BAB II: KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
B. Pendidikan Iman
2. Ruang lingkup Pendidikan Iman
Pendidikan Iman adalah proses dan usaha orang-orang dewasa untuk membantu anak-anak muda agar mereka mampu menghormati dan mengasihi Allah, Pencipta dan Penyelamat. Proses dan usaha orang dewasa untuk membantu anak-anak muda dapat dilakukan kapan dan di mana saja. Kegiatan dalam pendidikan iman dapat diberikan secara formal dan nonformal dalam lingkup keluarga, Gereja dan masyarakat.
a. Pendidikan Iman Dalam Keluarga
Pendidikan Iman dalam Keluarga adalah suatu proses pendewasaan iman anak melalui kesaksian orang tua. Pendidikan Iman dalam keluarga merupakan usaha orang tua dalam mendewasakan anaknya agar berkembang menjadi manusia yang utuh dan bertanggung jawab dalam kesatuan pribadi dengan Allah.
Orang tua sebagai pendidik utama dalam keluarga. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua membantu anak berkembang menjadi orang dewasa yang
20
mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Anak menjadi dewasa secara utuh baik dalam kepribadian maupun dalam iman. Peran pendidikan orang tua dalam keluarga sangat berpengaruh bagi perkembangan hidup mereka. Panggilan utama orang yang sudah menikah adalah memberikan pendidikan dan mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah.
Orang tua sebagai penyalur kehidupan bagi anak-anak, memiliki tanggung jawab pertama dan utama dalam mendidik anak. Tanggung jawab ini pertama-tama ditempuh dengan cara menciptakan suasana damai dan kasih dalam keluarga. Dengan suasana itu, terbuka kesempatan untuk menularkan nilai-nilai iman yang dihidupi dan nilai-nilai budaya yang masih relevan untuk anak. (Kurnia, 2007:7)
b. Pendidikan Iman dalam Lingkungan Gereja
Gereja melalui kegiatan kerygma (pewartaan) memberikan sumbangan, pendampingan dan bimbingan bagi anggotanya. Fungsi pewartaan diarahkan untuk membantu dan membina umat untuk mampu mendengarkan sabda Tuhan melalui Kitab Suci dan kehidupan konkret sehari-hari. Hal ini juga yang ditegaskan dalam Anjuran Apostolik Familiaris Consortio bahwa Gereja bersama keluarga dengan imannya mewartakan Injil ( FC 54).
Dalam lingkup Gereja Pendidikan Iman terbentuk melalui martirya (kesaksian) para anggotanya. Dengan kesaksian, umat yang belum dewasa dalam hal iman diberi pengetahuan dan kesadaran untuk menjalankan berbagai ajaran yang diwariskan kepada pengikut Kristus (Adisusanto, 2000: 12).
21
c. Pendidikan Iman dalam Lingkungan Sekolah
Di sekolah, Pendidikan Iman terutama dibawa oleh para pendidik. Pada pundak mereka diletakkan tanggung jawab untuk mendidik, bukan hanya mengajar (Drost, 2006: 54). Hal tersebut dicapai melalui pelajaran agama dan kegiatan rohani seperti doa, ibadat sekolah, melalui rekoleksi dan melalui media renungan lainnya (Drost, 2006:34).
Sasaran Pendidikan Iman di sekolah adalah anak mampu beradaptasi dengan lingkungan, bersosialisasi dan memiliki rasa solider terhadap rekannya. Siswa juga diharapkan mampu mencintai lingkungan sebagai bentuk hormat kepada Pencipta dan dapat berdoa dengan baik. Pendidikan iman tersebut diarahkan kepada kemampuan berefleksi atas pengalaman hidup, atas segala proses yang dialami di sekolah maupun di mana saja (Kartono, 2005: 6-7). Guru-guru, pendidik membantu dalam merangsang dan memotivasi anak didiknya yang dianggap sudah matang untuk menunjukkan teladan yang baik. Di atas semua itu, keteladanan para pendidik menjadi hal yang cukup penting.
d. Pendidikan Iman dalam Masyarakat
Dalam lingkungan masyarakat Pendidikan Iman mempunyai tugas membangkitkan dan membina pengungkapan dan perwujudan iman dalam pelbagai macam bentuknya seperti doa, pendidikan, sikap solider terhadap sesama yang kurang beruntung, mencintai lingkungan dan semangat gotong royong (Adisusanto, 2000: 12).
