• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Bagan 10: Aspek Relasi dengan Tuhan

Pada Aspek hubungan dengan Allah, skor maksimal (50) dan skor minimal (10). Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: terdapat 15 % (9

3 44 13 5 73.3 21.6 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Alam Jumlah % 9 48 3 15 80 5 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

Tuhan Jumlah %

72

orang) mempunyai hubungan yang cukup, 80 % (48 orang ) mempunyai hubungan yang kurang, 5 % (3 orang) yang sangat kurang. Dengan demikian disimpulkan bahwa rata-rata siswa mempunyai hubungan yang kurang dengan Pencipta. 3. Analisis Korelasi Tabel-11. Correlations Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani Kecerdasan Spiritual Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani Pearson Correlation 1 .612(**) Sig. (2-tailed) . .000 N 60 60 Kecerdasan Spiritual Pearson Correlation .612(**) 1 Sig. (2-tailed) .000 . N 60 60

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Pada tabel di atas terdapat besarnya korelasi antara Pendidikan Iman dalam Keluraga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual adalah 0,612 dengan signifikansi sebesar 0,000. Maka disimpulkan bahwa ada hubungan yang nyata dan signifikan antara Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Pada analisis deskriptif nampak bahwa siswa/siswi SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda rata-rata mendapat kategori yang cukup mengenai Pendidikan Iman dalam Keluarga masing-masing. Dari empat aspek yang terungkap pada variabel Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani, siswa/siswi SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda mempunyai kategori yang sangat baik dan kategori

yang baik pada aspek pengarahan dan pemberian informasi serta pada aspek ajaran. Aspek keteladanan, rata-rata siswa cukup mengalami keteladanan dari orang tua. Sedangkan pada Aspek tata cara komunikasi rata-rata siswa kurang mengalami komunikasi yang baik.

Pendidikan Iman dari orang tua melalui keteladanan, teguran, ajaran, pemberian informasi, dan tata cara komunikasi yang baik sangat membantu perkembangan Kecerdasan Spiritual dalam hubungan dengan diri sendiri, sesama, alam dan dengan Allah. Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani termasuk dalam kategori cukup disebabkan karena pemahaman yang salah oleh orang tua bahwa urusan pendidikan iman anak merupakan tugas guru agama atau katekis. Orang tua kurang menyadari bahwa mereka adalah pendidik utama dalam keluarga.

Jaman yang serban instan membawa dampak negatif dalam hubungan dan komunikasi antar pribadi dalam keluarga, dan juga komunikasi dan hubungan kekerabatan antar keluarga-keluarga. Hubungan antar pribadi dan keluarga cenderung bersifat individualis dan pragmatis yang mengakibatkan hubungan dan kekerabatan itu sejauh ada pamrih yang menguntungkan saja. Orang tua yang sangat sibuk dengan pekerjaan kurang memberi perhatian kepada anak-anak melalui sapaan dan tatap muka. Anak tidak pernah mendapat keteladanan, teguran dan arahan dari orang tua karena kesibukan orang tua untuk mencari nafkah sehingga anak tidak pernah bertemu dengan orang tua.

Pada masing-masing aspek di atas dapat diketahui bahwa peran, suasana, dan bentuk-bentuk Pendidikan Iman dari orang tua, sangat berpengaruh bagi perkembangan iman anak. Peran orang tua dalam mendidik siswa melalui

74

keteladanan hidup, suasana komunikasi dalam keluarga serta bentuk pendidikan yang diberikan melalui teguran dan arahan sangat membantu siswa dalam mengembangkan Kecerdasan Spiritual masing-masing dalam berhubungan dengan diri sendiri, sesama, alam dan Allah.

