HASIL DAN PEMBAHASAN
2. LULUSAN PENDIDIKAN KHUSUS a. Pondok Pesantren
4.6. Tata Guna Lahan dan Sistem Pemilikan Tanah
Tata guna lahan di Kota Sungai Penuh terdiri dari permukiman, pertanian, jasa dan perdagangan, konservasi, perkantoran, dan sebagainya (Tabel 5). Jenis penggunaan lahan yang terbesar adalah hutan untuk konservasi dan perumahan.
Tabel 5. Tata Guna Lahan di Kota Sungai Penuh
NO. Jenis Penggunaan Lahan Luas
(Ha) (%)
1 Jasa dan Perdagangan 30,404 0,36
2 Pendidikan 37,172 0,45
3 Kesehatan 28,845 0,35
4 Peribadatan 1,761 0,02
5 Pemerintahan/Perkantoran 22,368 0,27
6 Pertamanan/Olahraga/Rekreasi 136,334 1,64
7 Pariwisata 2,544 0,03
8 Perumahan 2729,72 32,75
9 Transportasi 618,629 7,43
10 Industri Kecil 2,6 0,03
11 Konservasi 2819,215 33,63
12 Pertanian (Lahan Cadangan) 1904,007 22,65
Luas Lahan 8333,82 100,00
Sumber : BAPPEDA Kota Sungai Penuh Tahun 2010
Area konservasi memiliki luas terbesar sekitar 33,63 % dari total luas Kota Sungai Penuh. Area konservasi ini didominasi oleh hutan hujan tropis
yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Luas perumahan atau permukiman di Kota Sungai Penuh mencapai 2729,72 Ha atau 32,75 % yang terdiri dari bangunan rumah dan pekarangan. Sedangkan area pertanian yang juga berfungsi sebagai lahan cadangan memiliki luas sekitar 1904,007 Ha atau 22,65 % dari luas total. Area pertanian di kota Sungai Penuh didominasi oleh persawahan yang terdiri dari sawah irigasi dan sawah tadah hujan. Area persawahan berada pada daerah dengan topografi yang relatif datar dan dekat dengan aliran sungai. Selain sawah, area pertanian juga terdiri dari kebun dan ladang. Kebun dan ladang umumnya berada pada daerah dataran yang lebih tinggi yaitu di daerah perbukitan dengan sumber air yang melimpah.
Masyarakat yang berkebun dan berladang biasanya adalah mereka yang tinggal di daerah perbukitan dan tinggal di pusat kota. Tanaman perkebunan yang ditanam oleh masyarakat antara lain Kayu Manis (Cinnamomum burmanii), Cengkeh (Syzigium aromaticum), Kopi (Coffea sp.), Jeruk (Citrus sinensis), dan lain sebagainya.
Berdasarkan data monografi Kelurahan Sungai Penuh tahun 2010, luas area permukiman yaitu sekitar 35 Ha dari luas total 45 Ha, sedangkan sisanya terdiri dari persawahan, tanah wakaf, dan perkantoran. Menurut hak kepemilikan atas tanah dalam wilayah adat Depati Nan Bertujuh, hak kepemilikan dibagi menjadi tiga macam, yaitu tanah milik pribadi (sawah atau tanah basah dan ladang atau tanah kering), tanah milik kaum (parit sudut empat), dan tanah milik negeri (tanah patok rajea). Seluruh tanah dalam wilayah adat Depati Nan Bertujuh disebut dengan tanah adat atau di Kerinci dikenal dengan istilah tanah ajun arah. Menurut Watson (1992), ajun arah adalah sistem pembagian sebidang tanah yang belum digarap atau yang tidak digarap dalam wilayah adat oleh para pemangku adat kepada orang yang meminta untuk di ajun arah. Tanah ajun arah dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Hakuladami, yaitu tanah ajun arah yang di dalamnya diperbolehkan adanya campur tangan manusia atau boleh dimanfaatkan oleh manusia berupa hutan, parit sudut empat, sawah, dan ladang.
2. Hakullah, yaitu wilayah imbo bano atau rimba belantara yang
merupakan hutan larangan. Di hutan ini tidak diperbolehkan adanya pemanfaatan oleh manusia karena hutan ini merupakan penyangga hulu – hulu sungai. Contoh imbo bano ini yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat yang termasuk tanah patok rajea.
