C. Hasil Penelitian
1) Atlet Disabilitas Netra
Pada saat dilakukannya pemusatan pelatihan nasional dalam tujuan yang ada di dalam organisasi NPC Indonesia maka sangat banyak kemungkinan terjadinya interaksi antara atlet disabilitas netra dengan pelatih dan pendamping.
Menurut atlet disabilitas netra FM dan AN merasa jika hubungan dengan pelatih dan pendamping pada saat latihan ataupun pertandingan itu berjalan dengan baik bahkan saat sudah tidak ada pelatnaspun masih terjalin dengan baik.
commit to user
“Baik baik aja sih mbak terus komunikasi juga baik. Sama pendampingpun juga sama baik mbak” (FM, 13 Januari 2021)
“Baik mbak baik sekali malah mbak bahkan pas nggak lagi pelatnas gini ya masih sering WAnan sih mbak” (AN, 14 Januari 2021)
Sama dengan penuturan atlet sebelumnya, NF juga merasa jika hubungannya dengan pelatih dan pendamping itu terjalin dengan baik bahkan juga merasa sudah nyaman.
“Kalau diri saya pribadi sih enak-enak aja sih mba. Sama semuanya hampir nyaman sih mba. Sama pendampingpun baik-baik aja juga sih mba nyaman aja” (NF, 12 Januari 2021)
Hampir sama dengan penuturan atlet sebelumnya, BS merasa netral saja hubungannya dengan pelatih dan pendamping karena tidak terlalu dekat dan pada intinya ia merasa terjalin baik-baik saja hubungannya.
“Hubungan sama pelatih saya biasa aja sih mba, orang yang deket juga enggak dan baiklah pokonya gitu mba. Sama pendamping juga baik Alhamdulillah” (BS, 11 Januari 2021) Tidak akan terjadi hubungan yang baik antara atlet disabilitas netra dengan pelatih dan pendamping apabila tidak terjadi sebuah komunikasi yang baik saat interaksi berlangsung. Seperti yang dikatakan oleh atlet AN dan FM bahwa pelatih dan pendamping sudah menjalankan komunikasi dengan baik dikarenakan apabila kita dari atlet belum paham pasti akan diajari sampai paham dan jika masih ada yang tidak paham akan didekati serta diajari sampai bisa.
“Sudah mbak, bener-bener pelatih itu ngajarin sampai kita paham betul mbak dibantu juga dengan asisten pelatih sama pendampingnya itu mbak” (AN, 14 Januari 2021)
“Sudah sih mbak, misalnya nih kan latihannya banyak atletnya mbak terus diajarin berbarengan terus ada yang nggak ngerti ya nanyak terus didatengin diajarin sampe bisa mbak” (FM, 13 Januari 2021)
commit to user
Kemudian salah satu atlet disabilitas netra yang bernama BS ia mengatakan bahwa komunikasi dengan pelatih dan pendamping saat berinteraksi sudah baik, tetapi terkadang pada saat pelatih menyampaikan suatu gambaran kepadanya itu penerimaannya tidak sama dengan apa yang digambarkan oleh pelatih apalagi BS yang merupakan atlet disabilitas netra kategori blind atau buta total. Menurutnya perlunya perabaan dan kontak fisik yang diarahkan sehingga bisa maksimal, tetapi semakin kesini BS mengatakan bahwa pelatih dan pendamping sudah memahami atlet disabilitas netra dan sudah melakukan hal tersebut.
“Komunikasi pada saat berinteraksi sudah baik menurut saya sih baik cuman terkadang gambarannya kita sama semakin kesini saya rasa pelatih juga semakin mempelajari kita kok mba” (BS, 11 Januari 2021)
Bukan hanya melakukan komunikasi dengan pelatih, tetapi atlet disabilitas netra menjalin komunikasi juga dengan sesama atlet disabilitas netra yang ada pada tim goalball. Menurut penuturan atlet FM dan AN komunikasi yang dilakukan atlet disabilitas netra dengan sesama atlet itu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka dikarenakan mereka berasal dari beberapa provinsi. Cara berkomunikasi juga disesuaikan dengan sifat lawan bicara dan bagaimana cara kita untuk memahami mereka.
