• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

8. Pemberian Label

4.2.4. Aspek Pemasaran

Pendapatan diperoleh dari hasil penjualan produk yang dihasilkan dari usaha tersebut. Oleh karena itu, pemasaran produk merupakan hal utama yang

harus diperhatikan oleh pemilik usaha agar diperoleh pendapatan optimal sesuai dengan yang diinginkan. Pemasaran sendiri dapat diartikan sebagai suatu kegiatan bisnis yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan manusia baik itu pengusaha sebagai produsen maupun konsumen dari produk tersebut.

Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pemasaran produknya adalah mengenai strategi pemasaran yang diketahui memiliki empat variabel yakni produk, harga, distribusi dan promosi.

4.2.4.1. Produk

Produk adalah apa saja yang dapat ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Klasifikasi produk dapat dibagi dua yaitu produk konsumen berupa produk sehari-hari dan produk industri. Menurut Umar (2000), pengembangan sebuah produk mengharuskan perusahaan menetapkan manfaat-manfaat apa saja yang akan dibentuk oleh produk itu. Untuk produk barang misalnya dalam bentuk seperti ciri-ciri, mutu dan desain. Mutu produk menunjukkan kemampuan sebuah produk untuk menjalankan fungsinya, ciri produk merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk perusahaan dengan produk pesaing. Produk barang tidak hanya memperhatikan penampilan, tetapi juga hendaknya berupa produk yang simpel, aman, tidak mahal, sederhana dan ekonomis dalam proses produksi dan distribusinya.

Produk dari usaha agroindustri sirup rosella adalah sirup rosella yang merupakan salah satu minuman yang berbentuk sirup. Ciri-ciri dari sirup rosella adalah sirup rosella berwarna merah tua dengan cita rasa yang unik yaitu dengan kombinasi rasa manis, asam dan segar. Inilah yang menjadi penarik minat konsumen untuk membelinya sehingga usaha agroindustri sirup rosella “ Sri

Rahayu “ ini terus berkembang sampai sekarang ini. Menurut konsumen yang telah mencoba sirup rosella ini menyatakan bahwa rasa dari sirup rosella ini enak, tidak terlalu manis dan yang paling penting harganya terjangkau oleh dari semua kalangan masyarakat. Harga dipasaran berkisar antara Rp.10.000,- untuk sirup dengan kemasan 220 ml per botol sedangkan untuk sirup yang berukuran 1.000 ml dengan harga Rp.40.000,- per botol.

Untuk semakin memperindah penampilannya sebelum dipasarkan sirup rosella dikemas dahulu dengan menggunakan kemasan botol yang diberi label, pada label tercantum merk dagang yaitu CV. Srigryllus Latansa, komposisi bahan, alamat tempat proses produksi dan tulisan yang menyatakan bahwa sirup rosella ini tidak menggunakan bahan yang berbahaya (pengawet) yang berbahaya bagi kesehatan karena sirup ini telah mendapatkan izin dari Depkes dengan nomor izin Dinas Kesehatan RI SP No.490/04.01/99.

Gambar 3. Produk Sirup Rosella

4.2.4.2. Harga

Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atau suatu produk atau jasa. Lebih luas lagi harga adalah jumlah dari seluruh nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat yang dimiliki atau menggunkan produk atau menggunakan

produk atau jasa tersebut. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan penetapan harga adalah pasar (Kotler dan Amstrong, 2001).

Penetapan harga merupakan satu keputusan penting, karena harga merupakan satu-satunya variabel dari marketing mix yang langsung berhubungan dengan pendapatan serta keuntungan yang diperoleh dari perusahaan. Harga yang ditetapkan harus dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan perusahaan bahkan lebih dari itu yaitu untuk mendapatkan laba. Demikian juga halnya dengan usaha agroindustri sirup rosella yang menetapkan harga jual sesuai dengan kondisi pasar dan biaya yang dikeluarkan. Untuk ukuran 220 ml dijual dengan harga Rp.10.000,-/ botol sedangkan untuk ukuran 1.000 ml dengan harga Rp.40.000,-/botol.

