Bab II Pengelolaan Kasus
2.3 Asuhan Keperawatan Kasus
2.3.1. Pengkajian Keperawatan
I. BIODATA
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn.R
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 42 tahun
Status Perkawinan : Sudah menikah
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Karya No. 58
Tanggal Masuk RS : 5 juni 2013
No. Register : 53 30 35
Ruangan/kamar : RB2B/III5
Golongan Darah : -
Tanggal Pengkajian : 18 juni 2013
Tanggal Operasi : 10 juni 2013
Diagnosa Medis : Fraktur femur sinistra
II. KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan sulit untuk bergerak khususnya pada paha sebelah kiri, tampak klien tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri karena luka pasca operasi yang menimbulkan rasa sakit saat melakukakn pergerakan
III.RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
A. Provocative/palliative
1. Apa penyebabnya
Pasca operasi ORIF pada femur sinistra
B. Quantity/quality
1. Bagaimana dirasakan
Klien mengatakan saat bergerak timbul nyeri pada paha kiri, nyeri terasa seperti berdenyut, hilang timbul, nyeri setempat tidak menyebar, klien mengatakan skala nyeri 5, nyeri akan berkurang jika klien beristirahat
2. Bagaimana dilihat
Klien tampak kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, keluarga dan perawat tampak membantu klien.
C. Region
1. Dimana lokasinya
Pada femur sinistra
2. Apakah menyebar
-- D. Severity
Klien mengatakan kesulitan bergerak pada paha kiri mengakibatkan klien sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
E. Time
--
IV.RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
A. Penyakit yang pernah dialami
Klien mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang berat, hanya demam dan flu biasa saja kalau lagi kelelahan
B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan
Klien mengatakan kalau demam ataupun flu klien hanya membeli obat warung
C. Pernah dirawat/dioperasi
Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit
D. Lama dirawat
E. Alergi
Klien mengatakan tidak ada alergi terhadap obat, makanan, binatang maupun lingkungan
F. Imunisasi --
V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
A. Orang tua
Klien mengatakan bapak dari klien menderita asam lambung dan rematik sedangkan ibu dari klien menderita asam lambung
B. Saudara kandung
Klien mengatakan tidak ada yang menderita penyakit berat
C. Penyakit keturunan yang ada
Klien mengatakan tidak ada penyakit keturunan
D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga dari klien yang mengalami gangguan jiwa
E. Anggota keluarga yang meninggal
Klien mengatakan belum ada anggota keluarga yang meninggal
F. Penyebab meninggal
--
VI.RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL
A. Persepsi pasien tentang penyakitnya
Klien dapat menerima kondisinya sekarang dan yakin bahwa ini cobaan dari Tuhan
B. Konsep diri
1. Gambaran diri : Klien bersemangat ingin segera sembuh
2. Ideal diri : Klien percaya bahwa ia akan segera sembuh
3. Harga diri : Klien tidak malu dengan kondisinya
5. Identitas : Klien pribadi yang sabar dan tenang
C. Keadaan emosi
Keadaan emosi klien baik
D. Hubungan social
1. Orang yang berarti
Klien mengatakan saat ini orang yang berarti adalah ibu, istri dan anak-anaknya
2. Hubungan dengan keluarga
Klien mengatakan hubungan klien dengan keluarga baik
3. Hubungan dengan orang lain
Klien mengatakan hubungan klien dengan orang lain baik
4. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Tidak ada hambatan, keluarga dan tetangga sering menjenguk klien selama di rawat di rumah sakit
E. Spiritual
1. Nilai dan keyakinan Klien beragama islam 2. Kegiatan ibadah
Klien mengatakan selama dirawat klien tidak melakukan sholat hanya berdoa saja untuk kesembuhannya
VII. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan umum Kesadaran komposmentis B. Tanda-tanda vital 1. Suhu tubuh : 36,20 C 2. Tekanan darah : 120/80 mmhg 3. Nadi : 80 x/menit 4. Pernafasan : 20 x/menit 5. Skala nyeri : 5 6. TB : 165 cm
