III. METODE PENELITIAN
4.3 Analisis Kelayakan Usaha
4.3.1 Aspek Pasar dan Pemasaran
Pengembangan usaha di bidang produksi ransel laptop mempunyai prospek yang cukup potensial di Indonesia. Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki pangsa pasar Notebook PC (laptop) yang berkembang sangat pesat di Asia Tenggara. Data triwulan II 2010 dari International Data Corporation (IDC) menunjukkan pasar Indonesia mengalami pertumbuhan lebih dari 40%. Menurut perkiraan dengan pertumbuhan yang tinggi ini dalam lima tahun kedepan Indonesia akan menjadi pasar notebook atau laptop terbesar di Asia Tenggara. Kwartal ini dari Oktober hingga Desember, pasar notebook Indonesia diperkirakan sekitar 1,4 juta
unit. Tahun depan, IDC memperkirakan adanya kenaikan hingga sekitar 6 juta unit1. Dijelaskan, penjualan tas laptop juga mengalami kenaikan sekitar 10%-20% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini seiring dengan meningkatnya grafik penjualan laptop yang sangat tinggi. Bodypack yang merupakan produsen ransel laptop dalam negeri yang terbesar hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar sekitar 30% dari total produksi Bodypack sekitar 20.000 unit per bulan.
Dari segi penjualan perusahaan sendiri menunjukkan tren yang cenderung meningkat tiap bulan. Peramalan penjualan yang dilakukan juga menunjukkan tren positif dimana angka penjualan selalu meningkat di tiap bulannya. Dengan mempertimbangkan ramalan penjualan yang terus meningkat serta kapasitas optimum produksi usaha dan sumber daya yang tersedia, maka ditetapkan angka penjualan sebesar 5880 unit tas per tahun untuk empat jenis model tas. Pertumbuhan penjualan laptop dan ransel laptop yang positif ini merupakan pasar tersendiri yang cukup menjanjikan bagi Yogi Tas untuk mengembangkan produksi ransel laptop.
Pada awalnya produksi ransel laptop hanya berdasarkan jumlah pesanan. Penjualan dengan berdasarkan sistem pesanan ini menunjukkan peningkatan tiap bulannya. Dengan mempertimbangkan penggunaan laptop yang terus bertambah dan asumsi kebutuhan ransel laptop yang berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah laptop, perluasan segmen pemasaran diperlukan dengan menggunakan pendekatan persediaan (make to stock). Dengan perubahan pendekatan pemasaran ini tentu dibutuhkan usaha promosi dan menjalin relasi yang lebih luas dengan sentra penjualan laptop di dalam maupun luar daerah Bogor.
Dengan membandingkan antara ramalan penjualan dan kapasitas optimum produksi, dapat dilihat bahwa peluang penjualan di tahun pertama sebesar 10.247 unit. Dengan kapasitas produksi
1
sebesar 5.880 unit dapat diasumsikan bahwa jumlah yang disupply ke pasar oleh Yogi Tas dapat terserap seluruhnya. Supply ransel laptop dari Yogi Tas ini seluruhnya di masukkan ke outlet dan toko- toko penjual laptop dan aksesorisnya yang sudah menjadi langganan selama ini dan outlet baru untuk menunjang pemasarannya. Oleh karena itu, dari aspek pasar usaha pengembangan ransel laptop ini layak untuk dijalankan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel 7 dibawah ini.
Tabel 7. Perbandingan ramalan penjualan dan kapasitas optimum produksi usaha yogi tas
Tahun 2011 Ramalan penjualan (unit/bln) Kapasitas Optimum Produksi (unit/bln) Januari 479 490 Februari 535 490 Maret 596 490 April 660 490 Mei 727 490 Juni 797 490 Juli 871 490 Agustus 948 490 September 1029 490 Oktober 1113 490 November 1200 490 Desember 1292 490 Total (1 tahun) 10.247 5.880 4.3.2. Aspek Teknis
Setelah aspek pasar maupun pemasaran menyatakan suatu usaha layak untuk dijalankan, tahap berikutnya yang akan dianalisis adalah mengenai aspek teknis dan teknologi. Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun (Husnan dan Suwarsono, 1994). Tujuan dari aspek ini adalah untuk meyakini secara teknis bahwa rencana pengembangan usaha layak dilaksanakan. Adapun hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam aspek teknis meliputi lokasi usaha, proses produksi, dan fasilitas produksi.