4.2.4.3. Distribusi

Distribusi adalah berbagai kegiatan yang membuat produk terjangkau oleh konsumen. Kegiatan pemasaran suatu produk memerlukan suatu saluran distribusi. Saluran distribusi adalah sekelompok organisasi yang saling tergantung dalam keterlibatan mereka dalam proses yang memungkinkan suatu produk tersedia bagi konsumen. Saluran distribusi membentuk tingkatan saluran untuk menentukan panjangnya saluran distribusi (Umar, 2003).

Pemasaran usaha agroindustri sirup rosella membentuk dua saluran yaitu dari pengrajin langsung ke konsumen dan dari pengrajin ke swalayan atau pun pedagang pengecer pasar tradisional Cik Puan. Pada saluran satu, pengrajin menjual sirup rosella kepada konsumen yang datang ke lokasi usaha yang terdiri dari para tetangga dan ataupun masyarakat pendatang. Masyarakat lebih senang membeli sirup rosella dengan botol plastik karena dengan botol plastik lebih transparan sehingga lebih mudah melihat bentuk dan warna dari sirup itu. Saluran dua, biasanya pengrajin langsung mengantar ke pasar modern yaitu Hypermart

dan Food Mart, dan pasar tradisional yaitu ke pasar Cik Puan. Pedagang perantara lebih senang menjual kemasan botol plastik karena masyarakat atau konsumen lebih suka membeli kemasan botol plastik.

Dari kedua saluran pemasaran tersebut, saluran kedua memiliki lebih banyak permintaan produk dibandingkan saluran satu. Berdasarkan survei pasar tradisional (Cik Puan) dan Exspo yang pernah diikuti, sirup rosella dengan kemasan 1.000 ml lebih diminati oleh pedagang dan konsumen dari pada sirup rosella dengan kemasan 220 ml karena sirup rosella dengan kemasan 1.000 ml lebih menguntungkan dari segi isi dan biaya dibandingkan dengan sirup rosella kemasan 220 ml.

Dalam sistem pemasaran pembiayaan merupakan hal yang harus diperhatikan karena tinggi rendahnya biaya pemasaran akan mempengaruhi harga -ditingkat konsumen akhir dan pada tingkat produsen. Gambar saluran pemasaran sirup rosella dapat dilihat pada Gambar 4.

Saluran I Saluran II

Gambar 4. Saluran Pemasaran sirup rosella

Dari Gambar 4 diatas dapat dilihat bahwa terdapat 2 saluran pemasaran yang dilewati oleh sirup rosella ini. Saluran pertama pengrajin menjual lansung ke konsumen dan biasanya ini hanya untuk lingkungan sekitarnya saja. Saluran dua yakni dari pengrajin ke pedagang pengecer kemudian ke konsumen. Semakin panjang mata rantai yang dilalui suatu produk maka akan semakin mahal pula harga dari produk itu sendiri karena setiap lembaga-lembaga yang dilewati akan

Pengrajin

mengambil keuntungan masing-masing dan berakibat terhadap tingginya harga jual ke konsumen.

Tabel 4. Jumlah produk yang di jual agroindustri sirup rosella Sri Rahayu untuk botol kecil

Nama Toko Sirup Rosella Botol Kecil Jumlah Persentase

Hypermart 10 Botol 25 Botol 10 %

Foodmart 15 Botol 25 Botol 15 %

Cik puan 15 Botol 25 Botol 15 %

Rumah tangga 20 Botol 25 Botol 20 %

Jumlah 60 botol 100 Botol 60 %

Tabel 5. Jumlah produk yang di jual agroindustri sirup rosella Sri Rahayu untuk botol besar

