• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Aspek Manajemen Persampahan

Makin padat penduduk suatu pemukiman atau kota dengan segala aktivitasnya, permasalahan sampah semakin perlu untuk dikelola secara profesional. Untuk dapat mengelola sampah pemukiman atau kota yang sampahnya semakin banyak dan masalah yang kompleks menurut Tchobanoglous, Theisen dan Virgil (1993) ada beberapa aspek yang perlu dilihat dalam kinerja manajemen persampahan yaitu :

1). Aspek kelembagaan melihat mekanisme kelembagaan yang dapat menunjang kelancaran pelaksanaan manajemen persampahan kota.

2). Aspek teknis pada dasarnya menilai efisiensi pelaksanaan penyapuan jalan, pengumpulan, pewadahan, transfer, pengangkutan dan pembuangan akhir. 3). Aspek keuangan dengan kondisi terbatasnya dana, pemerintah untuk

menjalankan tanggung jawabnya dalam membiayai opersional pelaksanaan manajemen pengumpulan dan pengangkutan sampah.

4). Aspek sosial yang berupa peran serta masyarakat, pemulung dan swasta, merupakan faktor yang mempunyai kontribusi yang besar terhadap keberhasilan pelaksanaan manajemen persampahan kota.

2.5.1. Aspek Kelembagaan

Institusi/kelembagaan dalam sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah memegang peranan yang sangat penting, meliputi status, struktur organisasi, fungsi, tanggung jawab dan wewenang serta koordinasi dari badan pengelola. Menurut Ditjen Cipta Karya (1991) sesuai dengan status kota, untuk kota metropolitan dan kota besar, bentuk badan pengelola sebaiknya suku dinas tersendiri dan selanjutnya dikembangkan menjadi bentuk perusahaan Daerah. Kota dan Kabupaten sebaiknya merupakan Dinas tersendiri, sedangkan kota Administratif sebaiknya merupakan Suku Dinas Kebersihan atau unit pelayanan teknis daerah (UPTD) dibawah Dinas Kebersihan atau Dinas Pekerjaan Umum Kota.

Jumlah personil unit pengelola persampahan harus cukup memadai baik kualitas maupun kuantitasnya sesuai dengan tugasnya. Dalam pengelolaan persampahan masalah kemampuan manajemen dan teknik sangat diperlukan. Tatalaksana institusi pengelolaan persampahan secara umum perlu memperhatikan prinsip-prinsip dasar manajemen yang dapat menciptakan interaksi positif antara unsur-unsur organisasi, sehingga dapat menghasilkan kinerja pengelolaan menjadi lebih optimal baik dari administratif maupun teknis operasional di lapangan.

Pengelolaan persampahan dalam kegiatannya sangat ditentukan oleh peraturan yang mendukungnya. Peraturan tersebut melibatkan wewenang dan tanggung jawab pengelolaan kebersihan dan pembayaran retribusi.

Menurut Ditjen Cipta Karya (1991) kriteria Peraturan Daerah/peraturan yang baik adalah sebagai berikut :

a. Sesuai dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku dan yang berderajat lebih tinggi.

b. Harus sesuai dengan sistem pengelolaan yang akan ditetapkan. c. Peraturan tersebut harus sesuai dengan karateristik yang diterapkan.

d. Jelas, tidak banyak mengandung arti/terukur.

e. Fleksibel, sehingga dapat memberikan pedoman yang luwes. f. Mempunyai masa berlaku yang terbatas.

Memperhatikan permasalahan persampahan diperkotaan disini jelasnya bahwa yang menangani persampahan perkotaan adalah Pemerintah Daerah setempat, maka perlu diteliti bagaimana mekanisme kelembagaan dan dinas pengelola dapat melaksanakan pelayanan dalam kondisi sarana dan prasarana maupun dana yang ada.

Adapun pelaksanaan pelayanan dari kelembagan pemerintah dalam menangnani persampahan kota adalah memberi pelayanan penyapuan jalan, pengumpulan dan pengangkutan, daur ulang pembuangan akhir.

Menurut Ditjen Cipta Karya (1991) jumlah kebutuhan tenaga operasional memperhatikan :

a. Pengendalian. b. Jumlah peralatan. c. Rancangan operasional. d. Keperluan tenaga penunjang. e. Beban Penugasan.

Sementara menurut Haryoto (1998) jumlah personil institusi pengolahan sampah perlu memperhatikan :

a. Rancangan operasional dan beban tugas.

b. Jumlah dan jenis peralatan/sarana pengumpulan

Untuk memudahkan perhitungan personil dapat dilakukan dengan pendekatan setiap 1.000 jiwa penduduk dibutuhkan 2 orang petugas.

