IV. METODE PENELITIAN
4.6 Asumsi Dasar yang Digunakan
Asumsi dasar yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Modal usaha sepenuhnya menggunakan modal sendiri.
2. Tingkat diskonto yang digunakan merupakan tingkat suku bunga
deposito Bank Indonesia pada bulan April 2008 sebesar 8% karena pemilik tidak melakukan pinjaman kepada bank komersial.
3. Umur proyek adalah 10 tahun, didasarkan pada umur investasi
terlama yaitu kolam limbah.
4. Inflow dan Outflow merupakan proyeksi berdasarkan pada
penelitian dan informasi yang didapatkan pada tahun 2008.
5. Jenis ikan yang digunakan hanya ikan bandeng.
6. Bobot ikan bandeng yang digunakan kurang lebih 300 gr atau
dalam 1 kg terdapat 3 ekor ikan bandeng.
7. Tidak ada produk afkir/cacat
8. Harga yang digunakan adalah harga konstan yaitu harga jual
BANISI ke agen sebesar Rp 13.000.
9. Total produksi adalah jumlah produk BANISI yang dihasilkan
selama satu tahun. Nilai total penjualan adalah hasil kali antara total produksi dengan harga jual.
10.Biaya yang dikeluarkan untuk usaha ini terdiri dari biaya investasi
dan biaya operasional. Biaya investasi dikeluarkan pada tahun ke-1 dan biaya reinvestasi dikeluarkan untuk peralatan-peralatan yang
telah habis umur ekonomisnya.
40
12.Nilai tanah dan bangunan dihitung menggunakan sistem sewa
karena tempat produksi letaknya bergabung dengan kediaman pemilik dan tidak seluruh ruangan di kediaman pemilik digunakan sebagai lokasi produksi.
13.Dilakukan tiga skenario yaitu skenario I adalah usaha dengan perolehan bahan baku yang telah dilaksanakan saat ini dan tanpa penambahan alat, skenario II adalah ekspansi usaha dengan penambahan bahan baku dan alat produksi sebesar dua kali lipat dari kapasitas normal, serta skenario III yaitu usaha dengan perolehan bahan baku langsung dari produsen ikan bandeng.
V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
5.1 Visi, Misi dan Tujuan
Visi BANISI adalah menjadi salah satu perusahaan pengolahan ikan bandeng terbaik yang menekankan pada inovasi produk olahan yang berkualitas, serta mampu memasyarakatkan konsumsi ikan bandeng di masyarakat.
Misi BANISI adalah memberikan produk olahan ikan bandeng yang berkualitas kepada konsumen dan memasarkan secara optimal produk olahan ikan bandeng dalam rangka membangun citra perusahaan.
Tujuan BANISI adalah mengembangkan usaha dengan mengadopsi sistem yang digunakan pada usaha waralaba dengan terus melakukan inovasi tiada henti, meningkatkan kepuasan konsumen, serta membuka lapangan pekerjaan untuk pengangguran.
5.2 Profil Perusahaan
BANISI merupakan salah satu usaha agroindustri di bidang pengolahan makanan yang menggunakan ikan bandeng sebagai bahan baku utamanya. BANISI merupakan singkatan dari produk yang dihasilkan dari perusahaan ini, yaitu bandeng isi. Walaupun perusahaan ini didirikan pada bulan Desember 2007, tetapi sebenarnya usaha ini telah ada dari bulan Agustus 2006 hanya saja pemilik belum memberikan merek pada produk ini. Usaha ini walaupun belum turun temurun tetapi tergolong usaha keluarga karena pada awalnya usaha ini hanya dijalankan oleh anggota keluarga sebelum akhirnya merekrut karyawan dari masyarakat lingkungan sekitar. Perusahaan yang berlokasi di Jl. Bougenvile No.
42
17 Komplek Soreang Indah, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini merupakan usaha sampingan dari pemilik yang memiliki pekerjaan di bidang properti sebagai mata pencaharian utamanya. Meskipun belum berbentuk badan hukum, BANISI sudah memperoleh izin resmi usaha dari Dinas Kesehatan setempat berdasarkan P. IRT No. 802320401509 serta izin dari LP. POM No. 01031026620907 dan juga sertifikasi halal dari MUI. BANISI yang bergerak dalam usaha pengolahan makanan jadi berbahan baku ikan bandeng ini masih beroperasi dalam skala kecil. Hal ini disebabkan modal yang digunakan berasal dari modal sendiri dalam pembangunan usahanya sehingga untuk dapat menjalankan usahanya dalam skala besar pemilik harus melakukan secara bertahap.
