DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... I - 1 1.1 Latar Belakang ... I - 1 1.2 Landasan Hukum Penyusunan ... I - 2 1.3 Hubungan Antar Dokumen ... I - 3 1.4 Sistematika Dokumen RKPA ... I - 3 1.5 Maksud dan Tujuan ... I - 4

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPA TAHUN 2012 DAN

CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH ... II - 1 2.1 Gambaran Umum Kondisi Aceh ... II - 1 2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi ... II - 1 2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat ... II - 6 2.1.3 Aspek Pelayanan Umum ... II - 21 2.1.4 Aspek Daya Saing Daerah ... II - 38 2.2 Evaluasi Konsistensi RPJMA, RKPA dan APBA serta Hasil

Pelaksanaan RKPA Tahun 2013 ... II - 49 2.2.1 Evaluasi Konsistensi RPJM Aceh 2012-2017 (Rencana

Tahun 2013) dan Evaluasi RKPA 2013 ... II - 49 2.2.2 Hasil Evaluasi Konsistensi RPJM Aceh 2017-2012

(Rencana Tahun 2013) dengan RKPA Tahun 2013 ... II - 50 2.2.3 Hasil Evaluasi Konsistensi RPJM Aceh 2007-2012

(Rencana Tahun 2013) dengan APBA Tahun 2013 ... II - 52 2.2.4 Hasil Evaluasi Konsistensi RKPA 2013 dengan APBA

Tahun 2013 ... II - 53 2.3 Evaluasi Hasil Pelaksanaan RKPA 2013 ... II - 55 2.4 Permasalahan Pembangunan Daerah ... II -

2.4.1 Permasalahan Daerah yang berhubungan dengan

Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah ... II -

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN

KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH ... III - 1 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Aceh ... III - 1 3.1.1 Kondisi Ekonomi Global dan Nasional ... III - 1 3.1.2 Kondisi Ekonomi Aceh Tahun 2013 ... III - 3 3.1.3 Perkiraan Tahun 2014 ... III - 7 3.1.3 Tantangan dan Prospek Perekonomian Aceh

Tahun 2015 dan Tahun 2016 ... III - 10 3.2 Arah Kebijakan Keuangan Aceh ... III - 11

3.2.1 Proyeksi Keuangan Aceh dan Kerangka Pendanaan

Proyeksi Keuangan Aceh ... III - 12 3.2.2 Arah Kebijakan Keuangan Aceh ... III - 13 BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN ACEH ... IV - 1

4.1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan ... IV - 2 4.2 Prioritas dan Pembangunan ... IV - 8 Da ft ar Is i | Re ncan a Ke rja Peme ri nt ah A ceh ( RK PA ) Tahu n 20 15 i

(3)

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS ACEH ... V - 1

BAB VI PENUTUP ... VI - 1

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perkembangan Nilai dan Kontribusi Sektor-sektor terhadap PDRB

Aceh Tahun 2009-2013 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 ... II - 7 Tabel 2.2 Kontribusi Sektor-sektor terhadap PDRB Aceh dengan Migas

selama tahun 2009-2013 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb)

dan Harga Konstan (Hk) ... II - 8 Tabel 2.3 Perkembangan Kontribusi Sektor-sektor terhadap PDRB Aceh Tanpa

Migas Selama tahun 2009-2013 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb)

dan Harga Konstan (Hk) ... II - 8 Tabel 2.4 IHK dan Tingkat Inflasi Kota Banda Aceh Desember 2013, Tahun

Kalender 2013 dan year on Year menurut Kelompok Pengeluaran

(2007=100) ... II - 10 Tabel 2.5 Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin menurut Kabupaten /Kota

tahun 2008-2012 ... II - 10 Tabel 2.6 Angka Melek Huruf di Provinsi Aceh Tahun 2009-2012 ... II - 12 Tabel 2.7 Persentase Penduduk Buta Huruf Menurut Kelompok Umur dan

Daerah Tempat Tinggal Tahun 2012... II - 13 Tabel 2.8 Angka Rata-rata Lama Sekolah di Provinsi Aceh Tahun 2009-2012 ... II - 14 Tabel 2.9 Persentase Penduduk Berdasarkan Pendidikan Tertinggi yang

Ditamatkan... II - 14 Tabel 2.10 Atlet, Pelatih, Sekolah, Klub dan Gedung Olahraga ... II - 19 Tabel 2.11 Jumlah Wisatawan Mancanegara dan Nusantara yang Datang ke

Aceh Tahun 2011-2012 ... II - 20 Tabel 2.12 Jumlah Da’I di Wilayah Perbatasan dan Terpencil ... II - 21 Tabel 2.13 Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Kelompok Usia Sekolah

Di Aceh Tahun 2012 ... II - 21 Tabel 2.14 Indikator Pelayanan Pendidikan TK/RA Tahun 2009-2012 ... II - 23 Tabel 2.15 Rasio IdealGuru dan Anak Berdasarkan Permendiknas Nomor 58

Tahun 2009 ... II - 23 Tabel 2.16 Jumlah Pendidik PAUD dan Tenaga Ahli Menurut Pendidikan Provinsi

Aceh Tahun 2012 ... II - 24 Tabel 2.17 Indikator Ketersediaan Layanan Pendidikan pada SD/MI Tahun

2007-2012 ... II - 25 Tabel 2.18 Indikator Kualitas Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan

SD/MI Tahun 2010-2012 ... II - 26 Tabel 2.19 Indikator Ketersediaan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan

SMP/MTs Tahun 2007-2012 ... II - 27 Tabel 2.20 Indikator Ketersediaan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan

SMA/MA/SMK tahun 2007-2012 ... II - 28 Tabel 2.21 Indikator Kualitas Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan

SMA/MA/SMK Tahun 2010-2012 ... II - 29 Tabel 2.22 Jumlah Dayah dan Balai Pengajian di Aceh ... II - 30 Tabel 2.23 Jumlah Saranan Pelayanan Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2012 ... II - 31 Tabel 2.24 Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 Penduduk Tahun 2012 ... II - 31 Tabel 2.25 Perkembangan Investasi Berskala Nasonal (PMA/PMDN) Tahun

2012 ... II - 35 Tabel 2.26 Jumlah Tindak Pidana Menonjol di Aceh Tahun 2009-2012 ... II - 38 Tabel 2.27 Produktivitas Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor Usaha ... II - 39 Tabel 2.28 Nilai Tukar Petani Berdasarkan Sub Sektor Tahun 2011-2013 ... II - 41 Tabel 2.29 Perkembangan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Tahun

2008-2012 ... II - 43

(5)

Tabel 2.30 Status Jalan Nasional dan Jalan Provinsi di Aceh Tahun 2006 s.d.

2012 ... II - 46 Tabel 2.31 Hasil Evaluasi RKPA Tahun 2013 pada Bidang Prioritas Berdasarkan

Kuadran ... II - 56 Tabel 2.32 Evaluasi Hasil Pelaksanaan Perencanaan daerah Sampai Dengan

Tahun 2013 di Aceh ... II - 57 Tabel 3.1 Perkembangan Indikator Makro Tahun 2012-2013 dan Proyeksi

Tahun 2014 ... III - 9 Tabel 3.2 Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Aceh Tahun 2012 s.d.

Tahun 2016 ... III - 13 Tabel 3.3 Realisasi dan Proyeksi/Target Belanja Aceh Tahun 2012 s.d.

Tahun 2016 ... III - 17 Tabel 3.4 Realisasi dan Proyeksi/Target Pembiayaan Daerah Tahun 2012

s.d. Tahun 2016 ... III - 18 Tabel 4.1 Hubungan Visi/Misi dan Tujuan/Sasaran Pembangunan ... IV - 3 Tabel 4.2 Penjelasan Program Pembangunan Daerah Tahun 2015 ... IV - 12 Tabel 5.1 Proporsi Usulan Rencana Program Kegiatan Berdasarkan Isu

Strategis Pembangunan RKPA Tahun 2014 ... V - 2 Tabel 5.2 Program dan Kegiatan SKPA Provinsi Aceh Tahun 2014 ... V - 3 - Dinas Pendidikan ... V - 3 - Badan Dayah... V - 47 - Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah ... V - 54 - Dinas Kesehatan ... V - 61 - Rumah Sakit Umum dr.Zainoel Abidin ... V - 77 - Rumah Sakit Jiwa ... V - 87 - Rumah Sakit Ibu dan Anak ... V - 92 - Dinas Bina Marga ... V - 101 - Dinas Pengairan ... V - 106 - Dinas Cipta Karya ... V - 117 - BAPPEDA ... V - 127 - Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika ... V - 135 - BAPEDAL ... V - 149 - Dinas Registrasi Kependudukan... V - 158 - Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ... V - 163 - Dinas Sosial ... V - 170 - Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk ... V - 186 - Dinas Koperasi dan UKM ... V - 193 - Badan Investasi dan Promosi ... V - 198 - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ... V - 203 - Majelis Adat Aceh ... V - 212 - Keurukon Katibul Wali ... V - 217 - Dinas Pemuda dan Olahraga ... V - 223 - Badan KesbangLinmas ... V - 239 - Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah ... V - 245 - DPRA ... V - 251 - Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ... V - 252 - Sekretariat Daerah ... V - 253 - Sekretariat DPRA ... V - 255 - Dinas Keuangan ... V - 261 - Inspektorat ... V - 269 - Kantor Perwakilan Pemerintah Aceh di Jakarta ... V - 273 - Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan ... V - 278 - Dinas Syariat Islam... V - 286 - Majelis Permusyawaratan Ulama ... V - 295 iv Re nca na K erj a Pe me rin tah Ace h ( RK P A) Tahu n 201 5 | Da ft ar Is i