Pendidikan Iman ini bermuara pada kesadaran pribadi bahwa manusia juga adalah makhluk sosial. Manusia bukan ada untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk
22
orang lain. Anak menyadari tuntutan untuk memperhatikan nilai dan hidup dalam kebersamaan sehingga ”hidup” tetap dijunjung sebagai nilai yang tinggi, sebagai anugerah dari Allah sang sumber hidup (Darminta, 2006: 38).
Iman harus diwartakan dan dipraktekkan di tengah masyarakat sehingga sebagai anggota Gereja kita memiliki peranan sosial (FC 70). Pendidikan Iman mengajarkan orang untuk bertanggung jawab atau tidak melempar tanggung jawab, bersikap tidak jujur seperti ketika Kain membohongi Allah (bdk. Kej 4:9). 3. Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani
Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani adalah suatu proses pengarahan, pemberian informasi, teguran, dan tata cara komunikasi dalam usaha untuk mendewasakan iman anak dalam Keluarga Kristiani.
a. Tujuan Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani
Tujuan yang ingin dicapai dari Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani adalah kedewasaan dan kesempurnaan iman anak secara penuh. Hal itu meliputi tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.(Adisusanto, 2000:6). Kedewasaan iman itu harus ditunjukkan di mana pun. Baik di sekolah, keluarga, Gereja maupun masyarakat dan lingkungan pergaulan. Bagaimana mengenali apa itu Pendidikan Iman dan sejauh mana seseorang berkembang dalam imannya akan nampak dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka belajar mengenai hidup, tentang hidup dan demi hidup, itu merupakan asas dari pendidikan itu sendiri (Kartono, 2005:6). Hal tersebut di atas dapat berjalan setelah terjadi konsolidasi atau perbuatan yang memperteguh sikap-sikap iman kristiani melalui perkembangan tiga komponen (kognitif, afektif dan perilaku)
23
secara harmonis (Adisusanto, 2000:10). Riyanto dalam bukunya Pendidikan yang Humanis, menuliskan tujuan Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual, (Riyanto,2004:7) dengan demikian diharapkan bahwa orang tua dalam Keluarga Kristiani pun mempunyai kewajiban untuk mendidik anak menjadi merdeka dan independen.
Tanda kedewasaan seseorang terletak pada tindakannya yang selalu didasarkan pada hirarki nilai (Darminta, 2006: 31). Dengan melihat tanda yang demikian maka salah satu tujuan pendidikan yang diberikan oleh orang tua adalah membantu anak untuk membangun hierarki nilai. Dalam membangun hierarki nilai, anak diajak untuk belajar mengenali dan memahami nilai-nilai diri dan cerita hidupnya serta sesama manusia sebagai ciptaan Allah dalam sejarah. Orang tua kristiani berusaha membantu anak untuk menghormati hidup sebagai pemberian Allah yang harus disyukuri dan dijaga serta dipelihara.
Gereja Katolik dalam salah satu anjuran apostoliknya yakni Familiaris Consortio mengakui bahwa tugas mendidik berakar dalam panggilan utama suami-isteri untuk berperan serta dalam karya penciptaan Allah. Suami-isteri bertanggung jawab dalam mengajarkan keutamaan-keutamaan Kristiani, mencintai Allah dan sesama serta mengembangkan potensi dirinya (FC 36). Dalam tujuan pendidikan nasional ditegaskan bahwa pengembangan potensi dirinya guna memiliki kekuatan kecerdasan (intelektual, emosional dan spiritual), berusaha membentuk akhlak mulia dan menumbuhkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan.
24
Dalam Konsili Vatikan, Gereja menghimbau orang tua dan keluarga pada umumnya untuk bertanggung jawab pada perkembangan pendidikan anak-anak. Menurut Gravissimum Educationis orang tua adalah penyalur kehidupan. “sebab merupakan kewajiban orang tua: menciptakan lingkup keluarga yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka.” (GE 3).
