• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAFSIR SOSIAL DAN FAKTA-FAKTA YANG CAIR

SEBUAH CATATAN ATAS DINAMIKA MASYARAKAT DI DESA-DESA SEKITAR HUTAN

3. Awan terhimpun awan membuyar

taruhlah setelah sekian lama kita menyelami hiruk-pikuk dan silang sengkarut kehidupan orang-orang yang tinggal di sekitar hutan, yang kemudian lazim dinamakan sebagai masyarakat desa hutan – suatu istilah yang sepertinya secara lugas memposisikan desa sebagai bagian dari kawasan hutan –, kita ingin berkata sesuatu tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi di sana, bagaimana sosok sebuah desa hutan, ke mana mereka hendak menyongsong hari depan, seperti apa pergulatan-pergulatan batin dan pikiran para warganya, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya. Kita barangkali bisa menampilkan sebuah laporan tentang berbagai tindakan melanggar hukum, perilaku kejahatan, suatu hal-hal negatif yang keluar dari standar nilai, norma, dan moral sosial – mencuri kayu misalnya –, sebagaimana yang sering kita dengar dari berbagai kesempatan perbincangan normatif mengenai arti sebuah kesadaran lingkungan bagi sekelompok masyarakat yang hidup di sekitar hutan.

Kita bisa juga menampilkan suatu cerita tentang berbagai tindakan perambahan yang mengancam kelestarian hutan.

Bisa saja kita melukiskan kebijakan kehutanan yang morat-marit, penegakan hukum yang lemah, tumpang tindih kepentingan

13 Tania Murray Li. ibid. hal 33.

yang tak kunjung bisa diselesaikan, perencanaan yang salah, aparat yang tak profesional, dan sarjana-sarjana kehutanan yang memiliki kemampuan lemah, hingga pada akhirnya membawa desa-desa hutan dan segenap warganya pada situasi yang tidak memuaskan.

atau barangkali kita bisa mengangkat suatu kasus tertentu, sembari berpendapat bahwa semua itu adalah keniscayaan dari kondisi sumber ekonomi masyarakat yang terbatas. atau kita akan memilih dan memilah kasus-kasus khusus yang cukup positif – bagaimanapun sebagian dari warga desa hutan, langsung ataupun tidak, juga memetik manfaat dari penyelenggaraan kehutanan oleh negara dan pengusaha yang ada di sekitarnya.

Berbicara mengenai masyarakat desa hutan, kita sepertinya memang akan dihadapkan pada suatu potret buram sekelompok masyarakat yang memandang hutan tidak lebih dari sekedar sumber mata pencaharian, formal ataupun informal, legal ataupun ilegal;

sesuatu yang langsung ataupun tidak mengantarkan kita pada pengertian yang lain, bahwa mereka, selama ini, telah mendudukkan sumber daya hutan sebagai basis material penopang kehidupan lokal, untuk tidak mengatakan penopang urusan-urusan domestik. Kita bisa menemukan berbagai macam fakta lugas untuk itu, salah satunya adalah sederetan panjang catatan Peluso mengenai apa yang – oleh pemerintah kolonial – dinamakan sebagai tindak kriminal kehutanan, atau yang oleh pemerintah sekarang disebut sebagai bentuk-bentuk perambahan hutan.14 Dia mencatat: setidaknya sejak tahun 1918, di Jawa, apa yang dinamakan sebagai perambahan hutan itu telah terjadi. Bahkan kalau kita meminjam catatan Benda, bentuk-bentuk aktivitas semacam itu sudah terjadi sejak 1910. Dan kalau kita sedikit melebar – dalam hal ini saya akan meminjam catatan scott –, di Prusia (Jerman), kasus-kasus pelanggaran kehutanan oleh masyarakat sudah berlangsung sejak 1840.15

Lantas, apa yang akan kita pikirkan tentang mereka dengan segenap catatan-catatan miringnya? Bagaimanapun, tak bisa dikatakan dengan cukup yakin bahwa saya bisa memutuskannya dengan segera,

14 Nancy Lee Peluso, Rich Forest Poor People: Resource Control and Resistance in Java (Berkeley, Long Angels, Oxford, 1993).

15 James C Scott, Senjatanya Orang-orang Kalah: Bentuk Perlawanan Sehari-hari Kaum Tani, Terj. A.

Rahman Zainudin, Sayogyo, Mien Joebhaar (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2000). Hlm. 47.

dan kemudian menggambarkan mereka sebagai sesuatu yang pasti adanya, sambil memberikan penjelasan-penjelasan, menyematkan sebuah nilai mutlak, menyatakan dengan obyektif seolah-olah saya bisa menyempal dari lintasan-lintasan opini mengenai mereka tentang apapun: kebaikan atau keburukan, perlawanan ataupun perusakan, kebajikan ataupun kejahatan. saya harus mengatakan sejujurnya, bahwa dalam pergulatan dengan sekelompok masyarakat seperti ini, atas nama studi, pengamatan, atau apapun, kecil kemungkinan bisa memisahkan diri secara tegas dari sekuen kejadian yang sedang coba kita tangkap, catat, ukur, maknai, dan bangun kembali sebagai satu keutuhan informasi secara apa adanya, seperti membayangkan kita bisa melepaskan diri dari kerumunan serangga yang ada di depan mata. adalah naif saya akan bisa memegang suatu prinsip lama:

berusaha sekuat tenaga membuat jarak antara fakta dan nilai, antara obyek dan subyek, antara dorongan-dorongan dari dalam yang begitu menggebu dan kejadian-kejadian yang melambai-lambai di atas permukaan.