1. Lokasi Usaha
Dalam pendirian suatu usaha, aspek lokasi usaha menjadi suatu hal yang penting baik untuk penentuan tempat produksi (pabrik) maupun tempat untuk memasarkan produk yang dihasilkan. Dalam hal penentuan lokasi usaha untuk tempat produksi, hal-hal yang perlu diperhatikan dan diperhitungkan meliputi aspek ketersediaan bahan mentah, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, supply tenaga kerja, dan fasilitas transportasi. Usaha Yogi Tas sendiri terletak di Desa Laladon RT 05/04 Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Lokasi pembelian bahan baku berada di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat. Tempat ini dipilih karena faktor kelengkapan bahan baku yang dibutuhkan. Secara geografis lokasi pembelian bahan baku terbilang jauh karena sudah berbeda wilayah pemerintahan yaitu di Provinsi DKI Jakarta. Namun dari sisi jarak dan akses transportasi menuju ke lokasi pembelian bahan baku hal itu tergolong relatif dekat dan mudah karena Bogor sendiri merupakan daerah penyangga Jakarta dan jarak antara Bogor dan Jakarta tidak terlalu jauh yaitu dapat ditempuh selama lebih kurang dua jam perjalanan. Akses transportasi berupa jalan raya dan kendaraan umum juga sangat memadai sehingga tidak terlalu menjadi masalah dalam hal penyediaan bahan baku.
Sejak awal berdiri, target awal dari konsumen yang dibidik adalah yang berada di wilayah Bogor, terutama instansi pemerintah dan lembaga pendidikan yang memang cukup banyak berada di dekat lokasi usaha ini. Sehingga dari segi pasar yang dituju pun lokasi usaha layak dijalankan. Ketersediaan energi untuk mendukung proses produksi berupa listrik dan air juga sudah terjamin karena wilayah ini sudah cukup ramai sehingga pasokan energi tidak mengalami masalah. Tenaga kerja yang dibutuhkan oleh Yogi Tas adalah tenaga kerja terlatih dan tidak memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi, sehingga untuk
mendapatkannya dari wilayah sekitar tidaklah susah. Sedangkan untuk fasilitas transportasi, infrastruktur di sekitar lokasi usaha sangat menunjang yaitu ketersediaan jalan utama atau jalan besar (raya), moda transportasi berupa angkutan umum 24 jam, dan keberadaan dua terminal yang menjadi urat nadi transportasi Kabupaten dan Kota Bogor yaitu Terminal Laladon dan Bubulak. Untuk lebih jelasnya, peta lokasi usaha Yogi Tas dapat dilihat pada gambar 4 dibawah ini.
Gambar 4. Peta Lokasi Usaha
2. Proses Produksi
Produk yang dihasilkan dalam pengembangan usaha Yogi Tas ini berupa ransel laptop. Untuk menghasilkan ransel laptop, ada beberapa tahapan produksi yang harus dilakukan. Urutan proses produksi dapat dilihat pada Gambar 5.
a. Pembuatan Pola dan Sampel
Pola merupakan cetakan dari ransel laptop yang akan dibuat. Pola dibuat dengan menggunakan bahan karton. Biasanya pola yang akan dibuat berdasarkan produk ransel laptop yang bagus dan sudah ada di pasar, serta mengalami sedikit modifikasi. Pembuatan pola tergantung dari bentuk tas model. Untuk tas yang tidak terlalu rumit atau tidak mempuyai bentuk yang asimetris pola dapat langsung dibuat dengan
mengukur langsung tas model tersebut dan dibuat modelnya di atas karton. Sedangkan untuk tas yang rumit dengan banyak bagian yang asimetris tas model tersebut akan dibedah terlebih dahulu. Tas yang dijadikan model akan dibedah menjadi bagian-bagian kecil. Kemudian bagian-bagian ini dijiplak di atas karton dengan menggunakan pulpen dan disesuaikan ukurannya dengan menggunakan meteran kain dan dipotong sesuai dengan ukurannya dengan gunting atau cutter. Pembuat pola akan membuat ukuran pola dan ditambah atau dilebihkan sedikit untuk proses penjahitan nanti. Hal ini dilakukan dengan perkiraan dari pembuat pola karena sudah terbiasa dengan proses ini. Proses pemotongan pola dilakukan di atas triplek tebal (multiplek). Setelah proses pembuatan pola selesai, dibuat sampel jadi dari pola yang dibuat sehingga diketahui kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat satu tas. Dalam usaha pengembangan Yogi Tas direncanakan akan dibuat empat model tas, sehingga diperlukan empat buah pola yang berbeda.
