• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. PETA SOSIAL KOMUNITAS

4.3 Aspek Perekonomian

Perekonomian masyarakat Kelurahan Purwoharjo tidak berbasis pada sektor pertanian namun lebih cenderung pada sektor jasa dan perdagangan. Hal tersebut dapat dilihat dari data monografi Kelurahan Purwoharjo yang tidak menyebutkan adanya lahan pertanian dan tidak ada penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani maupun buruh tani. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa tidak ada sedikitpun lahan pertanian (sawah dan ladang) di wilayah Kelurahan Purwoharjo yang ada hanya pekarangan di sekitar pemukiman. Sungai Comal yang mengalir di sebelah barat wilayah ini tidak memberikan manfaat secara ekonomi. Karena merupakan wilayah perkotaan, maka di wilayah ini tumbuh menjamur usaha sektor informal seperti : pedagang kaki lima dan sektor informal lainnya seperti : warung tenda, penjual VCD, pedagang makanan keliling, tukang jam, tukang sol sepatu, tambal ban dan lain- lain yang berada di sekitar pasar Comal. Secara umum, banyak profesi yang ditekuni oleh penduduk Kelurahan Purwoharjo. PadaTabel 6 ditampilkan jumlah penduduk Kelurahan Purwoharjo berdasarkan mata pencaharian mereka.

Tabel 6 Jumlah Penduduk Kelurahan Purwoharjo menurut Mata Pencaharian Tahun 2005

No Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 PNS TNI/POLRI Swasta wiraswasta/pedagang Tani Pertukangan Buruh Tani Pensiunan Nelayan Pemulung Jasa 132 18 2.356 1.571 0 58 0 74 0 0 261 2,95 0,40 52,71 35,14 0 1,30 0 1,66 0 0 5,84 Jumlah 4.470 100,00

Sumber : Data Monografi Kelurahan Purwoharjo Semester I Tahun 2005

Mata pencaharian penduduk kelurahan Purwoharjo didominasi oleh sektor swasta dan wiraswasta. Pengusaha mikro konveksi termasuk dalam kelompok wiraswasta. Dari data jumlah total penduduk menurut mata pencaharian sejumlah 4.470 maka persentase wiraswasta adalah 35,15 persen dan swasta 52,71 persen. Data menunjukkan bahwa perekonomian penduduk Kelurahan Purwoharjo tidak berbasis pada sektor pertanian melainkan sektor jasa dan perdagangan. Dalam data tersebut tidak ditemukan satu orangpun penduduk Kelurahan Purwoharjo yang bekerja sebagai petani maupun buruh tani. Pada Tabel 7 disajikan jumlah penduduk Kelurahan Purwoharjo menurut kelompok usia tenaga kerja. Apabila menggunakan batasan usia kelompok tenaga kerja sesuai dengan Tabel 7 maka jumlah pengangguran di Kelurahan Purwoharjo adalah 9.346 dikurangi 4.470 yaitu 4.876 orang.

Tabel 7 Jumlah Penduduk Kelurahan Purwoharjo menurut Kelompok Usia Tenaga Kerja Tahun 2005

No Kelompok UsiaTenaga Kerja (tahun)

Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 10-14 47 1,03 2 15-19 913 21,05 3 20-26 961 22,13 4 27-40 1.390 32,03 5 41-56 996 22,95 6 57 < 89 1,91 JUMLAH TOTAL 9.346 100,00

26

Pasar Comal berada di wilayah kelurahan Purwoharjo dan merupakan pasar terbesar kedua setelah pasar Pagi Kota Pemalang. Pasar Comal merupakan pusat kegiatan ekonomi / perdagangan dari 4 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Ampelgading, Kecamatan Bodeh, Kecamatan Ulujami dan Kecamatan Comal sendiri. Selain pasar terdapat 5 minimarket yaitu Rehal, Tulip, Sukses Makmur, Indomaret dan Agung. Sekitar 1 km ke arah timur, terdapat Pasar Grosir Konveksi Comal yang dibangun pada tahun 2002 untuk memasarkan sebagian produk konveksi. Pasar grosir tersebut dibangun di lahan milik Pemda Pemalang dan pembangunannya bekerja sama dengan investor.

Selain infrastruktur berupa pasar yang cukup besar, di tempat ini juga terdapat lembaga keuangan antara lain : Bank Jateng KCP Comal, BCA, Bank Danamon, BRI unit Purwoharjo, Perum Pegadaian, KOSPIN JASA, BPR Bank Pasar, BPR BKK, BMT Sinar Mentari dan Bank kredit harian. Dari berbagai macam lembaga keuangan tersebut yang banyak dimanfaatkan oleh pedangang pasar dan sebagian besar masyarakat adalah Bank Pasar, Kospin Jasa dan Bank kredit harian, dan Perum Pegadaian. Sarana transportasi yang digunakan beragam yaitu : becak, dokar, Koperanda, Isuzu Elf, minibus.

Di wilayah RW 9 (dusun Serdadi) terdapat industri kecil pakaian jadi (konveksi) khususnya celana panjang, celana pendek (kolor) dan seragam sekolah sejumlah 88 unit yang sudah terdaftar di Diperindag Kabupaten Pemalang ( formal) dan 66 unit yang belum terdaftar (non formal) (Diperindag Kab Pemalang, 2004). Industri mikro konveksi telah memiliki wadah berupa “Asosiasi Pengusaha Pakaian Jadi “ (APPJ) dan koperasi yaitu “Koperasi Pengusaha Pakaian Jadi” (KPPJ) serta “Asosiasi Pengusaha Industri Kecil” (APIK).