“Emm pakai bahasa Indonesia aja sih mbak kalau pas latihan lebih ke ngobrol misalnya harusnya gimana nih terus kita harus gimana sih terus juga kayak lebih ke mengerti oh ini sifanya gini nih jadi kita harus gimana tuh uda paham mbak, terus kalau di luar latihan ya kayak pertemanan pada umumnya aja sih mbak” (FM, 13 Januari 2021)
“Ya pakai bahasa sehari-hari aja sih mbak kan satu tim dari beberapa provinsi nih mbak jadi ya kita gunain bahasa commit to user
Indonesia aja biar mereka juga pada paham. Karena kita disabilitas netra nih ya mbak jadi kita itu yang paling diutamain ya suara-suara gitu mbak” (AN, 14 Januari 2021) Tidak membatasi bahasa yang digunakan karena kebiasaan dalam menggunakan bahasa tiap orang itu berbeda. Seperti yang dikatakan atlet BS bahwa yang dari Sunda menggunakan bahasa Sunda dan yang dari Jawa ya menggunakan bahasa Jawa serta penggunaan bahasa tersebut fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kepada siapa mereka berbiacara karena pada dasarnya sama-sama belajar.
“Sesama atlet ya itu tergantung orangnya juga yah mba ada yang komunikatif, ada yang nggak gitu. Kita mah pakai bahasa sehari-hari aja mba. Saya dari sunda ya sering pake bahasa sunda terus temen dari jawa ya mereka pake jawa, fleksibel aja sih mba misal ada kesalahannya yaudah saling mahamin aja kalau misal engga ngerti ya kita ngobrol bukan berarti saling menyalahkan gitu” (BS, 11 Januari 2021) Lain halnya dengan atlet NF yang merasa komunikasi sudah baik tetapi karena ia memiliki sifat yang pendiam jadi ia jarang untuk ngobrol-ngobrol dengan atlet yang lain setelah selesai latihan, ia cenderung langsung masuk kamar. Tetapi jika ada waktu luang dan santai ia tetap akan menjalin komunikasi karena ia termasuk atlet baru sehingga butuh banyak ilmu dari teman-teman yang lain.
Menyamakan persepsi antara atlet dengan atlet ternyata juga sangat perlu agar tidak terjadi kesalahpahaman yang mana nanti akan berpengaruh pada saat pertandingan. Keempat atlet yaitu AN, commit to user
BS, NF, dan FM mengatakan hal yang sama jika mereka antar sesama atlet menyamakan persepsi dengan cara diskusi sesuai dengan apa yang telah disepakati.
“Ya tadi mbak kan sebelum tanding nih kan ditentuin yang main duluan siapa yang main nanti siapa terus kan setim tiga orang mbak yaudah tiga orang itu diskusi mbak pakai simbol apa ya ntar terus ntar kalau aku gini berarti aku minta bola ya atau aku mau lempar. Gitu sih mbak” (AN, 14 Januari 20210
“Diskusi sih mba pada saat akan pertandingan itu terus ngasih tahu juga ntar pake ini nih atau kalau aku gini artinya tuh gini” (BS, 11 Januari 2021)
“Ya diskusi dulu sih mba awalnya tuh terus lama-lama ada keterbiasaan yaudah terus jadi sama gitu mba persepsinya”
(NF, 12 Januari 2021)
“Ya dengan cara kompromi sama diskusi itu sih mbak sebelum game, kan buat keperluan kita sendiri mbak ngatur strategi” (FM, 13 Januari 2021)
Tidak hanya pelatih yang menilai atlet disabilitas netra memiliki daya ingat yang tinggi tetapi atlet disabilitas sendiri juga secara tidak langsung mengakui jika mereka memiliki daya ingat yang bisa dibilang cukup tinggi.
Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh atlet disabilitas netra FM dan NF yang mengakui bahwa dirinya memiliki daya ingat yang tinggi karena olahraga goalball itu membutuhkan hal tersebut agar dapat dengan cepat untuk memahami suatu arahan dari pelatih.
“Emm gimana ya mbak hehe insyaAllah lumayan sih mbak ya mungkin karena saya atlet goalball itu tadi mba terus kepilih juga jadi atlet timnas hehe terus kalau ada arahan pelatih saya yang langsung paham mbak biasanya” (FM, 13 Januari 2021)
“Kalau saya standar sih mba, memang kalau di goalball kan butuh daya ingat dan konsentrasi juga, terus kita juga cepat memahami teori yang pelatih kasih, kita juga cepet untuk mempraktekannya serta nggak mudah lupa gitu. Sedangkan saya sih Alhamdulillah yang mudah paham dan tidak mudah lupa mba” (NF, 12 Januari 2021) commit to user
Agak berbeda sedikit dengan ungkapan dari dua atlet sebelumnya, atlet disabilitas netra AN dan BS mengatakan bahwa dirinya memilki daya ingat yang tidak terlalu tinggi tetapi pada saat latihan ia merupakan atlet yang mudah mengingat intruksi pelatih dan menjadikan itu sebagai kebiasaan jadi bisa teringat terus.
“Emm gimana ya mbak ya nggak tinggi-tinggi banget sih mbak kalau menurut saya tuh hehe saya cenderung ya ada lupanya sih mbak tapi di luar lapangan kalau pas latihan gitu Alhamdulillah mbak saya yang mudah mengingat intruksi pelatih sih mbak hehe” (AN, 14 Januari 2021)
“Kalau tinggi banget juga nggak sih kayaknya bahkan apalagi hal-hal kecil tuh gampang lupa cuman kalau ke yang apa dipelajari lebih dijadiin ke habbit aja sih mba bukan masalah di ingatan.” (BS, 11 Januari 2021)
Atlet disabilitas netra juga memiliki sifat berperasaan peka atau sensitif dikarenakan penglihatan mereka yang terbatas dan hanya bisa mendengar suara-suara maka mereka lebih peka daripada manusia normal lainnya. Sama halnya dengan atlet disabilitas netra FM dan AN yang mengakui bahwa dirinya berperasaan peka dikarenakan dapat menilai teman atletnya yang sedang tidak seperti biasa hanya dengan perubahan sikap dan nada bicara dari temannya tersebut.
“Lumayan sih mbak. Misalnya kalau pas nggak latihan juga kan mbak biasanya tuh ngobrol sesama temen atau ngumpul-ngumpul gitu jadi tau aja sih misalnya si A lagi males yang B lagi badmood terus yang itu lagi capek atau sensitif kayak gitu-gitu sih mbak. Jadi mereka itu menunjukkannya dengan berperilaku nggak seperti biasanya aja sih, contohnya si A itu anaknya rame tapi kok tiba-tiba jadi pendiem gitu mbak.
Kayak fitri nih ya mbak kan totally blind jadi kayak nanya ke temen-temen terus nada suara aja gitu kerasa mba ya lebih ke insthink gitu mbak” (FM, 13 Januari 2021)
“Iya sih mbak soalnya tuh ya saya kalau temen saya nih yang biasanya cerewet kok jadi diem aja pasti dia ada masalah ya saya sih paling cuma nunggu aja kalau dia udah mau ngobrol mbak nggak berani nanya-nanyain gitu terus kalau temen saya setim ada yang nggak nyapa saya gitu saya merasa saya itu salah apa ya gitu-gitu sih mbak tapi ya saya commit to user
mikir yang positif-positif aja mbak mungkin dia lupa atau apa gitu hehe saya mah orangnya cuek dan bodoamatan mbak kalau nggak urusan saya itu saya nggak mau ikut campur” (AN, 14 Januari 2021)
Sama halnya dengan dua atlet sebelumnya, atlet BS juga mengungkapkan bahwa dirinya memilki perasaan yang peka karena pelatih salah ngomong kepada dia dan karena temannya melampiaskan kekesalan kepadanya akhirnya dia merasa tersinggung dan melakukan sebuh protes kepada pelatih.