Perusahaan yang didirikan di areal perumahan ini memiliki keuntungan dalam hal pemenuhan kebutuhan tenaga kerja. Areal perumahan tempat perusahaan berdiri memungkinkan perusahaan untuk merekrut tenaga kerja tambahan yang terkadang diperlukan ketika perusahaan menghadapi permintaan yang lebih besar dari kapasitas produksi normal.
Dalam produksinya Bapak Totok masih belum mempercayakan masalah pembuatan bumbu kepada pekerjanya. Alasan pemilik untuk tidak melimpahkan tanggung jawab dalam pembuatan bumbu yaitu untuk menjaga kekonsistenan rasa dari produk bandeng isi. Selain itu beliau juga tetap melakukan kontrol terhadap para pekerja agar mutu produk tetap terjaga.
5.3 Jenis dan Perkembangan Usaha
Produk yang dihasilkan oleh BANISI adalah bandeng isi dengan tiga pilihan rasa yaitu rasa daging sapi, daging ayam, dan udang. Untuk kegiatan produksi sampai saat ini, BANISI telah memiliki alat berupa satu buah vacuum, satu buah oven, dan satu buah kalakat atau panci khusus dengan kapasitas produksi 75 bandeng per satu kali siklus produksi, tetapi untuk bahan baku ikan bandeng BANISI masih belum membudidayakan sendiri dikarenakan jumlah modal yang tidak memadai. Karena tergolong perusahaan baru, maka belum terjadi perkembangan signifikan yang terjadi di perusahaan ini. Pemilik perusahaan mempunyai rencana ke depan untuk melakukan ekspansi dengan meningkatkan produktivitas. Hal ini dilakukan dengan menambah jumlah alat produksi serta penggunaan bahan baku.
5.4 Struktur Organisasi
Pada dasarnya BANISI belum memiliki struktur organisasi secara tertulis. Namun berdasarkan hasil wawancara maka dapat disimpulkan bahwa struktur organisasi BANISI terdiri atas pemilik perusahaan, bagian keuangan, bagian
produksi, quality control dan litbang, dan bagian pemasaran. Pemilik perusahaan
memiliki peran yang dominan dalam setiap aktivitas perusahaan. Struktur perusahaan BANISI dapat dilihat pada Gambar 2.
44
Gambar 2. Struktur Organisasi Perusahaan BANISI
Sumber: BANISI, 2008
a. Pemilik Perusahaan
Perusahaan ini dipimpin oleh Bapak Totok Hariyono yang memiliki wewenang untuk melakukan seluruh kegiatan perusahaan terutama untuk merencanakan strategi, mengambil keputusan, mengawasi jalannya aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pemasok maupun agen, quality control dan litbang, pemasaran, serta melakukan evaluasi kegiatan di perusahaan.
b. Penanggung Jawab Keuangan
Penanggung jawab keuangan dipegang oleh Ibu Sulistyowati yang bertanggung jawab terhadap transaksi keuangan perusahaan serta pembukuan.
c. Penanggung Jawab Produksi
Bertanggung jawab terhadap jalannya produksi dari mulai persiapan bahan baku, perekrutan dan pelatihan tenaga kerja sampai pengemasan produk jadi untuk kemudian siap dipasarkan.
Pemilik Perusahaan Penanggung Jawab Keuangan Penanggung Jawab Pemasaran Quality control dan Litbang Penanggung Jawab Produksi
d. Penanggung Jawab Pemasaran
Bertanggung jawab dalam merumuskan strategi pemasaran yang akan digunakan, mengawasi implementasi dari strategi pemasaran, menjalin hubungan kerjasama baik dengan agen maupun konsumen akhir.
e. Quality Control dan Litbang
Bertanggung jawab terhadap kualitas atribut produk yang dihasilkan, mencakup kekonsistenan rasa, ukuran dan keamanan untuk dikonsumsi, serta melakukan inovasi produk yang berkelanjutan guna memenuhi kebutuhan konsumen.
