• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGELOLAAN KASUS

C. Asuhan Keperawatan Kasus

FORMATPENGKAJIANPASIEN DIRUMAHSAKIT

I. BIODATA

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. P

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 25 tahun

Status Perkawinan : Belum Kawin

Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pekerjaan : Bertani

Alamat : Dusun Lau Kersik Ds. Kuta Gajah Kec. Kutambaru Kab. Langkat

Tanggal Masuk RS : 13 Januari 2013 No. Register : 02.91.57

Ruangan/Kamar : Sibual-buali Tanggal pengkajian : 18 juni 2013

Diagnosa Medis : Skizofrenia Paranoid

II. KELUHAN UTAMA :

Klien sering mengamuk kepada ibunya karena tidak dibelikan rokok; menghancurkan barang-barang seperti kaca, lemari, dan jendela; bicara dan tertawa sendiri; dan tidak bisa tidur.

III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG A. Provocative/palliative

1. Apa penyebabnya :

Klien mengatakan jika putus rokok ia merasa stress lalu memarahi dan memukul ibunya. Teman-teman klien juga sering mengejek dirinya karena bau badan. Klien malas mandi karena menurutnya mandi itu bukanlah hal yang penting.

2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan :

Untuk memperbaiki keadaannya, klien mengatakan harus diberikan rokok setiap hari.

B. Quantity/Quality

1. Bagaimana dirasakan :

Klien mengatakan sudah merasa tenang selama di rawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan, akan tetapi masih sering melihat bayangan laki-laki lewat pada malam hari dan mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa klien di suruh untuk merokok dan memukul temannya pada malam hari saja.

2. Bagaimana di lihat :

Klien tampak binggung dan gelisah. C. Severity

Klien merasa tidak terganggu dengan kondisinya saat ini yaitu sering mendengar suara-suara palsu pada malam hari yang menyuruhnya untuk merokok dan memukuli temannya, melihat bayangan laki-laki yang lewat pada malam hari, dan badannya yang berbau dan kotor karena malas mandi.

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU A. Penyakit yang pernah dialami

Lebih kurang 1 tahun yang lalu, klien mengalami gangguan jiwa dan di rawat di RS. Jiwa PROV.SU. Akan tetapi, setelah 6 bulan tinggal di rumah, klien kembali di rawat di RS. Jiwa PROV.SU karena tidak mengkonsumsi obat selama tinggal di rumah.

B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan

Usaha pengobatan yang pernah dilakukan pada klien yaitu dengan di rawat RS. Jiwa PROV.SU dan dengan meminum obat.

C. Pernah dirawat/dioperasi

Lebih kurang 1 tahun yang lalu, klien pernah di rawat di RS. Jiwa PROV.SU.

D. Lama dirawat

Klien pernah dirawat di RS. Jiwa PROV.SU selama 380 hari. E. Alergi

Klien tidak memiliki riwayat alergi V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

A. Orang tua

Saat ini kedua orang tua klien masih hidup dan tidak memiliki riwayat penyakit yang sama dengannya. Orang tua klien hanya pernah menderita penyakit demam biasa.

B. Saudara Kandung

Saudara kandung klien tidak memiliki riwayat penyakit yang sama seperti yang di deritanya yaitu gangguan jiwa.

C. Penyakit keturunan yang ada

Keluarga klien tidak mempunyai penyakit keturunan gangguan jiwa seperti yang dialaminya.

D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa

Klien mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarga klien yang mengalami penyakit gangguan jiwa sepertinya.

E. Anggota keluarga yang meninggal

Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang meninggal. F. Penyebab meninggal

VI. RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL A. Persepsi pasien tentang penyakitnya

Klien mempunyai persepsi bahwa dirinya mengalami Gangguan Jiwa dan sedang di rawat di RS. Jiwa PROV.SU. Klien berharap cepat sembuh agar klien dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya.

B. Konsep Diri

1. Gambaran diri : Klien mengatakan bahwa ia menyukai matanya, karena mempunyai bulu mata yang lentik.

2. Ideal diri : Klien mengatakan bahwa ia ingin cepat sembuh dan pulang ke rumahnya.

3. Harga diri : Klien merasa bahwa ia tidak mampu melakukan apa-apa.

4. Peran diri : Klien berperan sebagai anak ke 3 dari 4 s audara dan bekerja membantu orang tuanya sebagai petani di sawah milik orang tuanya.