Analisis deskripsi pada variabel Kecerdasan Spiritual memberikan gambaran bahwa siswa/siswi SMP. St. Fransisikus Assisi Samarinda mengalami perkembangan Kecerdasan Spiritual yang rata-rata kurang karena terdapat 83,3 % sedangkan kategori cukup hanya terdapat 16,6 %. Tidak terdapat kategori yang sangat baik, baik, dan sangat kurang. Dalam hal ini perkembangan Kecerdasan Spiritual perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Melihat deskripsi di atas dapat dikatakan bahwa perkembangan Kecerdasan Spiritual anak ini dipengaruhi oleh Pendidikan Iman dalam Keluarga. Kecerdasan Spiritual anak merupakan cerminan Kecerdasan Spiritual orang tua. Pada bagan di atas terlihat perkembangan Kecerdasan Spritual Siswa termasuk dalam kategori kurang maka dapat dikatakan bahwa orang tua mereka juga kurang berkembang Kecerdasan Spiritualnya

Dari empat aspek yang terungkap dalam Kecerdasan Spritual, siswa/siswi SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda mempunyai kategori yang rata-rata cukup pada aspek sesama, pada aspek alam dan Allah rata-rata siswa kurang bahkan pada aspek diri sendiri siswa medapat kategori yang sangat kurang. Dari diagram di atas dapat dilihat dengan jelas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kecerdasan Spiritual siswa SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda termasuk kategori kurang berkembang dengan baik.

Pada aspek diri sendiri siswa mendapat kategori sangat kurang karena kurang adannya pendampingan, pemberian informasi kepada anak untuk mampu menerima diri apa adanya, mampu mensyukuri bakat-bakat yang dimiliki. Hambatan yang terjadi ini diakibatkan karena anak tidak pernah mendapat perhatian dari orang tua. Pada hal pada anak menharapkan perhatian dari orang tua dalam bentuk pujian, pengakuan, dan penerimaan dari orang tua.

Berdasarkan data yang telah diperoleh lewat penyebaran kuesioner, setelah dianalisis, membuktikan bahwa semua uji prasyarat analisis korelasi terpenuhi yaitu uji normalitas, uji linearitas. Hasil uji normalitas menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov. Uji ini untuk mengukur data berskala interval dan untuk mengetahui apakah masing-masing kelompok data berasal dari populasi yang normal atau tidak. Dalam penelitian ini data dinyatakan berdistribusi normal karena signifikansinya lebih besar dari 0,05, dan uji linearitas menggunakan Test of Linearity dan hasil yang diproleh adalah bahwa kelinearitasan data ini terpenuhi karena signifikansinya kurang dari 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar hubungan antar variabel “ Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani” dengan ”Kecerdasan Spiritual” yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,612. Hal ini menunjukkan hubungan nyata dan signifikan di antara kedua variable tersebut. Semakin baik Pendidikan Iman anak dalam Keluarga Kristiani maka semakin baik pula perkembangan Kecerdasan Spiritual siswa. Data menunjukkan bahwa hipotesis awal yang dirumuskan oleh peneliti berdasarkan kajian pustaka dapat diterima sebagai jawaban yang mengungkapkan bahwa antara Variabel Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan variable Kecerdasan Spiritual saling berhubungan.

76

Penelitian ini mempunyai hipotesis sebagai berikut: H0: Tidak ada hubungan antara Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual siswa. H1: Ada hubungan signifikan antara Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual siswa. Dari hasil penelitian melalui analisis korelasi membuktikan bahwa Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani mempunyai hubungan nyata dan signifikan dengan Kecerdasan Spiritual siswa SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda. Kedua variabel tersebut juga saling berhubungan. Dengan demikian hipotesis yang telah terbukti pada sampel dapat digeneralisasikan pada populasi.

Hal tersebut dapat dilihat pada output korelasi yang terdapat pada tabel- 11 di atas. Pada hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa Pendidikan Iman dalam Keluraga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual adalah 0,612 dengan signifikansi sebesar 0,000. Adapun ketentuan apabila signifikansi di bawah atau sama dengan 0,05 maka H1 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual.

D. Refleksi Kateketis

Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani adalah suatu proses dan usaha orang-orang dewasa dalam membantu anak agar berkembang dalam imannya. Perkembangan iman anak dipengaruhi oleh suatu bentuk suasana dan keteladanan orang tua. Orang tua yang baik memberikan teladan, dan menciptakan suasana yang membantu anak dalam perkembangan imannya melalui sikap hidup, suasana komunikasi, teguran dan arahan serta pemberian informasi yang mambantu mengarahkan anak untuk semakin mengembangkan Kecerdasan Spiritual. Perkembangan Kecerdasan Spiritual yang baik akan tampak dalam kemampuan

anak untuk memaknai pengalaman hidup dalam hubungan dengan diri sendiri, sesama, alam dan Tuhan.

