• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ISU – ISU STRATEGIS

4.1.3. Aspek Sosial Kemasyarakatan

Penduduk Kota Depok sebagai subyek dan obyek paling berharga dalam pembangunan daerah

berjumlah 1.736.565 jiwa menurut Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) 2010. Dari sisi kualitas

manusia, Depok termasuk unggul dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2010

mencapai 78.90 yang menempatkan Depok sebagai yang tertinggi di Jawa Barat. Nilai IPM ini

juga menunjukkan derajat pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat yang cukup baik.

Struktur kependudukan Kota Depok didominasi penduduk usia produktif dengan tingkat

kelulusan setara SMA yang cukup tinggi sekitar 35,59% dan lulusan perguruan tinggi sekitar

11,84% (BPS, 2010). Dan dari sisi hubungan sosial kemasyarakatan, warga Depok termasuk cukup

harmonis dalam pluralitas budaya dan agamanya.

Namun demikian, jumlah warga miskin Kota Depok masih cukup besar (120.000 data Susenas

2009 atau 8% menurut Jamkesda 2009) yang diperkirakan sebagiannya berasal dari migrasi

masyarakat ekonomi lemah yang termarginalisasi di Jakarta. Angka pengangguran terbuka juga

cukup tinggi yakni 9,83% pada 2009.

Angka Kematian Bayi di Kota Depok sudah relatif rendah yakni 26.58 pada 2010 namun masih

perlu ditekan lagi karena target MGDs untuk tahun 2014 adalah 24. Angka buta huruf di Kota

Depok sekalipun hanya 2,17% (BPS, 2010) berarti ada 37 ribu warga yang perlu diperhatikan.

Pengguna narkoba di Depok juga diperkirakan cukup besar dengan ditemukannya pabrik

narkotika skala besar di kawasan perumahan. Jumlah penderita HIV/AIDS (human

immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome) di Kota Depok juga cukup tinggi,

menempati peringkat ke 10 (sepuluh) se Indonesia. Peningkatan jumlah dalam 5 tahun terakhir

hampir mencapai 27 persen. Pada 2006, diestimasi berjumlah 290 orang dan melonjak hingga 750

orang pada 2010.

Kasus perdagangan anak dan perempuan (trafficking) diperkirakan cukup banyak terjadi. Komite

Independen Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (KIP-TKI) Kota Depok mencatat, dalam sehari

terdapat 10 laporan TKI kasus perdagangan orang dengan dominasi laporan putusnya kontak TKI

dengan keluarga, serta kasus perdagangan orang.

4.1.4. Aspek Pelayanan Umum

Permasalahan Kota Depok ditinjau dari aspek pelayanan umum di antaranya adalah :

a. Kinerja Pelayanan Dasar Masyarakat dan Pelayanan Perijinan

Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkategori baik (79.3 pada 2010), mengindikasikan

tingkat pelayanan publik secara umum telah berjalan cukup baik. Angka IKM 2007 – 2010

menunjukkan bahwa kenaikan rata-rata IKM adalah 2,71%/thn yang berarti di atas target RPJM

Daerah I sebesar 2,5%. Di sisi lain telah beroperasinya Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT)

memberi kemudahan pelayanan publik melalui satu pintu (One Stop Services). Terpilih

kembalinya kepala daerah yang sama juga merupakan jaminan keberlanjutan berbagai program

pemerintah daerah yang selama ini sudah berjalan baik.

Namun demikian, kendati nilai IKM rata-rata tinggi, dari 21 jenis pelayanan baik pelayanan dasar

masyarakat maupun pelayanan perijinan, baru 6 pelayanan dng IKM grade A (sangat baik) yakni 5

pelayanan perijinan (SITU&HO, SIUP, SIPA, TDP dan Ijin Reklame) serta 1 pelayanan dasar

masyarakat (Rumah Potong Hewan). Artinya masih ada 15 jenis pelayanan yang perlu

ditingkatkan pelayanannya.

Dari sisi personil, profesionalitas dan integritas SDM aparatur pemerintah masih perlu

ditingkatkan. Ditambah dengan rendahnya kualitas database pemerintahan dari sisi

pemutakhiran data dan akses publik serta sarana dan prasarana pemerintah masih terbatas,

ditandai dengan tersebarnya lokasi beberapa kantor dinas serta masih berstatus sewa bangunan.

