Ketika dimulainya pembangunan di Pulau Batam yaitu tahun 1971 pada awalnya penyediaan dan pengelolaan air bersih di Batam dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Otorita Batam, yang saat ini berganti nama menjadi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam).
Atas dasar pertimbangan ketidaksiapan dan ketidakmampuan Otorita Batam (OB) pada saat itu untuk mengolah air dengan kualitas yang diinginkan (mengikuti perkembangan Kota Singapura) dan mengatasi keluhan dari berbagai pihak tentang kualitas air bersih di pulau Batam maka Pemerintah Indonesia berinisiatif untuk melakukan kerjasama pengelolaan air bersih dengan pihak
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 39
swasta, Sehingga dengan kerjasama tersebut pengelolaan air bersih di Pulau Batam dapat dilaksanakan secara professional.
Sebelum Perjanjian Konsesi yang dibuat pada tahun 1995, pengelolaan air bersih di Batam dilaksanakan oleh Otorita Batam, dengan kapasitas air baku kurang lebih sebesar 850 L/dt dari 5 (lima) waduk yang ada. Pada saat itu Otorita Batam hanya mampu memproduksi air bersih kurang lebih sebesar 500 L/dt dengan kualitas dan kuantitas yang kurang bagus sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan air bersih terutama untuk industri dan hotel (jasa).
Kepala Satuan Pelaksana Otorita Batam pada saat itu mencari perusahaan yang mampu mengelola dan menjadi operator pelaksana penyediaan air bersih di Pulau Batam. Sebelum Perjanjian Konsesi ditandatangani, Konsorsium PT. Adhya Tirta Batam (ATB) telah melakukan feasibility study untuk merealisasikan Perjanjian Konsesi tersebut. Setelah proses negosiasi dengan Otorita Batam (OB) akhirnya Biwater International Ltd. bekerjasama dengan PT. Bangun Cipta Kontraktor dan PT. Syabata Cemerlang membentuk konsorsium PT. Adhya Tirta Batam (ATB) yang kemudian ditunjuk Otorita Batam sebagai pengelola dan operator pelaksana penyediaan air bersih di Pulau Batam.
Pada tanggal 17 April 1995 dibentuk Perjanjian Konsesi pengelolaan air bersih di Pulau Batam antara Otorita Batam (OB) dengan Konsorsium Biwater International Ltd., PT. Bangun Cipta Kontraktor dan PT. Syabata Cemerlang, dengan jangka waktu 25 (dua puluh lima) tahun, dan berakhir pada tanggal 17 April 2020.
Otorita Batam selaku regulator memonitor setiap aktivitas ATB, baik secara teknis maupun komersial, termasuk dalam hal penentuan tarif dan menjamin ketersediaan serta kualitas air baku sesuai dengan kemampuan efektif dari waduk-waduk yang berada di Pulau Batam.
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 40 Gambar 6.2
Wilayah Pelayanan PT. ATB a. Unit Air Baku
Sumber air baku yang diproses ATB berasal dari 6 (enam) waduk yang terdapat di Pulau Batam, yaitu Baloi, Sei Harapan, Sei Ladi, Mukakuning, Nongsa, dan Duriangkang. Jumlah total debit daya tampung dari 6 (enam) waduk tersebut adalah 123.684.190 m3/tahun.
Tabel 6.27
Sumber Air Baku Eksisting SPAM Kota Batam
Waduk Nongsa memiliki kapasitas daya tampung sebesar 60 L/dt yang terletak pada ketinggian + 10 mdpl, waduk Nongsa mulai beroperasi pada tahun 1979.
DAYA TAMPUNG DEBIT
(1.000 m3/thn) (L/dt)
1 Waduk Nongsa 1,892.16 60 2 Waduk Baloi 946.08 30 3 Waduk Harapan 6,622.56 210 4 Waduk Ladi 7,568.64 240 5 Waduk Muka Kuning 12,046.75 310 6 Waduk Duriangkang 94,608.00 3,000
123,684.19
3,850.00
Sumber : BWS, Tahun 2012
KAPASITAS
NO SUMBER AIR BAKU
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 41
Waduk Baloi memiliki kapasitas daya tampung sebesar 30 L/dt yang terletak pada ketinggian + 10 mdpl, waduk Baloi mulai beroperasi pada tahun 1978.
