• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. LULUSAN PENDIDIKAN KHUSUS a. Pondok Pesantren

4.3. Aspek Sejarah

4.3. Aspek Sejarah

4.3.1. Asal Usul Suku Kerinci

Seperti halnya kedatangan suku-suku bangsa Indonesia lainnya, Suku Kerinci juga berasal dari Asia Tenggara. Mereka datang melalui jalur yang melewati Semenanjung Malaka, menyeberang Selat Malaka, kemudian menyusuri pantai timur Sumatera hingga ke Selat Berhala, masuk ke Sungai Batanghari, terus ke Batang Merangin dan akhirnya sampai ke hulu Batang Merangin yaitu Danau Kerinci (Afanti 2007).

Kedatangan mereka bergelombang, gelombang pertama disebut sebagai suku bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) pada zaman Neolitikum (batu muda) antara 4000 SM sampai 2000 SM. Gelombang yang kedua disebut sebagai suku bangsa Dentro Melayu muda yang datang pada zaman perunggu yaitu sekitar tahun 400 SM sampai 100 SM. Suku Kerinci diketahui sebagai suku yang lebih tua dari Suku Inca Amerika yang menyembah matahari dan juga Suku Candiaku yang berasal dari hulu sungai Indragiri. Suku bangsa Proto Melayu yang menduduki daerah Kerinci pada saat itu dikenal sebagai kelompok yang murni karena kedatangan mereka adalah yang pertama. Pada zaman ini diketahui terdapat sebuah gunung berapi yang sangat tinggi dan terletak di tengah-tengah

Pulau Sumatra yaitu berada di daerah pemukiman dan persawahan yang ada di Kerinci mulai dari Siulak sampai ke daerah Hilir Sanggaran Agung. Menurut legenda, gunung berapi tersebut bernama Gunung Beremas dan di masa inilah adanya kehidupan manusia yang mendiami daerah di sekitar kaki Gunung Beremas (Afanti 2007).

Kondisi topografi alam Kerinci yang terdiri dari lembah dan perbukitan berbentuk seperti gelombang ombak merupakan akibat dari letusan dahsyat Gunung Beremas yang mengeluarkan aliran lava pijar, lahar magma disertai oleh gelombang debu panas yang mengandung gas beracun mengalir ke daerah-daerah yang lebih rendah melalui lereng-lereng bukit. Letusan Gunung Beremas ini menghasilkan bentukan alam yang berbukit-bukit dan menyisakan sebagian sisa badan gunung yang sekarang dikenal sebagai Gunung Kerinci dengan tinggi 3.805 meter di atas permukaan laut. Gunung ini terletak di sebelah utara Kerinci dan masih menjadi gunung yang tertinggi di Pulau Sumatra (Afanti 2007).

Setelah letusan terjadi, daerah disekitar Gunung Beremas hanya tinggal puing-puing akibat dilanda lava pijar gunung berapi dan sebagian membentuk lembah-lembah,bukit-bukit, dan sungai-sungai baru. Sisa-sisa suku murni Melayu Tua yang selamat dari bencana alam itu kemudian mendiami lembah Kerinci.

Suku ini kemudian dikenal dengan sebutan “Kecik Wok Gedang Wok”. Suku

“Kecik Wok Gedang Wok” memulai sebuah kehidupan baru mereka yang masih tergolong primitif dan tinggal di gua-gua. Dalam berinteraksi, secara individu mereka belum memiliki nama hanya sebutan orang yang kecil dipanggil Wok Kecik dan orang yang lebih tua dipanggil Wok Gedang. Kehidupan mereka sehari-hari hanya berburu binatang, mengumpulkan makanan-makanan seperti buah-buahan yang ada di hutan dan mencari ikan di sungai. Suku Melayu Tua murni ini hidup berkelompok dan tempat tinggalnya tidak menetap selalu berpindah-pindah dari tempat pertama ke tempat yang lainnya dan kembali lagi ke tempat pertama. Suku ini sudah memiliki kepercayaan yaitu Animisme, mereka melakukan pertapaan untuk mencari jati diri, membersihkan jiwa raga agar terhindar dari pengaruh jiwa yang kotor serta menumbuhkan kesabaran sebagai pegangan hidup mereka sehari-hari (Afanti 2007).

