• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi yang ada pada saat ini, antara lain:

1. Sebaiknya Perusahaan Asuransi maupun pemegang polis menaati

kewajiban-kewajibannya yang telah ditetapkan sebelumnya, agar hak-hak kedua pihak juga dapat dipenuhi, serta diperlukan kejelasan dari isi pasal-pasal dalam polis sehingga dapat dipahami pemegang polis maupun perusahaan asuransi, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat menimbulkan sengketa, dan merugikan kedua belah pihak.

2. Sebaiknya lembaga Otoritas Jasa Keuangan sebagai pengawas kegiatan jasa

keuangan harus lebih independen, transparansi dan akuntabilitas, jangan hanya berupa peraturan yang ditulis tanpa dilaksanakan, untuk dapat menunjukan bahwa Otoritas Jasa Keuangan dapat memberikan kinerja yang baik dan maksimal dengan bukti keadaan sektor jasa keuangan yang lebih baik dari sebelum terbetuknya Otoritas Jasa Keuangan.

3. Sebaiknya diatur mengenai aspek perlindungan hukum (legal protection) bagi karyawan pengawas OJK dan dituangkan ke dalam peraturan hukum, misalnya Peraturan OJK. Hal ini bertujuan agar ke depannya dalam pelaksanaan tugas pengawasan, para OJK lebih percaya diri untuk melakukan tindakan hukum. Selain itu juga penting untuk dibentuk suatu peradilan khusus (specialist tribunal) di lingkungan OJK, sebagai bentuk akuntabilitas yang bersifat ajudikatif.

A.Asuransi sebagai Bentuk Perjanjian Pengalihan Risiko

Perasuransian adalah istilah hukum (legal term) yang dipakai dalam perundang-undangan dan Perusahaan Perasuransian. Istilah perasuransian berasal dari kata “asuransi” yang berarti pertanggungan atau perlindungan atas suatu objek dari ancaman bahaya yang menimbulkan kerugian. Apabila kata “asuransi”

diberi imbuhan per-an, maka muncul istilah hukum “perasuransian”, yang berarti

segala usaha yang berkenaan dengan asuransi.19

Menurut teori pengalihan risiko (risk transfer theory), tertanggung menyadari bahwa ada ancaman bahaya terhadap harta kekayaan miliknya atau terhadap jiwanya. Jika bahaya tersebut menimpa harta kekayaan miliknya atau terhadap jiwanya, dia akan menderita kerugian atau korban jiwa atau cacat raganya. Secara ekonomi, kerugian material atau korban jiwa atau cacat raga akan mempengaruhi perjalanan hidup seseorang atau ahli warisnya. Tertanggung sebagai pihak yang terancam bahaya merasa berat memikul beban risiko yang

sewaktu-waktu dapat terjadi.20

Manusia memang tidak ingin menderita kerugian dan untuk itu ia berusaha untuk mencegahnya. Tetapi dapat juga terjadi bahwa karena tindakan pencegahan itu memerlukan biaya dan orang tersebut tidak mampu

19 Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 5.

20

menyediakannya, maka ia pasrah pada risiko itu. Bahkan juga mungkin bahwa seseorang itu sejak semula dengan menyadari adanya sesuatu risiko dan apabila risiko itu nanti terwujud, dia pasrah saja akan menerimanya sebagai sesuatu yang sudah menjadi tersirat dan tersurat sebagai nasibnya. Berat tidaknya sesuatu kerugian/kehilangan adalah tergantung pada ukuran orang yang kehilangan itu sendiri. Bukan berarti bahwa dengan sikap pasrah itu, orang tersebut menyambut baik kehilangan/kerugian yang dideritanya. Ia menerima keadaan tersebut karena ia mungkin tidak dapat berbuat apa-apa. Sikap menerima atau sikap pasrah ini belum tentu berarti menghilangkan penderitaan material maupun moral bagi yang kehilangan, kecuali mungkin bagi orang-orang yang sudah kaya atau

berkecukupan atau berkelebihan.21

Risiko dapat diklasifikasikan sebagai berikut:22

1. Speculative risk, yaitu risiko yang bersifat spekulatif yang bisa mendatangkan rugi atau laba. Misal: seorang pedagang bisa untung atau rugi dalam usahanya. 2. Pure risk, yaitu risiko yang selalu menyebabkan kerugian. Perusahaan

Asuransi beroperasi dalam bidang pure risk (kematian, kapal tenggelam, kebakaran, dan sebagainya).