Orang tua hendaknya selalu memahami tugasnya sebagai pengemban perutusan Gereja bagi anak-anak. Jika demikian, perutusan mendidik meminta orang tua kristen untuk menyampaikan kepada anak-anak semua pokok yang dibutuhkan supaya anak-anak tahap demi tahap menjadi dewasa kepribadiannya ditinjau dari sudut Kristen dan Gereja (FC 39). Kedewasaan yang dimaksud adalah kedewasaan dalam iman dan relasi dengan anggota Gereja lainnya. Efek kedewasaan itu adalah keterlibatan dalam karya Gereja, pewartaan, pelayanan kasih dan keterlibatan di tengah masyarakat.
b.Ciri-ciri Pendidikan Iman dalam keluarga Kristiani
Hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam konteks Pendidikan Iman Kristiani adalah suara hati. Suara hati ini menjadi suatu kunci bagaimana orang mesti bertindak, menentukan sikap dan terlibat dalam kehidupan orang lain (Tatak, 2001:6). Pendidikan Iman berpusat dan bertolak pada pengalaman akan kehadiran Allah dalam segala hal. Pengalaman akan Allah menjadi ciri dari Pendidikan Iman (Adisusanto, 2000:10). Dalam Pendidikan Iman, tidak ada kebanggaan semu memiliki Tuhan namun tidak menghayati keberadaan-Nya dan terlibat di tengah kehidupan manusia (FC 44).
25
Ciri lain dari Pendidikan Iman adalah kemampuan untuk mengalami Allah. Kemampuan ini perlu dipupuk dalam proses Pendidikan Iman, setiap kali mendampingi anak maupun siapa saja yang membutuhkan pertolongan dalam hal iman (Adisusanto, 200:15). Jika kemampuan pengenalan akan Allah sudah terasah ciri berikutnya adalah tersebarnya sabda Allah dalam setiap kata dan tindakan. (Darminta, 2006:19, Adisusanto, 2000:16). Dan terakhir adalah bersyukur kepada Allah. Rasa syukur adalah ciri dari orang beriman.
c. Proses Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani
Pendidikan Iman membentuk sebuah proses menuju pada sasaran akhir, yakni terbentuknya pribadi yang dewasa dalam iman. Proses tersebut dapat digambarkan Adisusanto sebagai berikut:
Dari Pertobatan. Menurut Familiaris Consortio, pertobatan atau rekonsiliasi ini terjadi karena adanya kesadaran diri. Rekonsiliasi dengan cerita hidup sebelumnya dan keadaan pribadi adalah langkah awal menuju perubahan dalam diri (Darminta, 2006:22). Maka yang dibutuhkan adalah pertobatan terus menerus. Menolak kejahatan dan mengikat diri kepada nilai kebaikan sepenuhnya (FC, art. 9).
Pengadaan sikap-sikap iman. Lahirnya sikap-sikap iman secara harmonis berkat harapan dan cinta kasih. Di sini, pengertian, afeksi dan perilaku berjalan seiring. Sikap iman itu misalnya penghargaan terhadap hidup yang ada pada diri sendiri, sesama dan alam yang adalah mahakarya Allah (Darminta, 2006:49).
Dinamika progresif. Melalui interaksi terus menerus dari tiga komponen di atas dan pengalaman hidup menggereja maka seseorang bergerak maju
26
menuju kedewasaan iman dan cinta kasih yang seutuhnya (Adisusanto, 2000:8-9).
Usaha dan latihan yang penuh disiplin untuk menggapai visi hidup. Visi merupakan sesuatu yang dapat menggerakkan dan mengarahkan hidup. Orang tua sebagai pendidik perlu memperkenalkan dan mengarahkan anak untuk mau dan mampu menemukan visi hidupnya. Untuk mencapai visi itu anak harus menjalani latihan dengan bebas (Darminta 2006: 16).
d.Bentuk Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani 1)Pemberian Teladan hidup
Jika orang tua menghendaki anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik, rajin, saleh, ramah, maka orang tua wajib mempraktekkan sikap hidup kesalehan, keramahan dan kerajinan. Hal itu sesuai dengan pepatah bahasa Latin, nemo dat quod non habet. Artinya, tak seorang pun dapat memberikan apa yang tidak ia punyai (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:2-3). Pendidikan dan prosesnya juga merupakan tanggung jawab orang tua. Peran orang tua dalam keluarga sangat berpengaruh pada perkembangan anak di sekolah (Kartono, 2005:8). Orang tua menjadi basis hidup beriman di mana orang tua menunjukan sikap hidup dalam menghayati nilai-nilai kristiani seperti membantu orang lain, mengasihi sesama saudara, menolong orang lain, berdoa (Tri 2007:10).
2) Perhatian dan kasih sayang
Anak pada umumnya membutuhkan kasih sayang. Anak tidak suka jika pendidiknya, baik orang tua maupun guru memperbandingkan. Anak butuh penghargaan dan perhatian serta penerimaan (Drost, 2006:67). Anak
27
membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Namun demikian, tentu saja tidak sama dengan memanjakan anak sehingga anak menjadi pribadi yang tahan banting (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:3).