b. Pemotongan Bahan
Proses pemotongan bahan pada prinsipnya hampir sama dengan pembuatan pola. Seperangkat alat yang dibutuhkan adalah rolan bahan yaitu tempat gulungan bahan yang akan dipotong. Kemudian triplek tebal (multiplek) sebagai alas untuk memotong bahan. Multiplek ini berukuran 1,5 m x 2 m. Gunting dan cutter untuk memotong dan penggaris besi sebagai alat bantu proses pemotongan. Dari hasil pembuatan pola didapat bentuk dari bagian-bagian tas yang akan dibuat dalam bentuk pola di atas karton beserta ukurannya. Satu per satu pola karton tadi dijiplak ke bahan tas yang di taruh di atas multiplek. Kemudian dipotong dengan menggunakan cutter atau gunting. Setelah satu bagian pola tas dipotong maka diperbanyak dengan menumpuk pola yang sudah dipotong tadi
di atas bahan sejumlah tas yang akan dibuat, kemudian dipotong seperti tadi lagi. Pemotongan bahan ini terutama untuk bahan utama tas seperti bahan D1680, jala mesh, D420 hitam, saten polos, bisban 2,5 cm dan sebagainya. Sedangkan untuk bahan pelengkap lainnya seperti kepala resleting, benang, pegangan, gesper disiapkan sesuai dengan kebutuhan untuk satu tas ransel. Proses pemotongan ini sangat sederhana dan sangat mengandalkan ketelitian dan kecermatan, karena dalam proses pemotongan akan diusahakan penggunaan bahan semaksimal mungkin dan tidak ada bahan yang terbuang. c. Penjahitan
Proses ini menggabungkan seluruh bagian dari bahan- bahan yang sudah dipotong tadi, mulai dari badan tas hingga pernak pernik perlengkapannya seperti resleting, kepala resleting, dan lain sebagainya, hingga akhirnya menjadi produk jadi yang siap dipasarkan.
Bagan lengkap dari proses produksi ransel laptop di Yogi Tas dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini.
Gambar 5. Bagan Proses Produksi
3. Peralatan dan Perlengkapan Produksi
Untuk menjalankan proses produksi tentu dibutuhkan sarana dan prasarana berupa peralatan dan perlengkapan yang berkaitan dengan setiap proses produksi. Peralatan dan perlengkapan dibagi berdasarkan alur proses produksi.
a. Proses Pembuatan Pola
Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Pembuatan pola Stok bahan baku untuk
produksi satu bulan
Pembelian bahan baku Pembelian jika ada tambahan produksi Jenis tas yang akan dibuat
Penyiapan bahan
Pemotongan bahan Pembuatan pola setiap 6
bulan agar variatif
Kepala sleting, pegangan, disiapkan
Bahan siap dijahit
Penjahitan
Packaging
Perapihan benang sisa jahitan
Tabel 8. Peralatan dan perlengkapan dalam pembuatan pola
No. Item Jumlah Umur
Ekonomis 1. Karton
2. Penggaris siku 1 1 tahun 3. Penggaris panjang 1 m 1 4 tahun 4. Meteran kain 1 6 bulan
5. Jangka 1 4 tahun
6. Pensil, bolpoint, spidol 1 6 bulan 7. Triplek tebal (multiplek) 1 1 tahun
8. Calculator 1 2 tahun
9. Gunting 1 4 tahun
10. Cutter 1 6 bulan
b. Proses pemotongan
Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 9. Peralatan dan perlengkapan dalam proses pemotongan
No. Item Jumlah Umur
Ekonomis
1. Cutter 1 6 bulan
2. Penggaris besi 1 5 tahun 3. Meteran kain 1 6 bulan
4. Pensil 1 6 bulan
5. Gunting 1 4 tahun
6. Triplek tebal
(multiplek) 1 6 bulan
7. Rolan bahan 1 3 tahun 8. Isi cutter 20 pak 1 bulan c. Penjahitan
Peralatan yang dibutuhkan dalam proses ini adalah mesin jahit listrik yang mempunyai umur ekonomis selama 5 tahun. Dalam usaha pengembangan Yogi Tas ini diperlukan 8 unit mesin jahit.
