• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN INTERPRETASI DATA

IV. C. 1. c. Data Hasil Wawancara

a. Dampak positif

Menurut responden dampak positif yang diterimanya dari perceraian orangtua adalah responden menjadi lebih matang, lebih tahu keadaan di luar dan bisa lebih bebas menjalankan apa yang menurutnya baik.

“Jadi apapun yang menurut saya bagus, itu saya jalanin aja gitu. Jadi saya itu bisa lebih matang, bisa lebih tahu keadaan di luar gimana.” (RIII. W1. 290-293/hal.7).

b. Dampak negatif

Responden merasakan dampak negatif dari perceraian orangtuanya setelah responden hampir dewasa. Dampak negatif yang dirasakan responden adalah responden memiliki temper tantrum. Responden kurang dapat bersosialisasi dengan orang lain dan hilang kepercayaan terhadap orang lain. Melihat gambaran ayahnya dulu akhirnya membuat responden memiliki pandangan tersendiri terhadap pria. Responden membenci pria karena menganggap pria itu adalah sosok yang tidak bertanggung-jawab, tidak penyanyang dan tidak peduli terhadap orang lain. Respoden merasa tidak membutuhkan pria. Baginya, pria adalah sosok mahkluk yang jahat, munafik, menyebalkan, dan berorientasi pada seks.

“Contohnya seperti ada temper tantrum. Saya kurang dapat bersosialisasi sama makhluk yang namanya manusia karena saya hilang kepercayaan dengan manusia (tertawa). Jadi saya juga membenci makhluk yang namanya laki-laki. Entah, kalau dulu menurut saya dilihat dari figur papa, sepertinya laki-laki itu tidak bertanggung-jawab, tidak penyayang, tidak pedulian, menurut saya gitu, kan masih kecil waktu itu, kalau nengok dari gaya papa sih jadi terbentuk stereotype seperti itu.” (RIII. W1. 126/hal.3; 464-467/hal.11; 132-134/hal.; 139-145/hal.4).

“Tak perlu aku laki-laki. Mama juga sering bilang laki-laki itu tak perlu. Jadi untuk apa? (Tertawa). Jadi gambaran di otak saya itu, laki-laki itu suatu sosok makhluk yang jahat, munafik, menyebalkan, berorientasi kepada seks (tertawa). ” (RIII. W1. 570-557/hal.13).

2. Faktor yang mendorong untuk Menikah a. Push factor

Melalui pernikahannya kelak, responden berharap dapat memuliakan nama Tuhan dan dapat melengkapi firman Tuhan, dapat menyalurkan nafsu-nafsu yang tidak tersalurkan jika tidak menikah, memiliki anak dan membesarkannya sesuai dengan yang seharusnya.

“Pernikahan itu sebenarnya untuk apa. Untuk melengkapi firman Tuhan (tertawa). (Diam sejanak). Untuk melengkapi firman Tuhan, iya. Tetapi kalau selanjutnya (diam sejenak), pernikahan itu dibuat untuk menyalurkan nafsu-nafsu yang tak tersalurkan kalau tidak menikah, satu. Terus itu untuk melestarikan keturunan yang namanya manusia.” (RIII. W2. 142-145/hal.4)

b. Pull factor

Pernikahan juga untuk melengkapi karakteristik antara pasangan pria dan wanita. Dan responden berharap melalui pernikahannya dia bisa mendapatkan kebahagiaan karena memiliki teman.

“Pernikahan itu juga untuk melengkapi karakteristik antara cowok dengan cewek. Karena kalau cewek dengan cewek itu udah enggak normal namanya. Terus pernikahan itu untuk, sewaktu anak-anak sudah besar, udah menikah, kita dengan siapa menghabiskan waktu paling banyak, kan kita enggak dengan orangtua terus, dengan seorang pendamping. Pernikahan itu bisa menjadi kebahagiaan yang memiliki teman gitu.” (RIII. W1. 162-175/hal.4; 178-190/hal.5).

3. Persepsi terhadap Pernikahan a. Pengetahuan

Responden merasa kehidupan pernikahan orangtuanya adalah kehidupan yang buruk. Orangtua responden menjalani hari-harinya dengan bertengkar. Setiap pembicaraan orangtuanya akan diakhiri dengan pertengkaran. Pertengkaran kedua orangtuanya biasanya dipicu oleh gaya hidup yang berbeda di antara keduanya (RIII. W1.). Ayah responden adalah seorang pemabuk dan suka santai. Hal tersebut tidak sesuai dengan keinginan ibu respoden yang menginginkan suaminya agar bangun pagi dan mendapat banyak uang (RIII. W1.). Perbedaan seperti itu akhirnya membuat ibunya depresi. Keadaan rumah tangga orangtuanya membuat responden merasa kurang mendapat perhatian dari orangtuanya (RIII. W1.).