5. Identitas : Klien seorang laki-laki yang pendidikan terakhirnya SMP dan bekerja sebagai seorang petani di sawah milik orang tuanya.

C. Keadaan Emosi

Klien tidak bisa mengontrol emosinya jika tidak diberikan rokok, jika di paksa mandi oleh orang tua nya, dan jika mendengar suara-suara pada malam hari yang menyuruh memukul temannya.

D. Hubungan sosial

1. Orang yang berarti :

Klien mengatakan orang yang berarti dihidupnya ialah kedua orang tua nya.

2. Hubungan dengan keluarga :

Menurut klien hubungannya dengan keluarga saat ini kurang baik karena orang tuanya sering melarangnya untuk tidak merokok dan membuang kebiasaan buruknya yaitu malas untuk mandi.

3. Hubungan dengan orang lain :

Hubungan klien dengan orang lain kurang baik karena orang-orang terutama temannya sering mengejeknya kotor dan berbau badan.

4. Hambatan dengan berhubungan dengan orang lain :

Menurut klien hambatannya berhubungan dengan orang lain karena selalu curiga dengan orang lain yang sering sekali mengatainya kotor dan berbau badan.

E. Spiritual

1. Nilai dan keyakinan :

Klien menganut agama Islam dan percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa di dunia ini.

2. Kegiatan ibadah :

Selama di rawat di RS. Jiwa PROV.SU klien jarang melakukan kegiatan ibadah dan shalat lima waktu karena malas.

VII. STATUS MENTAL 1. Tingkat kesadaran

Tingkat kesadaran klien binggung karena sering melihat penampakan laki-laki pada malam hari dan sering mendengar suara-suara yang menyuruhnya merokok pada malam hari.

2.Penampilan

Penampilan klien terlihat tidak rapi, tampak jorok karena jarang mandi, mengeluarkan air liur saat diam maupun berbicara, kulit tampak kusam dan berdaki, kuku terlihat panjang dan kotor, mulut dan giginya tampak kotor dan berbau.

3. Pembicaraan

Klien selalu berbicara dengan nada yang keras, cepat, tampak berfikir pada waktu berbicara, dan mampu memulai pembicaraan pada saat di wawancara.

4. Alam perasaan

Klien terlihat periang, sering tertawa berlebihan pada hal tidak ada cerita yang lucu untuk ditertawakan, tidak pernah merasa ketakutan jika melihat sosok laki-laki pada malam hari, mendengar suara-suara pada malam hari yang menyuruhnya merokok dan memukul temannya.

5. Afek

Klien terlihat labil saat di wawancara, mimik wajahnya tidak sesuai dengan cerita yang sedang di ceritakannya.

6. Interaksi selama wawancara

Klien kooperatif atau nyambung saat di wawancara, terlihat curiga saat di wawancara, akan tetapi tidak mudah tersinggung, dan kontak matanya tampak melotot.

7. Persepsi

Klien sering melihat bayangan laki-laki lewat, mendengar suara-suara yang menyuruhnya merokok dan memukul temannya hanya pada malam hari saja. 8. Proses pikir

Klien tampak mengulangi perkataannya agar lawan bicaranya percaya dengan apa yang dikatakannya.

9. Isi pikir

Jika diberikan pertanyaan klien mampu menjawab pertanyaan yang sesuai dengan jawaban dari pertanyaan tersebut.

10. Waham

Klien selalu curiga jika melihat orang karena merasa orang-orang membicarakan tentang dirinya. Akan tetapi, sikap curiga klien belum bisa dikatakan waham curiga karena rasa curiganya masih batas normal.

11.Memori

Klien mampu mengingat kejadian jangka panjang maupun kejadian jangka panjang, akan tetapi semua ingatannya tidak tahu kebenarannya karena belum dipastikan kebenarannya dengan pihak keluarga.