“Iya kalau itu mah ngerasa sih mba kayaknya. Kalau saya gini mba temen ada yang emosian kan ada yang apa bahkan sekamar kayak gimana-gimana ketika dia nggak seneng kalau pelatih salah, saya mah ke pelatih juga ngelawan mba.
Soalnya pernah mba dulu temen saya emosian cuman ketika temen emosi, kan emosinya sama saya, kan nggak mungkin apalagi ke pelatih kan tapi saya itu paham kalau dia lagi emosi ke pelatih sampai saya pernah ngedatengin pelatih ini nggak bener kayak gini karena sebagai pelatih harus menyatukan tim dan harus menyatukan atlet jangan sampai karena pelatih justru kita jadi pecah pernah kayak gitu soalnya” (BS, 11 Januari 2021)
Selain dalam permasalahan antara sesama atlet pada saat diluar latihan, beda halnya dengan atlet disabilitas near NF yang merasa dirinya memiliki perasaan peka dikarenakan ia menyadari apabila teman kanan kirinya pada saat pertandingan atau latihan sudah merasa capek, ia bisa mengetahuinya karena perubahan sikap dari temannya. Dari hal tersebut ia membantu mengatasi tugas yang seharusnya dilakukan temannya tetapi karena temannya lelah ia membantunya.
“Ya lumayan mba hehe. Yang menggambarkan adalah di saat partner kita kanan kiri kelelahan kita tahu gitu lho bagaimana mengcover bola itu biar nggak terlalu banyak ke temen kita gitu lho mba, memang harus ngerti antar sesama temen mba, pelatih juga ngasih tahu kita kalau temen capek harus mengcover biar kondisi dia fit lagi baru kita kasih bola” (NF, 12 Januari 2021)
Masih dengan atlet yang memiliki perasaan peka, bahkan mereka tidak nyaman apabila tidak ditegur dan disapa oleh pelatih commit to user
maupun pendamping. Seperti yang ungkapkan oleh atlet disabilitas netra FM yang merasa bahwa terus menerus berpikiran jika dirinya melakukan sebuah kesalahan atau yang lainnya hingga menjadi overthinking apabila tidak ditegur dan disapa oleh pelatih maupun pendamping. Bahkan bukan hanya di tempat latihan, di rumahnya pun FM merasa tidak nyaman.
“Oh bener mbak fitri tuh nggak hanya disitu aja sih. Jadi fitri tuh perasaannya lebih ngerasa banget kalau misalnya nggak ditegur sama siapa entah di rumah atau dimanapun kalau nggak ditegur tuh kayak ngerasa kenapa yah kok nggak ditegur kayak takutnya ada yang salah atau apa gitu aja sih mbak bukan yang gimana-gimana juga hehe” (FM, 13 Januari 2021)
Sama halnya dengan atlet disabilitas netra AN dan BS merasa tidak nyaman apabila tidak ditegur dan tidak disapa oleh pelatihnnya ia merasa jika melakukan kesalahan sehingga membuat dirinya overthinking. Tetapi hal tersebut dibarengi dengan ia berpikiran positif terhadap pelatih karena merasa ada sebab tersendiri pelatih bertindak seperti itu.
“Ya kalau nggak ditegur pelatih atau nggak disapa sih ya nggak nyaman juga mbak lebih ke nggak enak ya mikir ajasih mbak saya punya salah apa ya kok sampai nggak ditegur tapi saya juga mikir mungkin pelatih lagi ada masalah mungkin kan namanya manusia pasti ada masalahnya masing-masing mbak hehe” (AN, 14 Januari 2021)
“Iya mba nggak nyaman karena kalau saya lebih baik ditegur ketika saya salah karena saya akan memperbaiki kesalahan saya gitu tapi kalau saya hanya didiemin ya perkembangan saya darimana. Kalau saya nggak disapa sih nggak masalah mba karena saya kan nggak tahu posisi pelatih tuh lagi kayak gimana kan mereka punya permasalahannya sendiri terkecuali gini mba sama yang lain ngobrol apa nuntun terus saya didiemin bahkan saya sedang kesulitan didiemin itukan berarti masalahnya jelas sama saya” (BS, 11 Januari 2021)
Serupa dengan ungkapan temnnya yang lain, atlet disabilitas netra NF juga terkadang merasa tidak nyaman apabila tidak ditegur dan tidak disapa karena NF lebih berpikiran positif jika commit to user
membutuhkan teguran dan sapaan agar komunikasi dengan pelatih bisa baik.
