• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendapatkan Hak Otonomi

Dalam dokumen RIWAYAT KOTA LAMA SEMARANG (Halaman 42-49)

Semarang Dalam Lintasan Sejarah

F. Mendapatkan Hak Otonomi

Pada awal abad ke-20, Semarang memasuki era baru dalam sistem pemerintahannya. Berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda bertanggal 1 April 1906, Semarang ditetapkan sebagai gemeente atau

36 Agustinus Supriyono, “Buruh Pelabuhan Semarang”, halaman 29.

37 Agustinus Supriyono, “Buruh Pelabuhan Semarang”, halaman 29.

Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah

22

pemerintahan kotapraja. Keputusan ini termuat dalam Staatsblad 1906 No.

120.38

Penetapan Kota Semarang sebagai daerah administratif gemeente merupakan respons atas tuntutan desentralisasi akibat perkembangan pesat kota besar seperti Semarang sejak akhir abad ke-19. Setelah pemerintah kolonial Belanda memberlakukan Undang-Undang Agraria pada tahun 1870, Semarang mengalami perkembangan yang pesat sebagai pusat dunia usaha.

Perkembangan kapitalisme agraria telah mendorong pengembangan fasilitas perdagangan dan industri seperti firma-firma, bank-bank, pembangunan jalan, transportasi, fasilitas pelabuhan, pabrik-pabrik, serta jalan kereta api dan trem. Perkembangan penduduk dan peningkatan jumlah permukiman di kota menjadikan urusan pemerintah kolonial Belanda semakin kompleks.

Dengan demikian aktivitas pemerintah pun semakin meningkat. Kondisi ini mendorong pemerintah kolonial Belanda mengambil cara untuk mempermudah pengawasan. Pemerintahan di tingkat keresidenan dinilai sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk mengontrol kota. Adalah suatu hambatan bagi pembangunan kota jika seorang residen, sebagai penguasa tunggal, harus melaporkan setiap persoalan kepada gubernur jenderal. Selain itu, sering terjadi pergantian pegawai, sehingga mereka kurang mengenal kondisi dan kebutuhan daerah setempat. Dana dari pemerintah pusat pun sering tidak mencukupi kebutuhan daerah yang semakin meningkat.

Sejak paruh kedua abad ke-19, Semarang merupakan salah satu pusat penyebaran ide-ide liberal dan etis dengan tokoh-tokohnya yang terkenal

38 H.C. Kakebeeke, “Geschiedenis der Gemeente Semarang” dalam Gedenkboek der Gemeente Semarang 1906-1931, (Semarang: NV Dagblad De Locomotief, 1931), halaman 39. Pada masa kolonial Belanda, Kota Semarang merupakan ibukota keresidenan, kabupaten Semarang, dan mulai tahun 1906 menjadi wilayah administratif gemeente (kotapraja) Semarang. Selanjutnya mulai 1 Januari 1930, Semarang ditetapkan juga sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Penetapan ini dimuat dalam Staatsblad 1929 No. 227 tentang Instelling van de Midden Java Provincie. Status Semarang sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah ini, setelah Indonesia merdeka, dikukuhkan dengan undang-undang No. 16 tahun 1950, yang berlaku sejak tanggal 16 Agustus 1950, tentang pembentukan daerah Provinsi Jawa Tengah.

Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah

23

yaitu Pieter Brooshooft, Vierhout, Stokvis, dan Lievegoed. Mereka bekerja sebagai jurnalis di harian De Locomotief, dan melalui harian itu menyebarluaskan ide-ide liberal mereka. Di antara empat tokoh itu, Pieter Brooshooft paling dikenal karena ide-ide desentralisasi yang dia lontarkan.

