• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Evaluasi Program Pengembangan Kawasan Minapolitan

3. Aspek Proses ( Process )

Pelaksanaan program pengembangan kawasan minapolitan “Kampung Lele”dilihat dari aspek process (proses) meliputi:

a. Survei Lokasi

Survei lokasi dan proses penggalian data melibatkan stakeholder dari pemerintah, swasta dan petani ikan dengan bentuk kegiatan yang dilakukan adalah FGD (Focus Group Discussion). Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh data dan menjaring aspirasi masyarakat mengenai daerah yang akan dijadikan kawasan minapolitan ”Kampung Lele” Kabupaten Boyolali.

Focus Group Discussion (FGD) yaitu sebuah kelompok diskusi yang dipandu oleh seorang moderator untuk mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan pendapat orang pada topik tertentu. Biasanya, kelompok fokus melibatkan enam sampai 12 peserta yang diminta untuk menanggapi serangkaian pertanyaan yang diajukan oleh moderator. Sebuah sesi kelompok diskusi biasanya berlangsung sekitar dua jam (Zarinpoush, 2008).

Pelaksanaan kegiatan FGD Desa Tegalrejo dilakukan sebanyak 4 kali. Stakeholder dapat mengungkapkan kendala, ide dan gagasan mengenai kawasan minapolitan khususnya “Kampung Lele” Desa Tegalrejo sebagai dasar kebijakan penetapan program.

Pelaksanaan FGD dapat meningkatkan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat khususnya petani ikan. Komunikasi ini dapat menciptakan partisipasi seluruh pihak sehingga merasa memiliki program.

Tidak ditemukan kendala oleh pemerintah Kabupaten Boyolali dalam penyelenggaraan FGD. Hasil kegiatan survei lokasi berupa aspirasi yang disusun menjadi dokumen FGD masterplan pengembangan kawasan minapolitan ”Kampung Lele” Kabupaten Boyolali. Data ini digunakan oleh pemerintah sebagai dasar dalam

commit to user

penyusunan program pengembangan kawasan minapolitan ”Kampung Lele” Kabupaten Boyolali.

b. Kegiatan Program Pengembangan Kawasan Minapolitan

”Kampung Lele” Desa Tegalrejo

Program ini adalah salah satu usaha untuk mewujudkan eksistensi dan pengembangan ”Kampung Lele” di Desa Tegalrejo. Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh organisasi pendukung meliputi: 1) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Boyolali

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Boyolali melakukan kegiatan survei lokasi di “Kampung Lele”. Bentuk kegiatan berupa FGD dan analisis data. Kendala yang dihadapi oleh tim survei adalah kekurangan tenaga ahli dalam penyusunan perencanaan tata lokasi kawasan minapolitan. Untuk itu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah bekerjasama dengan tenaga ahli dari konsultan tenik CV WISANGGENI dalam menganalisis data guna perencanaan kawasan minapolitan.

Kegiatan analisis data menghasilkan penyusunan RPIJM (Rencana Pembangunan Infrastruktur Jangka Menengah) program pengembangan Kawasan Minapolitan “Kampung Lele” Kabupaten Boyolali. Hasil ini digunakan oleh pemerintah Kabupaten Boyolali sebagai arahan bagi pembangunan di lokasi kawasan minapolitan termasuk di Desa Tegalrejo.

2) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali

Adanya kegiatan yang dilakukan oleh PPL (petugas penyuluh lapangan) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali. Bentuk kegiatan yang dilakukan oleh PPL berupa penyuluhan dan pelatihan. Kegiatan penyuluhan dilakukan 1 bulan sekali.

Pelatihan pembenihan ikan lele yang diberikan oleh PPL kepada petani ikan. Namun pembenihan ini tidak berhasil diterapkan oleh petani ikan. Pelatihan pembenihan yang tidak berhasil ditindaklanjuti dengan pelatihan di Dinas Perikanan dan Kelautan

commit to user

Kabupaten Tegal. Selain itu, PPL bekerjasama dengan UNDIP (Universitas Dipenogoro) meneliti kondisi air di “Kampung Lele” Desa Tegalrejo dengan hasil air ini kurang mendukung untuk kegiatan pembenihan ikan lele.