C. Pemeriksaan head to toe
1. Kepala dan rambut
Bentuk : bulat simetris
Ubun-ubun : keras dan tertutup
Kulit kepala : kulit kepala bersih
2. Rambut
Penyebaran dan keadaan rambut : penyebaran rambut
merata, warna hitam agak sedikit kusam, tekstur sedikit kasar
Bau : agak sedikit bau apek
Warna kulit : normal
3. Wajah
Warna kulit : normal , sawo matang
Struktur wajah : simetris
4. Mata
Kelengkapan dan kesimetrisan : lengkap, simetris antara
kiri dan kanan
Konjungtiva dan sclera : konjungtiva tidak pucat,
sclera berwarna putih
Pupil : pupil normal, bentuk
bulat, letak sentral, isokor ± 3mm
Cornea dan iris : cornea transparan, halus,
bersinar dan jernih; iris berwarna hitam
Tekanan bola mata : tidak ada peningkatan
tekanan bola mata
5. Hidung
Tulang hidung dan posisi septum nasi : keras dan stabil
Lubang hidung : simetris antara
keduanya, tiadak ada sekret
Cuping hidung : tidak ada pernafasan
cuping hidung
Ukuran telinga : normal , sama ukurannya antara kiri dan kanan
Lubang telinga : bersih, tidak tampak serumen
Ketajaman pendengaran : baik
7. Mulut dan faring
Keadaan bibir : merah muda, lembab, simetris dan
halus
Keadaan gusi dan gigi : gusi berwarna merah muda, halus dan
lembab; gigi tampak sedikit kotor dan adanya karang gigi di beberapa gigi bagian belakang
Keadaan lidah : berwarna merah pudar, lembab,
sedikit kasar pada bagian permukaan
Orofaring : -
8. Leher
Posisi trachea : normal, teraba pada keduan sisi
Thyroid : tidak teraba pembesaran kelenjar thyroid
Suara : normal dan jelas
Kelenjar limfe : tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe
Vena jugularis : vena jugularis dapat teraba
Denyut nadi karotis : denyut nadi teraba
9. Pemeriksaan integument
Kebersihan : kebersihan klien kurang
Kehangatan : kulit klien teraba hangat
Warna : sawo matang , tidak pucat
Turgor : baik, < 3 detik
Kelembapan : baik
Kelainan pada kulit : tidak ada kelainan 10.Pemeriksaan thoraks/dada
Inspeksi thoraks (normal, burrel chest, funnel chest, pigeon
Tanda kesulitan bernafas : tidak ada tanda kesulitan bernafas 11.Pemeriksaan paru
Palpasi getaran suara : getaran merata di paru-paru kanan
dan kiri
Perkusi : resonan
Auskultasi (suara nafas, suara ucapan, suara tambahan) : bronkovesikuler, suara nafas normal, tidak ada suara tambahan 12.Pemeriksaan jantung
Inspeksi : warna kulit dada normal seperti warna kulit
tubuh, tidak ada kebiruan atau pucat
Palpasi : tidak teraba massa atau benjolan
Perkusi : dullnes
Auskultasi : 80x/menit
13.Pemeriksaan abdomen
Inspeksi (bentuk, benjolan)
Bentuk normal dan simetris, tidak terlihat adanya benjolan
Auskultasi
Frekuensi peristaltik usus : 9x/menit
Palpasi (tanda nyeri tekan, benjolan, ascites, hepar, lien)
Tidak ada nyeri tekan, benjolan maupun acites, tidak ada pembesaran hepar
Perkusi (suara abdomen)
Timpani
14.Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya Genitalia (rambut pubis, lubang uretra)
Tidak ada kelainan
Anus dan perineum (lubang anus, kelainan pada anus,
perineum)
Tidak ada kelainan
15.Pemeriksaan musculoskeletal/ekstremitas (kesimetrisan, kekuatan otot, edema)
Tidak ada edema, tangan sebelah kiri terpasang infus RL 20 tetes/menit, jumlah jari lengkap, kekuatan otot kanan 5, kiri 4
Ekstremitas bawah
Tidak ada edema, femur sinistra fraktur dan dibidai, jumlah jari kaki lengkap, kekuatan otot kaki kanan 4, kaki kiri 2
16.Pemeriksaan neorologi (nervus cranialis)
N I : Fungsi indera penciuman baik
N II : Fungsi indera penglihatan baik
N III, IV, VI : Baik
N V : Baik
N VII : Persepsi pengecapan baik
N VIII : Keseimbangan klien baik
N IX, X : Klien mampu menelan dengan baik
N XI : Baik
N XII : Lidah simetris, indera pengecapan baik
17.Fungsi motorik
Fungsi motorik pada bagian yang fraktur terganggu, klien belum mampu menggerakkan kaki kiri khususnya paha kiri karena apabila digerakkan akan terasa sakit. Fungsi motorik pada organ yang lain baik.
