BAB IV ANALISA DATA DAN INTERPRETASI DATA
IV. B. 1. c. Data Hasil Wawancara
Bagi responden perceraian orangtuanya tidak memiliki dampak apa-apa terhadap dirinya. Responden tidak merasa kehilangan orangtuanya karena sejak usia sepuluh bulan responden sudah terbiasa hidup tanpa kedua orangtuanya.
“Enggak ada. Emang sudah seharusnya seperti itu, karena dari kecil pun aku enggak pernah tinggal sama mamak sama bapak. Selalu tinggal sama nenek. Kata nenek kan umur sepuluh bulan, cerai susu, aku enggak tinggal sama mamak lagi. Jadi enggak, aku enggak terlaluu mikirin gitu. Gak ada pikiran, enggak ada yang masalah kok, dari dulu pun aku enggak tinggal sama mereka. Enggak, memang enggak kehilangan aku.” (RII. W1. 332-342/hal.8).
2. Faktor yang mendorong untuk menikah a. Push factor
Pada responden II tidak ditemukan adanya motivasi push factor untuk pernikahannya.
b. Pull factor
Responden ingin menikah untuk mendapatkan rasa kebersamaan, pengertian, saling membantu, saling menghargai, saling percaya, dan membangun suatu hubungan menjadi lebih kuat. Tujuan responden untuk menikah agar mendapat tempat untuk membagi suka dan duka.
“Kebersamaan, pengertian, saling membantu, saling menghargai, saling percaya, membangun suatu hubungan menjadi lebih kuat gitu, sehati lah, gitu, keknya itu.”(RII. W2. 29-32/hal.1).
“Tujuanku menikah itu satu, supaya aku ada tempat aku untuk berbagi suka dan duka. Itu aja. Kurasa itu pun yang paling suka aku, alasan setiap orang untuk menikah.”(RII. W2. 238-242/hal.6).
3. Persepsi terhadap pernikahan a. Pengetahuan
Keluarga dari pihak ibu bermasksud untuk menikahkan ibu responden dengan pria pilihan keluarganya. Tetapi ibu responden menolak dan memilih untuk menikah dengan ayah responden. Pernikahan tersebut tidak dipestakan secara adat sehingga menjadi hal yang memalukan bagi keluarga. Sewaktu responden berusia sepuluh bulan dan responden sudah pisah susu dengan ibunya, responden diserahkan kepada neneknya dari pihak ibu. Kehidupan responden
dibiayai oleh neneknya, dan setelah neneknya meninggal dunia, responden bekerja untuk membiayai hidupnya.
“Istilahnya kan mamak itu anak yang paling kecil di keluarga, anak perempuan, jadi udah kek dijodoh-jodohin gitu. Ya tahulah kalo zaman dulu itu enggaknya bisa, kayak zaman sekarang pun enggaknya bisa dipaksakan kali sebenarnya keinginan orangtua kan.” (RII. W1. 300-306/hal.7).
”Karena mamak sama bapak, kalau menurut orang Karo kan, adat orang Karo itu, suku Karo mereka itu kalau belum dipestakan adat menjadi hal yang memalukan bagi keluarga.” (RII. W1. 346-350/hal.8).
“Kata nenek kan umur sepuluh bulan, cerai susu, aku enggak tinggal sama mamak lagi. Nenek semua. Setelah SMP aku nenek enggak ada lagi, aku. Aku membiayai diriku sendiri.” (RII. W1. 336-338/hal.8 ; 607-609/hal.14).
Selama pernikahannya, ayah dan ibu responden berulang kali berpisah untuk sementara waktu karena bertengkar dan kemudian rujuk kembali. Orangtua responden bercerai saat responden berusia sembilan tahun. Perceraian tersebut dipicu karena ayah responden tidak sesuai dengan pilihan keluarga ibu, sehingga ayah responden sering menjadi ‘bulan-bulanan’ keluarga ibu.
“Pisah gitu, jadi ada berapa waktu memang nyambung lagi atau balik lagi gitu. Cuma paling lama dua bulan atau tiga bulan gitu, mereka itu bertengkar, pisah, saling ini lagilah, saling pergi lagilah, enggak sama gitu kan. Nanti bisa datang lagi pisah lagi, datang lagi pisah lagi.” (RII. W1. 15-20/hal.1; 351-355/hal.8).
“Udah itu umur sembilan tahun, mungkin kelas tiga mamak sama bapak itu baru resmi bercerai. Istilahnya karena tidak sesuai dengan pilihan orangtua, bapak itu jadi bulan-bulanan keluarga mamak gitu. Yang dibilang enggak becus kerjalah, bukan orang satu sukulah, gitu. Lagian dia bukan orang berada gitu.” (RII. W1. 24-27/hal.1; 309-311/hal.7).