(6)

- Baitul Maal ... V - 302 - Badan Penanggulangan Bencana Aceh ... V - 306 - Badan Pelayanan Perizinan Terpadu ... V - 316 - Sekretariat KORPRI ... V - 321 - Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh ... V - 326 - Biro Umum dan Protokol ... V - 332 - Biro Tata Pemerintahan ... V - 336 - Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat ... V - 341 - Biro Hubungan Masyarakat ... V - 346 - Biro Hukum ... V - 348 - Biro Administrasi Pembangunan ... V - 350 - Biro Ekonomi ... V - 353 - Biro Organisasi ... V - 359 - Kantor Perwakilan Pemeritah Aceh di Medan ... V - 364 - Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan ... V - 368 - Badan Pemberdayaan Masyarakat ... V - 373 - Badan Arsip dan Perpustakaan ... V - 382 - Dinas Pertanian Tanaman Pangan ... V - 388 - Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan ... V - 396 - Dinas Perkebunan ... V - 402 - Dinas Kehutanan ... V - 411 - Dinas Pertambangan dan Energi ... V - 420 - Dinas Kelautan dan Perikanan ... V - 429 - Dinas Perindustrian dan Perdagangan ... V - 437

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Perkembangan Inflasi Banda Aceh, Lhokseumawe, Provinsi

Aceh dan Nasional Desember 2012 – Desember 2013 ... II - 9 Gambar 2.2 Perbandingan Nilai Penyakit Tidak Menular Utama ... II - 17 Gambar 2.3 Perkembangan Produktivitas Tenaga Kerja terhadap Sektor PDRB ... II - 40 Gambar 2.4 Distribusi dan Laju Pertumbuhan PDRB menurut Penggunaan

Tahun 2012-2013 ... II - 42 Gambar 2.5 Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan Tahun 2012-2013 .... II - 42 Gambar 2.6 Konsistensi Jumlah Program RPJMA-RKPA Tahun 2013 ... II - 50 Gambar 2.7 Konsistensi Pagu Program RPJMA-RKPA Tahun 2013 ... II - 51 Gambar 2.8 Konsistensi Jumlah Program RPJMA-APBA Tahun 2013 ... II - 52 Gambar 2.9 Konsistensi Pagu Program RPJMA-APBA Tahun 2014 ... II - 53 Gambar 2.10 Konsistensi jumlah Program RKPA – APBA Tahun 2013 ... II - 54 Gambar 2.11 Konsistensi Pagu Program RKPA-APBA Tahun 2013 ... II - 55 Gambar 3.1 Sebaran Tingkat Kemiskinan Aceh per Kabupaten Kota Tahun 2012 . III – 5 Gambar 3.2 Distribusi Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran di Kabupaten/

Kota Tahun 2012 ... III – 6 Gambar 3.3 Perkembangan Inflasi Bulanan Aceh Tahun 2013 ... III – 7

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Rencana Kerja Pemerintah Aceh yang selanjutnya disingkat (RKPA) merupakan dokumen perencanaan Aceh untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut juga Rencana Pembangunan Tahunan daerah yang disusun berdasarkan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) Tahun 2012-2017, Rencana Strategis SKPA serta Rancangan Awal Rencana Kerja SKPA sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang 25 Tahun 2004.

Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, Permendagri Nomor 59 tahun 2007 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Khusus untuk Pemerintah Aceh sesuai dengan Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh, rencana kerja tahunan pembangunan daerah ini disebut dengan Rencana Kerja Pembangunan Aceh (RKPA).

Berdasarkan Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2012-2017, pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintahan Aceh Tahun 2015 ini merupakan penjabaran tahun ketiga pelaksanaan RPJMA tahun 2012-2017 yang menitikberatkan kepada Peningkatan produktivitas dan daya saing dalam penguatan perekonomian yang berkeadilan yang mendukung kebijakan pembangunan tahun 2015 penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, reformasi birokrasi, penerapan dinul islam, adat dan budaya serta keberlanjutan perdamaian, peningkatan infrstruktur yang terintegrasi, ketahanan pangan dan nilai tambah, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, serta peningkatan investasi dan pemanfaatan potensi SDA yang berwawasan lingkungan.

LAMPIRAN

PERATURAN GUBERNUR NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH ACEH TAHUN 2015

(9)

1.2 LANDASAN HUKUM PENYUSUNAN

1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara; 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Permerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah;

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;

6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembanguan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015;

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2012;

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pembangunan Daerah tahun 2015;

15. Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh;

(10)

16. Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus; 17. Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Panjang Aceh Tahun 2012 – 2032;

18. Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus;

19. Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2012-2017;

20. Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RTRWA) tahun 2013-2023;

21. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 79 Tahun 2013 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Dana Otonomi Khusus.

1.3 HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN

Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) Tahun 2015 merupakan penjabaran dari Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) Tahun 2012-2017. RKPA akan ditindak lanjuti dengan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) dan menjadi pedoman dalam penyusunan RAPBA Tahun Anggaran 2015.

1.4 SISTEMATIKA DOKUMEN RKPA

RKPA Tahun 2015 disusun dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1.2. Landasan Hukum

1.3. Hubungan antar Dokumen 1.4 Sistematika Dokumentasi RKPA 1.5 Maksud dan Tujuan

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPA TAHUN 2013 DAN CAPAIAN

KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH 2.1. Gambaran Umum Kondisi Aceh

2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.1.3. Aspek Pelayanan Umum

2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah

(11)

2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPA Sampai Tahun Berjalan dan Realisasi RPJMA

2.3. Permasalahan Pembangunan Aceh

2.3.1. Permasalahan Daerah yang berhubungan dengan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Aceh

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN ACEH

3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Aceh 3.1.1. Kondisi Ekonomi Makro Aceh 3.1.2. Perkiraan Tahun 2014

3.1.3. Tantangan dan Prospek Perekonomian Aceh Tahun 2015 Dan Tahun 2016

3.2. Arah Kebijakan Keuangan Aceh

3.2.1. Proyeksi Keuangan Aceh dan Kerangka Pendanaan Proyeksi Keuangan Aceh

3.2.2. Arah Kebijakan Keuangan Aceh

3.2.2.1. Arah Kebijakan Pendapatan Aceh 3.2.2.2. Arah Kebijakan Belanja Aceh 3.2.2.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Aceh

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN ACEH

4.1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan 4.2 Prioritas dan Pembangunan

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS ACEH

BAB VI PENUTUP

1.5 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari Penyusunan RKPA Tahun 2015 adalah sebagai berikut:

1. Menjadi pedoman bagi Pemerintah Aceh, DPRA, Dunia Usaha dan masyarakat dalam menentukan program dan kegiatan tahunan yang akan dituangkan ke dalam KUA dan PPAS Tahun 2015;

2. Komitmennya Pemerintah Aceh dalam melaksanakan pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat dalam rangka mensejahterakan masyarakat.

Sedangkan Tujuan Penyusunan RKPA Tahun 2015 adalah sebagai berikut:

1. Memperkuat Perekonomian yang Inklusif Melalui Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Pengangguran Menuju Aceh Sejahtera;

2. Tercapainya sasaran Pembangunan sebagaimana yang sudah diamanahkan dalam RPJMA serta terwujudnya efektifitas pelaksanaan program dan kegiatan.

(12)

BAB II

EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPA TAHUN 2013 DAN

CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH

2.1. Gambaran Umum Kondisi Aceh 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi A. Kondisi Geografis Daerah

Wilayah Aceh terletak di ujung utara Pulau Sumatera dan sekaligus merupakan wilayah paling barat di Indonesia. Selaras dengan penetapan dalam UU No. 26 Tahun 2007 dan PP No.26 Tahun 2008, bahwa ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya; maka ruang wilayah Aceh dalam konteks RTRWA (Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh) meliputi: wilayah daratan, wilayah laut, wilayah udara, dan dalam bumi.

Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:50.000, wilayah daratan Aceh secara geografis terletak pada 02000’00” – 06000’00” LU dan 95000’ 00” – 98030’00” BT. Dengan

batas-batas wilayah adalah:

- sebelah utara : Selat Malaka dan Laut Andaman/Teluk Benggala; - sebelah timur : Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara; - sebelah selatan : Provinsi Sumatera Utara dan Samudera Hindia; - sebelah barat : Samudera Hindia.

Luas wilayah daratan Aceh adalah 56.758,8482 Km2 atau 5.675.840,82 Ha, yang

meliputi daratan utama di Pulau Sumatera, pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil. Berdasarkan penetapan UU 32/2004 Pasal 18 ayat (4), maka selain wilayah daratan yang akan menjadi lingkup wilayah perencanaan RTRW Aceh juga tercakup wilayah laut kewenangan pengelolaan (WLK) Provinsi Aceh sejauh 12 (dua belas) mil-laut dari garis pangkal ke arah laut lepas. Wilayah laut kewenangan tersebut terdapat atau terletak di Samudera Hindia, Laut Andaman, dan Selatan Malaka, dengan luas Berdasarkan PP no 37 tahun 2008 yang merupakan refisi PP no 38 tahun 2002 tentang titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia luas laut kewenangan Aceh Adalah 74.798,02 km2 atau 7.478.801,59

Ha bila ditambah dengan kawasan gugusan karang melati seluas 14.249,86 km2 atau

1.424.986,18 Ha, luas laut kewenangan Aceh menjadi 89.047,88 km2 atau 8.904.787,77 Ha.