18.Fungsi sensorik (identifikasi sentuhan, tes tajam tumpul, panas dingin, getaran)
Klien dapat mengetahui area kulit yang diberi sentuhan, klien mampu mengidentifikasi benda tajam dan tumpul, klien mampu membedakan rasa panas dan dingin, pasien mampu merasakan getaran yang diberi pada daerah wajah.
19.Refleks (bisep, trisep, brachioradialis, patelar, tendon achiles, plantar)
Refleks bisep terangsang dengan baik kanan dan kiri, refleks trisep terangsang dengan baik kanan dan kiri, refleks brachioradialis
achiles, dan plantar pada kaki tidak dilakukan karena kondisi klien yang tidak memungkinkan untuk duduk dengan kaki menggantung.
VIII. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
A. Pola makan dan minum
1. Frekuensi makan/hari
Klien makan 3x sehari
2. Nafsu/selera makan
Nafsu makan baik 3. Nyeri ulu hati
Tidak terdapat nyeri ulu hati 4. Alergi
Tidak ada makan yang membuat alergi atau makanan yang tidak disukai
5. Mual dan muntah
Klien tidak mengalami mual ataupun muntah
6. Waktu pemberian makanan
Pagi, siang, malam dan kadang diselingi dengan cemilan
7. Jumlah dan jenis makanan
Setiap kali makan klien menghabiskan 1 porsi makanan ; klien makan makanan yang disediakan dari rumah sakit dan kadang membeli makanan dari luar untuk makanan selingan
8. Waktu pemberian cairan/minum
Dalam sehari klien dapat menghabiskan 9-10 gelas sedang
9. Masalah makan dan minum (kesulitan menelan, mengunyah)
Tidak ada masalah dalam makan dan minum, tidak ada kesulitan ,menelan dan mengunyah
B. Perawatan diri/personal hygiene
1. Kebersihan tubuh
Klien tidak mandi selama habis operasi, hanya dilap saja pada pagi hari oleh perawat atau keluarga
2. Kebersihan gigi dan mulut
Klien melakukan oral hygiene pada pagi hari dengan batuan perawat dan keluarga namun tidak rutin setiap hari, gigi tampak sedikit kotor dan terdapat sedikit karang gigi
3. Kebersihan kuku dan kaki
Kuku klien terlihat sedikit panjang dan kotor C. Pola kegiatan/aktivitas
1. Uraian aktivitas pasien untuk mandi, makan, eliminasi, ganti
pakaian dilakukan secara mandiri, sebahagian, atau total.
Klien mandi 1x sehari, oral hygiene dilakukan pada pagi hari, klien makan 3x sehari, ganti pakaian 1x sehari. Semua aktivitas klien dibantu oleh perawat dan keluarga. Klien mengatakan nyeri pada luka post operasi jika melakukan pergerakan.
2. Uraikan aktivitas ibadah pasien selama dirawat/sakit
Klien melakukan ibadah hanya berdoa saja selama dirawat di rumah sakit.
IX.Pola eliminasi
A. BAB
1. Pola BAB : 1x sehari
2. Karakter feses : berwarna kuning kecoklatan, konsistensi
padat, bau khas feses
3. Riwayat pendaharan : tidak ada riwayat pendarahan
4. BAB terakhir : tanggal 18 juli 2013, pagi hari
5. Diare : tidak ada
6. Penggunaan laktasif : tidak ada
B. BAK
1. Pola BAK : 6-7 kali sehari
2. Karakteristik urine : kuning terang, bau khas
urine
4. Riwayat penyakit ginjal/kandung kemih : tidak ada
5. Penggunaan diuretik : tidak ada
6. Upaya mengatasi masalah : tidak ada masalah BAK
X. Pola tidur dan kebiasaan
1. Waktu tidur : klien tidur pukul 22.00 wib
2. Waktu bangun : klien bangun 06.00 wib
3. Masalah tidur : klien mengatakan sering terbangun karena merasakan
nyeri
4. Hal-hal yang mempermudah tidur
Klien mengatakan biasanya ia membaca koran pada saat sulit untuk tidur
5. Hal-hal yang mempermudah bangun
Klien mengatakan sering terbangun pada saat terasa nyeri pada paha kiri dan terdengar suara berisik
2.3.2. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
Keperawatan 1.
