BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Penggunaan Obat Tetes Mata Berdasar Hasil Kuesioner dan
9. Aspek pengetahuan
Tabel X. Pengetahuan Responden Terhadap Penggunaan Obat Tetes Mata No Aspek Pengetahuan Pernyataan Kuesioner jawaban Benar (%) jawaban Salah (%)
1* Semua jenis obat harus digunakan sampai habis. 56,4 43,6
2 Cara penggunaan obat yang benar akan mempengaruhi
kesembuhan penyakit. 99,1 0,9
3 Penyimpanan obat tetes mata harus di suhu kamar
tempat yang kering, dan terlindung cahaya. 91,8 8,2
4 Setelah meneteskan obat tetes mata harus didiamkan
beberapa menit 81,8 18,2
5 Penggunaan obat tetes mata secara tegak lurus 89,1 10,9
6* Jika warna, bau dan kejernihan dari larutan obat sudah
berubah, obat tetes masih dapat digunakan kembali. 93,6 6,4 7 Penggunaan obat tetes mata boleh digunakan untuk
tetes telinga jika punya kegunaan yang sama 8,2 91,8
8 Pembacaan brosur pada kemasan obat akan mengurangi
resiko yang tidak dikehendaki 95,5 4,5
9 Cara meneteskan obat tetes mata yaitu pada kelopak
mata bagian bawah 39,1 60,9
10 Kebersihan adalah hal yang penting dalam penggunaan
obat tetes 99,1 0,9
Keterangan:
* = Pernyataan unfavourable
Pengetahuan atau kognitif merupakan suatu domain yang sangat penting untuk membentuk suatu tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2002). Pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam aspek pengetahuan berisi pengetahuan responden terhadap penggunaan obat tetes mata secara umum. Berdasarkan
kuesioner dan wawancara yang diberikan kepada responden, didapatkan hasil yang dapat dilihat pada tabel X. Persentase jawaban benar dan salah yang ditampilkan pada tabel X diatas, merupakan persentase jawaban yang sebagaimana mestinya dijawab oleh responden sesuai dengan kunci jawaban kuesioner.
Pada pernyataan no 1, semua jenis obat memang tidak semuanya harus digunakan sampai habis. Pernyataan tersebut dimasukkan kedalam pernyataan unfavourable untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan responden tentang penggunaan obat. Secara umum, masyarakat mengetahui bahwa obat yang harus digunakan sampai habis biasanya merupakan obat-obat antibiotik. Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi, yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain (Setiabudy, 1995).
Saat dilakukan wawancara terhadap 85 responden, terdapat berbagai macam pendapat yang menyertai kedua pernyataan tersebut. Dari 62 responden (56,4%) yang menjawab benar pada pernyataan nomor 1, mereka menyatakan bahwa semua obat tidak harus digunakan sampai habis. Bila sudah sembuh obat tidak perlu dihabiskan, kecuali kalau obat tersebut merupakan antibiotik. Keberhasilan terapi antibiotik sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien pada terapi (Wattimena, Sugiarso, Widianto, Sukandar, Soemardji, Setiadi., 1991).
Responden yang menjawab salah ada 48 orang. Responden tersebut menganggap semua jenis obat harus digunakan sampai habis. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa sistem imun tubuh seseorang berbeda-beda, sehingga supaya cepat sembuh obat harus digunakan sampai habis. Ada juga
yang menyayangkan jika membuang obat yang belum habis, sehingga dipakai sampai habis walaupun penyakitnya sudah sembuh.
Saat menanyakan pertanyaan nomor 1, peneliti juga menanyakan tentang penggunaan terhadap obat tetes mata. Dari 85 responden yang diwawancarai, 65 responden (76,5%) mengatakan bahwa mereka tidak pernah menggunakan obat tetes mata sampai habis. Mereka menghentikan penggunaan obat tetes mata tersebut jika keluhan yang dirasakan sudah membaik. Dilakukan pengecualian bila responden tersebut menggunakan obat tetes mata dengan resep dokter. Responden yang menggunakan obat tetes mata dengan resep dokter selalu mengikuti petunjuk dokter dalam menggunakan dan menghentikan penggunaan obat tetes mata. Hasil jawaban pada pernyataan nomor 1 persentase antara jawaban benar dan salah tidak berselisih banyak, namun dapat dikatakan pengetahuan responden pada pernyataan nomor 1 termasuk kategori sedang. Diperlukan adanya tambahan informasi mengenai lama penggunaan obat terutama terkait dengan obat yang dapat dihentikan ketika gejala dari suatu penyakit tersebut sudah hilang.
Terkait permasalahan penyimpanan obat pada pernyataan nomor 3, berdasarkan hasil kuesioner jawaban yang diberikan adalah 91,8% responden lebih suka menyimpan obat tetes mata di suhu kamar, tempat yang kering, dan terlindung cahaya. Berdasarkan hasil wawancara, responden tersebut rata-rata menyimpan obat tetes mata di kotak obat khusus, di dalam tas, lemari obat yang tertutup dan terlindung cahaya supaya kandungan obat tetap terjaga. Persentase responden yang tidak menyimpan obat tetes mata di suhu kamar, tempat yang
kering, dan terlindung cahaya adalah 8,2% atau 9 responden. Ketika diwawancarai, responden tersebut lebih suka menyimpan obat tetes mata di lemari es. Alasan yang diberikan kepada peneliti adalah supaya saat digunakan, obat tetes mata terasa lebih segar.