Hasil kegiatan pelatihan pembenihan ikan lele adalah pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan petani ikan. Hal ini terbukti beberapa petani ikan berhasil melakukan pembenihan ikan lele dengan cara memodifikasi airnya. Air yang digunakan untuk media pembenihan dimodifikasi dengan menambahkan garam. Hal ini dilakukan untuk memudahkan petani ikan mengontrol ikan lele jika terkena penyakit.

Pelatihan pengasapan ikan lele yang dilakukan oleh PPL bekerjasama dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kegiatan pelatihan diikuti oleh perwakilan dari petani ikan. Peserta dan tempat pelatihan dapat berbeda tiap tahunnya sesuai dengan agenda KKP. Pelatihan yang sudah dilaksanakan oleh KKP bertempat di Bogor dan Kabupaten Pati.

Kendala dari kegiatan pengasapan ikan lele adalah tingginya harga bahan bakar untuk proses produksi. Hal ini menyebabkan pengasapan ikan lele tidak berjalan. Hasil kegiatan pelatihan pengasapan adalah bertambahnya pengetahuan dan pengalaman petani ikan dalam proses pengasapan ikan lele.

PPL juga menjalin kerjasama dengan pihak swasta dan akademisi. Kerjasama dengan swasta dalam bentuk investasi. Investasi yang diberikan berupa pemberian modal kolam dan isinya. Kolam tersebut ditangani oleh petani ikan dengan sistem bagi hasil. Kerjasama dengan akademisi seperti UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta dan UNDIP Semarang. “Kampung Lele” dijadikan sebagai tempat magang dan penelitian. Tidak ditemukan kendala dalam kegiatan ini. Hasil dari kerjasama adalah

commit to user

bertambahnya koneksi hubungan antara petani ikan dengan pihak luar.

3) Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Boyolali

Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Boyolali memberikan pelatihan pengolahan dan peralatannya. Peralatan yang diberikan diantaranya adalah mesin press daging, alat penggorengan dan kemasan abon lele (data terlampir).

Kegiatan pelatihan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mengolah produk ikan lele oleh ibu-ibu petani ikan. Selain itu, juga melakukan pendaftaran merk dan uji laboratorium kandungan nutrisi abon ikan lele. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan mutu produk yang dihasilkan. Tidak ditemukan kendala dalam kegiatan ini.

Hasil kegiatan ini adalah bertambahnya pengetahuan dan pengalaman dari ibu-ibu petani ikan. Selain itu, Peralatan dan pengujian produk ikan lele dapat meningkatkan legalitas dan informasi produk ikan lele.

Kegiatan yang lain adalah promosi dan pemasaran produk ikan lele dilakukaan dengan cara memfasilitasi kelompok pengelola Karya Mina Utama pada acara pameran produk makanan. Pameran yang sudah diikuti oleh kelompok tersebut adalah pameran pada Pasar Lelang Forward Agro Jawa Tengah di Kabupaten Temanggung dan pada hari jadi Kabupaten Boyolali.

Kendala yang dihadapi dalam kegiatan fasilitasi mengikuti pameran ini adalah anggaran yang terbatas, sehingga sewa tempat untuk pameran disesuaikan dengan anggaran. Hasil kegiatan promosi adalah produk ikan lele dapat dikenal secara lebih luas dan meningkatnya pesanan produk tersebut.

commit to user

4) Dinas Pekerjaan Umum Perhubungan, Pertambangan dan Kebersihan Kabupaten Boyolali

Kegiatan yang dilakukan oleh dinas ini yaitu pembangunan sarana dan prasarana pendukung kegiatan budidaya ikan lele. Sarana yang sudah dibangun diantaranya adalah perbaikan dan peningkatan kelas jalan, pembuatan sumur artesis dan sumur bor, serta pembuatan saluran air.

