• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGELOLAAN KASUS

B. Asuhan Keperawatan Kasus

I. BIODATA

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. M

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 46 Tahun

Status Perkawinan : Menikah

Agama : Kristen Protestan Pendidikan : STM

Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : Pangururan-Samosir Tanggal Masuk RS : 13 Juni 2013

No. Register : 00.56.28.31

Ruangan/Kamar : Ra4-Neurologi/III-1 Golongan Darah : O

Tanggal Pengkajian : 17 Juni 2013 Tanggal Operasi : -

Diagnosa Medis : Blindess + Hemiparese duplex d/d stroke iskemik II. KELUHAN UTAMA :

Pasien mengeluh lumpuh pada ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra sehingga tidak bisa digerakkan

III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG A. Procative/Palliative

1. Apa penyebabnya

Riwayat hipertensi diketahui sudah 5 tahun dapat memicu terjadinya penyakit stroke iskemik yang dialami pasien

2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan Hal yang memperbaiki keadaan belum ada B. Quantity/Quality

1. Bagaimana dirasakan

Pasien mengatakan pada ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra terasa lumpuh sehingga tidak merasakan sensasi apapun

2. Bagaimana dilihat

Pasien berbaring di tempat tidur, pasien tampak tidak mampu menggerakkan ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistranya

C. Region

1. Di mana lokasinya

Ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra 2. Apakah menyebar

Kelumpuhan ekstremitas yang dialami pasien tidak menyebar D. Severity (mengganggu aktivitas)

Pasien mengatakan saat ini kelumpuhan yang dialami pada ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra

mengakibatkan sulit melakukan mobilisasi fisik sehingga mengganggu aktivitasnya

E. Time (kapan mulai timbul dan bagaimana terjadinya)

Kelumpuhan terjadi pada 12 juni 2013 pada pagi hari saat bangun tidur 1 hari sebelum di bawa ke rumah sakit

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU A. Penyakit yang pernah dalami

Pasien mengatakan pernah mengalami sakit berat yaitu hipertensi, riwayat perokok aktif selama selama 20 tahun, riwayat sakit kepala, demam dan influenza ada, riwayat DM tidak ada

B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan

Pasien mengatakan pengobatan yang dilakukan hanya minum obat analgesik, antipeuretik, antihipertensi dan beristtirahat yang cukup C. Pernah dirawat/dioperasi

Pasien mengatakan tidak pernah dirawat dan dioperasi D. Lamanya dirawat

Pasien tidak pernah dirawat E. Alergi

Pasien tidak memiliki riwayat alergi

F. Imunisasi

Pasien mengatakan tidak mengingat imunisasi dasarnya lengkap atau tidak

V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA A. Orang tua

Pasien mengatakan ayah pasien terdapat penyakit hipertensi dan ibunya tidak pernah mengalami sakit berat

B. Saudara kandung

Pasien mengatakan saudara kandungnya tidak pernah mengalami sakit berat

C. Penyakit keturunan yang ada

Pasien mengatakan terdapat penyakit keturunan yaitu hipertensi D. Anggota keluarga yang meninggal

Pasien mengatakan anggota keluarga yang telah meninggal adalah ayahnya

E. Penyebab meninggal

Pasien mengatakan penyebab meninggalnya ayahnya karena faktor penyakit hipertensi dan fisiologi usia lansia

F. Genogram

VI. RIWAYAT/KEADAAN PSIKOSOSIAL A. Bahasa yang digunakan

Bahasa yang digunakan pasien sehari-hari adalah bahasa Batak Toba dan bahasa Indonesia

B. Persepsi pasien tentang penyakitnya

Pasien yakin dapat sembuh dari penyakitnya C. Konsep diri

1. Body Image : Pasien kurang percaya diri karena keadaannya sekarang

2. Ideal diri : Pasien ingin segera sembuh seperti semula

3. Harga diri : Pasien merasa kurang berarti sebagai kepala rumah tangga

4. Peran diri : Pasien merasa perannya terganggu sebagai sumai dan kepala keluarga

5. Personal Identity : Pasien adalah seorang bapak yang memiliki dua orang anak

D. Keadaan emosi

Pasien memiliki emosi yang kurang stabil E. Perhatian terhadap orang lain/ lawan bicara

