Semarang Dalam Lintasan Sejarah
A. Awal Pembentukan
Bukan perkara gampang mengetahui secara pasti mengenai pembentukan Kota Semarang.1 Pasalnya sumber-sumber sejarah yang berkait dengan hal itu sangat terbatas. Khusus periode awal pembentukan Semarang, sejauh ini hanya berdasar pada sumber tradisional yang banyak dibumbui oleh mitos dan anakronisme. Namun karena ketiadaan bahan lain, sumber tradisional itu terpaksa digunakan, tentu setelah melalui mekanisme kritik sumber.
Sejauh ini, penelitian tentang proses pembentukan Semarang menggunakan sumber tradisional telah dilakukan oleh Amen Budiman.2 Bersandar pada Serat Kandhaning Ringgit Purwa Naskah KBG Nomor 7, Amen memaparkan bahwa secara administratif terbentuknya Kota Semarang dirintis oleh Ki Ageng Pandan Arang, putera Pangeran Sabrang Lor, Sultan Demak II. Menurut naskah tersebut, pada tahun 1398 Çaka atau tahun 1476 Masehi, Ki Ageng Pandan Arang datang ke suatu semenanjung yang dikenal
1 Menurut Louis Wirth, kota adalah daerah permukiman yang cukup luas, padat, dan memiliki penduduk heterogen. Sedangkan Grunfeld menambahkan, kota memiliki penduduk dengan mata pencaharian nonagraris, tata guna tanah yang beraneka ragam, dan pergedungan yang berdekatan. Lihat S. Menno dan Mustamin Alwi, Antropologi Perkotaan, (Jakarta: Rajawali Press, 1994), halaman 23-24.
2 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, (Semarang: Penerbit Tanjung Sari, 1978).
Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah
2
dengan sebutan Pulo Tirang.3 Di wilayah itu Pandan Arang melaksanakan perintah Sunan Bonang untuk menyiarkan agama Islam di kalangan para ajar, yakni guru atau pendeta agama Hindu-Buddha. Dalam naskah ini dijelaskan bahwa terdapat 10 daerah di kawasan Pulo Tirang yang dipimpin oleh para ajar, yaitu Derana, Wotgalih, Brintik, Gajahmungkur, Pragota, Lebuapia, Tinjomoyo, Sejanila, Guwasela, dan Jurangsuru.4 Setelah menetap di Pulo Tirang, Ki Ageng Pandan Arang dapat mengislamkan penduduk di wilayah tersebut.5
Selain Serat Kandhaning Ringgit Purwa Naskah KBG No.7, cerita tutur mengenai Wali Sanga juga mengisahkan tentang Ki Ageng Pandan Arang yang memiliki nama lain Pangeran Made Pandan. Menurut sang shohibul hikayat, pangeran ini meninggalkan Demak bersama putranya yang bernama Pangeran Kasepuhan. Dari Demak mereka pergi ke arah barat daya hingga akhirnya sampai di suatu tempat yang subur bernama Pulo Tirang. Di sini Pangeran Made Pandan mendirikan pesantren atau perguruan agama Islam.
Semakin banyak orang berguru di pesantren itu, semakin banyak pula penghuni Pulo Tirang. Konon di tempat yang subur tersebut tumbuh pohon asam (bahasa Jawa: asem), yang ketika itu masih jarang (bahasa Jawa:
arang). Konon dari kata asem-arang inilah nama Semarang berasal.6
Menurut Serat Kandhaning Ringgit Purwa Naskah KBG No. 7, setelah berhasil mengislamkan para ajar di wilayah Tirang, Pandan Arang membangun tempat kediaman baru di daerah pegisikan, yang kemudian
3 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, halaman 36-37. Pulo Tirang adalah wilayah yang saat ini meliputi kawasan Mugas dan Bergota, sedangkan Bergota atau Pragota diduga merupakan pelabuhan penting Kerajaan Mataram Hindu (Dinasti Syailendra) di wilayah pantai utara Jawa. Lihat Semarang Riwayatmu Dulu, halaman 6.
4 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, halaman 65.
5 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, halaman 67.
6 A.M. Noertjahjo, Cerita Rakyat Sekitar Walisongo, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1963), halaman 47-48.
Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah
3
dikenal dengan nama Bubakan.7 Di sini Ki Ageng Pandan Arang menjabat sebagai seorang juru nata (pejabat kerajaan) dari Demak Bintara. Oleh karena itu wilayah Bubakan juga dikenal dengan sebutan Jurnatan, yakni tempat tinggal sang juru nata.
Berdasarkan sumber-sumber di atas, tersirat keterangan bahwa terbentuknya kota Semarang berlangsung sejalan dengan proses islamisasi dan perluasan pengaruh politik Kerajaan Demak. Sebelum Ki Ageng Pandan Arang datang, Pulo Tirang dan Bubakan tentu merupakan daerah subur, dan sudah ditinggali oleh penduduk yang memeluk agama Hindu-Buddha.
Dengan melihat potensi ekonomi wilayah itu, wajar jika Demak berkepentingan untuk menguasainya secara politik.
Meskipun Ki Ageng Pandan Arang telah berhasil mengembangkan daerah Semarang, kekuasaan administratif atau pemerintahan baru dijalankan oleh putranya, Pangeran Kasepuhan, yang bergelar Ki Ageng Pandan Arang II. Kekuasaan administratif ini diberikan oleh Sultan Demak kepada Pangeran Kasepuhan setelah Ki Ageng Pandan Arang wafat, sebagai penghargaan terhadap jasanya dalam mengembangkan Pulo Tirang.