2.
DS :
Klien mengatakan sulit untuk bergerak khususnya pada paha sebelah kiri
DO :
Tampak klien tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, semua aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan perawat
DS :
Klien mengatakan timbul nyeri pada luka post ORIF saat bergerak, nyeri seperti berdenyut, hilang timbul, nyeri tidak menyebar, skala nyeri 5, nyeri akan berkurang jika klien beristirahat DO : a. Tanda-tanda vital TD : 120/80 mmHg Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit Tekanan/kekerasan langsung ↓ Terputusnya kontinuitas tulang ↓ Deformitas ↓
Ektremitas tidak dapat berfungsi dengan baik
↓ Keterbatasan Mobilitas Tekanan/kekerasan langsung ↓ Terputusnya kontinuitas tulang ↓ Nyeri Hambatan mobilitas fisik Gangguan rasa nyaman : nyeri
3.
T : 36o C
b. Tampak klien menahan
rasa sakit saat beraktivitas
DS :
Klien mengatakan tidak mampu melakukan perawatan diri secara mandiri
DO :
Tampak perawat dan keluarga membantu dalam perawatan diri klien, kuku klien panjang dan tampak kotor, gigi klien terlihat kotor dan sedikit terdapat karang gigi Tekanan/kekerasan langsung ↓ Terputusnya kontinuitas tulang ↓ Deformitas ↓
Ektremitas tidak dapat berfungsi dengan baik
↓
Hambatan mobilitas ↓
Kurang perawatan diri
Kurang perawatan diri
2.3.3. RUMUSAN MASALAH 1. Hambatan mobilitas fisik
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri
3. Kurang perawatan diri
2.3.4. DIAGNOSA KEPERAWATAN (PRIORITAS)
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal
ditandai dengan Klien mengatakan sulit untuk bergerak khususnya pada paha sebelah kiri, tampak klien tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, semua aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan perawat.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya
kontinuitas jaringan ditandai dengan klien mengatakan timbul nyeri pada luka post ORIF saat bergerak, nyeri seperti berdenyut, hilang timbul, nyeri tidak menyebar, skala nyeri 5, nyeri akan berkurang jika klien beristirahat, TD : 120/80 mmHg, Nadi : 80 x/menit, RR : 20 x/menit, T : 36o C, tampak klien menahan rasa sakit saat beraktivitas.
3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan kemampuan fisik
ditandai dengan klien mengatakan tidak mampu melakukan perawatan diri secara mandiri, tampak perawat dan keluarga membantu dalam perawatan diri klien, kuku klien panjang dan tampak kotor, gigi klien terlihat kotor dan sedikit terdapat karang gigi.
2.3.5. Perencanaan Keperawatan No.
Dx Perencanaan Keperawatan
1 Tujuan dan kriteria hasil :
‐ Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling
tinggi yang mungkin
‐ Mempertahankan posisi fungsional
‐ Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi
bagian tubuh
‐ Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas
Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Dorong partisipasi pada aktivitas terpeutik/rekreasi. Pertahankan rangsang lingkungan (contoh : radio, tv, Koran, kunjungan keluarga/teman)
Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan (contoh : mandi,
mencukur)
Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan keterbatasan fisik
actual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Memberikan kesempatan untuk
mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian,
meningkatkan rasa kontrol diri/harga diri, dan membantu menurunkan isolasi sosial
Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung
Awasi TD dengan melakukan aktivitas
Auskultasi bising usus
Kolaborasi
Konsul dengan ahli terapi fisik
Hipotensi postural adalah nasalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus
Tirah baring, penggunaan analgesik, dan perubahan dalam kebiasaan diet dapat memeperlambat peristaltic dan menghasilkan konstipasi
Sebagai program latihan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas
2 Tujuan dan kriteria hasil :
‐ Menyatakan nyeri hilang
‐ Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam
aktivitas/tidur/istirahat dengan cepat
‐ Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas
terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual
Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan
lokasi dan karakteristik, termasuk intensitas (skala 0-10). Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/perilaku)
Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif
Mempengaruhi pilihan/ pengawasan keefektifan intervensi.