Nama Toko Sirup Rosella Botol Besar Jumlah Persentase

Hypermart 15 Botol 25 Botol 15 %

Foodmart 10 Botol 25 Botol 10 %

Cik puan 10 Botol 25 Botol 10 %

Rumah tangga 5 Botol 25 Botol 5 %

Jumlah 40 botol 100 Botol 40 %

Dua tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses penjualan produksi minuman rosella yang banyak di salurkan adalah produk yang memiliki ukuran botol yang kecil. Jika ditinjau dari segi konsumen maka produk yang banyak diminati adalah produk yang berukuran botol kecil karena produk dengan ukuran botol kecil ini memiliki harga yang bisa terjangkau oleh kalangan masyarakat bawah. Di tinjau dari segi produsen maka produsen akan banyak mendapatkan keuntungan jika produk yang laku adalah produk yang merukuran botol besar karena produk yang berukuran botl besar memiliki harga jual yang tinggi. Jika dibandingkan dengan harga beli botol antara botol kecil dengan botol besar maka produsen akan lebih untung memproduksi menggunakan botol besar karena jumlah penggunaan botol akan berpengaruh terhadap biaya produksi.

Pemasaran tidak hanya membicarakan produk, tetapi juga mempromosikan produk ini kepada masyarakat agar produk itu dikenal dan akhirnya akan dibeli. Untuk mempromosikan produk perlu disusun suatu strategi. Strategi promosi adalah tindakan perencanaan, implementasi dan pengendalian komunikasi dari organisasi kepada pelanggan dan audience sasaran (target audience). Strategi yang seiring dengan strategi bauran pemasaran (advertising), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation) dan penjualan perorangan (personal selling) (Umar, 2002).

Promosi mengacu kepada setiap insentief yang digunakan oleh produsen untuk mermicu transaksi dan atau konsumen untuk membeli suatu merek serta mendorong tenaga penjualan untuk secara agresief menjualnya (Trence, 2002).

Berdasarkan penelitian pengusaha hanya melakukan promosi penjualan (sales promotion) karena promosi merupakan elemen yang penting dan harus diperhatikan dalam pemasaran produknya karena tanpa adanya promosi maka produk akan sulit dikenal oleh masyarakat dan tentu saja akan berpengaruh pada tingkat penjualan, pendapatan dan pengembangan usaha.

Untuk promosi pengusaha juga dibantu oleh Disperindag Propinsi Riau, Departemen Koperasi, karena itu pengusaha telah melakukan beberapa upaya promosi dalam rangka memperkenalkan produknya, adapun promosi dan pelatihan yang telah dilakukan oleh pengusaha antara lain:.

1. Mengikuti Pembinaan Pengusaha Kecil, Pelatihan oleh Dep. Koperasi dan Disperindag Kota Pekanbaru.

2. Mengikuti pameran MTQ yang diadakan di Pekanbaru dengan cara membuka stand.

3. Mengikut sertakan sirup rosella kedalam berbagai pameran yang diadakan di kota Pekanbaru dan yang terbaru akan mengikuti pameran di Malaysia dengan bantuan Indonesia, Malaisia, Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

5. Bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Riau dalam memasarkan produk misalnya dengan mengikuti pameran-pameran yang diadakan oleh pemerintah ( Riau Expo, stand dan pameran-pameran lainnya).

4.3. Analisis Nilai Tambah

Dalam analisis nilai tambah pada agroindustri minuman rosella digunakan data per bulan, dimana tiap bulan proses produksi dilakukan sebanyak 4 kali, dan Dengan analisis nilai tambah ini diharapkan diperoleh informasi mengenai perkiraan nilai tambah, imbalan tenaga kerja, imbalan bagi modal dan manajemen dari setiap kg rosella yang diolah menjadi minuman rosella.

Pada proses produksi minuman rosella diperlukan input agroindustri baik dari bahan baku dan bahan penunjang, serta tenaga kerja yang melakukan kegiatan produksi itu sendiri. Peralatan diperlukan untuk mentransformasikan input agroindustri ini menjadi output agroindustri. Besarnya nilai tambah karena proses pengolahan didapat dari pengurangan biaya bahan baku dan input lainnya terhadap nilai produk yang dihasilkan, tidak termasuk tenaga kerja. Perhitungan nilai tambah dapat dilihat pada Tabel 6.

