PENDEKATAN POLITIK EKOLOGI EKOSENTRIS :
SEBUAH TAWARAN ALTERNATIF TERHADAP DOMINASI ANTROPOSENTRISME
D. Menuju pendekatan politik ekologi ekosentrik
Dari uraian tersebut, telah dijelaskan bahwa tindakan cara berpikir antroposentrime yang telah mendominasi selama tiga abad telah membawa kerusakan terhadap alam. Kerusakan tersebut telah mengancam kualitas kehidupan manusia, sekaligus membawa manusia hidup dalam kondisi yang penuh resiko tinggi, baik resiko langsung karena kerusakan alam, maupun resiko tidak langsung berupa meluasnya konflik sosial dan kekerasan akibat perebutan sumberdaya alam yang semakin langka.
Oleh karena itulah manusia perlu mengubah cara hidupnya yang selama ini bertindak semena-mena terhadap alam dan harus menyadari bahwa alam memepunyai kemapuan untuk menghukum tidakan manusai yang seeweng-sewenang. Dan cara untuk mengubah sikap tersebut adalah perlu diawali dengan mengubah cara berpikir manusia. untuk itu manusia perlu memeriksa kembali bangunan ilmu yang berpaham antroposentisme dan perlu mengubahnya menjadi bangunan ilmu yang berpaham ekosentrisme.
upaya manusia dalam membicarakan ekologi dalam ilmu sosial dan politik sebenarnya sudah ada. namun upaya tersebut masih didominasi oleh cara berpikir antroposntrik, yaitu hanya menitikberatkan pada dimensi politik (perebutan kekuasan meraih sumberdaya lingkungan) dan kurang memperhatikan posisi ekologi dalam mempengaruhi dinamika politik. Pada bagian ini saya akan menawarkan perubahan dalam bangunan ilmu pengetahuan untuk mencapai pendekatan yang ekosentrik. untuk itu saya akan menjelaskan apa yang saya dimaksud dengan pendekatan ekosentrik.
Pendekatan ekosentrik disini mengacu pada robyn eckersley7 dalam bukunya Environmentalisme and political theory toward and ecosentric approach). Menurut eckersley, ecosentric bertujuan memperluas emansipasi manusia , yang juga mengakui keberadaan
6 Thomas Homer Dixon, Environmental and Scarcity, dalam Nancy Lee Peluso and Mchael Watts, Vio-lent Environtment, Cornll University Press, London, 2001
7 Robyn eckersley, Environmentalisme and political theory toward and ecosentric approach , UCL press, 1992
dunia selain manusia dan memastikan bahwa hal ini dapat dibangun dalam berbagai cara (hal 26). ahli ecosentric mengadopsi posisi etikal yang menghargai semua macam bagian multilayer dari komunitas biotik. Perspetif ecosentric digambarkan sebagai koreksi terhadap peran penting manusia dan anggapan bahwa kapasitasnya mampu memahami seluruh proses biosfer, dan menekankan pada kebutuhan untuk berproses dengan rasa perlindungan dan kerendahan hati yang lebih besar.
Dengan demikian pendekatan ekosentrik adalah pendekatan yang mengatakan manusia harus menurunkan sikapnya yang egosentrisnya, dan mengakui alam adalah bagian dari dunia yang s mempengaruhi dan dipengaruhi kehidupan manusia. Dengan demikian, cara pandang ini telah meninggalkan cara pandang manusia moderen yang dualistik, yaitu cara berpikir subjek dan objek yang melihat dunia secara parsial dan mengarah pada cara pandang yang holistik.
Gambar 1.
Hubungan ketergantungan antara ontologi, epistemologi dan metodologi8
Ontology Epistemology Methodology
What’s out there to know about ?
What can we (hope to ) know about it ?
How can we go about acquiring that knowledge ?
Berikut tawaran yang perlu dilakukan dalam melakukan perubahan bangunan ilmu pengetahuan yang ekosentrik tersebut:
Pertama, Ontologi atau hakikat dunia sosial dan politik yang ingin di amati. Penentuan posisi ontologi adalah tahap yang penting, karena posisi ontologi akan menentukan episitemologi dan metodologi yang akan kita gunakan dalam melakukan riset politik. Menurut robert
8 ibid
Jacson dan George sorensen ( 1999) Pada isu ontologi kita harus peduli dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: apakah ada realitas yang objektif? ataukah merupakan penciptaan subjektif masyarakat?.
