakan penjumlahan net benefit (keuntungan bersih) setiap periode yang telah didiskontokan pada rencana usaha Warung Surabi. Nilai NPV yang positif menunjukkan bahwa usaha tersebut layak dijalankan karena usaha tersebut dapat menghasilkan arus kas masuk dengan persentase lebih besar dibandingkan opportunity cost (biaya yang dikorbankan) modal yang ditanamkan, sehingga usaha ini layak dikembangkan dalam jangka panjang. Perhitungan kriteria NPV dapat dilihat pada Lampiran 3.

2. IRR

IRR merupakan tingkat suku bunga dari suatu usaha dalam jangka waktu tertentu yang membuat nilai NPV dari usaha tersebut sama dengan nol. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengembalian internal yang dihasilkan dari investasi pada usaha yang bersangkutan. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai IRR 34%. Nilai ini lebih besar dari tingkat suku bunga bank yang digunakan dalam perhitungan sebesar 7%. Hal ini berarti, tingkat pengembalian yang dihasilkan dari investasi pada rencana usaha ini

lebih besar nilainya dibandingkan tingkat pengembalian yang dihasilkan dari investasi yang dilakukan pada bank. Dengan demikian, investor lebih baik menginvestasikan modalnya pada rencana usaha ini daripada menabungkan dananya di bank.

Nilai IRR diperoleh dengan menggunakan metode coba- coba (trial and error). Caranya adalah dengan menghitung jumlah nilai sekarang dari arus kas bersih masa depan selama umur usaha dengan menggunakan tingkat suku bunga tertentu. Kemudian nilainya dibandingkan dengan biaya investasi awal. Jika nilai investasi awal lebih kecil, maka dicoba lagi dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika nilai investasi awal lebih besar, maka dicoba lagi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Begitu seterusnya hingga ditemukan nilai yang sama besar atau mendekati (Umar, 2003).

3. Net B/C

Net B/C atau disebut juga Profitability Index merupakan perbandingan antara jumlah net benefit dan total cost berdasarkan nilai relatif kas. Rumusnya adalah PV positif dibagi dengan jumlah PV negatif. Kriteria Net B/C menunjukkan berapa kali lipat perbandingan jumlah benefit netto yang diperoleh dari proyek terhadap capital expenditure. Untuk nilai Net B/C pada analisis kelayakan usaha Warung Surabi diperoleh nilai 1,97. Dengan demikian menurut kriteria Net B/C usaha tersebut dinyatakan layak untuk dijalankan karena memiliki Net B/C sebanyak 1,97 kali lipat dari capital expenditure. Dengan kata lain setiap Rp 1 biaya yang akan dikeluarkan akan menghasilakan manfaat Rp 0,97, sehingga manfaat yang didapat lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Nilai PI > 1, maka pendirian usaha ini menguntungkan dan layak diimplementasikan.

4. PBP

PBP (Payback Period) merupakan jumlah lama tahun yang dibutuhkan bagi suatu usaha untuk menutupi biaya investasi awal dengan jumlah keuntungan bersih yang telah didiskontokan. PBP menunjukkan jangka waktu kembalinya dana investasi proyek, melalui akumulasi net benefit yang diperoleh dari proyek tersebut (Umar, 2003). Nilai PBP yang diperoleh adalah 0.97 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa usaha ini dapat menutupi pengeluaran biaya investasinya dengan jumlah keuntungan bersih yang telah didiskontokan setelah rencana usaha ini berjalan sekitar 12 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini layak dijalankan karena kemampuan mengembalikan modal usaha lebih cepat daripada jangka waktu analisis yang direncanakan yaitu 5 tahun.

d. Analisis Sensitivitas

Untuk menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu dalam setiap usaha diperlukan persiapan apabila terjadi guncangan ekonomi yang menyebabkan adanya kenaikan biaya produksi atau penurunan penjualan. Maka dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui sejauhmana Warung Surabi dapat bertahan dalam kondisi krisis dan ketidakpastian.