Maka dalam hal ini saya sependapat dengan kalimat-kalimat yang pernah diungkapkan Geertz dalam salah satu upaya perbandingannya mengenai indonesia dan Maroko, antara Pare dan sefrou, antara lintasan-lintasan kehidupan sekelompok masyarakat di asia tenggara dan afrika utara: bahwa manusia yang dianugerahi bahasa dan hidup dalam sejarah, bagaimanapun juga memiliki maksud, pandangan, kenangan, harapan, suasana hati di samping passi dan keputusan penilaian, dan hal-hal itu tidak sedikit berkait dengan apa yang dilakukan manusia dan alasan melakukannya. upaya untuk memahami kehidupan sosial dan kultural manusia sebagai kekuatan, mekanisme, dan dorongan itu sendiri, sebagai variabel-variabel yang diobyektifkan dan diletakkan dalam sistem kausalitas tertutup, kelihatannya memang muskil.16

Mungkin saja ujung-ujungnya kita hanya akan menyajikan semacam perjalanan panjang sekelompok masyarakat di suatu desa dengan menekankan perbedaan antara masa lalu dan masa kini, antara yang dahulu dengan sekarang, antara sebelum dan sesudahnya; atau membuat semacam ilustrasi kehidupan di masa

16 Clifford Geertz, After The Fact: Dua Negeri, Empat Dasa Warsa, Satu Antropologi (LKIS, Yogyakarta, 1998)

lampau dan menggambarkan apa yang terjadi di masa kini, tanpa harus membersihkannya dari proses dialektika, nilai, dan berbagai kepentingan yang ada di sekitarnya. Mungkin dapat kita tulis kisah, ataupun cerita tentang bagaimana hal ihwal memunculkan hal berikutnya, hal pertama memunculkan hal kedua, dan kedua-duanya memunculkan hal ketiga; dan lalu..dan kemudian... atau kita akan menyajikan kecenderungan, memilah kurun, menawarkan konsep, teori, dan postulasi tentang, misalnya saja, individualisme yang membengkak, religiusitas menyusut, kesejahteraan yang relatif meningkat, semangat surut, orientasi pasar membubung, gotong-royong melemah, modernitas disorongkan, pasar ditegakkan, ekonomi uang digaung-gaungkan, dan sebagainya.

Pastilah ilustrasi tentang perubahan, pergeseran, transformasi, atau apapun yang sejenisnya, sebagaimana yang baru saja saya uraikan, bukanlah sesuatu yang mengada-ada atau setidaknya barang baru – faktanya hal semacam itu memang sedang ditancapkan (atau dicangkokkan?) di segenap desa hutan. Masalahnya, transformasi dan perubahan itu, kalau memang bisa disebut demikian, tidak seperti yang sering kita bayangkan: berada dalam suatu tatanan metrikal yang ajeg dan harmoni. ia adalah sebuah gambaran dari berpuluh-puluh anak sungai yang mengalir, memilin, dengan masing-masing mewadahi pusaran arus, sebelum kemudian menyatu menjadi sepenggal sungai besar yang hanya dalam waktu singkat kembali membuyar, memecah menjadi anak-anak sungai baru dalam wujud yang tidak sama dengan sebelumnya. Begitulah, geliat perubahan itu sepertinya datang silih berganti dari segenap penjuru angin, dan tiba-tiba hilang tanpa ada tanda-tanda yang sempat kita tangkap. Lantas apakah yang tersisa? Desa-desa yang dalam ilustrasi peta kehutanan ibarat ceceran noktah itu memang berubah, wilayah-wilayah pemangkunyapun berubah, aktor-aktor lokal yang menopangnya juga berubah, bahkan termasuk disiplin ilmu yang sering berupaya untuk bertukar tangkap dengan segenap persoalan dan jawaban yang ada di sana.17 Lantas ada lagikah yang tersisa?

17 Dalam ilustrasi orang-orang kehutanan, dan itu nampak pada peta-peta yang mereka gunakan, apa yang dinamakan desa hutan adalah hunian sosial yang di dalamnya tidak terdapat kawasan hutan (negara). Kendatipun secara administratif suatu desa mungkin memangku hutan, artinya di dalam wilayah desa itu terdapat kawasan hutan, akan tetapi di mata orang-orang kehutanan, desa tidak berdaulat atas hutan-hutan yang ada di pangkuanya. Akibatnya hampir sebagian desa hutan hanya berdaulat atas wilayah-wilayah yang sempit, bahkan dalam beberapa kasus wilayah itu sangat sempit.