Selain itu secara umum, perlu terus dilakukan upaya reformasi birokrasi melalui peningkatan

kualitas tatakelola pemerintahan yang baik (good governance). Masih dirasakan belum

optimalnya kelembagaan dan tatalaksana, pengawasan aparatur, produk hukum, pengelolaan

aset dan arsip secara baku, serta tuntutan adanya peningkatan transparansi dalam pengadaan

barang dan jasa serta pelayanan perijinan. Yang juga tidak kalah penting adalah masih

terbatasnya kapasitas anggaran pembangunan khususnya untuk melaksanakan standar

pelayanan minimal. Dalam era otonomi daerah, Pemerintah daerah dituntut untuk lebih kreatif

dalam menggalang kapasitas pembiayaan daerah, antara lain melalui pendayagunaan aset,

kerjasama dengan swasta, dan optimalisasi pelaksanaan CSR (Corporate Social Responsibility).

b. Kinerja Pelayanan Pendidikan

Dari sisi pelayanan pendidikan, jumlah, sebaran dan daya tampung sekolah negeri masih kurang,

terutama sekolah menengah atas dan sekolah kejuruan. Dengan adanya pemekaran kecamatan

dari 6 menjadi 11 mengakibatkan ada beberapa kecamatan yang belum memiliki sekolah negeri

setara SMA/SMK. Saat ini, jumlah SMP Negeri di Kota Depok baru ada 14 buah , sedangkan SMA

Negeri 7 buah. Meskipun APS SMP tahun 2009 sudah hampir mencapai 82,51% dan APS SMA

64,84%, untuk meningkatkan nilai ini masih terkendala daya tampung ruang kelas yang ada selain

masih tingginya biaya pendidikan riil bagi sebagian siswa.

Kinerja pelayanan pendidikan juga dituntut untuk melahirkan generasi yang lebih kreatif, inovatif

dan prestatif. Hal itu diperlukan untuk mendukung daya saing daerah dalam kompetisi regional,

nasional maupun global.

c. Kinerja Pelayanan Kesehatan

Untuk pelayanan kesehatan, jumlah dan sebaran sarana kesehatan masyarakat belum

proporsional dan memadai jika dibandingkan dengan jumlah dan kepadatan penduduk. RSUD

Kota Depok yang ada saat ini merupakan rumah sakit type C yang terbatas kapasitasnya yaitu

memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas untuk menampung pelayanan rujukan dari

puskesmas. Melihat kebutuhannya, Kota Depok membutuhkan RSUD dengan kapasitas

pelayanan yang lebih besar dan bermutu, dengan mulai meningkatkan status RSUD menjadi

RSUD tipe B.

Untuk skala kecamatan, Depok membutuhkan Puskesmas 24 jam yang dapat bersiaga penuh

dalam pelayanan kesehatan masyarakat, dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan

masing-masing kecamatan. Terhadap puskesmas lainnya perlu terus ditingkatkan kualitas layanannya

antara lain melalui penerapan standar ISO.

Permasalahan lain di bidang kesehatan adalah perlunya perbaikan dalam pelaksanaan program

JAMKESMAS dan JAMKESDA sehingga kehadirannya dirasakan membantu pembiayaan

pengobatan bagi warga kurang mampu.

d. Kinerja dan Potensi Pengembangan Sarana dan Prasarana Transportasi

Dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa yang sebagian besar berusia produktif dengan tingkat

mobilitas relatif tinggi, ditambah fakta bahwa sebagian penduduk Kota Depok adalah warga

komuter yang bermata pencaharian di Jakarta dan sekitarnya, mengakibatkan tuntutan terhadap

sarana dan prasarana transportasi yang tinggi pula.