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1. Analisis Aspek-aspek Non Finansial
Analisis aspek-aspek non finansial yang akan dibahas dalam penelitian ini antar lain, aspek pasar, aspek teknis, aspek bahan baku, aspek manajemen, aspek hukum, serta aspek sosial ekonomi dan lingkungan.
6.1.1Aspek Pasar
Aspek pasar digunakan untuk mengkaji mengenai potensi pasar produk bandeng isi baik dari sisi permintaan, penawaran maupun harga yang berlaku, juga strategi pemasaran yang dilakukan perusahaan menyangkut bauran pemasaran yaitu harga, tempat, promosi, dan distribusi.
a) Permintaan
Potensi pasar untuk produk bandeng isi cukup tinggi. Tingginya potensi pasar bandeng isi ini terbukti dari tingginya jumlah permintaan untuk bandeng isi baik di Bandung maupun di luar Bandung. Permintaan bandeng isi ini biasanya datang dari agen maupun rumah tangga. Namun, penawaran produk bandeng isi masih sangat terbatas karena masih sedikit orang yang menggeluti usaha pembuatan bandeng isi. Hal ini membuat harga bandeng isi cukup tinggi yaitu Rp. 13.000 per ekor. Harga tersebut berlaku di tingkat agen, sedangkan harga pada tingkat end user dapat mencapai kisaran Rp. 16.000-17.000 per ekor.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran produk bandeng isi memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Dengan demikian, pasar dapat menyerap seluruh jumlah bandeng isi yang diproduksi oleh perusahaan. Kebutuhan bandeng isi untuk memenuhi pasar Bandung saja mencapai 1200 ekor
per bulan, sedangkan untuk di luar Bandung perusahaan baru berencana untuk melakukan ekspansi ke Banjarmasin. Rencana ekspansi ke luar Bandung ini sebelumnya tidak direncanakan oleh pemilik sampai suatu saat datang pesanan dari konsumen di Banjarmasin, sehingga pemilik memiliki ide untuk memperluas pemasarannya sampai ke Banjarmasin. Sampai saat ini agen merupakan penyerap utama dari produk ini.
b) Penawaran
Tingginya suatu potensi pasar tidak hanya dilihat dari tingkat permintaan tetapi juga dari tingkat penawaran. Produk bandeng isi dapat dikatakan masih sangat rendah dari sisi penawaran karena saat ini hanya BANISI yang menawarkan produk bandeng isi secara komersil. Dengan kondisi yang demikian perusahaan memperoleh keuntungan tersendiri dalam menjalankan usahanya. Dengan tidak adanya pesaing secara langsung, BANISI mampu memperoleh posisi tawar yang tinggi di mata konsumen. Tetapi penawaran yang ada untuk produk bandeng isi saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar. Hal ini terbukti dari produk bandeng isi yang selalu habis terjual, bahkan terkadang ada pembeli yang tidak mendapatkan produk bandeng isi karena telah habis terjual. Melihat potensi penawaran tersebut produk ini menjanjikan untuk diusahakan.
c) Strategi Pemasaran
Untuk sarana promosi, BANISI belum memiliki alat atau media khusus untuk memasarkan bandeng isi yang diproduksinya. Sejauh ini, BANISI menjual hasil produksinya kepada agen-agen yang telah dikenal dan masyarakat di lingkungan sekitar tempat produksi. Distribusi dari perusahaan ke agen dilakukan sendiri oleh perusahaan. Bandeng isi yang telah diproduksi terlebih dahulu
48
dikemas dalam kemasan vacuum yang kedap udara agar tetap awet, kemudian
dikirim ke pengumpul yaitu agen atau outlet-outlet makanan yang tersebar di sekitar Bandung. Dari agen atau outlet-outlet tersebut, barulah bandeng isi kemudian didistribusikan kepada konsumen akhir. Di setiap outlet sendiri telah
memasang media promosi berupa banner yang bertujuan untuk meningkatkan
awareness konsumen akan produk bandeng isi tersebut. Berikut adalah skema
aliran pemasaran bandeng isi yang dilakukan oleh BANISI.
Gambar 3. Skema Aliran Pemasaran Bandeng Isi BANISI
Sumber: BANISI, 2008
d) Hasil Analisis Aspek Pasar
Berdasarkan analisis potensi pasar bandeng isi di atas, dapat disimpulkan bahwa pengusahaan bandeng isi ini layak untuk diusahakan. Hal ini dikarenakan besarnya potensi pasar untuk produk bandeng isi dilihat dari sisi permintaan, penawaran, dan harga. Jumlah permintaan yang tidak diimbangi oleh jumlah penawaran menciptakan peluang besar pada pengusahaan bandeng isi. Di samping itu, harga jual yang tinggi juga cukup menjanjikan bahwa usaha pembuatan bandeng isi dapat mendatangkan keuntungan.
BANISI
Agen atau outlet-outlet penjual makanan khas
Konsumen Akhir (rumah tangga)
6.1.2 Aspek Teknis
Analisis dalam aspek teknis mencakup lokasi usaha proyek, besarnya skala usaha proyek, jenis pemilihan mesin, proses produksi, dan ketepatan teknologi yang digunakan. Berikut adalah hasil analisis pada tiap kriteria aspek teknis.
a) Lokasi Usaha
Lokasi usaha BANISI terletak di Jl. Bougenvile No. 17 Komplek Soreang Indah, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Beberapa pertimbangan dalam pemilihan lokasi produksi adalah:
1. Letak pasar yang dituju
BANISI sampai saat ini lebih banyak menjual hasil produksinya kepada agen yang tersebar di sekitar Bandung dibandingkan langsung ke konsumen akhir. Hal ini karena BANISI belum memiliki outlet tersendiri untuk menjual langsung kepada konsumen akhir, sehingga sangat sulit bagi konsumen akhir yang berada jauh dari tempat produksi untuk membeli produk bandeng isi. Harga yang diberikan BANISI dibedakan antara agen dan konsumen akhir. Untuk agen satu ekor bandeng isi dijual dengan harga Rp 13.000, sedangkan untuk konsumen harga bandeng isi dijual dengan harga Rp 16.000-17.000 per ekor. Dalam menjual bandeng isi BANISI memberi batasan jumlah minimum kepada agen dalam melakukan pembelian yaitu sebanyak lima dus atau setara dengan lima belas ekor bandeng isi. Dari agen inilah baru kemudian produk banisi sampai ke tangan konsumen. Sedangkan untuk konsumen akhir tidak ada batasan jumlah minimum dalam membeli bandeng isi.
50
2. Tenaga listrik dan air
Untuk tenaga listrik daerah produksi bandeng isi telah dijangkau oleh aliran listrik sehingga untuk penggunaan listrik, tidak ada masalah dalam hal ini. Sementara itu, air sangat berlimpah di daerah lokasi proyek dikarenakan daerah Kabupaten Bandung yang masih terbilang asri karena letak geografisnya yang tinggi sehingga pasokan air bersih masih terbilang melimpah di daerah tersebut. Saat ini BANISI menggunakan air yang berasal dari sumber air tanah untuk keperluan usahanya. Hal ini sangat
membantu perusahaan dalam masalah ketersediaan air. Dengan
menggunakan air tanah, BANISI hanya mengeluarkan biaya listrik dari sumur pompa tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk penggunaan air yang semestinya harus dikeluarkan jika perusahaan menggunakan fasilitas dari PAM. Selain bersih air yang digunakan pun tidak mengandung bahan kimia atau logam sehingga perusahaan tidak perlu melakukan proses penyaringan air untuk menghilangkan kandungan bahan kimia dan logam.
3. Suplai tenaga kerja
Perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Suplai tenaga kerja dapat diperoleh dari warga sekitar lokasi proyek. Tenaga kerja dibutuhkan dalam proses pencabutan duri, pemanggangan, dan pengemasan. Sementara untuk kegiatan membuat bahan isian dan bumbu masih ditangani oleh anggota keluarga pemilik perusahaan dengan alasan untuk menjaga kekonsistenan rasa.
4. Fasilitas transportasi
Lokasi proyek yang terletak di kompleks perumahan telah memiliki fasilitas jalan aspal dengan kondisi baik. Untuk alat transportasi yang digunakan dalam membantu proses produksi baik untuk pendistribusian produk maupun akses untuk menuju sumber bahan baku pemilik menggunakan sepeda motor milik sendiri. Tidak ada kesulitan untuk menuju lokasi proyek karena fasilitas jalan yang telah memadai sehingga dapat diakses dengan menggunakan kendaraan beroda dua maupun beroda empat.