Maka, rasanya sudah menjadi keniscayaan kalau kemudian kita harus cukup puas dengan paparan-paparan yang berkelit-kelindan, sesuatu yang tidak permanen, atau kalau kita meminjam ungkapan segar Geertz: “awan terhimpun, awan membuyar”. tak ada ilustrasi-ilustrasi yang bisa dengan kokoh kita sodorkan, tak ada kisah-kisah standar yang bisa kita dongengkan. atau kalaupun itu ada, sudah hampir pasti tak akan pernah ada orang yang bisa begitu saja menceburkan diri dan dengan serta-merta bisa mengkonstruksikan suatu gambar, kisah, atau apapun, tentang kehidupan masyarakat, pada saat kejadian maupun sesudahnya. Yang bisa kita kerjakan, jika memang catatan-catatan, dongeng-dongeng, dan gambar-gambar itu berhasil kita susun untuk jangka waktu yang cukup panjang, adalah sekedar merangkai komentar-komentar telat tentang berbagai keterkaitan yang sebenarnya sudah saling merekat. agaknya kita memang sulit menghindari hal ini dari ungkapan Jawa klasik: othak-athik gathuk.

ilustrasi-ilustrasi, pernyataan-pernyataan, dan berbagai kisah mengenai apa yang sebenarnya terjadi ketika kita mencoba menangkap makna dan berusaha keras memahami sesuatu dengan mendasarkan pada segepok bahan-bahan yang kita kumpulkan dari sebuah drama kehidupan sehari-hari milik sekelompok orang, yang terkadang kitapun terbata-bata menelusurinya, dan hampir selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan mencemaskan. Dengan demikian apa artinya sebuah obyektivitas? apa sajakah yang bisa menjamin bahwa segala upaya pemahaman itu benar adanya? tetapi barangkali memang demikianlah model pemahaman bagi segenap kejadian yang datang silih berganti, cabang-bercabang, melintas tak terjadwal di sela-sela penggalan kehidupan sekelompok masyarakat: suntuk dan meraba-raba, melampaui fakta-fakta lugas yang melintas di depan mata. Kita hanya bisa berusaha merangkai komentar-komentar mengenai kaitan antar kejadian, hingga kesemuanya menjadi satu kesatuan. itulah hal yang saya kira menopang pembentukan pengetahuan maupun penciptaan ilusi. Komentar-komentar itu kita kumpulkan dan kita susun dengan bersumber pada gagasan dan pemahaman, semacam alat yang telah kita persiapkan sebelumnya, yang sebagaimana layaknya sebuah alat, keberadaannya tak lebih untuk merampungkan suatu tugas; baru sesudahnya sebentuk nilai akan kita tambahkan,

bukan kita kurangkan. itulah mengapa, lagi-lagi saya harus mengutip Geertz, jika obyektivitas, kelurusan, dan ilmu itu sendiri harus kita pegang dan tegakkan, caranya bukanlah dengan berpura-pura seolah semua hal itu lepas bebas dari beban-beban pengaruh yang menjadikan atau mementahkannya.

Dengan demikian, untuk menyusun pandangan dan pemahaman saya mengenai fakta-fakta yang terkdang tidak saja seperti silang-sengkarut dan saling bertolak belakang, akan tetapi juga saling berkonspirasi, yang dibutuhkan bukan alur cerita yang kaku dan pasti, pengukuran akurat, kesan terhadap masa lalu, dan ilustrasi mengenai progresi struktural dengan sejumlah tabel dan grafik di sana-sini.

Kendatipun demikian, berbagai hal yang baru saja saya sebutkan itu memiliki kegunaan masing-masing, sekurang-kurangnya dalam hal penetapan kerangka dan pendefinisian pokok perbincangan.

Yang dibutuhkan adalah peragaan betapa perjumpaan dengan berbagai kejadian yang sekilas nampak kecil dan mungkin sepele, perkembangan di sana, keruntuhan di sini, bisa dianyam bersama dengan aneka fakta dan sumber tafsir hingga memunculkan suatu gagasan tentang segala hal-ihwal yang telah terjadi, tengah terjadi, dan memiliki kecenderungan kuat untuk terjadi. ini barangkali mirip dengan apa yang disebut Frye sebagai mitos, kendatipun tak sepenuhnya sama. Mitos, konon, tidak pernah memaparkan apa yang telah terjadi, melainkan apa yang biasa terjadi dan masih terus berlaku sampai kini. ilmu sebenarnya tak berbeda jauh dengan itu, kecuali seperangkat klaim bahwa ia berpijak pada sesuatu yang lebih kokoh, pemikiran lebih jernih, dan – sering kali mengidam-idamkan – bersih dari campur tangan emosi kemanusiaan.