(13)

Wilayah udara Aceh adalah ruang udara yang yang terletak di atas wilayah darat dan wilayah laut tersebut, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Wilayah dalam bumi Aceh adalah ruang dalam bumi yang terletak di bawah wilayah darat dan wilayah laut tersebut, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Secara administratif, Aceh terdiri terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota, 284 kecamatan, 755 mukim dan 6.451 gampong/desa (Surat Gubernur Aceh Nomor : 413.4/24658/2011 Tanggal 13 Oktober 2011).

Dari luas daratan yang terdapat di Aceh, pola pemanfaatan penggunaan lahan/hutan di Aceh disesuaikan dengan fungsi lahan/hutan itu sendiri sehingga dapat menjamin kelestarian produksi dan keseimbangan lingkungan hidup. Pola sebaran permukiman penduduk berkaitan erat dengan kondisi topografi, yaitu berada di kawasan yang datar di sepanjang pantai utara-timur, sebagian wilayah pantai barat-selatan dan lembah-lembah sungai.

Kondisi topografi di wilayah Aceh terhitung beragam yang tergolong ke dalam wilayah datar hingga bergunung. Wilayah dengan topografi daerah datar dan landai sekitar 32 persen dari luas wilayah, sedangkan berbukit hingga bergunung mencapai sekitar 68 persen dari luas wilayah. Daerah dengan topografi bergunung terdapat dibagian tengah Aceh yang merupakan gugusan pegunungan bukit barisan dan daerah dengan topografi berbukit dan landai terdapat dibagian utara dan timur Aceh.

Secara geologi dapat dilihat bahwa sebagian terbesar wilayah Aceh terdiri atas batuan tersier dan quarter. Pada bagian-bagian tertentu, khususnya di punggungan pegunungan terdapat batuan yang lebih tua, berupa singkapan. Sejalan dengan itu pada peta hidrogeologi dapat diidentifikasikan jenis litologi batuan (lithological rock types) serta potensi dan prospek air tanah (groundwater potential and prospects). Berturut-turut relatif dari kompleks punggungan hingga ke pesisir atau pantai dapat diidentifikasikan jenis litologi batuan dikelompokan menjadi: (1). Batuan beku atau malihan (igneous or metamorphic rocks) terletak pada kompleks pegunungan mulai dari puncak atau punggungan; dengan potensi air tanah sangat rendah; (2). Sedimen padu - tak terbedakan (consolidated sediment – undifferentiated) terletak di bagian bawah/hilir batuan beku di atas namun masih pada kompleks pegunungan hingga ke kaki pegunungan, dan juga terdapat di Pulau Simeulue; dengan potensi air tanah yang juga sangat rendah; (3). Batu gamping atau dolomit (limestones or dolomites), yang terletak setempat-setempat, yaitu di pegunungan di bagian barat laut Aceh Besar (sekitar Peukan Bada dan Lhok Nga), di Aceh Jaya, di Gayo Lues dan Aceh Timur; dengan potensi air tanah yang juga sangat rendah; (4). hasil gunung api – lava, lahar, tufa, breksi (volcanic products – lava, lahar, tuff, breccia) terutama terdapat di sekitar II - 2 Re nca na K erj a Pe me rin tah Ace h ( RK P A) Tahu n 201 5 | Bab I I

(14)

gunung berapi, terutama yang teridentifikasi terdapat di sekitar G. Geureudong, G. Seulawah, dan G. Peut Sagoe; dengan potensi air tanah rendah; dan (5). Sedimen lepas atau setengah padu – kerikil, pasir, lanau, lempung (loose or semi-consolidated sediment (gravel, sand, silt, clay) yang terdapat di bagian paling bawah/hilir yaitu di pesisir, baik di pesisir timur maupun pesisir barat dan di cekungan Krueng Aceh; dengan potensi air tanah sedang sampai tinggi.

Struktur batuan juga ditunjukkan adanya indikasi sesar/patahan yang relatif memanjang mengikuti pola pegunungan yang ada di wilayah Aceh (relatif berarah barat laut – tenggara).Terkait dengan aspek hidrogeologi di atas, selanjutnya dikemukakan juga mengenai cekungan air tanah (CAT) yang ada di wilayah Aceh. Dengan mengacu kepada Atlas Cekungan Air Tanah Indonesia yang diterbitkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2009, pada halaman lembar Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dapat diidentifikasikan ada 14 (empat belas) Cekungan Air Tanah (CAT) di wilayah Aceh meliputi : CAT Banda Aceh (Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie), CAT Sigli (Pidie, Pidie Jaya), CAT Jeunib (Bireuen, Pidie Jaya), CAT Peudada (Bireuen, Aceh Utara, Bener Meriah), CAT Lhokseumawe (Aceh Utara, Lhoseumawe, Aceh Timur), CAT Langsa (Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang), CAT Keumiki (Pidie, Pidie Jaya), CAT Lampahan (Aceh Tengah, Bener Meriah), CAT Telege (Aceh Tengah), CAT Siongol-ongol (Gayo Lues, Aceh Tengah), CAT Kutacane (Aceh Tenggara), CAT Meulaboh(Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya), CAT Kota Fajar (Aceh Selatan), dan CAT Subulussalam(Aceh Singkil, Subullusalam, Aceh Selatan).

Sebanyak 408 Daerah Aliran Sungai (DAS) besar sampai kecil ditemukan di Aceh, dimana sebanyak 73 sungai besar dan 80 sungai kecil dan ditetapkan pula 10 Wilayah Sungai (WS) sebagai sumber daya air. Potensi sumber daya air sungai dikelompokkan menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu; (1) Wilayah Krueng Aceh hingga Krueng Tiro, yang termasuk wilayah kering dengan curah hujan kurang dari 1.500 mm/tahun dengan debit andalan 4 liter/detik, (2) Wilayah Krueng Meureudu dan sepanjang pantai Timur termasuk wilayah sedang dengan curah hujan 1.500 – 3.000 mm/tahun dengan debit andalan 7 – 8 liter/detik, dan (3) Wilayah pantai Barat, yang termasuk wilayah basah dengan curah hujan 3.000 – 4.000 mm/tahun dan dengan debit andalan 17 – 18 liter/detik.

Ada 4 klasifikasi WS yang ada di Aceh, yaitu: (1). WS Lintas Provinsi: (A2-1) WS Lawe Alas-Singkil, yang dikelola Pemerintah Pusat; (2). WS Strategis Nasional: (A3-1) WS Aceh-Meureudue, (A3-2) WS Jambo Aye, (A3-3) WS Woyla-Seunagan, (A3-4) WS Tripa-Bateue, yang juga dikelola oleh Pemerintah Pusat; (3). WS Lintas Kabupaten/Kota: (B-1) WS

(15)

Krueng Aceh, (B-2) WS Pase-Peusangan, (B-3) WS Tamiang-Langsa, (B-4) WS Teunom-Lambesoi, (B-5) WS Krueng Baru-Kluet, yang dikelola oleh Pemerintah Aceh; dan (4). WS Dalam Kabupaten/Kota: (C-1) WS Pulau Simeulue, yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Pada beberapa muara sungai, endapan sedimen yang terjadi telah menyebabkan hambatan aliran banjir dan mengganggu lalu-lintas kapal/perahu nelayan, yaitu di muara: Krueng Aceh (Banda Aceh/Aceh Besar), Krueng Baro dan Krueng Ulim (Pidie), Krueng Peudada (Bireuen), Krueng Idi (Aceh Timur), Krueng Langsa (Langsa), Krueng Tamiang (Aceh Tamiang), Krueng Teunom (Aceh Jaya), Krueng Meureubo (Aceh Barat), Krueng Seunagan dan Krueng Tripa (Nagan Raya), Lawe Alas – Krueng Singkil (Gayo Lues, Aceh Tenggara, Subulussalam, dan Aceh Singkil).

Sedangkan rata-rata curah hujan selama 10 tahun terakhir berkisar dari 80,10 mm/bulan pada bulan Februari hingga 159,40 mm/bulan pada bulan Oktober. Rata-rata temperatur udara di Aceh pada tiga wilayah yaitu Banda Aceh, Aceh Utara dan Nagan Raya berkisar dari 26,35 hingga 26,92 oC dengan temperatur terendah 24,55 oC dan

tertinggi 27,80 oC dengan rata-rata kelembaban udara berkisar dari 80,73 persen hingga

80,73 persen.

B. Potensi Pengembangan Wilayah

Penetapan kawasan strategis Aceh didasarkan pada pengaruh yang sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan secara bersinergi. Rencana Tata Ruang Aceh Tahun 2013-2033 telah menetapkan 4 kawasan sebagai bagian dari rencana pengembangan kawasan strategis Aceh yang meliputi:

a. Kawasan pusat perdagangan dan distribusi Aceh atau ATDC (Aceh Trade and Distribution Center) tersebar di 6 (enam) zona, meliputi;

1. Zona Pusat : Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Pidie dengan lokasi pusat agro industry di Kabupaten Aceh Besar. 2. Zona Utara : Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, Kota Lhokseumawe,

Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah dengan lokasi pusat agro industry di Kabupaten Bireuen

3. Zona Timur : Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, Aceh Tamiang dengan lokasi pusat agro industry di Kabupaten Aceh Tamiang 4. Zona Tenggara : Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Kota Subulussalam,

Kabupaten Singkil, Pulau Banyak dengan lokasi pusat agro industry di Kabupaten Aceh Tenggara

(16)

5. Zona Selatan : Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Simeulue dengan lokasi pusat agro industry di Kabupaten Aceh Selatan

6. Zona Barat : Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya dengan lokasi pusat agro industry di Kabupaten Aceh Barat

b. Kawasan agrowisata yang tersebar di 17 (tujuh belas) kabupaten yang tidak termasuk ke dalam lokasi pusat agro industri;

c. Kawasan situs sejarah terkait lahirnya MoU Helsinki antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka; dan

d. Kawasan khusus.