4.3.3. Aspek Manajemen dan Hukum
Penilaian kelayakan pengembangan usaha dalam aspek manajemen dan hukum meliputi hal yang berkaitan dengan perizinan dan legalitas badan hukum usaha, struktur organisasi, kepemilikan,
deskripsi pekerjaan, sistem kompensasi, dan sistem penerimaan tenaga kerja.
1. Perizinan dan Legalitas Badan Hukum Usaha
Yogi Tas termasuk ke dalam golongan perusahaan manufaktur yang mengolah bahan mentah atau setengah jadi menjadi barang jadi. Skala usahanya masih tergolong usaha kecil baik dilihat dari tingkatan produksi maupun aset yang dimilikinya. Dalam pendirian usaha, secara formal disyaratkan untuk meminta izin usaha kepada pihak yang terkait, karena hal ini berkaitan dengan birokrasi yang harus dipenuhi. Dalam hal perizinan, Yogi Tas sudah memiliki izin usaha yang dikeluarkan oleh Badan Perizinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Bogor berupa Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) untuk usaha skala kecil dengan nomor 00390/10-20/PK/PO/VI/2009. Selain itu dari perangkat desa dan kecamatan juga sudah memberikan izin berupa surat izin domisili.
Badan hukum usaha merupakan bentuk kekuatan (legalitas ) usaha di mata hukum. Dengan memiliki bentuk badan hukum, usaha akan memperoleh banyak kemudahan, seperti dalam hal menjalin kerjasama (networking) dengan pihak lain. Yogi Tas sendiri telah memiliki bentuk badan hukum usaha dalam bentuk CV (Commanditaire Vennootschap) yang dikukuhkan dengan akta notaris Khadijah Budi Astuti SH dengan nomor 321/AN- CV/2009 dan disahkan oleh Pengadilan Negeri Cibinong.
2. Struktur Organisasi
Struktur formal organisasi dalam suatu perusahaan dibuat untuk menunjukkan kedudukan struktural masing-masing individu serta menunjukkan tugas dan fungsi mereka. Menurut Husnan dan Suwarsono (1994), struktur organisasi tersebut menggambarkan lima aspek, yaitu (1) pembagian pekerjaan, (2) manajer dan bawahan, (3) tipe pekerjaan yang dilakukan, (4) pengelompokan bagian-bagian pekerjaan, dan (5) tingkatan
manajemen. Dengan adanya struktur organisasi akan memudahkan dalam pendelegasian tugas dan wewenang sehingga dapat memudahkan pencapaian tujuan yang diinginkan perusahaan. Struktur organisasi Yogi Tas sendiri masih sangat sederhana. Hampir semua fungsi manajerial dipegang sendiri oleh pimpinan perusahaan sekaligus pemiliknya. Pimpinan usaha langsung membawahi 11 orang karyawan. Pembagian tugas secara spesifik dilakukan pada proses produksinya dimana terdapat tiga kegiatan utama dalam proses produksi, yaitu pembuatan pola, pemotongan pola, dan penjahitan. Dengan struktur organisasi seperti ini, pengambilan keputusan dalam segala hal menjadi wewenang dari pimpinan usaha.
3. Kepemilikan
Pemilik pengembangan usaha Yogi Tas ini adalah Yogi Alwan Fauzi yang sekaligus bertindak sebagai pimpinan yang membawahi 10 orang karyawan. Modal dalam menjalankan pengembangan usaha ini seluruhnya dikeluarkan oleh Mas Yogi sendiri.
4. Deskripsi Pekerjaaan
Dalam pengembangan usaha ransel laptop pada Yogi Tas ini, pemilik sekaligus pimpinan merencanakan untuk menggunakan 10 orang karyawan yang terdiri dari 1 orang tukang belanja, 1 orang tukang pola dan tukang potong, dan 8 orang tukang jahit.
a. Pimpinan (pemilik)
Pemilik yang merupakan pimpinan usaha ini memegang peranan penting dalam menjalankan roda perusahaan. Seluruh kegiatan pra produksi, produksi, dan pasca produksi menjadi tanggung jawab dan wewenang dari pimpinan. Secara umum tugas dari pimpinan mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Memegang tanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan fungsi manajerial usaha, mulai dari pemasaran, produksi, sumber daya manusia, dan keuangan.
