VI. ANALISIS NON FINANSIAL
6.1. Aspek Pasar dan Pemasaran
Aspek pasar dan pemasaran dalam suatu usaha merupakan hal yang sangat penting untuk dijadikan pertimbangan layak atau tidaknya suatu usaha, karena pasar dan pemasaran adalah tujuan dari hasil produksi. Jika suatu produk yang dihasilkan melimpah dan berkualitas namun tidak memiliki pasar atau daerah pemasaran maka suatu usaha tidak dapat dikatakan layak.
Komponen dari aspek pasar dan pemasaran adalah permintaan dan penawaran ayam broiler, harga dan produk.
6.1.1. Permintaan dan Penawaran
Permintaan ayam broiler di daerah Bogor tinggi (Tabel 5), karena ayam broiler merupakan pemenuh kebutuhan protein hewani masyarakat yang cukup diminati, sehingga TMF tidak mengalami kesulitan dalam memasarkan produk- produknya.
Penawaran dari luar negeri datang dari negara Brasil yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kelebihan produksi ayam dan tidak dapat memasuki pasar Eropa yang peraturan impornya sangat ketat. Ekspansi dalam negeri Brasil berjalan lambat dalam mengatasi kelebihan produksi tersebut, sehingga mereka berusaha masuk ke dalam pasar Indonesia dengan menawarkan harga yang kompetitif yaitu unggas hidup Rp 8.500,00-9.350,00/kg dan karkas ayam Rp12.250,00/kg.
Brasil berusaha memenuhi persyaratan-persyaratan impor Indonesia dan jika Brasil berhasil memasuki pasar Indonesia termasuk daerah Bogor dengan harga tersebut maka peternak Indonesia akan sangat dirugikan karena tidak dapat bersaing dengan harga tersebut. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai
50 upaya untuk mencegah Brasil memasukkan produk unggasnya ke pasar Indonesia seperti menekankan bahwa permasalahan flu burung di Indonesia belum selesai1.
Berdasarkan permasalahan penawaran di atas dapat dilihat pemasaran dan pasar merupakan hal yang penting dalam suatu usaha. Keseimbangan penawaran dan permintaan dibutuhkan untuk menjaga harga dan pasokan, sehingga produsen dalam hal ini peternak terlindung dari kerugian dan konsumen mendapatkan produk dengan mudah. Produk yang berlimpah harus diimbangi dengan ekspansi pasar dan kelangkaan produk harus diatasi dengan peningkatan produksi yang cukup.
TMF menjaga keseimbangan penawaran produknya dengan melakukan perhitungan periode beternak plasmanya. TMF membuat jadwal masuk DOC yang berbeda setiap peternak, sehingga memiliki masa panen yang berbeda pula. Dengan cara tersebut masalah kelebihan produksi dapat dihindari, turut serta menjaga kestabilan pasokan di pasar, dan mencegah terjadinya kejatuhan harga. Mengenai permintaan, TMF telah memiliki pelanggan tetap yang memesan ayam hidup secara periodik, setiap hari, setiap minggu ataupun setiap bulan. Selain itu, TMF juga memasarkan produknya ke pasar-pasar di daerah Bogor, seperti pasar Ciluar, pasar Anyar, pasar Jambu dua, pasar Kemang, pengiriman ke pasar sekitar Jabodetabek. Dalam memasarkan produknya, sebagai perusahaan kemitraan inti plasma yang bertanggung jawab dalam pendistribusian seluruh produk hasil dari plasmanya, TMF langsung mendatangkan pembeli/penangkap ke peternakan. Namun, bagi pembeli yang ingin produknya diantar, TMF juga menyediakan fasilitas antar dengan tambahan biaya antar yang dibebankan pada pembeli.
Keuntungan sebagai plasma dari TMF, peternakan Agus Suhendar tidak perlu mengkhawatirkan fluktuasi permintaan dan penawaran di pasar, karena TMF yang mengurus penyalurannya, setiap produk yang dihasilkan baik produk utamanya yaitu ayam broiler maupun produk sampingan seperti kotoran ayam seluruhnya disalurkan dengan harga kontrak tetap.
--- 1
51 Pada peternakan Agus Suhendar, pembeli langsung datang ke kandang. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan usaha peternakan Agus Suhendar layak dijalankan, karena sebagai plasma perusahaan kemitraan, peternakan Agus Suhendar akan selalu dapat menjual seluruh produknya.