Beban risiko dapat dikurangi atau dihilangkan apabila pihak tertanggung berupaya mencari jalan kalau ada pihak lain yang bersedia mengambil alih beban risiko ancaman bahaya dan dia sanggup membayar kontra prestasi yang disebut premi. Dalam dunia bisnis perusahaan Asuransi selalu siap menerima tawaran dari pihak tertanggung untuk mengambil alih risiko dengan imbalan pembayaran

premi. Tertanggung mengadakan asuransi dengan tujuan mengalihkan risiko yang mengancam harta kekayaan atau jiwanya. Dengan membayar sejumlah premi kepada perusahaan asuransi (penanggung), sejak itu pula risiko beralih kepada penanggung. Apabila sampai berakhirnya jangka waktu asuransi tidak terjadi peristiwa yang merugikan, penanggung beruntung memiliki dan menikmati premi

yang telah diterimanya dari tertanggung.23

Pengalihan risiko dari tertanggung kepada penanggung diimbangi pembayaran premi oleh tertanggung terutama dalam perjanjian asuransi seimbang beratnya dengan risiko yang dialihkan, meskipun dapat diperjanjikan kemungkinan prestasi itu tidak perlu seimbang. Dalam perjanjian untungan (chance agreement) para pihak sengaja melakukan perbuatan untung-untungan yang tidak bisa digantungkan pada prestasi yang seimbang, misalnya

pada perjudian dan pertaruhan.24

Perbedaan antara asuransi dengan perjudian antara lain:25

1. Asuransi terutama bertujuan untuk mengurangi risiko yang sudah ada dalam

masyarakat, dengan jalan mempertanggungkan pada Perusahaan Asuransi (reducing of risks).

2. Asuransi mempunyai sifat sosial terhadap masyarakat, berarti dari risiko-risiko

yang ada akan ditanggung oleh perusahaan asuransi. Dengan adanya asuransi akan memberikan keuntungan-keuntungan tertentu pada masyarakat umumnya (jaminan hari tua, pendidikan anak-anak dan sebagainya).

23 Abdulkadir MuhammadOp.Cit., hlm. 13. 24 Ibid., hlm. 16.

25

3. Besarnya risiko (kerugian) yang timbul bisa kita ketahui mengenai kerugian yang diderita, dalam arti diukur (degree of risks) atau bisa kita tentukan risiko tersebut.

4. Kontrak asuransi dibuat secara tertulis dan mengikat pihak-pihak yang

mengadakan perjanjian.

Usaha pembentuk undang-undang di dalam menanggulangi atau mencegah adanya perjudian atau pertaruhan yang berlatar belakang asuransi ini menciptakan Pasal 254 KUHD ialah, “Apabila pada waktu mengadakan suatu pertanggungan atau selama berlangsungnya perjanjian itu, suatu pihak menyatakan melepaskan hal hal yang oleh ketentuan undang-undang diharuskan sebagai pokok suatu perjanjian pertanggungan, ataupun hal-hal yang dengan tegas telah dilarang, maka pernyataan yang demikian itu adalah batal.”

Menurut ketentuan Pasal 256 KUHD, setiap polis kecuali mengenai asuransi jiwa harus memuat syarat-syarat berikut ini:

1. Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi.

2. Nama tertanggung untuk diri sendiri atau untuk pihak ketiga.

3. Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan.

4. Jumlah yang diasuransikan.

5. Bahaya-bahaya/evenemen yang ditanggung oleh penanggung.

6. Saat bahaya/envenemen mulai berjalan dan berakhir yang menjadi tanggungan

penanggung.

8. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh penanggung dan segala janji-janji khusus yang diadakan antara pihak.

Disamping syarat-syarat khusus tersebut, dalam polis harus dicantumkan juga berbagai asuransi yang diadakan lebih dahulu, dengan ancaman batal jika tidak dicantumkan. Berbagai asuransi yang dimaksud adalah seperti tercantum dalam pasal KUHD berikut ini :