Perbaikan dan peningkatan kelas jalan pada jalan utama “Kampung Lele” Desa Tegalrejo yang menghubungkan “Kampung Lele” Desa Tegalrejo dengan Desa Wangen Polonharjo Klaten. Pada tepi jalan dilengkapi dengan papan penunjuk menuju “Kampung Lele” Desa Tegalrejo. Kendala dalam kegiatan ini adalah anggaran yang terbatas, sehingga perbaikan dilakukan secara bertahap. Hasil perbaikan dan peningkatan kelas jalan yaitu jalan di “Kampung Lele” kondisinya lebih baik sehingga memperlancar transportasi.

Kegiatan pembuatan sumur dan saluran air telah terlaksana. Sumur ini dibangun untuk meningkatkan ketersediaan air guna kegiatan budidaya ikan. Sumur tersebutt berupa sumur artesis berjumlah 2 dan sumur bor berjumlah 15. Pembuatan saluran air bertujuan memperlancar aliran air. Tidak ditemukan kendala dalam pembangunan saluran air. Hasil pengamatan dilapang kondisi sumur artesis seluruhnya masih bagus, sedangkan sumur bor tinggal 5 yang masih berfungsi. Hal ini dikarenakan kedalaman sumur masih kurang.

Pembangunan gedung pengasapan telah terlaksana. Gedung ini dibangun untuk meningkatkan kegiatan usaha industri olahan ikan lele. Selain itu, pengasapan ikan lele sebagai salah satu cara untuk menampung kelebihan produksi ikan lele segar. Ikan lele asap juga memiliki daya tahan yang lebih lama, sehingga lebih awet. Gedung ini dibangun oleh pemerintah dan diberikan kepada petani ikan yang tergabung dalam kelompok pengolah produk ikan lele

commit to user

yaitu Alang-alang dan Karmina. Kelompok ini mengendalikan aktivitas yang ada di gedung pengasapan. Aktivitas di gedung ini selain dipakai untuk memproduksi lele asap, gedung ini juga digunakan untuk memasak abon lele dan kegiatan pengolahan ikan lele lainnya. Kelompok pengelola merawat gedung ini termasuk juga membayar listrik.

Tidak ditemukan kendala dalam pembangunan gedung pengasapan. Hasil pengamatan dilapang kondisi gedung masih bagus namun kurang terawat. Hal ini dikarenakan usaha pengasapan ikan tidak berjalan sehingga gedung ini tidak dipakai.

5) Kelompok Petani Ikan

Kegiatan kelompok petani ikan lele Karya Mina Utama adalah pertemuan rutin setiap satu bulan sekali untuk bermusyawarah mengenai budidaya ikan lele. PPL (Petugas Penyuluh Lapang) ikut menghadiri pertemuan tersebut dan melakukan kunjungan langsung ke kolam ikan lele.

Kendala pelaksanaan pertemuan rutin yaitu kehadiran anggota tidak selalu utuh. Namun informasi kegiatan dapat tersampaikan kepada petani ikan lain pada saat bertemu di kolam ikan lele. Hasil kegiatan pertemuan rutin adalah pertukaran informasi baik dari penyuluh maupun dari petani ikan.

Kegiatan utama petani ikan adalah budidaya pembesaran ikan lele, setiap harinya “Kampung Lele” Desa Tegalrejo memanen 10 ton ikan lele segar. Kolam ikan lele yang berukuran 60 m2 membutuhkan ± 15.000 benih ikan lele yang berukuran 7 cm. Kebutuhan benih ikan lele “Kampung Lele” mencapai ± 5.000.000 ekor/ bulan. Untuk mencukupinya, petani ikan mendatangkan benih ikan lele dari Kabupaten Tulungagung.

Pemberian pakan ikan benih ukuran 7 cm dilakukan 2 hari setelah penebaran benih ke kolam. Hal ini dikarenakan 2 hari pertama benih ditebar nafsu makannya rendah. Dosis pakan ikan lele

commit to user

berkisar 2,5-3% perhari dari berat total ikan lele dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali dalam satu hari.