No Output, Input, Harga Formula Nilai (Angka)

1 Hasil produksi (botol/bulan) A 400

2 Bahan baku (kg/bulan) B 6

3 Tenaga kerja (HOK) C 2

4 Faktor konversi (1 / 2) A/B = M 66,66

5 Koefisien tenaga kerja (3 / 2) C/B = N 0,33

6 Harga produk (Rp / botol) D 10.000

7 Upah rerata (Rp / HOK) E 50.000

Pendapatan

8 Harga bahan baku (Rp / kg) F 50.000

9 Sumbangan input lain (Rp / kg)* G 130.000

10 Nilai produk (4x6) (Rp / kg) M X D = K 666.600 11 a. Nilai tambah (10-8-9) (Rp / kg) K – F – G = L 480.000 b. Rasio nilai tambah (11.a / 10) (%) (L / K) % = H% 72.09 12 a. Imbalan tenaga kerja (5x7) (Rp / botol) N X E = P 16.500

b. Bagian tenaga kerja (12.a. / 11.a.) (%) (P / L) % = Q% 3.4 13 a. Keuntungan (11.a. – 12.a) L – P = R 464.100

b. Tingkat keuntungan (13.a / 11.a) (%) (R / L) % = 0 % 96,56

Balas Jasa Untuk Faktor Produksi

14 Margin (Rp / botol) K – F = S 616.600

* Pendapatan tenaga kerja langsung 12a / 14

( 100%) P / S (100%) = T 2,67

* Sumbangan input lain 9 / 14 (x 100%) G / S ( 100%) = U 21,08 * Keuntungan perusahaan 13a / 14 (100%) R / S (100%) = V 75,26

Dari data Tabel 6 terlihat bahwa dengan menggunakan bahan baku rosella kering sebanyak 6 kg dapat dihasilkan minuman rosella sebanyak 400 botol. Usaha ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 2 HOK. Apabila harga produk (output) sebesar Rp 10.000/botol dan faktor konversi sebesar sebesar 66,66 maka nilai produk sebesar Rp 480.000, nilai produksi ini dialokasikan untuk bahan baku yang berupa rosella kering sebesar Rp 50.000 per kilogram dan input-input agroindustri lainnya sebesar Rp. 130.000.

Dari analisis nilai tambah yang telah dilakukan diatas, maka dapat diperoleh beberapa informasi yang dapat berguna bagi peneliti, pengusaha dan pihak-pihak yang ada kaitannya dengan usaha agroindustri rosella.

Pertama, nilai tambah output agroindustri dipengaruhi oleh kemampuan pengolah menjual output agroindustri (harga output per unit), ketersediaan bahan

baku (harga bahan baku) dan struktur pasar input agroindustri (harga input lainnya). harga satu jenis output agroindustri yang sama antar pengolah bersifat heterogen. Hal ini disebabkan karena perbedaan usia usaha, kualitas produk, serta variasi harga bahan baku dan harga input lainnya. Variasi komposisi bahan baku dalam menciptakan output agroindustri ini dicerminkan oleh faktor konversi pada masing-masing pengolah agroindustri.

Kedua, pendapatan tenaga kerja dalam analisis nilai tambah ini dipengaruhi koefisien tenaga kerja dan upah tenaga kerja. Koefisien tenaga kerja ini menyatakan perbandingan antara input tenaga kerja dengan bahan baku rosella yang digunakan. Dalam penelitian ini dianalisis penggunaan tenaga kerja secara penghitungan Hari Orang Kerja (HOK).

Ketiga, keuntungan diperoleh produsen dari setiap bahan baku per kilogram rosella sama dengan nilai tambah dikurangi dengan imbalan tenaga kerja.

4.4. Analisis SWOT

Untuk mengetahui strategi pemasaran agroindustri sirup rosella, pengusaha dapat melakukan analisis SWOT. Analisis ini dilakukan untuk melihat produk dan pemasaran sirup rosella oleh usaha agroindustri sirup rosella dengan pendekatan analsisis internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) dalam menghadapi persaingan pemasaran sirup rosella. Berdasakan data yang diperoleh di lapangan, faktor internal dan eksternal yang dimiliki pengusaha serta strategi pemasaran yang dapat dilakukan pengusaha adalah sebagai berikut :

1. Kualitas produk terjamin

Kualitas dari suatu produk akan menentukan apakah produk ini layak untuk dipasarkan atau tidak, sirup rosella ini kualitasnya terjamin itu terlihat dengan adanya surat izin yang dikeluarkan Depkes.