Tingkat nyeri dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri
Mempertahankan kekuatan/ mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi
Berikan alternatif tindakan kenyamanan (contoh : pijatan, pijatan punggung, perubahan posisi)
Dorong menggunakan teknik manajemen nyeri ( contoh relaksasi progresif, latihan napas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan terapeutik)
Selidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasa/tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif/buruk tidak hilang dengan analgesik
Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi
Meningkatkan sirkulasi umum; menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot
Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama
Dapat menandakan terjadinya komplikasi
Untuk menurunkan nyeri dan spasme otot
3 Tujuan dan kriteria hasil :
‐ Mendemonstrasikan teknik/perubahan gaya hidup untuk
memenuhi kebutuhan perawatan diri
‐ Melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan
sendiri
‐ Mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas memberikan bantuan
sesuai kebutuhan
Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji kemampuan dan tingkat kekuatan (skala 0-4) untuk melakukan kebuthan sehari-hari Hindari untuk melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan
Membantu dalam mengantisipasi/
merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
Meningkatkan kemandirian dan harga diri
sesuai kebutuhan
Pertahankan mobilisasi, kontrol terhadap nyeri dan program latihan Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya
Mendukung kemandirian fisik
Meningkatkan perasaan makna diri, menigkatkan kemandirian dan mendorong pasien untuk berusaha secara kontinu
2.3.6. Implementasi Keperawatan No.
Dx
Hari/tanggal/
pukul Implementasi Keperawatan Evaluasi (SOAP)
1 Selasa 18 juni 2013 14.45 WIB 15.00 WIB 15.05 WIB 15.25 WIB
Mengkaji tingkat mobilisasi yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Mendorong partisipasi pada aktivitas terpeutik/rekreasi. Mempertahankan rangsang lingkungan (contoh : radio, tv,
Koran, kunjungan keluarga/teman)
Menginstruksikan dan mengajarkan latihan rentang
gerak aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit
Mengukur tanda-tanda vital dan mengauskultasi bising usus
S :
Klien mengatakan sulit beraktivitas O: ‐ Tanda-tanda vital : TD : 120/80 mmHg RR : 20 x/menit Nadi : 74 x/menit Suhu : 37o C ‐ Peristaltik usus : 8 x/menit ‐ Tampak klien beraktivitas dengan bantuan perawat ‐ Tingkat mobilitas : 3 ‐ Kekuatan ekstremitas
atas kanan 5, kiri 4 Kekuatan ekstremitas bawah kanan 4, kiri 2
‐ Klien tampak
antusias
memperhatikan
latihan rentang gerak yang diajarkan perawat
A :
Masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasi P : Tindakan keperawatan lanjutkan 2 15.40 WIB 15.50 WIB 16.10 WIB 16.20 WIB Mengkaji keluhan nyeri/ketidaknyamanan,
memperhatikan lokasi dan karakteristik, termasuk intensitas (skala 0-10). Memperhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/perilaku)
Memberikan alternatif tindakan kenyamanan (pijatan
punggung dan perubahan posisi)
Mendorong menggunakan dan
mengajarkan teknik manajemen nyeri (relaksasi
dan latihan napas dalam)
Menyelidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasa/tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif/buruk tidak hilang dengan analgesik
S :
Klien mengatakan timbul nyeri pada luka post ORIF saat bergerak, nyeri seperti berdenyut, hilang timbul, nyeri tidak menyebar, skala nyeri 5, nyeri akan berkurang jika klien beristirahat
Klien mengatakan
merasa relax setelah
dilakukan perubahan posisi : semi fowler
O:
‐ Muka klien tampak
meringis kesakitan ketika klien bergerak
‐ Klien mampu
melakukan latihan yang diajarkan perawat
17.00 WIB Memberikan obat sesuai indikasi ‐ Injeksi IV telah diberikan : ketorolac 1 amp A :
Masalah gangguan rasa nyaman nyeri belum teratasi, tujuan belum tercapai P : Tindakan keperawatan dilanjutkan 3 17.10 WIB 17.20 WIB
Kaji kemampuan dan tingkat kekuatan (skala 0-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
Hindari untuk melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
Membantu melakukan oral hygiene
Membantu klien mandi diatas tempat tidur
Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang
dilakukan atau keberhasilannya
S :
Klien mengatakan tidak mampu melakukan perawatan diri secara mandiri
O :
Tampak perawat dan keluarga membantu dalam perawatan diri klien, kuku klien panjang dan tampak kotor, gigi klien terlihat kuning dan sedikit terdapat karang gigi
A :
Masalah defisit perawatan diri belum
teratasi P :