VIII. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan Umum

Compos Mentis (CM) B. Tanda-tanda vital

Pada saat di periksa tekanan darah klien 120/70 mmHg, dengan suhu tubuh 37°c, nadi 78x/menit, pernafasan 20x/menit, tinggi badan 160 cm, dan berat badannya 61 kg.

C. Pemeriksaan Head to toe Kepala dan rambut:

Bentuk kepala klien simetris, ubun-ubunnya terlihat normal, dan kulit kepalanya kotor karna tidak pernah memakai shampo.

Rambut:

Penyebaran rambut klien tampak merata di seluruh kepala, rambutnya berwarna hitam dan berbau.

Wajah:

Struktur wajah klien berbentuk oval dan berwarna kuning langsat, pucat, kusam, dan berdaki.

Mata:

Kedua mata klien masih baik dan simetris janan dan kiri, tidak ada kelainan pada palpebra, konjungtiva isokor kanan dan kiri, pupil sama besar antara kanan dan kiri, cornea dan iris matanya berwarna bening, visus jernih, tidak ada tekanan pada bola matanya, akan tetapi pada saat berbicara dengan orang lain klien tampak melotkan matanya.

Hidung:

Tidak ada kelainan pada tulang hidung dan posisi septum nasi klien, lubang hidung klien kotor, dan cuping hidungnya normal.

Telinga:

Klien masih bisa mendengar dengan baik, bentuk dan ukuran telinga simetris kanan dan kiri, akan tetapi lubang telinga klien tampak kotor.

Mulut dan faring

Mulut klien berbau, keadaan bibirnya terlihat basah karena klien selalu mengeluarkan air liur, tidak ada peradangan pada gusi, lidah tampak berwarna putih , gigi atas bagian depan terlihat ompong karena pernah di pukul temannya hal itu terjadi akibat halusinasi pendengaran yang menyuruh klien memukuli temannya sehingga temannya membalas memukul bagian mulutnya.

Leher

Posisi trachea klien normal, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, memiliki suara yang normal, tidak ada pembengkakan pada kelenjar limfe, tidak ada peningkatan tekanan pada vena jugularis, dan denyut nadi karotis teraba dengan jelas.

Pemeriksaan integumen

Integumen klien terlihat kotor karena malas mandi memakai sabun, bagian akralnya hangat, berwarna kuning langsat dan berdaki, turgor kulit kembali <1 detik, kulit kering, dan tidak ada kelainan pada kulit.

Pemeriksaan thoraks/dada

Tidak ada kelainan pada thoraks klien, pernafasan 20x/menit, dan tidak ada tanda kesulitan pada saat bernafas.

Pemeriksaan Abdomen

Pada saat di inspeksi tidak ada pembengkakan pada abdomen klien.

Pemeriksaan kelamin dan sekitarnya

Rambut pubis klien tumbuh merata, lubang uretra ada, dan tidak ada kelainan pada anus dan perineum.

Fungsi motorik klien tidak terganggu, terlihat dari cara berjalannya yang normal.

IX. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI I. Pola makan dan minum

Setiap harinya klien makan 3 kali sehari dengan nafsu makan yang baik, tidak ada nyeri pada ulu hati, tidak memiliki riwayat alergi, tidak mual dan muntah, tampak bergabung dengan temannya pada saat makan. Pada pagi hari klien makan pukul 08.30 wib, siang hari pukul 12.30 wib, san sore hari pukul 18.00 wib. Setiap makan klien dapat menghabiskan makanannya 1 piring nasi beserta lauk dan pauk, akan tetapi klien tidak dapat makan seperti layaknya manusia normal. Klien terlihat berlepotan dan nasinya banyak yang berjatuhan di pakaian dan lantai.

II. Perawatan diri/personal hygiene

Klien tidak dapat merawat kebersihan tubuhnya, terlihat dari tubuh klien yang terlihat kotor, berbau, dan berdaki; gigi klien kuning; mulutnya berbau, kuku kaki dan tangan tampak panjang dan kotor karena tidak di rawat. III. Pola kegiatan/Aktivitas

Klien dapat melakukan aktivitas makan, mandi, BAB/BAK, ganti pakaian dengan sendirinya, akan tetapi harus diingatkan terlebih dahulu oleh perawat ruangan. Selama di RS. Jiwa PROV.SU klien jarang melakukan kegiatan ibadah dan shalat 5 waktu karena malas.