Pasien berkomunikasi dengan baik, pandangan mata terhadap lawan berkoordinasi dengan baik, bersikap terbuka terhadap perawat, keluarga dan pasien yang lain

F. Hubungan dengan keluarga

Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya

G. Hubungan dengan saudara

Pasien memiliki hubungan yang baik dengan saudaranya H. Hubungan dengan orang lain

Pasien memiliki hubungan yang baik terhadap orang lain di ruangan rawat inap tersebut

I. Kegemaran

Pasien gemar membaca J. Daya adaptasi

Pasien dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan yang baru di ruangan rawat rumah sakit

K. Mekanisme pertahanan

Pasien mengontrol emosi dengan banyak berdoa dan istirahat yang cukup untuk kesembuhannya

VII. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan umum

Pasien terlihat lumpuh pada bagian tubuh ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra tidak dapat digerakkan, pasien tampak gelisah karena sudah 3 hari belum defekasi dan ekspresi wajah pasien terlihat meringis kesakitan pada nyeri kepala temporo parietal dengan (skala nyeri 5)

B. Tanda – tanda vital

Suhu tubuh : 37,8 0C TD : 140/90 mmHg HR : 80 x/menit RR : 28 x/menit

TB : 160 cm BB : 68 kg

C. Pemeriksaan Head to Toe 1. Kepala dan rambut

Kepala

a. Bentuk : Kepala bulat, simetris dan tidak ada benjolan

b. Ubun-ubun : Tertutup dan keras

c. Kulit kepala : Berminyak dan banyak ketombe Rambut

a. Penyebaran rambut : Penyebaran rambut secara merata b. Bau : Rambut tidak berbau khas

c. Warna : Warna kulit coklat Wajah

a. Warna kulit : Kuning langsat dan berminyak b. Struktur wajah : Oval dan simetris

2. Mata

a. Kelengkapan dan Kesimetrisan

Struktur mata dekstra dan sinistra lengkap dan simetris b. Palpebra

Normal tidak ada prosis, tidak ada oedema dan tidak ada tanda-tanda radang

c. Konjungtiva dan sclera

Konjungtiva : Tidak anemis Sklera : Tidak anemis

d. Pupil

Refleks cahaya ada (mengecil saat diberi rangsangan berupa cahaya), isokor kanan dan kiri

e. Kornea dan iris

Tidak ada tanda perandangan, tidak ada tanda pengapuran katarak dan tidak ada oedema

f. Visus

Pasien hanya dapat membaca 4 cm dan pasien dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter

g. Tekanan bola mata

Tidak dilakukan pemeriksaan 3. Hidung

a. Tulang hidung dan posisi septum nasi Anatomis, simetris di medialis

b. Lubang hidung

Lubang hidung simetris kanan dan kiri, bersih dan tidak ada tanda peradangan

c. Cuping hidung

Tidak ada pernafasan cuping hidung 4. Telinga

a. Bentuk telinga : Simetris dekstra dan sinistra b. Ukuran telinga : Anatomis, simetris dekstra dan

sinistra

c. Lubang telinga : Bersih, tidak ada sekret

d. Ketajaman pendengaran : Baik 5. Mulut dan faring

a. Keadaan bibir : Mukosa bibir kering b. Keadaan gusi dan gigi : Tidak ada perdarahan

c. Keadaan lidah : Lidah bersih, tidak ada stomatitis d. Orofaring : Normal, tidak ada tanda-tanda

peradangan 6. Leher

a. Posisi trakea : Medial

b. Thyroid : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid

c. Suara : Terdengar dengan jelas

d. Kelenjar limfa : Tidak ada pembesaran kelenjar limfa

e. Vena jugularis : Tidak ada distensi vena jugularis f. Denyut nadi karotis : Teraba jelas dan reguler

D. Pemeriksaan integument

1. Kebersihan : Tidak berminyak 2. Kehangatan : Ekstremitas teraba 3. Warna : Normal, tidak ikterus 4. Turgor : < 2 detik

5. Kelembaban : Kulit berminyak dan lembab

E. Pemeriksaan payudara

1. Ukuran dan bentuk payudara : Ukuran normal simetris, tidak ada benjolan

2. Warna payudara dan areola : Normal

3. Kelainan payudara : Tidak ada kelainan

4. Aksila dan klavikula : Tidak terdapat benjolan pada aksila dan klavikula simetris F. Pemeriksaan thoraks/dada

1. Inspeksi thoraks

a. Bentuk : Normal

b. Pernafasan : Frekuensi 28 x/menit, irama teratur c. Tanda kesulitan bernafas : Tidak ada gangguan

2. Pemeriksaan paru

a. Palpasi getaran suara : Fremitus taktil, simetris kanan dan kiri

b. Perkusi : Resonan

c. Auskultasi : Suara nafas normal, suaran ucapan jelas, suara tambahan tidak ada

3. Pemeriksaan jantung

a. Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat, tidak ada retraksi

b. Palpasi : Iktus cordis pada ics 5 mid klavicula sinistra teraba teratur

c. Perkusi : Batas jantung intercostal (4 dan 5)

d. Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 terdengar jelas dan normal (lup-dup), bunyi tambahan tidak ada, murmur tidak ada, frekuensi 80x/menit

G. Pemeriksaan abdomen 1. Inspeksi

a. Bentuk abdomen : Simetris

b. Benjolan/massa : Tidak terdapat benjolan/massa c. Bayangan pembulu darah : Tidak ada

2. Auskultasi

a. Peristaltik usus : 6 x/menit

b. Suara tambahan : Borborigmi dan bising usus hipoaktif

3. Palpasi

a. Tanda nyeri tekan : Terdapat nyeri tekan abdomen pada kuadran bawah kiri(desenden)

b. Benjolan/massa : Tidak ada c. Tanda acites : Tidak ada

d. Hepar : Tidak ada pembesaran e. Lien : Tidak ada pembesaran f. Titik Mc Burney : Tidak ada nyeri tekan 4. Perkusi

a. Suara abdomen : Pekak

b. Pemeriksaan acites : Tidak ada ascites

H. Pemeriksaan kelamin 1. Genitalia

a. Rambut pubis : Bersih, tidak ada

pediculus pubis

b. Lubang uretra : Terdapat lubang uretra c. Kelamin pada genetalia eksternal : Tidak ada kelainan 2. Anus dan perineum

a. Lubang anus : Ada

b. Kelainan pada anus : Tidak ada kelainan

c. Perineum : Normal

I. Pemeriksaan muskuluskeletal/ekstremitas

1. Kesimetrisan otot : Simetris kanan dan kiri 2. Pemeriksaan edema : Tidak terdapat edema

pada kedua ekstemitas 3. Kekuatan otot : 1 (tidak ada gerakan) pada

ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra

4. Kelainan pada ekstremitas dan kulit : Terdapat kelainan pada ekstremitas lengan atas dan kaki kiri sulit bergerak J. Pemeriksaan Neurologi

1. Tingkat kesadaran

GCS : 10 E:4 M:1 V:5

2. Meningeal sign

Kernig sign (-), kaku kuduk (-), brunzinsky (-) 3. Status mental

a. Kondisi emosi/perasaan

Kurang terkontrol dan kurang stabil b. Orientasi

Dapat mengorientasikan waktu, tempat, dan orang c. Proses berpikir (ingatan, atensi, keputusan, perhitungan)

Pasien masih manpu mengingat, mengambil keputusan, dan berhitung dengan baik

d. Motivasi (kemauan)

Pasien berkemauan / berkeinginan untuk cepat sembuh e. Persepsi

Pasien yakin bahwa sakitnya akan sembuh f. Bahasa

Suara dengan pengucapan serta intonasi jelas volume suara pelan, tidak ada kesulitan dalam komunikasi.

4. Nervus Cranialis

a. Nervus Olfaktorius / N1

Fungsi normal, pasien dapat mengidentifikasikan bau makanan b. Nervus Optikus / N II

Fungsi normal, pasien hanya dapat melihat dan membaca jelas pada jarak 6 meter

c. Nervus Okulomotoris / N III, Trochlearis / N IV, Abdusen/ N VI Fungsi normal, pasien dapat menggerakkan bola mata ke segala arah

d. Nervus Trigeminus / N V

Fungsi terganggu, pasien tidak dapat mengidentifikasi sentuhan dengan stimulan dan getaran apapun yang diberikan pada ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra e. Nervus Fasialis / N VII