C. Wilayah Rawan Bencana

Aceh merupakan wilayah dengan kondisi alam yang kompleks sehingga menjadikannya sebagai salah satu daerah berpotensi tinggi terhadap ancaman bencana, khususnya bencana alam. Tingkat resiko bencana Aceh diperoleh dengan menggabungkan indeks probabilitas, indeks dampak, indeks kapasitas dan indeks kerugian daerah akibat suatu potensi bencana. Hal ini disebabkan karena Aceh berada tepat di jalur pertemuan lempeng Asia dan Australia, serta berada di bagian ujung patahan besar Sumatera yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai Selat Sunda. Berdasarkan catatan sejarah, Aceh pernah mengalami bencana gempa dan tsunami yang cukup besar pada tahun 1797, 1891, 1907 dan 2004. Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah, Aceh juga tidak lepas dari bencana yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit.

Permasalahan utama dalam penanggulangan bencana di Aceh antara lain: belum sistematis dalam penanganan penanggulangan bencana, sehingga seringkali terjadi tumpang tindih dalam penanganannya, masih lemahnya kapasitas kelembagaan dan partisipasi masyarakat dalam pengurangan resiko bencana, masih lemahnya koordinasi dalam penanggulangan bencana (fase tanggap darurat), terbatasnya sarana dan prasarana penunjang kebencanaan serta masih lemahnya kemitraan dan keterpaduan dalam penggunaan dana rehabilitasi dan rekonstruksi.

D. Demografi

Gambaran Demografis Aceh pada tahun 2012 terlihat pada Laju pertumbuhan penduduk Aceh pada tahun 2012 yaitu sebesar 3%. Adapun jumlah penduduk di Aceh tahun 2012 berjumlah 4.726.001 jiwa terdiri dari 2.361.933 jiwa laki-laki dan 2.364.068 jiwa perempuan sedangkan pada tahun 2011 jumlah penduduk Aceh adalah sebanyak 4.597.308 jiwa.

(17)

Dilihat dari distribusinya jumlah penduduk kondisi sebarannya tidak berbeda dengan tahun sebelumnya dimana Kabupaten Aceh Utara merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar yaitu sebesar 556.793 jiwa atau sebesar 11.78% dari total penduduk di Aceh. Sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit berada di Kota Sabang, yaitu sebesar 31.355 jiwa atau sebesar 0.67% dari total penduduk. Dengan kepadatan penduduk 83,2 orang/km2. Angka ini masih di bawah angka rata-rata kepadatan penduduk di Indonesia

yaitu sebesar 124 orang/km2, dengan mayoritas kepadatan terdapat di daerah perkotaan jika

dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Kondisi demikian disebabkan karena pada daerah-daerah tersebut terdapat akses yang mudah dicapai terhadap sarana dan prasarana wilayah sehingga cukup menarik perhatian masyarakat untuk menetap disana. Selama periode 2006-2012 kepadatan penduduk di Aceh terus meningkat, dari 71 jiwa/km2 pada tahun 2006 naik menjadi 83,2 jiwa/km2 pada tahun 2012.

2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.1.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

A. Pertumbuhan PDRB

Dalam periode RPJM tahap pertama (2007-2012) pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh menunjukkan perkembangan ke arah yang semakin baik, meskipun awal tahun 2007 s.d 2009 menunjukkan PDRB Aceh mengalami pertumbuhan negatif akibat turunnya produksi minyak dan gas alam. Namun pada tahun 2010 s.d 2012 pertumbuhan PDRB Aceh mengalami rebound, tumbuh positif yaitu 2,79 % (2010), 5,02% (2011), dan 5,2 % (2012).

Sebaliknya untuk periode RPJM (2013-2017) menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 4,3 %. Hal ini disebabkan karena sektor pertanian di Aceh mengalami penurunan disebabkan maraknya alih fungsi lahan pertanian yang dijadikan peemukiman atau tempat usaha. Faktor cuaca ekstrim juga ikut mempengaruhi, karena curah hujan tinggi dan bencana alam. Selain itu sektor perdagangan, hotel dan restaurant (PHR) mengalami pertumbuhan positif, namun tidak bisa mendongkrak sektor lain sehingga pertumbuhan ekonomi Aceh melambat. Pertumbuhan ekonomi Aceh tersebut masih dibawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,7 %.

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2013 disumbangkan oleh sembilan sektor. Terdapat tiga sektor yang mengalami penurunan yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan. Sedangkan enam sektor lainnya mengalami peningkatan, seperti listrik; gas dan air bersih; kontruksi; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; serta II - 6 Re nca na K erj a Pe me rin tah Ace h ( RK P A) Tahu n 201 5 | Bab I I

(18)

jasa-jasa. Perkembangan nilai dan kontribusi PDRB Aceh selama kurun waktu 2009-2013 secara lebih terperinci dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1

Perkembangan Nilai dan Kontribusi Sektor-sektor Terhadap PDRB Aceh Tahun 2009-2013 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000

Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh 2013

Jika dilihat dari struktur ekonomi Aceh, sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran masih merupakan dua kontributor utama dalam pembentukan PDRB Aceh. Sejak tahun 2009 kedua sektor ini menduduki dua peringkat teratas dengan rerata kontribusi masing-masing sebesar 26,18 persen dan 19,28 persen. Namun jika dilihat secara trend atau kencenderungan, kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor pertanian cenderung stagnan. Keadaan ini menyiratkan bahwa terjadi transformasi struktur ekonomi Aceh.

Pada tahun 2013, sektor tersier yang terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, serta jasa-jasa menyumbangkan 42,92 persen atau 49,64 persen jika PDRB Aceh tidak memperhitungkan komponen migas. Sedangkan sektor primer (sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian) hanya menyumbang 36,78 persen pada PDRB Migas dan 32,87 pada PDRB Non Migas. Struktur PDRB Aceh juga menunjukkan belum berperannya sektor sekunder terutama sektor industri pengolahan sebagai pendorong ekonomi Aceh. Sektor sekunder merupakan sektor terendah dalam hal kontribusi terhadap pembentukan PDRB yaitu 20,29 persen dan 17,49 persen untuk PDRB non migas. Minimnya kontribusi dan pertumbuhan sektor industri merupakan salah satu jawaban dari masih rendahnya pertumbuhan ekonomi Aceh dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan nasional karena

Rp (Trilyun) % Rp (Trilyun) % Rp (Trilyun) % Rp (Trilyun) % Rp (Trilyun) % Rp (Trilyun) %

1. Pertanian 8,22 24,12 8,43 26,18 8,86 26,78 9,35 26,9 9,89 27,10 10,22 26,89

2. Pertambangan & Penggalian 5,31 15,57 2,8 8,68 2,61 7,89 2,61 7,51 2,56 7,02 2,53 6,66

3. Industri Pengolahan 4,12 12,08 3,79 11,78 3,49 10,56 3,56 10,25 3,59 9,84 3,47 9,13

4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,09 0,27 0,1 0,32 0,12 0,37 0,13 0,37 0,14 0,38 0,15 0,39

5. Konstruksi 2,16 6,34 2,23 6,92 2,34 7,09 2,49 7,16 2,67 7,32 2,87 7,55

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 5,92 17,36 6,21 19,28 6,61 19,98 7,06 20,28 7,57 20,75 8,11 21,34

7. Pengangkutan & Komunikasi 2,17 6,38 2,28 7,08 2,43 7,35 2,62 7,54 2,72 7,45 2,85 7,50

8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 0,55 1,6 0,59 1,83 0,62 1,88 0,66 1,9 0,71 1,95 0,76 2,00

9. Jasa-jasa 5,55 16,29 5,78 17,93 6,03 18,1 6,29 18,09 6,63 18,17 7,07 18,60 34,1 100 32,22 100 33,12l 100 34,77 100 36,49 100 38,01 100 26,52 27,57 29,09 30,8 32,59 34,34 PDRB PDRB Tanpa Migas 2013 (Tw I-IV) Sektor 2008 2009 2010 2011* 2012

(19)

sektor industri merupakan sektor yang mempunyai efek pengganda output ekonomi yang besar.

