• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek pemberdayaan masyarakat

Keterlibatan masyarakat dalam bidang kesehatan dapat diukur dari berbagai segi, salah satunya dapat dilihat dari aspek peran serta masyarakat dalam membina gampong siaga aktif, jumlah pos pelayanan terpadu (posyandu) dan jumlah kader kesehatan. Saat ini jumlah gampong siaga aktif baru hanya 705 (11%) dari 6.450 total gampong yang ada di Aceh. Sementara itu jumlah posyandu di Aceh tahun 2011 sudah memadai dengan jumlah posyandu 7.368 dari 6.450 desa, berarti ada 1 (satu) gampong yang memiliki lebih dari 1 (satu) posyandu. Sementara itu jumlah kader yang tercatat sudah mencapai 26.412 kader, artinya ada 3-4 kader per posyandu, namun demikian tingkat keaktifan kader cukup fluktuatif dan pengetahuan kader yang cukup variatif.

2.1.3.1.4. Ketahanan Pangan

Secara umum, kondisi ketahanan pangan Aceh cenderung semakin baik dan kondusif, walaupun kualitas konsumsi pangan masyarakat berdasarkan Pola Pangan Harapan (PPH) pada tahun 2013 belum memuaskan. Kondisi ketahanan pangan Aceh yang cenderung semakin baik, ditunjukkan oleh beberapa indikator ketahanan pangan berikut:

1. Beberapa produksi komoditas pangan penting mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan khusus beras pada tahun terus mengalami surplus

2. Harga-harga pangan pokok cenderung stabil, baik secara umum maupun pada saat menjelang hari-hari besar nasional pada saat Puasa, Idul Fitri, kecuali daging pada saat hari meugang

3. Pendapatan masyarakat meningkat, yang diukur dari nilai upah buruh tani dan upah pekerja informal

4. Proporsi penduduk miskin dan rawan pangan semakin menurun

Upaya Pemerintah Aceh dalam mendorong pemantapan ketahanan pangan tersebut, dilakukan melalui penguatan koordinasi perumusan kebijakan dan langkah-langkah implementasi pemantapan ketahanan pangan masyarakat, melalui pengembangan desa mandiri pangan, penanganan daerah rawan pangan, pemberdayaan lumbung pangan masyarakat, penguatan lembaga ekonomi pedesaan (LUEP), penguatan lembaga distribusi pangan masyarakat (LDPM), serta percepatan penganekaragaman/diversifikasi konsumsi pangan.

Aspek ketahanan pangan yang menjadi urusan wajib pemerintah meliputi : 1) Ketersedian dan cadangan pangan, 2) Distribusi dan akses pangan, 3) Penganekaragaman dan keamanan pangan, dan 4) Penanganan. Aspek tersediaan dan cadangan pangan terus mengalami peningkatan sebagaimana tercermin pada sebagian besar produksi komoditas pangan penting selama mengalami pertumbuhan yang positif. Rata-rata konsumsi protein penduduk Aceh telah melampaui Angka Kecukupan Protein (AKP) yang dianjurkan yaitu 52 gram/kapita/hari.Akan tetapi jika ditinjau dari segi kualitas proteinyang dikonsumsi, masih didominasi oleh pangan sumber karbohidrat, terutama beras dan protein nabati lainnya. Protein hewani hanya menyumbang 34-38% dari total protein yang dikonsumsi. Untuk komoditas pangan nabati, produksi padi pada tahun 2013 mencapai 1,96 juta ton atau selisih 0,26 juta ton dari target 2.25 juta ton.

Demikian juga dengan aspek distribusi dan akses pangan yang mengalami perkembangan yang positif. Hal tersebut dapat dilihat dari indikator inflasi kelompok bahan makan yang relatif terjaga pada angka moderat. Ini disebabkan oleh infrstruktur yang semakin baik dan distribusi barang yang lancar.