5. Hukum dan peraturan yang berlaku
Sejauh ini, tidak ada hambatan hukum dan peraturan lokal yang melarang kegiatan usaha ini. Perusahaan juga telah mendapat izin resmi usaha dari Dinas Kesehatan setempat berdasarkan P. IRT No. 802320401509. Selain dari Dinas Kesehatan setempat, usaha ini juga telah mendapat izin dari LP. POM No. 01031026620907 dan juga sertifikasi halal dari MUI. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat pun tidak ada yang menentang kegiatan usaha ini.
6. Iklim dan keadaan tanah
Kondisi iklim dan keadaan tanah Kabupaten Bandung dapat dikatakan cukup baik, walaupun kedua hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap proses produksi bandeng isi.
7. Sikap masyarakat
Sikap masyarakat sangat terbuka dan mendukung adanya usaha pembuatan bandeng isi ini. Karena dengan adanya usaha pembuatan bandeng isi ini mampu menyerap tenaga kerja dari masyarakat lingkungan sekitar.
52
Masyarakat sekitar juga mulai tertarik untuk ikut menjadi agen penjual bandeng isi, tetapi diantara mereka masih belum ada yang ikut membuka usaha pembuatan bandeng isi ini yang mungkin dikarenakan kurangnya modal dan terbatasnya pengetahuan untuk membuat bandeng isi.
8. Rencana untuk perluasan usaha
BANISI berencana untuk melakukan ekspansi usaha dengan menambah
jumlah peralatan produksinya dalam rangka memenuhi jumlah permintaan yang terkadang belum terpenuhi. Untuk merealisasikan harapan tersebut, kendala yang menghambat adalah modal karena alat yang digunakan untuk produksi terbilang cukup mahal.
b) Skala Usaha
Saat ini BANISI masih beroperasi dalam skala kecil. Produksinya baru dapat dipasarkan ke beberapa agen di sekitar Bandung. Jumlah produksi yang dilakukan saat ini juga dianggap belum mencapai skala ekonomis karena terkadang ada permintaan yang belum terpenuhi. Untuk mencapai skala ekonomis, menurut pemilik BANISI setidaknya harus memproduksi dua kali lebih banyak dari kapasitas produksi saat ini agar seluruh permintaan akan produk bandeng isi dapat terpenuhi . Dengan demikian, tidak ada lagi pembeli yang tidak mendapatkan bandeng isi ini karena kapasitas produksinya yang masih terbatas. Karena permintaan bandeng isi terbilang cukup tinggi, maka peluang untuk meraih keuntungan besar dapat diperoleh dengan memperluas skala usaha. Kapasitas perusahaan juga masih belum tergarap secara optimal. Hal ini dapat dijadikan modal dalam rencana perluasan skala usaha. Dapat dikatakan bahwa BANISI
masih sangat berpotensi untuk meningkatkan skala usahanya untuk mencapai skala ekonomis.
c) Layout
Layout adalah keseluruhan proses penentuan “bentuk” dan penempatan
fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Layout perusahaan disesuaikan
dengan sifat proses produksi yang direncanakan untuk proyek yang dilaksanakan oleh perusahaan (Husnan dan Muhammad, 2000). BANISI memiliki luas bangunan sebesar 110 m2. Lokasi produksi terletak menyatu dengan kediaman pemilik dalam satu bangunan. Ruangan untuk memproduksi bandeng isi selain berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses produksi juga berfungsi sebagai dapur pribadi. Struktur ruangan untuk proses produksi ditata sesuai dengan alur proses produksi. Ruangan ini ini terbagi menjadi dua, satu ruangan berfungsi sebagai tempat mengolah bandeng sedangkan ruang kedua berfungsi sebagai tempat melakukan pengemasan produk akhir yang siap untuk dipasarkan. Untuk lebih lengkapnya, layout BANISI dapat dilihat pada Lampiran 1.