Bila kita melihat penanganan sampah di negara lain, maka akan terlihat bahwa masalah sampah merupakan suatu hal yang harus ditangani secara serius dan melibatkan banyak pihak (lintas sektoral). Di negara Jepang, manajemen persampahan melibatkan 16 kementrian dan di Singapura melibatkan 14 departemen

2.5.2. Aspek Teknis 1. Teknis Operasional

Menurut Haryoto (1998) teknis operasional pengelolaan sampah bersifat internal dan secara berantai dengan urutan sebagai berikut :

a. Pewadahan, kegiatan penampungan sampah secara individual atau komunal.

b. Pengumpulan, kegiatan proses pengambilan sampah dari tempat-tempat pewadahan sumber timbulan sampah ke TPS.

c. Pemindahan, kegiatan pemindahan sampah hasil pengumpulan ke dalam truck pengangkutan atau kontainer.

d. Pengolahan, kegiatan penanganan sampah yang bertujuan unuk mengurangi volume (reduction) sampah dengan mendaur ulang untuk dimanfaatkan kembali (reuse) atau mengubah menjadi produk lain atau energi (recyle) melalui proses pengomposan (composting), pembakaran (inceneration), penghalusan dan pemadatan.

e. Pembuangan akhir, kegiatan proses pembuangan dan pemusnahan sampah padat dari hasil kegiatan pengumpulan dan pengangkutan, maupun hasil buangan dari kegiatan pengolahan sampah kesuatu lokasi/lahan TPA.

Menurut Jacobsen dan Nurmandi (199) untuk mengevaluasi aspek phisik yaitu sebagai berikut :

a) Masyarakat yang dilayani sistem pengumpulan. b) Jumlah sampah kota yang dikumpulkan setiap hari. c) Jumlah pekerja pengumpul.

d) Jumlah dan tipe fasilitasi pengumpul.

e) Efisiensi tenaga kerja yang diukur dalam masyarakat yang dapat dilayani persatuan kerja dan jumlah pekerja per kendaraan.

f) Efisiensi kendaraan, yang diukur dalam masyarakat yang dilayani perkendaraan dalam jumlah m3 per kendaraan/hari.

g) Jarak pengangkutan ke lokasi transfer dan TPA. h) Tipe-tipe dan kapasitas TPA.

2. Syarat-syarat Peletakan.

Penempatan tempat penampungan sementara, kontainer dan tempat pembuangan akhir menurut Tchobanoglous, Theisen dan Virgil (1993) harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

a) Area yang tersedia. b) Dampak.

c) Jarak.

d) Kondisi tanah dan tofografinya. e) Klimatologi daerah setempat. f) Permukaan air tanah.

g) Geologi dan hidrologi. h) Kondisi Lingkungan. i) Kegunaan pokok.

2.5.3. Aspek Keuangan

Menurut Haryoto (1998) kebutuhan biaya yang berfungsi untuk membiayai operasional persampahan kota di Indonesia yang dimulai dari penyapuan jalan, pengumpulan,transfer dan pengangkutan, pengolahan sampah dan pembuangan akhir, agar cukup memadai, minimal 5 sampai 10% dari APBD.

Menurut Ditjen Cipta Karya (1991) dalam teknis operasional pengolahan sampah, biaya untuk kegiatan pengumpulan sampah dapat mencapai lebih kurang 40% dari total biaya operasional. Oleh karena besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan sampah dan kebersihan sementara terbatas kemampuan keuangan daerah perlu adanya upaya untuk mengoptimalkan pengelolaan retribusi pelayanan persampahan kebersihan yang dengan sendirinya dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara khusus serta dapat memberikan kontribusi yang diharapkan cukup baik bagi kemampuan keuangan daerah secara umum.

Pemberdayaan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus lebih ditingkatkan mengingat PAD adalah sumber yang sering dijadikan tolak ukur kemampuan daerah dalam menyelenggarakan otonomi daerah dan salah satu sumber PAD yang dominan adalah retribusi daerah.

Menurut Davey (1988), retribusi adalah pungutan yang dibayar langsung oleh mereka yang menikmati suatu pelayanan dan biasanya dimaksud untuk menutup seluruh atau sebagai dari biaya pelayanan. Sementara menurut Soedargo dan Wartini (2001), retribusi adalah suatu pungutan sebagai pembayaran untuk jasa yang oleh negara secara langsung diberikan kepada yang berkepentingan. Sedangkan menurut Munawir dan Wartini (2001), retribusi adalah iuran kepada pemerintah yang dapat dipaksakan dan jasa balik secara langsung dapat ditunjukan.

Salah satu cara untuk mengukur kinerja suatu organisasi adalah melihat efisiensi dan efektivitas. Menurut Jones dan Pendlburg (1996), efisiensi pada dasarnya adalah optimalisasi penggunaan sumber-sumber dalam upaya mencapai tujuan organisasi tersebut, sedangkan efektivitas menunjukan pada keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai tujuan. Sementara menurut Devas (1989), efektivitas yaitu mengukur hubungan antara hasil pungut suatu pajak dan potensi hasil pajak itu, dengan anggapan semua wajib pajak membayar pajak masing- masing dan membayar seluruh pajak terhutang masing-masing juga.