Responden tidak merasakan apapun terhadap perceraian kedua orangtuanya, responden sudah terbiasa hidup tanpa kedua orangtuanya, sehingga responden tidak merasa kehilangan saat orangtuanya bercerai. Bahkan menurut responden perceraian orangtuanya merupakan hal yang wajar terjadi. Responden hanya takut kehilangan neneknya karena responden sudah menganggap neneknya sebagai ibunya. Setelah orangtuanya bercerai, responden merasa sedih. Kesedihan yang dirasakan responden terjadi karena ia ingin memiliki keluarga yang lengkap, bukan berarti responden menginginkan kedua orangtuanya kembali. Responden hanya ingin punya ayah dan ibu, siapapun mereka. Responden ingin mempunyai ayah dan ibu agar responden bisa diantar ke sekolah dan diajak jalan-jalan.
“Enggak ada. Emang sudah seharusnya seperti itu, karena dari kecil pun aku enggak pernah tinggal sama mamak sama bapak. Gak ada pikiran, enggak ada yang masalah kok, dari dulu pun aku enggak tinggal sama mereka. Enggak, memang enggak kehilangan aku. Biasa aja. Karena aku yang paling kutakutkan kalau nenekku enggak ada. Nenek, hubungannya ya seperti, kalau kata orang-orang seperti mamak sendirilah. Sama dia bisa cerita apa aja, dia penuhi segala kebutuhan kita, jadi dialah mamak kita gitu, walaupun dalam sebutan nenek, kan gitu.” (RII. W1. 332-342/hal.8; 414-416/hal.9; 657-662/hal.15).
“Sedih aku, bukan karena bapakku tetapi aku pengen punya keluarga, enggak mesti bapakku. Enggak mesti dia, cuma aku pengen orangtua yang lengkap, gitu. Supaya aku bisa pergi jalan-jalan sore gitu. Ada yang nganterin aku sekolah gitu, itunya yang aku pengen. Bukannya mesti bapakku yang jadi bapakku gitu, enggak.” (RII. W1. 402-410/hal.9).
Setelah perceraian terjadi, responden tetap tinggal dengan neneknya. Hubungan responden dengan kedua orangtuanya tidak terlalu baik. Mungkin karena pengaruh neneknya, responden merasa takut pada ayahnya. Menurut responden, ayahnya adalah orang yang menyeramkan, kejam, dan sadis. Setelah
responden mengenal ayahnya yang sesungguhnya, responden merasa ayahnya adalah orang yang baik.
“Dengan bapak pun, bapak pun paling takut aku sama dia. Dia menyeramkan buat aku gitu. Dia orang yang kejam, sadis gitu, padahal enggaknya, aku enggak pernah dipukul sama bapak, enggak. Cuma aku enggak suka sama dia mungkin pengaruh dari nenek kan.” (RII. W1. 423-435/hal.10).
“Aduh, ternyata bapak itu enggak gitu banget, kok ternyata bapak itu baik juga gitu.” (RII. W1. 452-454/hal.10).
Sedangkan dengan ibunya responden memiliki hubungan yang negatif. Responden merasa ia dengan ibunya tidak memiliki hubungan yang dekat dan tidak pernah cocok dengan ibunya. Responden lebih sering berjumpa dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya. Responden merasa ibunya tidak mengenal bagaimana dirinya, karena ibunya tidak percaya dengan responden. Responden juga merasa ibunya benci pada dirinya karena pernah mengusir dirinya. Karena hal tersebut, responden tidak peduli lagi terhadap ibunya, ia tidak peduli apa yang terjadi dengan ibunya, tetapi ia tidak dendam terhadap ibunya.
“Dia enggak punya hubungan yang dekat samaku gitu. Enggak pernah kin kami cocok. Paling aku jumpa sama mamak (diam sejenak), sekali, dua kali, dua kali. Kalau sama bapak, bapak meninggal, lebih sering aku jumpa sama bapak, lebih banyak aku tinggal sama bapak, lebih banyak aku tinggal sama bapak malah dari pada sama mamak.” (RII. W1. 419-421/hal.10; 489-495/hal.11).