Dengan panjang jalan 503,24 km yang 83,21% berkondisi baik, masih terjadi kemacetan pada

jam-jam puncak terutama pada ruas-ruas yang bermuara ke ibukota seperti Margonda Raya, Jalan

Raya Bogor, Jalan Sawangan dan Cinere. Selain itu, pola jaringan masih terkonsentrasi di sekitar

pusat kota, sementara akses timur barat maupun ke sentra-sentra ekonomi lainnya masih

terbatas. Angkutan kota yang jumlahnya mencapai hampir 3000 kendaraan pun belum tertib dan

teratur, serta belum menjangkau ke seluruh wilayah Depok. Terminal yang ada saat ini tidak

mampu menampung angkutan dalam kota maupun regional selain lokasinya yang berada di pusat

kota sehingga menjadi salah satu titik kemacetan. Terminal Regional Kelas A di Jatijajar

direncanakan akan memasuki tahap konstruksi pada 2011 dan beroperasi pada 2013 sehingga

nantinya angkutan regional tidak perlu melintas ke dalam kota dan terminal lama akan

difungsikan sebagai terminal terpadu. Namun perlu diciptakan akses langsung Terminal Jatijajar

ke tol Jagorawi sehingga tidak perlu melintasi ruas jalan dalam kota.

Selain itu, realisasi pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) dan Depok-Antasari (Desari),

di satu sisi dapat meningkatkan akses khususnya ke wilayah Cinere dan Cimanggis, namun di sisi

lain dapat menimbulkan bangkitan lalu lintas dan aktivitas yang perlu diantisipasi pemerintah

kota. Masalah lain di bidang transportasi adalah ketersediaan PJU (Penerangan Jalan Umum)

dan rambu-rambu yang dirasakan masih di bawah kebutuhan minimal.

e. Ketersediaan Sarana Prasarana Dasar Pemukiman

Ketersediaan perumahan sebagai salah satu sarana pemukiman juga belum dapat mengimbangi

pertumbuhan penduduk. Dengan 1,7 Juta penduduk yang terbagi dalam 440.475 keluarga

(Sensus BPS, 2010), Kota Depok baru memiliki 196.590 rumah (Distarkim, 2010) dengan berbagai

kategori. Ini mengakibatkan timbulnya pemukiman kumuh dan rumah tidak layak huni.

Pemerintah Daerah dengan bantuan Pemerintah Pusat sudah membangun Rusunawa Jatijajar

yang dapat menampung hingga 300 rumah tangga, namun hingga kini proses serah terimanya

masih terkendala berbagai hal.

Dari sisi prasarana dan sarana dasar pemukiman, pelayanan air bersih melalui PDAM Kota Depok

baru menjangkau sekitar 14% penduduk, sehingga sebagian besar penduduk menggunakan sumur

bor yang beresiko lebih tinggi terhadap pencemaran dan degradasi lingkungan. Selain itu,

kerjasama penyediaan air bersih dengan Kabupaten Bogor membuat Depok sangat tergantung

pada pihak luar baik dalam penyediaan maupun penetapan biaya retribusinya.

Cakupan layanan persampahan baru mencapai 38 % pada 2010 dan kurangnya dorongan maupun

kesadaran penduduk untuk mengelola sampah sendiri sehingga timbunan sampah dapat ditemui

hingga ke badan sungai. Kondisi TPA Cipayung juga sudah melewati daya tampungnya dan

diperkirakan hanya dapat dipertahankan maksimal dalam 1 tahun ke depan. Pemerintah Provinsi

Jawa Barat sudah mencanangkan pembangunan Tempat Pembuangan dan Pengolahan Akhir

Sampah (TPPAS) Bersama di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, namun

infrastrukturnya diperkirakan baru selesai pada 2013 mendatang.

Terkait drainase, upaya penanggulangan banjir sudah dilakukan hingga berkurangnya 17 titik

banjir selama periode RPJM Daerah I. Namun perkembangan jaringan drainase yang tidak

seimbang dengan perkembangan pemukiman mengakibatkan masih adanya titik-titik banjir

terutama saat debit air hujan tinggi.

Secara umum, pengadaan dan pemeliharaan sarana, prasarana dan infrastruktur wilayah masih

terkendala oleh keterbatasan dana karena APBD Kota Depok Tahun 2010 masih berkisar 1 trilyun

rupiah yang terbagi ke dalam 40 OPD. Sehingga diperlukan terobosan-terobosan dalam kerangka

pendanaan pembangunan.

Dokumen terkait