Dampak hubungan badan pranikah di kalangan pelajar seperti yang kita ketahui, mempunyai dampak yang sangat negatif dan bahkan dapat menghancurkan masa depan remaja sebagai dampak hubungan badan pranikah. Untuk itu, perlu kiranya semua remaja mempelajari, apabila belum tahu dampak apa saja yang ditimbulkan akibat pergaulan bebas, agar tidak terjerumus ke dalam seks bebas.
Adapun dampak negatif hubungan badan para nikah atau free sex bagi kesehatan remaja diantaranya;
1. Untuk perempuan di bawah usia 17 tahun yang pernah melakukan hubungan seks bebas akan beresiko tinggi terkena kanker serviks.
2. Beresiko tertular penyakit kelamin dan HIV-AIDS yang bisa menyebabkan kemandulan bahkan kematian.
3. Terjadinya KTD (Kehamilan yang Tidak Diinginkan) hingga tindakan aborsi yang dapat menyebabkan gangguan kesuburan, kanker rahim, cacat permanen bahkan berujung pada kematian.
Dampak psikologis seks bebas pada remaja yang seringkali terlupakan ketika melakukan free sex adalah akan selalu muncul rasa bersalah, marah, sedih, menyesal, malu, binggung, stres, benci pada diri sendiri, benci pada orang yang terlibat, takut tidak jelas, insomnia (sulit tidur), kehilangan percaya diri, gangguan makan, kehilangan konsentrasi, depresi, berduka, tidak bisa memaafkan diri sendiri, takut akan hukuman Tuhan, mimpi buruk, merasa hampa, halusinasi, ketagihan dan sulit mempertahankan hubungan.
Bagaimana cara untuk menghindari hubungan badan pranikah meskipun dengan alasan kata "bukti sayang atau cinta" dan lain- lain? Sebenarnya semua dikembalikan pada individu remaja masing-masing. Mencegahnya merupakan suatu hal yang harus bersifat kooperatif dari berbagai aspek seperti remaja itu sendiri -
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
GURU PEMBELAJAR 2: SISTEM REPRODUKSI MANUSIA DAN KESEHATANNYA KELOMPOK KOMPETENSI F
46
pihak orang tua - sekolah dan lingkungan masyarakat. Semua aspek, mesti diimbangi oleh norma agama dan sosial. Jika seseorang telah di bekali ilmu secara agama dan medis mengenai dampak hubungan badan pra nikah tadi, semua keputusan ada ditangannya sendiri.
C) Pencegahan Hubungan Badan Pranikah
Perilaku seks bebas dapat dicegah dengan cara salah satunya dengan pendidikan seks. Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual;
a. Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu.
b. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar remaja tidak akan bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya: proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.
c. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan remaja. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin, karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut.
d. Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: SISTEM REPRODUKSI MANUSIA DAN KESEHATANNYA KELOMPOK KOMPETENSI F
47
e. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitif), selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak, juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.
Pendidikan seks ada dua jenis yaitu, pencegahan menurut agama, dan pencegahan seks bebas dalam keluarga
1) Pencegahan Seks Bebas Menurut Agama
a. Setiap orang tua berusaha untuk mulai memisahkan tempat tidur anak-anaknya ketika mereka memasuki minimal usia tujuh tahun.
b. Sejak dini anak-anak sudah diajarkan untuk selalu meminta izin ketika akan masuk ke kamar orang tuanya pada saat-saat tertentu.
c. Berilah pengertian mengenai adab dalam memandang lawan jenis sehingga anak dapat mengetahui hal-hal yang baik dan buruk.
d. Hubungan seksual merupakan hubungan yang sangat khusus di antara suami-istri. Karena itu, kerahasiaanya pantas dijaga. Mereka tidak boleh menceritakan kekurangan pasangannya kepada orang lain, apalagi terhadap anggota keluarga terutama anak-anaknya.
2) Pencegahan Seks Bebas Dalam Keluarga
a. Keluarga harus mengerti tentang permasalahan seks, sebelum menjelaskan kepada anak-anak mereka.
b. Seorang ayah mengarahkan anak laki-laki, dan seorang ibu mengarahkan anak perempuan dalam menjelaskan masalah seks.
c. Jangan menjelaskan masalah seks kepada anak laki-laki dan perempuan di ruang yang sama.
d. Hindari hal-hal yang berbau porno saat menjelaskan masalah seks, gunakan kata-kata yang sopan.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
GURU PEMBELAJAR 2: SISTEM REPRODUKSI MANUSIA DAN KESEHATANNYA KELOMPOK KOMPETENSI F
48
e. Meyakinkan kepada anak-anak bahwa teman-teman mereka adalah teman yang baik.
f. Memberikan perhatian kemampuan anak usia remaja di bidang olahraga dan menyibukkan mereka dengan berbagai aktivitas.
g. Tanamkan etika memelihara diri dari perbuatan-perbuatan maksiat karena itu merupakan sesuatu yang paling berharga.
h. Membangun sikap saling percaya antara orang tua dan anak.
D. Aktivitas Pembelajaran
Setelah mengkaji materi tentang konsep sistem reproduksi dan kesehatannya. Anda dapat mempelajari kegiatan eksperimen dan non eksperimen yang dalam modul ini disajikan petunjuknya dalam lembar kegiatan. Untuk kegiatan ekaperimen, Anda dapat mencobanya mulai dari persiapan alat bahan, melakukan percobaan dan membuat laporannya. Sebaiknya Anda mencatat hal-hal penting untuk keberhasilan percobaan, ini sangat berguna bagi Anda sebagai catatan untuk mengimplementasikan di sekolah.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: SISTEM REPRODUKSI MANUSIA DAN KESEHATANNYA KELOMPOK KOMPETENSI F