“Berarti enggaknya dikenalnya aku, kalau dia enggak percaya sama aku. Jadi aku diusirnya dari rumahnya. Kalau seandainya kita normal gitu, biasanya kita, sewajarnya, mana mungkin kita bikin anak kita gitu. Berarti dia benci sama kita kan, kita berpikir seperti itu kan.” (RII. W1. 518-520/hal.12; 548-564/hal.12-13)
Setelah perceraian tersebut, kedua orangtua responden menikah kembali. Ibu responden menikah saat usia responden sepuluh atau sembilan tahun. Saat usia responden empat belas tahun, nenek responden meninggal, sehingga akhirnya responden tinggal dengan ibunya bersama ayah tirinya Ayah tirinya pernah hampir memperkosa dirinya. Ketika responden mengungkapkan hal tersebut pada ibunya, ibunya tidak percaya dan malah menuduh responden berbohong. Tidak tahan dengan keadaan tersebut, responden pindah ke rumah ayahnya. Di rumah ayahnya, responden memiliki abang tiri yang terbelakang secara mental. Karena malu akan hal tersebut, responden pergi dari rumah ayahnya dan bekerja pada tetangganya yang kemudian menyekolahkan responden. Setelah tamat SMA, rersponden kembali ke Medan dan tinggal dengan ayahnya. Sewaktu berasa di rumah ayahnya, responden merasa tidak senang dengan ibu tirinya yang selalu membicrakan tentang dirinya, akhirnya responden pergi dari rumah tersebut. Sampai saat ini responden tidak pernah lagi kembali pada keluarganya
“Udah kelas lima atau kelas empat gitu, menikah sama orang Batak. Kelas dua SMP nenek meninggal, jadi otomatis aku tinggal sama bapak kan. Tinggal sama bapak, belum tinggal sama bapak, tinggal sama mamak, mamakku.” (RII. W1. 41-43/hal.2; 50-53/hal.2).).
“Ee... kupikir pun kan hampir dulu pernah kejadian gitu kan, hampir aku pernah diapanya gitu, dari situ aku enggak mau lagi tinggal di situ (volume suara menurun). Yang parahnya kubilang sama mamak, dia enggak percaya... Enggak percaya dia, malah dikatainnya pula yang enggak-enggak. Padahal kita bilang, padahal kita takut, malu, gitu kan. Kelas dua SMP aku itu. Enggak tahan aku di situ (diam sejenak), pigi aku sama bapakku di Kandibata. Ada abangku di situ, tapi lain mamak kami, dia mamaknya nomor satu, mamakku nomor dua. Dia cuma sendiri, jadi dia, mungkin dia punya keterbelakangan mental gitu (volume suara menurun), enggak, apalah, memang enggak penuh dia gitu. Jadi aku... mungkin malu aku, kuakuilah malu aku.” (RII. W1. 52-114/hal.2-3).
“Ee, akhirnya kan bapak sakit, aku pun memang enggak aku tahan di situ. Enggak, aku paling enggak bisa dibicarai-bicarai di belakang gitu. Enggak suka aku, langsung pigi aku kan.” (RI. W1. 467-471/hal.11).
Menurut responden pernikahan hanyalah suatu cacatan yang menunjukkan kesyahan hubungan antara dua manusia. Pernikahan dibuat untuk menghindarkan orang-orang dari hal-hal yang dianggap tidak benar dalam norma-norma masyarakat. Responden merasa pernikahan itu tidak ada artinya. Menurut responden kita merasa dekat dengan seseorang hanya karena kita memiliki keterikatan dengan mereka Responden akan memutuskan untuk menjalin pernikahan dengan seseorang bila ia merasa orang tersebut sudah sesuai dengan dirinya.
“Lembaga ajanya itu. Menikah atau enggak kan sama aja. Kitanya menentukan langkah apa yang kita ambil, baik atau buruk, kita juganya. Menikah itu cuma catatan ajanya, aku itu kalau sama aku. Menghindarkan orang-orang dari hal-hal yang dianggap enggak benar sama norma-norma masyarakat, itu aja. Jadi apa artinya pernikahan itu, kan enggak adanya.” (RII. W2. 168-173/hal.4; 175-177/hal.4; 185-187/hal.5).
“Karena kita terikat sama pacar kita baru kita bisa bilang dia orang terdekat sama kita kan, kalau enggak, dia bukan siapa-siapa kita. Jadi kupikir sebelum aku memulai suatu hubungan itu harus kuselidiki dululah dia kan. Cocok enggak dia, kalau dari awal pun sudah enggak cocok, ngapain.” (RII. W2. 210-215/hal.5; 48-52/hal.2).
b. Harapan
Responden ingin menjalani pernikahan yang sederhana tanpa ada campur tangan dari orang lain. Baik buruknya pernikahan yang dijalani oleh responden merupakan hal yang hanya diketahui oleh responden dan pasangannya. Responden juga ingin tinggal jauh dari keluarganya apabila sudah menikah nantinya.
“Pernikahan yang pengen aku jalani itu ya keknya simple aja. Aku enggak pengen yang kayak macam-macam gitulah ya, yang sederhana aja. Yang ada misalnya cuma aku sama suamiku, sama anak-anakku misalnya, jika aku punya, gitu. Aku enggak mau ada campur tangan orang lain gitu. Misalnya menikah pun aku, aku kan sekarang tinggal sama keluarga gitu, aku pengen tinggal jauh dari keluarga gitu. Enggak pengen aku di sini. Yang tahu baik buruknya keluargaku ya aku sama suamiku, gitu aja.” (RII. W2. 6-16/hal.1; 23-25/hal.1).