2.5.4. Aspek Sosial

Bahwa berhasilnya pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat serta pada sikap mental, tekat dan semangat, ketaatan dan disiplin para penyelenggara serta seluruh rakyat Indonesia.

Dari rumusan di atas dapat ditarik pemikiran bahwa peran serta masyarakat dalam pembangunan menyangkut kepada seluruh rakyat termasuk para penyelenggara negara. Oleh karena itu merupakan suatu keharusan saluran hirarki di dalam masyarakat yang seharusnya ditempuh oleh penyelenggara pembangunan.

Sebagaimana telah diungkapkan, bahwa dalam usaha pembangunan, peran serta seluruh masyarakat sangat diperlukan. Pembangunan tidak bisa dilaksanakan tanpa peran serta masyarakat. Untuk dapat menerima peran serta masyarakat. Memahami pengertian peran serta, dapat dikemukakan pendapat-pendapat para ahli sebagai berikut :

Alport dan Sastropoetro (1998) menyatakan, the person who participates

is ego-involved instead of merely task involved. Maksudnya bahwa seseorang

yang berpartisipasi sebenarnya mengalami keterlibatan dirinya egonya yang sifatnya lebih daripada keterlibatan dalam pekerjaan atau tugas saja. Dengan keterlibatan dirinya, berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya.

Davis (1962) dan Armen (1987) memberikan definisinya sebagai berikut :

Participation can be defined as mental and emotional involvement of a person in group situation which encourages him to contribute to group goals and

share responsibility in them. Pendapat tersebut di atas dapat diterjemahkan

sebagai berikut :

Partisipasi dapat didefinisikan sebagai keterlibatan mental, pikiran dan emosi perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut serta bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.

Ada tiga unsur penting yang dimaksud Davis (1962) dalam Armen (1987) dalam peran serta yang memerlukan perhatian khusus, yaitu :

a. Bahwa peran serta, sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.

b. Unsur tanggung jawab. Unsur ini merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota.

c. Kesediaan memberikan suatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok, ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.

Sehubungan dengan masalah di atas, dalam pelaksanaannya serta peran serta tersebut dapat berupa : pikiran, tenaga, pikiran dan tenaga, barang dan berupa uang. Santosa dan Iskandar dan Sastropoetro (1986) mengemukakan, ada enam elemen untuk terwujudnya peran serta masyarakat yaitu :

a. Rasa senasib sepenanggungan. b. Keterlibatan terhadap tujuan hidup.

c. Kemahiran untuk menyesuaikan dengan perubahan keaadaan. d. Adanya prakarsawan.

e. Iklim partisipasi dan.

f. Adanya pembangunan itu sendiri.

Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pembangunan. Sastropoetro (1986) mengemukakan sepuluh alasan tentang pentingnya peran serta atau partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu :

a. Dengan partisipasi lebih banyak hasil kerja yang dapat dicapai.

b. Dengan partisipasi memiliki nilai dasar yang sangat berarti untuk peserta, karena menyangkut harga dirinya.

c. Dengan partisipasi pelayanan dapat diberikan dengan biaya yang murah. d. Partisipasi mendorong timbulnya rasa tanggung jawab.

e. Partisipasi nerupakan katalisator untuk pembangunan selanjutnya.

f. Partisipasi menjamin, bahwa suatu kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat telah dilibatkan.

g. Partisipasi menjamin, bahwa pekerjaan dilaksanakan dengan arah yang benar. h. Partisipasi menghimpun dan memanfaatkan berbagai pengetahuan yang

terdapat di dalam masyarakat, sehingga terjadinya perpaduan berbagai keahlian.

i. Partisipasi membebaskan orang dari ketergantungan kepada keahlian orang lain.

j. Partisipasi lebih menyadarkan menusia terhadap penyebab dari kemiskinan, sehingga menimbulkan kesadaran terhadap usaha untuk mengatasinya.

Perlu juga dikemukakan, bahwa ada lima unsur penting yang turut menentukan peran serta masyarakat :

a. Komunikasi yang menumbuhkan pengertian yang efektif.

b. Perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku yang diakibatkan oleh pengertian yang menumbuhkan kesadaran.

c. Kesadaran yang didasarkan kepada perhitungan dan pertimbangan.

d. Antusiasme yang menumbuhkan spontanitas, yaitu kesediaan melakukan sesuatu yang tumbuh dari dalam lubuk hati sendiri tanpa dipaksa orang lain. e. Adanya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.

Dokumen terkait