Orang tua Kristiani yang baik mengerti dan memahami akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik utama dan pertama dalam mengembangkan iman anak. Perkembangan anak juga tidak terlepas dari suasana dan situasi yang terjadi dalam Gereja dan masyarakat, artinya dalam hal ini semua orang kristiani dewasa mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama untuk mendidik anak agar berkembang dalam imannya dan akhirnya mampu mengembangkan kemampuan untuk memaknai pengalaman hidup dalam hubungan dengan diri sendiri, sesama, alam dan Tuhan.

Pentingnya Susana dan tata cara komunikasi dalam Keluarga membantu anak untuk berelasi dengan diri, sesama, alam dan Tuhan. Terbinanya komunikasi dan hubungan yang baik dalam Keluarga, memberikan dukungan dan perkembangan anak dalam iman dan Kecerdasan Spritual. Kecerdasan Spritual anak dapat berkembang dengan baik karena Pendidikan Iman yang mereka terima dalam Keluarga sendiri. Suasana kekeluargaan dan keakraban dalam keluarga membantu anak untuk mampu berkembang dalam hidup.

Peranan orang tua Kristiani sangat penting bagi perkembangan iman anak. Orang tua harus berusaha terus menerus untuk mendidik anak mereka dengan memberikan kesaksian hidup yang baik. Orang tua menjadi cermin bagi anak-anak. Banyak cara yang ditempuh orang tua untuk membantu memperkembangkan iman anak. Keteladanan, ajaran, pemberian informasi dan cara komunikasi merupakan aspek yang sangat penting dan harus dikembangkan

78

oleh orang tua Kristiani. Suasana Keluarga yang nyaman menciptakan relasi yang baik anara anak dengan sesama, alam dan Tuhan.

Tanggung jawab orang tua kristiani adalah mendidik dan membantu perkembangan anak. Proses perkembangan anak berdasarkan keteladanan dan kesaksian orang tua dalam hidup keseharian. Keteladanan hidup yang dialami dan dirasakan dalam keluarga menjadi ukuran atau patokan bagi anak untuk menciptakan hubungan yang baik dengan diri sendiri, sesama, alam dan Tuhan.

Setelah menggali dan mendalami karya ilmiah ini penulis dapat melihat, menemukan dan memperoleh masukan yang dapat memperkaya pengetahuan dan memperkembangkan kepribadian penulis. Banyak hal yang dapat berguna bagi penulis, yakni mempunyai pengetahuan tentang Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dan Kecerdasan Spiritual.

Pengetahuan yang penulis peroleh dalam proses perkuliahan selama empat tahun sangat mendukung proses penulisan karya ilmiah ini. Walaupun tidak secara khusus dibahas dalam satu mata kuliah mengenai katekese keluarga, tetapi dalam beberapa mata kuliah disinggung mengenai katekese keluarga. Semua mata kuliah yang penulis peroleh mempersiapkan penulis untuk tugas perutusan sebagai seorang pewarta dan pendidik iman bagi anak.

Dengan penulisan karya ilmiah ini, penulis disadarkan akan tugas sebagai seorang kristiani dewasa yakni bertanggung jawab untuk memperkembangkan iman anak. Penulis menyadari bahwa dengan menulis karya ilmiah tentang Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual, penulis mendapat tugas perutusan untuk membantu menyadarkan para orang tua akan pentingnya peranan mereka dalam mendidik iman anak dan membantu anak

berkembang dalam berelasi dengan diri, sesama, alam dan Tuhan dalam keluarga melalui katekese.

E. Keterbatasan Penelitian.

• Penulis menyadari adanya keterbatasan pada penelitian ini yakni ada sebagian item yang tidak mewakili setiap aspek yang terungkap pada alat.

• Ada pula keterbatasan sampel pada penelitian ini yakni hanya kepada siswa/siswi SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda maka hasil penelitian tidak digeneralisasikan untuk sekolah lain tetapi khusus untuk SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda saja.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini dikemukakan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran yang dapat berguna bagi sekolah SMP St. Fransiskus Assisi Samarinda.