Ketidakpastian dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan dari suatu usaha dalam beroperasi menghasilkan laba (Umar, 2003). Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui kepekaan dari rencana usaha Warung Surabi dengan mengubah beberapa faktor penting, meliputi harga beli bahan baku, harga jual dan penurunan harga penjualan.

Untuk melihat sejauhmana usaha tersebut dapat mentolerir perubahan yang terjadi atas faktor-faktor penting di atas dibuat dua skenario berikut :

a. Harga bahan baku naik 16 % b. Penurunan harga jual 9%

a. SKENARIO 1

Hasil analisis yang didapat dari perhitungan skenario 1 dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Hasil analisis sensitivitas Skenario 1 No Kriteria Kelayakan Kelayakan Keterangan 1. NPV NPV > 0 Rp -2,561.494 2. IRR IRR > DR 0% 3. Net B/C Net B/C > 1 0,77

4. PBP PBP < jangka waktu 5 tahun 2 bulan

Berdasarkan Tabel 9, diketahui dengan adanya kenaikan harga bahan baku sebanyak 16%, usaha Warung Surabi tidak layak dijalankan. Berdasarkan nilai NPV menunjukkan hasil negatif, hal ini dapat diartikan bahwa usaha tersebut tidak dapat menghasilkan arus kas masuk kepada perusahaan sehingga dapat dinyatakan tidak layak untuk dilanjutkan; nilai IRR menunjukkan nilai yang sama dengan suku bunga deposito yang berlaku 7%; nilai Net B/C menunjukkan, bahwa usaha tersebut bisa memberikan manfaat Rp 0,77 terhadap biaya yang dikeluarkan; dan PBP kurang dari umur ekonomis usaha selama 5 tahun. Dalam analisis skenario ini payback period tidak dikategorikan layak. Peningkatan harga beli bahan baku sebesar 16 % cukup mempengaruhi usaha Warung Surabi. Apabila terjadi kenaikan harga bahan baku maka Warung Surabi juga melakukan perubahan harga jual tanpa mengurangi proporsi bahan baku.

Berdasarkan analisis sensitivitas skenario 1, dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha Warung Surabi cukup aman dan layak untuk dikembangkan. Karena pada kenyataan yang terjadi kenaikan harga bahan baku / biaya variabel untuk pembuatan surabi pada tahun 2010 hanya sebesar 5%.

b. SKENARIO 2

Hasil analisis yang didapat dari perhitungan skenario 2 dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil analisis sensitivitas Skenario 2 N o Kriteria Kelayakan Kelayakan Keterangan 1. NPV NPV > 0 Rp -2,059.072 2. IRR IRR > DR 3% 3. Net B/C Net B/C > 1 0,86

4. PBP PBP < jangka waktu 4 tahun 6 bulan

Berdasarkan Tabel 10, diketahui dengan adanya penurunan harga jual 9%, usaha Warung Surabi ternyata tidak layak dijalankan karena, nilai NPV menunjukkan hasil negatif, yang berarti usaha tersebut tidak dapat menghasilkan arus kas masuk kepada perusahaan; nilai IRR lebih rendah dari suku bunga deposito yang berlaku 7%; nilai Net B/C kurang dari 1, yang berarti usaha tersebut hanya bisa memberikan manfaat Rp 0,86 terhadap biaya yang dikeluarkan; dan PBP kurang dari umur ekonomis usaha selama 5 tahun. Dari kriteria tersebut telah dapat dipastikan bahwa Warung Surabi peka terhadap penurunan harga jual. Pada kenyataannya usaha Warung Surabi tidak perlu menurunkan harga jual produk, karena pada data penjualan surabi di tahun 2010 menunjukkan perkembangan positif bagi usaha Warung Surabi dengan harga jual yang berlaku selama ini, artinya harga jual surabi masih bisa diterima dengan baik / terjangkau oleh konsumen.

ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA

Dokumen terkait