Fungsi normal, pasien dapat mengidentifikasikan rasa asam, manis dan pahit serta pasien juga dapat menggerakkan otot-otot wajah, tersenyum dan dapat menutup mata dengan rapat

f. Nervus Vestibulocochlearis / N VIII

Fungsi normal, pasien dapat mendengar dengan baik g. Glossopharingeus / N IX, Vagus / N X

Fungsi normal, pasien dapat membuka mulut dan mampu mengunyah dan menelan makanan

h. Nervus Asesorius / N XI

Fungsi terganggu, pasien tidak dapat mengangakat bahu kiri dan tidak mampu menoleh ke kanan

i. Nervus Hipoglossus / N XII

Fungsi normal, pasien mampu menjulurkan lidah, menggerakkan lidah dan mampu mendorong salah satu pipi dengan lidah

5. Fungsi Motorik a. Cara berjalan

Tidak dapat dinilai karena pasien bedrest total b. Romberg test

Pasien tidak dapat berdiri dan hanya mampu menggerakkan tungkai bawah kanan

c. Tes jari – hidung Koordinasi baik d. Pronasi – Supinasi test

Pasien hanya dapat menelentangkan dan menelungkupkan telapak tangan kanannya

e. Heel to shin test

Pasien tidak dapat menggerakkan ekstremitas inferior sinistra 6. Fungsi Sensori

a. Identifikasi sentuhan ringan

Pasien dapat mengindentifikasikan sentuhan pada wajahnya tanpa melihat

b. Tes tajam – tumpul

Pasien tidak dapat membedakan pada ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra

c. Tes panas – dingin

Pasien dapat merasakan sensasi panas dan dingin pada wajah d. Tes getaran

Tidak dilakukan pemeriksaan tes getaran e. Streognosis test

Tidak dilakukan pemeriksaan streognosis f. Graphestesia test

Tidak dilakukan pemeriksaan graphestesia g. Membedakan dua titik

Tidak dilakukan pemeriksaan untuk membedakan dua titik h. Topognosis test

Pasien tidak dapat mengindentifikasikan sentuhan pada ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra 7. Reflek (skala 0-4)

a. Reflek Bisep

Fungsi terganggu, tidak terdapat kontraksi otot bisep pada lengan kiri (skala reflek = 0)

b. Reflek Trisep

Fungsi terganggu, tidak terdapat kontraksi otot trisep pada lengan kiri (skala reflek = 0)

c. Reflek Brachioradialis

Fungsi terganggu, tidak terdapat kontraksi otot brachioradialis (skala reflek = 0)

d. Reflek Patelar

Fungsi terganggu, karena ekstremitas atas dan bawah kiri tidak dapat digerakkan dan skala reflek = 0

e. Reflek Tendon Achiles

Fungsi terganggu, karena ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra tidak dapat digerkkan dan skala reflek = 0

f. Reflek Plantar

Fungsi terganggu, karena ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra tidak dapat digerakkan dan skala reflek = 0

K. Pola Kebiasaan Sehari-hari A. Pola tidur dan kebiasaan

1. Waktu tidur : 21.00 WIB 2. Waktu bangun : 05.00 WIB

3. Masalah tidur : Tidak ada keluhan 4. Hal – hal yang mempermudah tidur :

Keadaan yang nyaman dan lingkungan tenang 5. Hal – hal yang mempermudah bangun : Saat pasien mendengar suara bising

B. Pola Eliminasi 1. BAB

a. Pola BAB : 1x dalam 3 hari

b. Karakter feses : Feses keras dan kering saat BAB pada 17 juni 2013

c. Riwayat Perdarahan : Tidak ada perdarahan

2. BAK

a. Pola BAK : 1500 cc dari pengukuran pispot b. Karakter urine : Kuning keruh, retensi tidak ada c. Nyeri/rasa terbakar : Tidak ada

d. Riwayat penyakit ginjal : Tidak ada e. Penggunaan Diuretika : Tidak ada

f. Upaya mengatasi masalah : Tidak ada upaya yang dilakukan C. Pola makan dan minum