Pengendalian penyakit yang dilakukan oleh petani ikan dilakukan secara preventif (pencegahan) dengan cara pengelolaan air dan pengaturan makan. Untuk benih yang berumur kurang dari 10 hari tidak perlu penambahan air ke kolam karena untuk menjaga kestabilan suhu air. Suhu yang tidak stabil dapat membuat benih ikan mengalami stres sehingga mudah terserang mikro organisme patogen. Setelah lebih dari 10 hari benih dapat menyesuaikan dengan lingkungan baru dan dapat ditambah air setiap 7 hari sekali. Hal ini dilakukan untuk menambah nafsu makan dan menjaga kesehatan ikan lele.

Kolam ikan yang sering di tambah air dari pengairan umum, terkadang dapat menyebabkan infeksi pada insang dan bengkak merah disekitar dibawah insang. Untuk mengatasinya ada beberapa petani ikan yang membuat sumur panthek di sekitar areal kolam. Pemeliharaan ikan lele dilakukan secara berkala sampai panen (± 3 bulan). Pengendalian penyakit ikan dilakukan dengan menambahkan air ke kolam karena salah satu penyebabnya adalah air yang tercemar.

Kegiatan panen yang dilakukan oleh petani ikan setelah ikan lele dibudidayakan selama ± 3 bulan. Sebelum dipanen ikan lele dipuasakan selama ± 24 jam, hal ini dilakukan untuk menjaga agar ikan lele mudah dikendalikan saat pemanenan. Ikan lele yang dipanen kemudian di sortir, ikan lele yang 1 kg (kilogram) berisi 6-7 ekor akan masuk dalam kategori ikan lele konsumsi, sedangkan ikan lele yang 1 kg berisi 3-5 ekor masuk dalam kategori ikan lele olahan. Ikan lele yang masih kecil akan dibesarkan kembali. Setelah panen, kolam ikan di berokan (diistirahatkan) selama 1 minggu dan diberi kapur ± 3 kg/kolam. Penebaran kapur bertujuan untuk mengendalikan hama penyakit yang masih ada pada kolam. Selain

commit to user

itu, kesempatan ini juga dipakai untuk membenahi kolam yang rusak.

Kendala yang dihadapi oleh petani ikan yaitu penyakit ikan lele. Namun hal ini sudah dapat ditangani oleh petani ikan, salah satunya dengan cara menambahkan air pada kolam secara rutin setiap seminggu sekali atau lebih sesuai kebutuhan dengan melihat kondisi kolam. Selain itu, ketersediaan benih ikan lele yang terkadang mengalami kekurangan menjadi kendala bagi petani ikan terutama menjelang hari raya Idul Fitri. Penanganan benih ini dengan mendatangkan benih ikan lele dari Pare Kediri. Hasil dari kegiatan budidaya ikan lele adalah ikan lele segar tiap kolam mencapai 10 kwintal, dengan total produksi hingga 10 ton/hari.

Kegiatan pengelolaan ikan lele menjadi produk ikan lele olahan mengalami kendala pada produksi ikan lele asap. Hasil dari pengolahan produk ikan lele setiap hari menyerap mencapai 30 kg ikan lele segar tergantung dari pesanan. Produk yang sudah diolah adalah abon lele, keripik ikan lele, bakso lele, nugget lele. Produk ikan lele olahan di pasarkan ke Jakarta, Bali, Solo dan Semarang.

Berdasar hasil pengamatan dan penulusuran di lapang, selain kelompok Karya Mina Utama, ada kelompok yang tumbuh yaitu kelompok Mina Maju Mandiri sebagai kelompok pembudidaya dan pembenihan ikan lele dan Alang-alang sebagai kelompok pengolahan produk ikan lele.