Kontribusi sektor-sektor terhadap PDRB Aceh berdasarkan harga konstan 2000 dan harga berlaku selama tahun 2009-2013 dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan tanpa migas pada Tabel 2.3

Tabel 2.2

Kontribusi Sektor-sektor Terhadap PDRB Aceh Dengan Migas Selama Tahun 2009 S.d 2013 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk)

Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh 2013

Tabel 2.3

Perkembangan Kontribusi Sektor-sektor Terhadap PDRB Aceh Tanpa Migas Selama Tahun 2009-2013 Atas Dasar Harga Berlaku (HB) dan Harga Konstan (HK)

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk

% % % % % % % % % % % %

1. Pertanian 26,37 24,12 28,36 26,18 28,17 26,78 27,32 26,9 27,46 27,10 27,22 26,89 2. Pertambangan & Penggalian 18,87 15,57 11,47 8,68 11,06 7,89 11,6 7,51 10,46 7,02 9,56 6,66 3. Industri Pengolahan 11,14 12,08 10,82 11,78 9,63 10,56 8,95 10,25 8,79 9,84 8,1 9,13 4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,27 0,27 0,36 0,32 0,43 0,37 0,45 0,37 0,51 0,38 0,53 0,39 5. Konstruksi 8,52 6,34 9,5 6,92 9,94 7,09 10,86 7,16 11,31 7,32 11,67 7,55 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 13,9 17,36 14,92 19,28 15,43 19,98 16,41 20,28 17,02 20,75 17,66 21,34 7 Pengangkutan & Komunikasi 8,78 6,38 10,35 7,08 10,58 7,35 10,64 7,54 10,65 7,45 10,84 7,50 8. Keuangan, Persewaan & JasaPerusahaan 2,01 1,6 2,49 1,83 2,63 1,88 2,56 1,9 2,89 1,95 3,06 2,00 9. Jasa-jasa 10,15 16,29 11,72 17,93 12,13 18,1 11,2 18,09 10,91 18,17 11,36 18,60 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100,00 100 100,00 2012 PDRB 2013 (Tw I-IV) No Sektor 2008 2009 2010 2011 Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk % % % % % % % % % % % % 1. Pertanian 35,78 31,01 34,66 30,59 33,75 30,45 32,7 30,35 32,34 30,18 31,48 29,75

2. Pertambangan & Penggalian 1,45 1,52 1,37 1,48 1,36 1,49 1,35 1,49 1,37 1,47 1,39 1,50

3. Industri Pengolahan 3,59 5,45 3,66 5,58 3,62 5,64 3,56 5,63 3,52 5,45 3,39 5,28

4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,36 0,34 0,44 0,38 0,52 0,42 0,54 0,43 0,6 0,43 0,61 0,43

5. Konstruksi 11,56 8,15 11,61 8,09 11,91 8,06 13 8,08 13,32 8,17 13,49 8,34

6. Perdagangan, Hotel &Restoran 18,86 22,32 18,24 22,53 18,48 22,72 19,64 22,92 20,04 23,16 20,43 23,61

7. PengangkutanKomunikasi & 11,91 8,2 12,65 8,27 12,68 8,36 12,74 8,52 12,55 8,71 12,53 8,31

8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 2,73 2,06 3,04 2,13 3,15 2,13 3,07 2,15 3,4 2,17 3,54 2,20

9. Jasa-jasa 13,77 20,94 14,33 20,95 14,53 20,74 13,4 20,43 12,85 20,26 13,14 20,59 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 2012 PDRB 2013 (Tw I-IV) No Sektor 2008 2009 2010 2011

(20)

B. Laju Inflasi

Pada bulan Desember 2013 di Kota Banda Aceh terjadi inflasi sebesar 0,71 persen dan di Kota Lhokseumawe deflasi sebesar 0,12 persen sehingga secara agregat di Provinsi Aceh terjadi inflasi sebesar 0,30 persen, seperti Gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1

Perkembangan Inflasi Banda Aceh, Lhokseumawe, Provinsi Aceh dan Nasional Desember 2012-Desember 2013

Inflasi yang terjadi di Kota Banda Aceh secara umum disebabkan oleh kenaikan harga pada Kelompok Bahan makanan dengan inflasi sebesar 1,66 persen, diikuti oleh Kelompok Kesehatan inflasi sebesar 1,01 persen, Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau inflasi sebesar 0,71 persen, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan BahanBakar mengalami inflasi sebesar 0,25 persen, Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga inflasi sebesar 0,21 persen, Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuanganinflasi sebesar 0,05 persen, dan Kelompok Sandang mengalami inflasi sebesar 0,01 persen.

Laju inflasi sampai dengan bulan Desember 2013 untuk Kota Banda Aceh adalah sebesar 6,39 persen, Kota Lhokseumawe 8,27 persen dan Aceh 7,31 persen. Sedangkan Inflasi “year on year” (Desember 2013 terhadap Desember 2012) untuk Kota Banda Aceh adalah sebesar 6,39 persen, Kota Lhokseumawe 8,27 persen dan Aceh 7,31 persen. Ini dapat dilihat pada Tabel 2.4 dibawah ini.

(21)

Tabel 2.4

IHK dan Tingkat Inflasi Kota Banda Aceh Desember 2013, Tahun Kalender 2013, dan Year on Year menurut Kelompok Pengeluaran (2007=100)

1). Persentase perubahan IHK Des 2013 terhadap IHK bulan sebelumnya

2). Persentase perubahan IHK Des 2013 terhadap IHK Desember 2012 3). Persentase perubahan IHK Des 2013 terhadap IHK Des 2012 * Sumber : BPS Aceh, 2013

C. Persentase Penduduk di atas garis kemiskinan

Perkembangan kemiskinan di Provinsi Aceh dalam kurun waktu 2004-2013, secara absolut terjadi penurunan sebesar 118,99 ribu jiwa, jumlah penduduk miskin tahun 2013 (Maret) sebanyak 841 ribu jiwa.

Penyebaran penduduk miskin terbesar tahun 2012 terdapat di Kabupaten Aceh Utara, yaitu sebanyak 121,4 ribu jiwa dan Pidie sebanyak 88,0 ribu jiwa, dan terendah di Kota Sabang sebesar 6,5 ribu jiwa. Sementara untuk penyebaran tingkat kemiskinan tertinggi terdapat di Kabupaten Bener Meriah sebesar 24,50% dan tingkat kemiskinan terrendah di Kota Banda Aceh sebesar 8,65%. Selanjutnya tingkat kemiskinan untuk masing-masing kabupaten/kota secara rinci ditampilkan pada Tabel 2.5

Tabel 2.5

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008-2012 No Kabupaten/ Kota Jumlah (000) Persentase (%) 2008 2009 2010 2011 2012 2008 2009 2010 2011 2012 1 Simeulue 20,57 19,11 18,90 19.0 18.5 26,45 24,72 23,63 22.96 21.88 2 Aceh Singkil 22,24 20,29 19,90 19.9 19.4 23,27 21,06 19,39 18.93 17.92 3 Aceh Selatan 38,82 35,41 32,20 32.3 31.5 19,40 17,50 15,93 15.52 14.81 4 Aceh Tenggara 30,89 27,87 30,00 30.2 29.4 18,51 16,77 16,79 16.39 15.64 5 Aceh Timur 76,22 68,30 66,50 66.7 64.9 24,05 21,33 18,43 18.01 17.19 IHK Des 2013 Inflasi Bulan Des 2013 Laju Inflasi Tahun Kalender 2013 Inflasi Year on

Year IHK Des 2013 Inflasi Bulan Des 2013 Laju Inflasi Tahun Kalender 2013 Inflasi Year on Year UMUM 135,32 0,71 6,39 6,39 144,56 -0,12 8,27 8,27 1. Bahan Makanan 152,42 1,66 11,82 11,82 172,04 -0,50 18,39 18,39 2. Makanan jadi, Minuan, Rokok dan Tembakau 138,65 0,71 5,05 5,05 139,23 0,01 2,75 2,75 3. Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 123,60 0,25 2,86 2,86 135,58 0,13 2,60 2,60 4. Sandang 166,34 0,01 -0,82 -0,82 142,82 0,13 0,25 0,25 5. Kesehatan 151,62 1,01 2,90 2,90 120,51 0,04 2,26 2,26 6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 123,29 0,21 4,33 4,33 137,15 0,41 4,64 4,64 7. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 109,21 0,05 10,85 10,85 109,33 0,00 10,81 10,81

Kota Banda Aceh Kota Lhokseumawe Kelompok

(22)

No Kabupaten/ Kota Jumlah (000) Persentase (%) 2008 2009 2010 2011 2012 2008 2009 2010 2011 2012 6 Aceh Tengah 40,64 38,17 35,30 35.4 34.5 23,36 21,43 20,10 19.58 18.78 7 Aceh Barat 43,69 40,39 42,40 42.5 41.4 29,96 27,09 24,43 23.81 22.76 8 Aceh Besar 63,46 58,97 66,20 66.3 64.6 21,52 20,09 18,80 18.36 17.5 9 Pidie 101,77 93,80 90,20 90.4 88.0 28,11 25,87 23,80 23.19 22.12 10 Bireuen 79,09 72,94 76,10 76.3 74.3 23,27 21,65 19,51 19.06 18.21 11 Aceh Utara 135,70 126,59 124,40 124.7 121.4 27,56 25,29 23,43 22.89 21.89 12 Aceh Barat Daya 27,43 25,00 25,20 25.3 24.6 23,42 21,33 19,94 19.49 18.51 13 Gayo Lues 18,89 17,09 19,00 19.1 18.6 26,57 24,22 23,91 23.38 22.31 14 Aceh Tamiang 50,82 45,29 45,20 45.3 44.1 22,29 19,96 17,99 17.49 16.7 15 Nagan Raya 33,21 30,86 33,40 33.6 32.7 28,11 26,22 24,07 23.38 22.27 16 Aceh Jaya 17,24 17,13 15,60 15.6 15.2 23,86 21,86 20,18 19.80 18.3 17 Bener Meriah 31,28 28,58 32,10 32.2 31.4 29,21 26,58 26,23 25.50 24.5 18 Pidie Jaya 37,70 35,60 34,70 34.8 33.9 30,26 27,97 26,08 25.43 24.35 19 Banda Aceh 19,91 17,27 20,80 20.8 20.3 9,56 8,64 9,19 9.08 8.65 20 Sabang 7,14 6,54 6,60 6.7 6.5 25,72 23,89 21,69 21.31 20.51 21 Langsa 23,96 21,34 22,40 22.4 21.8 17,97 16,20 15,01 14.66 13.93 22 Lhoksumawe 23,94 22,53 24,00 24.2 23.6 15,87 15,08 14,07 13.73 13.06 23 Subulussalam 17,73 16,75 16,40 16.5 16.1 28,99 26,80 24,36 23.85 22.64 Aceh 959,70 892,86 861,85 900.2 876.6 23,53 21,80 20,98 19.48 18.58

Sumber : BPS Aceh Tahun 2013

2.1.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial

2.1.2.2.1 Pendidikan

A. Angka Melek Huruf

Menurut Badan Pusat Statistik, angka melek huruf di Provinsi Aceh dalam kurun waktu tahun 2009-2012 mengalami peningkatan (setelah mengalami penurunan di tahun 2011). Pada tahun 2012 tercatat sebesar 96,11 persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang melek huruf. Angka ini telah mencapai target Renstra Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2014 sebesar 95,80 persen dan bahkan melampaui rerata nasional tahun 2011 sebesar 92,8 persen.