1. Reasuransi (Pasal 271 KUHD). 2. Asuransi rangkap (Pasal 252 KUHD). 3. Asuransi Insolvabilitas (Pasal 280 KUHD).

4. Asuransi kapal yang sudah berangkat berlayar (Pasal 603 KUHD).

Hukum asuransi memiliki hubungan antara penanggung dan tertanggung, dimana penanggung menerima pengalihan risiko dari tertanggung dan tertanggung membayar sejumlah premi sebagai imbalannya. Apabila premi tidak dibayar, asuransi dapat dibatalkan atau setidak-tidaknya asuransi tidak berjalan. Premi harus dibayar terlebih dahulu oleh tertanggung karena tertanggunglah pihak yang

berkepentingan.26

Asuransi sebagai perjanjian timbal balik memiliki sifat konsensual, yang artinya sejak terjadi kesepakatan timbullah kewajiban dan hak kedua belah pihak. Akan tetapi, asuransi baru berjalan jika kewajiban tertanggung membayar premi telah dipenuhi. Dengan kata lain, risiko atas benda beralih kepada penanggung sejak premi dibayar oleh tertanggung. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa ada

26

tidaknya asuransi ditentukan oleh pembayaran premi. Premi merupakan kunci

perjanjian asuransi.27

Biasanya pihak-pihak mencantumkan klausula dalam polis yang menyatakan: “Premi harus dibayar di muka (pada waktu yang telah ditentukan)”. Jika premi tidak dibayar pada waktu yang ditentukan, maka asuransi tidak berjalan. Jika terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, penanggung tidak

berkewajiban membayar klaim tertanggung.28

Berakhirnya perjanjian asuransi disebabkan oleh beberapa hal sebagai

berikut:29

1. Jangka waktu berlakunya telah habis

Asuransi biasanya diadakan atau diperjanjikan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan, misalnya satu tahun. Jangka waktu ini biasanya untuk jenis-jenis asuransi kendaraan dan kebakar. Selain itu ada juga dengan jangka waktu sepuluh sampai dengan lima belas tahun atau lebih, biasanya untuk asuransi jiwa, dan pendidikan. Lamanya jangka waktu tersebut biasanya ditetapkan dalam polis. KUHD tidak ada mengatur secara tegas tentang jangka waktu asuransi. Apabila jangka waktu yang ditentukan itu habis, maka asuransi berakhir. Lain halnya dengan asuransi di Inggris, asuransi yang ditentukan jangka waktunya tidak boleh melebihi 12 (dua belas) bulan. Asuransi yang diadakan untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan adalah batal.

27 Ibid., hlm. 104. 28 Ibid., hlm. 104.

2. Perjalanan berakhir

Selain dari jangka waktu tertentu, ada juga pertanggungan yang berlakunya itu berdasarkan pada suatu tenggang waktu perjalanan. Misalnya asuransi yang diadakan untuk perjalanan kapal. Jika perjalanan tersebut berakhir atau barang yang ditanggung itu sampai dengan tujuan maka asuransi juga berakhir. Asuransi ini biasanya diadakan untuk asuransi pengangkutan, baik pengangkutan barang maupun penumpang dari atau tempat pemberangkatan ke tujuan.

3. Terjadinya evenemen (peristiwa yang menimbulkan kerugian) diikuti klaim.

Di dalam polis dinyatakan terhadap peristiwa atau bahaya apa saja asuransi itu diadakan. Jika sementara asuransi berjalan terjadi peristiwa (evenemen) yang ditanggung itu dan menimbulkan kerugian, penanggung akan mengadakan penyelidikan apakah benar tertanggung mempunyai kepentingan atas benda yang diasuransikan. Di samping itu apakah terjadinya peristiwa itu betul-betul bukan dari kesalahan tertanggung dan sesuai dengan evenemen yang telah ditetapkan dalam polis.

4. Asuransi berhenti atau dibatalkan

Asuransi dapat berakhir jika asuransi itu berhenti. Berhentinya asuransi dapat terjadi karena kesepakatan antara tertanggung dan penanggung, misalnya karena premi tidak dibayar, dan ini biasanya diperjanjikan di dalam polis. Berhentinya asuransi juga dapat terjadi karena faktor-faktor diluar kemauan pihak-pihak. Misalnya terjadi pemberatan risiko setelah asuransi berjalan (Pasal 393 dan 638 KUHD).

5. Asuransi gugur

Asuransi gugur biasanya terdapat pada asuransi pengangkutan, dimana jika barang yang akan diangkut diasuransikan kemudian tidak jadi diangkut, maka asuransi gugur. Tidak jadi diangkut dapat terjadi karena kapal tidak berangkat atau baru akan melakukan perjalanan, tetapi dihentikan. Di sini penanggung belum menjalani bahaya sama sekali (Pasal 635 KUHD). Dalam hal ini asuransi bukan dibatalkan atau batal, melainkan gugur. Perbedaan asuransi dibatalkan atau batal dengan asuransi gugur adalah pada bahaya envenemen nya. Pada asuransi dibatalkan atau batal, bahaya sedang atau sudah dijalani, sedangkan pada asuransi gugur, bahaya belum dijalani sama sekali.