6) Lembaga Swasta

Lembaga swasta yang ikut dalam kegiatan program pengembangan kawasan minapolitan ”Kampung Lele” Desa Tegalrejo adalah BRI (Bank Rakyat Indonesia) Sawit, BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Sawit dan KUD (Koperasi Unit Desa) Sawit. Kegiatan yang dilakukan oleh keduanya yaitu terkait penyaluran kredit usaha. Koperasi selain memberikan bantuan kredit, juga membantu pemasaran produk olahan ikan lele.

commit to user

Pelaksanaan sosialisasi dan penyaluran kredit usaha bersamaan dengan kegiatan pertemuan rutin. Tidak ada kendala dalam pelaksanaan kegiatan ini. Hasil kegiatan ini yaitu pemberian pinjaman kredit. Jumlah peminjaman disesuaikan dengan volume usaha serta jaminan yang diberikan.

c. Kegiatan Fasilitasi Petani Ikan Dalam Program Pengembangan

Kawasan Minapolitan ”Kampung Lele” Desa Tegalrejo

Adanya bantuan fasilitasi kegiatan dapat dilihat pada tabel 15. Tabel 15. Fasilitasi Petani Ikan dalam Program Kawasan Minapolitan

“Kampung Lele Di Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali

Kegiatan Fasilitasi Jumlah Responden (orang) dan Prosentase (%) Ada Tidak Ada Penyuluhan dan pelatiahan:

1. Pelatihan untuk budidaya pembenihan sehingga dapat memenuhi permintaan benih kawasan minapolitan

2. Pelatihan terhadap petani ikan dalam proses budidaya pembesaran, olahan dan pemasaran produk ikan lele

3. Pengenalan penggunaan teknologi baru dalam budidaya perikanan

4. Penyuluhan mengenai parameter kesesuaian kandungan air yang digunakan untuk aktivitas pembenihan atau pembesaran

5. Pelatihan pemakaian alat untuk mengukur unsur-unsur yang terdapat dalam kandungan sumberdaya air

6. Penyuluhan sistem budidaya ikan yang baru sehingga produksi ikan dapat ditingkatkan (misal:mina padi)

7. Penyuluhan tentang pengendalian hama penyakit

Pengembangan jaringan:

8. Menjembatani/memfasilitasi dalam menjalin kemitraan dengan pihak luar

16(57%) 28(100%) 28(100%) 10(36%) 16(57%) 21(75%) 28(100%) 24(86%) 12(43%) - - 18(64%) 12(43%) 7(25%) - 4(14%) Sumber: Analisis Data Primer

1) Penyuluhan dan Pelatihan

Berdarkan tabel 15, pelatihan budidaya pembenihan ikan lele difasilitasi oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan

commit to user

Kabupaten Tegal. Pelatihan pembenihan diikuti oleh perwakilan dari kelompok tani berjumlah 3 orang. Pelatihan budidaya pembesaran difasilitasi oleh PPL (Petugas Penyuluh Lapang) Dinas Peternakan dan Perikanan dengan melalukan pendampingan petani ikan pada kegiatan pembesaran ikan lele di kolam mereka. Pelatihan pengolahan dan pemasaran produk ikan lele difasilitasi oleh tim dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar. Tim ini memberikan pelatihan pengolahan, peralatan pengolah ikan lele dan promosi produk ikan lele pada acara pameran di dalam maupun di luar Kabupaten Boyolali.

Pengenalan teknologi yang difasilitasi oleh PPL diantaranya adalah pengaturan pola panen dan penggunaan amonikan resekulasi. Pola panen dimaksudkan agar panen ikan lele oleh petani ikan lele dapat dilakukan secara periodik, bisa per minggu, per bulan, atau berdasarkan periode waktu yang dikehendaki. Konsep pola panen dilakukan pada luasan kolam minimum 360 m2 agar dapat dibuat 6 petak kolam ikan lele, sedangkan amoniak reserkulasi bertujuan untuk mengendalikan air kolam dari bahaya virus dan penyakit. Amoniak reserkulasi diberikan satu minggu sekali setelah minggu kelima.

Pengenalan teknologi pengolahan ikan lele diantaranya adalah pelatihan dan bantuan peralatan pengolahan ikan lele yang difasilitasi oleh tim dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar. Tim ini bertugas mengembangkan potensi produk olahan ikan lele, diantaranya adalah mengolah ikan lele menjadi abon lele.