2. Menjalin dan menjaga hubungan yang baik dengan konsumen.
3. Mengambil keputusan yang tepat dan cepat dalam menghadapi suatu permasalahan.
b. Tenaga kerja pembelian bahan
Bertanggung jawab dalam proses pembelian bahan baku produksi. Bahan baku dibeli di pasar Tanah Abang Jakarta Pusat dengan pertimbangan kelengkapan bahan.
c. Tenaga kerja pembuatan pola
Bertanggung jawab dalam pembuatan pola dari ransel laptop yang akan dibuat. Proses ini membutuhkan ketelitian yang tinggi karena pola harus dibuat sedetail mungkin dan menuntut akurasi ketepatan dalam setiap ukuran bagian-bagian pola yang dibuat.
d. Tenaga kerja pemotongan
Bertanggung jawab memotong bahan sesuai dengan pola yang telah dibuat sebelumnya. Proses ini menyiapkan bahan utama yang akan dijahit dalam proses selanjutnya. Pemotongan bahan dilakukan secara manual dengan menggunakan seperangkat alat potong yang terdiri dari gunting, penggaris besi, pensil/pulpen, busur, dan sebagainya.
e. Tenaga kerja penjahitan
Bertanggung jawab dalam melakukan proses penjahitan bahan yang telah dipotong menjadi satu bagian ransel laptop yang utuh. Proses ini membutuhkan waktu yang paling lama dan yang paling menentukan bentuk fisik ransel laptop yang diproduksi.
5. Sistem Kompensasi
Sistem pemberian kompensasi kepada tenaga kerja Yogi Tas terdiri dari dua jenis, yaitu sistem upah (borongan) dan sistem gaji (bulanan). Adanya pembedaan ini dikarenakan skala usaha yang masih kecil, sehingga perlu dilakukan efisiensi dalam operasionalnya dan salah satunya adalah dengan menerapkan sistem upah borongan. Untuk tenaga kerja yang mendapat kompensasi dengan gaji adalah tenaga kerja bagian pembelian bahan yang mendapat gaji sebesar Rp 600.000. Tenaga kerja pembuatan pola dibayar sebesar Rp 300.000 untuk satu buah pola yang dibuat. Dalam satu tahun, pola dibuat sebanyak dua kali sebagai variasi, sehingga dalam satu tahun akan ada delapan pola. Tenaga kerja pemotongan mendapat upah yang bervariasi tergantung model ransel laptop yang dibuat. Upah yang diterima berkisar antara Rp 1.500-3000 per ransel. Tenaga kerja bagian penjahitan mendapat upah yang relatif lebih besar karena pekerjaannya relatif lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama. Upah yang diterima tenaga kerja penjahitan juga bervariasi tergantung model dan tingkat kesulitan. Upah yang diterima tenaga kerja penjahitan berkisar antara Rp 10.000-20.000 per ransel. Selain pemberian kompensasi berupa gaji dan upah, para tenaga kerja Yogi Tas mendapatkan uang makan setiap hari kerja sebesar Rp 10.000.
6. Sistem Penerimaan Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang direkrut oleh Yogi Tas semuanya berasal dari Bogor. Untuk proses pengembangan divisi ransel laptop, tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 10 orang yang terdiri dari 8 orang tukang jahit, 1 orang tukang potong dan tukang pola, dan 1 orang tukang belanja. Semua tenaga kerja ini berasal dari wilayah Bogor. Sistem perekrutan tenaga kerja di Yogi Tas masih sangat sederhana. Pada awalnya, tenaga kerja yang dipakai masih terbatas pada orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan
pemiliknya. Hal ini dikarenakan pemilik sudah mengetahui kualitas kerja dari orang yang bersangkutan. Lama kelamaan satu orang tadi mengajak teman temannya yang rata-rata sudah mempunyai keahlian dan pengalaman dalam hal pembuatan tas dan begitu seterusnya. Untuk pengembangan Yogi Tas tenaga kerja sebanyak 11 orang juga didapatkan dengan proses seperti itu, dimana satu orang yang sudah dipercaya dan berpengalaman mengajak teman maupun saudaranya yang tentunya sudah mempunyai kemampuan sesuai tugas yang dibutuhkan. Dengan cara ini lebih memudahkan pemilik untuk mencari tenaga kerja yang diperlukan dan mempunyai keahlian yang bagus.