IV. Pola Eliminasi 1. BAB

Klien mengatakan bahwa dirinya BAB 2 kali dalam sehari, karakter fesesnya kadang keras dan kadang lembek, tidak ada perdarahan pada saat BAB, BAB terakhir pada saat malam hari, tidak terkena diare, dan tidak menggunakan laksatif.

2. BAK

Klien mengatakan bahwa dirinya BAK 5 kali dalam sehari, karakter urine tidak menentu terkadang kuning dan putih, tidak merasakan

kesulitan dan tidak merasa nyeri saat BAK, tidak mempunyai riwayat penyakit ginjal.

V. Mekanisme Koping a. Adaptif

Klien terlihat kooperatif saat berbicara dengan orang lain, dapat melakukan teknik relaksasi dengan baik, dan melakukan kegiatan olah raga setiap pagi dengan teman-temannya.

b. Malaptif

Klien mengatakan bahwa dirinya tidak pernah minum alkohol, klien tampak mempunyai reaksi yang berlebihan saat berbicara, dan tidak pernah mencederai dirinya sendiri.

ANALISA DATA

No. Data Masalah Keperawatan

1. DS:- Klien mengatakan selalu mandi asal-asalan karena malas mandi.

- Klien mengatakan malas mandi pakai sabun.

- Klien mengatakan malas menyikat giginya.

- Klien mengatakan malas untuk memotong kuku kaki dan tangannya

DO:- Klien tampak kotor dan tidak rapi.

- Kulit klien tampak kusam, kotor, dan berdaki.

- Mulut klien tampak kotor, giginya berwarna kuning, dan berbau mulut.

- Pada saat makan klien terlihat asal-asalan sehingga nasinya berlepotan di sekitar wajahnya dan jatuh di lantai.

- Klien terlihat mengeluarkan air liur saat diam maupun berbicara.

Defisit Perawatan Diri

2. DS:- Klien Mengatakan sering mendengarkan suara-suara pada malam hari yang menyuruhnya untuk merokok, memukul ibu nya jika tidak di beri rokok, dan memukul temannya tanpa sebab.

- Klien mengatakan sering terbangun dan melihat bayangan laki-laki yang lewat di hadapannya pada malam hari.

- Karena sering melihat sosok laki-laki yang muncul dihadapannya pada malam hari, klien jadi sulit untuk tidur kembali.

DO: - Klien terlihat tersenyum sendiri. -Klien sering tampak binggung. -Mata klien tampak sedikit

merah karena mengantuk.

-Kantung mata klien sedikit kehitaman.

Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran

No. Data Masalah Keperawatan -Klien terlihat menguap saat di

wanancara.

-Wajah klien terlihat kusam 3. DS:- Klien mengatakan sering

marah-marah karena tidak dibelikan rokok pada ibunya.

- Klien mengatakan pernah memukuli ibunya jika tidak dibelikan rokok.

- Klien mengatakan pernah memecahkan jendela tetangga, memecahkan kaca lemari di rumahnya karena sering di ejek bau badan dan gila oleh teman-temannya.

-Klien mengatakan pernah memukuli temannya karena ada suara-suara yang menyuruhnya. DO:- Wajah klien terlihat kesal saat mengatakan tidak dibelikan rokok oleh ibunya, saat di ejek bau badan dan gila oleh teman temannya.

- Mata klien tampak melotot dengan nada suara yang keras.

Perilaku Kekerasan

MASALAH KEPERAWATAN 1. Defisit Perawatan Diri

2. Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran 3. Perilaku Kekerasan

DIAGNOSA KEPERAWATAN (PRIORITAS) 1. Defisit Perawatan Diri

PERENCANAAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL Hari/ tanggal No. Dx Perencanaan Keperawatan Selasa/ 18 Juni 2013

1. Tujuan dan Kriteria Hasil:

Membina hubungan saling percaya, klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi/membersihkan diri, berpakaian/berhias, makan dan minum dengan baik, dan BAB/BAK yang benar.

