• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.5. Asumsi dalam Analisis Regresi Linier

Untuk membuat suatu persamaan regresi linier berganda diperlukan beberapa asumsi mendasar, yaitu normalitas, homogenitas, multikolinieritas, dan autokorelasi (Santoso, 1999). Dalam penelitian ini, analisis regresi yang digunakan adalah regresi linier berganda karena memiliki enam variabel bebas, sehingga asumsi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu normalitas, multikolinieritas, dan homogenitas.

4.5.1. Uji Normalitas

Normalitas atau disebut juga uji kenormalan data diperlukan dalam analisis regresi berganda, hal ini disebabkan metode ini merupakan salah satu metode analisis parametrik. Kenormalan diketahui melalui sebaran regresi yang merata disetiap nilai. Salah satu cara yang digunakan untuk melihat normalitas data adalah dengan melihat plot garis dari standardized residual cumulative probability. Apabila sebaran data berada pada garis normal, maka dapat dikatakan bahwa data yang diuji memiliki sebaran yang normal dan sebaliknya jika garis tidak terletak disekitar garis, maka data tidak normal (Santoso, 1999).

4.5.2. Uji Homogenitas

Menurut Santoso (1999) uji homogenitas ini pada dasarnya menyatakan bahwa nilai-nilai variabel terikat (Y) bervariasi dalam satuan yang sama. Untuk menguji asumsi ini, dibuat plot antara standardized residual cumulative probability dengan faktor X. Jika tidak terdapat suatu pola dalam plot tersebut maka dikatakan bahwa data tersebut homogen.

4.5.3. Uji Multikolinieritas

Multikolinieritas (kolinier ganda) merupakan hubungan linier yang sama kuat antara peubah-peubah bebas dalam persamaan regresi berganda. Adanya kolinier berganda ini menyebabkan pendugaan koefisien menjadi tidak stabil. Pendeteksian terjadinya suatu kolinier ganda, dapat dilihat pada hasil VIF

(Variance Inflation Factors). Nilai VIF ini diperoleh dari persamaan berikut :

Keterangan :

R2 = Koefisien determinasi dari regresi peubah bebas ke-j dengan semua peubah lainnya.

39 Nilai VIF yang lebih besar dari 10 menunjukkan bahwa peubah tersebut berkolinier ganda. Adanya kolinier ganda dalam model akan mengakibatkan : a. Penduga koefisien regresinya menjadi tidak nyata walaupun R2 nya tinggi. b. Nilai-nilai dengan koefisien regresi menjadi sangat sensitif terhadap

perubahan data.

c. Dengan metode kuadrat terkecil, penduga koefisien regresi memiliki simpangan baku yang sangat besar.

4.6. Hipotesa Penelitian

Berdasarkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi realisasi KUR dapat dirumuskan hipotesa dalam penelitian adalah variabel tingkat pendapatan, lama usaha, frekuensi kredit, modal usaha, tingkat pendidikan, dan waktu pengembalian kredit diduga bernilai positif terhadap realisasi kredit.

Variabel tingkat pendapatan responden dianggap bernilai positif karena jumlah pendapatan mempengaruhi terhadap pengembalian kredit. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka nasabah tersebut akan semakin mampu dalam memenuhi tanggung jawabnya dalam membayar kredit yang diajukan. Lama usaha menggambarkan eksistensi perusahaan, sehingga semakin lama usaha maka perusahaan tersebut mampu bertahan dan bersaing. Modal usaha diduga berpengaruh positif karena modal usaha menggambarkan skala usaha yang dijalankan, semakin besar modal maka semakin besar pula skala usaha yang dijalankan. Tingkat pendidikan mempengaruhi pola pikir debitur dalam menjalankan usaha dan dapat memahami prosedur serta memiliki tanggung jawab dalam pengembalian kredit.

Frekuensi kredit memberikan gambaran bagaimana debitur tersebut baik atau tidak dalam memenuhi kewajibannya. Gambaran ini dapat dilihat dari kredit sebelumnya yang diajukan oleh debitur. Apabila nasabah tersebut selalu tepat waktu dalam pembayaran angsuran, maka dalam pengajuan kredit selanjutnya biasanya akan lebih mudah karena nasabah tersebut selalu tepat waktu dalam pembayaran angsuran. Sebaliknya apabila nasabah selalu terlambat dalam pengembalian angsuran maka pihak bank akan meninjau kembali apakah nasabah tersebut layak atau tidak.

Faktor lain yang dianggap postif yaitu waktu pengembalian kredit. Waktu pengembalian kredit dianggap positif karena menggambarkan kemampuan nasabah dalam mengembalikan kredit yang diajukan. Kemampuan nasabah dilihat dari hasil analisis yang dilakukan oleh mantri dengan membandingkan jumlah penghasilan yang didapat oleh suami dan istri setiap bulan dengan pengeluaran rutin keluarga setiap bulan. Hal ini berkaitan dengan tingkat pendapatan nasabah, semakin tinggi tingkat pendapatan nasabah maka kemampuan nasabah tersebut dalam mengembalikan kredit lebih besar karena mampu membayar angsuran yang lebih besar dibandingkan dengan nasabah yang tingkat pendapatannya lebih rendah. Berdasarkan gambaran hipotesa diatas bahwa semua variabel-variabel yang diamati memiliki korelasi positif terhadap realisasi KUR.

V. GAMBARAN UMUM BRI

5.1. Sejarah Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Bank Rakyat Indonesia atau sekarang ini dikenal dengan nama Bank BRI didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah pada tanggal 16 Desember 1895 oleh seorang patih yang bernama Raden Bei Aria Wirjaatmadja. Awalnya bank tersebut bernama “De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofdeen” (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia atau pribumi), selanjutnya berubah menjadi “Halp Spaarbank der Inlandsche Bestuur Ambtenaren” (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi). Pada kegiatan awalnya, bank tersebut menggunakan uang kas Masjid untuk kemudian digunakan sebagai pinjaman bagi masyarakat dengan angsuran ringan.

Dalam perkembangannya terdapat berbagai perubahan dan pembenahan sistem, yaitu :

a. Pada tahun 1987 namanya diubah menjadi “Purwokertosche Hulp Spaar en Landbouw Creditbank” oleh W.P.D. de Wollf Van Westerrode, seiring dengan reorganisasi yang meliputi pembentukan badan hukum, penyusunan prosedur, perluasan keanggotaan, perluasan bidang usaha, dan lain-lain.

b. Pada tahun 1898 namanya lebih dikenal sebagai Volksbank atau Bank Rakyat yang tumbuh dengan pesat diberbagai tempat sehingga mulai melibatkan pemerintahan Hindia Belanda secara langsung dan namanya berganti lagi menjadi Vokscredietwezwn.

c. Berdasarkan surat keputusan Ratu Belanda No.118 tanggal 10 Juli 1912, Staatsblad 1912 No.392, berubah menjadi “Centrale Kas Voor het Volkscredietwezen”.

d. Pada tahun 1934 berubah menjadi “Agemeene Volscredietbank” (AVB), berdasarkan Staatsblad No.82 menyatakan bahwa AVB bukanlah usaha yang dimiliki oleh negara meskipun didirikan dengan keputusan pemerintahan. e. Pada masa kedudukan Jepang di Indonesia, tanggal 3 Oktober 1934 AVB

berganti nama menjadi “Syomim Ginko” (Bank Rakyat). Kemudian setelah kemerdekaan Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No.1

tanggal 22 November 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah Bank Pemerintahan pertama di Republik Indonesia.

f. Adanya situasi perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No.41 tahun 1960 dibentuk Bank Koperasi Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM).

g. Berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan. Setelah berjalan selama satu bulan keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang ekspor impor (Exim).

h. Berdasarkan Undang-Undang No.13 tahun 1967 tentang Undang-Undang Pokok Perbankan dan Undang-Undang No.13 tahun 1968 tentang Undang- Undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sental dan Bank Negara Indonesia unit II bidang rural dan ekspor impor dipisahkan masing-masing menjadi dua bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang No.21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.

i. Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No.7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No.21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang kepemilikannya masih 100 persen ditangan pemerintah. Sejak bulan Oktober 2003, BRI melakukan

go public sehingga dalam kepemilikannya, BRI telah menjadi perusahaan publik dan namanya ditambah menjadi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yang dikenal dengan nama Bank BRI.