Selanjutnya, Kerinci kedatangan suku bangsa Paleomongoloid gelombang pertama dari tanah Yunan Tiongkok Selatan. Mereka melalui Sungai Mekhong sampai di Hindia belakang kemudian melanjutkan ke daerah-daerah lainnya dan ada yang sampai ke daerah pusat alam Melayu Tua Kerinci. Suku-suku Paleomongoloid yang sudah berada di Kerinci ini berhubungan dengan kelompok Melayu Tua murni sehingga melahirkan keturunan-keturunan nenek moyang Kerinci (Afanti 2007). Oleh sebab itulah masyarakat suku Kerinci hingga saat ini memiliki ciri yang mirip dengan orang-orang Tiongkok seperti memiliki mata sipit dan berkulit putih. Berabad kemudian, gelombang berikutnya suku-suku Indonesia lainnya berdatangan ke daerah Kerinci untuk melakukan kegiatan perdagangan dan sebagainya, dari proses interaksi maka timbullah perubahan pada masyarakat suku Kerinci yang tidak berkebudayaan menjadi memiliki pemikiran untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti upacara sakral, membuat tempat pemujaan, hingga mengadakan sajian-sajian. Walaupun demikian, sikap suku Kerinci yang menerima kedatangan suku-suku dari luar tidak menghilangkan atau meninggalkan nilai-nilai leluhur dari kebudayaan nenek moyang mereka (Afanti, 2007).

4.3.2. Asal Nama Kerinci

Kata ‘Kerinci’ dalam masyarakat Kerinci diucapkan dalam dialek yang berbeda-beda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh cara melafadkan bahasa Kerinci oleh masing-masing dusun yang juga berbeda dan mempunyai kekhasan tersendiri. Masyarakat Sungai Penuh dan Pondok Tinggi yang tinggal berada di Kota Sungai Penuh biasa melafadkannya dengan sebutan ‘Kincai’, masyarakat Dusun Rawang, Koto Lanang, dan Sungai Tutung yang berada di sekitar Kota Sungai Penuh biasa menyebutnya ‘Kincei’. Masyarakat Kerinci bagian utara seperti dusun Semurup dan Siulak menggunakan sebutan ‘Kinci’, sedangkan orang Kerinci bagian Selatan seperti dusun Pulau Sangkar, Lempur, dan Temiai menyebutnya ‘Krinci’. Demikian juga dengan masyarakat di sekitar Kerinci seperti Minangkabau dan Jambi biasa menyebutnya ‘Kurinci’. Orang Belanda yang pernah menduduki Kerinci menggunakan sebutan ‘Korintji’ sedangkan orang Inggris menyebutnya ‘Korinchi’ (Djakfar 2001).

Asal kata nama Kerinci tidak diketahui secara jelas, namun terdapat legenda yang menjelaskan asal penggunaan nama Kerinci. Ada tiga legenda yang menceritakan kisah terciptanya kata ‘Kerinci’ yaitu :

1. Legenda yang menyatakan bahwa nama ‘Kerinci’ berasal dari kata ‘Kunci’.

Kata ini memiliki arti bahwa daerah Kerinci merupakan daerah yang tertutup dan terkunci. Maksudnya adalah daerah Kerinci tidak berinteraksi atau berhubungan dengan dunia luar dan sebaliknya. Hal ini disebabkan kondisi geografis Kerinci yang dikelilingi oleh pegunungan bukit barisan, hutan lebat, topografi yang bergelombang, dan banyak terdapat hewan buas sehingga membuat orang beranggapan bahwa Kerinci merupakan daerah yang tertutup.

2. Legenda yang menyatakan bahwa nama ‘Kerinci’ berasal dari dua kata, yaitu ‘Kering’ dan ‘Cair’. Legenda ini menceritakan bahwa dulu Kerinci merupakan sebuah danau yang sangat luas yang memiliki sebuah pulau kecil ditengah-tengahnya yaitu Tanah Cuguk. Seluruh daerah di kaki-kaki bukit merupakan daerah rawa basah. Pada saat musim kemarau rawa-rawa ini mengering sehingga membuat daerah daratan menjadi semakin luas, sedangkan pada musim penghujan daratan ini kembali basah menjadi rawa sehingga lahan kering menyempit. Fenomena alam inilah yang menyebabkan nama Kerinci berasal dari kata ‘Kering’ dan ‘Cair’.