Rencana Tindakan Rasional

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.

Kepercayaan dari klien merupakan hal yang mutlak serta akan memudahkan dalam melakukan pendekatan dan tindakan keperawatan kepada klien

SP.1 (Kebersihan Diri)

2. Identifikasi kemampuan klien dalam melakukan kebersihan diri.

Untuk mengetahui aspek positif yang dimiliki klien

dalam melakukan kebersihan diri.

3. Jelaskan pentingnya kebersihan diri dengan cara memberikan penjelasan terhadap pentingnya kebersihan diri.

Untuk menambah pengetahuan tetnatng pentingnya kebersihan diri dan memberikan motivasi pada diri klien.

4. Jelaskan peralatan yang dibutuhkan dan cara membersihkan diri.

Untuk menambah pengetahuan dan mempermudah klien dalam kebersihan dirinya.

5. Jelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri pada klien.

Untuk mengatasi masalah klien dan agar klien bisa melakukannya secara mandiri.

6. Latih klien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri.

Untuk melihat kemampuan klien melakukan cara kebersihan diri yang

benar. 7. Berikan pujian pada setiap hasil

tindakan yang dilakukan klien saat berlatih.

Untuk membuat klien puas dan merasa senang, sehingga mau dan ingin

terus melakukan perawatan diri.

SP.2 (Berdandan/berhias)

8. Identifikasi kemampuan klien untuk berdandan dan berhias.

Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki

klien dalam berdandan atau berhias.

Rencana Tindakan Rasional 9. Menjelaskan peralatan yang

dibutuhkan untuk berhias atau berdandan.

Agar klien mengerti peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk berhias atau berdandan.

10.Menjelaskan cara-cara melakukan berhias atau berdandan.

Agar klien mengerti cara melakukan berhias atau berdandan dengan benar dan mandiri.

11.Latih klien mempraktikkan cara berhias/berdandan.

Untuk mengetahui kemampuan dan membiasakan klien melakukan perawatan diri

secara mandiri. 12.Berikan pujian pada setiap hasil

tindakan klien.

Membuat klien puas dan senang sehingga mau dan ingin terus melakukan berhias atau berdandan. SP.3 (Makan/minum)

13. Identifikasi kemampuan klien untuk melakukan makan dan minum.

Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki

klien pada saat makan dan minum.

14.Menjelaskan peralatan yang dibutuhkan untuk makan dan minum.

Agar klien mengerti peralatan apa saja yang dibutuhkan pada saat makan dan minum.

15.Menjelaskan cara melakukan makan dan minum yang baik.

Agar klien mengerti cara makan dan minum yang baik dan benar.

16.Latih klien mempraktikkan cara makan dan minum yang baik.

Untuk mengetahui kemampuan dan melatih

klien cara makan dan minum yang baik.

17.Berikan pujian pada setiap hasil tindakan klien.

Membuat klien puas dan senang sehingga mau dan ingin terus melakukan berhias atau berdandan. SP.4 (BAB/BAK)

18. Identifikasi kemampuan klien pada saat BAB/BAK.

Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki

klien pada saat BAB/BAK.

19.Memberitahu klien tempat BAB/BAK yang baik dan menjelaskan cara melakukan BAB/BAK yang benar.

Agar klien mengerti dan

melakukan cara BAB/BAK yang benar

dikesehariannya. 20.Latih klien cara BAB/BAK

yang baik dan yang benar.

Untuk mengetahui kemampuan dan melatih

Rencana Tindakan Rasional yang baik dan benar. 21.Berikan pujian pada setiap hasil

dan tindakan yang dilakukan klien.

Membuat klien puas dan senang sehingga mau dan ingin terus melakukan makan dan minum secara baik dan benar.

Rabu/ 19 Juni

2013

2. Tujuan dan Kriteria Hasil:

Membina hubungan saling percaya, klien dapat mengenal halusinasi yang dialaminya, mampu mengontrol atau mengendalikan halusinasi yang dialaminya, dan dapat mengikuti program pengobatan secara optimal.

Rencana Tindakan Rasional

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.