Dua aspek lagi yaitu penganekaragaman pangan dan keamanan pangan serta penanganan daerah rawan pangan belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Tingkat konsumsi beras yang masih tinggi dan kemanan pangan yang relatif belum baik akan menjadi perhatian Pemerintah Aceh di masa yang akan datang. Berikut Kami kirimkan Usulan Kebutuhan Belanja Rutin Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh Tahun 2015.

2.1.3.1.5. Penanaman Modal

2.1.3.1.5.1 Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA)

Jumlah perusahaan yang melakukan investasi di Aceh baik jenis PMA maupun PMDN terus mengalami peningkatan, Pada tahun 2010 jumlah perusahaan dalam negeri yang menanamkan modal sejumlah 4 perusahaan yang tersebar di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Utara dan Aceh Barat. Pada tahun 2012, terjadi peningkatan signifikan menjadi 22 perusahaan dalam negeri yang melakukan investasi di Aceh dan tersebar di sembilan provinsi.

Jumlah perusahaan asing yang melakukan investasi di Aceh juga mengalami peningkatan yang menggembirakan. Pada tahun 2012, Penanaman Modal Asing (PMA) melibatkan 46 perusahaan yang tersebar empat belas kabupaten/kota. Realisasi jumlah perusahaan asing ini melonjak 170, 6 persen dari tahun 2010 yang berjumlah 17 perusahaan dan tersebar pada sembilan kabupaten kota.

2.1.3.1.5.2 Jumlah Nilai Investasi Berskala Nasional (PMDN/PMA)

Perkembangan investasi di Aceh mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Selama periode 2010-2012 realisasi investasi asing yang terjadi meningkat 414 persen yaitu Rp. 45,765,469,620,-- pada tahun 2010 menjadi Rp. 235,198,932,930,-- pada tahun 2012. Dari sisi sektor tujuan investasi tahun 2012, sektor primer menempati peringkat pertama diikuti oleh sektor tersier dan sekunder dengan proporsi masing-masing sebesar 88 persen, 8 persen dan 4 persen. Besarnya proporsi sektor primer dalam realisasi investasi asing disumbang oleh sub-sektor tanaman pangan dan perkebunan yang merebut dua pertiga dari total investasi asing di sektor yang berbasis sumber daya alam ini. Kontribusi signifikan lainnya diberikan oleh sub-sektor pertambangan yaitu sebesar 24 persen.

Untuk realisasi investasi dalam negeri juga mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2010 realisasi investasi oleh perusahaan dalam negeri tercatat sebesar Rp. 40.990.500,-. Besaran realisasi ini melonjak drastis pada tahun 2012 menjadi Rp.1.034.004.769.926,-. Dari total investasi terakhir, sektor primer kembali menyumbang realisasi terbesar yaitu Rp. 838.418.541.193,-- dengan proporsi sub-sektor tanaman pangan dan perkebunan sebesar 99 persen dan subsector pertambangan sebesar 1 persen. Sektor sekunder juga menjadi tujuan investasi dalam negeri dan membukukan realisasi investasi sebesar Rp. 195.586.228.733,- atau 19 persen dari total realisasi penanaman modal dalam negeri tahun 2012. Jika dilihat lebih dalam lagi, investasi perusahaan domestik lebih tertujukan pada sub-sektor industri makanan, kayu dan lainnya.

Dilihat secara umum, sektor yang terlihat menarik bagi investor di Aceh adalah sektor primer, terutama sub-sektor tanaman pangan dan perkebunan serta sektor pertambangan. Sedangkan sektor lainnya seperti sekunder dan tersier hanya mempunyai proporsi relatif tidak signifikan. Komposisi realisasi seperti diatas tidak ideal karena ekstraksi sumber daya alam tidak dibarengi oleh proses pertambahan nilai yang memadai sehingga kemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki Aceh tidak maksimal dinikmati oleh rakyat.

2.1.3.1.6. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat, tenaga kerja yang bekerja pada PMA dan PMDN berupa tenaga kerja asing dan tenaga kerja lokal (Indonesia), Dari investasi PMA yang terealisasi di Aceh pada tahun 2012, penyerapan tenaga kerja yang terjadi adalah 5,587 orang dengan perincian 5,564 tenaga kerja diserap adalah tenaga kerja lokal/Indonesia dan selebihnya adalah tenaga kerja asing. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada tahun yang sama menyerap 15,154 tenaga kerja Indonesia dan 1 tenaga kerja asing.