Perjanjian asuransi itu mempunyai tujuan untuk mengganti kerugian pada tertanggung, jadi tertanggung harus dapat menunjukkan bahwa dia menderita kerugian. Di dalam asuransi itu, setiap waktu selalu dijaga supaya jangan sampai seorang tertanggung yang hanya bermaksud menyingkirkan suatu kerugian saja dan mengharapkan suatu untung menikmati asuransi itu dengan cara memakai spekulasi, yang penting ialah bahwa tertanggung harus mempunyai kepentingan bahwa kerugian untuk mana ia mempertanggungkan dirinya itu tidak akan

menimpanya.30

Apabila ternyata penanggung wajib memberikan ganti kerugian atau sejumlah uang dalam perjanjian asuransi dan ternyata melakukan ingkar janji, maka pemegang polis dapat menuntut penggantian biaya, rugi, dan bunga dengan memperhatikan Pasal 1267 KUHPerdata yang menyatakan bahwa pihak terhadap

siapa perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih apakah ia, jika hal itu masih dapat dilakukan, akan memaksa pihak yang lain untuk memenuhi perjanjian, disertai

penggantian biaya, kerugian dan bunga.31

B.Pendirian Perusahaan Perasuransian Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014

Pengertian perusahaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya disebut KBBI) adalah kegiatan (pekerjaan dan sebagainya) yang diselenggarakan dengan peralatan atau dengan cara teratur dengan tujuan mencari keuntungan (dengan menghasilkan sesuatu, mengolah atau membuat

barang-barang, berdagang, memberikan jasa, dan sebagainya). 32 Pengertian lain

menyebutkan arti kata Perusahaan secara Terminologis adalah tubuh atau alat tubuh, aturan, susunan, perkumpulan dari kelompok tertentu dengan dasar

ideologi bersama”. Arti kata Perusahaan secara etimologis perusahaan adalah

kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relatif yang terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Pengertian perusahaan menurut Abdulkadir Muhammad di dalam bukunya Pengantar Hukum Perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa berdasarkan tinjauan hukum, istilah perusahaan mengacu pada badan hukum dan perbuatan badan usaha dalam menjalankan usahanya. Lebih lanjut, perusahaan

31 Man Suparman Sastrawidjaja, Hukum Asuransi Perlindungan Tertanggung Asuransi Deposito Usaha Perasuransian (Bandung: Penerbit Alumni, 1997), hlm. 11.

32

adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi.

Unsur-unsur perusahaan dinventarisasikan oleh Abdulkadir Muhammad

berdasarkan dari beberapa definisi perusahaan yaitu sebagai berikut:33

1. Badan usaha

Badan usaha yang menjalankan kegiatan dalam bidang perekonomian mempunyai bentuk hukum tertentu, seperti perusahaan dagang (PD), firma (Fa), persekutuan komanditer (CV), perseroan terbatas (PT), perusahaan umum (perum), perusahaan perseroan (persero), dan koperasi. Hal ini dapat diketahui melalui akta pendirian perusahaan yang dibuat di hadapan notaris, termasuk juga koperasi.

2. Kegiatan dalam bidang perekonomian

Kegiatan ini meliputi bidang perindustrian, perdagangan, perjasaan, dan pembiayaan.

3. Terus-menerus

Kegiatan dilakukan secara terus-menerus artinya, kegiatan tersebut sebagai mata pencaharian, tidak insidentil, dan bukan pekerjaan sambilan.

4. Bersifat tetap

Bersifat tetap artinya kegiatan itu tidak berubah atau berganti dalam waktu singkat, tetapi untuk jangka waktu lama. Jangka waktu tersebut ditentukan dalam akta pendirian perusahaan atau surat izin usaha.

5. Terang-terangan

Terang-terangan artinya ditujukan kepada dan diketahui oleh umum, bebas berhubungan dengan pihak lain, serta diakui dan dibenarkan oleh pemerintah berdasarkan undang-undang.

6. Keuntungan dan atau laba

Kegiatan perusahaan yang dijalankan dengan menggunakan sejumlah modal dengan tujuan utama memperoleh keuntungan dan atau laba.

7. Pembukuan

Pembukuan merupakan catatan mengenai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan kegiatan usaha suatu perusahaan.

