• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

B. Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik dilakukan agar memperoleh hasil regresi yang bisa

dipertanggungjawabkan dan mempunyai hasil yang tidak bias atau disebut Best Linier Unbiaxed Estimator (BLUE). Dari pengujian tersebut asumsi-asumsi yang harus dipenuhi adalah tidak terdapat korelasi yang erat antara variabel independen

(multikolinearitas), tidak terdapat korelasi residual periode t dengan t -1.

B.1. Uji Normalitas

Uji asumsi klasik ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam

model regresi, variabel dependen dan independen keduanya memiliki

distibusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki distribusi data

yang normal atau mendekati normal (Ghozali, 2007) Asumsi normalitas

dianggap terpenuhi bila data yang digunakan cukup besar (N>30). Untuk

menguji normalitas dapat digunakan Scatterplot diagram (test statistic). Pendekatan dalam pengujian kenormalitasan residual dapat dibentuk melalui

Menurut Ghozali (2005), normalitas dapat dideteksi dengan melihat

penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat

histogram dari residu. Adapun dasar pengambilan keputusan:

1) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis

diagonal atau grafik histogram menunjukkan pola distribusi normal,

maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti

garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi

normal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Secara statistik uji normalitas juga dapat dilakukan dengan

menggunakan one sample kolmogorov-Smirnov test. Jika nilai sig (2-tailed) lebih besar dari tingkat signifikan (0,05), maka mengindikasikan variabel

independen terdistribusi normal. Selain itu,uji normalitas dapat juga dilihat

melaui grafik histogram dan grafik normal plot.

B.2. Uji Heteroskedastisitas

Menurut Erlina (2008:106), “uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain.” Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut homoskedastisitas. Sebaliknya jika varians berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang

baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.

Untuk melihat ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan

residualnya. Deteksi ada tidaknya heterokedastisitas dilakukan dengan

melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot dengan dasar analisis:

1) jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola

tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit),

maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

2) jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik menyebar di atas dan di bawah

angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali,

2005:105).

B.3. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka

dikatakan ada problemautokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi

yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini

timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu

observasi ke observasi yang lain.

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi digunakan uji

Durbin Watson Test (DW Test) sebagai pengujinya dengan taraf signifikansi (α) = 5%. Dasar pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi dari Prof. Singgih sebagai berikut :

a) Angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif,

c) Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

B.4. Uji Multikolinieritas

Multikoliniearitas diartikan sebagai hubungan linier yang sempurna

antara beberapa atau semua variabel bebas. Tujuan dilakukan pengujian

multikoliniearitas adalah mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan

adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Apabila

variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel ini tidak ortogonal. Variabel

ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama

variabel = 0.

Menurut Sudarmanto (2013 : 225) untuk mendeteksi ada tidaknya

multikoliniearitas dalam suatu model regresi adalah sebagai berikut :

1. Adanya perubahan yang kecil pada data yang mengakibatkan perubahan

yang signifikan pada variabel yang diamati.

2. Adanya koefisien R2 (koefisien determinasi) yang sangat tinggi akan

tetapi koefisien standar error dan tingkat signifikansi masing-masing variabel sangat rendah.

3. Harga koefisien masing-masing variabel tidak searah dengan hipotesis

yang diajukan.

Asumsi tidak adanya hubungan yang linear ini (multikolinearitas), akan

mengakibatkan :

1. tingkat ketelitian koefisien regresi sebagai penduga sangat rendah, dengan

2. koefisien regresi serta ragamnya akan bersifat tidak stabil, sehingga

adanya sedikit perubahan pada data mengakibatkan ragamnya berubah

sangat berarti.

3. tidak dapat memisahkan pengaruh tiap – tiap variabel bebas (independen) secara individu terhadap variabel terikatnya (dependen).

Ada beberapa cara yang sering digunakan untuk membuktikan ada atau

tidaknya multikolinearitas, yaitu :

1. Uji multikolinearitas dengan menggunakan korelasi product moment. Apabila menggunakan koefisien korelasi produk momen, maka harga

koefisien korelasi hitung harus dibandingkan dengan harga koefisien

korelasi tabel untuk df = N-1-1 dengan alpha 5%. Ketentuan yang

digunakan sebagai berikut.

a) Apabila harga koefisien rhitung < rtabel,maka Ho diterima yang berarti

tidak terjadi adanya multikolinearitas antara variabel indevenden.

b) Apabila harga koefisien rhitung > rtabel,maka Ho ditolak yang berarti

terjadi multikolinearitas antara variabel indevenden.

2. Uji multikolinearitas dengan menggunakan variance inflation factor

(VIF).

Dalam menggunakan korelasi variance inflation factor (VIF) hanya dengan melihat apakah harga koefisien VIF untuk masing-masing variabel

independen lebih besar daripada 10 atau tidak. Apabila harga koefisien VIF

untuk masing-masing variabel independen lebih besar daripada 10, maka

menggunakan VIF untuk menguji hipotesisnya, maka kriteria atau ukuran

yang digunakan adalah :

a) Apabila harga koefisien VIF hitung pada Collinearity Statistics sama dengan atau lebih kecil daripada 10 (VIF hitung ≤ 10), maka Ho diterima yang berarti tidak terdapat hubungan antarvariabel independen (tidak

terjadi multikolinieritas).

b) Apabila harga koefisien VIF hitung pada Collinearity Statistics lebih besar daripada 10 (VIF hitung > 10), maka Ho ditolak yang berarti terdapat

hubungan antarvariabel independen (terjadi multikolinearitas).

(Sudarmanto , 2013 : 239)

Dokumen terkait