• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

B. Hasil Penelitin

1. Uji Asumsi klasik

Suatu model regresi yang baik adalah yang memenuhi asumsi klasik yaitu,uji normalitas, multikolinieritas, autokorelasi,dan heteroskedastisitas sebelum dilakukan pengujian hipotesis. Berikut penjelasan uji asumsi klasik yang akan dilakukan penelitian ini.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel pengganggu (residual) dalam model regresi, apakah memiliki distribusi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas menggunakan kolmogrov-Sminov (K-S) sehingga apabila nilai signofikansi K-S >0,05 maka data

terdistribusi secara normal, sedangkan apabila nilai K-S < 0,05 maka tidak terdistribusi secara normal.

Table 4.4

Hasil Uji One Sample Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 108

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation .44950819

Most Extreme Differences Absolute .143

Positive .143

Negative -.092

Test Statistic .143

Asymp. Sig. (2-tailed) .000c

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Sumber: Data yang diolah SPSS

Berdasarkan hasil dari uji normalitas dapat dilihat dari tabel 4.4 menunjukan bahwa nilai Kolmogorov-smirnov sebesar 0.143 serta tingkat signifikansi pada 0,000 yang artinya data tidak berdistribusi normal. Kemudian dilakukan penghapusan dua data yaitu perusahaan yang memiliki nilai ekstrim yaitu INAF dan SCCO. Selanjutnya

dilakukan transformasi data dengan menggunakan SQRT dan hasil uji normalitas setelah menggunakan cara tersebut adalah sebagai berikut:

Table 4.5 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 62

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation .27391387

Most Extreme Differences Absolute .108

Positive .108

Negative -.046

Test Statistic .108

Asymp. Sig. (2-tailed) .071c

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Sumber: Data yang diolah SPSS

Berdasarkan hasil dari uji normalitas dapat dilihat dari tabel 4.14 yang menunjukan bahwa nilai kolmogorov-Smirnov sebesar 0.108 serta tingkat signifikansi pada 0,71 dan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05. Dengan ini maka dapat disimpulkan bahwa variabel pengganggu berdistribusi normal atau memenuhi asumsi normalitas.

b. Uji Multikorelasi

Uji Multikorelasi ialah bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar bebas(independen).model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi

korelasi diantara variabel bebas (independen ). Jika variabel independen saling berkorelasi maka variabel-variabelnya tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang yang nilai korelsi antar sesama independen sama dengan nol. Untuk mengetahui ada dan tidaknya multokolinieritas didalam model regresi adalah sebagai berikut:

1. Nilai R² yang dihasilkan oleh estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen (umumnya diatas 95%) maka hal ini merupakan adanya indikasi multikolonerietas. Multikolinerietas dapat disebabkan karenan adanya efek kombinasi adanya dua atau lebih variabel independen.

3. Multikolinieritas bisa juga dilihat dari (1) nilai tolernsi dan lawannya (2) variance infaltions faktor (VIF). Kedua faktor tersebut menunjukan setiap variabel independen yang mana dijelaskan oleh variabel lainnya. Dalam pengertian yang sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel lainnya tolerance mengukur semua variabel independen lainnya, jadi kesimpulannya nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF

tinggi( karena VIF = 1/ Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukan adanya multikolinieritas adalah nilai toleransi ≤ 0.10 atau sama dengan nila VIF ≥ 10. Setiap peneliti memiliki tingkat kolinieritas yang berbeda-beda dan harus bisa menentukan tolerir. Sebagai misal nilai tolerance = 0.10 sama dengan tingkat kolinieritas0.95. walaupun kolinieritas dapat dideteksi dengan nilai toleranve dan VIF, akan tetapi kita masih belum mengetahui variabel-variabel independen yang saling berkolerasi.

Table 4.6 Uji Multikolinieritas

Sumber : Data diolah SPSS

Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1 (Constant)

Current Ratio .558 1.793

Acid Test Ratio .642 1.559

Gross Profit Margin .951 1.052

Net Profit Margin .477 2.094

Return On Ivestment .447 2.240

Debt To Equity Ratio .052 19.130

Multiplier Equiti .051 19.535

a. Dependent Variable: Return Saham

Pada Uji Multikolinieritas terjadi Uji multikolonieritas dan menghapus variable debt to equity ratio karenanya kecil dibandingkan dengan variable yang lain. Pada bagian coefficient terlihat untuk kedua variabel, angka VIF CR yaitu sebesar 1.793, ATR sebesar 1.559 , GPM sebesar 1.052 , NPM sebesar 2.094 , ROI sebesar 2.240, DAR sebesar 19.130, MER sebesar 19.535.

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai VIF seluruh variabel lebih dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0,1 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas mempunyai masalah dengan multikolonieritas. Selanjutnya hasil uji multikolonieritas setelah penghapusan DER adalah sebagai beikut.

Tabel 4.7 Uji Multikolinieritas

Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1 (Constant)

Current Ratio .489 2.043

Acid Test Ratio .663 1.507

Gross Profit Margin .949 1.054

Net Profit Margin .473 2.113

Return On Ivestment .442 2.264

Debt To Asset Ratio .743 1.346

Multiplier Equiti .813 1.229

a. Dependent Variable: Return Saham

Sumber : Data yang diperoleh SPSS

Pada bagian coefficient terlihat untuk kedua variabel, angka VIF CR yaitu sebesar 2.043, ATR sebesar 1.507, GPM sebesar 1.054, NPM sebesar 2.113, ROI sebesar 2.264, DAR sebesar1.346, MER sebesar1.229.

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai VIF seluruh variabel kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0,1 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas tidak mempunyai masalah dengan multikolonieritas.

a. Uji Autokrelasi

Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan penggangu pada periode t-1(sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena adanya observasi yang runtut sepanjang waktu berkaitan satu dengan yang lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penggangu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan dalam runtut waktu karena gangguan pada seseorang individu atau kelompok yang sama pada periode berikutnya. Pada data cressection (silang waktu) masalah autokorelasi relatif jarang terjadi karena gangguan pada observasi yang berbed individu maupun kelompok yang berbeda. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.

Table 4.8 Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 .386a .149 .039 .29113 2.139

a. Predictors: (Constant), ME, ROI, GPR, ACTR, DEA, CR, NPM b. Dependent Variable: RS

Sumber: data yg diolah SPSS

Setelah melakukan pengujian menggunakan pengujian Durbin-Watson dengan menggunakan SPSS versi 22 dapat diketahui bahwa nilai Durbin-Watson.

Menunjukan hasil sebesar 2,139. Dengan 7 variabel bebas dan n = 108 diketahui du adalah 1,826 dan 4 – du = 2,326 maka diperoleh 1,826 < 2,139 < 2,174 sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

Tabel 4.9

Hasil Uji Autokorelasi

du < d < 4 – du Keterangan

1,826 < 2,139 <2,174 Tidak ada gejala autokorelasi Sumber: Hasil Olah Data SPSS

Sehingga hasil perhitungan uji durbin watson yaitu du < d < 4 – du yang berarti regresi tidak ada masalah autokorelasi

a. Uji Heteroskedastisitas

Table 4. 10 Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan grafik scatterplot menunjukan bahwa tidak ditemukan pola tertentu dan titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi Heteroskedastisitas pada model regresi.

Dokumen terkait