2. Produk tidak menggunakan bahan pengawet

Sirup rosella dalam tahap pembuatanya tidak menggunakan bahan pengawet yang dapat mengganggu ataupun dapat menyebabkan penyakit (bahan pengawet) ini dapat dilihat dalam komposisi bahan yang digunakan dalam pembuatan sirup rosella.

3. Daya tahan produk 6 bulan

Mutu dari suatu produk akan menentukan daya tahan produk itu sendiri. Produk sirup rosella ini dapat tahan hingga 6 bulan disimpan. Hal ini karena proses pembuatan yang baik sehingga dapat menamabah daya tahan produk. Selain itu juga bahan yang dipergunakan bahan yang memiliki kualitas yang baik dikelasnya.

4. Harga jual lebih terjangkau dari produk saingan yang sejenis

Harga merupakan salah satu faktor penentu pendapatan dan penerimaan dari pengusaha selain itu juga harga menentukan apakah produk ini terjangkau oleh masyarakat banyak. Dan untuk harga satu botol sirup rosella dengan ukuran 220 ml adalah Rp.10.000,- sedangkan harga sirup rosella dengan ukuran 1.000 ml adalah Rp.40.000,-.

Kelemahan (Weaknesses) 1. Kurangnya modal

Salah satu kelemahan dari agroindustri ini adalah kurangnya modal dalam menjalankan usahanya. Pengembangan usaha agak terbatas karena kurangnya modal yang dimiliki oleh pengrajin.

2. Kurangnya promosi

Untuk meningkatkan penjualan suatu produk, promosi yang gencar harus dilakukan agar masyarakat luas tahu akan produk yang diproduksi. Tetapi dalam perkembangan usaha sirup rosella ini masih kurang melakukan promosi hal ini disebabkan karena terbatasnya modal yang dimiliki oleh pengusaha. 3. Kemasan masih sederhana

Kemasan yang baik akan membuat konsumen tertarik untuk membeli akan produk itu sendiri. Dalam agroindustri sirup rosella kemasan yang dibuat kurang menarik jika dilihat oleh konsumen ini terbukti dengan penggunaan kemasan yang sangat sederhana.

4. Distribusi produk terbatas pada pedagang perantara

Dalam pendistribusian produk sirup rosella ini sangat terbatas hanya pada kalangan perantara saja, padahal jika dijual langsung kepada pedagang eceran atau konsumen maka akan meningkatkan pendapatan dari pengusaha.

5. Label kurang lengkap sehingga membuat label jadi kurang menarik

Label dari sirup rosella dapat dilihat kurang lengkap karena belum tertulis tulisan halal dari MUI, sehingga dilihat dapat mengurangi minat dan daya tarik konsumen terhadap produk.

Peluang (Opportunities) 1. Peluang pasar luas

Permintaan akan sirup rosella dipasaran tergolong tinggi dan kurangnya persaingan dari produk yang sejenis sehingga peluang pasar dari sirup rosella ini cukup besar.

2. Kegiatan pameran dan pelatihan dari pemerintah dan swasta

Agroindustri rosella merupakan salah satu agroindustri binaaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru. Dengan adanya pelatihan pemerintah maka diharapkan akan membuat kemajuan yang berarti dalam perkembangan agroindustri ini.