“Kehidupannya itu buruk ya, kalau dipandang dari sudut pandang saya yang masih kecil saat itu. Karena orang itu sepertinya tiada ngomong tanpa bertengkar gitu. Mereka itu selalu bertengkar, bertengkar dan bertengkar saja. Jadi saya kurang tahu penyebabnya apa. Tapi menurut saya mungkin karena dasarnya tidak cocok gitu. Gaya hidup papa dan mama itu beda, mungkin ya. Lagian papa kadang suka mabuk-mabukan kalau pulang. Mama juga depresi jadinya, gitu kan. Mungkin mama maunya papa kerjanya agak pagi bangun atau gimana dapat uang banyak, datang papa orangnya santai. Jadi saya memang kurang diperhatiin gitu di dalam rumah.” (RIII. W1. 67-72/hal.1; 86-89/hal.3; 92-95/hal.3; 74-77/hal.2).

Orangtua responden bercerai pada saat responden berusia lima tahun. Perceraian tersebut disebabkan oleh ketidakcocok antara ayah dengan ibunya. Ibu responden hanya mengatakan kepada responden bahwa mereka akan menjenguk neneknya di Indonesia. Setelah agak dewasa, responden membaca mengenai perceraian dan menanyakan artinya pada neneknya. Setelah nenek responden

memberikan penjelasan, barulah responden memahami bahwa orangtuanya sudah bercerai.

“Di usia.... Lima mendekati enam.” (RIII. W1. 99/hal.3)

“Tapi menurut saya mungkin karena dasarnya tidak cocok gitu. Gaya hidup papa dan mama itu beda.” (RIII. W1. 86-89/hal.3)

“Ooo... Mama sih enggak bilang gitu, cuma mama bilang kita mau nengok nenek gitu. Di Indonesia gitu. Cuma sih saya enggak heran-heran kali gitu, kok kenapa papa enggak jumpa-jumpa gitu. Tapi memang kadang lintas papa mana, papa mana, gitu. Cuma sudah agak dewasa gitu, saya ada baca tentang divorce, terus saya lihat artinya di kamus itu bercerai. Terus saya tanya nenek, bercerai itu artinya apa gitu, kek mana gitu, terus direalisasikan gimana, terus saya tahu saya tahu gitu kan bahwasanya papa dan mama udah enggak bersama lagi, gitu.” (RIII. W1. 105-118/hal.3)

Saat orangtua bercerai, responden merasa iri terhadap keluarga yang terlihat kompak, tetapi karena responden tidak terlalu menyukai lelaki, hal itu tidak menjadi masalah baginya. Setelah orangtuanya bercerai, responden menjadi terbiasa hidup tanpa figur ayah. Responden merasa biasa saja terhadap perceraian orangtuanya, responden dapat menerima setiap keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya.

“Perasaan saya ya, pada awalnya sih, tengok orang-orang jalan-jalan gitu kadang iri, ada satu keluarga kompakan gitu. Tapi karena pada dasarnya saya tidak terlalu menyukai laki-laki kan, itu tidak menjadi masalah gitu. (RIII. W1. 161-164/hal.4)

“Karena terbiasa sudah sepuluh tahunan lebih yah saya jadi terbiasa gitu, walaupun enggak ada papa gitu.” (RIII. W1. 354-356/hal.8). Perasaan saya biasa aja. Saya menerima keadaan yang diberikan Tuhan kepada saya. (RIII. W1. 283-285/hal.7).

Responden tidak mengetahui informasi mengenai ayahnya. Responden merasa ayahnya bukanlah figur yang dekat dengan dirinya. Responden terakhir

kali bertemu dengan ayahnya sewaktu di Jerman dulu, setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Terakhir kali ayah responden menghubungi responden melalui telepon saat responden berusia tujuh tahun. Saat ibunya mengetahui hal tersebut, ibu responden membentak ayahnya. Sejak bentakan itu, ayah responden tidak pernah menghubungi responden lagi.

“Kalau papa saya enggak tahu karena jarang berhubungan sama papa. (RIII. W1. 25-26/hal.1). Lagian papa bukanlah figur yang dekat dengan saya gitu ya. (RIII. W1. 118-120/hal.3). Terakhir kali berjumpa itu, waktu di Jerman itu. Setelah itu sih enggak pernah ketemu lagi, udah menghilang entah kemana.”(RIII. W1. 148-151/hal.4)

“Frekuensi berhubungan, terakhir waktu umur tujuh tahun. Terakhir kali papa telepon, setelah itu saya mendengar bentakan mama dan setelah itu papa tidak pernah menelepon lagi, gitu.” (RIII. W1. 153-157/hal.4)

Sejak usia lima tahun responden diasuh oleh neneknya, tetapi di bawah pengawasan ibunya. Saat berusia delapan atau sembilan tahun, ibu responden untuk bekerja ke Jakarta, sedangkan responden tetap bersama neneknya. Sejak kepergian ibunya ke Jakarta, responden jarang bertemu dengan ibunya. Ibunya pulang sekitar dua atau tiga tahun sekali. Tetapi akhir-akhir ini ibu responden pulang setiap tahun. Responden merasa ibunya menunjukkan perhatian setelah responden beranjak dewasa.