Melalui tulisan di De Locomotief, 17 Maret 1887, Brooshooft mendesak pemerintah kolonial untuk mengadakan pemisahan antara kekuasaan legislatif di Hindia Belanda dengan di negeri Belanda, sama seperti yang dilaksanakan di British-India. Untuk itu Brooshooft mengusulkan agar di Belanda ada menteri untuk daerah jajahan dan dewan kolonial (koloniale raad), yang diangkat oleh raja dan hanya mempunyai kewenangan kontrol di parlemen. Di Hindia Belanda, gubernur jenderal melaksanakan undang-undang yang telah dibuat oleh dewan Hindia (Raad van Indië) untuk pengaturan masalah-masalah di tanah jajahan dan telah disetujui oleh pemerintah pusat.39 Selain itu, Pieter Brooshooft juga mengusulkan agar separuh jumlah anggota dewan keresidenan (gewestelijkraad) dan dewan kota (gementeraad) berasal dari selain ambtenaar, dan setidak-tidaknya sepertiga dari jumlah anggota berasal dari kalangan bumiputra yang terpelajar. Dengan demikian, mereka dapat menentukan anggaran belanja lokal dan masalah-masalah lain di daerah setempat.40

Atas dasar kebutuhan-kebutuhan lokal, dan dengan dorongan seruan etis itu, akhirnya sistem desentralisasi diberlakukan terhadap kota-kota besar.41 Sistem ini disahkan pada tahun 1905 melalui keputusan desentralisasi (decentralisatiebesluit), yang termuat dalam peraturan pemerintah

39 Elisabeth Bodine Locher-Scholten, Ethiek in Fragmenten-Vijf Studies over Koloniale Denken en Doen van Nederlanders in deIndonesische Archipel 1877-1942, (Hes Publishers: Utrecht, 1981), halaman 21.

40 Elisabeth Bodine Locher-Scholten, Ethiek in Fragmenten, halaman 21.

41 W.F. Wertheim (ed.), The Indonesian Town Studies in Urban Sociology, (The Haque: W.

van Hoeve Ltd., 1958), halaman viii.

Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah

24

(regeringsreglement).42 Setelah ada keputusan itu, Semarang menjadi salah satu kota yang ditetapkan sebagai gemeente pada tahun 1906.43

Pemerintahan Kota Semarang dijalankan oleh burgemeester (wali kota), college van burgemeester (badan pemerintahan), wethouder (pelaksana pemerintahan sehari-hari yang dipilih oleh dewan kota), dan gemeenteraad (dewan kota). Pada awal pembentukannya, Gemeenteraad Semarang memiliki 23 orang anggota yang terdiri atas 15 orang Eropa, 5 orang bumiputra, dan 3 orang Timur Asing. Pada tahun-tahun pertama, anggota gemeenteraad masih diangkat oleh pemerintah pusat, namun mulai tahun 1909 anggota-anggota dewan tersebut telah dipilih, dan pelaksana pemilihannya adalah Semarangshe Kiesvereeniging (badan pemilihan Semarang).44

Pembicaraan-pembicaraan dalam gemeenteraad dilakukan menggunakan bahasa Belanda. Padahal ketika itu masih sangat sedikit orang yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut. Untuk mengatasinya, asisten residen menyalin pembicaraan-pembicaraan ke dalam bahasa Melayu. Asisten residen, selaku ketua dewan, juga memberikan saran-saran kepada anggota bumiputra dan Cina, karena mereka memang belum berpengalaman dalam urusan gemeenteraad.45 Pada tahun 1917 jumlah anggota gemeenteraad ditambah, dari 23 orang menjadi 27 orang, yang terdiri atas 15 orang Eropa, 8 orang bumiputra, dan 4 orang Timur Asing.46

42 B. Brommer dkk., Semarang Beld van Een Stad, halaman 17.

43 Staatsblad 1906 No. 120.

44 Liem Thian Joe, Riwajat Semarang: Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan (Semarang-Batavia: Boekhandel Ho Kim Yoe, 1933), halaman 186.

45 Liem Thian Joe, Riwajat Semarang, halaman 186.

46 Sebutan orang Eropa (termasuk juga orang-orang Indo), orang Timur Asing (Cina, Arab, dan orang Asia lainnya), serta orang pribumi disahkan dalam undang-undang dasar pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1854. Kelompok-kelompok ini diatur dengan undang-undang yang berbeda. Tentang aplikasi pengelompokan dan pengaturan masyarakat atas dasar ras ini, lihat

Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah

25

Pemilihan anggota gemeenteraad ini diatur dalam Staatsblad 1917, No. 586 yang memuat antara lain, persyaratan bagi orang bumiputra yang memiliki hak pilih. Orang bumiputra atau orang yang disamakan dengannya dapat dipilih dengan syarat memiliki pendapatan paling sedikit f 600 per tahun, mempunyai kemampuan berbahasa Belanda, dan memenuhi syarat-syarat lainnya.47 Persyaratan ini tentu sulit dimiliki oleh kaum bumiputra karena sangat sedikit di antara mereka yang berpendapatan lebih dari f 40 per bulan48 serta mampu berbahasa Belanda.