Waduk Harapan memiliki kapasitas daya tampung sebesar 210 L/dt yang terletak pada ketinggian + 10 mdpl, waduk Harapan mulai beroperasi pada tahun 1979.
Waduk Ladi memiliki kapasitas daya tampung sebesar 240 L/dt yang terletak pada ketinggian + 19 mdpl, waduk Ladi mulai beroperasi pada tahun 1986.
Waduk Nongsa + 10 mdpl WadukBaloi + 10 mdpl WadukHarapan + 10 mdpl
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 42
Waduk Mukakuning memiliki kapasitas daya tampung sebesar 310 L/dt yang terletak pada ketinggian + 25 mdpl, waduk Mukakuning mulai beroperasi pada tahun 1991.
Waduk Duriangkang memiliki kapasitas daya tampung sebesar 3.000 L/dt yang terletak pada ketinggian + 7,5 mdpl, waduk Mukakuning mulai beroperasi pada tahun 2001.
Jumlah kapasitas unit air baku dari 6 (enam) waduk yang telah dimanfaatkan sebagai sumber air dalam sistem pelayanan air minum di Pulau Batam adalah sebesar 3.850 L/dt dan diperkirakan dapat memasok kebutuhan air bersih untuk penduduk Pulau Batam sebanyak 1.400.000 jiwa.
WadukLadi + 19 mdpl WadukMukakuning + 25 mdpl WadukDuriangkang + 7,5 mdpl
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 43 b. Unit Produksi
Unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang digunakan untuk melayani Kota Batam terdiri dari 7 (tujuh) unit, dimana sumber air baku berasal dari 6 (enam) waduk.
Tabel 6.28
Kapasitas Sumber Air Baku, IPA Terpasang, dan Produksi Tahun 2012
IPA NONGSA
Instalasi Nongsa memiliki kapasitas 110 L/dt dimana sumber air baku yang diolah berasal dari waduk/dam Nongsa yang mempunyai kapasitas 60 L/dt.
SUMBER IPA PRODUKSI
1 IPA Nongsa 60 110 63 2 IPA Baloi 30 60 - 3 IPA Harapan 210 210 204 4 IPA Ladi 240 270 242 5 IPA Muka Kuning 310 310 239 6 IPA Tanjung Piayu
7 IPA Duriangkang
3,850
3,535 2,531
Sumber : BWS dan ATB, Tahun 2012
1,783 KAPASITAS (L/dt)
NO INSTALASI PENGOLAHAN AIR
3,000
2,575
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 44
IPA BALOI
Instalasi Baloi memiliki kapasitas60 L/dt dimana sumber air baku yang diolah berasal dari waduk/dam Baloi yang mempunyai kapasitas 30 L/dt.
IPA HARAPAN
Instalasi Harapan memiliki kapasitas210L/dt dimana sumber air baku yang diolah berasal dari waduk/dam Harapan yang mempunyai kapasitas 210 L/dt.
IPA LADI
Instalasi Ladi memiliki kapasitas270 L/dt dimana sumber air baku yang diolah berasal dari waduk/dam Sei Ladi yang mempunyai kapasitas 240 L/dt.
IPA MUKA KUNING
Instalasi Muka Kuning memiliki kapasitas310 L/dt dimana sumber air baku yang diolah berasal dari waduk/dam Muka Kuning yang mempunyai kapasitas 310 L/dt
IPA TANJUNG PIAYU dan IPA DURIANGKANG
o IPA Tanjung Piayu tahap I, memiliki kapasitas 225 L/dt.
o IPA Tanjung Piayu tahap II, memiliki kapasitas 150 L/dt.
o IPA Duriangkang tahap I, memiliki kapasitas 500 L/dt.
o IPA Duriangkang tahap II, memiliki kapasitas 500 L/dt.
o IPA Duriangkang tahap III, memiliki kapasitas 500 L/dt.
o IPA Duriangkang tahap IV, memiliki kapasitas 700L/dt.
Jumlah kapasitas IPA yang terpasang adalah sebesar 2.575 L/dt dimana sumber air baku yang diolah berasal dari waduk/dam Muka Kuning yang mempunyai kapasitas 3.000 L/dt.
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 45
Proses pengolahan air baku menjadi air bersih yang siap didistribusikan ke konsumen adalah sebagai berikut :
INTAKE AERATOR FLOCCULATOR
LAMELLA CLARIFIER RAPID GRAVITY FILTERS CHLORINE CONTACT TANK
BALANCE TANK TREATED
WATER SUPPLY RAW WATER SOURCES RAPID GRAVITY FILTERS Pre-Chlor Pre-Lime Alum Sulphate Polimer Pre-Chlor Pre-Lime CUSTOMERS Gambar 6.3 Diagram Proses IPA
Dari kapasitas sumber air baku yang ada yaitu sebesar 3.850 L/dt sudah terpasang IPA sebesar 3.535 L/dt. Sedangkan kapasitas produksi air minum saat ini adalah sebesar 2.531 L/dt, sehingga masih terdapat idle capacity untuk kapasitas sumber air sebesar1.319 L/dt.
c. Unit Distribusi
Pada umumnya reservoir yang digunakan merupakan reservoir transmisi (buster
pump) dan reservoir distribusi dilengkapi dengan water meter untuk mencatat
jumlah air yang didistribusikan kepada masyarakat, sehingga PT. ATB dapat dengan mudah menghitung berapa tingkat kehilangan air di area distribusi.
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 46
Pada awal Perjanjian Konsesi, ATB menyewa peralatan produksi dan distribusi air bersih dengan kapasitas 850 L/dt dari Otorita Batam dengan nilai aset sebesarRp. 42.000.000.000,- (empat puluh dua milyar rupiah).
Berdasarkan analisis investasi, pembangunan WTP sampai akhir masa konsesi (2020) diproyeksikan dengan nilai investasi sebesar Rp 650.000.000.000,- (enam ratus lima puluh milyar rupiah). Sampai akhir tahun 2007 ATB telah melakukan investasi peralatan produksi dan distribusi air bersih dengan nilai akumulasi kurang lebih sebesar Rp 291.907.000.000,- (dua ratus sembilan puluh satu milyar sembilan ratus tujuh juta rupiah).
Dalam memperlancar dan mempercepat proses distribusi air bersih, beberapa pengembang di Pulau Batam membangun jaringan induk terlebih dahulu (karena belum ada jaringan induk yang melintasi kawasan tersebut) dan kemudian biaya pembangunan tersebut di ganti oleh ATB.
Pipa transmisi adalah semua pipa yang meliputi pipa penyaluran air baku dari intake ke IPA, air bersih dari IPA ke reservoir dan dari reservoir yang satu ke reservoir yang lain, termasuk katub-katub, bak-bak, sambungan yang berhubungan dengan pipa.
Pipa distribusi adalah semua pipa yang meliputi jaringan pipa yang berasal dari reservoir hingga ke konsumen, termasuk meter airnya. Termasuk disini katub- katub, bak-bak, sambungan dan sebagainya yang berhubungan dengan pipa. Tidak termasuk hubungan pelayanan atau hubungan dari meter air ke halaman konsumen.
d. Unit Pelayanan
Sambungan pelanggan yang ada di Pulau Batam dan Pulau Buluh pada umumnya merupakan sambungan rumah, sambungan niaga, sambungan sosial, dan sambungan industri. Tingkat pelayanan hingga tahun 2011 untuk Pulau Batam dan Pulau Buluh telah mencapai ± 95 % atau ± 186.092 sambungan. PT. ATB memiliki Standard Operating Procedure (SOP) bagi konsumen yang mengajukan permintaan sambungan baru. Daerah hunian penduduk yang sulit untuk dipasok air bersih adalah Batu Aji karena pertumbuhan penduduknya relatif tinggi dan merupakan daerah relokasi perumahan liar yang mendapat pasokan air dari waduk Muka Kuning dan Duriangkang.
RPIJM KOTA BATAM 2015 - 2019 BAB VI - 47 Gambar 6.4
Daerah Pelayanan PT. ATB