3) Suasana demokratis
Suasana memang sulit dideskripsikan tetapi mudah dirasakan. Bagi anak, suasana terkait dengan keadaan yang membuatnya nyaman atau tidak, kerasan atau tidak. Pimpinan Gereja melalui Cathechesi Tradendae” menegaskan bahwa suasana keluarga yang diresapi kasih dan hormat mempengaruhi anak seumur hidupnya (CT 68). Suasana seperti inilah yang perlu diciptakan oleh orang tua dalam keluarga masing-masing (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007: 15).
Suasana kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab dan kesadaran akan pluralitas dimulai dari keluarga (Mahfud, 2003: 85). Dalam bentuk pendidikan seperti ini, terjadi komunikasi dua arah. Anak-anak tidak suka dididik dengan komunikasi yang monolog, melainkan dialog (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:3).
Suasana penuh kasih sayang, sikap mau menerima anak sebagaimana adanya, menghargai potensi anak baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik, merupakan sejumlah hal yang seharusnya hadir dalam sebuah gambaran keluarga yang ideal (www.bkkbn.go.id, 27 Juni 2006) .
Suasana yang dibutuhkan dalam upaya mendidik anak adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya (Riyanto, 2004: 7).
28
4) Latihan bekerja
Banyak pekerjaan kecil yang dapat dipercayakan kepada anak-anak. Hal tersebut memacu keterlibatan, solidaritas dan tanggung jawabnya (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:4).
5) Teguran yang bijaksana
Bila membuat kesalahan, orang tua hendaknya menegur secara tepat. Bila tidak, anak akan berpikir bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar. Teguran yang baik adalah “di bawah empat mata” (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:4). 6) Perhatian pada “tangki cinta”
Anak memiliki semacam tangki cinta. Bila tangki itu terisi penuh maka hidup anak itu terasa aman dan lancar. Ada anak yang merasa diberi perhatian bila mendapat peneguhan. Ada yang merasa diperhatikan bila dilayani atau ditolong. Ada yang merasa diperhatikan bila didampingi. Ada pula yang merasa diperhatikan bila diberi hadiah. Ada anak yang membutuhkan sentuhan untuk menegaskan bahwa ia diperhatikan dan dicintai ( Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:6).
7) Kedisiplinan
Salah satu penghasil keberhasilan adalah kedisiplinan. Orang yang hidup dengan disiplin lebih berpeluang meraih keberhasilan daripada orang yang hidup seenaknya. Kebanyakan orang tua salah mengerti karena sayangnya, tidak tekun menumbuhkan kedisiplinan pada anak-anak mereka (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:6). Tidak mudah membentuk sikap disiplin diri, untuk itu orang tua perlu
29
mendampingi dan mengingatkan walaupun tampak keras dalam proses pembentukannya (Suparman, 2007: 2)
8) Rahasia Keluarga
Pertengkaran orang tua di hadapan anak-anak menimbulkan rasa gelisah pada anak-anak. Orang tua adalah benteng. Jika terjadi pertengkaran di hadapan anak-anak rasa percaya dan kekuatan pada benteng tersebut bisa runtuh (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:6). Kesadaran orang tua dalam menghayati relasi dan komunikasi suami istri sebagai sakramen akan menciptakan toleransi untuk menghindari pertentangan di hadapan anak-anak ( Suparman, 2007: 4) 9) Simpati dan empati
Bersimpati berarti menunjukkan perhatian dan penghargaan pada anak. Sedangkan ber-empati berarti berusaha untuk turut merasakan apa yang sedang dirasakan anak. Orang tua yang memiliki empati dan simpati tidak hanya mengasihi tetapi sungguh mengenal dan memahami anak (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:7).
10)Pendampingan dan Pengajaran
Anak-anak tidak hanya membutuhkan pedoman atau dogma. Keluarga merupakan tempat awal seorang anak mendapatkan semua pengalamannya sebagai manusia, bertanggung jawab penuh terhadap arah kepribadian anak. Posisi orang tua sebagai pendamping sangat dibutuhkan (www.bkkbn.go.id, 27 Juni 2006).
30
Pendampingan orang tua kepada anak sangat dibutuhkan. Orang tua menjadi sebagai pendamping yang baik jika mendampingi anak- anaknya dan membekali diri dengan pengetahuan mengenai perkembangan zaman, jiwa anak dan mengenal keutamaan-keutamaan Yesus sebagai pendamping utamanya (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:7).
