BAB IV: STUDI KRITIS ATAS TAFSI>R AD{WA<’U AL-BAYA<N KARYA AL-
2. Ayat-Ayat Hukum
184
hidup dari air. Al-Ra>zi> kemudian menjawab sendiri pertanyaannya tersebut.
Menurutnya redaksi pada ayat 30 di atas yang menggunakan terma “ءٟش ًّو”, dan
“ءبٌّا” yang dari sisi kebahasaan bermakna umum (‘amm), namun dapat dipastikan bahwa maknanya adalah khusus. Oleh karena itu makna kalimat tersebut harus difahami terhadap sesuatu yang bisa dilihat dan diindra (musha>hid mah}su>san). Dari hal ini maka kita dapat fahami bahwa malaikat, jin, adam, dan kisah penciptaan burung oleh Isa merupakan pengecualian dan tidak masuk dalam cakupan ayat ini karena kesemuannya tidak bisa dilihat oleh orang-orang kafir dan manusia pada umumnya. Al-Ra>zi> menambahkan bahwa para ulama memang berbeda dalam memahami “ ٍَّٟد ٍءَْٟش ًَُّو” sebagian memaknainya dengan khusus bagi hewan-hewan, sebagian lagi memasukkan tumbuhan dan pepohonan.315
2. Ayat-ayat Hukum
Hukum terkait pernikahan beda agama masih sering menjadi polemik hingga saat ini terutama di negara-negara multikultural seperti Indonesia. Setidaknya ada tiga kutub pemikiran yang berseberangan dalam menyikapi hal tersebut. Pertama:
mengharamkan secara mutlak, baik antara laki-laki muslim dengan perempuan non muslim/ahli kitab ataupun sebaliknya, antara muslimah dengan laki-laki non muslim.
Kedua: membolehkan secara mutlak. Pendapat ini merupakan antitesis dari pendapat pertama yang sering disuarakan Islam progresif-liberal. Ketiga: tetap mengharamkan pernikahan beda agama namun memberikan pengecualian, yakni jika laki-lakinya
314 Al-Shinqi>t}i>, Ad}wa>’u Al-Baya>n, - Volume IV -, 705.
315 Ibid., 706.
185
muslim dan perempuannya non muslim/ahli kitab, maka hal tersebut dibolehkan.
Pendapat pertama sering mendasarkan argumentasinya pada Qs. Al-Baqarah [2]: 221, sedangkan pendapat ketiga berdasarkan Qs. Al-Maidah [5]: 5. Dari sekian ayat dalam al-Quran yang berbicara terkait tema ini, dua ayat tersebut adalah ayat yang sampai saat ini tafsirnya masih sering diperdebatkan.
Terkait Qs. Al-Maidah [5]: 5, Al-Shinqi>t}i> dalam Ad}wa>’u Al-Baya>n sama sekali tidak memberikan penafsirannya. Ini terlihat setelah ia menafsirkan ayat ke 2 pada surat tersebut ia langsung melompat membahas ayat ke 6 yang berbicara terkait beberapa masalah dalam hukum wudhu. Ayat ke 5, memang sempat ia singgung dalam satu paragraf, namun penjelasannya hanya terfokus kepada potongan terakhir ayat [خ٠لأا..ِْبَّْ٠ ِلإبِث ْشُفْىَ٠ َِْٓ َٚ], sehingga di sini penulis tidak menemukan relevansinya terkait dikursus nikah beda agama.316 Namun Al-Shinqi>t}i> membahas tema ini ketika menafsirkan Qs. Al-Baqarah [2]: 221, dengan pendekatan tafsi>r al-qura>n bi al-qura>n.
Lebih jelasnya penulis akan mengutip Qs. Al-Baqarah [2]: 221, sebagai berikut:
Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga
316 Muh}ammad Al-Ami>n Al-Shinqi>t}i>, Ad}wa>’u Al-Baya>n fi I<d}a>h} Al-Qura>n bi Al-Qura>n, - Volume II, (Makkah: Da>r ‘A<lam al-Fawa>’id li al-Nashr wa al-Tauzi>’, 1437H), 9-10.
186
dan ampunan dengan izinnya. (Allah) menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.317
Dalam Ad}wa>’u Al-Baya>n, Al-Shinqi>t}i> menfokuskan penjelasannya pada terma, “دبوششٌّا” yang berarti wanita-wanita musyrik. Pada frase awal ayat ini, Allah melarang laki-laki muslim menikahi wanita-wanita musyrik. Menurut Al-Shinqi>t}i>, secara dzahir redaksi ayat tersebut juga mencakup wanita-wanita ahli kitab yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Tetapi menurutnya dalam ayat lain disebutkan bahwa wanita-wanita ahli kitab tidak termasuk konteks yang diharamkan dalam ayat tersebut. Yang dimaksud Al-Shinqi>t}i> di sini adalah ayat Qs, Al-Maidah [5]: 5
“ َةبَزِىٌا اُٛرُٚأ َْٓ٠ِزٌَّا َِِٓ ُدبََٕصْذٌُّا َٚ”. Ia kemudian beralih ke persoalan lain, terkait apakah sebutan musyrik juga berlaku bagi wanita ahli kitab? Ia menulis, jika kemudian ada orang yang berpendapat bahwa wanita-wanita ahli kitab tidak termasuk dalam konteks wanita-wanita musyrik sebagaimana disebut dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 221, dan mendasarkan pendapatnya kepada beberapa ayat semisal:
Jika ia berargumen bahwa dalam rangkaian ayat tersebut terdapat wawu athaf, yang artinya antara lafadz sebelum dan sesudah wawu merupakan hal-sosok yang berbeda, yang kemudian berpimplikasi hukum bahwa wanita ahli kitab tidak
317 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran Terjemah Per-Kata, (Bandung: Sygma, 2007), 35.
318 Qs. Al-Bayyinah [98]: 1.
319 Qs. Al-Bayyinah [98]: 6.
187
termasuk dalam terma al-mushrika>t. Maka, menurut Al-Shinqi>t}i>, hal tersebut tidak dapat dibenarkan. Ia menambahkan, wanita-wanita ahli kitab termasuk dalam cakupan wanita-wanita musyrik.321 Ia mendasarkan pendapatnya tersebut dengan firman Allah dalam surat lain:322
Namun dalam konteks penjelasan Qs. Al-Baqarah di atas, Al-Shinqi>t}i> melalui metode tafsi>r al-qura>n bi al-qura>n tidak memberikan penjelasan lebih jauh terkait pernikahan beda agama. Fokus penjelasannya hanya terpusat pada dua hal, pertama, bahwa ‚al-mushrika>t‛ walaupun kalimat tersebut bermakna umum, hal tersebut ditakhsis dengan al-Maidah [5]: 5 bahwa wanita ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani tidak termasuk dalam cakupan hukum ayat tersebut (muh}arrama>t). Di sini terlihat, ia sepertinya mengikuti pandangan ke tiga sebagaimana telah disebutkan di atas. Namun demikian sebagaimana dijelaskan dalam paragraf terakhir, mereka wanita ahli kitab tetap termasuk kategori orang-orang musyrik.