IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Rancangan Indikator Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wang
4.2.2. Atribut Kinerja dan Indikator Kinerja
Atribut kinerja terdiri dari reliabilitas rantai pasokan, responsivitas rantai pasokan, fleksibilitas rantai pasokan, biaya rantai pasokan, manajemen asset rantai pasokan, dan pemanfaatan limbah produk. Pembobotan dan prioritas atribut
kinerja disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa responsivitas rantai pasokan memiliki bobot yang paling tinggi (0,241) dan menjadi prioritas pertama.
Tabel 5. Bobot dan prioritas atribut kinerja rantai pasokan minyak akar wangi berdasarkan GSCOR
Atribut kinerja Bobot Prioritas
Responsivitas rantai pasokan 0,241 1
Reliabilitas rantai pasokan 0,218 2
Manajemen asset rantai pasokan 0,202 3
Biaya rantai pasokan 0,127 4
Fleksibilitas rantai pasokan 0,111 5
Pemanfaatan limbah produk 0,103 6
Masing-masing atribut kinerja akan dijelaskan beserta dengan indikator kinerjanya.
1. Responsivitas rantai pasokan
Variabel responsivitas yang diukur adalah waktu tunggu pemenuhan pesanan (0,241). Waktu tunggu pemesanan adalah waktu yang dibutuhkan pelanggan memesan produk sampai pesanan tersebut diterima. Waktu tunggu rata-rata yang diperlukan dalam memesan akar wangi atau minyak akar wangi adalah satu minggu sampai barang diterima oleh pemesan.
2. Reliabilitas rantai pasokan
Indikator kinerja dari reliabilitas adalah pemenuhan pesanan sempurna dan kinerja pengiriman. Bobot pemenuhan pesanan adalah 0,111 dan bobot kinerja pengiriman adalah 0,106.
a. Pemenuhan pesanan sempurna
Pemenuhan pesanan sempurna meliputi ketepatan jenis produk yang dipesan, ketepatan waktu pengiriman, ketepatan jumlah pengiriman, dan ketepatan tempat pengiriman. Pesanan akar wangi dari pengumpul atau penyuling selalu dipenuhi oleh petani sesuai jumlah akar wangi yang dihasilkannya saat panen. Pesanan minyak akar wangi dari pengumpul minyak kepada penyuling pun selalu diusahakan terpenuhi jumlahnya dan ketepatan waktu serta tempat pengirimannya.
b. Kinerja pengiriman
Indikator kinerja pengiriman adalah pengiriman pesanan tepat waktu dan sesuai tanggal pesanan yang diinginkan konsumen. Pesanan akar wangi dari pengumpul atau penyuling ke petani dan pesanan minyak akar wangi dari pengumpul minyak kepada penyuling selalu diantar dan diterima sesuai jadwal pemesanan. Jika terjadi keterlambatan dalam pengiriman, biasanya dikarenakan oleh gangguan cuaca ataupun terjadi kerusakan pada alat transportasi yang digunakan.
3. Manajemen asset rantai pasokan
Indikator kinerja dari manajemen asset adalah siklus cash to cash dan persediaan harian. Bobot siklus cash to cash adalah 0,101 dan bobot persediaan adalah 0,101.
a. Siklus cash to cash
Siklus cash to cash menerangkan perputaran keuangan industri, mulai dari pembayaran bahan baku ke pemasok, sampai pembayaran produk dari konsumen. Siklus pembayaran yang dilakukan pengumpul akar wangi atau penyuling yang membeli akar wangi dari petani adalah dilakukan dengan cara tunai. Biasanya akar wangi yang masih di kebun dan belum masuk masa panen sudah dibeli oleh pengumpul akar wangi atau penyuling dengan sistem ijon. Sedangkan untuk pembayaran minyak akar wangi dari pengumpul minyak kepada penyuling biasanya dilakukan melalui transfer dan tunai. Pembayaran dilakukan oleh pengumpul setelah minyak akar wangi diterima.
b. Persediaan harian
Persediaan harian adalah persediaan untuk memenuhi kebutuhan usaha minyak akar wangi apabila tidak ada pasokan lebih lanjut. Bagi penyuling, minimal sehari sebelum melakukan penyulingan selalu ada persediaan bahan baku akar wangi. Petani akar wangi tidak memiliki persediaan harian karena setiap kali setelah panen akar wangi akan langsung dikirim ke tempat pengumpul akar wangi atau penyuling yang telah memesannya.
4. Biaya rantai pasokan
Variabel biaya yang diukur adalah biaya pokok produksi dan biaya total rantai pasokan. Bobot biaya pokok produksi adalah 0,106 dan bobot biaya total rantai pasokan adalah 0,021.
a. Biaya pokok produksi
Biaya pokok produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk membuat suatu produk, dari bahan mentah menjadi barang jadi. Pada kasus minyak akar wangi ini, yang mengeluarkan biaya pokok produksi adalah petani dan penyuling. Biaya pokok produksi yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya bahan baku akar wangi, biaya tenaga kerja dan biaya untuk pupuk. Sedangkan biaya pokok produksi untuk penyulingan adalah biaya bahan baku untuk minyak akar wangi, biaya bahan bakar, biaya penyusutan alat suling, biaya listrik, dan yang perlu diperhatikan adalah jumlah rendemen minyak yang dihasilkan.
b. Biaya total manajemen rantai pasokan
Biaya total manajemen rantai pasokan adalah total biaya yang dikeluarkan oleh industri dalam melakukan penanganan bahan mulai dari pemasok sampai konsumen. Biaya total manajemen rantai pasokan minyak akar wangi ini terdiri dari biaya transportasi pengiriman akar dari petani kepada pengumpul akar wangi atau penyuling, biaya transportasi pengiriman minyak akar wangi dari penyuling kepada pengumpul minyak, dan biaya proses penyulingan bagi penyuling.