Sejak umur lima tahun, saya sudah diasuh sama nenek walaupun masih di bawah pengawasan mama. Cuma akhir-akhir ini mama pulang udah sekali setahun. Udah agak baguslah pekerjaan yang didapat di sana. Kalau dulu sih dua tiga tahun sekali. Kalau sekarang sih janjinya mama bilang kalau mama bisa dipromosikan setingkat lagi gitu, mama sih maunya pulang satu tahun dua kali gitu. Mama itu menunjukkan perhatiannya itu sesudah saya besar. Sesudah umur tujuh belas delapan belas gitu baru mama ada perhatian, gitu. Kalau dulu aja, uang jajan saya dari nenek. (RIII. W1. 31-35/hal.1; 210-224/hal.5-6).

Meskipun tidak menyukai laki-laki, respoden tetap merasa pernikahan adalah suatu hal yang penting. Responden memutuskan untuk mengambil keputusan menikah bila telah menemukan pasangan yang sesuai dengan dirinya.

Menurut saya sih pernikahan itu penting dan merupakan salah satu event yang penting. Tapi pokoknya basic-nya itu harus sudah lima puluh persen cocok dulu, dikitanya. (RIII. W2. 144-147/hal.4; 263-265/hal.6).

b. Harapan

Responden berharap pernikahannya kelak akan menjadi pernikahan dengan keluarga bahagia dan tidak ada perceraian. Responden ingin hidup bahagia dan hidup dengan seimbang. Keluarga bahagia menurut responden adalah keluarga yang bisa menyelesaikan seluruh konflik dan pertengkaran yang ada.

“Yang penting itu keluarga bahagia dan jangan sampai cerai lagi, kan gitu. Yang selalu terlintas di bayanganku itu, yang penting aku bahagia gitu. Cinta, makan tuh cinta. Kan enggak mungkin. Ya memang kehidupan itu juga enggak bisa tanpa cinta. Jadi saya ingin kehidupan yang seimbang gitu. Keluarga bahagia menurut defenisi saya itu, walaupun ada konflik, ada pertengkaran itu bisa selalu selesai gitu.” (RIII. W2. 111-120/hal.3; 127-129/hal.3).

Untuk dapat mendapatkan pernikahan yang sesuai dengan harapan responden, responden ingin mencari pasangan yang sesuai dengan dirinya. Kemudian responden ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu agar bisa mandiri. Responden juga mempertimbangkan faktor usia, responden ingin menikah di usia 26 atau 27 tahun agar emosi responden bisa lebih stabil dari pada sekarang. Responden juga ingin memiliki rumah dan alat transportasi sebelum menikah. Usaha lain yang akan dilakukan responden adalah dengan menjaga komunikasi antara dirinya dengan pasangan.

“Dan memang kalau kita cari harus sesuai karakteristik untuk menjadi calon suami tentunya kan.Ee... faktor usia yang cukup matang juga. Dua puluh enam, dua puluh tujuh, menurut saya. Harus menyelesaikan kuliah, bisa berdiri sendiri, bisa mencari uang. Terus kita juga harus memiliki sebuah rumah dan alat tranportasi, baru bisa menikah kalau sudah ada itu semua. Dan untuk supaya dia bahagia itu ya, kita harus berusaha, bukannya malas-malasan aja gitu.” (RIII. W2. 144-233/hal.5-6)

Responden mengharapkan mendapat pasangan yang bisa saling melengkapi dengan dirinya. Responden mengharapkan mendapat pasangan yang jujur dan melaksanakan perkataannya (RIII. W1. 504-506/hal.11). Pasangannya juga diharapkan memiliki karakteristik yang sesuai dengan dirinya, memiliki masa depan, memiliki tujuan hidup, memiliki agama yang sama dengan dirinya, penyabar, tidak terlalu menjaga sikap, terbuka, tidak menggunakan kekerasan dan humoris. Responden juga berharap pasangannya kelak tidak hanya memperhatikan istri tetapi juga anaknya, serta dapat mendidik anaknya.

“Jadi kekuranganku tertutupi dengan kelebihannya, kekurangannya tertutupi dengan kelebihanku. Benar-benar melakukan apa yang dikatakannya dan tidak melakukan apa yang tidak dikatakannya, seperti itu. Agamanya sama, kalau saya pemarah, dia harus sabaran. Terus dia orangnya enggak jaim-jaim, terus dia orangnya terbuka, terus dia kalau ada masalah selalu diomongkan. Terus dia itu sebagai laki-laki tidak main tangan gitu dan dia itu manusia yang lucu gitu, bikin ketawa gitu.” (RIII. W2. 72-75/hal.2; 504-50/hal.11; 49-59/hal.2)

Saat ini responden belum terlalu memikirkan mengenai kehadiran anak. Hal tersebut dikarenakan responden merasa dirinya masih terganggu dengan kehadiran anak dengan tempramennya yang tidak stabil. Dia tidak bisa sabar dalam menghadapi anak-anak.

“Saya masih terganggu dengan anak kecil kalau masih dengan tempramen saya yang seperti itu, enggak sabaran saya lihatnya. Enggak sabaran lihat

anak kecil kalau bandel tak bisa dibilangin gitu. Jadi aku enggak mau membayangkan jadi ibu-ibu dulu.”(RIII. W2. 354-360/hal.8).

Dokumen terkait