1. Gejala (subyektif)

a. Diit (type) : MB

b. Pola diit : 3 x sehari

c. Kehilangan selera makan : Tidak ada, mual muntah tidak ada

d. Nyeri ulu hati : Tidak ada e. Alergi makanan : Tidak ada f. Berat badan biasa : 70 kg 2. Tanda (obyektif)

a. Berat badan sekarang : 68 kg, Tinggi Badan : 160 wib

b. Bentuk tubuh : Ideal

3. Waktu pemberian makanan : 3 x sehari, 07.00 wib, 13.00 wib, 18.00 wib 4. Jumlah dan jeni makanan : 100 gr(3/4 gls)

5. Waktu pemberian cairan dan minum : Pasien terpasang R-sol 500cc/20 gtt, 4 – 5 gelas /hari ± 500 – 1500 cc

6. Masalah makan dan minum :

a. Kesulitan mengunyah : Tidak ada b. Kesulitan menelan : Tidak ada

c. Tidak dapat makan sendiri : Pasien di bantu oleh keluarga pasien

D. Kebersihan diri/ personal hygiene :

1. Pemeliharaan badan : Pasien tidak mampu mandi secara mandiri tetapi dibantu oleh orang lain (keluarga dan perawat) 2. Pemeliharaan gigi dan mulut : Pasien sikat gigi setiap pagi

dengan bantuan oleh orang lain (keluarga/perawat)

3. Pemeliharaan kuku : Kuku terlihat bersih

E. Pola kegiatan / aktivitas :

Pasien tidak dapat berktivitas dengan baik karena ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra tidak dapat bergerak

VIII. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG/DIAGNOSTIK A. Diagnosa Medis

Blindess + Hemiparese duplex d/d stroke iskemik B. Pemriksaan diagnostik/penunjang medis:

1. Laboratorium (Darah lengkap) Tanggal:17 juni 2013

Morfologi Rujukan Nilai normal Hemoglobin (HGB) 13,23 13,2 - 17,3 gr % Eritrosit (RBC) 4,13 4,20 - 4,87 106/mm3 Leukosit (WBC) 8,89 4,5 - 11,0 103/mm3

Hematokrit 36,30 43 - 49 %

Trombosit (PLT) 238 150 - 450 103/mm3

Neutrofil 54,50 37 - 80 %

Limfosit 24,60 20 - 40 %

Monosit 7,60 2 - 8 %

Eosinofil 5,20 1 - 6 %

Basofil 0,300 0 - 6 %

2. Rontgen : Tidak dilakukan pemeriksaan 3. EKG : Tidak dilakukan pemeriksaan 4. USG : Tidak dilakukan pemeriksaan 5. Lain-lain : Tidak dilakukan pemeriksaan

IX. TERAPI OBAT-OBATAN neural dan psikiatri seperti panas pada kulit

2. Injeksi ceftriaxsone

1gr/12 jam Sebagai Antibiotik untuk mencegah

saluaran cerna, anafilaksis

3. Injeksi tramadol

100 mg/8 jam Sebagai Anlagesik nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri paska operasi

Pusing, sedasi, berkeringat,

mual muntah, dipepsia dan kontipasi

4. Ivfd R-sol 20

gtt/menit/500cc

Mengatasi dehidrasi, menggantikan cairan ekstraseluler tubuh dan elektrolit ion tubuh

Panas, iritasi, infeksi pada temapt

penyuntikan

trombosit, dan flebitis vena

2. Analisa data

No. Data Penyebab Masalah Keperawatan

Ds:

- Pasien

mengatakan tidak dapat

menggerakkan tangan kiri dan kaki kiri, GCS (motorik) 1, kekuatan otot 1, tingkat aktivitas /mobilisasi 2

- Pasien mengeluh bagian tubuh sebelah kiri tidak dapat merasakan sensasi apapun

saat diberi

Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan penurunan rentang gerak akibat kelumpuhan ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra

motorik 1 - Pasien

memerlukan

bantuan penuh dalam mengubah posisinya dan atau memenuhi

kebutuhannya,

tingkat aktivitas /mobilisasi = 2

- Skala kekekuatan otot ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas

mengatakan feses saat BAB terakhir keras dan kering - Pasien mengeluh saraf otot dasar pelviks lemah

Peristaltik usus tidak normal

Penyerapan usus terganggu

Konstipasi berhubungan dengan melemahnya defek stimulasi saraf otot dasar pelviks