Penyuluhan mengenai parameter kandungan air dinyatakan tidak ada oleh petani ikan karena budidaya pembesaran ikan lele dilakukan secara tradisional. Namun pelatihan pemakaian alat untuk mengukur unsur-unsur yang terdapat pada sumberdaya

commit to user

air dinyatakan ada oleh petani ikan. Kegiatan ini difasilitasi oleh peneliti dari Universitas Dipenogoro Semarang.

Penyuluhan mengenai sistem budidaya yang baru dinyatakan ada oleh petani ikan. Kegiatan ini difasilitasi oleh PPL dengan mempromosikan pola minahortikultur. Pola ini dimaksudkan untuk megoptimalkan lahan dengan menanam tanaman hortikultura di sekitar kolam. Penyuluhan mengenai hama penyakit ikan lele difasilitasi oleh PPL. PPL melakukan kunjungan kelapang sekaligus mengontrol budidaya ikan lele, jika terdapat suatu masalah seperti hama dan penyakit maka PPL akan memberikan arahan atau pemecahan masalah tersebut.

2) Pengembangan Jaringan

Kegiatan fasilitasi dalam menjalin kemitraan dinyatakan ada oleh petani ikan. Kegiatan ini difasilitasi oleh PPL bekerjasama dengan swasta. Pengembangan jaringan tersebut diantaranya adalah dengan BPD dan Koperasi Sawit. Kerjasama dengan Bank dimaksudkan agar petani ikan akses menambah akses permodalan bagi usahatani mereka, sedangkan kerjasama denan koperasi dapat membantu pengembangan dan pemasaran produk olahan.

commit to user

Tabel 16 Hasil Evaluasi Aspek Process Program Pengembangan Kawasan Minapolitan “Kampung Lele Di Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali

Aspek Proses Pedoman/Teori Hasil Pengamatan Kesimpulan Mendukung Ya Tid ak a. Survei Lokasi Terlaksananya survei kebutuhan sarana dan prasarana dan Pelaksanaan FGD untuk menjaring aspirasi masyarakat

Adanya pelaksanaan kegiatan survey lokasi dengan bentuk kegiatan pengamatan lapang dan FGD (Focus Group Discussion) sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah pengembangan kawasan minapolitan “Kampung Lele” Desa Tegalrejo.

√ b. Kegiatan Program pengemban gan kawasan minapolitan ”Kampung Lele” Desa Tegalrejo Adanya staff yang mengimplementa sikan rencana program guna mencapai tujuan

Adanya kegiatan dari organisasi pendukung yaitu:. -Badan perencanaan dan pembangunan Daerah

Kabupaten Boyolali: kegiatan surve lokasi dan analisis data hasil survei sebagai dasar perencanaan program dan penyusunan RPIJM (Rencana Pembangunan Infrastruktur Jangka Mengah) kawasan minapolitan “Kampung Lele” Kabupaten Boyolali.

-Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali : kegiatan penyuluhan, pelatihan pembenihan, pelatihan pengasapan,.

-Dinas Pekerjaan Umum Perhubungan, Pertambangan dan Kebersihan: Kegiatan yang dilakukan yaitu pembangunan sarana prasarana (jalan, sumur, saluran air dan gedung asap). -Dinas Perindustrian Perdagangan dan

Pengelolaan Pasar Kabupaten Boyolali: kegiatan yang dilakukan yaitu: pelatihan, bantuan peralatan dan promosi produk ikan lele.

-Kelompok Tani: kegiatan pertemuan rutin, kegiatan budidaya (pembenihan dan pembesaran), dan pengolahan produk ikan lele. -Lembaga Swasta (bank dan koperasi): kegiatan

pemberian kredit. √ c. Kegiatan fasilitasi petani ikan Adanya bantuan fasilitasi

Adanya fasilitasi petani ikan: 1) penyuluhan dan pelatihan, 2) pengembangan jaringan.

commit to user

Dokumen terkait