3. Kisah setelah kedatangan suku bangsa Melayu ke daerah Kerinci. Pada saat itu Kerinci belum memiliki nama, maka datanglah suku bangsa lainnya dari hulu Sungai Batanghari yang menyusuri Batang Merangin hingga sampai ke hulunya. Mereka melihat di hulu sungai tersebut sudah ada manusia yang mendiami sehingga mereka menyebutnya orang Kerinci. Dalam bahasa mereka ‘Kerin’ berarti Hulu, sedangkan ‘ci’ berarti Sungai. Jadi Kerinci berarti Hulu Sungai. Suku inilah yang kemudian memperkenalkan nama Kerinci ke dunia luar, namun orang-orang yang mendiami daerah hulu sungai ini sendiri tidak tahu namanya.

4.3.3. Masuknya Agama Islam ke Kerinci

Sebelum masuknya agama Islam ke Kerinci tidak diketahui secara jelas agama apa yang dianut oleh orang Kerinci. Tetapi dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ditemukan dapat dikatakan bahwa orang Kerinci pernah menganut Animisme dan agama Hindu atau Budha.

Agama Islam di Kerinci disebarkan oleh orang-orang pendatang dari daerah lain yang kebanyakan berasal dari Minangkabau. Orang yang menyebarkan ajaran Islam ini biasa disebut dengan Siak, yaitu orang yang taat beragama seperti halnya dengan mubalig, ulama, imam atau bilal. Adapun orang-orang Siak yang pernah datang ke Kerinci mengajarkan agama Islam antara lain sebagai berikut :

1. Siak Lengeih di Koto Pandan 2. Siak Jelir di Siulak

3. Siak Rajo di Sungai Medang 4. Siak Ali di Koto Beringin Semurup 5. Siak Sati di Koto Jelatang Hiang

6. Siak Baribut Sati di Koto Merantih Terutung 7. Siak Ji (Haji), makamnya di Lunang (Inderapura)

Masuknya agama Islam ke Kerinci yaitu sekitar abad ke-9 sampai abad ke-13 ketika Kerinci masih dikuasai oleh Sugindo-sugindo yang kemudian lenyap dan dikuasai oleh Depati IV-8 Helai Kain sampai awal abad ke-20 (1904).

4.3.4. Perlawanan Rakyat Kerinci Menentang Penjajahan Belanda

Sampai tahun 1906, Kerinci tidak pernah dijajah oleh negara atau kerajaan manapun. Hal ini disebabkan oleh banyak yang tidak mengetahui keberadaan daerah Kerinci karena terletak di daerah yang cukup sulit dicapai dan memiliki medan yang sulit ditempuh. Diperkirakan bahwa Kerinci adalah daerah yang terakhir di Indonesia yang dijajah oleh Belanda, padahal saat itu daerah di sekitarnya seperti Minangkabau, Jambi dan Bengkulu telah lebih dulu dijajah oleh Belanda.

Sebelum memasuki abad ke-20, banyak orang Kerinci yang berdagang hingga ke luar daerah seperti ke Muko-Muko dan Indrapura. Melihat banyaknya pedagang Kerinci yang datang maka timbul keinginan orang Belanda untuk

datang ke Kerinci. Niat Orang Belanda untuk datang ke Kerinci mendapat pertentangan dari masyarakat Kerinci yang dipimpin oleh Depati Parbo. Kejadian ini menyebabkan kemarahan orang Belanda, mereka berinisiatif untuk menyerang Kerinci.

Pada tahun 1903 Belanda menyerang Kerinci dari tiga jalur yaitu dari Jambi, Muko-Muko, dan Indrapura. Pasukan Indrapura berhasil menaklukkan daerah Kerinci Hulu dan tengah, sedangkan pasukan dari Jambi menaklukkan bagian timur, begitu juga dengan pasukan dari Muko-Muko yang menaklukkan daerah bagian selatan, semuanya mendapatkan perlawanan yang gigih dari rakyat Kerinci. Walaupun sudah banyak dusun-dusun yang diduduki Belanda, gerilya sepanjang malam tetap terus dilakukan oleh rakyat. Dengan dalih hendak membunuh keluarga Depati Parbo, maka Depati Parbo bersedia untuk berunding dengan Belanda. Dalam perundingan tersebut Depati Parbo ditangkap dan dibuang ke Jakarta dan Ternate. Setelah Depati Parbo ditangkap, perlawanan rakyat terus berlangsung dibawah pimpinan Haji Umar dan Pangeran Mudo dari Bangko namun berakhir dengan jatuhnya banyak korban tewas. Kemudian perlawanan dilanjutkan oleh Ki Marakabeh dari Semurup yang telah menyusun kekuatan, namun karena pengkhianatan akhirnya perlawanan ini gagal dan pasukan Ki Marakabeh banyak yang tewas (Disparbud Kerinci, 2004).