“Kadang merasa gitu mba soalnya yang namanya setiap atlet ya sejago-jagonya atlet pasti masih butuh arahan dari pelatih dan atlet jua nggak bisa melampaui kemampuan pelatih karena kan pelatih mempunyai keistimewaan sendiri dan atletpun punya keistimewaan sendiri jadi keduanya memang butuh komunikasi gitu mba, kalau nggak ditegur, nggak disapa, terus nggak dikritik atau nggak di apa ya pasti punya perasaan gimana gitu. Saya menyikapinya ya berusaha berpikiran positif gitu mba” (NF, 12 Januari 2021) Memang benar jika atlet disabilitas netra membutuhkan perlakuan khusus dikarenakan keterbatasan mereka. Tetapi atlet NF mengatakan bahwa perlakuan khusus tersebut hanya berlaku untuk hal-hal tertentu saja dan jangan sampai berlebihan karena akan berpengaruh kepada kemandirian atlet disabilitas netra.
“Setahuku sih mungkin perlu mba di hal-hal tertentu ada perilaku khusus tapi jangan terlalu diperlakukan khusus sih akhirnya nanti untuk hidup mandirinya nggak bisa gitu lho mba kalau terlalu diperhatiin” (NF, 12 Januari 2021)
Berbeda halnya dengan ketiga temannya AN, BS, dan FM yang mengatakan bahwa mereka tidak mau diperlakukan khusus karena mereka maunya diperlakukan seperti yang lain agar adil.
Tetapi keadaan yang ada pada diri mereka itu terbatas dan perlunya perlakuan khusus hingga kesabaran lebih juga.
“Nggak sih mbak saya mah yang biasa-biasa aja yang sama kayak lainnya aja mbak ya biar adil gitu mbak” (AN, 14 Januari 2021)
“Engga sih mba sama aja sama yang lain” (BS, 11 Januari 2021)
“Nggak sih mbak kalau fitri lebih seneng kalau disamain gitu sama yang lain mungkin paling tuh pelatih ya harus extra sabar ke kami yang atlet disabilitas netra mba” (FM, 13 Januari 2021)
Sikap atlet disabilitas netra yang dinilai tidak mudah percaya dengan orang lain itu memang benar dan diakui oleh atlet FM, AN, dan NF. Bukan sekedar semata-mata tidak mudah percaya dengan commit to user
orang lain tetapi mereka memiliki alasan untuk hal tersebut yaitu karena mereka memiliki ketakutan tersendiri dan mereka lebih berhati-hati serta mawas diri kepada dirinya sendiri.
“Mungkin sih mbak hehe. Lebih kayak takut aja sih mbak, karena fitri sendiri tuh orangnya kayak tertutup gitu kalau ke orang baru mbak emang sulit gitu kadang kalau buat cerita kalau bukan yang deket banget gitu mbak ya hati-hati buat diri fitri sendiri mbak” (FM, 13 Januari 2021)
“Ya gimana ya mbak soalnya saya itu ngerasa lebih ke mawas diri aja ya hati-hati gitu mbak soalnya takut gimana-gimana ya karena kondisi saya yang seperti ini mbak. Ya saya pahami dulu mbak tujuan orang itu apa misal kan kayak mbak nih buat skripsinya ya saya niatnya ngebantu aja sih mbak hehe” (AN, 14 Januari 2021)
“Iya mba kan memang nggak mudah percaya sama orang cuman kan bukannya nggak mau percaya cuman kan lebih ke berhati-hati aja gitu lho mba. Ya lebih ke diri sendiri aja sih mba lebih ke takut gimana-gimana gitu ya tetep menjaga perasaan orang, nggak langsung terbuka atau gimana juga mba” (NF, 12 Januari 2021)
Atlet disabilitas netra juga merasa apabila mereka inginnya bergabung dengan sesama disabilitas netra, seperti yang dikatakan atlet AN jika ia merasa nyaman apabila bergabung dengan sesama disabilitas netra. Hal tersebut karena AN merasa bahwa ada kesamaan apabila ia bergabung dengan sesama disabilitas netra jadi tidak ada gap diantara mereka.