43 5.2. Visi, Misi, Tujuan BRI, dan Sasaran Jangka Panjang

Visi BRI adalah “Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah”, sedangkan misi BRI adalah :

a. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.

b. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumberdaya manusia yang profesional dengan melaksanakan praktek good corporate government.

c. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders).

Berdasarkan dari visi dan misi BRI, maka BRI telah memiliki tujuan yang jelas, khususnya dibidang kredit, yaitu menjadi bank komersial dengan menitikberatkan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah. Hal ini ditunjukkan dengan 80 persen dari jumlah kredit yang disalurkan oleh Bank BRI mengutamakan kepuasan nasabah dengan memberikan pelayanan yang prima melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan mengembangkan dukungan teknologi perbankan yang canggih.

Disamping itu bank BRI juga menetapkan tujuan untuk kepentingan

stakeholders, baik pemerintah maupun publik ,yaitu : a. Pemerintah

Berperan serta dalam meningkatkan mutu industri perbankan di Indonesia, memperlancar perputaran uang di masyarakat, menjadi agen pembangunan, dan meningkatkan pendapatan pajak.

b. Pemegang Saham

Memberikan tambahan penghasilan bagi pemegang saham melalui dividen yang dibagikan sesuai keuntungan dan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

c. Nasabah

Memberikan bantuan di bidang permodalan dan mengamankan dana masyarakat serta memberi jasa perbankan dengan melalui pelayanan dan kualitas

yang terbaik, sehingga memberi nilai tambah yang wajar dan terpeliharanya hubungan kemitraan dengan nasabah.

d. Pekerja

Menjadikan pekerja sebagai aset utama perusahaan serta menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang sehat, mengembangkan budaya kerja perusahaan (corporate culture), dan memberikan penghasilan bagi pekerja.

e. Masyarakat

Memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk membangun ekonomi, sosial maupun lingkungan dengan menyisihkan sebagian laba usaha yang diperoleh.

Selain visi dan misi serta tujuan BRI, BRI juga memiliki sasaran jangka panjang, yaitu :

1. Menjadi bank sehat dan salah satu dari lima bank terbesar dalam asset dan keuntungan.

2. Menjadi bank terbesar dan terbaik dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.

3. Menjadi bank terbesar dan terbaik dalam pengembangan agribisnis. 4. Menjadi bank go public terbaik.

5. Menjadi bank yang melaksanakan good corporate secara konsisten.

5.3. Organisasi dan Jaringan Kerja BRI

Bank Rakyat Indonesia (BRI) dipimpin oleh seorang direktur utama dan seorang wakil direktur utama yang dibantu oleh enam orang direktur yang membidangi bisnis. Masing-masing direktur membawahi bidang bisnis mikro dan ritel, bisnis menengah, bidang pengendalian kredit, bidang keuangan dan internasional, bidang operasional, dan bidang kepatuhan. Secara struktural direksi membawahi para kepala divisi di kantor pusat dan pemimpin wilayah di kantor wilayah BRI. Struktur Organisasi BRI Pusat dapat dilihat pada Lampiran 2.

Unit kerja di kantor pusat BRI meliputi berbagai bidang bisnis operasional dan penunjang, yang masing-masing dipimpin oleh para kepala divisi dibantu oleh wakil kepala divisi yang membawahi kepala bagian dan staf. Unit kerja ditingkat wilayah yang membawahi kepala bagian dan pemimpin cabang yang ada di

45 wilayah tersebut. Struktur organisasi kantor wilayah BRI dapat dilihat pada Lampiran 3. Unit kerja di kantor cabang BRI dipimpin pemimpin cabang yang dibantu oleh wakil pemimpin cabang yang membawahi para officer, kepala seksi serta seluruh kantor cabang pembantu dan BRI unit yang ada di wilayah kantor cabang tersebut (Lampiran 4).

Unit kerja kantor cabang pembantu (KCP) dipimpin oleh pemimpin cabang pembantu (Pincapem). Struktur organisasi kantor cabang pembantu dapat dilihat pada Lampiran 4. Unit kerja di tingkat BRI unit dipimpin oleh seorang kepala unit (Kaunit) yang membawahi mantri, deskman, dan teller di BRI unit tersebut.

5.4. Bidang Usaha BRI

Bank BRI memiliki berbagai bidang usaha yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bidang usaha simpanan, pinjaman, dan jasa bank lainnya.

1. Bidang Simpanan

Meliputi Giro BRI (Girobri), Deposito BRI (Depobri) baik dalam mata uang Rupiah maupun US Dollar, Sertifikat BRI (Sertibri), Tabungan Britama baik Britama Rupiah maupun Britama Dollar, Tabungan Simaskot, Tabungan Simpedes, dan Tabungan Haji.

2. Bidang Pinjaman

Meliputi Kredit Prioritas atau Kredit Program, Kredit Non Program, Kredit Komersial, Kredit Kepemilikan Rumah, Kredit Kendaraan Bermotor, Kredit Profesi, Kredit Expres, Kredit Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani atau Nelayan (P4K), Kupedes, Kredit Golongan Berpenghasilan Tetap, Kredit Pensiun, Kredit Cash Collateral, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

3. Usaha Jasa Bank

Meliputi transfer, Inkaso, Safe Deposit Box, Automatic Teller Machine

(ATM), Cek Perjalanan BRI (Cepebri), Kliring, dan jual beli Bank Notes atau mata uang asing. Selain itu, jasa bank lainnya meliputi biaya penyelenggaraan ibadah haji, penerimaan Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), penerimaan

setoran denda tilang, penerimaan setoran tagihan telepon dan listrik, pembayaran uang pensiun PT Taspen dan PT Asabri, pembayaran Pajak Bea Cukai KPKN, pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Subsidi Pembangunan Inpres (P2KP), Pelayanan setoran PT Pusri, pelayanan pembayaran Pertamina, dan pelayanan setoran Pegadaian.

5.5. Gambaran Umum Kantor BRI Cabang Tanjung Priok

Kantor Cabang (Kanca) BRI Tanjung Priok merupakan salah satu dari 23 Kanca BRI yang ada di wilayah Kanwil Jakarta 1. Kanca Tanjung Priok dipimpin oleh seorang Pemimpin Cabang (Pinca) yang membawahi kegiatan pelayanan kepada sektor makro dan ritel. Dalam kegiatannya Pinca dibantu oleh tiga manajer, yaitu:

1. Manajer Pemasaran (MP)

Manajer Pemasaran bertanggung jawab terhadap bisnis ritel baik kredit maupun dana. Kredit merupakan sejumlah dana BRI yang dipinjamkan kepada nasabah (debitur). Sedangkan dana adalah pemasukkan yang diterima oleh BRI baik melalui simpanan, pinjaman, penjualan saham BRI, dan sebagainya. Manajer Pemasaran membawahi para Account Officer (AO).

2. Manajer Operasional (MO)

Manajer Operasional bertanggung jawab terhadap kelancaran seluruh proses kegiatan operasional Kanca. Manajemen Operasional membawahi Asisten Manajer Operasional (AMO) serta Supervisor Kas dan Supervisor Dana dan Jasa. 3. Manajer Bisnis Mikro (MBM)

Manajer Bisnis Mikro bertanggung jawab terhadap bisnis baik kredit maupun dana dan operasional mikro di BRI unit. Manajer Bisnis Mikro dibantu oleh Asisten Manajer Bisnis Mikro (AMBM) yang membawahi penilik BRI unit. Selain itu, MBM juga membawahi Petugas Administrasi Unit (PAU) dan Petugas Rekonsiliasi Unit (PRU).

Kantor Cabang BRI Tanjung Priok membawahi 12 kantor BRI unit. Unit- unit yang berada di bawah Kantor Cabang Tanjung Priok tersebar di berbagai kecamatan yang ada di kotamadya Jakarta Utara. BRI unit yang berada di wilayah

47 Kantor Cabang Tanjung Priok bergerak dalam segmen pelayanan perbankan di bidang mikro.

5.6. Gambaran Umum Kantor BRI Unit Tongkol

Unit Tongkol merupakan salah satu unit kerja yang berada di bawah kantor cabang Tanjung Priok selain 11 unit kerja yang lain. Unit Tongkol diresmikan pada tanggal 2 Oktober 2003 oleh kepala kantor wilayah Prayogo Sedjati. Unit Tongkol berada di Jalan Tongkol No. 99, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Unit Tongkol didirikan dengan tujuan memperluas jaringan BRI di masyarakat.

Bank Rakyat Indonesia Unit Tongkol dipimpin oleh seorang Kepala Unit (Kaunit) yang membawahi mantri, deskman, dan teller (Gambar 5). Masing- masing bagian memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian adalah sebagai berikut :

Gambar 5. Struktur Organisasi BRI Unit Tongkol

Sumber : BRI Unit Tongkol (2009)

a. Kepala Unit (Kaunit)

Kepala Unit memiliki tugas sebagai pemimpin kantor BRI unit dan bertanggung jawab atas seluruh kegiatan operasional yang dilakukan oleh BRI unit tersebut. Selain itu, Kaunit memiliki wewenang dalam melakukan putusan kredit sebatas Kuasa Memutus Permohonan Pinjaman (KMPP). Dalam hal ini, Kaunit memiliki KMPP sebesar Rp 10 juta.

b. Mantri

Bertugas sebagai tenaga pemasaran yang berfungsi ganda sebagai lending

atau funding officer. Dalam proses pinjaman, mantri memiliki tugas sebagai analisa kredit yang melakukan analisis dan merekomendasikan putusan kredit

Kepala Unit

sekaligus berfungsi sebagai pengawas kredit bagi debitur dalam proses pengembalian kredit.

c. Deskman

Berfungsi melayani kebutuhan nasabah dalam melakukan transaksi di BRI unit yang bersifat administratif. Selain itu memberikan informasi kepada nasabah tentang produk-produk yang dimiliki oleh BRI unit seperti simpanan dan pinjaman.

d. Teller

Bertugas melayani nasabah dalam melakukan transaksi tunai, yaitu simpanan dan pembayaran cicilan. Produk yang ditawarkan oleh Unit Tongkol diantaranya simpanan dan pinjaman. Simpanan berbentuk tabungan dan deposito. Tabungan yang ada di BRI unit dikenal dengan Britama, Simpedes, dan tabungan haji. Pinjaman yang ada di Unit Tongkol terdiri dari Kupedes dan KUR yang menjadi program pemerintah.

Setoran minimal awal untuk tabungan BRI yaitu Rp 100.000,00 untuk

simpedes dan Rp 200.000,00 untuk Britama dan tabungan haji sebesar Rp 50.000,00. Untuk deposito minimal setoran sebesar Rp 2.500.000,00 yang

dapat disimpan dalam jangka waktu 1, 3, 6, dan 12 bulan. Unit Tongkol telah on line sehingga dalam penarikan atau setoran dapat dilakukan di BRI mana saja.

Produk kredit yang dimiliki Unit Tongkol biasa disebut Kupedes. Kupedes merupakan fasilitas kredit yang bersifat umum untuk mengembangkan kredit.

Plafond untuk Kupedes sebesar Rp 50 juta. Jangka waktu pengembalian pinjaman berdasarkan pada kriteria nasabah dan penggunaan pinjaman, yaitu pinjaman untuk modal kerja selama dua tahun, pinjaman investasi selama tiga tahun, dan pinjaman untuk pegawai selama lima tahun.

VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN

KARAKTERISTIK RESPONDEN

6.1. Mekanisme Penyaluran KUR di BRI Unit Tongkol

Dalam menyalurkan KUR kepada debitur, ada beberapa tahap atau prosedur yang harus dilaksanakan oleh calon debitur. Secara umum prosedur pengambilan KUR melewati dua tahap, yaitu tahap pengajuan permohonan dan tahap pembayaran kembali. Tahap pengajuan permohonan diawali dengan mengisi formulir yang tersedia di BRI Unit Tongkol. Formulir dilengkapi dengan pas foto suami dan istri ukuran 4 x 6, foto copy KTP, dan foto copy kartu keluarga. Formulir diserahkan kepada BRI Unit Tongkol untuk kemudian Mantri KUR dari pihak BRI Unit Tongkol melakukan kunjungan ke rumah calon debitur dengan membawa Laporan Kunjungan Nasabah (LKN) dimana dalam LKN tersebut ada beberapa hal yang harus diisi oleh calon debitur, meliputi identitas responden, lama usaha, alamat usaha, modal usaha, penghasilan per bulan gabungan antara penghasilan istri dan suami, dan pengeluaran keluarga per bulan. Setelah Mantri melakukan kunjungan nasabah, kemudian Mantri tersebut melakukan analisis dari hasil LKN tersebut, analisis yang dilakukan meliputi menghitung pendapatan bersih, R/C ratio, dan jumlah angsuran (anuitas) kemampuan debitur. Dari hasil analisis perhitungan mantri dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu, seberapa besar kemampuan calon debitur dalam membayar angsuran, jumlah kredit yang dapat diberikan, dan berapa lama jangka waktu yang diberikan. Hasil ini yang kemudian menjadi rekomendasi dari mantri terhadap calon debitur tersebut, apakah calon debitur tersebut layak diberikan kredit atau tidak.

Hasil analisis calon debitur dari Mantri tersebut kemudian diberikan kepada Kepala Unit (Kaunit). Kaunit melakukan peninjauan dan menilai analisis LKN yang dilakukan oleh Mantri. Hasil analisis yang dikatakan layak oleh Kaunit kemudian dilakukan pengecekan/identifikasi nasabah yang terhubung secara

online ke bagian kredit Bank Indonesia. Dalam sistem tersebut dicari nama nasabah yang akan mengajukan kredit tersebut. Pengecekan/identifikasi ini dilakukan dengan tujuan apakah calon debitur memiliki pinjaman lain di bank lain dan juga melihat apakah calon debitur merupakan debitur yang masuk daftar

hitam atau tidak. Hal ini dilakukan karena KUR diperuntukkan bagi nasabah yang tidak memiliki pinjaman lain di lembaga keuangan yang lain

Apabila dalam analisis usaha tersebut dinyatakan layak, maka Kaunit dapat langsung memutuskan pemberian kredit, kemudian nasabah tersebut akan dihubungi oleh pihak bank. Lama proses realisasi mulai dari permohonan kredit sampai dengan realisasi adalah 7 hari. Dalam proses pencairan kredit yang dilakukan BRI Unit Tongkol, tidak ada biaya apapun seperti biaya provisi, asuransi, dan percetakan. Nasabah mendapatkan pinjaman secara utuh tanpa adanya potongan. Plafond KUR di Unit Tongkol yang dapat direalisasi sebesar lima juta rupiah. Proses realisasi KUR kurang dari seminggu setelah pengajuan kredit. Dalam penyaluran KUR, tidak terlepas dari prinsip 5C (Character, Capacity, Collateral, Capital, dan Condition of Economy).

6.2. Karakter (Character)

Salah satu prinsip 5C, yaitu karakter yang merupakan persyaratan dalam mekanisme penyaluran KUR. Nasabah BRI Unit Tongkol memiliki karakter yang berbeda, realisasi KUR dipengaruhi dari baik tidaknya seorang debitur dalam pengajuan kredit. Pemberian kredit berdasarkan atas kepercayaan atau adanya keyakinan bahwa debitur mempunyai watak atau sifat-sifat pribadi yang positif dan kooperatif. Selain itu, juga memiliki rasa tanggung jawab baik dalam kehidupan pribadi sebagai manusia, kehidupannya sebagai anggota masyarakat, ataupun dalam menjalankan kegiatan usahanya, secara sadar untuk membayar seluruh kewajibannya termasuk hutang.

Manfaat dari penilaian karakter ini untuk mengetahui sejauh mana tingkat kejujuran dan integritas serta tekad baik, yaitu kemauan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dari calon debitur. Karakter ini merupakan faktor yang dominan, sebab walaupun calon debitur tersebut cukup mampu untuk menyelesaikan hutangnya tetapi jika tidak memiliki itikad baik, tentu akan membawa kesulitan bagi bank dikemudian hari.

Pada dasarnya pihak perbankan lebih suka memberikan kredit kepada nasabah yang telah lama menjadi nasabah di bank tersebut. Hal ini dikarenakan pihak bank merasa lebih mengetahui watak dan karakteristik debitur sehingga

51 pihak perbankan tidak merasa takut jika debitur tersebut tidak membayar kewajibannya.

Nasabah KUR di BRI Unit Tongkol memiliki itikad baik dalam membayar

Dokumen terkait