6.1.2. Harga
Selama tahun 2009 hingga tahun 2011 harga ayam di daerah Jabodetabek berkisar Rp 11.000,00-18.000,00/kg. Rata-rata harga sebesar Rp 12.000,00- 14.000,00/kg. Harga meningkat mencapai Rp 18.000,00 saat hari-hari raya atau pasokan ayam di pasar sedang menurun. Harga turun pada Rp 11.000,00- 12.000,00/kg pada bulan Maret 2009 dan November 2010 sampai Februari 20111. Pada bulan Maret 2012 berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Barat harga rata- rata daging ayam untuk kota-kota di Jawa Barat adalah Rp 25.440,00, harga terendah ayam Rp 22.000,00, dan tertinggi Rp 30.000,00.
Sebagai plasma TMF, peternakan Agus Suhendar mendapatkan harga kontrak yaitu Rp 12.350,00-13.230,00/kg bobot hidup, penentuan harga didasarkan pada bobot rata-rata saat panen (Tabel 10). Harga kontrak ini memperkecil usaha peternakan Agus Suhendar dari kerugian yang diakibatkan dari penurunan harga di pasar, seperti yang terjadi pada bulan Maret 2009 dan November 2010 hingga Februari 2011, harga Rp 11.000,00-12.000,00/kg di bawah harga kontrak yang disepakati Agus Suhendar Farm dengan TMF. Harga kontrak hanya bisa dirubah setelah satu tahun kerjasama atau setelah enam periode produksi.
Berdasarkan wawancara dengan manajer, TMF menutupi kerugian saat terjadi penurunan harga ayam dengan menyimpan ayamnya di cold storage yang ada di RPU, dan menyalurkannya ketika harga pasar di atas atau minimal mendekati Rp 12.350,00. Selain itu TMF menutupi kerugian akibat harga kontrak ini ketika harga ayam broiler di pasar tinggi atau melebihi harga kontrak.
--- 1
52 Pada saat harga di pasar tinggi atau melebihi harga kontrak, peternakan Agus Suhendar tidak dapat ikut menikmati keuntungan maksimal. Walaupun begitu, TMF selalu memberikan pelayanan pengadaan sapronak yang baik, bimbingan teknis dan produksi serta kesehatan sehingga penekanan biaya dapat dilakukan, dengan harga kontrak peternakan Agus Suhendar dapat menutupi biaya dan mendapatkan keuntungan.
Dapat disimpulkan usaha peternakan Agus Suhendar layak dijalankan, selama dengan harga kontrak Bapak Agus masih mendapatkan keuntungan yang sesuai.
6.1.3. Produk
Produk yang dihasilkan usaha peternakan Agus Suhendar berupa ayam broiler hidup dan kotoran ayam. Ayam broiler hidup langsung diambil oleh pembeli ke peternakan. Pembeli datang saat ayam sudah siap dipanen sesuai dengan bobot hidup dan umur yang ingin mereka beli. Pembeli adalah orang perorang yang memiliki kios atau penyalur, dan perusahaan makanan siap saji atau makanan beku.
Ayam broiler hidup yang dipanen pada peternakan Agus Suhendar biasanya memiliki bobot panen rata-rata 1,6 kg per ekornya, dengan umur 4 sampai 6 minggu. Waktu panen ditentukan oleh TMF sesuai dengan permintaan pembeli dan harga ayam broiler di pasar. Untuk menjaga kepercayaan pembeli TMF senantiasa menjaga kualitas ayam broiler hidup yang dihasilkannya. TMF selalu memastikan ayam broiler hidup yang dijual adalah ayam broiler yang berkualitas baik. Setiap waktu panen, perwakilan langsung dari TMF atau PPL akan datang dan ikut mengawasi proses panen. Berikut adalah ciri-ciri fisik ayam broiler yang disyaratkan TMF : (1) Bebas dari penyakit; (2) Mata cerah; (3) Terlihat aktif; (4) Bulu cerah dan penuh.
Sementara itu, produk sampingan peternakan yaitu kotoran ayam, diambil oleh pembeli sendiri ketika panen telah usai. Pembeli kotoran ayam adalah penduduk sekitar yang berprofesi sebagai petani. Kotoran ayam ini merupakan salah satu bahan untuk pembuatan pupuk kandang yang mudah didapat, atau bagi sebagian petani pupuk ini langsung digunakan bagi tanaman mereka.
53 Berdasarkan hasil dari analisis aspek pasar yang terdiri permintaan dan penawaran pasar, harga dan produk ayam broiler hidup, usaha peternakan yang dilakukan peternakan Agus Suhendar layak untuk dijalankan, karena sebagai plasma sebuah perusahaan kemitraan yang memiliki kinerja dan manajemen yang baik seperti TMF, peternakan Agus Suhendar aman dari kerugian akibat jatuhnya harga, memiliki pasar, tidak menghadapi permasalahan distribusi produk, dan menghasilkan produk yang berkualitas.