1. Kepercayaan dari klien merupakan hal yang mutlak serta akan memudahkan dalam melakukan pendekatan

dan tindakan keperawatan kepada

klien. 2. Bantu klien mengenal

halusinasinya, identifikasi isi dan waktu dari halusinasi klien.

Membantu klien untuk memilih cara yang tepat

untuk menghadapi perasaannya.

3. Diskusikan respon klien saat berhalusinasi.

Untuk mengetahui bagaimana cara klien untuk menghadapi halusinasinya.

4. Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi halusinasinya.

Untuk menghardik halusinasi klien.

5. Diskusikan dan jelaskan cara menggontrol halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktivitas, dan menggunakan obat secara benar.

Untuk menggontrol halusinasi klien.

6. Latih klien mengontrol halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktivitas, dan menggunakan obat secara benar.

Untuk melihat kemampuan klien.

7. Berikan pujian pada setiap hasil dan tindakan yang dilakukan klien.

Membuat klien puas dan senang sehingga mau dan ingin terus melakukan makan dan minum secara baik dan benar.

Hari/ tanggal No. Dx Perencanaan Keperawatan Kamis/ 20 Juni 2013

3 Tujuan dan Kriteria Hasil:

Membina hubungan saling percaya, mendiskusikan penyebab perilaku kekerasan yang pernah dilakukan dan perasaannya jika dilakukannya perilaku kekerasan, klien dapat mengontrol atau mengendalikan perilaku kekerasan yang dimilikannya.

Rencana Tindakan Rasional

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.

Kepercayaan dari klien merupakan hal yang mutlak serta akan memudahkan dalam melakukan pendekatan dan tindakan keperawatan kepada klien.

2. Diskusikan bersama klien penyebab perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya.

Untuk mengetahui penyebab perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien.

3. Diskusikan bersama klien tanda dan gejala yang dirasakan saat berhalusinasi.

Untuk mengetahui tanda dan gejala dari halusinasi yang dialami klien.

4. Diskusikan pada klien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien.

Untuk mengetahui perilaku kekerasan yang

pernah dilakukan klien. 5. Diskusikan bersama klien akibat

dari perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya.

Membantu klien melihat dampak yang di timbulkan akibat perilaku kekerasan yang dilakukan klien. 6. Ajarkan klien mengontrol

perilaku kekerasannya secara fisik, sosial/verbal, spiritual, dan dengan terapi obat.

Untuk mencegah klien agar tidak melakukan perilaku kekerasan.

7. Latih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan fisik, sosial/verbal, spiritual, dan dengan terapi obat.

Untuk mengetahui kemampuan klien saat

mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik, sosial/verbal, spiritual, dan minum obat.

8. Berikan pujian pada setiap hasil dan tindakan yang dilakukan klien.

Membuat klien puas dan senang sehingga mau dan ingin terus melakukan makan & minum dengan baik.

PELAKSANAAN KEPERAWATAN Hari/

tanggal

No. Dx

Implementasi Keperawatan Evaluasi (SOAP) Selasa/

18 Juni 2013

1. 1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunaka prinsip komunikasi terapeutik.

2. Mendiskusikan pada klien pentingnya kebersihan diri, cara-cara merawat diri, berdandan/ berhias, makan dan minum, dan melakukan BAB dan BAK yang benar.

3. Mengajarkan dan melatih klien perawatan kebersihan diri yaitu mandi menggunakan sabun, shampo, menyikat gigi yang benar.

4. Mengajarkan dan melatih klien berdandan yaitu berpakaian yang rapi, menyisir rambut, bercukur, dan memotong kuku.

5. Mengajarkan dan melatih klien makan dan minum yang baik.

6. Mengajarkan dan melatih klien melakukan BAB/BAK secara mandiri

7. Memberikan pujian pada setiap hasil dan tindakan yang dilakukan klien

S: Klien mengatakan malas mandi dan mengatakan kebersihan tidak begitu penting untuknya.

O: Rambut klien kotor dan acak-acakan, gigi tampak kuning, badan bau dan berdaki, kuku panjang, jika makan berceceran dan jorok. A: Masalah sebagian teratasi. P: Intervensi selesai Rabu/ 19 Juni 2013

2. 1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip

Dokumen terkait