DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)
3.1. Asumsi Dasar yang digunakan dalam APBN Tahun 2020
Kebijakan ekonomi yang dicanangkan pemerintah pusat pada tahun 2020 dapat menjadi tantangan maupun peluang bagi perekonomian Kabupaten Bantul kedepan. Kerangka perekonomian nasional secara makro dalam tahun 2020 disusun berdasarkan kondisi umum perekonomian Indonesia. Kebijakan perekonomian Indonesia yang diperkirakan dapat mempengaruhi perekonomian Kabupaten Bantul meliputi sasaran dan kebijakan yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi, stabilitas ekonomi yang tercermin dalam stabilitas moneter, fiskal dan neraca pembayaran, serta kebutuhan investasi untuk mendorong pencapaian sasaran yang telah ditetapkan.
Beberapa indikator utama ekonomi makro pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Rancangan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2020, menjadi tolok ukur dalam penentuan RAPBN tahun 2020.
Oleh karena itu dalam asumsi dasar penyusunan RAPBD perlu mempertimbangkan indikator ekonomi makro pembangunan nasional tersebut, diantaranya:
Tabel 3.1.
Indikator Ekonomi Makro di Indonesia Tahun 2020
No Indikator Ekonomi Makro Asumsi Tahun 2020
1. Pertumbuhan ekonomi 5,3 - 5,5 %
2. Laju Inflasi 2,0 – 4,0 %
3. Gini Ratio 0,375 – 0,380
4. Tingkat kemiskinan 8,5 - 9,0 %
5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 72,51 6. Tingkat pengangguran terbuka 4,8 – 5,1 %
7. Pertumbuhan Investasi 7,0 – 7,4
Sumber : Bappenas, BPS, Kemenkeu,2019
Pemerintah Kabupaten Bantul 26
Pertumbuhan ekonomi
Dari sisi lapangan usaha, pencapaian pertumbuhan ekonomi akan didorong utamanya oleh industri pengolahan yang diharapkan mampu tumbuh 5,0 – 5,5 persen pada tahun 2020. Kebijakan penguatan ekonomi nasional mencakup upaya untuk meningkatkan daya saing ekspor, peningkatan investasi, meningkatkan efektivitas belanja negara, memperkuat konsumsi masyarakat, menjaga stabilitas ekonomi antara lain nilai tukar rupiah, meningkatkan pembangunan infrastruktur, dan menjaga stabilitas sosial politik.
Laju Inflasi diproyeksikan 2,0 – 4,0 persen.
Stabilitas makro ekonomi juga tercermin dari tingkat harga yang terkendali. Pada tahun 2020, tingkat inflasi diperkirakan stabil pada rentang target yang ditetapkan, yaitu sebesar 3,0±1 persen (yoy).
Kebijakan pengendalian inflasi tahun 2020 diarahkan untuk:
1) meningkatkan produktivitas terutama pasca panen dan meningkatkan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP);
2) menurunkan rata-rata inflasi dan volatilitasnya pada 10 komoditas pangan strategis;
3) menurunkan disparitas harga antar daerah dengan rata-rata harga nasional;
4) menjangkar ekspektasi inflasi dalam sasaran yang ditetapkan; serta 5) meningkatkan kualitas statistik komoditas pangan dan strategis
lainnya.
Gini Ratio pada kisaran 0,375 – 0,380. Strategi kebijakan perlu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Investasi
Dari sisi pengeluaran, investasi didorong dan mencapai sekitar 6,9-7,7 persen pada tahun 2019. Dorongan kuat dari investasi akan meningkatkan kontribusi ekspor barang dan jasa, serta konsumsi.
Dari sisi produksi, industri pengolahan diperkirakan tumbuh sebesar 4,9-5,4 persen. Sementara itu industri pertanian, kehutanan dan perikanan diperkirakan tumbuh rata-rata sebesar 3,7-4,0 persen.
Seiring dengan pertumbuhan PDB secara keseluruhan, industri tersier
Pemerintah Kabupaten Bantul 27 juga mengalami kenaikan dengan pertumbuhan tertinggi pada industri informasi dan komunikasi yang mencapai 10,3-11,1 persen pada tahun 2019, ditopang oleh membaiknya infrastruktur dan meningkatnya pemakaian alat telekomunikasi.
Tingkat kemiskinan
Tingkat kemiskinan di tahun 2020 ditargetkan terus menurun dan mencapai sekitar 8,5-9,0 persen.Hal ini dapat tercapai dengan didukung oleh kebijakan makro yang mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, tingkat inflasi yang stabil, serta penciptaan lapangan kerja yang produktif. Hal tersebut diperkuat dengan arah kebijakan dalam upaya mencapai target tingkat kemiskinan tahun 2020, antara lain:
1) pengembangan digitasi serta integrasi penyaluran bantuan sosial, antara lain bantuan pangan non tunai (BPNT), penyaluran bantuan PKH, bantuan pendidikan bagi siswa miskin dan subsidi tepat sasaran;
2) penguatan sistem jaminan sosial nasional (SJSN) kesehatan dan ketenagakerjaan yang komprehensif dan terintegrasi untuk melindungi masyarakat miskin dan rentan jika terjadi guncangan sosial maupun ekonomi;
3) penguatan sistem perlindungan sosial bagi kelompok khusus seperti penyandang disabilitas dan penduduk lansia yang rentan miskin;
4) sinergi basis data terpadu (BDT) dengan data dasar kependudukan dan BPJS Kesehatan untuk meningkatkan ketepatan sasaran bantuan-bantuan pemerintah;
5) pengembangan kegiatan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan pendapatan bagi kelompok miskin dan rentan, antara lain melalui akselerasi penguatan ekonomi keluarga, keperantaraan usaha dan dampak sosial, penataan penguasaan, dan penggunaan lahan melalui pelaksanaan reforma agraria dan perhutanan sosial.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi 72,51
Arah kebijakan untuk mencapai target IPM tersebut adalah:
Pemerintah Kabupaten Bantul 28 1) meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penekanan pada peningkatan kesehatan ibu dan anak, percepatan perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pengendalian penyakit, penguatan upaya promotif dan preventif untuk mendorong hidup sehat, dan penguatan sistem kesehatan;
2) meningkatkan pemerataan layanan pendidikan berkualitas melalui peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran, afirmasi akses dan percepatan pelaksanaan Wajib Belajar 12 Tahun, pengelolaan dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan, penjaminan mutu pendidikan, dan penguatan pendidikan tinggi berkualitas;
dan
3) upaya di bidang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penguatan kewirausahaan dan fasilitasi pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), peningkatan ketersediaan lapangan kerja yang layak, perbaikan iklim investasi dan usaha, dan subsidi yang tepat sasaran bagi masyarakat miskin.
Tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,8 – 5,1 persen pada akhir tahun 2019.
Momentum penurunan tingkat pengangguran terbuka dapat diwujudkan melalui besarnya jumlah angkatan kerja Indonesia yang harus disertai dengan peningkatan penciptaan kesempatan kerja berkualitas melalui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Pertumbuhan ekonomi inklusif yang berpusat pada perluasan skala dan akses ekonomi diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja formal. Pada tahun 2020, Pemerintah menargetkan penciptaan lapangan kerja sebanyak 2,7 – 3,0 juta orang, sehingga tingkat pengangguran terbuka berada pada kisaran 4,8 – 5,1 persen. Secara nasional, perluasan penciptaan kesempatan kerja yang berkualitas membutuhkan beberapa upaya strategis, antara lain:
1) Peningkatan kapasitas sektor produktif prioritas yang bernilai tambah tinggi;
Pemerintah Kabupaten Bantul 29 2) Peningkatan keahlian tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan
pasar kerja;
3) Peningkatan kesempatan untuk menciptakan usaha baru melalui pengembangan kewirausahaan berbasis teknologi;
4) Perluasan program Pemerintah dan pemanfaatan dana desa untuk pembangunan infrastruktur yang bersifat padat karya; dan
5) Melanjutkan upaya peningkatan investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja formal.