Lebih dalam lagi pertanyaan yang lebih mendasar dalam persoalan ontologi adalah apakah subjek dan objek dapat dipisah ataukah satu kesatuan. Cara berpikir antroposentrisme melakukan pemisahan subjek dan objek. Dalam hal ini teori politik moderen melihat manusia menempatkan manusia ke dalam dua posisi, yaitu manusia yang menjadi subjek dan manusia yang menjadi objek. alam pada pendekatan ini diposisikan sebagai objek kedua yaitu objek manusia yang menjadi subjek dan objek manusia yang berada pada posisi objek. Contoh hal ini dapat kita lihat dalam teori yang berkembang saat ini. seperti teoi sistem politik. teori yang diinspirasi dari teori biologi ini sebenrya mempuyai cara berpikir yang yang holistik dalam memandang realitas sosial. Karena melihat realitas sosial politik sebgai sebuah kesatuan sistem. namun yang menjadi masalah adalah teori ini melakukan pemisahan sistem manusia dengan sistem alam.
akibatnya dalam melakukan analisis sistem politik, teori ini sama sekali tidak memperhitungkan dampak sistem politik terhadap alam dan dampak alam terhadap sistem politik. Demikian juga dengan teori struktural, teori ini sebenarnya cukup mampu melakukan analisis secara struktural penyebab orang melakukan tindakan ynag merusak alam, sebab teori ini mampu menguraikan secara sistematis pengaruh struktur politik ekonomi terhadap masyarakat dunia ketiga, yang terpaksa melakukan eksploitasi terhadap sumberdaya alamnya akibat tekanan struktural. namun teori ini tetap berwatak antroposentrik karena memisahkan struktur politik dan ekonomi dari alam, dengan memposisikan alam hanya sekedar sumberdaya ekonomi yang harus diperebutkan. teori post-struktural yang lebih menekankan pada dinamika politik sehari-hari juga mampu melihat proses perusakan alam dari sisi lain dengan cara melihat wacana yang hadir. namun, yang membuat teori ini juga sangat antroposentrik, teori ini tetap melihat pertarungan wacana yang hadir adalah pertarungan memperebutkan sumberdaya dan tetap tidak melihat alam sebagai faktor yang memberi pengaruh terhadap dinamika politik.
untuk mencapai pendekatan yang ekosentrik kita perlu mengubah ontologi berpikir seperti ini. Perubahan ini dilakukan dengan cara
mengubah hakekat cara pandang kita dalam memandang manusia dan ekologi. Dalam hal ini manusia dan alam harus dilihat sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi, alam tidak lagi diperlakukan sebagai subjek, tetapi manusia dan alam harus diletakkan dengan berada pada posisi yang sama yaitu sebagai subjek dan juga sekaligus sebagai objek dari ilmu politik. Dengan demikian dengan pendekatan ekosentrik, ketika kita melakukan pengamatan terhadap sebuah fenomena politik, kita juga harus memperhatikan perubahan kondisi ekologi yang mempengaruhi munculnya fenomena politik tersebut.
Demikian juga sebaliknya bila kita melakukan pengamatan terhadap peristiwa ekologi, kita juga akan memperhatikan perilaku politik manusia yang mempengaruhi peristiwa ekologi tersebut. Misalnya ketika kita melihat peristiwa bencana alam, kita tidak lagi melihat bencana tersebut datang tiba-tiba karena peristiwa alam semata, tetapi juga kita harus memperhatikan keterkaitan perilaku politik manusia yang menyebabkan bencana tersebut terjadi.
Kedua, menentukan epistemologi atau filsafat ilmu. epistemologi berkaitan dengan penjelasan apa yang dapat kita ketahui tentang fenomena politik atau pemahaman kita mengenai fenomena politik, serta bagaimana kita dapat mengetahuinya. Menurut neuman, tema sentral yang menjadi perdebatan epistimologi ada dua pendekatan yaitu, pertama, Positivism yang bertujuan untuk menjelaskan dan kedua, penafsiran (interpretatif) yang bertujuan untuk memahami (Verstehen). Positivism memandang ilmu sosial sebagai metode terorganisir untuk mengkombinasi logika deduktif dengan observasi empiris yang tepat terhadap perilaku individual guna mengungkap dan mengkonfirmasi hukum kausal probabilistik yang dapat digunakan untuk memprediksikan pola umum aktivitas manusia.
sedang, pendekatan interpretatif berbasis pada Erklärung atau penjelasan secara abstrak dan Verstehen atau pemahaman empatik terhadap pengalaman hidup seseorang dalam seting sejarah khusus.