“Emm iya sih mbak saya ngerasa nyaman aja kalau gabung sama sesama disabilitas netra ya karena kita kan sama-sama disabilitas netra jadi ya kayak sama aja gitu” (AN, 14 Januari 2021)
Tetapi berbeda dengan pernyataan sebelumnya, atlet BS, NF, dan FM menyebutkan bahwa mereka ingin juga bergabung dengan orang di luar disabilitas netra karena ingin melebur dan berangapan harus berkembang dengan cara bisa bergabung dengan segala jenis kalangan.
“Justru kalau saya mah enggak mba. Bukan nggak mau sama yang sesama tunanetra ya mba mohon maaf saya juga commit to user
seneng saya juga punya banyak temen-temen tunanetra tetapi saya seorang tunanetra saya harus berkembang, lingkungan saya itu bukan hanya ini saja dan keahlian saya jangan ini aja harus mengenal dunia luar untuk mengedukasi lah agar saya itu bisa menerima ilmu dari nondisabilitas” (BS, 11 Januari 2021)
“Nggak sih mba kalau aku semuanya tak gabungin gitu ngikut aja melebur ke orang lain” (NF, 12 Januari 2021)
“Emm nggak sih mbak kalau fitri sama siapa aja itu nyaman tapi kalau awal-awal tuh lebih kayak malu aja soalnya sebelumnya itu belum kenal gitu sih mbak” (FM, 13 Januari 2021)
Memang atlet disabilitas netra tidak dapat lepas dari hpnya dikarenakan pada saat pelatnas hp tersebut gunakan sebagai hiburan karena penatnya jadwal latihan pada saat itu. Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh atlet AN dan FM yang menggunakan hp disela-sela istirahat lathan untuk menonto youtube, mendengarkan lagu, menyanyi dengan aplikasi web singer, dan untuk komunikasi dengan keluarga.
“Kalau saya sih ya mbak sering banget pegang hp tuh kecuali pas latihan aja, ya jadi sering lah mbak kehitungnya hehe. Terus biasanya saya gunain buat liat-liat grup gitu mbak terus buka youtube nonton apa gitu mbak sama paling kontakan sama keluarga dan suami hehe. Hiburan banget soalnya kan jenuh mbak di hotel tuh mau ngapain bingung keluar kan juga nggak boleh mbak kalau nggak pas latihan”
(AN, 14 Januari 2021)
“Termasuk lama juga sih mba karena fitri tuh apa-apa gitu di hp sih mba jadi masuknya sering gitu lah mba hehe. Terus fitri kalau sekarang tuh lebih gunain buat misalnya hafalan, terus di youtube misal cari pengetahuan apa. Terus nyimak di group juga gitu sih mba. Buat hiburan juga, kadang tuh buat web singer terus youtubean buat denger lagu terus denger tutorial apa gitu sih mba” (FM, 13 Januari 2021) Hampir menyerupai ungkapan kedua atlet sebelumnya, atlet BS dan NF menggunakan hpnya untuk membuka video mengenai goalball dan untuk mencari di google mengenai lawan yang akan ditandingkan dengan tim Indonesia, commit to user
“Saya sekarang lebih sering banget sih mba. Karena hpnya
“Saya sekarang lebih sering banget sih mba. Karena hpnya