3. Harga produk yang murah dan mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya.

Harga yang ditawarkan untuk 220 ml sirup rosella adalah Rp. 10.000,- per botol dan untuk ukuran 1.000 ml adalah Rp.40.000,- per botol. Sedangkan harga minuman kesehatan lainnya lebih mahal dibandingkan dengan sirup rosella yang dijual oleh agroindustri sirup rosella ”Sri Rahayu”. Dengan harga murah akan membuat produk ini bisa bersaing dengan produk yang sejenis. 4. Permintaan konsumen yang tinggi

Melihat dari manfaat yang ditawarkan oleh produk sirup rosella tersebut maka konsumen banyak meminatinya. Itu dapat dilihat dari permintaan produk sirup rosella oleh toko-toko yang menjadi pelanggan tetap sirup yakni biasanya pengusaha Sri Rahayu melakukan pengisian produk sirup rosella dari 2 kali seminggu sekarang permintaan sirup rosella meningkat menjadi 1 kali dalam seminggu.

Ancaman (threats)

1. Adanya pesaing dari produk sejenis

Adanya produk yang sejenis dipasaran, akan dapat mengakibatkan adanya persaingan antara sesama produk dan ini akan menyebabkan persaingan dalam penjualan dari sirup rosella ini. Beberapa produk yang menjadi pesaing produk minuman rosella dalam negri khususnya produk rosella Srigryllus Latansa adalah minuman rosella yang datang dari luar negeri yakni minuman rosella dari negara Malaysia. Harga yang tawarkan untuk minuman rosella 100 ml adalah Rp. 10.000 per botol.

2. Fluktuasi harga bahan baku produksi

Bahan baku merupakan syarat pokok dalam membuat sirup rosella. Dengan berfluaktuasinya harga bahan baku akan dapat mengakibatkan ancaman pada agroindustri ini. Ancaman akan muncul jika harga bahan baku meningkat drastis maka dapat mengakibatkan rendahnya pendapatan dari pengusaha.

3. Sirup kesehatan agroindustri lain.

Seiring dengan banyaknya permintaan konsumen akan produk sirup yang memiliki manfaat bagi kesehatan maka akan memunculkan pesaing yang baru dengan produk yang sama dan menyebabkan terancamnya jumlah penjualan dari sirup rosella. Selain itu juga pesaing lain yang banyak di temui dipasar untuk saat ini adalah teh hitam. Berikut akan di sajikan gambar produk teh hitam yang di temui di pasaran.

Gambar 5. Kemasan Teh Hitam

Berdasarkan uraian analisis SWOT diatas, maka dapat dijelaskan bahwa terdapat empat kelompok alternatif strategi dengan mengacu pada matriks SWOT (Lampiran 1). Empat kelompok alternatif tersebut terdiri dari kombinasi-kombinasi, yaitu SO (Kekuatan/Strengths dan Peluang/Opportunities), ST (Kekuatan/Strenghts dan Ancaman/Threats), WO (Kelemahan/Weaknesses dan Peluang/Opportunities) dan WT (Kelemahan/Weaknesses dan Ancaman/Treaths) yang dapat disajikan sebagai berikut:

Strategi SO

1. Menjaga hubungan yang baik dengan pedagang perantara yang ada dan terus merekrut banyak pedagang perantara untuk menciptakan jaringan pemasaran yang luas.

2. Selalu mengikuti pameran dan pelatihan dari berbagai instansi pemerintah ataupun swasta untuk meningkatkan promosi dan kualitas agroindustri. 3. Meningkatkan jumlah kapasitas produksi dan outlet pemasaran untuk

memenuhi permintaan konsumen yang tinggi.

4. Lebih gencar melakukan promosi akan harga produk yang murah dengan kualitas yang terjaga untuk menarik minat konsumen.

1. Mempertahankan harga produk yang kompetitif baik ketika permintaan konsumen tinggi ataupun rendah.

2. Melakukan diversifikasi produk baik dari segi rasa ataupun jenis produk. 3. Menjalin hubungan kerja sama yang kuat dengan pemasok bahan baku. 4. Menciptakan jaringan distribusi yang kuat baik di daerah-daerah maupun

pusat kota untuk terus memenuhi permintaan pasar.