Menurut Abdulkadir Muhammad ada tiga bentuk perusahaan yaitu

sebagai berikut:34

1. Perusahaan perseorangan

Perusahaan perseorangan adalah perusahaan swasta yang didirikan dan dimiliki pengusaha perseorangan.

2. Perusahaan bukan badan hukum

Perusahaan bukan badan hukum adalah perusahaan swasta yang didirikan dan dimiliki oleh beberapa orang pengusaha secara kerja sama.

3. Perusahaan badan hukum

Perusahaan badan hukum terdiri atas perusahaan swasta yang didirikan oleh beberapa orang pengusaha secara kerja dan perusahaan yang negara yang didirikan dan dimiliki oleh negara.

34

Pertama kali istilah perusahaan dalam perundang-undangan terdapat di dalam Pasal 6, 16, dan 36 KUHD, tetapi pengertian secara jelas dari perusahaan itu sendiri tidak termuat dalam KUHD. Sebelumnya terjadi perubahan terhadap KUHD yaitu Menurut L.N. 1938-276 yang mulai berlaku pada tanggal 17 Juli 1938, bab kesatu yang berkepala: “Tentang pedagang-pedagang dan tentang perbuatan dagang” dan meliputi Pasal 2, 3, 4, dan 5 telah dihapuskan. Menurut Chidir Ali, dengan perubahan tersebut dicantumkan istilah baru yaitu perusahaan (bedrijf; ondenting), yang di mana pengertian perusahaan jauh lebih luas dari

pengertian pedagang berdasar Undang-Undang yang lama.35

Dilihat dari jenisnya, perusahaan dapat dibagikan atas dua bagian, yaitu perusahaan milik negara dan perusahaan milik swasta. Perusahaan negara adalah perusahaan yang modalnya seluruhnya milik Negara Indonesia. Mengenai jenis

perusahaan ini juga ada bermacam-macam, yaitu :36

1. Perusahaan Negara berdasarkan IBW (Indonesisch Bedrijven Wet, S. 1927

419 bsd S. 1936 – 445). Perusahaan ini tiap-tiap tahun mendapat pinjaman

uang dengan bunga dari Pemerintah, misalnya DKA (Jawatan Kereta Api) dulu, dengan keuangan yang otonom. DKA ini selanjutnya menjadi PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api), yang dibentuk dengan PP Nomor 22 Tahun

1963 (LN 1963 – 43), dan sekarang PNKA ini menjadi PJKA (Perusahaan

Jawatan Kereta Api), yang dibentuk dengan PP Nomor 61 Tahun 1971 (LN

1971 – 75).

35 Chidir Ali, Badan Hukum, (Bandung: P.T. Alumni, 2011), hlm 102.

http://makalahdanskripsi.blogspot.co.id/2008/08/pengertian-perusahaan-swasta-2. Perusahaan Negara berdasarkan ICW (Indonesisch Compabiliteits Wet, S. 1925

– 448). Perusahaan Negara macam ini tidak mempunyai keuangan yang

otonom (keuangan sendiri). Keuangannya merupakan bagian dari keuangan Negara pada umunya, misalnya : Jawatan Pegadaian Negara. Perusahaan ini menjadi perusahaan Negara berdasarkan PP Nomor 178 Tahun 1961 (LN 1961 - 209), dan akhirnya menjadi perusahaan jawatan (Perjan Pegadaian)

berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1969 (LN 1969 – 9).

3. Perusahaan Negara berdasarkan Undang-Undang Nasionalisasi

perusahaan-perusahaan Belanda, yaitu Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 (LN 1958 –

162);

4. Perusahaan Negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 prp Tahun 1960

(LN 1960 – 59).Menurut Undang-Undang ini, yang disebut Perusahaan ialah

perusahaan dengan bentuk apa saja, yang modal seluruhnya merupakan kekayaan Negara Republik Indonesia, kecuali jika ditentukan lain berdasarkan undang-undang (Pasal 1, Undang-Undang Nomor 19 prp Tahun1960).

Sedangkan perusahaan swasta adalah perusahaan yang modalnya seluruhnya dimiliki oleh swasta dan tidak ada campur tangan pemerintah.

Perusahaan swasta ini ada tiga macam, yaitu:37

1. Perusahaan swasta nasional, yaitu perusahaan swasta milik warga

Negara Indonesia.

2. Perusahaan swasta-asing, yaitu perusahaan swasta milik warga Negara asing.

37 http://makalahdanskripsi.blogspot.co.id/2008/08/pengertian-perusahaan-swasta-dan.html (diakses tanggal 26 Februari 2016).