A. Kesimpulan

1. Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani adalah proses pengarahan, pemberian informasi, teguran, dan tata cara komunikasi dalam usaha untuk mendewasakan iman anak dalam Keluarga Kristiani. Pendidikan Iman diberikan oleh orang dewasa kepada anak dalam usaha untuk mengembangkan iman anak. Jadi, Pendidikan Iman diberikan oleh semua orang Kristen dewasa kepada anak-anak. Bentuk-bentuk Pendidikan Iman yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak-anak dengan pemberian teladan/ kesaksian hidup, suasana demokratis, ajaran dan pengarahan.

2. Kecerdasan Spiritual adalah kemampuan-kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna sehingga orang dapat menemukan makna serta nilai-nilai kehidupan sehari-hari dalam konteks relasinya dengan diri sendiri, alam dan sesama serta Allah/Tuhan. Kecerdasan Spritual dapat berkembang dengan baik karena Pendidikan Iman yang diterima dari dalam keluarga. Bentuk Pendidikan Iman yang diberikan oleh orang tua dalam Keluarga Kristiani mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperkembangkan Kecerdasan Spiritual anak.

81

Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani sangat membantu perkembangan anak dalam memaknai pengalaman hidup dalam berelasi dengan diri sendiri, sesama, alam dan Tuhan. Kecerdasan Spiritual siswa dapat berkembang dengan baik karena Pendidikan Iman yang mereka terima dari Keluarga yakni orang tua. Suasana, bentuk-bentuk Pendidikan Iman, keteladanan yang mereka terima dan alami dalam Keluarga memampukan anak untuk mewujudkan juga dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan jumlah 76,6 % (46 orang) artinya pendidikan Iman dalam keluarga Kristiani rata-rata cukup, dan Kecerdasan Spiritual dengan jumlah 83,3 % (50 orang) artinya Kecerdasan Spiritual rata-rata kurang. Setelah data diperoleh dan dianalisis maka terdapat hubungan nyata dan signifikan antara Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dengan Kecerdasan Spiritual yang ditunjukkan dengan nilai Pearson Correlation 0,612 pada taraf signifikan 0,000. Penemuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik Pendidikan Iman yang diterima siswa dalam Keluarga Kristiani maka semakin berkembang dengan baik pula Kecerdasan Spiritual siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa siswi kelas II SMP St. Fransiskus Assis Samarinda yang beragama Katolik sebanyak 60 orang. Data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada para siswa pada bulan Juli 2009.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis melihat ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh semua orang Kristiani yang terlibat dalam proses Pendidikan Iman anak, terutama orang tua, guru, katekis paroki dan pihak sekolah sendiri.

82

Oleh karena itu penulis memberikan masukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan untuk menciptakan suasana dan membantu proses perkembangan iman bagi anak dalam Keluarga, sebagai berikut:

1. Diadakan pertemuan rutin antara pihak sekolah dengan orang tua murid untuk mengetahui perkembangan pendidikan anak baik dalam iman, pengetahuan dan kepribadian.

2. Perlu ada kerja sama antara guru dan orang tua untuk membantu proses perkembangan iman anak.

3. Perlu ditekankan kepada orang tua bahwa peranan mereka sangat penting sebagai pendidik utama. Walupun tidak diabaikan bahwa para guru dan semua orang kristiani mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anak dalam proses perkembangan iman mereka.

4. Pihak Paroki, menggalakkan kegiatan katekese umat untuk menekankan pentingnya Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani dalam usaha memperkembangkan Kecerdasan Spiritual.

DAFTAR PUSTAKA

Adisusanto, FX. SJ. (2000). Katekese sebagai Pendidikan Iman. Yogyakarta: Puskat.

Agus M Hardjana. (2003). Komunikasi Intrapersonal & Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius.

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian: suatu pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Darminto, J. (2006). Praksis pendidikan Nilai. Yogyakarta: Kanisius.

Darmoyuwono, W. (2008). Rahasia Kecerdasan Spiritual. Jakarta: PT. Sangkan Paran Media.