Penobatan Ki Ageng Pandan Arang II sebagai Bupati Semarang pertama terjadi pada tanggal 12 Rabiulawal tahun 954 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1547 Masehi.8 Selain menjadi penguasa pemerintahan atau
7 Bubakan berasal dari kata dasar “bubak” yang berarti membuka sebidang tanah dan menjadikannya sebagai tempat tinggal. Lihat Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, halaman 76-77. Pada masa Ki Ageng Pandan Arang, daerah Bubakan mungkin masih merupakan pegisikan atau pantai. Menurut R.W. van Bemmelen, pantai Semarang yang pada masa Mataram Hindu terletak di daerah perbukitan Bergota, mengalami perluasan ke arah utara sebagai akibat pengendapan lumpur yang dibawa oleh aliran Kali Garang yang bermuara di laut Jawa. Sebagai akibat proses pengendapan itu, sekarang garis pantai mengalami penambahan sekitar 4 hingga 5 kilometer ke arah utara. Lihat B. Brommer dkk., Semarang Beeld van Een Stad, (Purmerend: Asia Maior, 1995), halaman 7.
8 Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Semarang menetapkan momentum tersebut sebagai hari jadi Kota Semarang. Penetapan dilaksanakan pada Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kotamadya Dati II Semarang pada tanggal 29 April 1978. Penetapan hari jadi ini didasarkan pada informasi Babad Nagri Semarang, yang mengisahkan bahwa pengangkatan Pandan Arang II sebagai bupati Semarang I terjadi setelah wafatnya Sultan Trenggono, Raja Demak
Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah
4
bupati pertama di Semarang, Pandan Arang II juga dikenal sebagai pedagang yang memegang perhitungan untung-rugi secara ketat. Penjelasan tentang hal itu dapat dipelajari dari Babad Demak edisi R.L. Mellema yang dikutip oleh Amen Budiman.9 Menurut sumber tersebut, Ki Ageng Pandan Arang II adalah seorang syahbandar yang kaya raya serta dikaruniai banyak anak dan cucu.
Meskipun demikian, dia sangat hemat, tidak mempunyai banyak pakaian, dan tidak mau menganggur. Setiap hari Pandan Arang II pergi ke pasar untuk membeli barang-barang yang sedang berharga murah. Lalu ketika harga naik, dia menjual kembali barang-barang itu. Pandan Arang II juga memborong barang-barang dagangan yang tidak laku dengan harga rendah.
Dengan melihat posisi Pandan Arang II sebagai syahbandar dan pedagang seperti yang disebut dalam Babad Demak edisi R.L. Mellema, dapat diduga bahwa pada sekitar pertengahan abad ke-16, di Semarang sudah terdapat kawasan pelabuhan yang ramai oleh aktivitas perdagangan. Sumber lain yang dapat memperkuat dugaan itu adalah Catatan Tahunan Melayu Semarang dan Cirebon10. Sumber yang terlampir dalam buku Tuanku Rao karya Mangaradja Onggang Parlindungan itu, memberitakan bahwa pada pertengahan abad ke-16, di Semarang telah berkembang galangan kapal dengan tenaga kerja orang-orang Cina. Selama tahun 1541-1546, dengan bantuan orang-orang Cina, Muk Ming (Sunan Prawoto), putera Tung Ka Lo
ketiga, pada tahun 1546. Penobatan dilaksanakan pada 12 Rabiulawal 954 Hijriah, bersamaan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad (Sekaten), momentum yang dipakai di Kerajaan Demak untuk penobatan kepala pemerintahan seperti sultan atau raja dan bupati. Lihat Pemerintah Daerah Kotamadya Semarang, Sejarah Kota Semarang, 1979, halaman 30. Penetapan hari jadi Kota Semarang pada 2 Mei 1547 harus dipahami sebagai ketetapan politik, yang masih dapat dipertanyakan kebenarannya. Di sisi lain, ada sumber seperti Catatan Tahunan Melayu Semarang dan Cirebon (dibahas oleh H.J. de Graaf dkk., dalam Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI:
Antara Historisitas dan Mitos, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), yang memberitakan bahwa pada tahun 1477, Jin Bun, Raja Demak, telah menguasai Semarang dengan mengerahkan 1.000 orang prajurit Islam. Demikian pula catatan Tomé Pires menunjukkan bahwa dia singgah di Semarang pada tahun 1512, ketika wilayah tersebut telah menjadi daerah kekuasaan Demak.
9 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, halaman 104-105.
10 “Catatan Tahunan Melayu Semarang dan Cirebon: Teks Parlindungan dengan terjemahan”, dimuat dalam H.J. de Graaf, dkk. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), halaman 17 dan 30.
Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah
5
(Sultan Trenggono, Raja Demak ketiga) dapat menyelesaikan 1.000 jung atau perahu China berukuran besar, yang masing-masing dapat memuat 400 orang prajurit. Kapal-kapal itu dipersiapkan di Semarang untuk menguasai pulau-pulau penghasil rempah-rempah di laut timur.
Setelah Kesultanan Demak runtuh, Semarang bersama daerah-daerah lain seperti Mataram (Yogyakarta), Krapyak (Kedu Selatan), Selarung (Banyumas), Pemalang (Tegal), Demak, Jepara, Pati, Purbaya (Madiun), Blitar (Kediri), Tuban dan Surabaya, menjadi daerah kekuasaan Pajang.
Semarang memiliki ikatan khusus dengan Pajang. Ikatan khusus itu adalah tali perkawinan antara Bupati Semarang, Pate Memet (Raden Mohammad Ketib) dengan putri penguasa Pajang, Sultan Hadiwijaya. Meski demikian Kesultanan Pajang tidak berumur panjang. Pada tahun 1586, kesultanan yang memusatkan pemerintahannya di pedalaman ini ditaklukkan oleh Mataram.
Semarang otomatis menjadi daerah kekuasaan Mataram.