Hutan dan ladang yang umumnya berada di perbukitan merupakan milik kaum yang telah di ajun arah. Untuk masyarakat Limo Luhah, tanah arah yang berupa hutan dan ladang berada di daerah Desa Sungai Jernih, Desa Talang Lindung, dan Renah Kayu Mbun. Masing-masing luhah memiliki tanah arah yang dikelola oleh beberapa tumbi. Sebagian besar hutan diperbukitan telah berubah fungsi menjadi ladang atau parak. Ladang biasanya ditanami dengan berbagai tanaman palawija dan hortikultur. Tanah arah berupa ladang ini juga berfungsi sebagai lahan cadangan untuk pemukiman apabila lahan untuk permukiman di Rumah Larik Limo Luhah semakin menyempit dan tidak memungkinkan untuk dilakukan pembangunan lagi. Sekarang, perkembangan permukiman di daerah perbukitan ini sangat pesat, banyak masyarakat limo luhah memilih untuk membangun rumah dan menetap di daerah ini.
sedangkan rumah yang terdapat di Rumah Larik Limo Luhah disewakan kepada orang lain, baik kepada orang Kerinci maupun kepada pendatang. Dari wawancara dengan masyarakat lokal, mereka membenarkan bahwa saat ini di kawasan Rumah Larik Limo Luhah telah didominasi oleh pendatang dari berbagai suku dengan status sebagai penyewa bukan pembeli. Bahkan, jumlah pendatang dan masyarakat lokal saat ini memiliki perbandingan 3 : 1.
Dalam wilayah adat Depati Nan Bertujuh, tanah yang menjadi milik pribadi biasanya adalah tanah hibah atau tanah hasil jual beli, dan sebagainya yang pemakaiannya diatur oleh adat setempat. Sedangkan tanah milik kaum yaitu parit sudut empat dimiliki secara bersama oleh luhah, kelebu, perut, dan penggunaannya diatur oleh Ninik Mamak dengan persetujuan Depati. Tanah adat parit sudut empat adalah tanah dataran yang dipergunakan untuk bangunan rumah tinggal dan bangunan rumah tradisi orang Kerinci yang luasnya sekitar 100 depa persegi. Tanah ini dikelilingi oleh parit sedalam 2 m dan lebar 2,5 m, namun sekarang tidak ditemui lagi parit ini di Rumah Larik Limo Luhah (Disparbud Kerinci 2003). Parit ini disamping berfungsi sebagai
batas permukiman Rumah Larik juga memiliki fungsi sebagai sirkulasi air atau limbah dan melindungi dari serangan hewan buas. Tanah milik negeri atau tanah patok rajea terdiri dari jalan umum, tepian tempat mandi, sumur air minum, dan rimba belantara.
Masyarakat Kerinci mengenal adanya harta pusaka, harta pembawaan, dan harta pusaka guntung. Harta pusaka merupakan harta warisan nenek moyang yang telah turun temurun dan biasanya dikuasai oleh kaum atau luhah. Harta pusaka terbagi menjadi dua jenis yaitu, harta pusaka tinggi dan pusaka rendah. Pusaka tinggi diperoleh melalui tembilang besi, yang artinya diperoleh dari warisan nenek moyang atau orang tua mereka terdahulu berupa sawah, ladang, rumah pusaka dan sebagainya dimana hak gunanya dikuasai oleh pihak wanita, Sedangkan pusaka rendah diperoleh melalui tembilang emas, yaitu dari pembelian atau pemberian orang tua mereka dan diturunkan kepada anak laki-laki dan perempuan. Harta pembawaan adalah harta yang telah ada atau dimiliki oleh pihak laki-laki maupun perempuan sebelum mereka menjadi suami isteri. Apabila terjadi perceraian di antara keduanya, maka harta pembawaan laki-laki tetap menjadi haknya dan harta pembawaan perempuan juga tetap menjadi haknya. Harta pencarian bersama tetap dibagi dua, kecuali mereka mempunyai anak. Harta pusaka guntung adalah apabila suami isteri tidak memiliki anak atau keturunan sedangkan mereka meninggal dunia, maka harta pencarian bersama mereka dibagi dua kepada orang tua pihak suami dan orang tua dari pihak isteri. Apabila kedua orang tua mereka telah meninggal dunia, maka harta diserahkan kepada kelebu atau perut.