Do: - Karakteristik BAB

keras dan kering

- Pasien kurang asupan cairan oral sekitar 4 – 5 gelas nyeri pada kepala - Pasien

mengatakan nyeri di kepala timbul sekali-kali pada saat mau duduk

Feses kering, keras, dan berbentuk darah ke jaringan

otak

Peningkatan tekanan intrakranial

Nyeri kepala

berhubungan dengan penurunan sirkulasai darah ke jaringan otak

3. Rumusan masalah

A. MASALAH KEPERAWATAN 1. Mobilisasi fisik

2. Konstipasi fekal

3. Nyeri kepala (temporo parietal) dan mendengar

kebisingan Do:

- Ekspresi wajah pasien terlihat meringis kesakitan dengan skala nyeri 5

- Nyeri pada kepala pasien menyebar dan sensasi yang rasakan seperti benda tumpul

Nyeri kepala

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN (PRIORITAS)

1. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan penurunan rentang gerak akibat kelumpuhan ekstremitas superior sinistra dan ekstremitas inferior sinistra ditandai dengan pasien mengatakan tidak dapat menggerakkan tangan kiri dan kaki kiri, GCS (motorik) 1, kekuatan otot 1, tingkat aktivitas /mobilisasi 2, pasien mengeluh bagian tubuh sebelah kiri tidak dapat merasakan sensasi apapun saat diberi stimulant dan tidak mampu mengidentifikasikan fungsi motorik/sensorik

2. Konstipasi berhubungan dengan melemahnya defek stimulasi saraf otot dasar pelviks ditandai dengan pasien mengatakan sudah 4 hari tidak BAB, pasien mengatakan feses saat BAB terakhir keras dan kering, pasien mengeluh sulit BAB karena nyeri abdomen sudah 4 hari tidak BAB, pasien mengejan saat BAB, bunyi abdomen kuadran bawah pekak pada saat perkusi , peristaltik usus 6, karakteristik BAB keras dan kering, pasien kurang asupan cairan oral sekitar 4 – 5 gelas /hari ± 500 – 1500 cc dan penggunaan laktasif supositoria (dulkolax)

3. Nyeri kepala berhubungan dengan penurunan darah ke jaringan otak dan peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada kepala, pasien mengatakan nyeri di kepala timbul sekali-kali pada saat mau duduk dan mendengar kebisingan, ekspresi wajah pasien terlihat meringis kesakitan dengan skala nyeri 5, nyeri pada kepala pasien menyebar dan sensasi yang rasakan seperti benda tumpul

4. Perencanaan

- Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan pasien mampu melakukan mobilitas fisik, baik ditempat tidur, dan nilai GCS = 15 sesuai dengan kemampuannya secara mandiri setiap hari

Kriteria Hasil :

- Pasien dapat melakukan latihan rentang gerak pada sendi/ ektremitas yang lumpuh secara mandiri - Bergerak sendiri di tempat tidur atau memerlukan

bantuan minimal pada tingkat yang realistis

- Menunjukkan peningkatan mobilitas fisik dan kekuatan otot

Rencana Tindakan Rasional

1. Kaji tingkat mobilisasi pasien dengan (tingkatan 0-4) secara berkala

2. Kaji kekuatan otot/kemampuan fungsional mobilitas sendi dengan menggunakan (skala kekuatan otot 0-5)secara teratur

3. Monitor tanda-tanda vital

4. Ubah posisi menimal setiap 2 jam (telentang, miring), dan sebagainya jika bisa lebih sering jika diletakkan dalam posisi

1. Menunjukkan perubahan tingkatan mobilitas pasien setiap hari

2. Menentukan perkembangan peningkatan kekuatan otot/mobilitas

sendi pasien sebelum dan sesudah dilakukan latihan rentang gerak (ROM)

3. Kelumpuhan otot mempengaruhi sirkulasi pada ekstremitas

4. Menurunkan resiko terjadinya trauma/iskemia jaringan

bagian yang terganggu

5. Instruksi/bantu pasien melakukan latihan ROM pasif/aktif secara konsisten

6. Instruksikan pasien pada aktivitas sesuai dengan kemampuannya

7. Melibatkan pasien dalam perawatan untuk mengurangi depresi dan kebosanan yang berkaitan dengan terapi mobilisasi ROM

8. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik (fisioterapi)/ okupasi dan atau rehabilitasi spesialis