Drost, J. (2006). Dari KBK sampai MBS. Jakarta: Kompas. Eminyan, M. (2005). Teologi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Iswarahadi. (2001). Peranan Media dalam pendidikan Iman dan Upaya Pendidikan Kesadaran Bermedia. Yogyakarta: Kanisius.

Kartono,St. (2005). Mengembalikan Visi Dasar pendidikan. Makalah.

Kitab Hukum Kanonik. (2005). (R.D.R. Rubiyatmoko, edtr). Bogor: Grafika Mardi Yuana.

Kurnia, A. (2007). Pewartaan Iman di Sekolah. Yogyakarta: Salus.

Masidjo, Ign. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

Prasetya L. Pr., dkk. (2008). Dasar-Dasar Pendampingan Iman Anak. Yogyakarta: Kanisius.

Priyatno, Duwi. (2008). Mandiri Belajar SSPS. Yogyakarta: Mediakom. Riyanto. Pendidikan Yang Humanis, Internet.

Riyanto T & Handoko. (2008). Membangun Hidup Religius yang Damai & Sejahtera. Kanisius: Yogyakarta.

Soerjanto dan Widhiastuti. (2007). Pendidikan Iman dalam Keluarga. Semarang: V. Pudjino.

Subanar, Budi. ( 2007). Keluarga Kristiani Meng-Gereja. Yogyakarta: Salus.

Sukardi. (2003). Metodologi penelitian pendidikan, kompetensi dan praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Suparman, B. ( 2007). Keluarga Kristiani Meng-Gereja. Yogyakarta: Salus. Supriyati, (2005). Diktat kuliah Pengantar Pendidikan.

Tatak, M. (2002). Media Komunikasi dan Keluarga. Yogyakarta: Komkel. Zohar, D & Marshall. (2007). SQ Kecerdasan Spiritual. Bandung: Mizan Media

Lampiran 1: Pengantar Kuesioner Kata Pengantar

Siswa/siswi yang terkasih,

Pada kesempatan ini kami mohon kesediaan anda untuk mengisi kuesioner. Adapun maksud dan tujuan dari kuesioner ini untuk mengetahui hubungan pendidikan iman dalam keluarga kristiani dengan kecerdasan spiritual siswa. Informasi yang anda berikan dengan jujur sangat membantu kami untuk mendapatkan data yang akurat.

Kuesioner ini bersifat rahasia dan jawaban yang anda berikan tidak mempengaruhi nilai raport anda. Maka, dengan ini juga kami mengharapkan keterbukaan dan kejujuran anda untuk mengisi kuesioner ini berdasarkan pengalaman yang sungguh-sungguh anda alami.

Akhirnya atas kesediaan dan bantuannya serta kesungguhan anda dalam memenuhi permintaan kami, semua usaha anda sangat berarti bagi penelitian kami. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih.

Hormat saya, ( Sr. Katrin FSE )

Identitas Responden

Nama : ……….

Kelas : ……… PETUNJUK

a. Bacalah masig-masing pernyataan berikut dengan baik dan teiti, kemudian berilah centang (√) pada satu alternatif yang cocok dengan pengalaman yang anda alami. Alternatif jawaban adalah sebagai berikut:

SS : Sanngat Sesuai

S : Sesuai

N : Netral TS : Tidak Sesuai

STS : Sangat Tidak Sesuai. Contoh:

No Pernyataan SS S N TS STS

1 Orang tua saya tidak pernah ke gereja pada hari minggu

b. Jawablah pertanyaan dengan singkat dan jelas sesuai dengan yang anda pahami.