Rasio daya serap tenaga kerja yaitu perbandingan antara jumlah tenaga kerja yang bekerja pada PMA/PMDN dengan jumlah seluruh PMA/PMDN, Di Aceh rasio daya serap tenaga kerja pada PMA yaitu 119 orang per PMA dan pada PMDN 631 orang per PMDN. Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA), Nilai Investasi Berskala Nasional (PMDN/PMA) dan Rasio Daya Serap Tenaga Kerja lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.25

Tabel 2.25

Perkembangan Investasi Berskala Nasional (PMA/PMDN) Tahun 2012 No Jenis Investasi Jumlah Rencana Investasi Rencana Investasi Realisasi Investasi Rencana Penyerapan Tenaga Kerja Realisasi Penyerapan Tenaga Kerja Asing (orang) Indonesia/Lokal (Orang) Asing (orang) Indonesia/ Lokal (Orang) 1 Penanaman Modal Asing (PMA) 20 US$. 109.000 Ribu US$ 26.133 Ribu - 102 23 5,587 2 Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) 92 Rp. 1.938 Milyar Rp. 1,034 Milyar - 5,302 1 15,154

2.1.3.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan

2.1.3.2.1. Pertanian

Pembangunan sektor pertanian merupakan fokus utama Pemerintah Aceh hal ini karena sebagian besar penduduk Aceh menggantungkan penghidupannya di Sektor Pertanian. Sub sektor Pertanian Tanaman Pangan, Perikanan, Peternakan dan Perkebunan memegang peranan penting dalam penyediaan lapangan kerja terhadap angkatan kerja di Aceh. Demikian juga Sektor Pertanian mempunyai peranan sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Kinerja Pemerintah Aceh dalam Sektor Pertanian diukur dari dua peran penting di atas yaitu sebagai penyediaan lapangan kerja dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Produksi tanaman pangan dan hortikultura terus mengalami peningkatan yang signifikan khususnya padi. Pada tahun 2013 produksi tanaman pangan utama masing-masing padi, jagung dan kedelai adalah 1.99 juta ton. Namun demikian peningkatan produksi padi masih dibawah target RPJM yaitu 2.25 juta ton pada tahun 2013. Peningkatan produksi ini juga disertai dengan peningkatan produktifitas.

Demikian juga dengan Sub Sektor Perkebunan yang mengalami peningkatan produksi dan produktifitas pada tahun 2013. Tiga komoditi utama perkebunan yang menjadi komoditi unggulan Aceh adalah sawit, karet dan kakao. Ketiga komoditi utama tersebut mengalami peningkatan produksi yang masing-masing mecapai

Perkebunan kelapa sawit raktyat dengan luas areal 199.464 ha menduduki urutan pertama sebagai komoditi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap sektor perkebunan. Luas perkebunan sawit rakyat dan perkebunan besar berimbang masing-masing 50%. Akan tetapi produktifitas sawit perkebunan besar lebih dari dua kali lipat produksi sawit rakyat. Tahun 2013 produksi sawit raktyat mencapai 386.185 ton, mengalami peningkatan 24.5 persen dari produksi tahun 2012.

Perkebunan karet rakyat pada tahun 2013 mencapai 171.038 ha dengan produksi 100.235 ton. Meingkat 28 persen dari produksi perkebunan karet rakyat tahun 2012. Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Agribisnis karet alam di masa datang akan mempunyai prospek yang makin cerah karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya industri polimer pengguna karet serta makin langka sumber-sumber minyak bumi dan makin mahalnya harga minyak bumi sebagai bahan pembuatan karet sintetis

Berbeda dari kedua komoditi sebelumnya kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian Aceh, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja karena umumnya perkebunan kakao merupakan perkebunan rakyat. Di samping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Perkebunan kakao di Aceh mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 2011-2012. Luas areal perkebunan kakao Aceh tercatat seluas 99.428 ha pada tahun 2012, meningkat 12 ribu ha dalam satu tahun. Akan tetapi Agribisnis kakao di Aceh masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao

Disamping tiga komoditi andalan diatas terdapat komoditi penting lainnya yang karena mempunyai kekhasan daerah yaitu kopi dan nilam. Kedua komoditi ini telah mendapat sertifikasi hak indikasi geografis sehingga mempunyai nilai cukup strategis untuk ekonomi Aceh. Perkebangan kedua komoditi tersebut sangat berbeda. Kopi arabika yang umumnya hidup di dua kabupaten yaitu Bener Meriah dan Aceh Tengah telah mengalami pengembangan yang cukup baik dari sisi pembudidayaan dan telah menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat di dua kabupaten tersebut. Dapat dikatakan 99 persen produksi kopi arabika adalah diekspor dan kurang dari 1 persen yang dapat diolah dan dikonsumsi dalam negeri. Hal ini menyebabkan sebagian besar nilai tambah dari komoditi kopi belum dapat dinikmati oleh rakyat akan tetapi dinikmati oleh industri beverage di luar negeri. Nilam yang merupakan komoditi andalan khas Aceh yang pengembangannya belum memadai. Akibat harganya yang tidak menentu tanaman semusim ini tidak dapat dijadikan sumber penghidupan bagi pekebun. Perkebunan nilam hanya dijadikan sebagai sumber pendapatan sampingan di luar pekerjaan utama petani. Dengan diperolehnya sertifikasi hak indikasi geografis minyak nilam Aceh diharapkan dapat menjadi momentum pengembangan minyak nilam Aceh kedepan.

Lebih lanjut, untuk pembangunan kelautan dan perikanan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tiga tujuan utama, yaitu pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Pencapaian kinerja pelayanan sektor Kelautan dan Perikanan Aceh telah menunjukkan berbagai hasil yang diharapkan.

Terdapat lima indikator kinerja hasil pembangunan kelautan dan perikanan yaitu (1) Jumlah kelembagaan ekonomi masyarakat pesisir yang mandiri meningkat 25%; (2) Aktifitas

illegal fishing di perairan Aceh kecenderungan menurun; (3) Produksi perikanan meningkat tiap tahun rata-rata 11% (4) Produksi ikan olahan meningkat sebesar 10% dan (5) Konsumsi Ikan masyrakat Aceh pada 2013i 42 kg/kapita/tahun, yang berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah 2.1.4.1 Fokus Iklim Berinvestasi 2.1.4.1.1 Angka Kriminalitas

Tindak kejahatan yang terjadi di Aceh secara umum mengalami penurunan dimana pada tahun 2009 tercatat 3.051 kasus dan 2012 tercatat 2445 kasus(tidak termasuk kasus narkotika). Pada umumnya tindak kejahatan tersebut berupa pencurian, penganiayaan, pembunuhan, perkosaan dan narkotika (Tabel 2.26). Dari data yang ada terlihat bahwa tindak kejahatan yang paling menonjol di Aceh adalah pencurian kendaraan bermotor (1.428 kasus), dan pencurian dengan pemberatan (505 kasus).

Tabel 2.26

Jumlah Tindak Pidana Menonjol di Aceh Tahun 2009 – 2012

No. KASUS TAHUN

2009 2010 2011 2012

1. Pencurian dengan pemberatan 502 529 751 505 2. Pencurian kendaraan bermotor 992 1.368 1.437 1.428 3. Pencurian dengan kekerasan 227 220 183 96

4. Penganiayaan berat 351 411 377 191 5. Kebakaran 129 72 39 31 6. Pembunuhan 40 31 40 34 7. Perkosaan 93 88 91 64 8. Penadahan 21 47 44 87 9. Uang palsu 11 10 2 9 10. Narkotika 685 719 772 Na Provinsi 3.051 3.495 3.736 2.445

Sumber : Polda NAD, 2009 dan BPS, 2012

2.1.4.2 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah

Dokumen terkait