Pendekatan interpretatif merupakan analisis secara sistematis terhadap pemaknaan aksi melalui observasi langsung yang detail dalam seting alami agar mendapatkan pemahaman dan interpretasi mengenai bagaimanakah seseorang/masyarakat menciptakan dan mengelola dunia sosial mereka lapangan.9
9 W.Laurence neuman dalam Social research metods qualitatif and quantitatif approaches (third edition),
Dengan posisi ontologi yang ecosentrik maka epistimologi juga harus sesuai dengan epistimologi ilmu yang ekosentrik. Dalam hal ini pendekatan positivistik harus diubah menjadi pendekatan yang non-positivistik. Menurut saya pendekatan yang cocok dengan ontologi ekosentrik adalah pendekatan yang interpretatif. Dalam pendekatan ini, pendekatan interpretatif harus diubah dengan cara tidak hanya berusaha memahami sejarah empatik perilaku manusia saja berdasarkan pengalamannya, tetapi juga menjadi lebih berupaya memahami perilaku alam dan pengaruh alam terhadap perilaku manusia. Dengan demikin kita tidak hanya dapat memahami kehidupan politik manusia dalam memperebutkan kekuasaan, tetapi pengaruh alam yang mempengaruhi perilaku manusia.
Ketiga, berdasarkan ontologi dan epistemologi tersebut maka selanjutnya kita dapat menentukan metodologi yang digunakan.
Metodelogi merupakan ilmu yang berbicara mengenai bagaimana metode-metode yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ingin di ketahui. Metodologi penelitian menurut Muhajir (2000) membahas konsep teoritik berbagai metoda, kelebihan dan kelemahannya, yang dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian.10 Dalam hal ini ada dua paradigma metode peneitian yaitu kuantitatif dan kualitatif. Paradigma kuantitatif menggunakan pendekatan positivistik, sedang kualitatif menggunakan pendekatan anti positivistik. Metode berparadigma kuantitatif mempersyaratkan teknik pengumpulan data yang sangat terstruktur, yang memungkinkan dilakukan kuantifikasi, pengujian hipotesis, pengukuran dan operasinalistasi bersifat deduktif. sedang paradigma kualitatif menggunakan metode pengumpulan data yang bersifat induktif. Yaitu melakukan generalisasi dari fakta-fakta khusus yang dikaji secara mendalam.
Dari posisi ontologi dan epistimologi di atas maka kita dapat memilih metode yang dapat digunakan untuk mengetahui realitas politik dan ekologi yang ingin kita teliti (metodologi). Dengan demikian dalam penelitian politik yang mengambil pendekatan ekosentrik
University of wisconsin at white water
10 Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi keempat, Rake sarasin Yogyakarta, 2000
kita harus mengembangkan metode yang berawal dari proses pengambilan data dari fakta-fakta yang diambil secara induktif. sebab kondisi ekologi dan kondisi politik dalam satu tempat berbeda dengan tempat yang lain, dan tidak dapat dilakukan generalisasi seperti dalam pendekatan kuantitatif. Maka paradigma dari metodelogi yang tepat dalam penelitian yang menggunakan pendekatan ekosentrik adalah metode penelitian kualitatif.
E. Penutup
Dari uraian diatas dijelaskan bahwa perkembangan ilmu politik dalam memandang ekologi lahir dari cara berpikir yang antroposentrik.
Cara berpikir ini telah membuat manusia menganggap dirinya sebagai pusat dari dunia, yang kebutuhannya harus dapat dipuaskan oleh alam. Cara berpikir yang antroposentrik, telah membuat alam yang menjadi objek eksploitasi mengalami kerusakan. Kerusakan alam ini telah membawa ancaman terhadap kehidupan manususia.
Oleh karena itu agar kehidupan manusia menjadi lebih baik di masa depan, manusia harus mengubah cara berpikir yang antroposentrik menjadi ekosentris. Perubahan cara berpikir ini dapat diawali dari perubahan bangunan ilmu pengetahun yang dimiliki, temasuk ilmu politik. untuk mengubah bangunan ilmu tersebut harus dilakukan perubahan mendasar dalam ilmu politik dari mulai ontologi, epistimologi, hingga metodelogi.
Daftar Pustaka
Dryzek. John. s. 1997. The Politics of the Earth: Environmental Discourses. London: Oxford university Press.
Peluso, nancy Lee. and Watts, Mchael. 2001. Violent Environment.
London: Cornell university Press.
noeng Muhajir. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. edisi Keempat.
Yogyakarta: rake sarasin.
Walker, Peter a. Political ecology: where is the ecology. Jurnal Proggres in human Geography 29, i, 2005.
eckersley, robyn. 1992. Environmentalisme and Political Theory Toward and Ecosentric Approach. uCL press.
neuman, W. Laurence dalam social research metods qualitatif and quantitatif approaches (third edition), university of Wisconsin at white water.