3. Perusahaan swasta campuran (joint-venture), yaitu perusahaan swasta milik warga negara Indonesia dan warga negara asing.

Secara prinsip perusahaan didirikan dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Usaha pokok dari sebuah perusahaan adalah kegiatan produksi yang menghasilkan produk berupa barang dan kegiatan penawaran berupa produk jasa. Garis besar sebuah perusahaan adalah mendapatkan keuntungan ekonomi secara maksimal dan sedapat mungkin mencegah kerugian atau menekan kerugian seminimal mungkin.

Pengertian perusahaan asuransi adalah suatu lembaga yang sengaja dirancang dan dibentuk sebagai lembaga pengambil alih dan penerimaan risiko. Dengan demikian, perusahaan asuransi pada dasarnya menawarkan jasa proteksi sebagai bentuk produknya kepada masyarakat yang membutuhkan, dan selanjutnya diharapkan akan menjadi pelanggannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan asuransi akan mengajak setiap pihak untuk bergabung ataupun bekerjasama untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan kerugian yang mungkin terjadi yang biasanya tidak disadari dan tidak siap dihadapi. Ada

beberapa definisi-definisi tentang asuransi antara lain:38

1. Definisi asuransi menurut Pasal 246 KUHD, asuransi atau pertanggungan

adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikat diri pada tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang

diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.

2. Definisi asuransi menurut Mehr dan Cammack, asuransi merupakan suatu alat

untuk mengurangi risiko keuangan, dengan cara pengumpulan unit-unit exposure dalam jumlah yang memadai, untuk membuat agar kerugian indivudu dapat diperkirakan. Kemudian kerugian yang dapat diramal itu dipikul merata oleh mereka yang tergabung.

3. Definisi asuransi menurut Mark R. Green, asuransi adalah suatu lembaga

ekonomi yang bertujuan mengurangi risiko, dengan jalan mengkombinasikan dalam suatu pengelolaan sejumlah objek yang cukup besar jumlahnya, sehingga kerugian tersebut secara menyeluruh dapat diramalkan dalam batas-batas tertentu.

4. Definisi asuransi menurut C. Arthur William Jr dan Richard M. Heins, yang

mendefinisikan asuransi berdasarkan dua sudut pandang, yaitu :

a. Asuransi adalah suatu pangaman terhadap kerugian financial yang dilakukan oleh seorang penanggung.

b. Asuransi adalah suatu persetujuan dengan mana dua atau lebih orang atau badan yang mengumpulkan dana untuk menanggulangi kerugian financial.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut mengenai definisi asuransi yang dapat mencakup semua sudut pandang asuransi adalah suatu alat untuk

mengurangi risiko yang melekat pada perekonomian, dengan cara

menggabungkan sejumlah unit-unit yang terkena risiko yang sama atau hampir sama, dalam jumlah yang cukup besar, agar probabilitas kerugiannya dapat

diramalkan dan bila kerugian yang diramalkan terjadi akan dibagi secara proporsional oleh semua pihak dalam gabungan itu.

Adapun beberapa prinsip-prisip asuransi yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh pemegang polis maupun perusahaan asuransi agar kontrak atau perjanjian asuransi berlaku (tidak batal). Adapun prinsip-prinsip pokok asuransi

sebagai berikut :39

1. Prinsip itikad baik (Utmost Good Faith)

Suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap, semua fakta yang material mengenai suatu yang akan diasuransikan baik diminta maupun tidak. Artinya adalah si penanggung harus dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat atau kondisi dari asuransi dan si tertanggung juga harus memberikan keterangan yang dipertanggungkan.

2. Prinsip kepentingan yang dapat diasuransikan (Insurable Interest)

Hal untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan, antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum.

3. Prinsip ganti rugi (Indemnity)

Suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan konpensasi financial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD Pasal 252, 253 dan dipertegas dalam Pasal 278).

4. Prinsip subrogasi (Subrogation)

Pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada penanggung setelah kliem dibayar.

5. Prinsip kontribusi (Contibution)

Hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya yang sama-sama menanggung, tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap tertanggung untuk ikut memberikan indemnity.

6. Prinsip sebab akibat (Proximate Couse)

Suatu penyebab aktif, efisien yang menimbulkan rantaian kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi suatu yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.

Pendirian usaha perasuransian yang diatur dalam UU

Perasuransianmenjelaskan bahwa asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi

penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk:40

Dokumen terkait