9. Ajarkan keluarga dalam melakukan latihan rentang gerak mobilisasi (ROM) sesuai dengan jadwal pengobatan dan perawatan pada pasien

5. Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu mencegah kontraktur dan meningkatkan pemulihan fungsi kekuatan otot dan sendi

6. Meningkatkan kemampuan aktivitas mandiri pasien, harga diri, dan peran diri pasien sehari-hari

7. Peran pasien mendukung motivasi diri untuk menikmati pengobatan dan perawatan diberikan

8. Mendukung peningkatan kekuatan otot dan fungsi ekstremitas fungsional dan mencegah kontraktur

9. Peran keluarga sangat menbantu peningkatan kesehatan pasien dalam mobilsasi fisik di rumah sakit dan atau dirumah

- Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan pasien mampu berdefekasi dengan lancar

- Pasien akan mengalami kenaikkan BB selama perawatan

Kriteria Hasil :

- BB rentang normal

- Tidak ditemukan lagi nyeri dan kesulitan saat berdefekasi

- Nafsu makan meningkat Perubahan vital sign menunjukkan pola sensasi nyeri pada pasien

Rencana Tindakan Rasional

1. Monitor tanda-tanda vital 2. Kaji karakteristik fekal

3. Kaji kebiasaan pola eliminasi fekal

4. Auskultasi ada, atau tidaknya perubahan bising usus

5. Catat adanya distensi abdomen, nyeri tekan (otot abdomen yang lemas), dan ukur lingkar perut sesuai kebutuhan

6. Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 2000ml/hari(6-8 gelas/hari)

7. Intruksikan pasien untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang menstimulasi peristaltk (banyak mengandung serat)

8. Instrusikan pasien mengambil waktu untuk defekasi selama 30-50 menit setelah sarapan

9. Kolaborasi pemberian laktasif

1. Perubahan vital sign mempengaruhi adanya gangguan metabolism tubuh 2. Menunjukkan jenis fekal yang normal 3. Menunjukkan pola eliminasi fekal

yang normal

4. Penurunan atau hilangnya bising usus dapat merupakan indikasi adanya ileus paralitik yang berarti hilangnya motilitas usus dan/atau ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

5. Dapat mencerminkan perkembangan ileus paralitik atau adanya impaksi fekal

6. Asupan cairan oral yang adekuat dapat membantu melembekkan feses tetap lunak dan memfasilitasi eliminasi

7. Makanan yang mengandung banyak tinggi serat dapat menstimulasi peristaltik usus untuk berdefekasi

8. Refleks gastrokolik paaling sensitive

(dulkolaks) pada rektal

10. Instruksi keluarga dalam motivasi pasien dan mengatur pola diet nutrisi sesuai dengan jadwal pengobatan dan perawatan pada pasien

pada pagi hari sebelum makan

9. Pemberian laktasif meningkatkan peristaltic ganglion rektal untuk berdefekasi

10. Peran keluarga sangat menbantu peningkatan kesehatan pasien dalam nutrisi di rumah sakit dan atau dirumah

- Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan pasien menyatakan nyeri hilang dengan spasme terkontrol

- Pasein mampu melakukan aktivitas seperti biasanya

Kriteria Hasil :

- Skala nyeri 5-0

- Wajah pasien tampak rileks dan mampu istirahat/tidur dengan tenang

Rencana Tindakan Rasional

1. Kaji skala nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0-10), karakteristiknya (misal:

berat, berdenyut, konstan), lokasinya, lamanya, faktor yang memperburuk atau meredakan kepala

2. Monitor tanda-tanda vital

1. Mengetahui skala nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakter nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dri terapi

3. Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperti: ekpresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis/meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung/pernapasan, tekanan darah

4. Ajarkan teknik relaksasi nyeri tarik napas dalam dan imajinasi terbimbing

5. Modifikasi lingkungan yang tenang dan nyaman

6. Kolaborasi pemberian terapi farmakologi obat analgesik

7. Ajarkan keluarga pasien untuk melakukan teknik relaksasi pada pasien

yang diberikan

2. Perubahan vital sign menunjukkan

2. Perubahan vital sign menunjukkan

Dokumen terkait