5. Fleksibilitas rantai pasokan
Variabel fleksibilitas yang diukur adalah fleksibilitas rantai pasokan (0,111). Fleksibilitas rantai pasokan adalah waktu yang dibutuhkan untuk merespon rantai pasokan yang tidak direncanakan, baik penurunan atau peningkatan permintaan. Permintaan minyak akar wangi selalu terjadi peningkatan permintaan setiap tahunnya.
6. Pemanfaatan limbah produk
Pemanfaatan limbah produk terbagi menjadi pemanfaatan limbah cair dan pemanfaatan limbah padat. Bobot pemanfaatan limbah cair adalah 0,051 dan bobot pemanfaatan limbah padat adalah 0,051.
a. Pemanfaatan limbah cair
Limbah cair yang dihasilkan dari industri minyak akar wangi ini adalah air hasil pencucian akar wangi, air hasil sisa penyulingan akar wangi, dan air hasil pemisahan minyak dengan air. Limbah cair hasil sisa penyulingan akar wangi tidak dimanfaatkan, tetapi limbah tersebut langsung dibuang ke sungai atau ke parit-parit. Menurut para penyuling, limbah cair yang dihasilkan dari industri ini tidak mengandung senyawa berbahaya yang dapat merusak lingkungan.
b. Pemanfaatan limbah padat
Limbah padat hasil dari sisa penyulingan akar wangi berupa ampas akar wangi. Penanganan limbah padat sisa hasil penyulingan akar wangi sebagian ada yang dijadikan pupuk kompos, tetapi kebanyakan dari penyuling membuang limbah padat tersebut. Ampas tersebut hanya dibiarkan menumpuk dan belum ada solusi bagaimana memanfaatkannya. Namun pada saat ini, pemanfaatan limbah padat yang masih dalam proses realisasi adalah dijadikan sebagai barang kerajinan untuk hiasan, pot, dan media tanam bunga.
Selain limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan dari industri minyak akar wangi, terdapat pula limbah udara. Limbah udara berupa karbon, asap hasil sisa pembakaran dalam proses penyulingan akar wangi. Limbah udara ini termasuk limbah yang cukup berbahaya karena dapat mengakibatkan polusi udara yang mencemari lingkungan. Tetapi, karena pabrik penyulingan berada cukup jauh dari lokasi pemukiman penduduk, limbah udara tersebut tidak sampai mencemari lingkungan sekitar yang ditinggali penduduk.
Metode pengukuran limbah bermacam-macam tergantung jenis limbah yang dihasilkan pada industri tersebut. Pada industri minyak akar wangi ini, nilai pengukuran limbah dapat dilihat dari segi kuantitas dan segi kualitasnya. Pengukuran limbah dari segi kuantitas akan terukur jumlah limbah yang dihasilkan dari proses penyulingan minyak akar wangi. Sedangkan dari segi kualitas, pengukuran limbah diukur menurut kandungan bahan berbahaya yang dapat dihasilkan oleh limbah tersebut.
Pengukuran limbah dari segi kualitas dilakukan dengan uji laboratorium dengan prosedur, metode pengukuran dan alat ukur yang telah ditentukan sesuai jenis limbahnya.
Indikator pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut terdiri dari variabel atribut kinerja. Berdasarkan bobot indikator kinerja, didapatkan indikator kinerja yang menjadi prioritas yaitu waktu tunggu pemenuhan pesanan, pemenuhan pesanan sempurna, siklus cash to cash, biaya pokok produksi, fleksibilitas rantai pasokan, dan pengolahan limbah padat.
Tahap terakhir dari perancangan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut adalah membuat kartu GSCOR (GSCOR scor) dengan nilai-nilai bobot yang telah didapat dari perhitungan dengan metode AHP. atribut dan indikator kinerja GSCOR rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Atribut dan indikator kinerja GSCOR rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut
Atribut Kinerja Indikator Kinerja Bobot
Responsivitas Rantai Pasokan Waktu Tunggu Pemenuhan Pesanan 0,241 Reliabilitas Rantai Pasokan Pemenuhan Pesanan Sempurna 0,111
Kinerja Pengiriman 0,106
Manajemen Asset Rantai Pasokan Siklus Cash to Cash 0,101
Persediaan Harian 0,101
Biaya Rantai Pasokan Biaya Pokok Produksi 0,106
Biaya Total Manajemen Rantai Pasokan
0,021 Fleksibilitas Rantai Pasokan Fleksibilitas Rantai Pasokan 0,111 Pengolahan Limbah Produk Pemanfaatan Limbah Cair 0,051 Pemanfaatan Limbah Padat 0,051
Identifikasi Persoalan Pencemaran Lingkungan Pada Setiap Anggota Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi
Pada petani, pencemaran lingkungan bisa diakibatkan jika pada saat menanam akar wangi menggunakan pupuk anorganik yang mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari kesuburan tanah. Pada penyuling, potensi pencemaran lingkungan dapat terjadi akibat aktifitas penyulingan yang dilakukan penyuling, seperti polusi udara yang dihasilkan oleh cerobong asap dari alat suling. Selain itu, potensi pencemaran lingkungan juga disebabkan oleh cemaran
udara dari polusi alat transportasi yang terjadi pada mata rantai pengumpul akar wangi dan pengumpul minyak akar wangi. Alat transportasi tersebut digunakan untuk mengangkut akar wangi dari petani ke pangumpul akar wangi atau penyuling, dan untuk mengangkut minyak akar wangi dari penyuling ke pengumpul minyak akar wangi atau eksportir.