Pada tanggal 17 Agustus 1926, keanggotaan gemeenteraad mengalami perubahan lagi, yaitu 15 orang penduduk Belanda (onderdanen-Nederlanders), 8 orang penduduk bumiputra bukan Belanda (Inheeemsche onderdanen-niet-Nederlanders), serta 4 orang bukan bumiputra dan bukan Belanda (Uitheemsche onderdanen-niet-Nederlanders). Perubahan ini tercantum dalam Staatsblad 1925 No. 673.49

Di dalam tubuh Gemeenteraad Semarang, terdapat komisi-komisi yang mengurusi bidang kerja tertentu. Komisi tersebut adalah Komisi Pembuatan Undang-Undang, Komisi Keuangan, Komisi Teknik, Komisi Kesehatan, Komisi Permakaman Orang Eropa, Komisi Peminjaman Uang, Komisi Bantuan untuk Usaha Jual-beli Tanah (Grondbedrijf), Komisi Tanaman dan Warung, Komisi Penelitian tentang Hak Perizinan, Komisi Penyitaan Tanah Partikelir, Komisi Permakaman Orang Cina, Komisi Air Bersih, Komisi Pasar, Komisi Pengaturan Pegawai Pemerintah, Komisi Persiapan untuk Dinas

Onghokham “Kapitalisme Cina di Hindia-Belanda” dalam Yoshihara Kunio (ed.), Konglomerat Oei Tiong Ham: Kerajaan Bisnis Pertama di Asia Tenggara, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991), halaman 87- 98.

47 Verslag van de Toestand der Gemeente Semarang over 1917, halaman 1.

48 Verslag van de Toestand der Gemeente Semarang over 1917, halaman 18-26. Gaji pegawai bumiputra gemeente Semarang berkisar antara f 15 sampai f 50. Hanya beberapa orang yang berpenghasilan lebih dari f 50.

49 Verslag van de Toestand der Gemeente Semarang over1927, (Semarang: G.C.T. Van Dorp

& Co.), halaman 6.

Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah

26

Kesehatan, Komisi Persiapan untuk Pelaksanaan Pajak Pendapatan, Komisi Kereta Api, Komisi Bantuan untuk Pengelolaan Pelabuhan Semarang, dan Komisi Persiapan untuk Pembuatan Keputusan tentang Pemberhentian Konsesi Pabrik Gas.50

Melihat komposisi keanggotaan Gemeenteraad Semarang, wajar jika kebijakan-kebijakan lembaga itu lebih menguntungkan warga Belanda atau Eropa daripada warga bumiputra. Kondisi ini tampak, antara lain dalam kebijakan penggajian atau pengupahan pegawai dan penyediaan sarana-prasarana kota. Sistem penggajian pegawai gemeente didasarkan pada golongan ras,51 sedangkan penyediaan sarana-prasarana kota, antara lain terlihat dalam bidang transportasi. Gemeente membuat dua trayek bus kota dengan jalur yang menghubungkan kawasan hunian penduduk Eropa. Trayek pertama adalah kota atas-kota bawah, dimulai dari Heerenstraat – Bodjong - Nieuwe Tjandiweg - Groote Postweg – Tjandi –Bangkong – Karangtoeri – Ambengan - Heerenstraat. Trayek kedua: kota bawah dengan rute Boeloeplein – Bodjong – Heerenstraat – Ambengan – Karangtoeri – Bangkong - Djomblang, dan sebaliknya. Tujuan utama penyediaan bus kota ini adalah untuk menyukseskan program perluasan kota ke kawasan Candi, atau dengan kata lain untuk menarik sebanyak mungkin penduduk Eropa agar mau bermukim di kota atas. Selain itu penyediaan bus kota juga bertujuan untuk memberikan fasilitas transportasi bagi orang-orang yang bekerja di kota bawah.52

Perluasan Kota Semarang ke wilayah Candi Baru dipelopori oleh Direktur Gemeentewerken (Pekerjaan Umum), Ir. Plate. Pada tahun 1912,

50 Verslag van de Toestand der Gemeente Semarang over 1927, halaman 4-7.

51 Verslag van de Toestand der Gemeente Semarang over 1915, (Semarang: G.C.T. Van Dorp

& Co.), halaman 16-21.