(23)

Walaupun demikian, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mengejar target angka melek huruf dalam RPJM Aceh sebesar 97, 52 persen di tahun 2015.

Tabel 2.6

Angka Melek Huruf di Provinsi Aceh Tahun 2009-2012

No Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012 1 Simeulue 98,58 98,66 98,85 99.29 2 Aceh Singkil 96,22 96,24 93,23 92.64 3 Aceh Selatan 96,47 96,53 94,42 93.27 4 Aceh Tenggara 97,10 97,95 96,76 96.77 5 Aceh Timur 97,51 98,21 95,30 97.54 6 Aceh Tengah 98,13 98,60 98,41 98.33 7 Aceh Barat 94,08 94,53 93,76 94.96 8 Aceh Besar 96,95 96,96 96,06 95.59 9 Pidie 95,56 95,91 96,30 95.24 10 Bireuen 98,37 98,47 97,24 97.65 11 Aceh Utara 96,42 97,81 95,27 96.43

12 Aceh Barat Daya 96,25 96,34 93,23 93.83

13 Gayo Lues 86,97 87,27 90,16 87.89 14 Aceh Tamiang 98,25 98,27 96,33 95.97 15 Nagan Raya 89,78 89,85 93,77 93.57 16 Aceh Jaya 93,78 93,99 93,31 95.30 17 Bener Meriah 97,45 98,50 96,87 97.78 18 Pidie Jaya 94,23 95,45 93,22 92.75 19 Banda Aceh 99,10 99,16 98,57 99.25 20 Sabang 98,81 98,99 96,72 98.25 21 Langsa 99,10 99,20 97,86 99.01 22 Lhokseumawe 99,22 99,62 98,29 98.17 23 Subulussalam 96,53 96,54 91,76 90.32 ACEH 96,39 96,88 95.84 96.11

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

Berdasarkan tabel 2.6 di atas, persentase penduduk kabupaten Gayo Lues yang melek huruf adalah yang paling rendah (87.89 persen) di bandingkan kabupaten/kota lainnya. Sedangkan persentase tertinggi penduduk yang melek huruf ada di Kabupaten Simeulue (99,29 persen) dan Kota BandaAceh (99,25 persen).

(24)

Di sisi lain, bila melihat angka buta aksara di Aceh, umumnya berada pada kelompok usia lanjut (usia 50 tahun ke atas) yang bertempat tinggal di daerah perdesaan. Penduduk buta aksara pada kelompok usia 60 – 64 tahun yang tinggal di perkotaan tercatat 8,15 persen sedang di perdesaan 17,72 persen. Demikian pula pada kelompok 65 tahun ke atas, di perkotaan tercatat 18,98 persen penduduk buta aksara sedangkan di perdesaan 31,52 persen (lihat tabel. 2.7).

Tabel 2.7

Persentase Penduduk Buta Huruf Menurut Kelompok Umur dan Daerah Tempat Tinggal, Tahun 2012

Kelompok Umur Perkotaan Perdesaan Jumlah

15-19 0.19 0.16 0.17 20-24 0.20 0.61 0.49 25-29 0.15 0.61 0.47 30-34 0.57 1.12 0.97 35-39 0.59 1.92 1.54 40-44 1.26 4.06 3.27 45-49 1.72 6.28 4.93 50-54 4.15 9.25 7.81 55-59 2.61 8.18 6.70 60-64 8.15 17.72 15.11 65+ 18.98 31.52 28.43 Rata-rata 2012 1.70 4.05 3.38 Rata-rata 2011 1.98 4.32 3.66

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

Angka buta huruf ini merupakan salah satu indikator penting yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan di bidang pendidikan. Makin rendah presentase penduduk buta huruf menunjukkan keberhasilan program pendidikan. Demikian pula sebaliknya makin tinggi persentase penduduk buta huruf maka mengindikasikan program pendidikan yang dilaksanakan belum optimal.

Walaupun perbedaannya kecil, namun data BPS menunjukkan bahwa persentase penduduk buta huruf di Aceh menurun jumlahnya baik di perkotaan maupun di perdesaan. B ab I I | Ra nca nga n Ak hi r Re nca na K erj a Pe me rin tah Ace h ( RK P A) Tahu n 201 5 II - 13

(25)

Secara total angkanya menurun dari 3.66 persen di tahun 2011 menjadi 3.38 persen di tahun 2012.

B. Angka Rata-Rata Lama Sekolah

Angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Aceh dalam kurun waktu tahun 2009 – 2013 terus mengalami peningkatan, yaitu sebesar 8,63 tahun pada tahun 2009 menjadi menjadi 9,1 tahun pada tahun 2012. (Tabel 2.8).

Tabel 2.8

Angka Rata-rata Lama Sekolah di Provinsi Aceh Tahun 2009-2012

Indikator Capaian/Tahun

2009 2010 2011 2012

Angka Rata-rata Lama

Sekolah 8,63 8,81 8,90 9,10

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

C. Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan

Berdasarkan data BPS, persentase penduduk Aceh yang berpendidikan SMA ke bawah menurun di tahun 2012 dibandingkan tahun 2011. Sedangkan yang berpendidikan SMA meningkat dari 23.80 persen di tahun 2011 menjadi 24.36 persen di tahun 2012. Selain itu, walaupun peningkatan persentasenya masih sangat kecil, namun persentase penduduk yang berpendidikan DIV/S1 dan S2/S3 juga meningkat di tahun 2012.

Tabel 2.9

Persentase Penduduk Berdasarkan Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan

Pendidikan Tahun/Persentase

2011 2012

Belum/ Tidak Tamat SD 20.31 19.88

SD 27.55 27.46 SMP 21.32 20.98 SMA 23.80 24.36 DI/DII/DIII 3.08 2.83 DIV/S1 3.74 4.22 S2/S3 0.20 0.26

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

2.1.2.2.2 Kesehatan

1. Angka Kematian Ibu

(26)

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Jumlah ibu yang meninggal akibat kehamilan, persalinan dan nifas di Aceh masih relatif tinggi, melebihi rata-rata nasional. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 diketahui bahwa rata-rata AKI nasional meningkat menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup, namun tidak ada laporan terkait AKI menurut provinsi. Namun demikian hasil SDKI 2007 melaporkan bahwa AKI di Provinsi Aceh lebih tinggi dari AKI nasional yaitu sebesar 238 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan rata-rata AKI nasional mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan bahwa perlu upaya yang keras untuk menurunkan angka kematian ibu, mengingat target MDGs yang harus di capai pada tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup.

2. Angka Kematian Bayi

Angka Kematian Bayi (AKB) dihitung dari jumlah angka kematian bayi dibawah usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Berdasarkan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKB di Aceh adalah 47 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih tinggi dari angka rata-rata nasional yang hanya 34 per 1.000 kelahiran hidup. AKB masih cukup bervarasi antar kabupaten/kota dan masih relatif tinggi di daerah pedesaan, pada keluarga miskin dan anak-anak yang dilahirkan dari keluarga yang berpendidikan rendah.

3. Angka Kematian Balita

Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia lima tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. Dari laporan SDKI 2012 diketahui bahwa AKABA di Provinsi Aceh masih tinggi yakni 52 per 1.000 kelahiran (nasional 43 per 1.000 kelahiran hidup). Diperkirakan AKABA juga lebih tinggi pada keluarga yang berpendidikan rendah, keluarga dengan status sosial ekonomi rendah dan pada keluarga yang tinggal didaerah pedesaan yang tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

4. Status Gizi Balita

Secara umum status gizi balita di Aceh masih sangat memprihatinkan. Hal ini diketahui dari laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan secara nasional setiap 3 tahun yaitu tahun 2007, 2010 dan 2013. Prevalensi balita gizi buruk-kurang di Aceh berfluktuasi, dari 26,5 % pada tahun 2007 menurun menjadi 23,7 % pada tahun 2010 dan mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi 25 % dan berada di atas angka rata-rata nasional yaitu sebesar 19,6 %. Sementara itu tingginya prevalensi balita pendek dan kurus juga memerlukan perhatian yang serius. Pada tahun 2013 prevalensi balita pendek di Aceh

(27)

mencapai >40% dan masuk dalam kategori masalah kesehatan yang serius. Selanjutnya prevalensi balita kurus di Aceh tergolong dalam kategori kritis karena mencapai >15%.