Dalam pernikahanya kelak, responden tidak terlalu mengharapkan kehadiran anak. Perasaan responden terhadap anak tidak stabil, terkadang responden bisa suka terhadap anak-anak, terkadang responden tidak suka terhadap anak-anak. Responden tidak ingin anaknya kelak akan terluka karena ketidakstabilannya tersebut, karena menurut responden kestabilannya dapat membuat anaknya tidak stabil juga. Kalaupun kelak responden menjadi seorang ibu, responden tidak ingin menjadi ibu bagi anaknya, responden ingin menjadi sahabat anaknya dan responden akan membebaskan anaknya untuk melakukan apapun yang diinginkannya selama anaknya bertanggung-jawab untuk pilihannya tersebut.
“Anak bukan suatu hal yang penting kali bagi aku. Karena istilahnya kalau aku bisa dibilang enggaknya stabil kali aku. (Diam sejenak). Kadang bisa suka aku, kadang enggak, dengan anak, gitu. Ngapain punya anak kalau cuma bisa bikin dia sakit (volume suara meninggi), cuma, enggak stabil, kalau aku enggak stabil dia pun pasti enggak stabil.” (RII. W2. 83-84/hal.2; 94-96/hal.3; 108-111/hal.3)
“Tapi yang paling kupengen kali ya kek gitu, dia temanku bukan anakku. Aku enggak ingin menjadi seorang ibu, kalaupun ada anakku, aku bukan ibunya, aku temannya. Itu yang lebih penting, kalau aku ibunya, berarti aku bisa ngatur dia kan, ini enggak, kubebaskan dia dalam segala hal, dalam segala apapun.” (RII. W2. 137-139/hal.3; 115-120/hal.3).
Responden berharap mendapatkan pasangan yang jauh lebih pintar dari dia, karena responden merasa seorang suami tidak hanya mampu memajukan keluarganya tetapi mampu memajukan istrinya juga. Responden juga mengharapkan agar pasangannya bisa sama seperti dirinya, untuk membebaskan anaknya melakukan apapun yang dikehendaki oleh anaknya, selama anaknya bertanggung-jawab atas keputusan yang diambilnya. Karena responden merasa tidak pernah mendapat perhatian sebelumnya, responden sangat menginginkan orang yang dapat peduli, percaya, menghargai, dan menganggap responden penting. Responden juga menginginkan pasangan yang dapat mendamaikan hatinya dan memberikan solusi yang tepat untuk permasalahannya.
“Dia harus jauh lebih pintar dari aku. Istilahnya, (diam sejenak), enggak hanya terpaku untuk memajukan keluarga, memajukan diriku sendiri sebagai istrinya dia harus bisa, gitu kan. Seperti itu juga, seperti aku. karena aku enggak, enggak pernah, enggak pernah yang peduli samaku gitu kan, pengen kali aku ada orang yang peduli samaku, percaya samaku, menghargaiku, menganggapku penting. Dia enggak manas-manasin aku, malah memundurkan aku gitu, ngademin gitu, bukan, dikasihnya jawaban yang memang pas kan.” (RII. W2. 66-75/hal.2; 155/hal.4; 223-225/hal.5-6; 392-396/hal.9)
Menurut responden hal yang penting dalam pernikahan adalah rasa saling pengertian, saling membutuhkan, dan kenyamanan responden terhadap pernikahannya. Untuk mendapatkan pernikahan seperti yang didambakan oleh responden, responden akan mencari tahu siapa pasangannya sebelum memutuskan untuk menikah. Apabila pasangannya tersebut dianggap sesuai dengan dirinya, maka responden melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Apabila pasangannya tersebut dianggap tidak sesuai untuk dirinya, ia akan menghentikan hubungan dengan pasangannya tersebut. Responden juga akan berusaha untuk
mencari pasangan yang tidak ada hubungannya dengan keluarga responden dan responden juga tidak ingin dijodohkan oleh keluarganya. Bila memungkinkan responden lebih memilih pasangan yang benar-benar tidak dikenal keluarganya.
“Yang kupentingkan adalah kami itu saling mengerti gitu. Dia butuh aku dan aku merasa dibutuhkan olehnya, gitu. Jadi kupikir sebelum aku memulai suatu hubungan itu harus kuselidiki dululah dia kan. Cocok enggak dia, kalau dari awal pun sudah enggak cocok, ngapain. Aku juga ngusahakan cari pasangan yang enggak ada hubungannya sama keluarga gitu. Jadikan benar-benar enggak ada sangkut pautnya sama keluarga lagi, gitu.” (RII. W2. 84-87/hal.2-3; 48-61/hal.2)
IV. C. Responden III