Dari hasil wawancara dengan beberapa pengusaha mikro konveksi di kelurahan Purwoharjo, terungkap bahwa rata-rata modal awal dalam memulai usaha berasal dari pribadi / keluarga dengan jumlah yang bervariasi antara Rp 2.000.000 – Rp 5.000.000. Pada awal perintisan usaha, semua kegiatan dari membeli bahan baku, memotong, menjahit dan memasarkan dilakukan sendiri oleh pengusaha. Hasil keuntungan dari penjualan produk konveksi berupa celana panjang atau celana kolor, ditabung untuk membeli tambahan mesin jahit dan meningkatkan modal. Pengusaha membeli mesin jahit bekas (second hand) dari Jakarta. Selanjutnya baru membeli tambahan mesin jahit dan mempekerjakan karyawan untuk menjahit. Ada beberapa pengusaha yang pada awalnya adalah

karyawan/ buruh menjahit pada pengusaha mikro konveksi, kemudian mengundurkan diri dan mendirikan usaha sendiri.

Waktu memulai usaha dari para pengusaha terbagi menjadi 3 periode yaitu : periode 1980-an, periode 1990-an dan periode 2000-an. Bagi yang memulai usaha pada periode 1980-an dan 1990-an sempat merasakan bantuan pinjaman lunak dari pemerintah dan BUMN, namun bagi yang memulai usaha pada periode 2000-an sudah tidak lagi menikmati bantuan pinjaman lunak tersebut. Menurut informasi dari Diperindagkop Kabupaten Pemalang dan hasil wawancara, banyak dari pinjaman lunak yang macet sehingga tidak ada keberlanjutan pemberian bantuan pinjaman lunak dari BUMN yang bersangkutan.

Mayoritas pengusaha mikro konveksi memproduksi celana panjang dan celana kolor. Pengusaha yang memproduksi seragam sekolah dari TK sampai SMA hanya satu orang, satu orang memproduksi pakaian dalam wanita dan satu orang memproduksi kemeja. Tempat usaha masih bersatu dengan rumah / tempat tinggal. Ruang tamu depan difungsikan sebagai tempat menjahit. sedangkan ruang keluarga berfungsi ganda sebagai ruang tamu. Berdasarkan hasil observasi, pengusaha mikro konveksi yang tempat menjahitnya terpisah dari tempat tinggal hanya 2 orang.

Dusun Serdadi (RW 09) kelurahan Purwoharjo sebagian besar penduduknya menggeluti usaha mikro konveksi. Dari 129 orang pengusaha mikro konveksi di Kelurahan Purwoharjo, hanya dua pengusaha yang berada di luar dusun Serdadi yaitu di dusun Balutan (RW 06). Lokasi dusun Serdadi cukup strategis karena berada di tepi jalan pantura (Daendels) Jawa Tengah bagian barat dan sudah relatif cukup dikenal oleh pedagang lokal (Purbalingga, Purwokerto, Tegal) karena usaha mikro konveksi di dusun ini sudah berlangsung lama (sejak tahun 1980-an). Letak yang strategis ini cukup menguntungkan karena secara tidak langsung dapat mempermudah transportasi bahan baku dan pemasaran.

Di RT 05 RW 03 (dusun Posongan) terdapat industri rumah tangga kue semprong sejumlah 20 buah. Menurut penuturan mereka, usaha tersebut merupakan usaha turun temurun dari nenek moyang mereka. Sedangkan di RW 04 dan RW 06 (dusun Balutan) terkenal dengan kerajinan kurungan ayam dari bambu namun sekarang tinggal sedikit yang masih menekuninya karena harganya yang rendah dan pemasarannya semakin susah. Dari ketiga kegiatan

28

tersebut yang sudah pernah mendapatkan bimbingan dan bantuan dari Pemda (Diperindagkop Kabupaten Pemalang) adalah industri rumah tangga kue semprong dan konveksi.

Sejumlah 100 orang fakir miskin yang tersebar di dusun Gedangan, dusun Posongan, Dusun Balutan dan Dusun Serdadi yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE) pernah mendapatkan bantuan Paket Sarana Ekonomi Produktif dari Proyek Bantuan Sosial Fakir Miskin Propinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2003 melalui Kantor Kesejahteraan Sosial Kabupaten Pemalang berupa : mesin jahit Singer, dinamo Nasional, meja jahit, mesin obras Butterfly, metlin, gunting jahit Butterrfly, gunting dedelan, seam reaper, benang obras, penggaris lurus, penggaris mode, kapur jahit, Jarum Penthol dan rader secara hibah dengan tanggung jawab untuk mengembangkan (digulirkan kepada KUBE yang lain dalam waktu sesuai kemampuan kelompok). Berdasarkan pengamatan di lapangan, sebagian besar fakir miskin tersebut tidak dapat melanjutkan usahanya karena berbagai sebab antara lain : kurangnya keterampilan, kurangnya pembinaan/ pendampingan dari dinas terkait, kebutuhan ekonomi yang menghimpit sehingga bantuan mesin jahit digunakan sebagai agunan di Perum Pegadaian, kelompok usaha bersama ekonomi yang dibentuk secara mendadak dan formalitas sebagai syarat untuk memperoleh bantuan peralatan jahit dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Sosial Propinsi Jawa Tengah.

Dokumen terkait