Lampiran 2: Kuesioner Penelitian

No Pernyataan SS S N TS STS

1. Orang tua mengajak saya pergi ke gereja setiap hari Minggu

2. Orang tua mengajak berdoa sebelum dan sesudah makan

3. Kami berdoa bersama-sama pada malam menjelang tidur

4. Orang tua saya berdevosi kepada Bunda Maria/ Hati Kudus Yesus

5. Orang tua selalu membuat tanda salib dan berlutut ketika masuk ke dalam gereja

6. Orang tua datang ke gereja lima belas menit sebelum perayaan ekaristi dimulai

7. Orang tua memberikan tugas kepada saya untuk membersihkan kamar tidur

8. Orang tua saya terlibat aktif di gereja dan lingkungan 9. Orang tua saya menjadi anggota koor di gereja

10. Orang tua saya mengikuti doa Rosario dan ibadat di lingkungan

11. Orang tua mengingatkan bahwa, saya boleh bermain tetapi tidak boleh mengabaikan doa

12. Ayah tidak pernah menegur saya ketika saya pulang terlambat

13. Saya ditegur orang tua ketika saya bercerita dengan teman di dalam gereja

14. Saya diingatkan orang tua ketika saya tidak mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja

15. Ibu mengingatkan saya untuk mengikuti pertemuan kelompok lektor di paroki

16. Orang tua tidak menegur saya ketika saya tidak pergi ke gereja

17. Orang tua tidak menanyakan tentang perkembangan belajarku di sekolah

18. Ayah mendukung saya untuk mengikuti kegiatan misdinar di gereja

19. Orang tua memberitahu bahwa, semua pengalaman saya selalu ada maknanya.

20. Orang tua mengarahkan saya untuk belajar dengan giat 21. Orang tua memberikan masukan tentang hal yang baik

kepada saya

22. Orang tua memberitahu bahwa saya harus berbuat jujur 23. Orang tua saya berbicara sopan kepada semua orang 24. Ayah saya selalu berbicara kasar kepada ibu

25. Orang tua saya selalu bertengkar di rumah 26. Orang tua saya mempunyai waktu untuk bercerita

bersama

27. Orang tua saya bersikap ramah terhadap semua orang 28. Orang tua melarang ketika saya mau bercerita tentang

hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas

29. Ibu mau mendengarkan masalah pribadi saya 30. Orang tua mau mendengarkan keluhan saya

31. Ayah mau bercerita tentang pengalamannya di tempat kerja

32. Orang tua kurang memperhatikan pendapat saya

33. Orang tua Saya marah ketika saya mendapat nilai merah

34. Orang tua selalu memuji penampilanku 35. Saya menyadari dan bersyukur karena saya seorang

periang

36. Saya senang dengan keadaan fisikku

37. Saya bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang baru

38. Saya tenang menghadapi masalah

39. Saya bisa mengendalikan emosi-emosi pada diri saya 40. Saya selalu bertanya tentang sesuatu yang belum saya

ketahui

41. Saya mengeluh dengan penderitaan yang terus menerus saya alami

42. Saya berusaha mengembangkan bakat-bakat yang saya miliki

43. Saya menyetel musik keras-keras di rumah saya padahal tetangga saya sedang sholat

44. Saya tidak peduli dengan tetangga yang sedang berdukacita

45. Saya memberi ucapan kepada teman yang merayakan hari raya agama meskipun berbeda dengan agama saya 46. Saya bisa menerima ucapan selamat dari tetangga yang

berbeda agama

47. Saya menolong orang yang menjadi korban tabrak lari 48. Saya melibatkan diri dalam kegiatan bakti sosial di

lingkungan saya

49. Saya akan segera memberikan sumbangan kepada korban bencana alam

50. Saya bisa mendengar dan menerima pendapat orang lain

51. Saya memberi sedekah kepada fakir miskin yang datang ke rumahku

52. Saya selalu berpikir positip kepada orang lain

53. Saya selalu mengucapkan terima kasih kepada orang yang memberikan pertolongan kepada saya.

54. Saya meminta maaf apabila melakukan suatu kesalahan 55. Saya memaafkan teman yang menyakiti hatiku

57. Saya tidak pernah mengingatkan teman yang membuang sampah sembarangan

58. Saya mengagumi keindahan bunga yang berwarna warni

59. Saya mendukung dan terlibat dalam program penghijauan lingkungan hidup

60. Jika ada waktu luang saya selalu menata taman di rumahku

61. Saya tidak suka dengan binatang peliharaan di rumahku

62. Saya gelisah mengikuti perayaan ekaristi di gereja 63. Saya bersyukur kepada Tuhan karena bisa mengecam

Dokumen terkait