Strategi WO

1. Menguatkan modal melalui pinjaman dari kredit lembaga perbankan untuk mengatasi kesulitan modal.

2. Selalu mengikuti pameran dari berbagai instansi untuk meningkatkan promosi guna memperkenalkan produk sirup rosella.

3. Menciptakan kemasan yang menarik dengan berbagai ukuran dan harga. 4. Menambah karyawan sehingga pemasaran produk lebih banyak dinikmati

masyarakat.

5. Melengkapi label dengan manfaat yang terkandung dalam sirup rosella.

Strategi WT

1. Meningkatkan promosi produk agar dapat bersaing dengan produk sejenis seperti memberikan bonus atau discount setiap pembelian dalam skala besar untuk menarik minat konsumen yang lebih tinggi.

2. Memaksimalkan pasokan bahan baku dari luar untuk ketersediaan bahan baku.

Dalam rangka memilih alternatif strategi yang menjadi prioritas dalam penetapan strategi pemasaran agroindustri sirup rosella, maka dilakukan penilaian terhadap komponen-komponen masing-masing unsur SWOT, dengan cara menyesuaikan beberapa pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi usaha agroindustri sirup rosella. Penilaian berdasarkan logika pemikiran dan informasi dari pengusaha. Penilaian tersebut dapat dilihat pada Tabel 7 sebagai berikut : Tabel 7. Distribusi nilai-nilai pada masing-masing komponen SWOT

Kekuatan (S) Kelemahan (W) Peluang (O) Ancaman (T)

S1 2 W1 2 O1 2 T1 2 S2 2 W2 2 O2 3 T2 3 S3 2 W3 3 O3 3 T3 3 S4 3 W4 3 O4 3 T4 2 Keterangan : 3 = Sangat Penting 2 = Penting 1 = Tidak Penting

Mengenai alternatif pemilihan strategi pemasaran yang menjadi prioritas pada agroindustri sirup rosella dapat dilihat pada Tabel 8 sebagai berikut :

Tabel 8. Alternatif Pemilihan Strategi Pemasaran Agroindustri sirup rosella

Unsur SWOT

SO1 SO2 SO3 SO4 S4, O1, O3, O4 S1, S2, O2 S3, S4, O1, O3, O4 S1, S2, S3, S4, O1,O3,O4 11 7 13 17 4 7 3 1 ST1 ST2 ST3 ST4 S4, T1, T5 S3, S4, T1, T5 S4, T2, T3 S4, T1, T4, T5 6 8 9 8 8 6 5 6 WO1 WO2 WO3 W4, O1, O4 W1, W3,O2, O3, O4 W2, W3, O2 8 14 9 6 2 5 WT1 WT2 WT3 WT4 W1, T1, T5 W3, T2, T3 W3, W4, T4 W3, T3 5 9 8 6 9 5 6 8 Berdasarkan nilai pembobotan yang telah dilakukan, maka dapat ditentukan alternatif strategi pemasaran yang dapat diterapkan oleh pengusaha agroindustri sirup rosella “Sri Rahayu“ sebagai berikut :

1. Lebih gencar melakukan promosi akan harga produk yang murah dengan kualitas yang terjaga untuk menarik hati konsumen.

2. Selalu mengikuti pameran dari berbagai instansi untuk meningkatkan promosi guna memperkenalkan produk sirup rosella.

3. Meningkatkan jumlah kapasitas produksi dan outlet pemasaran untuk memenuhi permintaan konsumen yang tinggi.

4. Menjaga hubungan yang baik dengan pedagang yang ada dan terus merekrut banyak pedagang perantara untuk menciptakan jaringan pemasaran yang luas.

5. Menciptakan kemasan yang menarik dengan berbagai ukuran dan harga.

V.KESIMPULAN DAN SARAN

1. Terkait aspek Teknis Dan Teknologi, teknologi (peralatan) yang digunakan dalam Agroindustri sirup rosella menggunakan peralatan sederhana (peralatan rumah tangga sehari-hari). Proses produksi dilaksanakan dalam 8 tahapan: Pemilihan bahan baku rosella, perebusan air, pencampurkan rosella kering, pendinginan, pemanasan ulang, pendinginan, pembotolan, dan pemberian

Dokumen terkait