5. Penyakit Menular

Data penyakit menular yang akan dibahas terbatas pada penyakit yang ditularkan melalui udara seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, dan tuberkulosis paru; penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti malaria dan penyakit yang ditularkan melalui makanan, air, dan lewat penularan lainnya seperti diare dan hepatitis. Dari hasil Riskesdas 2013 semua penyakit yang diuraikan diatas menempatkan Aceh berada diatas angka nasional.

Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyebab kesakitan tertinggi anak balita di Aceh. Period Prevalens ISPA tahun 2013 adalah sebesar 30% dan jauh di atas angka nasional sekitar 25% , sementara itu prevalensi pnemonia dan TB Paru berturut-turut adalah sebesar 5,4% dan 0.4%, juga lebih tinggi dari angka nasional yang hanya 4,5% dan 0,3%.

Sementara itu untuk penyakit yang ditularkan melalui makanan, air, dan lewat penularan lainnya seperti diare dan hepatitis juga berada diatas angka nasional. Insiden diare pada balita adalah sebesar 10,2% dan prevalensi hepatitis sebesar 1,8%, sementara angka nasional berturut-turut hanya 6,7 dan 1,2 %.

Untuk penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti malaria, masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB, berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi, serta dapat mengakibatkan kematian. Penanganan malaria di Aceh termasuk berhasil dengan program andalan Eliminasi Malaria di Sabang.

6. Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular (PTM), merupakan penyakit kronis, tidak ditularkan dari orang ke orang. PTM mempunyai durasi yang panjang dan umumnya berkembang lambat. Empat jenis PTM utama menurut WHO adalah penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner, stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (asma dan penyakit paru obstruksi kronis), dan diabetes.

Adapun perbandingan antara Aceh dan Nasional untuk PTM utama berdasarkan hasil Riskesdas 2013 secara rinci dapat dilihat pada gambar 2.2:

(28)

Gambar 2.2. Perbandingan Nilai Penyakit Tidak Menular Utama

(Sumber : Riskesdas, 2013)

7. Kesehatan Lingkungan

Sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Adapun Persentase sarana sanitasi dasar yang memenuhi syarat kesehatan di lingkungan pemukiman di Provinsi Aceh pada tahun 2012 dimana keluarga yang mempunyai jamban sehat sebanyak 64.2% dan rumah yang mempunyai tempat sampah sehat 63.9% sementara rumah yang memiliki pengelolaan air limbah sehat berjumlah 61.2%.

8. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Tingginya masalah kesehatan saat ini sangat berkaitan dengan faktor sosial dan budaya, antara lain kesadaran individu dan keluarga untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hasil Riskesdas tahun 2013, menunjukkan hanya 20% persen rumah tangga di Aceh dengan PHBS dengan kategori baik dan merupakan urutan ke 2 terendah setelah Papua.

2.1.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga A. Seni dan Budaya

Aceh memiliki keragaman budaya dan seni yang tinggi sebagai akibat dari beragamnya etnis dan posisi geografis yang strategis sehingga bangsa lain mudah mencapai Aceh. Keragaman budaya Aceh juga dapat dilihat dari banyaknya peninggalan budaya baik budaya benda (tangible) maupun budaya tak benda (intangible). Peninggalan sejarah budaya benda dapat diuraikan mulai dari masa prasejarah, klasik, masa Islam, dan kolonial, serta setelah kemerdekaan. 2.5 10.5 1.4 4 4.3 2.6 1.5 12.1 1.4 4.5 3.7 2.1 0 2 4 6 8 10 12 14 Jantung

Koroner Stroke Kanker Asma PenyaktParu DiabetesMellitus

Aceh Nasional

(29)

Menurut laporan BP3 (Badan Pengelolaan dan Pelestarian Purbakala) Aceh, hanya 60 (enam puluh) situs/bangunan cagar budaya penting yang memiliki juru pelihara dan mendapat perhatian pemerintah. Namun, cagar budaya lainnya yang sudah teregisterasi belum mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Selain itu, situs/bangungan cagar budaya termasuk naskah-naskah kuno yang belum teregisterasi perlu dilakukan pencataan. Selama ini, pengelolaan situs/bangunan cagar budaya dilakukan oleh BP3 yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Oleh karena itu, koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta keikutsertaan masyarakat sangat diperlukan untuk pelestarian situs/bangunan cagar budaya di Aceh.

Sedangkan untuk Budaya Tak Benda (Intangible), Aceh memiliki beragam budaya seperti tarian, adat istiadat, dan kegiatan spiritual yang pada masing-masing daerah, memiliki kekhasan tersendiri. Atraksi budaya tak benda dapat mendukung keberadaan budaya benda. Saat ini Aceh memiliki 1.133 sanggar (group) kesenian yang tersebar di 23 kabupaten/kota yang menjadi wadah berlangsungnya kegiatan kesenian. Hal ini menggambarkan bahwa Aceh memiliki khasanah budaya yang tinggi dengan berbagai jenis kesenian seperti tarian (rapai, rapai debus, rapai geleng, seureune kalee, seudati, saman, ranup lampuan, pemulia jamee, marhaban, didong, rebana dan qasidah gambus), sastra (pantun, syair, hikayat, seumapa) dan seni lukis (kaligrafi) serta dalail khairat dan meurukon.

Selain tarian, Aceh juga memiliki 44 (empat puluh empat) kegiatan adat istiadat yang berbeda pada masing-masing daerah seperti adat perkawinan, turun tanah bayi, sunatan, kenduri maulid, rabu habeh, kegiatan semeulung dan semeunap pada makam Raja Meureuhom Daya di Lamno, dan lain-lain.

B. Kepemudaan dan Olahraga

Dalam bidang olahraga, Aceh memiliki 300 klub olah raga sesuai dengan jenis olah raga yang digemari oleh masyarakat seperti klub sepak bola, badminton, tenis meja, futsal, volley, renang, sepeda, tinju, panjat tebing, lari dan senam sehat. Klub olah raga tersebut pada umumnya bernaung di bawah organisasi keolahragaan.

Selain itu, untuk mendukung kegiatan berbagai jenis olah raga ini dibangun gedung olah raga terdiri dari gedung olah raga milik pemerintah sebanyak 56 unit dan milik swasta 5 unit (lihat Tabel 2.10).

(30)

Tabel 2.10

Atlet, Pelatih, Sekolah, Club dan Gedung Olah Raga

No Jumlah Atlet/Pelatih/Sekolah/Club/gedung Satuan Jumlah

Keolahragaan

1 Jumlah Atlet yang Ada Orang 633

2 Jumlah Atlet Usia Dini Orang 238

3 Jumlah Atlet Berprestasi Orang 50

4 Jumlah Pelatih Orang 501

5 Jumlah Atlet yang Menerima Penghargaan Orang 26 6 Jumlah Pelatih Penerima Penghargaan Orang 9 7 Jumlah Insan Olahraga Penerima Penghargaan Orang 50 8 Jumlah Organisasi / Induk Olahraga Daerah / Kab /

K t

Unit 24

9 Jumlah Sekolah Olahraga Unit 1

10 Jumlah Klub Olahraga Klub 300

11 Jumlah Gedung Olahraga Milik Pemerintah Unit 56 12 Jumlah Gedung Olahraga Milik Swasta Unit 5 13 Jumlah Gedung Olahraga Milik Masyarakat Unit 48 14 Jumlah Lapangan Olahraga Terbuka Unit 755

15 Jumlah Gedung Kepemudaan Unit 5

16 Jumlah Stadion Olahraga Unit 26

17 Jumlah Stadion Mini Olahraga Unit 46

18 Jumlah Lapangan Olahraga Tertutup Unit 284

19 Jumlah Publik Space Olahraga Unit 23

20 Koordinator Sarana Prasarana Olahraga dan

K d

Unit 23

Kepemudaan

1 Jumlah pemuda Orang 1.036.944

2 Jumlah organisasi/ induk daerah Unit 69

3 Jumlah organisasi kepemudaan politik (OKP) OKP 69 4 Jumlah unit kegiatan kemahasiswaan/siswa Unit 10 5 Jumlah organisasi kepemudaan yang menerima

h

Unit 69

6 Jumlah pemuda yang menerima penghargaan Orang 10

7 Jumlah paguyuban Unit 23

Sumber : BPS, 2013

C. Pariwisata

Sejak tahun 2005, setelah terjadinya gempa bumi dan tsunami di Aceh, nama Aceh semakin di kenal di manca negara dan pada gilirannya semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh. Hal ini terlihat dari terus meningkatnya angka kunjungan wisatawan ke Aceh baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Kunjungan ini meningkat dari angka 18.589 orang di tahun 2009 menjadi 28.993 orang ditahun 2012 untuk wisatawan mancanegara dan 712.630 orang wisatawan nusantara di tahun 2009 meningkat menjadi 1.026.800 orang di tahun 2012. (Lihat Tabel. 2.11).