Untuk kegiatan yang sifatnya administratif biasanya digunakan ruangan bagian depan dari kediaman pemilik yang dalam keadaan normal berfungsi sebagai ruang tamu. Kegiatan ini dapat berupa penerimaan tamu yang akan membeli produk bandeng isi dan semua kegiatan administratif lainnya
d) Proses Produksi
Proses produksi bandeng isi di BANISI melalui beberapa tahap mulai dari persiapan bahan baku sampai proses pengemasan. Berikut adalah tahapan proses produksi bandeng isi:
54
a. Persiapan Bahan Baku Utama
Ikan bandeng yang telah disiapkan dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan bau lumpur yang biasanya ada pada ikan bandeng. Pencucian mencakup pengambilan insang dan isi perut bandeng, karena biasanya lumpur banyak terdapat di dalam insang yang tersaring ketika ikan bandeng bernafas. Setelah melalui proses
pencucian ikan bandeng kemudian dihilangkan sisiknya
menggunakan tulang sapi. Penggunaan tulang sapi dimaksudkan agar saat proses membersihkan sisik kulit bandeng tidak menjadi rusak. Setelah itu bandeng yang telah dihilangkan sisiknya dicuci kembali dengan menggunakan air bersih. Dalam tahapan ini juga dilakukan penyortiran untuk menjaga mutu produk yang dihasilkan.
b. Persiapan Bahan Baku Tambahan (Isian)
Bahan baku yang digunakan untuk isian mencakup daging sapi, daging ayam dan udang, telur, susu, kelapa, serta bumbu-bumbu seperti bawang putih, bawang merah, kemiri, kunir, gula dan garam. Semua bahan kemudian dicuci bersih untuk menjaga agar tetap higienis.
c. Pengambilan Daging Ikan Bandeng (Pemisahan Duri dan Kulit)
Bandeng yang telah dicuci bersih dan disortir kemudian dipisahkan antara daging, duri dan kulitnya. Duri yang telah dipisahkan kemudian dibuang agar ketika konsumen mengkonsumsi bandeng isi ini tidak lagi terganggu dengan duri bandeng yang terkenal halus. Dalam pengerjaan proses ini sangat dibutuhkan kehati-hatian karena
apabila kulit bandeng rusak maka kulit ini tidak dapat digunakan untuk proses selanjutnya.
d. Penggilingan Daging Bandeng
Daging bandeng yang telah dipisahkan dari kulit dan durinya lalu dicuci dan digiling kemudian ditiriskan untuk mengurangi kadar air dan nantinya dicampurkan dengan bahan isian.
e. Pembuatan Bahan Isian
Daging sapi, ayam dan udang yang digunakan untuk isian digiling sesuai jenisnya baru kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu dan bahan-bahan lain sehingga membentuk adonan.
f. Pengisian Bahan Isian ke Dalam Bandeng
Bahan-bahan isian yang telah berbentuk adonan kemudian dicampur dengan daging bandeng yang telah digiling setelah itu dimasukkan ke dalam kulit bandeng untuk selanjutnya menjalani proses pemanggangan.
g. Pemanggangan
Bandeng isi yang telah siap kemudian dipanggang menggunakan oven dengan temperatur 140derajat celcius selama kurang lebih 6
jam atau sampai bandeng berwarna kuning keemasan yang menandakan bahwa bandeng isi telah matang dan siap untuk dikemas.
h. Pengemasan
Proses terakhir yaitu proses pengemasan. Bandeng yang telah melalui proses pemanggangan kemudian dikemas dalam kemasan
56
plastik kedap udara dengan menggunakan alat vacuum agar tahan
lama. Kemudian bandeng dimasukkan ke dalam kemasan karton untuk kemudian siap dipasarkan
Untuk skema proses produksi bandeng isi dapat dilihat pada Gambar 4.
Bumbu Bahan Isian (Daging Sapi, Ayam, dan Udang)
Digiling
Pencampuran
Sapi Udang Ayam
Pemanggangan (oven) Pengemasan (vacuum) Pencucian Awal Pembuangan Sisik Pencucian Kedua
Pemisahan Daging, Duri, dan Kulit Bandeng
Daging Bandeng Kulit Bandeng
Digiling
Ditiriskan (Untuk Mengurangi Kadar Air
Pencampuran
Pengisian Adonan
e) Hasil Analisis Aspek Teknis
Dari hasil analisis terhadap aspek teknis, dapat dikatakan bahwa pengusahaan pembuatan bandeng isi yang dilakukan oleh BANISI adalah layak untuk dijalankan. Tidak ada masalah yang dapat menghambat jalannya kegiatan usaha pembuatan bandeng isi ini. Usaha ini pun telah dilegalkan oleh pemerintah daerah setempat melalui surat izin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat.
6.1.3 Aspek Bahan Baku
Aspek bahan baku merupakan salah satu aspek yang perlu diteliti pada suatu usaha terutama untuk jenis usaha yang menggunakan bahan baku produk