Saat dikonfirmasi mengenai informasi obat yang diberikan oleh petugas apotek atau apoteker ketika membeli obat tetes mata adalah mereka mengaku tidak pernah diberi informasi cara penyimpanan obat tetes mata saat membeli di apotek, bahkan ada pula yang mengatakan membeli obat tetes mata di warung-warung dekat rumah sehingga tidak diberikan informasi obat sama sekali. Hal ini juga diperkuat oleh keterangan yang diberikan oleh apoteker saat dilakukan wawancara yang menyatakan tidak pernah memberi informasi terkait cara penyimpanannya.
Secara teori, cahaya, udara dan suhu lambat laun akan membuat obat terurai secara kimiawi, sehingga khasiat obat akan berkurang (Tan dan Raharja, 2010). Menurut Farmakope Indonesia IV, suhu kamar berkisar antara 15º-30ºCelcius, sedangkan suhu dingin adalah 2º-8ºCelcius. Oleh karena itu, dalam menyimpan obat harus memperhatikan suhu, udara, dan paparan cahaya. Jadi, pengetahuan responden pada pernyataaan nomor 3 adalah baik.
Pada pernyataan nomor 4, yaitu setelah meneteskan obat tetes mata harus didiamkan beberapa menit, ada beberapa responden yang tidak memahami maksud dari kata ‘mendiamkan’ sehinga peneliti menjelaskan maksud dari kata tersebut. Kata ‘mendiamkan’ yang terdapat pada pernyataan tersebut maksudnya adalah memejamkan mata sebentar. Terdapat 90 responden dengan persentase
81,8% yang menjawab harus didiamkan beberapa menit terlebih dahulu sekitar 1-2 menit. Pendiaman tersebut bertujuan supaya obat tetes mata yang diteteskan mudah menyebar keseluruh bagian mata dan menambah efektivitas obat. Jadi, pengetahuan responden pada pernyataaan nomor 4 adalah baik.
Pada pernyataan nomor 8, 105 responden menjawab pembacaan brosur dapat mengurangi risiko yang tidak dikehendaki. Saat dilakukan wawancara, mereka menyatakan bahwa brosur yang ada pada kemasan obat sangat membantu mereka dalam mendapatkan informasi obat, terutama saat mereka lupa bagaimana penggunaan obat tersebut dan mengenai informasi efek samping yang jarang dijelaskan saat pemberian informasi obat. Jadi, pengetahuan responden pada pernyataaan nomor 8 adalah baik.
Pengetahuan responden terhadap pernyataan favourable kurang pada pernyataan nomor 7 dan nomor 9. Pada pernyataan nomor 7, sebanyak 91,8% responden masih belum mengetahui bahwa ada beberapa jenis obat tetes mata yang juga dapat digunakan untuk tetes telinga jika mempunyai kegunaan yang sama. Obat tetes mata yang juga dapat digunakan untuk obat tetes telinga, yang tersedia di Apotek KF RSUP Dr. Sardjito, yaitu 2 obat golongan antiseptik mata dengan kortikosteroid (Blecidex® dan Sofradex®) serta 1 golongan antiinfeksi dan antiseptik mata (Sagestam®).
Sebagian besar responden yang diwawancarai mengaku tidak berani menggunakan obat tetes mata untuk tetes telinga karena masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda, dan mereka semuanya belum pernah menggunakan/diresepkan obat tetes mata yang juga dapat digunakan untuk tetes
telinga. Terdapat 9 responden yang mengatakan pernyataan tersebut adalah benar, namun ketika diwawancarai mereka mengaku belum pernah menggunakan obat tetes mata untuk tetes telinga.
Pada pernyataan nomor 9, ada 43 responden mengetahui penetesan obat tetes mata adalah pada kelopak mata bagian bawah. Penetesan obat tetes mata yang tepat adalah pada kelopak mata bagian bawah karena kelopak mata bagian bawah lebih membentuk kantung mata daripada kelopak mata bagian atas, sehingga saat diteteskan obat lebih mudah masuk, dan jika obat tetes mata tersebut banyak terbuang oleh air mata, masih ada sedikit obat yang tertinggal pada kelopak mata bagian bawah. Untuk lebih meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait teknik penetesan obat tetes mata secara tepat, dengan adanya leaflet dan dilakukan penjelasan terkait informasi yang terdapat dalam leaflet tersebut pada saat penyerahan obat tetes mata di apotek, diharapkan dapat membantu menghapus persepsi masyarakat yang salah tentang penetesan obat tetes mata pada bola mata dan ujung mata.
Secara keseluruhan, pengetahuan responden terhadap penggunaan obat tetes mata adalah baik, hal tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 22. Pengetahuan responden terhadap penggunaan obat tetes mata 75,4% 24,6%