(31)

Data BPS tahun 2013 menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara paling banyak mengunjungi kabupaten Aceh Besar (12.815 orang) dan Kota Sabang (4.662 orang). Sedang wisatawan nusantara mayoritas mengunjungi Kota Sabang (212.165 orang) dan kabupaten Aceh Singkil (172.600 orang)

Tabel 2.11

Jumlah Wisatawan Mancanegara dan Nusantara yang Datang ke Aceh Tahun 2011 - 2012

WISATAWAN

TAHUN/JUMLAH (ORANG)

2009 2010 2011 2012

Mancanegara 18.589 20.648 28.054 28.993

Nusantara 712.630 720.079 959.545 1.026.800

Sumber : Badan Pusat Statistik, , 2013

D. Dinul Islam

Imum meunasah, muazzin dan khadam meunasah mempunyai peran yang cukup sentral dalam masyarakat Aceh. Peran tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek, baik menyangkut peningkatan pengamalan ajaran Islam, menghidupkan fungsi meunasah di gampong-gampong, maupun peningkatan sumber daya manusia di bidang keagamaan. Demikian pula halnya dalam meningkatkan kapasitas SDM keagamaan di gampong-gampong, mereka bahu-membahu dengan berbagai perangkat lainnya bekerja secara baik dan penuh tanggungjawab dalam mengemban misi yang amat mulia ini.

Saat ini di Aceh terdapat 6.500 imuem Meunasah dengan jumlah yang terbanyak ada di kabupaten Aceh Utara (853 orang) dan Pidie (730 orang). Salah satu apresiasi bagi para Imeum Meunasah adalah dengan memberikan insentif secara berkelanjutan. Pemerintah Aceh setiap tahun menganggarkan insentif imuem meunasah. Hal ini kita harapkan dapat berimplikasi pada kinerja dan tanggungjawab sebagai pemuka masyarakat, tidak saja pada porsi pekerjaan tetapi juga pada porsi anggaran untuk kesejahteraan mereka masing-masing.

Disamping itu jika dikaitkan dengan beban tugas dan peran yang dijalankan Imeum Meunasah dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia sangat penting, khususnya bidang keagamaan sebagai pilar utama penopang dalam mensosialisasikan Syari'at Islam di tingkat gampong.

Dalam upaya untuk memperkuat keimanan masyarakat di daerah perbatasan dan daerah terpencil, Pemerintah Aceh sejak tahun 2002 telah memprogramkan penempatan

(32)

da’i di wilayah perbatasan dan daerah terpencil. Jumlah da’i yang tercatat hingga saat ini berjumlah 149 orang (lihat tabel 2.12)

Tabel 2.12

Jumlah Da’i di Wilayah Perbatasan dan Terpencil

No. Kabupaten/Kota 2011 2012 Wilayah Perbatasan Daerah Terpencil Wilayah Perbatasan Daerah Terpencil 1 Simeulue - 18 - 17 2 Aceh Singkil 23 15 24 14 3 Aceh Selatan - 9 - 9 4 Aceh Tenggara 30 9 30 10 5 AcehTamiang 26 5 25 5 6 Subulussalam 12 3 13 2 Jumlah 91 59 92 57 Total 150 149

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

2.1.3. Aspek Pelayanan Umum

2.1.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib 2.1.3.1.1. Pendidikan

A. Angka Partisipasi Sekolah

Selama periode tahun 2011-2012, capaian Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut jenjang pendidikan terus mengalami kenaikan. Pada jenjang Pendidikan Dasar, APS mengalami kenaikan dari 99,03 persen pada tahun 2011 menjadi 99,35 persen pada tahun 2012, sedangkan APS jenjang pendidikan SMP meningkat dari 94.07 persen pada tahun 2011 menjadi 94.41 persen pada tahun 2012. Demikian juga dengan APS jenjang pendidikan SMA mengalami peningkatan dari 72.41 persen pada tahun 2011 menjadi 74.44 persen pada tahun 2012 (Tabel 2.13).

Tabel 2.13

Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Kelompok Usia Sekolah di Provinsi Aceh Tahun 2012

No Kabupaten/Kota Kelompok Umur 7-12 13 - 15 16 – 18 1 Simeulue 99.52 96.62 78.99 2 Aceh Singkil 98.12 98.89 66.90 3 Aceh Selatan 99.80 93.55 74.39 4 Aceh Tenggara 99.20 93.93 80.49 5 Aceh Timur 99.08 95.30 64.53

(33)

No Kabupaten/Kota Kelompok Umur 7-12 13 - 15 16 – 18 6 Aceh Tengah 98.97 93.48 78.44 7 Aceh Barat 99.25 98.54 87.87 8 Aceh Besar 100.00 95.11 74.33 9 Pidie 99.60 94.57 66.91 10 Bireuen 99.24 95.91 72.93 11 Aceh Utara 99.25 90.31 75.51

12 Aceh Barat Daya 99.09 96.92 70.64

13 Gayo Lues 99.76 92.47 76.92 14 Aceh Tamiang 99.63 96.28 65.63 15 Nagan Raya 99.54 90.51 83.01 16 Aceh Jaya 98.81 98.64 67.60 17 Bener Meriah 100.00 97.54 71.65 18 Pidie Jaya 99.37 92.74 71.28 19 Banda Aceh 99.24 98.11 89.34 20 Sabang 100.00 99.14 83.13 21 Langsa 98.66 94.68 78.07 22 Lhokseumawe 100.00 96.59 82.29 23 Subulussalam 98.58 91.80 74.63 ACEH 99.35 94.41 74.44

Sumber : Badan Pusat Statistik 2013

Berdasarkan tabel 2.13 di atas, untuk kelompok umur 7 – 12 tahun, seluruh kabupaten kota APS nya sudah mencapai persentase di atas 98 persen, yang terendah adalah kabupaten kabupaten Aceh Singkil (98.12 persen) dan Kota Langsa (98.66 persen). Demikian pula untuk kelompok umur 13 – 15 tahun, persentase terkecil adalah di kabupaten Aceh Singkil (88.89 persen) dan Aceh Utara (90.31 persen). Pada kelompok umur 16 – 18 tahun, partipasi sekolah yang paling rendah di kabupaten Aceh Timur (64.53 persen) dan Aceh Tamiang (65.63 persen).

B. Pendidikan Anak Usia Dini

Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk usia 4-6 tahun di TK/RA di Aceh meningkat dari 22,6% pada 2009 menjadi 30% pada 2012 dan mendekati target Renstra Pendidikan Aceh 2007-2012 sebesar 33,5% (lihat Tabel 2.14). Pada tahun 2012, partisipasi siswa perempuan sedikit lebih baik sebagaimana ditunjukkan oleh capaian IPG APK sebesar 1,05 – sedikit di atas angka idealnya sebesar 1. Meskipun demikian, dalam kurun 2010-2012, kesenjangan partisipasi siswa laki-laki dan perempuan dalam memperoleh layanan

(34)

pendidikan semakin kecil yang ditandai dengan penurunan IPG APK. Persentase guru TK/RA berkualifikasi minimal S1/D4 juga mengalami peningkatan yang cukup berarti dari 6% pada 2010 menjadi 17,2% pada 2012.

Tabel 2.14

Indikator Pelayanan Pendidikan TK/RA Tahun 2009-2012

No Jenjang Karir 2009 2010 2011 2012

1. APK TK/RA (total) • Laki-laki • Perempuan 22,62% n.a n.a 26,88% 25,97% 27,83% 27,63% 26,80% 28,48% 30,02% 29,26% 30,82% 2. Indek Paritas Gender (IPG) APK n.a 1,07 1,06 1,06

3. Persentase guru berkualifikasi minimal S1/D4

n.a

6,0% 8,1% 17,2%

Sumber: Dinas Pendidikan Aceh, 2009-2013

Sejalan dengan program pemerataan dan perluasan akses pendidikan, peningkatan mutu untuk program PAUD juga telah dilaksanakan, meskipun belum optimal. Peningkatan mutu tersebut dapat dilihat dari kondisi masukan dan keluaran, proses, guru, sarana/prasarana dan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan.

Usia dini membutuhkan perhatian lebih besar untuk setiap individu agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 telah direkomendasi rasio ideal perbandingan guru dan murid sebagai berikut:

Tabel 2.15

Rasio Ideal Guru dan Anak Berdasarkan Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009

Usia Rasio Ideal Guru dan Murid Jumlah Murid Dalam Kelas

0 - < 1 tahun 1 guru per 4 anak Tak lebih dari 4 1 - < 2 tahun 1 guru per 6 anak Tak lebih dari 6 2 - < 3 tahun 1 guru per 8 anak Tak lebih dari 10 3 - < 4 tahun 1 guru per 10 anak Tak lebih dari 12 4 - < 5 tahun 1 guru per 12 anak Tak lebih dari 20 5 - < 6 tahun 1 guru per 15 anak Tak lebih dari 20 Sumber :Permendiknas Nomor 58, tahun 2009

Merujuk pada rekomendasi Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD, rasio guru murid TK/RA di Provinsi Aceh secara rerata terbilang ideal yaitu 1 : 14,23 atau (164.052 murid : 11.521 guru) dan dengan rasio tersebut seharusnya proses pembelajaran semakin baik. Namun karena sebagian besar guru belum memiliki kualifikasi seperti yang dipersyaratkan pada program PAUD (lihat tabel 2.15 dan tabel 2.16) maka proses pembelajaran menjadi tidak optimal.

Figur

Gambar 2.2. Perbandingan Nilai Penyakit Tidak Menular Utama

Gambar 2.2.

Perbandingan Nilai Penyakit Tidak Menular Utama p.28
Tabel 2.16  merupakan deskripsi guru PAUD berdasarkan jenjang pendidikannya,  dimana persentase terbesar guru adalah lulusan SLTA

Tabel 2.16

merupakan deskripsi guru PAUD berdasarkan jenjang pendidikannya, dimana persentase terbesar guru adalah lulusan SLTA p.35

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :