• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Hasil Penelitian

2) Pelatih dan Pendamping Atlet Disabilitas Netra

Dibalik terciptanya hubungan baik yang terjalin menurut atlet disabilitas netra terhadap pelatih dan pendamping. Adapun beberapa hal yang membuat hubungan tersebut menjadi baik.

Seperti penuturan H sebagai ketua pelatih bahwa beliau awalnya berbaur terlebih dahulu dengan mereka dan mencari cara untuk bagaimana menjalin komunikasi yang meskipun membutuhkan waktu dikarenakan mereka itu tidak langsung percaya dengan pelatih.

“… berbaur dan bagaimana cara kita berkomunikasi dengan mohon maaf atlet-atlet disabilitas khusunya tunanetra itu butuh waktu. Mereka tidak langsung percaya dengan pelatih itu karena mereka mempunyai pengertian bahwa dia itu lebih tahu daripada si pelatih untuk goalball seperti itu. Maka dari itu kita butuh proses beberapa tahun baru kita bisa menyatu dengan atlet” (H, 18 Desember 2020)

Mengenai jalinan hubungan pendamping dengan atlet disabilitas netra, hal tersebut juga diungkapkan oleh PP sebagaimana ia menjadi pendamping atlet disabilitas netra. Pada saat pelatnas memang setiap hari bersama-sama terus dengan atlet disabilitas netra. PP merasa hubungannya dengan atlet juga baik tidak ada masalah dikarenakan ia memposisikan atlet itu sebagai temannya tetapi teman yang memiliki batasan masing-masing.

“… jadi nggak ada masalah juga malah lebih akrab sih, ya kayak temen jadikan kalau pas ngobrol ya kayak temen biasa tapi dengan mas pandu ngasih tahu juga kita kayak temen aja akrabnya tapi harus ada batasan masing-masing kamu sebagai atlet dan saya sebagai pendamping, jadi ya udah sama-sama tahu batasan gitulah paling kalau ada masalah

commit to user

ya masalah kecil aja habis itu udah selesai” (PP, 22 Januari 2021)

Pada saat pendemi seperti sekarang ini, asisten pelatih D juga tetap melakukan komunikasi secara virtual melalui Whatsapp dengan para atlet agar komunikasi tersebut tidak hanya sebatas pada saat latihan saja.

“Selama ini sudah sih mbak, bahkan setelah pelatnas pun kita juga masih komunikasi lewat WA, kadang lewat voice note. Jadi komunikasi tidak terbatas hanya pada saat pelatnas saja” (D, 21 Desember 2020)

Komunikasi yang dilakukan oleh pelatih dan pendamping kepada atlet juga bisa menjadi salah satu faktor dari terciptanya sebuah interaksi. Dikarenakan keterbatasan atlet disabilitas netra untuk melihat, maka H mengungkapkan bahwa pada saat latihan dibantu dengan bunyi-bunyian seperti tepukan tangan, tepuk lantai, dan pantulan bola.

“… dengan itu karena mereka tunanetra mereka itu signal dalam latihan itu dengan bunyi-bunyian dengan suara tepukan tangan atau mungkin tepuk lantai itu bisa terus atau mungkin pantulan bola ada lagi dengan instruksi kanan kiri atau tengah seperti itu atau celah. Jadi dengan signal bunyi-bunyian itu” (H, 18 Desember 2020)

Sama halnya dengan ungkapan di atas, PP mengatakan bahwa atlet disabilitas netra pasti penglihatan itu kurang sehingga perlunya tambahan gerakan yang diarahkan langsung selain dengan menggunakan suara-suara dan orientasi-orientasi yang dapat memudahkan atlet pada saat latihan

“Kalau komunikasi lebih ke karena kan disabilitas netra nih itu kan lebih kalau mempraktekkan gerakan ya gimana caranya kita menjelaskan biar mereka bener-bener dapat gambarannya, terus kalau kita menggunakan orientasi-orientasi juga bisa dipraktekkan dengan dituntun misalnya nanti tangannya seperti ini misal dari depan ke samping ya diarahin, tapi biasanya untuk atlet-atlet buat pelatnas kemarin rata-rata mereka dengan penjelasan kata-kata yang tepat aja udah paham sih gitu” (PP, 22 Januari 2021)

commit to user

Seperti yang dijelaskan oleh pelatih H dan pendamping PP bahwa tepukan satu kali artinya atlet diabilitas perlu berpindah posisi atau mengambil bola ke arah kanan, tepukan dua kali atlet diabilitas perlu berpindah posisi atau mengambil bola ke arah kiri, dan tepukan tiga kali artinya atlet diabilitas perlu berpindah posisi atau mengambil bola ke arah tengah.

“Tepuk tangan ya seumpama kanan gitu ya tepukan satu kali kalau kiri tepukan dua kali kalau tengah itu tepukannya tiga kali bisa juga tepukannya nggak sama telapak tangan bisa juga dilantai tetapi dengan ketukan yang sama. Selain ketukan pakai tangan itu mereka juga bisa menangkap signal melalui lisan langsung ya dengan mengucapakan kanan, kiri, tengah, celah itu tadi. Suara, tepukan, terus dengan sentuhan. Sentuhan pemain satu dengan pemain yang lain gitu.” (H, 18 Desember 2020)

“... Sama kadang juga saya gunain tepukan tangan atau tepukan lantai sih dek. Kalau satu tuh kiri dua tengah dan tiga itu kanan dek” (PP, 22 Januari 2021)

Pelatih D juga mengatakan hal yang sama jika atlet disabilitas netra menggunakan tepukan untuk memudahkan mereka pada saat latihan atau bertanding, tetapi pelatih D mengamati jika atlet disabilitas netra menggunakan bunyi dari mulut berupa „sst sst‟

yang artinya pemain perlu melempardan mengoper bola kepada teman satu timnya.

“Ada tepukan mbak sama seperti yang dijelaskan Pak Hendriq. Beberapa juga ada suara kayak „sst sst‟ gitu mbak.

Kalau cekcek itu setahu saya menandakan mungkin suruh lempar bola juga bisa atau suruh passing juga bisa mbak, sebelumnya pasti di instruksikan terlebih dahulu” (D, 21 Desember 2020)

Pada saat latihan berlangsung, terlebih dahulu pelatih menyatukan persepsi dengan atlet antara lain seperti yang dikatakan oleh H bahwa dalam program latihan ada empat persiapan yaitu persiapan umum, persiapan khusus, pra kompetisi, dan kompetisi. Pada waktu persiapan umum dipersiapkan teknik-teknik secara umum dan dipersiapkan kondisi fisiknya secara commit to user

umum. Setelah itu waktu persiapan khusus masuk ke teknik melempar dan teknik bertahan. Selanjutnya ketika waktu pra kompetisi teknik dimasukkan dan digabungkan dengan strategi dan taktik khusus. Yang terakhir pada saat kompetisi diberikan motivasi agar mental atlet disabilitas netra tidak down.

“Kan di dalam program latihan itu ada persiapan umum, persiapan khusus, pra kompetisi, dan kompetisi. Nah dalam persiapan umum itu dipersiapkan teknik-tekniknya secara umum dan kondisi fisiknya juga dipersiapkan secara umum.

Baik itu fisik, kalau di berbicara masalah fisik itu ada how to makenya, powernya itu ditingkatkan. Terus waktu persiapan khusus mulai ke teknik-tekniknya ya teknik dalam melempar, teknik defense. Terus di pra kompetisnya itu mulai dari teknik itu digabungkan ya mulai ke strateginya dan tak tik strategi seperti itu. Terus ke kompetisinya ya mulai melatih mentalnya karena pemain goalball itu tunanetra jadi mental itu pengaruhnya gede sekali, begitu mereka down mereka akan kena gitu” (H, 18 Desember 2020)

Lain halnya dengan yang diungkapkan oleh D, ia menyamakan suatu persepsi antara ia dengan atlet disabilitas netra adalah dengan cara diskusi dan lebih ke menjelaskan.

“Kalau protes nggak ada sih mbak paling ya atlet itu diskusi aja sih mbak ini gimana itu gimana. Pas atlet bilang seperti ini pasti pelatih juga sudah bisa menjelaskan kenapa seperti ini kenapa seperti itu” (D, 21 Desember 2020)

Hampir sama dengan asisten pelatih di atas, PP yang sebagai pendamping juga mengatakan bahwa menyamakan persepsi dengan atlet disabilitas netra itu dengan cara menjelaskan dengan pelan-pelan.

“Kalau aku sih ya dek ya tak ambil jalan tengahnya misal persepsi mereka A nih tapi persepsi mas Pandu B ya harus kita jelasin pelan-pelan tidak bisa kita langsung kasih ini B itu nggak akan bisa nah ya harus pelan-pelan kita ikutin dulu mereka oh kayak gini-gini terus sedikit demi sedikit kita kasih persepsinya kita yang B tadi” (PP, 22 Januari 2021)

Menurut pelatih H mengenai diri atlet disabilitas netra adalah mereka memiliki daya ingat yang sangat tinggi. Hal tersebut diungkapkan oleh H karena baliau menilai apabila pelatih maupun commit to user

pendamping ada yang melakukan kesalahan pada saat berbicara kepada atlet maka seumur hidupnya akan mengingatnya terus menerus.

“… sekali berbicara itu dia akan ingat terus berarti kalau kita tim pelatih pendukung lainnya melakukan kesalahan mereka itu seumur hidup akan ingat terus walaupun kita udah lupa ya mereka masih ingat ya memorinya kan kuat sekali. Kalau kayak kita gini orang normal melihat sesuatu ya dua tahun kemudian lupa kalau tunanetra itu nggak itu masih ingat terus” (H, 18 Desember 2020)

Asisten pelatih D juga mengungkapkan hal yang sama jika atlet disabilitas netra memiliki daya ingat yang sangat tinggi. Hal tersebut ditandai dengan atlet disabilitas netra yang begitu cepat dalam menangkap sebuah intruksi cukup diberikan satu samapi dua kali saja sudah langsung paham.

“Emm kalau untuk atlet tunanetra itu kalau kita ngasih intruksi apa gitu cepet nangkepnya ya sekali dua kali itu mereka udah paham sih saya rasa” (D, 21 Desember 2020) Hampir menyerupai apa yang dikatakan oleh kedua pelatih, PP juga mengatakan bahwa jika mereka diberikan materi satu sampai dua kali mereka langsung paham dan apabila ada yang terlewat dari setiap step pasti atlet disabilitas netra akan menyadarinya.

“Kalau latihan gitu kalau ada hal yang berbeda sedikit tuh mereka langsung sadar urutannya ya misal katakanlah biasanya A-B-C-D-E gitu yah terus tiba-tiba di suatu hari tuh mas ngubah A-B-D-C-E nah mereka tuh langsung sadar kok nggak kayak biasanya gitu dan biaasnya mereka kalau ada materi baru dari mas gitu tentang mental spiritual kalau ada materi baru dikasih sekali dua kali mereka udah paham banget sih jadi tidak perlu diulang” (PP, 22 Januari 2021) Selain memiliki daya ingat yang cukup tinggi, atlet disabilitas netra juga memiliki perasaan yang peka atau bisa dikatakan sensitif juga. Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh H yang menilai mereka itu sensitif dikarenakan keadaan yang ada dalam diri mereka yang tidak dapat melihat sejak lahir maupun ketika pada commit to user

saat berumur berapa tahun sudah tidak dapat melihat dengan baik.

Maka dari situlah mereka hanya mengandalkan pikiran dan perasaan mereka untuk menjalani hari-harinya. Tidak seperti atlet normal yang setelah melihat dapat menalar.

“… Mereka itu kan sensitif perasaannya, mereka kan selama hidup itukan tidak bisa melihat ada yang buta dari lahir, ada yang buta umur sekian mungkin ada umur 6 tahun atau berapa setelah itu mereka tidak bisa melihat. Dari situ mereka itu hanya mengandalkan pikiran dan perasaan ya mereka sensitif karena nggak bisa melihat. Kalau kita normal ginikan bisa melihat oh menalar sesuatu itu seperti ini lha kadang-kadang kita diam saja dalam melatih itu mereka sudah merasa tersinggung, hari itu tidak menyapa tersinggung juga.” (H, 18 Desember 2020)

Sama halnya dengan ungkapan pelatih sebelumnya, asisten pelatih D dan pnedamping PP juga mengungkapkan bahwa atlet disabilitas netra itu lebih sensitif dan berperasaan peka karena perlu pelan-pelan untuk berbicara kepada atlet disabilitas netra yang menilai lawan bicaranya dengan nada bicara. Sehingga perlu lebih hati-hati dalam berbicara kepada mereka dan sabar dalam menghadapi mereka yang mudah tersinggung.

“… Soalnya kalau atlet tunanetra itu lebih sensitif. Jadi kalau dibentak gitu biasanya malah ya kayak ngambek ini memang perlakuan extra sih mbak buat mereka. Jadi memang kuncinya harus sabar mbak hehe. Kalau atlet normal biasa kan kalau pelatih sudah membentak pasti mereka langsung paham tetapi beda dengan atlet tunanetra tidak bisa dibentak harus pelan-pelan ngomongnya dan sabar untuk mengetahui masalah mereka” (D, 21 Desember 2020)

“Oh kalau mereka itu berperasaan peka digambarkan dengan nada bicara sih misalnya si A ngobrol sama mas, nah dia tahu kok mas kayak gini ya karena tadi kan kekurangan mereka di penglihatan kan jadi otomatis mereka itu membaca orang dari nada bicara orang lain gitu sih biasanya. Terus mas juga harus lebih hati-hati sih dek kalau ngobrol sama mereka karena kan mereka juga mudah tersinggung gitu tapi ya nggak semua sih tergantung kepribadian mereka ya mayoritas seperti itu sih kebanyakan. Misalnya nggak ditegur sama pelatih gitu aja mereka ada yang kayak gimana gitu commit to user

tapi ya balik lagi ke pelatih sama pendamping harus memberikan penjelasan pelan-pelan dengan sabar gitu sih ya harus lebih banyak ngobrol sih kalau sama mereka. Terus misalnya misalnya nih ada masalah A dengan F pada saat mereka kumpul terus besoknya si A cerita ke mas kalau kemarin ngobrol sama F kok gini gitu yah” (PP, 22 Januari 2021)

Pelatih H dan pendamping PP menilai bahwa apabila atlet disabilitas netra tidak ditegur dan disapa maka mereka tidak merasa nyaman dan merasa tersinggung bahkan menjadi overthinking. Yang paling tidak diinginkan pun sampai terjadi yaitu atlet bisa sampai marah dan tidak mau latihan hanya dikarenakan hal tersebut.

“Karenakan nggak bisa melihat, wah kenapa kok pelatih itu nggak menyapa aku akhirnya sakit hati, terus marah.

Kadang-kadang kita diam saja dalam melatih itu mereka sudah merasa tersinggung, hari itu tidak menyapa tersinggung juga.” (H, 18 Desember 2020)

“Misalnya nggak ditegur sama pelatih gitu aja mereka ada yang kayak gimana gitu tapi ya balik lagi ke pelatih sama pendamping harus memberikan penjelasan pelan-pelan dengan sabar gitu sih ya harus lebih banyak ngobrol sih kalau sama mereka. Misalnya nih Pak Hendriq datang ke tempat latihan mungkin pada saat itu belum disapa semua tapi biasanya tetep nyapa semuanya nah kebetulan kelewat nggak disapa satu orang nih nah itu biasanya yang satu orang tanya ke mas kok tadi Pak Hendriq nggak nyapa aku ya mas ada masalah apa gitu” (PP, 22 Januari 2021)

Dari keterbatasan yang dimiliki atlet disabilitas netra dan setelah melihat dari sikap mereka yang sensitif juga. Kedua pelatih H dan D serta pendamping PP menilai jika mereka para atlet disabilitas itu berkebutuhan khusus jadi perlakuannya juga harus khusus dan extra disbanding dengan atlet normal.

“Kita biasa di normal ya tapi disinikan difabel itu berkebutuhan khusus yang namanya berkebutuhan khusus perlakuannya juga harus khusus” (H, 18 Desember 2020)

“… ini memang perlakuan extra sih mbak buat mereka” (D, 21 Desember 2020) commit to user

“… ya tetep harus ada perlakuan khusus“(PP, 22 Januari 2021)

Adapun sikap dari atlet disabilitas netra yang membuat ketua pelatih H merasa jika mereka tidak mudah percaya dengan orang lain terlebih apabila orang tersebut orang baru baginya karena mereka mempunyai pengertian bahwa mereka lebih tahu dari pelatih. Ketidakpercayaan mereka dikarenakan mereka memiliki pengertian bahwa merekalah yang lebih mengetahui tentang goalball dibanding pelatih, maka dari itu memerlukan waktu beberapa tahun untuk menyatu dengan atlet disabilitas netra.

“… Mereka tidak langsung percaya dengan pelatih itu karena mereka mempunyai pengertian bahwa dia itu lebih tahu daripada si pelatih…” (H, 18 Desember 2020)

Sama halnya dengan yang diungkapkan pendamping PP yang mengatakan mereka itu sadar akan disabilitas mereka itulah yang mebuat merela tidak bisa mudah percaa dengan orang lain maupun orang baru.

“… Soalnya kalau tunanetra itu nggak gampang percaya sama orang. Jadi sekali tunanetra itu menganggapnya bohong pasti akan tertanam terus di diri mereka orangnya pembohong.” (D, 21 Desember 2020)

“Emm iya sih. Karena ya kaitannya mereka sadar juga disabilitasnya seperti apa jadi mereka ya tidak bisa mudah percaya gitu aja kan terus kayak mungkin mereka berpikir juga tidak bisa mudah percaya dengan orang baru” (PP, 22 Januari 2021)

Selain itu pelatih D dan pendamping PP mengatakan bahwa rata-rata atlet disabilitas netra tersebut hanya ingin bergabung dengan sesama disabilitas netra, masih jarang yang ingin bergabung dengan selain disabilitas netra. Yang mendasari hal tersebut menurut PP karena ruang gerak mereka terbatas, memiliki kesukaan yang sama, dan karakteristik mereka juga cenderung sama jadi mereka bisa menjadi nyaman.

“Iya mbak rata-rata itu yang tunanetra itu gabungnya juga ke yang sama-sama tunanetra mbak Iya mbak kebanyakan commit to user

sih bahkan rata-rata mbak seperti itu. Jarang sih mbak yang tunanetra gabung sama yang selain tunanetra itu ya ada tapi jarang mbak” (D, 21 Desember 2020)

“Iya karena kan keterbatasan mereka jadi ruang geraknya kayak nggak bisa luas kayak disabilitas yang lain. dan juga mungkin mereka sukanya ya ke situ-situ aja gitu lho.

Kareana juga mungkin paling paham karena karakteristik mereka yang seperti tadi mas sebutkan ya jadi sama-sama paham aja mereka itu” (PP, 22 Januari 2021)

Menurut pelatih H mengatakan bahwa mereka para atlet disabilitas netra tidak bisa lepas dari hpnya dan juga pelatih D mengatakan bahwa hp tersebut digunakan sebagai hiburan dalam latihan yang dijalankan para atlet. latihan sambil mendengarkan cerita itu mbak. Jadi seumpama ada cerita wiro sableng gitu ya jadi ada situs apa gitu saya kurang tahu itu dibacain ya jadi mereka paling itu hiburannya. Ya kita sebagai pelatih nggakpapa sih kalau pada saat latihan mendengarkan itu biar nggak bosen juga sih jadi dibacakan ceritanya” (D, 21 Desember 2020)

Selain hal di atas pelatih juga merasa bahwa atlet disabilitas netra itu tidak bisa melakukan latihan dengan sendiri jadi bergantung juga kepada pelatih dan pendamping. Sama halnya dengan yang dikatakan pelatih H dan D yang mengatakan bahwa para atlet disabilitas netra pada saat latihn dan di luar latihan membutuhkan pendamping untuk mobilitas mereka. Lain halnya dengan yang diungkapkan pendamping PP mengatakan bahwa tergantung klasifikasi atlet tersebut, jika low vision masih bisa membantu yang totally blind.

“… Makanya di dalam latihan ataupun di luar latihan aturannya mereka kalau waktu mau kemana harus ada pendamping. Latihan juga harus ada pendamping, lari itu aja juga ada pendampingnya nggak mungkin mereka lari ya lari sendiri muter lapangan nggak bisa. Waktu latihan teknik commit to user

ambil bola melempar bola kita juga mendampingi mereka”

(H, 18 Desember 2020)

“… biasanya untuk kalau atlet keluar ada yang menemani gitu sih mbak, terus makan ada yang menemani juga bahkan mengambilkan juga” (D, 21 Desember 2020)

“Tergantung klasifikasinya sih dek, kalau yang blind itu iya tapi kalau yang low vision biasanya enggak. Kadang nih ya misal programnya itu jogging kalau pagi selama 30 menit, nah biasanya yang low vision jadi guide juga buat yang blind itu lari karenakan pelatih dan pendamping itu hanya empat aja jadi ya kita butuh bantuan yang low vision karena jumlah yang blind itu lebih dari empat orang jadi ya perlu dibantu yang lain juga gitu” (PP, 22 Januari 2021)

Pelatih H dan pendamping PP mengatakan bahwa atlet disabilitas netra itu memiliki chemistry bahkan sampai ikatan batin karena mereka sudah bersama-sama beberapa tahun dan mereka saling memaklumi dan menasehati apabila ada kekurangan masing-masing.

“… Mereka sudah punya chemistry ikatan batin” (H, 18 Desember 2020)

“… Karena mereka sering barengan itu ya jadilah chemistry itu terbangun dari mereka-mereka sendiri itu. Kayak misal nih Andi Santoso sama Bang Arif itu udah bareng dari tahun 2017 itu chemistrynya bagus. Lebih ke mereka itu udah mengetahui karakteristik yang lainnya, jadi misal mau si Andi itu tadi mau bersikap ke Bang Arif terus Bang Arif harus menyikapi Andi yang gimana jadi lebih ke yang begitu.

Jadi yang terjalin di pertandingan, bukan yang kayak saling menyalahkan tapi lebih ke yang saling memaklumi dan menasehati gitu” (PP, 22 Januari 2021)

Bukan hanya tentang keterbatasan mereka, pendamping PP mengatakan bahwa para atlet disabilitas netra itu menarik karena dengan keterbatasan yang mereka miliki ingin bangkit dari hal tersebut untuk menghasilkan sebuah prestasi.

“jadi dek mereka tuh ya menarik sih bagi masa karena dengan kondisi mereka yang tidak bisa melihat dan termasuk susah kan ya tapi mereka mau bangkit dari kondisi untuk supaya mereka tuh punya prestasi buat dibanggain nggak cuma hanya diem aja di rumah…” (PP, 22 Januari 2021) commit to user

Jika dilihat pada saat melakukan latihan ataupun tidak, sesama atlet disabilitas netra memiliki panggilan khusus antar sesama atlet. Hal tersebut diungkapkan oleh PP sebagai pendamping atlet. Dengan tidak menyinggung, hal tersebut lumrah-lumrah saja dilakukan karena tujuannya agar mereka tetap selalu kompak dan merasa akrab antar satu sama lain.

“Ada dek ada. Misalnya kan ada tuh atlet namanya Arif Setiawan nah dia kan udah berumur tuh umurnya sekitar 32an kayaknya dia tuh panggilannya Mang Awug emang dari sananya dari Jawa Barat sana tapi anak-anak erbiasanya manggil itu juga terus ada juga yang dari DIY itu namanya Andi Santoso itu panggilannya Goping nggak tahu juga sih kok bisa panggilannya Goping gitu. Mas rasa sih panggilan-panggilan kayak gitu biar deket aja antar sesama mereka ya dek terus biar juga mereka tuh tambah kompak mungkin ya”

(PP, 22 Januari 2021)

commit to user

Tabel 4.6 Interaksionisme Simbolik Self (Diri) Atlet Disabilitas Netra

Tabel 4.6 Interaksionisme Simbolik Self (Diri) Atlet Disabilitas Netra