Selain pendampingan, hal yang perlu diperhatikan dalam Pendidikan Iman adalah pengajaran. Pengajaran yang dilakukan harus sesuai dengan keadaan anak, kepekaan emosionalnya, aneka kesulitan dan masalahnya; pengajaran harus membantu anak mengolah pengalaman dan perasaannya; pengajaran harus bersifat komunikatif, tidak indoktriner, dan merangsang anak untuk berpikir secara aktif (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007: 16). Pengajaran secara langsung dari orang tua dengan mengajak anak untuk mencintai Gereja dan terlibat aktif dalam kehidupan hidup menggereja (Suparman, 2007: 3).
11)Persahabatan
Orang tua sebaiknya menjalin persahabatan dengan anak-anak mereka. Menurut Larry Grabb, persahabatan semacam ini terjalin bila: anak-anak tahu bahwa orang tuanya sungguh mencintai dan menyukai mereka; menerima segala kekurangan dan menghargai mereka. Anak-anak yang dipahami dan dihargai biasanya akan tumbuh sebagai anak yang mau memahami dan menghargai sesamanya (Soerjanto & Widhiastuti, 2007:7). Rasa kekeluargaan perlu ditanamkan dalam keluarga sehingga tidak ada yang merasa terasing di dalam keluarga sendiri, istilah dalam bahasa Jawa perlu ada sikap “Ngopeni” (Suparman, 2007: 5)
31
12) Keutamaan-keutamaan
Allah menginginkan dan memberikan hal-hal baik pada anak-anak-Nya melalui kedua orang tua. Tidak hanya sandang-pangan-papan, tetapi juga keutamaan terutama iman, harapan dan kasih. Orang tua dipanggil untuk membantu anak-anak mengembangkan keutamaan-keutamaan itu, antara lain bijaksana dalam menghadapi masa-masa sulit. Harapan yang tidak tercapai, pepatah bahasa Jawa yang berbunyi: “Narimo ing pandum” artinya kalau kita sudah bekerja keras, tetapi Tuhan belum memenuhi apa yang kita inginkan, kita harus menerimanya dengan pasrah (Suparman, 2007: 4).
Namun, orang tua tidak harus bersikap sok sempurna. Orang tua perlu belajar rendah hati, memohon maaf jika bersalah pada anak dan memberikan maaf kepada anak-anak. Dorothy Molte menuliskan pendapatnya mengenai keteladanan orang tua dalam buku “Children Learn What They Live.” Bahwa anak-anak akan belajar dari apa yang mereka hidupi, apa yang mereka dapatkan. Dan sumber utamanya adalah orang tua masing-masing (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:8-9).
13)Perlunya rahmat Allah
Mendekatkan diri pada Allah merupakan hal terpenting yang perlu dilakukan orang tua. Mendekatkan diri kepada Allah, orang tua dialiri rahmat yang memampukan dan meneguhkan mereka dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik, pembimbing dan sahabat bagi anak-anak ( Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:9).
32
14) Doa yang tulus
Pada awal setiap kegiatan, pagi hari sebelum bekerja, siang hari saat makan, malam hari saat makan dan menjelang tidur, berdoa adalah kegiatan yang perlu dipraktekkan. Anak-anak diajarkan untuk selalu meminta berkat Allah sebelum dan sesudah beraktivitas (Soerjanto dan Widhiastuti, 2007:9).
e. Media Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani
Media adalah sarana/ alat yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Media juga merupakan faktor penting untuk terselenggaranya kegiatan Pendidikan Iman. Dengan demikian dalam rangka mendewasakan iman anak, Keluarga Kristiani perlu menggunakan media Pendidikan Iman antara lain, melalui:
1) Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu sarana untuk membangun relasi antara satu sama lain. Melalui komunikasi, antar satu dengan yang lain saling mengenal dan dikenal. Dengan berkomunikasi, setiap pribadi bebas mengungkapkan apa yang dialami, dirasakan dan dipikirkan dengan harapan supaya masing-masing pribadi saling mengakui keberadaannya. Ungkapan pengalaman, perasaan dan pikiran yang dilakukan dengan tujuan agar satu sama lain saling mengerti makna karena pertukaran makna menjadi inti dari komunikasi (Agus M, 2003: 11)
Komunikasi merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupan keluarga terutama dalam proses Pendidikan Iman. Dengan berkomunikasi, antara orang tua dan anak dapat membangun relasi yang mendalam yakni saling mengenal, saling memperkembangkan, saling mengakui dan menghargai keberadaannya masing-masing. Orang tua mempunyai kewajiban
33
untuk mendidik anak. Kewajiban orang tua harus dijalankan, salah satu caranya yakni melalui komunikasi. Dengan berkomunikasi orang tua mengetahui apa yang menjadi kebutuhan anak, dengan demikian orang tua tahu membantu mengarahkan memperkembangkan anak-anaknya (Soerjanto & Widhiastoeti, 2007: 16).
Media komunikasi yang paling hakiki dalam keluarga adalah perjumpaan antar pribadi seluruhnya artinya menyangkut seluruh keberadaannya perasaan, pikiran, maksud dan hatinya bukan hanya suara atau wajahnya saja. Tujuan komunikasi adalah menyatukan antar pribadi, pribadi dengan masyarakat. Dalam kesatuan antar pribadi dibutuhkan adanya keterbukaan, kejujuaran, pemahaman dan penghormatan yang menjadi kualitas komunikasi itu sendiri (Tatak 2000: 6)
Keluarga diharapkan untuk menciptakan sarana komunikasi yang khas sebagai Keluarga Kristiani yakni berdoa bersama, sharing Kitab Suci atau sharing pengalaman hidup serta segala kegiatan yang mampu menciptakan komunikasi yang baik dalam keluarga.
2)Media televisi (TV), CD, DVD, Buku-buku bacaan rohani
Televisi adalah salah satu sarana yang paling populer dan sangat berpengaruh dalam keluarga. Diungkapkan oleh romo Iswarahadi bahwa, Televisi merupakan media yang memiliki daya tarik yang luar biasa karena mempunyai bahasa yang khusus, mampu menggugah perasaan dan emosi dan mampu mempengaruhi jiwa manusia secara khusus anak-anak karena anak-anak mempunyai daya serap yang tinggi dan mereka masih membutuhkan rangsangan.
Melihat bahwa media televisi mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam keluarga dan pada umumnya sarana ini dimiliki oleh keluarga maka orang
34
tua diharapkan memanfaatkan sarana ini dalam usaha mendidik iman anak dengan cara, orang tua ikut menonton dan mendiskusikan bersama-sama, sehingga akhirnya anak-anak menemukan nilai-nilai kristiani (Iswarahadi, 2001: 39)
Selain televisi, masih ada sarana-sarana lain yang digunakan untuk mendidik iman anak yakni, dengan memberikan buku bacaan rohani, cerita-cerita Kitab Suci dan juga menonton kisah-kisah binatang. Selain media-media itu, perlu diingat bahwa peranan orang tua yang paling penting dalam mendampingi dan mengarahkan anak-anak untuk sampai menemukan nilai-nilai kristiani.
3)Keteladanan tokoh-tokoh identifikasi
Anak sulit memahami sesuatu yang abstrak. Oleh karena itu, orang sebagai pendidik harus sadar bahwa fungsi yang pertama adalah sebagai model atau figur keteladanan bagi anak. Orang tua adalah orang pertama yang lebih dekat dengan anak. Karena itu pimpinan Gereja Katolik berharap bahwa melalui orang tua dan anggota keluarganya, anak-anak menemukan teladan hidup beriman (Soerjanto & Widhiastuti, 2007: 14-15).
C. Kecerdasan Spiritual
1. Konteks Kecerdasan Spiritual
Zaman sekarang banyak kecerdasan yang dibicarakan seperti kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi dan berbagai kecerdasan lain. Selama ini yang gencar dibicarakan adalah Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. Pada awal dan pertengahan abad dua puluh sangat populer dibicarakan mengenai kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Kecerdasan intelektual ini untuk memecahkan persoalan logika dan strategi sedangkan kecerdasan emosi untuk meneliti mengenai perasaan, baik perasaan diri sendiri maupun perasaan
35
orang lain. Menurut Goleman kecerdasan emosi merupakan persyaratan dasar penggunaan kecerdasan intelektual secara efektif. Dalam kenyataan banyak permasalahan hidup di dunia ini yang tidak bisa dimengerti dan dipecahkan dengan kepintaran otak seperti soal kematian, soal penderitaan, nilai-nilai hidup, dengan demikian para ahli mengungkapkan bahwa masih ada kecerdasan lain