Setelah perlawanan Haji Umar, maka berakhirlah perlawanan rakyat Kerinci menentang Belanda pada pertengahan tahun 1906. Depati Parbo dikenal sebagai pahlawan rakyat Kerinci dalam menentang penjajah. Belanda berkuasa dan berdasarkan ketetapan kerajaan Belanda maka pada tanggal 1 Januari 1906 Kerinci disatukan dengan Jambi menjadi satu Karesidenan yang diperintah oleh Residen yang bernama O. B. Folfach. Pada tahun 1922 kerasidenan dipindahkan ke Pesisir Selatan sampai tahun1942 kedudukan Jepang.

Proklamasi 17 Agustus 1945 yang di umumkan oleh Sukarno – Hatta membuka lembaran baru sejarah perjuangan rakyat Kerinci. Setelah menerima selebaran dan telegram dari Padang, pada hari jumat tanggal 31 Agustus 1945 Sang Saka Merah Putih dikibarkan pertama kalinya di Kerinci tepatnya di Masjid Raya Sungai Penuh oleh A. Thalib.

4.3.5. Periode Kemerdekaan

Pada tanggal 21 Juli 1958, rakyat Kerinci mengadakan kongres yang menghasilkan resolusi untuk diajukan kepada pemerintah pusat agar Kerinci menjadi satu kabupaten dalam provinsi Jambi. UU Darurat RI Nomor 19 tahun 1957 menetapkan pemekaran provinsi Sumatera Tengah menjadi Provinsi Jambi, Sumatera Barat, dan Riau. Dengan adanya UU Nomor 61 tahun 1958, Kerinci ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II. Peresmian baru dilakukan pada tanggal 10 November 1958 oleh Gubernur Jambi saat itu yaitu Yusuf Singadekane. Tanggal 10 November tersebut setiap tahunnya diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Kerinci. Sampai sekarang, dengan berlakunya Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, daerah ini resmi menjadi Kabupaten Kerinci dalam wilayah Provinsi Jambi. Selanjutnya, dengan berbagai pertimbangan pemerintah, maka pada tahun 2008 Kabupaten Kerinci mengalami pemekaran wilayah menjadi wilayah Kabupaten Kerinci dan Kotamadya Sungai Penuh. Adapun pertimbangan dalam melakukan pemekaran wilayah antara lain sebagai berikut :

1. Keputusan Pemerintah Kerajaan Belanda (Government Besluit) Nomor 13 tanggal 3 November 1909, Sungai Penuh ditunjuk sebagai Ibukota.

2. Aspirasi masyarakat membentuk Kota Sungai Penuh sejak tahun 1970-an.

3. Perkembangan Kota Sungai Penuh tidak efektif dikelola hanya oleh pemerintah Kecamatan.

4. Kota Sungai Penuh merupakan kota terpadat kedua di Provinsi Jambi setelah Kota Jambi.

5. PP Nomor 129 tahun 2000 tentang persyaratan pembentukan dan kriteria pemekaran, penghapusan dan penggabungan daerah.

6. Untuk peningkatan pelayanan publik dan percepatan pembangunan.

7. Hasil penelitian oleh Prof. Dr. Sadu Wasistiono, MS (Pasca Sarjana IPDN) tahun 2005 yang menyatakan bahwa Kabupaten Kerinci layak untuk dimekarkan.

Dengan disahkannya UU Nomor 25 tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Sungai Penuh oleh DPR – RI tanggal 21 Juli 2008 dan diresmikan oleh Menteri

Dalam Negeri H. Mardiyanto maka pada tanggal 8 November 2008, Sungai Penuh resmi berpisah dari Kabupaten Kerinci dan menjadi Kotamadya Sungai Penuh.

Kota Sungai Penuh saat ini terdiri dari lima kecamatan yaitu, Kecamatan Sungai Penuh, Kecamatan Hamparan Rawang, Kecamatan Pesisir Bukit, Kecamatan Kumun Debai, dan Kecamatan Tanah Kampung.