52 Verslag van de Toestand der Gemeente Semarang over 1915, halaman 127-129.

Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah

27

dengan bantuan Ir. Thomas Karsten, yang pada waktu itu bekerja di biro arsitek Maclaine Pont, dibuat rancangan perluasan kota ke daerah perbukitan.

Pembangunannya dimulai pada tahun 1914.53 Daerah yang terkenal dengan sebutan Novo Semawis (Semarang Baru) ini sangat bersih, dengan udara yang sejuk dan murni, sehingga sangatlah ideal dijadikan tempat tinggal orang-orang yang ingin mendapatkan tempat istirahat selepas bekerja.54

Keberadaan Gemeente Semarang dengan program-program pembangunannya sangat mendukung pertumbuhan industri di kota ini.

Penyediaan air bersih, pembangunan dan pengaspalan jalan-jalan, transportasi, pasar, tanah untuk pembangunan industri, dan perumahan, menjadi faktor penunjang penting industrialisasi.

Meskipun ketetapan tentang pembentukan gemeente beserta perangkat pemerintahannya sudah ada sejak 1906, peraturan mengenai pengangkatan wali kota baru ditetapkan pada 1916 melalui Staatsblad 1916 No. 507. Dengan demikian, sejak tahun 1906 sampai dengan tahun 1916, Kota Semarang belum memiliki wali kota. Sebagai pelaksana pemerintahan gemeente adalah gemeenteraad yang diketuai oleh hoofd van plaatselijk bestuur (pimpinan pemerintah daerah atau asisten residen).

Setelah keputusan mengenai pengangkatan wali kota diberlakukan, pada tanggal 1 Agustus 1916 diangkat Wali Kota Semarang yang pertama, yaitu Ir.

D. de Iongh Wzn., yang sebelumnya menjadi anggota gemeenteraad.55 Ir. D.

de Iongh Wzn. kemudian digantikan oleh A. Bagchus yang menjabat dari tahun 1927 hingga 1936. Setelah itu Wali Kota Semarang dijabat oleh H.E.

53 D. De Iongh WZN., “Het Ontstaan van de Wijk Nieuw-Tjandi te Semarang”, dalam Gedenkschrift Uitgegeven door de Stadsgemeente Semarang ter Gelegenheid van Het 25-jarig Bestaan van Nieuw-Tjandi, November 1939, halaman 20-21.

54 H.F. Tillema, “Novo Semawis! (Nieuw Semarang) Na 27 jaar 6/8-1912 tot 1939, dalam Gedenkschrift Uitgegeven door Stadsgemeente Semarang, halaman 15.

55 “Kort Overzicht van het 25-jarig tijdvak“, dalam Gedenkboek der Gemeente Semarang 1906-1931, halaman 21.

Riwayat Kota Lama Semarang Dalam Lintasan Sejarah

28

Boissevain (1936-1942).56 Dalam pelaksanaan pemerintahan sehari-hari, wali kota dibantu oleh wethouders, yaitu pelaksana pemerintahan yang dipilih oleh gemeenteraad (dewan kota).

Sejak Gemeente Semarang dibentuk, pengelolaan anggaran yang semula dilakukan oleh pemerintah pusat diserahkan kepada mereka. Gemeente Semarang diberikan modal pertama sebesar f 196.700 per tahun. Berdasarkan pasal 3 ordonansi dalam Staatsblad 1906 No. 120, pemerintah Hindia Belanda tidak membiayai lagi urusan-urusan kota yang meliputi: pertama, pemeliharaan, perbaikan dan pembangunan jalan-jalan umum, lapangan, tanggul, selokan, sumur, papan nama, jembatan, saluran air, dan los pasar.

Kedua, pengangkutan sampah. Ketiga, penerangan jalan. Keempat, pemadam kebakaran. Kelima, pengadaan tempat permakaman.57

Dalam dokumen RIWAYAT KOTA LAMA SEMARANG (Halaman 42-49)

Dokumen terkait